[Interferensi]

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Vandaria Saga © Ami Raditya

Judul chapter © William Shakespeare

Warning: BL. AU. OOC. Frameless!Levi, jadi jangan kaget kalau Levi rambutnya putih kayak ubanan hahaha #dor. Typo. Levi/Eren. Setting diambil pada masa manusia berkuasa.

Dibuat untuk celeng #SacchiMainYuk dan hadiah ultah meshi-chan dan Shana Nakazawa

Tidak ada keuntungan apapun yang diambil selain kepuasan pribadi.


[i. The course of true love never did run smooth]

"Hei, tahu gosip tentang hutan dekat sekolah gak?"

'Ah, gosip itu lagi.' batin Eren mendecak. Inilah rutinitas kelas 10-4 pasca bel pulang sekolah; kalau tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, remedial, ya ngegosip hal-hal yang tidak penting. Eren sendiri bosan sebenarnya dengan topik yang sebelumnya dibawakan Jean—pria berambut cokelat pasir dengan huruf R yang begitu samar yang merupakan rivalnya juga. Gosip tadi sudah sering ia dengar dari sumbernya—ayahnya—sendiri hingga Eren bisa hapal di luar kepala.

"Kudengar satu truk rusak lagi ya saat ingin memasuki hutan itu. Kok bisa sih?" cetus si kepala yang kurang reboisasi, Connie Springer.

"Gak tahu. Kata orang-orang hutan itu memang ada penunggunya. Bener gak, Ren?" tanya Jean menimpali.

"Katanya gak percaya begituan?" sindir Eren sembari merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja. Jean hanya mendengus mendengar balasan Eren yang bikin gondok sendiri.

"Jangan-jangan itu perbuatan frameless! Makhluk seperti manusia yang bisa merapalkan sihir!" timpal Armin, teman sebangku Eren yang berambut pirang medium dan berparas cantik layaknya perempuan. "Ada tercatat di buku sejarah kalau ada salah satu marga frameless yang bisa mengendalikan tumbuhan! Bisa jadi merekalah pelakunya."

"Kau kebanyakan baca buku, Armin. Mana mungkin ada makhluk yang bisa menggunakan sihir!" Ejek Connie. "Hati-hati, nanti kamu ketularan sir Pixis loh! Dia 'kan kalau soal frameless semangat banget! Mirip kakek-nenekku, hahaha!" Semuanya langsung tertawa menyanggupi omongan Connie, kecuali Armin yang merengut kesal dan Eren yang memang tidak mendengarkan.

"Sudah ah. Aku pulang duluan ya, mau main PS! Dah!" seru Eren yang terbirit-birit lari keluar kelas, seakan-akan game-nya akan digiling oleh truk penggiling semen milik ayahnya.

"Hati-hati, Eren! Nanti dibelakangmu ada yang ngikutin loh, haha!" seru Jean kemudian.

"Gak takut, weeek! Emangnya lo, bilangnya gak percaya begituan tapi nyatanya takut film hantu nyikat wc!"

"OALAH KAMPRET LO!"

Kepulangan Eren terpaksa di-pending sejenak, karena Eren dan Jean sibuk lempar-lemparan sepatu.

.

Hutan yang dibicarakan Jean sebenarnya tidak buruk juga. Letaknya agak jauh dari perkotaan, tepatnya ada di puncak bukit yang merupakan titik tertinggi di kota tersebut. Pepohonannya rimbun dan rindang, lalu terasa sejuk udaranya. Setiap pagi, jika kau sempat kesana kau bisa mendengar suara nyanyian burung yang ceria. Jika malam, maka bergantian dengan suara jangkrik dan serangga lain yang bersahut-sahutan. Di jantung hutan, konon katanya, tinggallah para penjaga seluruh hutan di ranah bumi Vandaria. Merekalah Flavianus, marga framelesspenguasa tanaman.

Namun itu cerita dulu. Sekarang, tidak ada lagi pepohonan yang rindang. Hutan yang dulu hampir menutupi sebagian bagian utara Benua Elir sudah habis terkikis waktu. Hutan kecil yang tersisa di kota ini juga rencanannya akan diubah menjadi kompleks perumahan. Grisha Jaeger, pemilik perusahaan Jaeger yang tersohor sekaligus ayah Erenlah yang menjadi pencetusnya.

Grisha memandang hutan-hutan itu sebagai penghalang kemakmurannya, sementara para orang tua yang sudah mengalami asam rujak kehidupan mengganggap ide Grisha sebagai petaka. Mereka bilang kalau Grisha kelak akan dikutuk oleh para Flavianus karena sudah merusak hutan. Ah tapi apa peduli Grisha? Di zaman serba modern ini sudah tidak ada lagi yang percaya tentang makhluk bisa sihir—kecuali buku-buku cerita dongeng pengantar tidur. Lagipula frameless juga sudah tidak terlihat selama berabad-abad lamanya.

Eren sendiri walau terlihat tidak peduli namun ia amat menentang ayahnya. Selain karena alasan keduanya tidak begitu akur, Eren merasa sayang jika harus kehilangan hutan yang sudah menjadi tempat naungannya. Semenjak meninggalnya sang ibu lima tahun lalu, sang ayah menjadi semakin keras dan suasana rumah semakin runyam. Maka, jadilah hutan itu menjadi tempat pelarian Eren sehabis pulang sekolah.

Hari ini Eren memutuskan untuk memasuki hutan lebih dalam dibanding biasanya. Perkataan 'ingin cepat pulang dan main PS' yang dijadikannya alasan tadi di sekolah seolah hilang begitu saja. Meski tahu Grisha tidak akan ada di rumah (pasti ingin mencoba menebang hutan lagi, yang akan berakhir truk-truknya rusak misterius atau diserang 'monster pohon' seperti kata para pegawainya) namun ada rasa tidak ingin pulang yang mendadak muncul. Rasa-rasanya ada sesuatu hal yang membangkitkan rasa ingin tahunya akan sudut hutan yang lebih dalam lagi.

"WOAAAH!"

Eren pangling; ia sudah sampai di bagian terdalam hutan. Terdapat pohon aneh yang menjulang tinggi sekali. Pohon itu—bagaimana mendeskripsikannya ya, indah seperti rumah! Ada bagian yang terlihat seperti tempat tidur, ruang bersantai, dan sepertinya tempat penyimpanan buah karena hanya di bagian itu yang tumbuh banyak buah. Lalu disekitar pohon itu ada sulur-sulur panjang dan aneh dan mengeluarkan sinar perpaduan biru dan hijau. Lalu pohon itu semua daunnya berpusat di bagian atas—seperti atap rumah. Mungkin karena itu bagian hutan yang ini tidak begitu terang karena minimnya cahaya yang masuk—tapi tidak gelap juga. Oh ya satu lagi, banyak hewan-hewan juga disini!

"KEREEENNN!" pekik Eren, "Pohon aneh ini kira-kira ada yang menempati gak ya? Sumpah ini keren abis! Sangat artistik! Bravo! Seakan-akan terjadi dengan natural!" ujar Eren sok a la kritikus.

"Dan buah apa itu? Bentuknya bulat, warnanya merah seperti…. Tomat? Tapi tomat 'kan tidak tumbuh di pohon! Ka-kalo kucicip—"

"Pergi dari rumahku."

Eren langsung bergidik ketika mendapati suatu sensasi menggelitik di telinganya. Tiba-tiba ada orang asing membisikinya seperti itu, tentu saja ia kaget!

"Si-SIAPA?!"

Saat Eren menoleh ke belakang, ia tidak mendapati siapa-siapa. Eren menjerit sangat keras—dikiranya ada hantu yang membisikinya. Namun ketika suara deheman menyadarkan indera pendengarannya, barulah Eren sadar kalau sang pelaku yang membuatnya kaget telah berpindah ke pohon rumah tadi. Eren mendadak malu, jeritan tadi pasti terdengar seperti cewek—pikirnya.

"Eren Jaeger," sebuah suara baritone menyapanya, "Tak kusangka ada manusia yang cukup bodoh untuk kemari."

'Ke-kenapa dia bisa tahu namaku?! Dan siapa juga yang bodoh!' batin Eren memprotes.

"Kamu yang bodoh." Katanya. Eren langsung menganga nista. Makhluk ini … bisa baca pikiran?

"Aku tidak bisa baca pikiran, bodoh. Aku bukan dari marga Irvana." Jawabnya begitu saja. "Aku tahu namamu dari nametag di seragam sekolahmu. Dari … Scouting High? Cukup dekat dari sini. Tidak heran kalau kau setiap pulang sekolah kadang-kadang kau suka ke pinggir hutan. Kalau soal tampang bodoh, ya tampangmu yang kelimpungan memang seperti orang bodoh."

CTAK! Eren melempar tasnya dengan kecepatan tinggi ke arah makhluk pendek yang nangkring di atas pohon. Eren mendengus. Enak saja ia dikatai bodoh! Ia dapat peringkat lima di kelas tahu! Tapi sebelum lemparan maut itu mengenainya, sulur-sulur tanaman yang berpendar hijau-biru langsung membelit dan menjadi tameng.

Si Jaeger muda lalu memperhatikan si lelaki asing tadi lekat-lekat. Posturnya tidak begitu tinggi, mungkin sekitar lima sampai sepuluh senti lebih pendek darinya. Kulitnya pucat seputih susu. Rambutnya yang dipotong pendek-hampir-setengah-botak memiliki warna putih alami seperti salju dengan beberapa garis tipis keabuan yang sekali lagi, terasa alami, bukan karena usia yang sudah tua. Badannya tegap, dan hanya ditutupi oleh beberapa helai kain yang dipusatkan pada bagian yang sensitif. Tetapi yang paling penting, kedua matanya. Matanya yang memicing tajam bagaikan serigala dan memiliki warna iris yang berbeda; hitam dan putih. Seakan-akan ia seperti ….

"FRAMELESS!" pekik Eren riang, seakan-akan ia baru menemukan sebuah permen langka, "Kau frameless yang menunggui hutan ini! Berarti kau juga yang merusak truk-truk itu?"

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu." Ujar sang framelessketus, "Pergi."

"Heeee, kau terdengar seperti detektif-detektif di tv drama. Aku 'kan hanya bertanya!"

"Pergi. Kau mengganggu pemandangan."

"Iiiihhhh." Mulut Eren mengerucut, "Baiklah, aku akan pergi. Tapi setidaknya beritahu aku namamu!"

"Tidak."

"Peliiit!"

"Tidak."

"Ayolaaaahhhh!"

"Tidak. Pergi sana."

"Apa masalahnya sih memberitahu nama?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu beritahu aku namamu! Kita bisa jadi teman!"

"Aku tidak butuh teman."

"Kau berbohong~" ejek Eren, "Tidakkah kau merasa kesepian?"

'Kesepian.'

'Kesepian.'

'Kesepian.'

Sang frameless kemudian mendecih. Matanya yang berbeda warna kemudian membelalak. Emosinya yang campur aduk tiba-tiba tumpah begitu saja. Ini tidak normal … tidak biasanya ia dipengaruhi oleh perkataan anak ingusan seperti ini. Ini tidak logis.

"Pergi!" suara sang frameless meninggi, "Pergi dari hutanku!" sang frameless kemudian memanggil sulur-sulurnya, dan mengkomando agar sulur-sulur membelit tubuh Eren lalu mengangkatnya ke angkasa.

"Kau kenapa sih? Aku 'kan hanya ingin tahu namamu!" teriak Eren. Ia berusaha memberontak dari sulur-sulur ajaib yang mencekiknya hingga terasa sesak. "Kau tak harus membunuhku seperti ini!"

"Aku tak membunuhmu. Aku hanya menteleportasikanmu keluar hutan." Ujarnya.

"Tapi tetap—ummpph!" sulur-sulur itu sudah mulai membelit kepala Eren, "Akhu—uff uff uff…" Sulur-sulur itu sudah menutupi tubuh Eren seutuhnya.

"Berhenti bergerak! Kalau kau memberontak aku akan kesulitan memfokuskan sihirku!"

Namun bukan Eren namanya jika menurut kata-kata orang. Eren malah semakin menjadi-jadi. Kakinya menendang-nendang ke segala arah hingga beberapa kali ia terlepas dari jeratan sulur dan meluncur bebas ke bawah—sebelum akhirnya tertangkap lagi.

"Kau keras kepala!" ujar sang frameless, "Baiklah, terserah kau saja."

Diam-diam Eren nyengir kuda—oh ia menang debat (?) dengan seorang frameless!

"Margaku Flavianus,"

Lilitan sulur itu semakin kecil dan menggencet tubuh Eren, membuat Eren beberapa kali terbatuk-batuk.

"Spesialisasi margaku adalah mengendalikan tumbuhan. Yang merusak truk-truk ayahmu, yang menjaga hutan ini, yang membuat pohon rumah itu—semuanya adalah aku."

Dari sulur-sulur itu kemudian berpendar cahaya kekuningan, yang menandakan jika sihir teleportasi mulai diaktifkan oleh sang frameless.

"Namaku—"

Lilitan itu menyempit dengan kekuatan maksimal. Eren merasa seperti ada penghisap debu yang amat kuat yang menghisapnya. Kesadaran Eren juga perlahan-lahan mulai direnggut hingga menyisakan kegelapan dipandangannya.

"—Levi."

Kemudian sulur-sulur itu terbuka, memancarkan cahaya yang terang sangat hingga membutakan mata.

.

"Eren? Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau sudah pulang dari tadi."

Ketika Eren sadar, ia mendapati dirinya sudah berada di depan gerbang sekolahnya sendiri. Eren sempat terdiam satu atau dua detik ketika Armin bertanya, mungkin karena masih takjub akan pengalamannya tadi. Bertemu dengan orang aneh yang ternyata termasuk kategori spesies terancam punah—frameless dan bisa merasakan sihirnya!

"Mungkin si Eren takut sama gosip hantu di hutan itu dan kembali ke sini, hahaha!"

"Enak saja!" Eren langsung merespon pada ejekan Jean. "Lagian tidak ada hantu di hutan itu, yang ada—"

Eren langsung membungkam mulutnya. Bukankah gawat jika ada orang lain yang tahu tentang Levi di hutan itu? Bisa-bisa satu kota gempar mendengarnya! Biarlah ini menjadi rahasia kecil di antara dirinya yang Levi.

Eren tersenyum lebar. Ini akan menjadi menarik di masa yang akan datang.

"Eren? Kau kenapa sih?" tanya Armin membuyarkan lamunannya.

"Tidak apa-apa." Jawab Eren, "Hei, di rumahku sedang tidak ada orang. Mau main PS bareng?"

"Mau! Hei, aku ikut ya!" seru Connie dari kejauhan, disusul beberapa temannya yang lain.

"Oke, oke." Eren dan yang lainnya pun berangkat menuju kediaman Jaeger di kaki bukit. Beberapa celotehan dilontarkan teman-temannya, namun tidak ada satupun yang Eren dengarkan. Matanya hanya fokus pada hutan kecil yang menyimpan satu rahasia kecil di depannya.

Eren kembali tersenyum. Ia tidak sabar untuk bertemu Levi lagi.

TBC

[Chapter 1: Eren's sight, ends.]


A/N: I can't say nothing other than "I HAVE SOILED THIS BEAUTIFUL UNIVERSE AAAAA!". Karena saya ga bisa nahan hasrat buat bikin series apapun dalam Vandaria Universe, dan tadaaaa maka jadilah! Sekalian promosi (meski tak dibayar tapi tak apalah kan bangga sama karya bangsa!) dan mencari teman fangirl… haha.

Kalo masih bingung soal Universe-nya, monggo di cek diwebsitenya www .vandaria .com atau follow di vandariasaga.

Anyway, kalo sesuai rencana fic ini akan habis dalam 4 chapter (3 chapter utama dan 1 epilog) jadi stay tuned! Dan makasih udah baca muah :*