Author : Nakajima Hikari
Title: Comedy Gagal(?) HSJ
Type : Multichapter
Story Language : Indonesia, little bit Japanese
Genre : Friendship, Comedy(garing)
Cast: all member HSJ, Arima Sachi as Arima Sachi, Yuuko Louise Matsui as Hinako
Disclaimer : Hope you enjoy it XD
School Girl~
Suatu hari yang terik di musim panas seperti ini. Ya, orang-orang biasanya memilih untuk berdiam di rumah dibandingkan keluar sambil berperang dengan sinar UV. Hari itu juga kira-kira cuaca sampai 41oC dibandingkan suhu normal tubuh manusia yang hanya 37oC. Hari itu BEST sedang berlibur di Kyoto sedangkan anak-anak 7 hanya bisa bengong di ruang tamu.
Tiba-tiba…
"Hey, kalian tidak merasa bosan?" Tanya Yuto sambil mengipas diri dengan uchiwa.
"Aku bahkan tidak bisa membicarakannya. Ini sudah lebih dari bosan." Jawab Yamada.
"Dan lebih dari panas…" tambah Keito.
"Hmmm… bagaimana kalau kita main game?" usul Chinen.
"Ide bagus Chii!" jawab Yuto semangat sambil mengelus-elus kepala Chinen.
"Boleh juga. Jadi, kita mau main apa?" Tanya Yamada.
"Bagaimana kalau ini?" ucap Ryuu sambil menunjuk sekumpulan kartu UNO yang ada di atas meja.
"Ide bagus." Jawab Yuto.
"Bagaimana kalau ada batsu gamenya?" Tanya Chinen. (batsu game: hukuman)
"Boleh." Jawab yang lain serempak.
"Jangan yang aneh-aneh yaa." Ucap Keito agak ragu.
"Tenang saja~~" jawab Chinen sambil terseyum licik.
"Baiklah, apa batsu gamenya?" Tanya Yamada.
"Bagaimana kalau menembak cewek? Kalian tau asrama cewek di samping sekolah kita bukan? Kudengar mereka sudah mulai tahun ajaran baru. Bagaimana kalau yang kalah harus bisa masuk ke sekolah itu dan menembak cewek yang disuka?" jawab Chinen girang.
"Tumben otakmu jalan Chii, baiklah aku setuju-setuju saja. Gimana lu, Yam? To? Ryuu?" Tanya Yuto.
"Gue ga bakalan mau kalah!" ucap Keito sambil mengepal tangannya dengan semangat menerawang ke atas. Yang lain pun ikut melihat ke atas lalu menggeleng-geleng.
"Okelah. Ayo dimulai!" seru Yamada.
"Okee! Ayoo hompimpa dulu siapa yang mulai pertama." Seru Chinen.
"Hompimpa ala ayu gambreeeng!" ucap semunya serempak.
"Yes! Gua duluan!" seru Keito.
"Jalannya ke kanan yaa." Ucap Ryuu.
"Iya dah." Jawab Yuto.
"Nih!" ucap Keito sambil meletakkan kartu biru dengan angka 1.
"Hehe makasih banget~" ucap Yamada terseyum bangga sambil meletakkan 3 kartu sekaligus.
"Ahh sial." Ucap Yuto sambil mengambil kartu tambahan karena ia tidak memiliki kartu merah satu pun.
"Yesss~" ucap Chinen sambil meletakkan 3 kartu berbalik arah.
"Sial Chii. Baru juga awal main." ucap Ryuu.
"Hehehe~ jalan Yut." Ucap Chinen.
"Wahh baik banget Chi." Ucap Yuto sambil meletakkan kartu kuning bernomor 4.
"Siplah~" ucap Yamada sambil meletakkan kartu kuning bernomor 3
"Nah!" ucap Ryuu sambil meletakkan kartu skip..
"Sial. Ini mah gua kagak jalan-jalan!" keluh Keito.
"Hahaha gomenne Keito" ujar Ryuu.
Permainan terus berlanjut sampai akhirnya tinggal tersisa Yamada dan Keito. Yuto keluar pertama lalu disusul oleh Ryuu dan Chinen. Kini Yamada dan Keito sedang beradu gulat otak agar tidak kalah. Pertarungan pun mulai sengit, mungkin kalau dipertandingan sepak bola dunia, inilah final antara Jerman dan Argentina.
"Haaa!" ucap Yamada sambil meletakkan kartu plus 2.
"Hmmm" Keito pun meletakkan kartu plus 2 juga.
"Heee~" balas Yamada sambil meletakkan kartu plus 2 lagi. Kini kartu Yamada tinggal satu, sementara kartu Keito masih ada 2.
"Gua gamau kalaah!" ucap Keito sambil meletakkan kartu plus 4.
"Waah pasti kartumu yang satu bukan plus ya? Fufufu" ucap Yamada yakin sambil meletakkan kartu plus 4 juga. Kini Yamada sudah kehabisan kartu.
"Haaah!?" teriak Keito kaget. Memang benar apa yang dikatakan Yamada. Kartu terakhir Keito adalah kartu ganti warna.
"Yes! Gue menang~~" ucap Yamada sambil bersiul.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk!" teriak Keito shock tidak percaya.
"Hehehe~ batsu game batsu gaaamee~~" ucap Chinen.
"Yang sabar yaah Keito." Ucap Yuto sambil menepuk bahu Keito.
"Tidaaaaaakkk… Gua ga mau!" teriak Keito lagi.
"Berisik lu! Hukuman ya hukuman!" keluh Yamada.
"Siaaaaaaaaaallll!" ucap Keito sambil meringkuk masih tak percaya.
"Hahaha~~ ayoo jangan malu-malu begitu Keito." ucap Ryuu.
"Apaaan!?" jawab Keito kesal.
"Ngomong-ngomong bagaimana si Keito bisa masuk ke asrama putri itu? Bukannya cowok dilarang masuk ke sana!?" Tanya Yuto.
"Ooh~ aku punya ide~" ucap Chinen sambil bergegas menuju kamarnya terburu-buru. Ia pun kembali beberapa saat kemudian sambil membawa sebuah plastik berwarna hitam.
"Kau akan menggunakan ini~" ucap Chinen sambil memberikannya pada Keito.
"Apaaan neh!?" Tanya Keito sambil membuka apa yang ada di dalam kantong plastik tersebut.
"BWAHAHAHAHAHAHA!" Yamada dan Ryuu pun serempak tertawa sambil terbahak-bahak.
"You can't be serious about this!" teriak Keito dengan logat Britishnya yang handal itu.
"Kau bakal tampak… pfft." Ucap Yuto sambil menahan ketawa.
"Diam! Kenapa gua harus berdandan ala begini!?" ucap Keito kesal.
"Yaah mau gimana lagi. Satu-satunya cara biar kau bisa masuk ke asrama putri itu yaa dengan berpenampilan seolah-olah kau murid sana." Jawab Chinen sambil tertawa dalam hati.
"Maa, ganbatte saja yah Keito." Ucap Ryuu.
"Sial…" keluh Keito sambil menghela napas dalam-dalam untuk kesekian kalinya.
"Sampai jumpa ya Keito, semoga lu selamat-selamat aje yeh." Ucap Yamada sambil berjalan ke kamar.
"Awas aje lu! Gua ga bakal tinggal diam!" ucap Keito.
"Gawat nih. Gua bahkan ga kenal siapapun di sekolah itu. Yang bener aje ini batsu game! Masa gua disuruh nembak cewek yang belom gua kenal sama sekali!? Terlebih lagi... kenapa dengan... seragam ini..." keluh Keito sepanjang perjalanan. Tiba-tiba ada yang menepuk Keito dari belakang.
"Hei! Kamu anak baru di sini?" tanya seseorang di balik sana.
"I... Iya..." jawab Keito dengan suara cewek yang dibuat-buat sambil sedikit panik.
"Waah kalau begitu salam kenal ya! Namaku Arima Sachi. Panggil aku Sachi saja. Yoroshiku ne! Namamu siapa? tanya gadis berbadan mungil dengan senyum hangat.
"N-namaku... O-Okamoto..." jawab Keito tegang.
"Okamoto? Okamoto...?"
"Okamoto Kei... Keithy desu." jawab Keito makin tegang.
"Okamoto Keithy? Kamu orang campuran ya?" tanya Sachi penasaran.
"Y-yaa.. begitulah..." ucap Keito sambil menggaruk-garuk kepala.
"Baiklah kalau begitu~ ayoo kita masuk kelas!" ucap Sachi sambil menarik tangan Keito.
*Gawat, bisa brabe gua kalo gua ketahuan bukan murid pindahan. Gua harus nyari alesan nih!*
"Aah.. gomen. Aku perlu ke... ke.. kamar kecil." ucap Keito terbata-bata.
"Ahh, baikalah. Aku akan menunggumu di kelas. Sampai jumla nanti yaa." ucap Sachi dan langsung menuju kelas.
"Gilee... gua kapok bener... hampir aja riwayat gue tamat di part 7 ini..." ucap Keito sambil menghela nafas panjang.
Sementara itu Keito pun berjalan menuju kamar kecil. Saat sampai di depan Keito pun hanya bisa speechless. Dia baru menyadari kalau dia sedang berada di asrama putri. 100% siswi maupun guru dan staff-staffnya adalah perempuan!
"Wehehee asyik juga betewe di sini. Gue bisa melihat-"
"Hey jangan ngalangin jalan dong!" ucap seseorang di sana.
"Ahh, maaf..." balas Keito.
"Tunggu..." ucap gadis yang kira-kira hampir sama tingginya dengan Keito sambil melihat ke arah Keito.
*Gawat!*
"Kok mirip seseorang ya?" tanya gadis itu.
"M-masa sih?" jawab Keito sedikit panik.
"Iya tau. Mirip dengan..." jawab gadis itu lagi.
"Hinako-chan, ayo cepetan! Udah mau bel nih!" teriak seseorang dari jauh sana.
"Hmm.. lupakanlah. Mungkin kacamataku sudah mulai aneh." ucap gadis yang bernama Hinako sambil pergi meninggalkan Keito.
*Tasukatta... dia kan tetangga kita yang di depan rumah. Gua kaga pernah tau dia sekolah di sini. Maklum, gua sibuk shooting buat drama baru gua sih*
"Sepertinya gua harus cepat-cepat mikirin batsu game ini." ucap Keito sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh si Keito gimana kabarnya yah? Jadi kepo nih." tanya Chinen penasaran.
"Pasti gagal hahahaha." jawab Ryuu.
"Eh siapa tau dia berhasil. Gimana?" ujar Yamada.
"Muri muri muri~ susah pastinyaa~" jawab Ryuu lagi.
"Sudah sudah. Bagaimanapun hasilnya kita lihat saja nanti. Batsu game kali ini mantap juga ya." ucap Yuto.
"Fufufu iya dong~" tambah Chinen.
"Lagian Chinen bisa aja nemu tu baju. Dapet dari mane lu Chii? Jangan-jangan lu nyolong yaa..." tanya Ryuu.
"Hetdah apaan? Ngapain gue nyolong. Ada lah gue dapet dari siapa ga perlu tau. Cukup gue aja yang tau~" jawab Chinen santai.
"Yeeuu..." ucap Ryuu.
"Gue bersyukur banget ga dapet batsu game itu. Gile aje gue. Bisa mati duluan." kata Yamada.
"Lo lagi beruntung, Yam." ucap Yuto.
"Iya nih~" jawab Yamada sambil bersiul.
"Maa, kita lihat saja nanti di akhir episode ya!" ucap Chinen semangat.
"Emang lo kata ini sinetron ape?" tanya Ryuu.
"Status disamakan~" jawab Chinen. Semua pun tertawa.
"Yosh... semoga ini berhasil." bisik Keito sambil bersembunyi di balik tembok.
Keito pun memutuskan dia akan menembak Sachi, ya, gadis yang baru ia kenal tadi pagi. Keito pun menulis surat cinta dan meletakkannya di loker Sachi. Sachi yang tengah selesai istirahat pun akhirnya menuju lokernya untuk mengambil buku pelajaran jam berikutnya. Saat Sachi membuka lokernya, ia pun terkejut dengan apa yang ia lihat di dalamnya.
"Waaah ada penggemar rahasiamu ya Sa?" tanya seseorang dari belakang sana sambil menepuk bahu Sachi.
"Duuuh Hinako-chan! Bikin kaget aja sih." keluh Sachi.
"Ciieee... apaan tuh isi suratnya?" tanya Hinako.
"Entahlah. Baru juga buka loker." jawab Sachi.
"Yaudah buruan tuh dibuka~" bujuk Hinako.
"Entar aja lah. Bentar lagi masuk. Yuk masuk ke kelas." ajak Sachi sambil meletakkan surat tersebut di saku roknya.
"Cih, dasar anak rajin." jawab Hinako sambil mengikuti Sachi dari belakang.
"Ngomong-ngomong kamu lihat Keithy? Aneh aku tak melihatnya seharian ini." ucap Sachi.
"Keithy!? Siapa dia?" tanya Hinako.
"Itu loh murid pindahan yang baru datang hari ini. Mukanya rada bule gitu. Cantik deh. Katanya dia blasteran." jawab Sachi.
"Hmm.. ga kenal tuh. Aku ga pernah ketemu orangnya." jawab Hinako.
"Begitu ya... yasudahlah..." ucap Sachi sambil menaruh buku di atas mejanya.
"Jangan-jangan..." perkataan Hinako pun terputus karena tiba-tiba bel tanda istirahat selesai berbunyi dan guru pun mulai memasuki ruang kelas.
"Temui aku di atap sekolah pulang sekolah nanti.
From O.K"
"Hmm… ada-ada saja ini." Ucap Sachi sambil menaiki tangga menuju atap sekolahnya. Saat Sachi sampai di atap sekolah, ia tidak melihat siapapun. Ia pun memutuskan untuk mengitari atap sekolah.
"Sachi…" ucap seseorang di belakang sana.
"Ya…" jawab Sachi sambil menoleh, ia tidak mengenal sosok yang ia lihat barusan. Seorang laki-laki jangkung menggunakan jaket berwarna abu-abu dan celana kotak-kotak. Rambut yang berwarna coklat tampak keemasan terkena sinar matahari senja dan gaya rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
"Ano…" ucap sosok di sana.
"Kamu kah yang menaruh surat ini pada lokerku?" Tanya Sachi tegas. Laki-laki yang berdiri di ujung sana terlihat sedikit tegang.
"I-iya…" ucapnya terbata-bata.
"Kamu siapa? Ada yang kamu ingin bicarakan?" Tanya Sachi penasaran.
"A-aku…" ucapnya sambil melirik-lirik kanan-kiri. Sachi masih meunggu jawaban dari sosok laki-laki di seberang sana.
"A-aku… Ke-… Keito." Jawab Keito tegang.
"Keito?" Tanya Sachi.
"Y-ya… Keito. Okamoto Keito." Jawab Keito.
"O-Okamo…" balas Sachi sambil berpikir. Okamoto? Apa aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat…
"Etto…"
"Tunggu." Sachi pun seketika mengingat sesuatu. Ia pun melihat Keito dari atas sampai bawah dengan penasaran. Apa aku pernah bertemu dengannya? Dia seperti mirip denggan seseorang…
"Ano!" ucap Keito dan Sachi serempak.
"Ahh kau duluan saja." Ucap Keito.
"Hmm… apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sachi.
"Etto... pernah. Se-sekali." Jawab Keito.
"Souka…" ucap Sachi.
"Ano…" ucap Keito lagi. Sial, gua nervous banget ini.
"Ya?" Tanya Sachi.
"A-aku…" katakan Keito! Kau pasti bisa! Demi batsu game ini kelar secepatnya!
Sachi pun menunggu Keito berbicara.
"A-aku… su… su…" ucap Keito panik. Keringat Keito sedikit demi sedikit jatuh dari keningnya. Keito pun menggepal tangannya sekuat tenaga.
"Ya?" jawab Sachi.
"A-AKU SUKA KAMU!" ucap Keito dengan lantang.
Sachi pun terlihat diam saja di seberang sana. Tanpa ekspresi. Keito pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Walaupun ia masih sedikit tegang.
"Maaf…" ucap Sachi di seberang sana.
"Ya?" balas Keito.
"Maaf… aku sudah menyukai orang lain." Jawab Sachi.
Deg! Ada apa ini?
"A-aah… tidak ap-apa-apa…" jawab Keito sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Gomenne…" ucap Sachi sambil pergi meninggalkan Keito.
Keito pun hanya bisa terdiam berdiri tak berdaya. Seakan-akan nyawanya di ambil oleh Sachi.
"Ano…" ucap Sachi yang sudah berdiri di depan pintu tangga.
"Ya?" ucap Keito.
"Kau pantas juga ya memakai rok mini, Keithy." Ucap Sachi sambil lalu.
Hah… HAAAAAAH? APAAAAA?
Keito pun terlihat shock saat mendengar perkataan Sachi yang terakhir.
Tunggu… kok!? Dia bisa tau? Dari siape?
Keito pun tiba-tiba menemukan sesuatu yang tak terduga.
"HINAKO SIALAAAAAN!" teriak Keito kesal.
"Fufufu, maafkan aku ya, Keito-kun." Ucap Hinako yang sedang bersama Sachi di balik pintu tangga.
"Hinako-chan, kau kejam sekali." Ucap Sachi.
"Hahaha… hanya sekali ini saja kok. Lagian saat aku tau itu dia aku tidak bisa berhenti ngakak sampai perutku sakit." Jawab Hinako.
"Dasar. Kok kamu bisa tau itu dia?" Tanya Sachi.
"Hmm…"
*flashback*
"Hey jangan ngalangin jalan dong!" ucap seseorang di sana.
"Ahh, maaf..." balas Keito.
"Tunggu..." ucap gadis yang kira-kira hampir sama tingginya dengan Keito sambil melihat ke arah Keito.
*Gawat!*
"Kok mirip seseorang ya?" tanya gadis itu.
"M-masa sih?" jawab Keito sedikit panik.
"Iya tau. Mirip dengan..." jawab gadis itu lagi.
"Hinako-chan, ayo cepetan! Udah mau bel nih!" teriak seseorang dari jauh sana.
"Hmm.. lupakanlah. Mungkin kacamataku sudah mulai aneh." ucap gadis yang bernama Hinako sambil pergi meninggalkan Keito.
"Yokatta…" ucap Keito sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Keito?" ucap Hinako.
"… Heh?" jawab Keito.
"BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA!" Hinako pun tertawa terbahak-bahak.
"Pssst!" ucap Keito sambil menarik Hinako ke tempat yang sepi.
"Lo ngapain di sini? Apaan ini make seragam sekolah gue? Bwahahahah." Ucap Hinako.
"Pssst! Diem lu. Gua lagi kena batsu game neh!" jawab Keito.
"Bwahahahaha! Batsu game apaan?" Tanya Hinako.
"Ini nih. Kejaannye si Chinen. Gua harus nembak cewek di sini. Tapi sekolah lu kan ketat banget aturannya. Kaga ade cowok sama sekali di sini. Terpaksa banget gua harus kayak gini." Jawab Keito sambil mengernyitkan keningnya.
"Wakakakaak! Ade-ade aja lu pada. Bisa-bisanye lu masuk ke sini." Ucap Hinako masih sambil ketawa.
"Pssst! Udah ah elah. Guam au nembak cewek dulu nih. Ga mau gua lama-lama make ni baju." Ucap Keito.
"Wkwk terserah lu dah. Betewe lo mau nembak siapa? Emang lu kenal anak-anak sini?" Tanya Hinako.
"Kaga… eh kenal deng, si… Sa… Sachi?" ucap Keito sambil mengingat.
"Sachi? Arima Sachi?" Tanya Hinako sambil menaikkan alis matanya sebelah.
"Nah iye itu dah dia." Jawab Keito.
"Wkwkwk semangat yek! Dia temen sebangku gue loh." Ucap Hinako.
"Iyak? Nah gua minta tolong dong ama lu!" ucap Keito sambil mengeluarkan sepercik amplop berwarna putih.
"Apaan neh?" Tanya Hinako.
"Nih, tolong kasihin si Sachi dong. Taro di loker kek di bawah meja kek pokoknya harus bisa dilihat ame dia. Entar gua traktir elu dah di Lauson ape Sepel." Ucap Keito.
"Hmm janji ye?" tanya Hinako.
"Iye dah sumfeh ane zuzur." Jawab Keito.
"Cah ilah ga cocok elu make bahasa Arab!" balas Hinako sambil tertawa.
"Udeh sono! Pokoknya harus nyampe ame si Sachi ye! Awas lu!" ucap Keito.
"Iye iye dah" jawab Hinako sambil pergi.
*Tasukatta... dia kan tetangga kita yang di depan rumah. Gua kaga pernah tau dia sekolah di sini. Maklum, gua sibuk shooting buat drama baru gua sih*
"Sepertinya gua harus cepat-cepat mikirin batsu game ini." ucap Keito sambil menggaruk-garuk kepalanya.
*flashback end*
"Begitu." Ucap Hinako.
"Hahaha ada-ada aja kamu, Hinako-chan." Ucap Sachi sambil tertawa.
"Yaudah lah ya… yuk pulang, udah kesorean ini." Ucap Hinako.
"Iya deh…" balas Sachi sambil menuruni tangga.
"Haaah, yang penting gua udah rekam. Sialan Chinen make acara di rekam-rekam segala. Katanye 'biar ada bukti'." Ucap Keito sambil mencibir mulutnya.
Keito pun pulang dengan perasaan sedikit kecewa namun lega dari sebelumnya. Ia merasa kalau ia ingin segera menonjok muka Chinen yang imut itu dengan sarung tinju, apalagi si Yamada yang sudah menang darinya. Keito pun akhirnya sampai di rumah.
"Tadaima." Ucap Keito sambil melepas sepatunya.
"Siapa elu?" Tanya orang di sebelah sana.
"Apaan sih? Capek nih gua." Ucap Keito tanpa melihat siapa yang sedang berbicara di depannya.
"Cieee, Yuy. Pacar baru lo?" Tanya Daichan.
"Hah apaan? Gue aja kagak tau ni cewek siapa." Jawab Yuya.
"He? Kalian udah pulang?" Tanya Keito.
"Waah ada gadis bule. Pacar siapa pacar siapa?" Tanya Inoo.
"Gua Keito, Inoo-chan. Please deh…" ucap Keito sambil jalan menuju ruang tamu.
"Et.. et.. et.. tunggu dulu. Gue kaga tau Keito bisa cantik kayak gini." Ucap Yabu.
"Apaan sih? Gua mau ganti baju neh!" balas Keito.
"Ooo~ tidak bisa." Ucap Hikaru sambil melirik yang lain dengan kedip-kedip.
"Kok gua tiba-tiba merinding ya…" ucap Keito.
"Ayolah. Lumayan, kemarin yang kena Ryuu. Sekarang Keito." Ucap Yabu.
"Mau kita apain?" Tanya Daichan sambil membuat deathglare ke Keito.
"Kalian…" ucap Keito mencoba kabur dari kerumunan BEST.
"SERBUUUUUUU!" teriak Daichan sambil menangkap Keito.
"WOOOOIII! KALIAN MAU NGAPAIN? LEPASIN GUAAA!" teriak Keito.
"Sayangnya ga bisa, Ket." Ucap Yuya sambil tersenyum manis.
"TIIIIIDDDDDDDDDDDDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!" teriak Keito.
Sementara itu…
"Hahaha kena juga dia." Ucap Chinen yang sedang bersembunyi di balik tembok mengintip para BEST yang sedang menyantap Keito.
"Wakakak gue ga mau punya nasib kayak Keito ahh." Ucap Yamada.
"Gue juga ogah. Si Ryuu udah pernah ngerasain kan ya?" Tanya Yuto.
"Berisik! Ga usah ingetin gue lagi sama itu!" jawab Ryuu sambil memukul kepala Yuto.
"Sudahlah, kita tunggu saja Keito di kamar. Dia belum dikatakan selamat sebelum menyerahkan hasil rekamannya." Ucap Chinen terseyum bahagia.
"Chinen kayaknya bahagia bet." Ucap Yamada.
"Ya iya lah, masa ya iya dong. Duren aja dibelah, masa dibedong!?" ucap Chinen sambil tertawa.
"Dasar Chinen…" ucap Yuto.
To be continued…
