Keesokan harinya, sesuai janji Itachi mengajak adiknya untuk bermain di taman bermain. Sebelum masuk mereka membeli tiket.

"Eh tidak usah, biar aku yang bayar." Kata Itachi.

"Hn."

.

.

"Waahhh… Lihat itu banyak sekali wahana permainannya! Sasuke, kau mau mulai darimana dulu?"

"Terserah kau saja."

Uchiha bersaudara itu memulai petualangannya dengan menaiki wahana kincir kemudian dilanjut dengan kora-kora. Pada saat menaiki kora-kora terlihat wajah Sasuke yang pucat, mungkin Itachi sengaja memacu adrenalin Sasuke dengan menyuruhnya menaiki wahana kora-kora yang super cepat itu.

Deg.. deg..

Deg.. deg..

Deg.. deg..

Sasuke POV

Sial! Baka aniki!

Dia malah menyuruhku bermain wahana seperti itu, sepertinya dia sengaja mengerjaiku. Aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang setelah turun dari wahana itu.

Deg.. deg..

Deg.. deg..

Deg.. deg..

Saking kencangnya debaran jantungku, bisa dipastikan Itachi mendengarnya karena dia berdiri dekat denganku. Kemudian tawa nya pun pecah.

"Buahahaha! Hahahaha!"

"Apa yang lucu?!"

"Jantungmu berdetak kencang sekali. Kau ketakutan yaa~?" Tanya Itachi sambil menggoda adiknya.

"Baka! Aku tidak takut!"

"Kalau kau tidak takut kenapa wajahmu pucat begitu?"

Kali ini aku tidak bisa menyangkal.

"Hmph!" aku pun memalingkan wajahku.

Melihat tingkahku yang seperti itu, aniki ku yang bodoh ini langsung melakukan kebiasaannya. Yaitu mengacak acak rambutku.

"Argh! Singkirkan tanganmu itu!"

.

End of Sasuke POV

Setelah menaiki kincir dan kora-kora, Uchiha bersaudara itu duduk di bangku tempat khusus istirahat para pengunjung. Tak lama kemudian terlihat beberapa orang yang tidak asing dan memecah diamnya mereka berdua.

"Lho, bukankah itu teman-temanmu Sasuke?"

"Hn, iya."

Kemudian sesosok gadis bersurai pink pun terlihat diantara mereka berempat.

"Heeiii! Kalian berempat!"

Yang merasa dipanggil pun menoleh dan segera menghampiri sumber suara.

"Wah, Itachi-nii dan Sasuke. Kalian ada disini juga?" kata pemuda berambut pirang yang notabene adalah teman dekat Sasuke.

"Iya, kebetulan ya kita ketemu disini. Kalian sengaja datang kesini?"

"Iya Itachi-nii, kami berempat memang sengaja datang main kesini. Tadinya kami mau mengajak Sasuke tapi katanya dia ada acara, eh ternyata acaranya main kesini juga. Hehe.."

.

.

Itachi bertemu dengan kekasihnya dan segera menghampirinya. Ino, Hinata, dan Naruto yang mengerti akan hal itu langsung menggoda mereka berdua.

"Ciee.. Yang ketemu pacarnya! Kalian memang jodoh yaa.." kata Ino menggoda Itachi dan Sakura.

Sakura hanya menunduk malu dengan semburat merah di pipinya sedangkan Itachi hanya tersenyum walaupun sebenarnya sedikit malu juga.

Sasuke POV

Kami-sama…

Kenapa kau mempertemukanku dengan mereka? Aku kira Sakura tidak ikut kesini. Aku melihat Itachi menghampiri Sakura dan memegang tangannya. Sekali lagi aku merasakan sakit yang bersumber dari dadaku, entah kenapa seluruh tenaga ku terkumpul di area tanganku. Rasanya aku ingin mendorong dan memisahkan mereka berdua.

Dan sekali lagi aku hanya bisa memendam ini dalam hati.

"Karena sudah bertemu disini bagaimana kalau kita main bersama?" ajak Itachi.

"Ide yang bagus, tapi sebelum kita main bagaimana kalau kita isi tenaga dulu?" kata Naruto.

"Ahh kau ini! Bukankah tadi kau sudah makan ramen? Memangnya kau belum kenyang?"

"Hehehe… Tiba-tiba saja aku lapar lagi Sakura-chan."

"Haha… baiklah ayo kita ke foodcourt."

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang paling menyebalkan untukku.

End of Sasuke POV

.

.

Lalu mereka berenam makan di foodcourt, semuanya terlihat asik menyantap makanannya sesekali mereka tertawa karena tingkah konyol Naruto si moodbooster. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Sasuke Uchiha, terlihat dari tadi dia hanya diam saja sambil mengaduk aduk minumannya.

"Hei, Teme! Kenapa kau diam saja? Kau sedang sakit?"

"Tidak."

"Lalu kau kenapa?"

"Aku tidak apa-apa."

"Otouto, bergembiralah hari ini kan kita sedang main. Masa kau cemberut saja dari tadi." Kata Itachi mencoba menghibur adiknya.

'Mana bisa aku gembira sementara kau dan Sakura bermesraan seperti itu.'

.

.

Emosi, kesal, dan marah…

Hal itulah yang sedang menyelimuti perasaan seorang Sasuke Uchiha. Bagaimana tidak? Sasuke melihat pemandangan di depan matanya itu dengan perasaan yang berkecamuk. Beberapa kali Sasuke menggerutu dalam hati.

"Itachi-kun, aku ingin es krim."

"Baiklah, tunggu sebentar. Akan ku pesankan untukmu."

.

"Pelayan! Aku pesan ice cream sundae nya satu."

"Baik, silahkan tunggu."

Beberapa saat kemudian pesanan datang.

"Buka mulutmu, aaa."

"Itachi-kun, aku kan bisa makan sendiri."

"Tapi aku ingin menyuapi mu."

"Err.. baiklah."

Itachi menyuapi es krim itu pada Sakura sampai es krim itu habis.

"Aku mau keluar dulu."

"Kau mau kemana teme?"

"Mencari udara, disini panas."

.

Sasuke merasa atmosfer tadi sangat tidak enak untuknya dan dia merasa canggung, lalu dia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, dia berjalan tak tentu arah. Sasuke terus saja melangkahkan kakinya, yang dia cari sekarang adalah tempat yang benar-benar sepi dan tidak ada orang sama sekali.

Sasuke menemukan tempat yang penuh dengan pohon dan semak, merasa penasaran dia terus menelusuri semak itu sampai akhirnya dia menemukan padang rumput hijau tak berpenghuni. Sasuke merebahkan tubuhnya diatas hamparan rumput itu.

Selama disana yang Sasuke lakukan hanyalah menatap langit biru dengan tatapan kosong, membayangkan kejadian apa saja yang baru terjadi antara Itachi dan Sakura. Pikirannya yang berkecamuk sukses mengantarkannya pada dunia tiga dimensi yang saat ini sedang dihuninya. Tangan Sasuke mengepal, giginya menggeretak.

"Sial!"

Terus menerus menahan emosi membuat Sasuke lelah, ditambah lagi daritadi dia hanya jalan-jalan saja membuatnya merasa ngantuk dan tertidur di tempat hamparan rumput itu.

Dddrrrttt…. Ddrrrrrtttt…. Dddrrrrtttt… (Ponsel Sasuke bergetar)

Getaran yang dihasilkan dari ponselnya membuat Sasuke terhenyak. Dilihatnya ponsel itu.

Itachi is calling you.

"Halo?"

"Sasuke, kau dimana? Dari tadi aku mencarimu."

"Tenang saja, aku hanya berada di suatu tempat yang tidak jauh dari taman bermain itu. Apa Sakura dan yang lainnya masih ada?"

"Mereka sudah pulang karena ini sudah sore. Syukurlah kau baik-baik saja. Aku khawatir padamu, ku kira kau hilang."

"Baka aniki! Memangnya aku anak kecil apa?!"

"Hehe… Kau dimana sekarang? Biar aku jemput."

"Tidak usah. Biar aku saja yang kesana, kau tunggu aku di pintu keluar."

"Oke."

Sasuke memperhatikan keadaan sekitar, tersadar bahwa dia ketiduran di tempat ini dengan waktu yang cukup lama sampai langit pun berubah menjadi oranye. Sasuke berdiri dan meninggalkan tempat itu, lalu menuju pintu keluar menghampiri kakaknya.

"Ah, Sasuke! Baka! Kau ini dari mana saja?"

"Aku hanya pergi ke suatu tempat."

"Ini sudah sore, ayo kita pulang."

.

.

.

.

(skip time)

Semingggu kemudian.

"Kaa-san aku berangkat!"

"Iya, hati-hati di jalan. Lho, Sasuke mana?"

"Dia sudah berangkat duluan tadi."

"Oh begitu…"

.

.

.

Di sekolah bernama Konoha Gakuen, tepatnya kelas 12-1 terlihat pemuda raven sedang duduk malas menatap ke arah jendela kelas. Guru mereka sedang ada rapat jadi kelas dibiarkan saja bebas, ada yang sedang tidur, bergosip, dandan bahkan sampai main game pun ada. Tetapi lain halnya dengan Sasuke, dia hanya diam saja tidak melakukan apapun. Melihat Sasuke yang diam saja secara otomatis membuat perhatian Naruto beralih padanya. Naruto yang sedang asik bercanda melirik ke arah Sasuke. Khawatir pada sahabatnya itu.

"Hei Teme, aku tau sih kau memang pendiam tapi ini tidak seperti kau yang biasanya. Kau baik-baik saja kan?"

"Hn."

"Atau kau sedang apa masalah?"

"Hn."

"Kau sedang sakit?"

"Hn."

"Aarrgghh… Dari tadi hn, hn, hn saja! Aku tidak mengerti apa maksud 'hn' mu itu!"

"Urusai! Kau ini berisik sekali!"bentak Sasuke kemudian langsung pergi.

'Kenapa sih akhir-akhir ini si teme sensi banget?'

.

.

Merasa pusing dengan kegaduhan di kelas, Sasuke melangkahkan kakinya menuju tangga. Langkah kakinya terus saja menaiki tangga itu, ya benar.. Sasuke menuju tempat favoritnya yaitu atap gedung sekolah. Tempat yang bisa membuatnya tenang dan berpikir jernih, tempat yang menjadi saksi bisu keluh kesahnya.

Flashback…

Ting… Tong…

"Fugaku, mereka datang!"

"Ah, benarkah?"

Fugaku dan Mikoto segera bersiap-siap menyambut tamu yang sudah ditunggu-tunggu itu, Itachi pun segera merapihkan bajunya dan menuju ke ruang keluarga.

"Ah~.. Mebuki-san, Kizashi-san, dan tak lupa juga calon menantuku Sakura Haruno."

"Selamat malam bibi." Kata Sakura dengan nada ramah.

"Akhirnya kalian datang juga. Silahkan masuk."

Ketiga keluarga Haruno memasuki kediaman Uchiha, mereka semua memasuki ruang keluarga Uchiha dan terlihat Itachi sudah menunggu disana.

"Silahkan…" kata Mikoto sambil menyuguhkan minuman dan makanan untuk tamunya.

"Aduhh.. Maaf merepotkan."

"Tidak apa-apa kok, jangan sungkan."

Keluarga Haruno dan Keluarga Uchiha (minus Sasuke) duduk berhadapan, mereka pun memulai pembicaraan.

"Kurasa kalian sudah tahu maksud kedatangan kami kesini, yaitu membicarakan kelangsungan hubungan Itachi dan Sakura."

"Iya, mengingat Itachi dan Sakura sudah berpacaran sejak 3 tahun yang lalu. Kurasa itu waktu yang cukup untuk melanjutkan hubungan sepasang kekasih ke jenjang yang lebih tinggi."kata Kizashi.

"Ah.. Apakah maksudnya anda ingin Itachi dan Sakura menikah secepatnya?" kata Fugaku.

"Iya.. Itu benar, menurutku keputusan itu tepat karena mengingat Itachi dan Sakura sudah saling mengenal satu sama lain, mereka berdua pun sudah merasa cocok jadi apa lagi yang kita tunggu?" kata Mebuki.

"Maaf, sebelumnya kukira kedatangan kalian kesini hanya untuk sekedar berkunjung dan saling mengenal keluarga kedua pihak bukannya membicarakan tentang pernikahan." Kata Fugaku yang sebenarnya agak terkejut.

"Kalau begitu maaf jika pembicaraan ini terkesan mendadak."

"Tidak apa-apa. Sebenarnya aku setuju jika Itachi dan Sakura segera melangsungkan pernikahan. Tapi sebelumnya kita tanya dulu yang bersangkutan, bagaimana Itachi? Apa kau setuju dan siap untuk menikahi Sakura?"

"Iya, aku setuju. Bagaimana denganmu Sakura?" Tanya Itachi.

"Iya, aku bersedia."

.

.

Aku bersedia…

Aku bersedia…

Aku bersedia…

Kata-kata itu seolah dengan mudahnya memasuki pikiran dan relung hati Sasuke. Memang dari tadi Sasuke sengaja tidak mengikuti pertemuan kedua keluarga itu dan Sasuke hanya diam berdiri di samping ruang keluarga.

.

.

Sasuke POV

Dugaanku benar…

Mereka sedang merencanakan pernikahan. Mereka terlihat bahagia, terlihat nii-san dan Sakura saling menatap satu sama lain dengan wajah yang berseri, seperti serasa terlahir kembali mungkin. Sedangkan aku? Seperti manusia yang sedang dibunuh secara perlahan, aku memang hidup tapi aku merasa jiwaku sudah mati.

..

"Lalu kapan pernikahannya dilaksanakan?"

"Aku merasa tidak enak jika memutuskan sepihak jadi biar Itachi dan Sakura saja yang menentukan."

"Aku akan menikahi Sakura kalau Sakura sudah lulus SMA. Tapi terserah Sakura juga, kalau ingin melanjutkan kuliah dulu juga tidak apa-apa atau kalau ingin menikah sesudah lulus kuliah juga tidak apa-apa. Aku akan tetap menunggu kalau Sakura sudah siap." jelas Itachi.

"Kurasa tidak perlu menungguku sampai lulus kuliah segala, setelah lulus SMA pun aku siap untuk menikah. Rencananya aku juga ingin melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi, tapi aku ingin berusaha mengimbangi urusan rumah tangga dan karirku."

Sasuke yang mendengar pembicaraan itu merasa terkejut.

'A-apa?! Dia siap menikah sesudah lulus SMA? Yang benar saja. Apa dia benar-benar bisa mengimbangi rumah tangga dan karir nya secara bersamaan?' kata Sasuke dalam hati.

"Apa benar kamu sudah siap?" tanya Mebuki mencoba meyakinkan putri tunggalnya.

"Iya Kaa-san. Alasan aku berkata seperti ini adalah karena aku tidak ingin terlambat menikah hingga akhirnya menikah di usia tua."

"Lalu bagaimana denganmu, Itachi?"

"Perkataan Sakura ada benarnya juga, saat ini aku adalah mahasiswa tingkat akhir dan aku ingin ketika aku sudah lulus kuliah ada seorang gadis yang sudah siap menjadi pendamping hidupku. Jadi aku akan menikahi Sakura jika dia sudah masuk ke perguruan tinggi, tepatnya Juli tahun depan. Bagaimana menurutmu Sakura?"

"Iya, aku setuju."

Tahun depan ya.. Kurasa itu artinya tahun ini adalah tahun terakhir dimana aku bisa bebas melihatmu, tahun depan aku tidak bisa melakukan itu lagi karena kau sudah sah menjadi miliknya.

End of Flashback


To be continued