PLEASE LOVE ME
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata
Rated : T
Author : okta0809
Don't Like Don't Read
Previous Chapter 5
Didalam mobil suasana hening tak ada suara dari dua insan berlainan jenis itu, Sasuke yang fokus pada kemudi Hinata yang terlihat canggung menatap keluar jendela.
"Hyuuga." Akhirnya Sasuke membuka suara tapi dengan nada seirus.
"Y-ya Sasuke-san ?" Hinata menolah sedikit terkejut ia berusaha santai merutuki dirinya yang kembali tergagap.
"Katakan yang sebenarnya."
"Maksud Sasuke-san ?" Hinata tak mengerti apa maksud Sasuke ia berusaha tak tergagap di depan Uchiha ini ia harus terlihat tenang.
"Kenapa kau tak ingin mempercepat perjodohan ini ?" Sasuke serius ia masih bingung dengan Hinata yang katanya menerima tapi tiba-tiba tak ingin mempercepat pernikahannya.
"Sasuke-san sudah tau alasanku." Ucap Hinata berusaha santai jantungnya berdetak tak normal.
"Hanya itu ? kalau tak menginginkan kenapa tak menolak ?" Nadanya kembali dingin dan Hinata merasa Sasuke sangat tidak menyukainya.
"Apa aku harus bertanya hal yang sama pada Sasuke-san ? kalau tak menginginkan kenapa tak menolak ?" Ujar Hinata ia tak bisa jika menggunakan kelembutannya pada Uchiha ini ia harus sedikit berani untuk ini. Sasuke menggeram dalam hati mendengar Hinata ia berfikir jika gadis ini tak seperti ia bayangkan pemalu dan lemah.
"Kau belum menjawabku Hyuuga." Sasuke mulai kesal melihat Hinata yang tak lagi menatapnya saat berbicara malah mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Aku memang ingin mengenal Sasuke-san lebih dekat lagi, dan maafkan saya Sasuke-san saya tidak bisa menolaknya." Hinata menunduk dia terlihat lemah lagi orang di sampingnya ini benar tak menginginkannya. Tiba-tiba Sasuke menghentikan mobilnya Hinata mendongkak menatap Sasuke, mata mereka bertemu Sasuke memandang tajam pada Hinata.
"Kau menyukaiku Hyuuga ?" Seketika Hinata membeku.
Lidah Hinata kelu ia tidak menyangka Sasuke akan menanyakan hal itu pikirannya berkecamuk apa ia menyukai pria arogan didepannya ini, apa mungkin hanya sekedar rasa kagum atau rasa suka sementara, Hinata tak tau yang ia tau setiap bertemu dan berdekatan pada Uchiha Sasuke kerja jantungnya selalu tak normal.
"Hyuuga ?." Panggilan Sasuke membuyarkan pikiran Hinata tentang perasaannya cepat-cepat Hinata bersikap normal ia berpikir belum waktunya ia menyimpulkan bahwa ia benar menyukai pria ini.
"M-mungkin terlalu cepat untuk menanyakan hal itu Sasuke-san." Ucap Hinata tegas masih menatap onyx Sasuke, ia sudah menetapkan ia akan menghadapi pria ini.
"Hn." Sasuke sedikit lega akan jawaban Hinata jujur saja ia masih mencintai Ino dan jikalau Hinata memang menyukainya ia tidak tau apakah bisa membalas perasaan Hinata yang ada dia hanya akan menyakiti Hinata nantinya, tapi dengan jawaban Hinata yang seperti itu dia sedikit lega.
"Saya turun disini saja Sasuke-san anda bisa kembali." Hinata sedikit ragu untuk keluar tapi jantungnya tidak bisa bekerja dengan baik dia harus menenangkan diri tanpa ada Sasuke didekatnya, membuka seat belt nya bersiap akan keluar padahal rumahnya masih cukup jauh. Tiba-tiba Sasuke menahan tangannya memasang kembali seat belt Hinata dan menyalakan kembali mobilnya.
"Diam aku akan mengantarmu." Pipi Hinata merona setelah Sasuke memasang seat beltnya, ia tidak boleh jatuh hanya dengan perlakuan sepele dari Sasuke .
Mobil Sasuke kini memasuki kediaman Hyuuga menghentikan mobilnya setelah sampai di gerbang Hyuuga Mansion mereka terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing.
"Arigatou Sasuke-san." Cicit Hinata.
"Hn, istirahatlah." Sasuke menjawab tanpa mengalihkan pandangannya diikuti Hinata yang turun dari mobil lalu berlalu tanpa melirik Hinata sedikitpun. Hinata memandang sendu ia sempat berfikir apakah ia memang tidak menarik sampai-sampai Uchiha itu tidak meliriknya sedikitpun.
"Ini akan sulit." Hinata menghela nafas akan masalah hati yang ia alami mungkin akan sedikit lebih mudah jika ia tak memiliki perasaan tak jelasnya pada Sasuke.
Sai kini berada di ruangan kerja Sasuke tak sama saat terakhir ia bertemu dengan Sasuke yang dipenuhi kemarahan kini ia terlihat seperti biasanya tersenyum dan seakan tak terjadi apapun. Bukan karena ia melupakan jika Sasuke dan Hinata akan menikah hanya saja ia akan berusaha untuk tetap tenang toh mereka tak akan menikah dalam waktu dekat ini masih ada kesempatan untuknya.
"Ada apa Sai ?" Sasuke terlihat sibuk dengan pekerjaannya dia cukup heran Sai mengunjunginya mengingat terakhir kali Sai mengamuk padanya.
"Hanya berkunjung saja, apa itu tidak membosankan duduk disana dengan kertas-kertas didepanmu itu." Sai duduk santai disofa memperhatikan Sasuke yang masih sibuk.
"Kau juga akan mengalaminya."
"Ah kau benar juga kelak aku juga akan duduk seperti itu." Sai tersenyum bagaimana bisa ia lupa jika kelak dia juga akan duduk dengan kertas membosankan itu.
"Jadi apa maumu ?" Menghentikan sejenak pekerjaannya menghiraukan Sai yang menurutnya aneh.
"Tak apa, bagaimana pernikahanmu ?" Sasuke menaikkan satu alinya pertanda ia heran Sai bertanya hal yang sudah ia ketahui. "Maksudku apa kau berniat membatalkannya ?" Sebenarnya Sai hanya bercanda dengan ucapannya tapi mungkin dianggap serius oleh Sasuke terlihat dari raut wajahnya yang berubah semakin datar.
"Kau tau jawabanku." Melanjutkan lagi pekerjaannya ia mulai kesal dengan arah pembicaraan Sai.
"Aku hanya bercanda tenang saja Sasuke, aku takkan melakukan hal bodoh jika kau memikirkan itu." Sai mulai terlihat serius dengan pembicaraannya.
"Hn."
"Pernikahan kalian kau dan Hinata-chan yang tak pernah kusangka merepotkan sekali, kenapa harus Hinata-chan yang akan kau nikahi dan kenapa harus Hinata-chan yang kusukai ini benar-benar menyebalkan, padahal kau sudah punya segalanya, kau tak bisa mengalah untukku ?" Sai tak bisa menahannya ia harus berbicara dengan Sasuke. Sasuke yang sibuk sebenarnya fokusnya teralih pada suara Sai ia sedikit kesal dengan Sai yang seperti ini.
"Jika kau ta-
"Uchiha Sasuke aku tidak tau nantinya apa kau akan menyukainya seperti kau menyukai Yamanaka, kau harus tau aku telah lebih dulu menyukai Hyuuga Hinata dan kesempatan ini sebelum kalian menikah aku akan menggunakannya sebaik mungkin, tenang saja kau tau aku, aku akan bersaing secara sehat, aku akan merebutnya darimu. Dan jika aku gagal dan kalian menikah aku takkan memafkanmu jika kau tak bisa membahagiakannya." Jelas Sai panjang lebar menatap tajam Sasuke yang juga menatapnya kesal, sedikit bermain-main mungkin tak apa Sasuke menyeringai menatap Sai.
"Berusahalah, bukan salahku jika kau akan terluka."
"Terluka atau tidak aku sudah memikirkannya, aku akan mendekatinya lebih sering lagi sampai dia melupakan perjodohan kalian." Ucap Sai tenang ia tak boleh emosi jika menghadapi Sasuke mulutnya yang pedas akan memanaskan kepala orang lain, Sai sedikit tersenyum dalam hati memikirkan betapa kerennya dia.
"Hn. Terserah, aku sudah mengatakan perasaan orang akan berubah. Kau tau jika perasaanku berubah aku takkan melepaskan apa yang menjadi milikku." Mungkin Sasuke tidak sadar dengan ucapannya, dia mungkin menganggap ini hanya lelucon saja tanpa mengetahui fakta jika apapun bisa saja terjadi termasuk dengan ucapannya.
"Kau jelas sangat menyukai Yamanaka itu mungkin butuh waktu lagi untuk menyukai seseorang sedalam itu, dan saat kau akan berusaha merubahnya aku akan mendapatkannya terlebih dahulu."
"Bukannya kau hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyukai Hyuuga itu ? apa kau pikir saat pertama kali melihatnya aku tak merasakan apapun ?" Sai terbelalak apa Sasuke sudah menyukai Hinata ia tak tau tapi dia akan tetap tenang, sedangkan Sasuke sibuk merutuki dirinya apa yang diucapkannya tadi dia sangat kesal pada Sai sehinggah ia tak memikirkan apa yang dia ucapkan.
"Kalau begitu baiklah mulai sekarang kau dan aku adalah saingan. Dan aku tak yakin jika kau melupakan Ino dan Sasori yang sekarang tinggal satu atap." Sai membuka kartu AS nya sebenarnya ia tak tau betul apa Ino dan Sasori masih tinggal bersama di apartemen Ino atau tidak tapi ia ingin bermain-main dengan perasaan Sasuke yang jelas ia tau masih mencintai mantannya itu. Sai berlalu setelah melihat reaksi Sasuke.
Raut wajah Sasuke seketika berubah mendengar nama Ino dan Sasori, apa mereka tinggal bersama hal itu yang ada dipikirannya, tangannya mengepal pertanda amarah memenuhinya, ia sudah berusaha mengalihkan perhatiannya dengan bekerja tapi ia masih tak bisa berhenti memikirkan gadisnya maksudnya mantan gadisnya, faktanya ia merindukan Yamanaka Ino tetapi lain hal juga ia membecinya terlebih lelaki berambut merah yang bersamanya.
Setelah menutup pintu ruangan Sai terdiam sejenak menormalkan pikirannya yang sudah berkecamuk tak dipungkiri kata-kata Sasuke sedikit mempengaruhinya, tapi juga sedikit bangga pada penjelasannya tadi ia sudah memutuskan akan berusaha jika ia gagal ia akan mengalah mungkin.
"Aku jelas lebih keren dari Sasuke, mungkin kau belum melihat pesonaku Hyuuga Hinata." Narsis Sai tersenyum sendiri menyampingkan sakit hatinya beginilah seharusnya pria sejati bersikap pikirnya lalu pergi masih terus membanggakan diri.
Sepulangnya Sai langsung menuju ke Universitasnya kini ia terlihat mencari seseorang siapa lagi jika bukan Hinata sambil mengambil handphone di saku celananya ia berjalan melihat sekitar menekan handphonenya menghubungi seseorang, tetapi sepertinya tak ada jawaban. Saat Sai berbalik ia lantas tersenyum pertanda ia sudah mendapatkannya, Sai langsung menuju ke tempat Hinata yang berjalan membelakanginya memegang buku tebal dan tali tasnya.
"Hinata-chan." Sapanya menyentuh pundak Hinata.
"Sai-kun kau mengaketkanku."Sai hanya tersenyum lalu ikut berjalan disamping Hinata merampas buku tebal yang dibawa Hinata.
"Sai-kun tak ada kelas ?"
"Sudah selesai." Hinata mengangguk berjalan beriringan menuju kantin kampus.
"Lapar sekali, kau ingin apa ?" Tanya Sai seteah duduk di salah satu meja kantin.
"Seperti biasanya." Sai mengangguk lalu memesankan Hinata.
"Oh ya bagaimana pernikahanmu ?" Sai to the point entah kenapa hari ini ia senang sekali menanyakan perihal pernikahan pada calon kedua mempelai padahal ia tau itu akan menyakitinya.
"Belum ada apa-apa Sai-kun."
"Apa Uchiha itu baik padamu ? " Tanya Sai menatap Hinata dalam, Hinata diam sejenak memikirkan sikap Sasuke padanya satu saja yang terlintas 'cuek' Hinata hanya mengangguk diam.
"Katakan padaku jika dia berbuat tidak baik padamu." Tegas Sai
"Tidak Sai-kun Sasuke-san sangat baik, tenang saja." Hinata tersenyum meyakinkan Sai, memang ia selama ini Hinata tidak melihat perlakuan kasar Sasuke malah sikap Sasuke cukup baik padanya hanya saja perkataannya dan sikap dinginnya yang menusuk hati.
"Sepupuku itu aku tak menyangka ia akan menerima perjodohan ini padahal ia terlihat sangat mencintai kekasihnya." Ucap Sai santai menyandarkan tubuhnya di kursi, ia tidak tau perkataannya membuat Hinata terkejut.
"Kekasih ?" Hinata berdebar.
"Oh Sasuke tidak memberitahumu Hinata-chan ? kekasihnya ?" Hinata menggeleng rasa ingin tahunya semakin besar. "Kau tau Yamanaka Ino ? perempuan berambut Blonde itu kekasih ah maksudku mantan kekasihnya." Sai tidak menyadari raut kecewa pada Hinata yang Sai tau tentang perjodohan ini Hinata juga terpaksa sama seperti Sasuke.
"A-ah pe-perempuan itu." Hinata ingat perempuan yang selalu bersama Sasuke saat mereka belum saling mengenal Yamanaka Ino mantan kekasih Sasuke, ia sekarang tau alasan Sasuke menolaknya.
"Kau tergagap, lagi ?" Sai sempat heran dengan Hinata yang gagap lagi. Hinata yang menyadarinya cepat-cepat bersikap normal kembali.
"Aku hanya terkejut. Hm Apa Sai-kun tau mengapa mereka bisa putus ?" Takut-takut Hinata ingin tahu alasannya.
"Ceritanya panjang Hinata-chan. Intinya Sasuke dikhianati, ck dasar pria seperti dia bisa dikhianati juga."
"Dikhianati ? Sasuke-san dikhianati ?" Hinata makin terkejut mendangar cerita tentang Sasuke rupanya dibalik wajah dingin dan angkuhnya ia menyimpan lukanya.
"Wajar jika kau terkejut kau pasti tak menyangka pria seperti Sasuke bisa dikhianati tapi itulah faktanya." Hinata hanya mengangguk sibuk dengan pemikirannya tentang Uchiha arogan itu.
"Hinata-chan kau bisa menemaniku ?" Hinata tidak menjawab
"Hinata-chan, Hinata-chan." Panggil Sai lagi menyadari jika Hinata melamun.
"Ah ia Sai-kun tadi apa ?" Hinata tersadar saat Sai memegang pundaknya.
"Kenapa kau melamun ? apa kau bisa menemaniku nanti ?" ulangnya
"Kemana ?" perhatiannya kembali pada Sai menyesap minumannya setelah pelayan membawakan pesanan mereka.
"Ke perpustakaan, akhir-akhir ini kita jarang sekali keluar setelah kabar perjodohanmu, walaupun kau akan menikah tak ada yang berubah diantara kitakan ?" Tentu Sai tak ingin ada yang berrubah kecuali satu perasaan Hinata ia ingin Hinata melihatnya untuk saat ini ia akan bersikap seperti biasanya.
"Baiklah akan kutemani." Hinata tersenyum melanjutkan makannya.
'bagaimana bisa kau merebut hatiku Hinata-chan' Gumam Sai dalam hati menatap sekilas Hinata.
Hampir sebulan berlalu setelah acara penentuan perjodohan Uchiha dan Hyuuga, Sasuke sibuk jarang sekali bertemu Hinata mungkin sengaja sedangkan Hinata bukannya lebih dekat dengan Sasuke malah lebih sering terlihat bersama Sai, waktu itu juga saat Mikoto memanggilnya ke mansion Uchiha, Sai lah yang mengantar Hinata tidak hanya sekali dan sukses membuat Mikoto khawatir akan hubungan mereka berdua, bukannya ia tidak suka Sai berteman dengan Hinata ia hanya merutuki putra yang tak peduli sama sekali pada calon istrinya itu bisa dihitung berapa kali Sasuke bertemu dengan Hinata itu saja hanya Hinata yang menyapa dan Sasuke hanya ber'hn' bagaimana Mikoto tak geram pada putranya.
"Sasuke-kun kau harus menjemput Hinata-chan sebentar lagi dia akan pulang, bawa Hinata-chan kesini Okaa-san sudah ada janji dengannya." Ucap Mikoto saat masuk dikamar Sasuke yang duduk di meja kerjanya dengan pakaian kasualnya ia memilih pulang cepat hari ini.
"Aku sibuk Okaa-san." Masih sibuk bekerja.
"Tidak, hentikan itu dulu Sasuke-kun kau harus menjemput Hinata-chan." Omel Mikoto.
"Bukannya dia biasanya datang sendiri ?" memindahkan perhatiannya sejenak dari dokumennya melihat Okaa-sannya dengan wajah kesal.
"Apanya yang sendiri sudah tiga kali Hinata-chan diantar Sai-kun kesini, Okaa-san sedikit khawatir, pokoknya kau harus menjemput Hinata-chan."
"Yasudah biarkan saja Sai."
"Kau ini, Hinata-chan calon istrimu Sasuke-kun, Okaa-san tidak mau jika kau tidak peduli seperti ini, kau har-."
"Ck, Aku akan menjemputnya." Sasuke memotong omelan Mikoto yang ia rasa terlalu ribut. Mikoto tersenyum lalu pergi. Sejenak sebelum ia keluar kamar saat mematikan Macbooknya Sasuke sedikit memikirkan tentang ucapan ibunya tentang Sai yang mengantar Hinata, ternyata Sai benar serius pada ucapannya sedikit ada rasa kesal di hati Sasuke rasa kesal Sai yang berusaha mengalahkannya, jelas Sasuke selama ini tak pernah terkalahkan ia terus berada didepan dan dia selamanya harus ada didepan. Itulah mengapa perusahaan Uchiha berkembang pesat di tangan Uchiha Sasuke.
Menjalankan mobilnya ke Universitas Konoha saat sampai digerbang Sasuke teringat sesuatu Yamanaka Ino ia pernah kesini mengantar jemput mantan kekasihnya itu mengabaikan perasaannya Sasuke mengusap wajahnya lalu merogoh sakunya mengambil Handphone menghubungi Hinata.
"Y-ya Sasuke-san ?" suara gugup perempuan di balik hanphonenya.
"Kau dimana Hyuuga ?"
"Di kampus Sasuke-san." Jawabnya menyadari suara dingin Sasuke.
"Tepatnya ?"
"Dijalan keluar aku sudah ingin pulang, ada apa ?" Tanpa menjawab Sasuke langsung mematikan panggilannya lalu keluar menunggu Hinata. Secara bersamaan Hinata sudah terlihat digerbang dan kaget melihat mobil mewah hitam yang ia kenali dengan seorang pria berdiri di samping mobilnya. Lalu Hinata berlari menuju orang itu.
"Sasuke-san," panggil Hinata, Sasuke menoleh menyadari Hinata sudah datang.
"Masuklah." Perintahnya.
"Eh ?" Hinata masih bingung.
"Okaa-san menyuruhku menjemputmu." Hinata sedikit kecewa Sasuke menjemputnya karena ibunya, saat Sasuke sudah ingin masuk ke mobilnya tangannya tertahan matanya menatap mobil silver dengan kap terbuka yang lewat tepat disamping mobilnya menampakkan seorang perempuan cantik di bangku penumpang dan pria berambut merah di di bangku kemudi, mereka terlihat tertawa bersama. Sasuke mencengkeram erat gagang pintu mobilnya, Hinata yang melihat Sasuke mengikuti arah pandang Sasuke dan dia mengerti mengapa, Sasuke masuk dengan pintu yang ditutup keras diikuti oleh Hinata.
"Sasuke-san, ada apa ?" Hinata jelas tau mengapa Sasuke seperti ini dengan mencengkeram erat kemudinya dengan rahang yang mengeras ia tau Sasuke marah karena Yamanaka Ino mantannya, Hinata memandang sendu. Sasuke tak menjawab menginjak pedal gas lalu pergi dengan perasaan panas.
Suasana di mobil serasa mencekam bagi Hinata memang Sasuke sudah tidak terlihat marah seperti tadi tapi sikapnya lebih dingin dan tentu itu membuatnya tidak enak berada di keadaan seperti ini.
"S-sasuke-san ?" Takut-takut Hinata memanggil Sasuke mengingat keadaan Sasuke.
"Hn."
"Apa Sasuke-san bisa mengantarku ke Toko buku saja ?" tanya Hinata sebenarnya ia sedikit malu meminta Sasuke tapi bagaimana lagi ia sudah terlanjur di mobil Sasuke ia tidak tahu Sasuke akan menjemputnya. Sasuke melirik Hinata pertanda meminta alasan.
"Sebelum kerumah Oba-san rencananya aku ingin kesana dulu ada sedikit urusan dengan Sai-kun." Mendengar nama Sai mood Sasuke bertambah buruk yang benar saja ia bersamanya sekarang mengapa Sai yang dia ingat.
"Tidak, Okaa-san menunggumu."Ucapnya datar.
"Tap-"
"Diamlah." Seketika Hinata diam sepertinya dia harus menghubungi Sai jika ia tidak bisa.
Setelah sampai di Mansion Uchiha, Sasuke dan Hinata masuk menemui Mikoto yang ternyata sudah menunggu di ruang tamu.
"Kukira kalian berkencan dulu sebelum kesini." Goda Mikoto Hinata sedikit merona.
"Tidak Oba-san." Sasuke langsung berlalu menuju dapur mengambil segelas air minum, diikuti Hinata dan Mikoto yang akan melakukan aktivitas mereka.
"Sasuke-kun kau harus sering mengajak Hinata-chan berkencan, kalian tidak pernah keluar berdua." Ucap Mikoto memakai celemeknya Hinata hanya diam mengikuti Mikoto memakai celemek.
"Hn." Melirik Hinata yang diam lalu berlalu begitu saja.
"Ck, dasar Sasuke-kun. Hinata-chan maafkan dia, dia memang seperti itu tidak peka."
"Tidak apa-apa Oba-san, Sasuke-san dan aku sangat sibuk kami tidak memiliki waktu." Balas Hinata lebih tepatnya Sasuke yang tidak mempunyai waktu untuknya pikir Hinata lalu mengambil bahan makanan dikulkas.
"Sasuke-san ? Hinata-chan masih memanggil Sasuke-kun seperti itu ?"
"Itu.. itu.." Hinata bingung menjawab apa.
"Padahal Hinata-chan memanggil Sai-kun dengan suffiks –kun." Mikoto terlihat kecewa.
"Ah Gomennasai Oba-san, itu hanya karena kami jarang berbicara aku merasa belum akrab pada Sasuke-san." Jelas Hinata berusaha menenangkan Mikoto.
"Baiklah, mulai sekarang Hinata-chan coba panggil Sasuke-kun dengan suffiks –kun." Dasar Mikoto.
"Tapi..."
"Tak apa kalian akan segera menikah, apa salahnya ?" Senyum Mikoto semakin lebar memohon Hinata mau menyebut nama Sasuke.
"Sa-sasu.."
"Ayolah Hinata-chan." Hinata ragu dia sedikit malu ia belum terbiasa walau bukan didepan Sasuke sendiri.
"Sasuke-kun." Ucap Hinata sedikit keras meyakinkan diri Mikoto tersenyum lebar tapi tunggu dulu kaos hitam rambut biru donker mata onyx sedang memandangnya, Sasuke sedang berdiri di pintu dapur entah sejak kapan. Saat menyadari ada seseorang selain mereka dan beberapa maid yang berlalu lalang tepat di pintu dapur Hinata terbelalak wajahnya merona seperti buah yang disukai Sasuke, pandangan mereka bertemu seketika Hinata menunduk dalam menahan rasa malunya.
"Aku ingin kopi." Singkat Sasuke lalu pergi, Mikoto yang baru menyadari keberadaan Sasuke langsung memalingkan wajahnya mengerti mengapa Hinata menunduk malu-malu.
"Kau merona Hinata-chan lucu sekali. Kau harus memanggil Sasuke-kun seperti itu yah Hinata-chan." Goda Mikoto lalu memanggil Hinata mengajarkannya membuat kopi yang disukai Sasuke.
"Nah Hinata-chan sudah tau, sekarang antar pada Sasuke-kun yah?" tentunya saja akan-akalan Mikoto selalu saja membuat jantung Hinata ingin melompat.
"Tapi Oba-san."
"Tak apa, cepat kesana kamar Sasuke ada di atas tepat di depan tangga. Lebih akrablah padanya Hinata-chan." Tatapan memohon Mikoto membuat Hinata mau tak mau harus menurutinya.
Hinata menghela nafas setelah berada dilantai dua rumah megah ini dengan memegang nampan berisi secangkir kopi hangat, jantungnya berdetak tak karuan ia harus tenang harus tenang pikirnya, lalu melangkahkan kakinya mengetuk pintu coklat didepannya.
"Sasuke-san." Panggil Hinata mengetok pintu, saat mendengar suara perempuan yang jelas bukan salah satu maid keluarganya Sasuke sudah menduka ini pasti ibunya akan menyuruh Hinata.
"Masuklah." Masih di meja kerjanya. Pintu kamarnya terbuka menampakkan seorang gadis yang sedari tadi berusaha menenangkan diri.
"O-oba-san menyuruhku mengantarkan ini."
"Simpan disana." Menunjuk meja samping tempat tidurnya karena meja kantornya berantakan ia tidak ingin mengambil resiko dengan tumpahan kopi di berkas-berkas pentingnya.
"Saya permisi." Ucap Hinata seperti maid saja.
"Tunggu." Hinata menoleh pada Sasuke.
"Maafkan Okaa-sanku." Menatap Hinata yang memegang nampannya.
"Eh ?"
"Okaa-san sepertinya terlalu memaksamu, aku akan memberitahunya." Jelasnya masih memandang Hinata.
"Ah tidak Sasuke-san, Oba-san sangat baik, aku sudah menganggapnya seperti Okaa-sanku sendiri, aku senang." Hinata berusaha santai ia memang sangat senang jika diundang di sini ia bisa menghabiskan waktu dengan seorang ibu.
"Hn, jangan terlalu memaksakan diri Hyuuga." Hinata terlalu lembut menurut Sasuke.
"Aku tidak memaksakan diri."
"Hn." Beralih kembali pada pekerjaannya, Hinata yang menyadari Sasuke ingin menyudahi pembicaraan mereka berbalik berniat keluar, tetapi saat melihat sebuah foto perempuan di ranjang Sasuke seketika hatinya perih, rasa penasarannya timbul bagaimana reaksi Sasuke jika ia membahas Yamanaka mantan kekasihnya.
"Sasuke-san." Berbalik kembali menatap Sasuke, Sasuke yang dipanggil mendongkak menyadari kalau Hinata belum meninggalkan kamarnya.
"Hn?"
"Soal Yamanaka-san ?" alis Sasuke naik dari mana ia tahu.
"Dari mana kau tahu ?" Tanya Sasuke mulai serius memandang Hinata yang terlihat berani.
"A-aku tak sengaja mengetahuinya." Entah sadar atau tidak Hinata berani menanyakan hal yang sensitif seperti ini pada Sasuke.
"Kau tak perlu mengetahui semuanya." Dingin suara Sasuke lebih dingin dipendengaran Hinata itu tandanya Sasuke tak menyukai pertanyaan Hinata, Hinata jelas tau Sasuke masih menempatkan hatinya pada gadis blonde itu.
"Gomennasai Sasuke-san, saya permisi." Hinata pergi perasaan tak jelasnya selalu merepotkannya seperti ini. Berdiam didepan pintu kamar Sasuke menenangkan pikirannya merutuki dirinya yang sudah lancang menanyakan hal sensitif bagi Sasuke raut kecewa diwajahnya terlihat jelas mengetahui Sasuke masih mengharapkan mantan kekasihnya.
Sedangkan Sasuke yang sudah tidak mood dengan pekerjaannya menatap selembar foto yang ada di kasurnya, ia tak menyadari raut kecewa Hinata ia hanya terpaku pada perasaannya pada Yamanaka Ino, ia beranjak dari duduknya lalu menuju kamar mandi ia perlu mendinginkan pikirannya.
Malam ini Hinata ada disini di kamar tamu yah kamar tamu Uchiha Mansion penyebabnya ia berada disini sudah jelas karena Nyonya Uchiha dengan segala permohonannya Hinata bermalam malam ini disini bahkan menawarkan Hinata bisa tidur dengan Sasuke jika mau dasar Mikoto Uchiha yang jelas saja ditolak Hinata bagaimana bisa ia tidur disana membayangkan saja Hinata tak berani. Mikoto bersorak gembira saat mendapat izin dari Hiashi dan tentu saja Hinata tak bisa lagi menolak alhasil ia disini.
Sasuke yang mengetahui Hinata yang bermalam hanya menghela nafas dan sedikit kesal pada ibunya, ibunya terlalu antusias pada mereka kadang ia merasa jengkel jika ibunya terlalu berlebihan padanya dan Hinata, walaupun cuek begini Sasuke sedikit memikirkan keadaan Hinata ia berpikir Hinata terlalu dipaksa oleh ibunya mengingat Hinata juga terpaksa menerimanya, kau tak tau apa-apa Uchiha.
Tengah malam Hinata tak bisa tidur memilih keluar menuju balkon rumah yang menampakkan langit malam, angin malam menyambutnya saat membuka pintu balkon ia mengenakan piyama yang berbentuk dress selutut lengan pendek pilihan Mikoto Hinata merengkuh tubuhnya yang sedikit dingin tapi ia tetap saja menuju besi dingin itu menatap langit sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Hyuuga." Suara berat seorang pria menyadarkannya dari lamunan, Sasuke sepertinya ia juga belum tidur mungkin masih bekerja. Menuju balkon yang tadi rencananya ingin kedapur membuat kopi. Hinata menoleh mendapati Sasuke sudah ada dibelakangnya.
"S-sasuke-san." Sedikit terkejut dengan Sasuke yang bergabung dengannya dibalkon. "Sasuke-san belum tidur ?" Tanyanya
"Dan kau ?" Tanyanya masih berdiri ditempatnya menatap mutiara Hyuuga itu.
"Aku tidak bisa tidur, aku hanya mencari angin sebentar." Sasuke menuju samping Hinata, Hinata kembali pada posisinya.
"Angin malam terlalu dingin, setidaknya kenakan jaket." Apa Sasuke mengkhawatirkannya, kenapa ia perhatian padanya, Hinata bertanya-tanya dalam hati, Hinata tersenyum getir ia tau jika hal itu mungkin akan dilakukan semua pria, ia hanya terlalu berharap. Hinata tetap diam.
"Kenapa kau tak bisa menolak ?" tanya Sasuke lagi.
"Hm?" Hinata menoleh tak mengerti pertanyaan Sasuke.
"Jika kau tak suka kenapa tak menolak permintaan Okaa-san." Masih menatap kedepan dengan kedua tangan masuk kedalap saku celananya.
"Aku tak enak menolak, dan juga aku tidak apa-apa dengan ini." Sasuke menoleh menatap Hinata yang sudah menatap kedepan lagi.
"Sudah kubilang jangan memaksakan diri Hyuuga."
"Aku juga sudah bilang Sasuke-san, aku tidak memaksakan diri." Hinata menoleh pandangan mereka bertemu. Mereka terdiam kedua mata itu bertemu seperti saling mempertanyakan sesuatu, cukup lama dan dalam, saat menyadari Hinata merona mengalihkan pandangannya ia bisa terjerat terlalu dalam pada pesona Uchiha ini.
"Saya masuk dulu Sasuke-san." Segera Hinata pergi menuju kamar yang ia tempati jantungnya lagi-lagi tak normal Sasuke menatapnya dalam apa Hinata boleh berpendapat seperti itu. 'kami-sama' masuk dalam kamarnya dadanya berdetak tak karuan. Sedangkan Sasuke menghela nafas mengusap wajahnya apa yang ia lakukan tadi pikirnya.
TBC
Ohayou...
Wah terima kasih buat kalian yang udah kasih saya semangat dan dukungan dan juga kalian yang udah kasih saran dan kritik, itu semua berarti banget buat aku. terima kasih udah baca dan review begitupun untuk para silent reader terima kasih ^-^.
jangan bosan-bosan Review yah :*
