PLEASE LOVE ME
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata
Rated : T
Author : okta0809
Don't Like Don't Read
Previous Chapter 4
"Hinata-chan." Panggil Sai sambil menatap langit.
"Ya Sai-kun ?"
"Aku menyukaimu." Sambung Sai entah sadar atau tidak. Hinata kaget tetapi dia berusaha mengambil makna positifnya dan memang dasarnya Hinata polos.
"Aku juga menyukai Sai-kun, Sai-kun teman yang baik dan selalu mengerti aku. Sai-kun sepertinya jam kuliahku akan dimulai aku pergi dulu Jaa-nee." Pamit Hinata lalu pergi begitu saja. Sai yang mendengar kata teman membeku sejenak hatinya kosong.
"Tapi maksudku bukan itu Hinata, aku menyukaimu sebagai seorang."
"Perempuan." Sai frustasi dia menyesal tidak menahan Hinata dan mengatakan semuanya tetapi ia berpikir lagi jika ia mengatakannya ini akan mengganggu Hinata dan yang lebih parah Hinata akan mejauhinya.
'Apa sudah seterlambat ini.' Gumam Sai memegangi dadanya yang terasa perih.
Pagi ini Hinata bangun terlambat dikarenakan ia begadang sampai tengah malam lingakaran hitam tipis terlihat dibawah matanya Hinata juga terlihat lesu. Setelah membersihkan diri Hinata merias dirinya untuk menutupi wajah yang terlihat sedikit lesu dan kusam jantung Hinata tiba-tiba berdetak lagi saat mengingat kejadian semalam.
-FlashBack-
Tiin—tiin—
Handphone Hinata berdering tanda ada yang memanggil tetapi dengan nomor yang tak dikenali Hinata.
"Moshi-moshi." Ucap Hinata tanpa tergagap.
"Hyuuga, aku menunggumu di Cafe Floral jam 08.00." Suara penelpon terasa sedikit familiar bagi Hinata.
"Go-gomen, tapi i-ini dengan siapa ?" Hinata mulai tergagap jantungnya tiba-tiba berdetak mengira-ngira siapa yang menelponnya sekarang.
"Uchiha Sasuke, Kuharap kau tidak terlambat." Masih dengan bicaranya yang datar dan dingin.
"Ta-tap.. -tuut.. tuut..-." sambungan telepon terputus sebelum Hinata melanjutkan kalimatnya. 'Uc-uchiha Sasuke' gumam Hinata masih tak percaya .
-Cafe Floral 08.23-
Terlihat seorang pemuda tampan dengan setelan lengkap duduk sambil sesekali menyesap secangkir kopi dan melirik arloji mahal yang bertengger di lengan kirinya sepertinya ia sedang menunggu seseorang terlihat dari raut wajahnya yang datar dan sedikit kesal. Tak jauh darinya pintu masuk Cafe terbuka dan seorang gadis cantik masuk mengedarkan pandangannya mencari seseorang, seketika ia menunduk malu dan berusaha menormalkan detak jantungnya serta berjalan menuju tempat seorang pemuda.
"Kau terlambat Hyuuga." Suara dingin dan datar langsung menyadarkan Hyuuga Hinata yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Go-gomennasai U-uchiha-san." Hinata terbata-bata dan mematung.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu."
"Na-nani ? Uchiha-san ?" Hinata mengira-ngira apa yang akan dibicarakan Sasuke.
"Kau pasti sudah tahu tentang perjodohan itu." Sasuke to the point masih dengan nada dingin dan wajah temboknya.
"I-iya Uchiha-san."
"Mengapa kau menerimanya itu tidak penting, oleh karena itu aku berharap kau tidak berharap banyak padaku." Hinata sedikit bingung dengan maksud Sasuke.
"Ma-maksud Uchiha-san ?" Tanya Hinata.
"Kau harus tau aku menerima ini dengan terpaksa, Jadi kuharap kau mengerti." –deg- jantung Hinata seperti ditusuk belati tajam mendengar penuturan sang Uchiha didepannya itu, apa maksudnya dengan kata terpaksa pikir Hinata, apa dia tidak memikirkan perasaan Hinata. Hinata berusaha untuk menahan air matanya, matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Namun Sasuke masih datar.
"Ta-tapi Uchi-uchiha-san mengapa a-anda menerima p-perjodohan ini ?" rasanya Hinata ingin pergi saja dari tempat ini, tapi dia ingin memastikannya mengapa Sasuke menerimanya jika hanya terpaksa.
"Ini sudah terlanjur Hyuuga. Dan kupikir kau sama denganku mengingat kau masih kuliah pasti juga kau terpaksa menerimanya kan ?" Jelas Sasuke dengan seringaian meremehkan. Hinata tidak bisa menjawab pertanyaan Sasuke jauh dilubuk hatinya sedikit senang dengan perjodohan ini tetapi mendengar kata terpaksa Sasuke hatinya seketika kosong melompong.
"Hn ?" Ulang Sasuke memastikan jawaban Hinata. Hinata ingin pergi secepatnya dari tempat ini ia sudah tidak tahan lagi.
"I-iya Uchiha-san, saya sama d-dengan anda terpaksa m-menerima per-perjodohan ini. Dan maaf sa-saya harus pergi." Hinata berusaha tidak tergagap dan menahan air matanya keluar, seketika Hinata bangkit dan meninggalkan Sasuke yang memandang punggungnya. "Cih" gumam Sasuke.
Hinata menangis sejadi-jadinya disebuah taman yang sedikit sepi yang hanya beberapa orang yang berlalu lalang. 'Okaa-san mengapa jadi begini, ini bukan rasa yang Okaa-san katakan. Ini tidak menyenangkan seperti yang Okaa-san ceritakan, ini sangat sakit Okaa-san. Okaa-san berbohong pada Hinata' Ucap Hinata dalam hati sambil terus terisak memegang dadanya. 'Apa aku harus membatalkan perjodohan ini? Tapi ini keinginan Okaa-san' Hinata mendongkakan kepalanya ke atas menatap langit.
'Hinata-chan berjanjilah pada Kaa-san apapun yang akan kau hadapi nantinya, jangan pernah terlihat lemah, Hinata-chan harus menghadapinya. Berjanjilah pada Kaa-san'
Sejenak Hinata mengingat kata-kata mendiang ibunya dulu, 'jangan lemah, jangan pernah terlihat lemah, aku tak boleh lemah' gumam Hinata mengusap air matanya masih menatap langit malam.
-flashback end-
Mata Hinata masih sedikit bengkak karena kejadian kemarin mengingat kata-kata kejam Sasuke. Walau Hinata sudah menetapkan hatinya untuk tidak membatalkan perjodohan itu hanya berniat untuk memperlambat dia perlu berpikir sebelum semuanya terjadi tapi apa jadinya jika ia membatalkan pasti dia akan ditanyai beribu pertanyaan dari ayahnya. Dia juga tak mau menghancurkan permintaan Okaa-sannya dan juga dia mungkin sudah menyukai si Uchiha arogan itu walau Uchiha itu tak mempunyai perasaan apapun padanya.
Hinata berangkat kekampusnya tidak semangat seperti biasanya sebelum berangkatpun dia ditanyai oleh Hiashi tentang keadaannya yang hanya dijawab dengan alasan seadanya oleh Hinata.
Tak jauh dari tempat Hinata berjalan terlihat sahabatnya Sakura yang tumben tidak bersama kekasihnya malah bersama Sai yang sedang menuju dan melambaikan tangan padanya, ia hanya tersenyum melihat sahabatnya.
"Ohayou Hinata-chan." Sakura tersenyum lebar menyapa Hinata.
"Ohayou Hinata-chan, kau terlihat berbeda. Matamu ?" Sai terdengan meminta penjelasan akan keadaan Hinata, Hinata gelagapan tanda ia tidak pandai berbohong.
"Ohayou, Aku tak apa Sai-kun." Hinata tersenyum pada Sai.
"Kupikir juga begitu, kau terlihat lesuh Hinata-chan dan kau tau senyummu sedikit seperti senyum palsu Uchiha Sai." Sambung Sakura yang juga merasa khawatir pada Hinata.
"Senyumku tidak palsu Haruno." Cegah Sai yang tak setuju pada Sakura.
"Hanya dengan Hinata-chan, dengan yang lain sangat terlihat kau memalsukannya." Jawab Sakura tak mau kalah dan ia juga sedikit menyadari gerak-gerik khusus Sai pada Hinata. Sai langsung menatapnya tajam.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa sungguh, aku hanya sedikit merasa tidak enak badan. Naruto-kun dimana ?" tanya Hinata yang baru menyadari ketidakberadaan Naruto.
"Entahlah dia menghilang mungkin ada urusan." Hinata hanya mengangguk mendengar jawaban Sakura.
"Yasudah kalau begitu, ayo Hinata-chan. Dan kau Uchiha jangan ikuti kami." Ajak Sakura lalu langsung membawa Hinata pergi. 'ada denganmu Hinata-chan' ucap Sai dalam hati sambil memperhatikan punggung mungil perempuan yang dipujanya itu.
-Hyuuga Hotel-
Hari ini para pelayan Hotel mewah berbintang 5 milik keluarga Hyuuga terlihat mempersiapkan makan malam istimewa karena hari ini keluarga uchiha akan berkunjung untuk membicarakan lebih lanjut tentang perjodohan Hinata dan Sasuke. Hinata yang berada di dikamar hotel VVIP yang sudah disediakan untuknya hanya berdiam diri. Dia merasa takut serta malu bertemu dengan Uchiha Sasuke sejak hari dimana ia dan Sasuke berbicara langsung berdua.
-beep.. beep..-
Suara bel kamar hotel menyadarkan Hinata dari lamunannya. Hinata lalu berjalan membuka pintu.
"Neji-nii, ada apa ?" tanya Hinata pura-pura santai.
"Kau belum bersiap-siap ? sebentar lagi keluarga Uchiha akan sampai. Kau bersiaplah dan segera turun Otou-san menunggumu." Kata Neji lalu berniat pergi tapi tangannya ditahan oleh adiknya.
"Neji-nii apakah keputusanku sudah tepat ?" tanya Hinata dengan raut wajah penuh keraguan. Neji hanya diam dan mengusap bahu adiknya dia juga merasa khwatir dengan keputusan adiknya yang hanya menggunakan alasan ingin mengabulkan keinginan ibu mereka yang sudah tiada.
"Aku percaya padamu Hinata, apapun keputusanmu kau tau itu yang terbaik. Tapi jika kau ragu katakan pada Otou-san jika kau tak menginginkannya."
Neji lalu pergi meninggalkan Hinata yang masih penuh keraguan, dipikirannya ia berniat membatalkan tapi ia tidak bisa. Tetapi kata-kata Sasuke selalu ada di pikirannya 'Uchiha-san terpaksa, apa yang harus kulakukan' Hinata merapikan penampilannya lalu turun menuju tempat yang disediakan.
Tak lama kemudian keluarga Uchiha telah sampai di Hyuuga Hotel mereka masuk disambut hangat oleh tuan rumah beserta keluarganya, Keluarga Uchiha terlihat lengkap serta cucu dan menantu. Semuanya terlihat rapi dengan setelan jas dan nyonya Uchiha dan menantunya terlihat cantik dan anggun dengan gaun yang mereka gunakan. Walau bukan jamuan makan malam yang meriah dengan banyak orang-orang mereka tetap terlihat berwibawa.
Tak berbeda dari keluarga Uchiha, keluarga Hyuuga pun juga sudah lengkap. Hinata yang terlihat mempesona dengan gaun yang sangat cocok untuknya ditambah dengan riasan tipis yang tak mengurangi nilai kecantikannya. Begitupun dengan Tenten dan Hanabi mereka terlihat cantik dan anggun. Mereka lalu duduk sambil menikmati jamuan makan malam yang sudah disediakan.
"Wah kalian sangat cantik dan anggun, andai saja kalian tinggal bersamaku." Ucap nyonya Uchiha setelah menyantap makanannya penuh antusias sambil terus memperhatikan para perempuan Hyuuga terutama Hinata. Fugaku hanya geleng-geleng melihat tingkah istrinya yang akan mulai lagi jika melihat anak perempuan. "Bagaimana jika pernikahannya dipercepat saja ? bulan depan ?" Lanjut Mikoto langsung pada inti pembicaran.
"Biarkan Sasuke dan Hinata yang menentukan Mikoto, kita tak bisa ikut campur." Lerai Fugaku yang sedikit kesal dengan tingkah antusias istrinya.
"Kurasa juga begitu Mikoto-san, lebih baik biarkan mereka yang menentukan." Sambung Hyuuga Hiashi. Hinata hanya menunduk menyimak pembicaraan kedua keluarga tersebut masih sibuk dengan keputusannya sendiri. Sedangkan Uchiha Sasuke masih sama dengan sebelum-sebelumnya datar.
"Bagaimana Sasuke, kapan waktu yang kau inginkan ?" Tanya Fugaku.
"Aku terserah Hyuuga-san Otou-san."Ucap Sasuke mantab, Hinata sedikit kaget mendengarnya, Sasuke benar-benar menerimanya bagaimana dengannya.
"Yasudah bulan depan, bagaimana ?" Selip Mikoto tetap antusias.
"Baiklah, Bagaimana Hinata ? kau tak perlu khawatir kami takkan memaksa." Tanya Hiashi lalu menoleh pada Hinata yang masih menunduk. Hinata ragu, Hinata Bimbang. Dia mengangkat kepalanya pandangannya langsung tertuju pada mata onyx Sasuke seketika sembrutan merah menjalar dipipi putihnya, ia langsung mengalihkan pandangannya.
"A-aku..." Hinata ragu lagi-lagi kata-kata Sasuke yang ia ingat, ia tidak bisa jika hanya dia yang menginginkan ini tapi Okaa-sannya.
"Hm?" Tanya Hiashi, Mikoto terlihat sedikit khawatir dengan jawaban Hinata.
"A-aku minta m-maaf Otou-san." Ucap Hinata, Sasuke sedikit terkejut dengan jawaban awal Hinata dia berpikir jika Hinata akan menolak.
"Maksud Hinata-chan? Apa Hinata-chan menolak?" Mikoto sudah sangat khawatir. Hinata menunduk ia takut dan ragu.
"Tidak, maksudnya saya merasa bulan depan terlalu cepat." Ucap Hinata tanpa tergagap, ia sudah yakin dengan ini, ia ingin mengenal Uchiha Sasuke dulu dan ingin memperjelas perasaannya sebelum benar-benar menikah.
"Tapi kenapa Hinata-chan?" Mikoto terlihat kecewa. Semua anggota keluarga hanya diam melihat apa selanjutnya, Sasuke menatap tajam pada Hinata sejak tadi, Hinata tak sekalipun melirik Sasuke jujur saja ia takut dengan tatapan tajam Sasuke, tapi dia tidak boleh terlihat lemah.
"Aku hanya ingin mengenal Sasuke-san lebih dekat Oba-san." Hinata mati-matian manahan suaranya agar tak gagap dia harus harus berani, 'jangan pernah terlihat lemah Hinata-chan' kata-kata ibunya selalu ada di kepalanya. 'Okaa-san maafkan Hinata' harapnya dalam hati.
"Ini keputusan Hinata Mikoto kita tidak boleh memaksanya, lagipula memang benar mereka perlu saling mengenal dulu, mereka hanya bertemu beberapa kali." Timpal Fugaku tegas pada Mikoto.
"Kau yakin Hinata?" Neji tiba-tiba bertanya, Hinata tersenyum mengangguk pada Neji. Sasuke kembali datar melihat Hinata.
"Baiklah pernikahan dilakukan jika kalian benar-benar siap. Otou-san harap kau dan Sasuke bisa berhubungan dengan baik." Jelas Hiashi.
"Bagaimana Sasuke, apa tak masalah ?" Tanya Itachi yang sedari tadi diam.
"Hn."
Mikoto hanya diam melanjutkan acara makan malam dia sedikit kecewa tetapi dia juga harus memaklumi Hinata, 'Hitomi-chan aku berjanji akan menyatukan mereka' Mikoto tersenyum dalam hati.
"Baiklah, kalian harus sering bersama, liburan bersama, makan malam, Hinata-chan sering-seringlah kerumah Oba-chan akan sangat senang jika kau datang. Dan ingat jangan menundanya terlalu lama jika tidak Okaa-san yang akan menentukan." Cengir Mikoto yang ditatap kesal oleh Fugaku.
"Baik Oba-san." Senyum Hinata sedikit canggung sedangkan pandangan Sasuke tak lepas dari Hyuuga Hinata yang terseyum manis terlihat tanpa ada beban.
Pagi-pagi Sakura sudah berlari menyusuri koridor mencari sahabatnya yang entah dimana, ia perlu penjelasan dari sahabatnya tentang kabar yang beredar di media terutama media Bisnis tentang Uchiha dan Hyuuga. Ia sangat syok mendengar berita tersebut, Hinata tak pernah bercerita padanya. Entah siapa yang menyebarkan berita perjodohan tersebut mungkin para relasi atau pegawai-pegawai kedua perusahaan yang tentu sudah tahu tentang kabar tersebut. Saat mendapatkan apa yang dicarinya Sakura langsung menghampiri Hinata dengan tergesa-gesa menariknya ketempat yang lebih nyaman untuk berbicara.
"Kau harus jelaskan ini padaku. Kau tak pernah memberitahuku tentang ini Hinata-chan, menikah oh perjodohan apa itu hanya gosip ?" Hinata yang tadinya bingung langsung mengerti maksud Sakura, Hinata merasa bersalah karena menyembunyikan ini pada sahabatnya.
"Dari mana kau tau Sakura-chan ?"
"Oh ayolah bukan itu yang kutanyakan Hyuuga Hinata, siapa yang tak mengenal Hyuuga dan Uchiha . Benar kau akan menikah ?" Ulang Sakura yang kesal meminta penjelasan.
"Gomen Sakura-chan aku tak memberitahumu lebih awal."
"Benarkah ? Oh kami-sama kenapa kau mendahuluiku Hinata-chan. Oh iya siapa calonnya dari Uchiha ? aku tak tahu tapi kalau dari Hyuuga tentu saja kau karena tidak mungkin jika Hanabi-chan." Sakura berubah antusias dan penasaran pada calon Hinata. "oh atau jangan-jangan Sai ? Uchiha Sai ? kumohon jangan dia."
"Uchiha Sasuke." Bukan suara Hinata terdengar seperti suara pria dan suara kursi terdorong dan terduduki. "Calonnya Uchiha Sasuke bukan Uchiha Sai Haruno." Ulangnya lagi dengan nada tak kalah dingin dari yang tadi.
"Sai-kun." Ucap Hinata kaget yang melihat Sai dengan aura dinginnya yang tak terlihat seperti Sai biasanya.
"Sai, kau menganggu saja. Tapi syukurlah bukan kau, Hinata akan habis jika diterkam oleh serigala bersenyum palsu sepertimu." Ejek Sakura yang tidak dihiraukan Sai yang sedari tadi menatap Hinata.
"Kapan Hinata-chan ?" Tanya Sai dingin pada perempuan yang sedang ia tatap.
"Eh ?" Hinata jadi bingung dan sedikit takut diberi tatapan serius oleh Sai.
"Kapan kau akan menikah ?" Sambung Sai.
"Belum ditentukan Sai-kun, aku meminta untuk tidak terlalu cepat aku hanya ingin mengenal Sasuke-san lebih dekat." Hinata tidak melihat raut kecewa dan sedih seorang Uchiha yang ada didepannya itu entah iya berpura-pura atau memang karena dia terlalu polos. Hati Sai hancur tetapi setidaknya dia masih punya kesempatan sebelum mereka menikah. Sai berdiri dan berniat pergi.
"Dengar Haruno, kau tak tau Uchiha Sasuke, dia lebih dari sekedar serigala dibanding Uchiha Sai." Ucap Sai tanpa membalikkan badannya sebelum berlalu, Hinata tersentak dalam hatinya iya sedikit mengiyakan kata-kata Sai.
"A-apa yang dia katakan lebih dari serigala, tapi apakah benar Hinata-chan ?" Tanya Sakura yang bingung sendiri.
"Tidak Sakura-chan, Sasuke-san orang yang sangat baik. Percayalah aku akan baik-baik saja." Hinata tersenyum tersenyum palsu tepatnya, Sakura hanya mengangguk mengerti.
Malam ini Hinata sedang berada di kediaman Uchiha lebih tepatnya karena Mikoto yang mengajak tidak memaksanya ikut ke rumahnya dengan alasan menemaninya karena ia bosan. Hinata dan Mikoto saat ini sedang berada di dapur tentu saja sedang masak. Saat mengetahui bahwa Hinata pandai memasak Mikoto makin antusias mengajak Hinata memasak bersama, sebenarnya Hinata sangat senang karena sudah lama sejak Okaa-sannya meninggal ia bisa memasak berdua dengan orang yang sudah dia anggap ibu sendiri.
"Hinata-chan aku tidak menyangka kau sangat pandai memasak."
"Okaa-san pernah mengajariku dan juga waktu sekolah dulu aku masuk dalam club memasak Oba-san." Hinata tersenyum sangat rindu dengan suasana seperti ini saat-saat bersama seorang ibu.
"Senangnya jika kita bisa terus seperti ini, Sasuke-kun akan sangat menyukaimu, oh ya kau harus tau Sasuke-kun tidak suka makanan manis, dia juga sangat menyukai tomat. Sasuke-kun menyukai kopi yang tak terlalu manis, nanti Oba-san akan mengajarkanmu membuatnya." Hinata mengangguk mengetahui sedikit tentang Sasuke entah mengapa ia sedikit senang.
"Arigatou Oba-san."
"Taidama." Suara seorang pria membuyarkan aktivitas kedua orang yang sedang asyik di dapur.
"Itu pasti Sasuke-kun. Hinata-chan makan malam disini saja biar maid yang membereskan semuanya." Mikoto berlalu menyambut Sasuke.
"Okaeri, mandilah Sasuke-kun kita makan malam."
"Hn." Berlalu kekamarnya.
Selang beberapa menit Sasuke turun dengan gaya kasualnya kaos abu-abu dan jeans terlihat berbeda saat dia dengan pakaian formalnya tapi tetap saja sama tampannya. Sasuke tidak menyadari ada satu orang tambahan di meja makan bukan hanya ada ayah dan ibunya tetapi ada seorang gadis yang terlihat berbincang-bincang santai dengan kedua orang tuanya, Sasuke lantas menuju meja makan.
"Sasuke-kun ayo duduk Hinata-chan dan kami sudah menunggumu." Sasuke langsung menyadari saat melihat siapa gadis yang duduk di samping ibunya Sasuke terkejut tetapi masih dengan wajah datarnya.
"Hyuuga ?" Tanpa sadar Sasuke memanggil Hinata dengan marganya Hinata memberanikan diri menatap Sasuke ia hanya menunduk memberi salam lalu mengalihkan lagi pandangannya.
"Hyuuga ? kau tak boleh memanggil Hinata-chan begitu Sasuke-kun, maafkan dia Hinata-chan." Ucap Mikoto.
"Tak apa Oba-san Sasuke-san belum terbiasa." Hinata mati-matian terlihat tenang didepan Sasuke padahal dia sebenarnya sangat gugup tapi dia harus bisa terlihat kuat.
"Sudah makanlah" Sela Fugaku.
'hn, mana Hyuuga gagap itu' pikir Sasuke melirik sejenak Hinata yang menikmati makanannya, ia merasa berbeda dengan Hinata yang dulu ia temui, dia tidak gagap berbicara padahal waktu itu dia sangat gugup berbicara dengan Sasuke.
"Oh ya Sasuke-kun antar Hinata-chan pulang yah."
"Tidak usah Oba-san saya pulang sendiri saja." Tolak Hinata sopan.
"Ini sudah malam Hinata-chan tak baik gadis pulang sendirian." Paksa Mikoto sebenarnya ini salah satu modusnya padahal ini baru jam 9 malam.
"Tak apa Oba-san aku juga bisa menghubungi supir untuk menjemput." Tolak Hinata lagi.
"Benar Hinata biar Sasuke yang mengantarmu." Ucap Fugaku Sasuke yang hanya diam menuruti permintaan orang tuanya berlalu mengambil kunci mobil dan jaketnya.
"Cepatlah." Singkatnya lalu berlalu, Hinata yang tak bisa lagi menolak akhirnya ikut setelah berpamitan dengan Mikoto dan Fugaku.
Didalam mobil suasana hening tak ada suara dari dua insan berlainan jenis itu, Sasuke yang fokus pada kemudi Hinata yang terlihat canggung menatap keluar jendela.
"Hyuuga." Akhirnya Sasuke membuka suara tapi dengan nada serius.
"Y-ya Sasuke-san ?" Hinata menolah sedikit terkejut ia berusaha santai merutuki dirinya yang kembali tergagap.
"Katakan yang sebenarnya."
"Maksud Sasuke-san ?" Hinata tak mengerti apa maksud Sasuke ia berusaha tak tergagap di depan Uchiha ini ia harus terlihat tenang.
"Kenapa kau tak ingin mempercepat perjodohan ini ?" Sasuke serius ia masih bingung dengan Hinata yang katanya menerima tapi tiba-tiba tak ingin mempercepat pernikahannya.
"Sasuke-san sudah tau alasanku." Ucap Hinata berusaha santai jantungnya berdetak tak normal.
"Hanya itu ? kalau tak menginginkan kenapa tak menolak ?" Nadanya kembali dingin dan Hinata merasa Sasuke sangat tidak menyukainya.
"Apa aku harus bertanya hal yang sama pada Sasuke-san ? kalau tak menginginkan kenapa tak menolak ?" Ujar Hinata ia tak bisa jika menggunakan kelembutannya pada Uchiha ini ia harus sedikit berani untuk ini. Sasuke menggeram dalam hati mendengar Hinata ia berfikir jika gadis ini tak seperti ia bayangkan pemalu dan lemah.
"Kau belum menjawabku Hyuuga." Sasuke mulai kesal melihat Hinata yang tak lagi menatapnya saat berbicara malah mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Aku memang ingin mengenal Sasuke-san lebih dekat lagi, dan maafkan saya Sasuke-san saya tidak bisa menolaknya." Hinata menunduk dia terlihat lemah lagi orang di sampingnya ini benar tak menginginkannya. Tiba-tiba Sasuke menghentikan mobilnya Hinata mendongkak menatap Sasuke, mata mereka bertemu Sasuke memandang tajam pada Hinata.
"Kau menyukaiku Hyuuga ?" Seketika Hinata membeku.
TBC
Sebelumnya terima kasih sekali udah pada mau review saya sangat berterima kasih.
mohon maaf kalau ceritanya tak sesuai kemauan kalian dan tak memuaskan, ini cuma imajinasi tak jelas saya kok.
saya mau jawab sedikit dari review soal temanya yang udah pasaran, ia sih aku juga berpikir begitu tapi aku udah ngerasa sayang banget kalau fic ini gak dilanjutin lagi jadi insha allah gak di discontinue aku juga belum punya kegiatan yang sibuk-sibuk banget jadi gak ada salahnya buat lanjutin fic ini, jadi mohon maaf kalau temanya pasaran banget, aku sangat menghargai pendapat, saran, dan kritik kalian. mohon dukungannya bagaimanapun jalan cerita dan akhirnya fic ini ^-^ terima kasih minna...
