"Jangan percaya dengan perasaanmu, nak."
Dulu—dulu sekali; ketika masih banyak frameless di muka bumi ini, ketika Majelis Tunggal masih ada dan memerintah sebagian bumi Vandaria. Dulu—dulu sekali, ketika manusia masih takut akan bakat alami frameless. Dulu—dulu sekali, mungkin ada dua sampai tiga ratus tahun yang lalu, ketika dia masih menjadi calon agen yang berada di bawah pengawasan seorang mentor agen senior.
"Seorang frameless haruslah mengedepankan logika di atas segalanya."
Dulu—dulu sekali, ia mempunyai seorang mentor. Erwin namanya. Seperti frameless pada umumnya, rambut Erwin berwarna putih keemasan tipis dan memiliki mata berwarna belang biru-hijau. Erwin berasal dari marga Irvana yang berbakat dalam pengendalian pikiran. Erwin adalah salah satu agen berbakat; ia sangatlah apik, bijaksana, logis, bertanggung jawab dan berjiwa kepemimpinan. Levi sangat menghormatinya. Kata-kata Erwin selalu ia ikuti dan dijadikan pedoman hidup.
"Kau terlalu serius, Levi. Mungkin sesekali kau harus bergantung pada perasaanmu."
Perasaan? Bukankah beratus tahun yang lalu ia pernah bilang perasaan itu sesuatu yang tidak logis?
Oh, Levi mengerti. Mungkin ini pengaruh dari Hanji? Hanji Zoe, salah seorang ilmuwan jenius kebanggan bumi Vandaria yang disinyalir lahir sekitar seratus tahun sekali, yang merupakan seorang manusia mortal, yang merupakan tunangan dari Erwin?
"Apa maksudmu aku tidak logis, Levi? Aku mencintainya dengan tulus. Kau tidak mengerti? Mungkin suatu saat kau akan mengerti."
Cinta? Bukankah cinta membuat mereka tidak objektif? Mengapa pula kau mencintai manusia yang akan mati dalam 80 tahun hidupnya? Mengapa ia bisa mencintai makhluk yang sebegitu rapuhnya?
"Suatu saat kau akan mengerti. Bahkan aku yang dari Irvana saja tidak begitu mengerti tentang ini. Tapi ini terasa … cukup menyenangkan."
"Aku tetap tidak mengerti," aku Levi jujur, "Cinta tidaklah logis, membuatmu kabur akan pandangan kedepan dan tidak objektif."
"Kau hanya belum merasakannya. Suatu saat kau juga akan merasakan yang namanya cinta."
"Aku tidak akan sebodoh itu,"
"Kita lihat saja nanti."
Sepasang mata hitam-putih Levi hanya memandang Erwin dengan tatapan kosong. Levi tidak mengerti, kenapa Erwin tetap memilih kebahagiaan sesaat? Padahal ia menangis—pertama kalinya Levi lihat—saat istrinya itu berpulang ke pangkuan para Vanadis. Tapi Erwin bilang ia masih bersyukur pernah telah jatuh cinta padanya, meski pada akhirnya ia meninggalkannya sendirian dalam hidup panjang yang seakan tiada akhir.
Levi tidak mengerti dengan jalan pikirmu yang tidak logis, Erwin Smith Irvana.
Levi mungkin tidak akan pernah mengerti.
[Interferensi]
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Vandaria Saga © Ami Raditya
Judul chapter © William Shakespeare
Warning: BL. AU. OOC. Frameless!Levi, jadi jangan kaget kalau Levi rambutnya putih kayak ubanan hahaha #dor. Typo. Levi/Eren. Setting diambil pada masa manusia berkuasa.
Dibuat untuk celeng #SacchiMainYuk
Tidak ada keuntungan apapun yang diambil selain kepuasan pribadi.
[ii. By that sin fell the angels]
Bocah itu datang lagi.
Ini sudah ke sembilan puluh kalinya dalam sembilan puluh hari—ia juga tidak mengerti kenapa ia menghitungnya—si anak manusia itu datang dan mengusik waktu tenangnya di dalam hutan. Hei, tidakkah ia ada PR atau semacam hal-hal tak penting lainnya yang harus dikerjakan, daripada harus merecoki sebuah entitas asing yang berbahaya macam dirinya? Tapi jika ditanya begitu, si bocah manusia itu hanya akan berkata "habis disini aneh dan menyenangkan!" atau "Hutan ini dan isinya membuatku jatuh cinta! Ta-tapi kamu tidak dihitung ya dasar muka papan!" dan nyengir lebar layaknya kuda. Heh, manusia dan pemikiran-pemikiran anehnya yang tidak masuk akal.
Levi memperhatikan Eren dari atas pohon rumahnya dengan mata setengah mengantuk. Kali ini Eren membawa sebuah kotak aneh yang bisa mengeluarkan cahaya (belakangan diketahui kalau benda "magis" itu bernama kamera) dan memotret-motret hutan dan segala isinya. Kata Eren ia memotret sebagai memo agar ia tetap ingat akan kenangan hari ini. Ah, itulah yang membedakan manusia dan ras frameless. Frameless memiliki ingatan yang jauh lebih kuat dari manusia sehingga tidak perlu repot-repot mencatat alih-alih memotret.
"Levi!" si bocah itu memanggil untuk ke yang lima belas kalinya, "Ayo turun dan temani aku menyusuri hutan ini!"
'Lakukan saja sendiri.' batin Levi. Pasalnya, mood Levi hari ini sedang buruk sekali, jauh lebih buruk dibanding yang biasanya. Gara-gara Eren, selama sembilan puluh hari ia terus memimpikan hal yang sama—tentang Erwin, mentornya dulu, dan dirinya.
"Suatu saat kau juga akan merasakan yang namanya cinta."
"Cinta, cinta, cinta." Levi bergumam sembari memain-mainkan sulur yang tumbuh di sekitar kasurnya, "Sebuah emosi bodoh yang menjatuhkan manusia. Aku tidak akan sebodoh itu untuk jatuh cinta, apalagi dengan seorang anak manusia rapuh yang berjenis kelamin sama."
Ya, tidak ada satupun yang bilang kalau itu harus Eren kan ….
"Berisik. Pergi sana."
"Levi jahaaaattt!" Eren balas merengek di bawah sana, "Ayo temani aku mengecek hutan ini! Bukankah kau mencintai hutan ini? Kalau kau sungguh-sungguh maka ayo ikut denganku untuk melihat keadaannya!" seru Eren sedikit tidak nyambung tapi pas juga.
"Tidak juga," balas Levi dingin. Tatapannya masih kosong seperti biasanya, "Aku hanya menjaga hutan ini karena merasa harus. Sudah menjadi tugas marga Flavianus untuk menjaga seluruh hutan di bumi Vandaria."
"Ya, itu artinya kau mencintainya, kan!" seru Eren, "Kalau tidak, kau pasti akan membiarkan truk-truk itu merusak hutan ini! Kewajiban atau bukan, kalau tidak ada cinta pasti tidak akan dikerjakan!"
Levi termenung. Ia tidak punya argumen apapun untuk membantah Eren. Sementara Eren tersenyum bangga seakan-akan baru dapat medali emas.
'Hebat juga kata-kataku! Seandainya aku juga bisa ngomong begitu ke tugas fisikaku.' Batin Eren nista.
"Kau keras kepala." hanya itu yang Levi ucapkan sebelum turun dari rumah pohonnya dan mengekori Eren.
"Terima kasih!" senyuman Eren tambah lebar. Setelah merapikan kamera dan tas sekolahnya, ia pun menggandeng tangan Levi agar yang bersangkutan tidak terpisah dengannya di hutan. "Pada dasarnya kau sebenarnya baik. Terima kasih mau menemaniku. Yuk pergi!"
Levi tidak mengerti kenapa ia membiarkan Eren menggenggam tangannya seenak jidat begitu. Tapi ia lebih tidak mengerti kenapa dadanya terasa sesak—seakan-akan ada banyak tunas yang tumbuh dalam dadanya yang mendesak keluar hingga tumpah.
.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Matahari sudah nampak di ufuk barat, dan garis-garis oranye nyaris hitam sudah nampak mendominasi langit. Di bawah naungan pepohonan Hutan Cahaya yang seakan tidak terpengaruh waktu, Eren tersenyum dengan puasnya sambil menatap kameranya dengan mata berbinar-binar. Hasil jepretannya hari ini memang patut diacungi jempol—karena ia berhasil mengabadikan hewan-hewan aneh yang mungkin hanya ada di Hutan Cahaya. Sementara Levi ekspresinya tetap datar seperti biasanya—yah mungkin karena ia sudah terbiasa dengan keadaannya, atau mungkin karena ia tidak tertarik, atau mungkin ekspresinya hanya bisa seperti itu.
"Kau tersenyum seperti orang bodoh," hardik Levi tanpa hati. Namun bukannya tersinggung, Eren malah tetap mempertahankan senyumannya.
"Karena aku senang. Aku melihat banyak spesies-spesies aneh yang bahkan tidak tercantum dalam buku. Tidakkah kau senang?" Eren balik bertanya.
"Aku tidak merasakan senang," jawab Levi sambil menerawang, "Lagipula, dulu jumlah mereka banyak, jadi aku sering melihatnya. Lalu manusialah yang dengan bodoh memburu mereka dengan tamaknya sehingga jumlah mereka menjadi sangat sedikit sekarang ini."
Eren menunduk. Hatinya terasa teriris sekali. Bagaimana pun juga ia juga termasuk ras busuk nan rapuh yang dibicarakan Levi ini.
"Hei, Levi …" setelah terdiam cukup lama akhirnya Eren kembali membuka suara, "Apa kau membenci manusia?"
"Ya." Satu jawaban singkat dari Levi lebih dari cukup untuk membuat Eren merasa ingin menangis. Tapi Eren itu lelaki yang kuat! Ia tidak boleh keliahatan lemah.
"Kenapa?"
"Karena kalian merenggut semuanya—tanah hijau, udara bersih, tempat tinggal." Levi menarik napasnya, diam sejenak, "Lalu kalian juga merenggut orang yang berharga bagi orang yang berharga bagiku."
"Oh begitu," Eren menghela napas. Ada rasa menyesakkan di dadanya yang membuatnya ingin muntah. "Kalau begitu … apa kau membenciku?"
Uwaaaaa. Rasanya Eren ingin menjerit ketika menanyakan hal itu. Tapi ia harus tahan—soalnya ia diam-diam penasaran tentang pemikiran Levi terhadapnya.
Levi termenung. Di benaknya ia memikirka tentang banyak hal. Tentang hidupnya, tentang hutannya, tentang Erwin, tentang dirinya, tentang Hanji, tentang manusia, tentang frameless, dan juga tentang … Eren.
Pandangan Levi terhadap manusia seperti para frameless pada umumnya; sebuah spesies bodoh yang tidak masuk akal, tidak solid, dan rapuh seperti debu. Tapi pandangannya berubah ketika ia mengenal Hanji Zoe—satu-satunya manusia yang tidak mendiskriminasi kaum frameless dan cenderung menaruh pengertian lebih pada mereka. Hanji membuat mata Levi terbuka akan pandangan sempitnya selama ini mengenai manusia—dan yang paling penting, mengenai emosinya.
Namun kemudian manusia-manusia itu merenggut Hanji dari dunianya. Dari dunia mentornya, Erwinnya. Membuat mata hijau-biru itu kehilangan kilatnya di bawah sinar.
Kemudian Levi kembali membenci manusia—kali ini lebih-lebih dari sebelumnya.
Lalu, Eren datang.
Awalnya kedatangan Eren amat mengusik dirinya—mengingatkannya dulu mengenai Hanji yang selalu mengganggunya di jam-jam bebas. Tapi lama-kelamaan ia menjadi terbiasa. Ia menjadi terbiasa mendapati Eren yang duduk di bawah pohon rumahnya dan membicarakan mengenai hari-harinya. Ia menjadi terbiasa mendapati Eren yang duduk di bawah pohon rumahnya dan mengenalkannya barang-barang "magis" dari dunia luar. Ia menjadi terbiasa mendapati Eren yang duduk di bawah pohon rumahnya dan bertanya-tanya soal spesies-spesies aneh yang hanya ada dalam hutan. Ia menjadi terbiasa mendapati Eren yang duduk di bawah pohon rumahnya dan mencuri-curi momen untuk memotretnya saat tidur siang.
Eren datang, dengan memberinya warna. Dengan menutupi luka hatinya yang menganga selama lima tahun.
"Ma-maafkan aku, Levi! Aku akan pergi sekarang. Tadi aku melihat ada kucing yang ekornya seperti daun—ah sepertinya dia di sana. A-aku akan melihat—"
"Namanya Myu,"
"E-eh?"
"Kucing itu namanya Myu. Kucing istimewa yang jumlahnya hanya belasan sekarang. Yang membedakannya dengan kucing lain ialah mereka berkembang biak dengan bertunas." Terang Levi, masih dengan wajah datar. "Dan aku tidak membencimu."
"Oh begitu—eh?" Eren melongo.
"Dari dulu Hanji dan Erwin selalu bilang kalau aku tidak pandai dalam mengungkapkan emosi," kata Levi, "Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku tidak mengerti apa itu cinta. Untuk itu, maukah kau mengajariku, apa itu cinta?"
Eren tidak tahu harus berkata apa—ia bahkan tidak tahu ia harus bertingkah bagaimana. Bahkan saat Levi mendekatinya dan meraih pipinya, ia sama sekali tidak tahu harus bereaksi apa. Senang? Bahagia? Tersipu? Haruskah ia menjerit malu layaknya tokoh utama komik cewek? Haruskah ia sok malu-malu, apalagi sekarang Levi makin dekat dengan dirinya—
—dan mengecupnya. Singkat, lembut, perlahan, dan cukup untuk menumpahkan perasaan mereka berdua. Cukup untuk menumpahkan rasa cinta Eren yang tak terbendung dan cukup untuk menambal luka lama yang menganga milik Levi.
"Le—Levi, berhenti sebentar! Hei—ugyaaa!"
Levi tidak berhenti begitu saja. Dijejakinya leher Eren dan dihisapnya dalam-dalam hingga menyisakan tanda merah. Eren ingin menyuarakan protesnya, namun ia tak kuasa. Ia begitu terbuai oleh suasana yang mendukung. Oh. Ooooh. Inikah yang dimaksud dengan Erwin? Inikah kenikmatan mencinta dan dicinta?
"Lev—vuaahhhhnn,"
"Eren …." Eren. Eren. Eren. Nama itu bergaung begitu indah di telinga Levi. Membuatnya bergairah. Membuatnya kecanduan seperti anggur-anggur yang diproduksi di rumah pohonnya.
"E-Eren .…"
"Bagus. Bagus sekali. Jadi setelah menggagalkan rencanaku untuk menggunduli hutan ini, kau sekarang ingin memperkosa anakku?!"
Levi dan Eren langsung membuat jarak di antara mereka. Dan alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Grisha Jaeger, ayah Eren, sekaligus pemilik perusahaan Jaeger, berdiri menghadap mereka dengan sejumlah personil bersenjata lengkap di belakangnya.
"Ayah …." Desis Eren, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Harusnya aku yang bertanya," balas Grisha, "Kenapa? Kau bosan di rumah sehingga melacurkan dirimu seperti itu?"
"Tidak! Levi itu—"
"Pergi," tanpa diduga, Levi sudah menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Sejumlah sulur-sulur tanaman sudah menari-nari dengan ganas di belakangnya. "Pergi. Atau ku—"
"—hancurkan. Sayangnya sihirmu tidak berpengaruh padaku!" seru seseorang dari belakang Levi. Sebuah pistol tertodong di ubun-ubun Levi, membuat Levi kesulitan untuk bergerak tanpa membuat lubang di kepalanya.
"Connie! Apa yang kau lakukan?!" pekik Eren ketika mendapati sahabat sehidup seremedialnya di sekolah menodongkan pistol seenak jidat pada kekasihnya tercinta.
"Jauhi dia, Eren!" suara Jean menyusul setelahnya, "Dia itu berbahaya! Mundur!"
"Jangan banyak bergerak!" Armin kemudian datang dan mengacungkan pisau berburunya yang mengeluarkan pendar biru. "Tak ada gunanya kau berontak. Kami masing-masing dilengkapi dengan rune antisihir! Karena itu pula kubah perlindungan yang kau pasang tidak berpengaruh pada kami. Menyerahlah, melawanan pun akan sia-sia."
"Armin, Jean, Connie, kalian kenapa?!"
"Kamu yang kenapa, bodoh!" semprot Jean. "Kau tidak tahu siapa dia?"
"Levi itu hanyalah frameless yang ingin melindungi hutan ini!"
"Dia itu yang membunuh Nyonya Carla lima tahun yang lalu tahu!"
Ngiiiiiiiiiiing.
Eren membeku. Matanya melotot. Ia tak percaya. Levinya… Levinya yang baik hati dan penyayang meski dingin … Levinya …
Membunuh ibunya?
"Sekarang kau tahu, Eren. Pulanglah," perintah sang ayah.
"Levi, itu bohong 'kan?" Eren meminta kepastian. Namun Levi tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Levi! Jawab aku. Itu bohong 'kan?"
"Cepat amankan dia. Jangan lupa pasang rune kalian! Armin, Connie, kita akan kembali dan melapor pada Kak Ymir dan yang lainnya!"
"Asiiiik, bakal dapat bonus dari Kak Reiner nih!"
"Levi!" Eren kembali berteriak ketika melihat Levi diselubungi kertas-kertas mantera yang dipasangi rune, "Jawab aku!"
Levi tetap tidak menjawabnya dengan kata-kata—Levi hanya membalas tatapannya dengan tatapan sendu, seakan-akan ia menyesal akan hal itu. Belum sempat Eren memastikan maksud dari perilaku (aneh) itu, kedua iris hitam-putih Levi terlanjur tertutup rapat dan memulai tidur panjangnya.
Dari situ, Eren tahu kalau Jean benar.
Kemudian air mata Eren tumpah—deras sekali.
—TBC
[Chapter 2: Levi's sights, ends.]
A/N: Uwaaaa udah 2 minggu ga apdet.. eh iya kan? Dan apdetnya pas mepet-mepet UTS hohoho biarlah sekalian ngerain tugas Corel, dan harus buru-buru biar pas sama tenggat.
Terus mau nge-confess, kalo gue belom nonton episode 22-25 hahaha sip. #soksibuk
