PLEASE LOVE ME

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata

Rated : T

Author : okta0809

Don't Like Don't Read

Esok pagi di ruang makan kediaman Uchiha, Sasuke sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya menikmati sarapannya, sedangkan Hinata sedikit canggung berada di tengah-tengah keluarga yang bukan keluarganya, memang bukan yang pertama tetapi bagaimanapun akan terasa canggung apalagi mengingat kejadian tadi malam membuat Hinata makin canggung walaupun Sasuke kelihatan santai saja seperti tak terjadi apapun dan memang menurut Hinata sebenarnya tidak ada yang terjadi hanya saja dia yang terlalu membawa perasaannya.

"Sebelum bekerja Sasuke-kun antar Hinata-chan pulang dulu yah lalu Sasuke-kun sekalian mengantarnya ke kampus." Mikoto memulai pembicaraan Sasuke melirik tajam Mikoto yang dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajam.

"Ti-tidak usah Oba-san saya pulang sendiri saja." Cepat-cepat Hinata menolak.

"Tidak apa-apa Hinata-chan jam kantor juga masih lama Sasuke-kun bisa mengantarmu, iyakan Sasuke-kun ?" Mikoto menatap tajam Sasuke pertanda tak ada penolakan.

"Hn." Bukannya Sasuke tak mau menolak hanya saja ia terlalu malas berdebat dengan ibunya menolakpun tak ada gunanya semuanya mutlak harus jika itu dari orang tuanya.

"Terima kasih Oba-san tapi saya tidak ingin merepotkan, saya pulang sendiri saja." Hinata masih berusaha menolak ia merasa tidak enak pada Sasuke yang akan mengantar pulang dan kekampusnya merasa merepotkan Sasuke.

"Sasuke-kun sudah setuju,antar Hinata-chan sampai ke kampus yah Sasuke-kun kau berjanji pada Okaa-san, ayo nikmati sarapannya Hinata-chan." Mikoto menyudahi, Hinata lagi-lagi tak bisa menolak Mikoto terlalu cerdas untuk berdebat, sedangkan Sasuke menatap Hinata yang ada didepannya ia berpikir bukannya Hinata tak bisa menolak ia hanya tak cerdas dalam menolak.

"Aku selesai." Sasuke berdiri merapikan pakaiannya mengambil tas kantor dan kunci mobilnya memberi isyarat pada Hinata untuk mengikutinya. Setelah berpamitan dan berterima kasih Hinata meyusul Sasuke menuju tempat parkir mobil.

"Jangan terlalu memaksanya Mikoto." Suara sang kepala keluarga akhirnya terdengar yang sedari tadi hanya diam menjadi penonton.

"Hm? Siapa yang kupaksa Fugaku-kun ?" Mikoto heran.

"Hinata dan Sasuke."

"Aku tidak memaksa mereka Fugaku-kun, aku hanya berusaha mendekatkan mereka. Sampai saat ini Sasuke-kun masih terlihat acuh pada Hinata-chan aku tak mau jika Hinata-chan membatalkan perjodohannya, itu saja." Jelas Mikoto

"Terserah kau saja." Mungkin tak ada yang bisa melawan Mikoto untuk berdebat dia terlalu pintar berbicara apalagi mengambil alasan, Mikoto tersenyum menambah air kedalam gelas suaminya.

Kembali pada kedua pasangan yang sedang ada di dalam mobil dengan suasana yang sama heningnya, Sasuke yang fokus Hinata yang melamun. Hinata sebetulnya ingin berbicara santai dengan Sasuke layaknya ia dengan teman-temannya seperti Sai contohnya, tetapi mengingat pribadi Sasuke yang dingin dan irit bicara Hinata cukup canggung mengajaknya berbicara duluan dan juga dia bukan pribadi seperti Sakura yang supel dan cerewet, dia lebih suka diam dan mendengarkan.

Saat sampai dikediaman Hyuuga, Hinata melepas seat beltnya melihat Sasuke yang juga melepas seat beltnya Hinata jadi teringat perintah Mikoto yang menyuruh Sasuke mengantarnya kekampus.

"Sasuke-san." Panggil Hinata cepat sebelum Sasuke keluar dari mobil.

"Hn ?" Sasuke menoleh tangannya sudah siap membuka pintu.

"Ano.. Sasuke-san tidak usah mengantarku kekampus, cukup disini saja." Tolak Hinata sopan.

"Tidak, aku akan mengatarmu Okaa-san menyuruhku."

"Tak apa Sasuke-san tenang saja aku takkan bilang pada Oba-san, Sasuke-san bisa kekantor. A-aku akan berangkat sendiri nanti." Hinata menolak dengan lebih lembut lagi-lagi karena ibunya tentu saja Hinata.

"Hn, bersiaplah aku tak suka melanggar janji." Tegas Sasuke

"Aku juga tidak suka merepotkan seseorang Sasuke-san." Balas Hinata ia merasa Sasuke sangat keras kepala.

"Cepatlah Hyuuga, aku juga ingin menyapa Oji-san." Hinata menyerah, Sasuke keluar dari mobilnya menunggu Hinata keluar. Hinata menghela nafas 'apa Uchiha semua seperti itu' gerutu Hinata mengingat hampir semua Uchiha yang ia temui pemaksa atau dia saja yang tak mampu menolak.

Hinata dan Sasuke masuk kedalam Hyuuga Mansion seperti biasanya para maid sibuk dengan pekerjaan masing-masing terlihat Hiashi yang sedang duduk membaca koran di ruang keluarga dengan segelas teh hangat di meja.

"Taidama." Salam Hinata

"Okaeri, Hinata kau bersama Sasuke." Meletakkan korannya melihat putrinya yang sedang bersama calon menantunya.

"Selamat pagi Oji-san." Sasuke membungkung menberi salam.

"Selamat pagi Sasuke, terima kasih sudah mengantar Hinata. Ayo kemari." Mempersilahkan Sasuke duduk.

"Aku ingin bersiap-siap dulu Otou-san." Pamit Hinata, Hiashi mengangguk. Hinata lalu pergi menuju kamarnya ia harus cepat tak boleh membuat Sasuke menunggu lama pikirnya.

"Apa kabar Sasuke ?" Hiashi memulai pembicaraan.

"Baik Oji-san, bagaimana dengan Oji-san ?" Tanya Sasuke sopan.

"Hn seperti yang terlihat."

"Gomennasai Oji-san membuat Hinata menginap, Okaa-san sangat antusias." Masih dengan tampang datarnya tapi terlihat berkharisma. Kalau dingat-ingat ini pertama kalinya Sasuke menyebut nama Hinata bukan Hyuuga.

"Tidak apa, terima kasih sudah menjaga Hinata. Oji-san sudah mempercayakan Hinata padamu. Tak apa jika kalian belum saling menyukai, Oji-san mengerti, tetapi sampai Hinata dan kau menentukan pilihan akhir, tolong jaga Hinata." Pinta Hiashi menatap harap Sasuke, sebenarnya Sasuke sedikit merasa bersalah karena mengingat sikap serta perasaannya pada Hinata, sedangkan Hiashi berharap padanya.

"Baik Oji-san." Singkat Sasuke.

Selang beberapa menit Hinata sudah siap sudah terlihat fresh untuk kekampus, iapun langsung turun takut jika Sasuke bosan menunggunya.

"A-aku sudah selesai Sasuke-san." Ucap Hinata tiba-tiba menghentikan pembicaraanya dengan Hiashi, Sasuke mengangguk berdiri.

"Saya permisi Oji-san."

"Hn, hati-hatilah." Jawab Hiashi ikut berdiri.

"Aku pergi Otou-san." Hiashi mengangguk pada putrinya, mengikuti Sasuke keluar rumah.

"Maaf membuat Sasuke-san lama menunggu." Ucap Hinata saat mobil mulai melaju.

"Hn."

Diam suasana kembali hening tanpa suara, Hinata yang sepertinya sudah mulai terbiasa sudah tidak terlihat canggung lagi Hinata lebih tenang memandang keluar jendela.

-tiiin..-tiinn..-

Suara handphone Sasuke memecah suasana hening diantara mereka, Sasuke menaikkan sebelah alisnya melihat layar handphonenya tak ada nama pemanggil hanya nomor iapun menekan tombol answer.

"Sasuke-kun." Suara perempuan, tiba-tiba Sasuke menghentikan mobilnya terdengar bunyi ban mobil yang berdecit. Hinata yang kaget Sasuke mengerem mendadak langsung menoleh melihat Sasuke ingin bertanya ada apa.

"Kau?" Raut wajah Sasuke berubah seketika, satu tangannya menggenggam erat kemudinya sedangkan satunya lagi menggengam erat handphone terlihat sekali ia menahan amarahnya. Hinata terkejut dengan ekspresi Sasuke ia bahkan tak berani memanggil nama Sasuke dia hanya diam memperhatikan Sasuke, sedangkan Sasuke jangan ditanya lagi dia bersikap seolah tak ada orang disampingya.

"Yah ini aku Sasuke-kun. Apa kabar ?" Suara perempuan itu melanjutkan pembicaraannya.

"Apa maumu ?" Sebenarnya Sasuke sangat merindukan suara perempuan itu, tapi bayang-bayang pengkhianatannya membuat kebenciannya lebih besar.

"Apa kau tak merindukanku ? tak apa karena aku juga sama sekali tidak merindukanmu. Aku hanya ingin mendengar suara Sasuke-kun, apa kabarnya Uchiha Sasuke yang sangat mencintaiku." Suaranya terdengar centil dan meremehkan hati Sasuke seketika menjadi panas, entah kenapa saat ini ia seperti sangat membenci Yamanaka Ino yang menelponnya.

"Cih berani sekali kau jalang." Sasuke tak ingin mengatakan itu ia sama sekali tak ingin tetapi logikanya memaksanya mengalahkan perasaan cintanya.

"Jalang ? oh kau menyebutku jalang. Tapi tak apa, kali ini kumaafkan. Sampai jumpa Uchiha." Panggilan mati rahang Sasuke mengeras genggaman di handphonenya semakin erat, ia sangat murka ia merasa sangat diremehkan dan direndahkan, mengapa ia bisa mencintai perempuan yang berani-beraninya menipunya selama 3 tahun, baru kali ini Sasuke merasa sangat direndahkan dan itu oleh seorang perempuan.

Sasuke menginjak pedal gasnya melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bertanya tentang Hyuuga ? Hyuuga Hinata sudah menutup matanya rapat-rapat mengenggam erat seat beltnya tak tau apa yang terjadi tiba-tiba Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti ini, ia tak habis pikir jika Sasuke benar-benar melupakannya.

"Sasuke-san hentikan." Teriak Hinata ia takut terlebih pada kemarahan Sasuke saat ini ia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang akan membuatnya menutup mata dalam waktu lama atau tak akan pernah bangun lagi.

Sasuke mendengarnya, Sasuke mendengar suara Hinata tapi ia tak menghiraukannya ia masih saja melajukan mobil dan entah kemana mungkin telah melewati Universitas Konoha. Emosinya sudah diujung kepalanya.

Cukup lama ia mengemudiakan mobilnya melampiaskan semua amarahnya. Jantung Hinata seperti sedikit lagi akan lepas jika saja Sasuke tak menghentikan mobilnya. Tepat dipinggir jalan yang cukup sepi entah dimana Hinata tak tau.

"Apa yang kau lakukan ?" Hinata tak sadar ia memarahi Sasuke, emosinya juga sedikit naik. "Kalau terjadi sesuatu bagaimana ?" Sasuke masih diam tak menghiraukan Hinata. Sasuke yang diam menundukkan kepalanya membuat Hinata iba emosinya tiba-tiba reda.

"Sebenarnya ada apa Sasuke-san ?" suara Hinata melembut ingin menyentuh pundak Sasuke tapi ia tak bisa.

"Diamlah." Sasuke menyahut suaranya seperti sesak menahan sesuatu. Hinata akhirnya terdiam membiarkan Sasuke dengan pikirannya, masih menatap senduh Sasuke 'sebenarnya apa yang telah Sasuke-san alami' tanyanya dalam hati.

Setelah menenangkan pikirannya raut wajah Sasuke kembali menjadi datar tanpa amarah, menoleh pada Hinata yang menyandarkan tubuhnya melihat kejendela.

"Kita kembali." Hinata langsung memandang Sasuke melihat keadaan pria itu, raut khawatirnya terlihat jelas di wajah cantiknya.

"Sasuke-san tak apa ?" Tanyanya khawatir.

"Hn." Lalu melajukan mobilnya kembali, Hinata kembali diam ia tak berniat bertanya ia memilih membiarkan Sasuke dulu.

"Maaf membuatmu takut." Sasuke membuka suara lagi masih dengan tampang dinginnya.

"Tak apa, aku mengerti." Hinata tersenyum menahan dirinya untuk bertanya lebih lanjut ia memang sedikit mengerti atas sikap Sasuke tadi ia tau jika yang menelpon tadi itu mantan kekasih Sasuke.

Sejak hari itu Hinata tak pernah menanyakan hal-hal yang sensitif bagi Sasuke ia memilih membahas topik lain, ia takut jika amarah Sasuke tiba-tiba timbul jika ia bertanya hari itu juga Sasuke sering menjemput Hinata saat pulang dari kampus yang tentu saja suruhan Mikoto entah itu akan segera pulang ataupun singgah ke rumah Sasuke dulu yang jelasnya mereka belum pernah berkencan.

Saat ini Hinata sedang berjalan keluar dari kelas yang baru saja ia ikuti saat berjalan melalui pintu ia tak sengaja menabrak seorang perempuan karena ia sibuk dengan handphonenya.

"Ah- Gomen, gomen aku tak sengaja." Hinata meminta maaf mengambil handphone yang terjatuh.

"Tak ap-." Perkataan perempuan itu terpotong melihat siapa yang tadi menabraknya. "Hyuuga Hinata." Sambungnya setelah berdiri tegak. Hinata juga merasa terkejut siapa yang ia tabrak, perempuan berambut Blonde mantan kekasih calon suaminya.

"Yamanaka-san ?"

"Kau mengenalku ? Oh tentu saja kau pasti tau dari Uchiha itu kan ?" Nada suaranya meremehkan ada rasa tidak suka dalam diri Hinata saat Ino menyebut marga Sasuke seperti itu. "Kau kekasih baru Uchiha Sasuke ?oh iya calon istri ?"

"Dari mana Yamanaka-san tau ?" Hinata menegakkan badannya ia tak boleh terlihat kecil dari perempuan yang katanya model papan atas yang sedang vakum dari dunia permodelan itu.

"Kau meremehkanku ? karena kau Hyuuga ? dan calonmu Uchiha ? siapa yang tak mengetahui dua marga itu. Dan Sasuke juga sering menjemputmu bukan ?" Hinata mengekerutkan dahinya berarti Ino memperhatikan mereka bukan atau lebih tepatnya Sasuke.

"Kau memperhatikan kami ? memperhatikan Uchiha Sasuke ?" Hinata bertanya seakan-akan Ino masih mengharapkan Sasuke, ia sedikit tak suka dengan sifat perempuan ini.

"Kau cemburu ?" Ino memandang remeh membanggakan diri.

"Tidak, hanya saja kau seperti masih mengharapkannya. Kau masih menyukainya ?" Hinata tegas ia tak ingin bermain-main lebih lama dengan perempuan ini.

"Hei jaga ucapanmu aku tak akan pernah menyukai Uchiha itu, dan kau sombong sekali jika aku tak menolak, aku yang akan menjadi nyonya Uchiha."

"Dan kau terlalu bodoh karena menolaknya, permisi." Hinata pergi masih dengan pertahanannya ia tak menyukai pribadi yang suka meremehkan seseorang, Ino yang ingin marah tak jadi karena Hinata terlanjur pergi.

Dan perkataan terakhir Hinata ia jujur berkata seperti itu, menurutnya Ino terlalu bodoh karena mengkhianati Sasuke yang sangat mencintainya ia tak tau alasannya tapi ia berpikir masih ada orang yang ingin dicintai seperti Sasuke mencintai Ino, dia misalnya.

Hinata dan temannya terlihat berkumpul di taman kampus seperti biasa berbicara dan bercanda. Sai yang duduk didekat Hinata terus saja memperhatikan Hinata tanpa sadar Kiba juga memperhatikannya.

"Hei Sai apa yang kau lakukan ?" Bisik Kiba yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Sai.

"Apa ?" Tanya Sai yang tak mengerti atau pura-pura tak mengerti.

"Kenapa kau memperhatikan Hinata-chan seperti ingin menerkamnya ?."

"Apa maksudmu ?" Balas Sai yang tak suka dengan tuduhan Kiba.

"Kau memperhatikan Hinata seperti akan memakannya Uchiha Sai." Sai menatapnya tajam suaranya sedikit mengeras apa rubah ini tidak mengerti jika ada Hinata didekatnya dan itu membuat Sai akan ketahuan memperhatikan Hinata.

"Ada apa Kiba-kun ?" Suara Hinata terdengar lembut di telinga Sai.

"Sai tadi memperh-."
"Kau ingin mati Kiba ? dengan cara apa ? katakan padaku ?" potong Sai yang sudah kesal pada Kiba.

"Hei sebenarnya ada apa sih ?" Tanya Naruto yang tak mengerti.

"Tak apa, iyakan Kiba ?" Sai menatap tajam menusuk pada mata Kiba, Kiba yang sedikit takut pada tatapan Sai hanya mengangguk diam.

"Oh iya Hinata-chan akhir-akhir ini kau selalu dijemput seseorang yah ? apa itu Uchiha Sasuke ?" Sakura langsung bertanya melupakan masalah Kiba dan Sai. Hinata mengangguk malu-malu, tatapan Sai kembali pada Hinata. Sai merasa kehilangan semenjak Sasuke selalu menjemput Hinata ia jadi tak leluasa mengajak Hinata kesana-kemari.

"Wah akhirnya kau punya hubungan spesial juga Hinata-chan, bagaimana jika nanti kita kencan bersama. Kau dan Uchiha-san dan Aku dan Naruto-kun."

"Sepertinya tidak bisa Sakura-chan, Sasuke-san sangat sibuk." Benar mereka berdua saja belum pernah berkencan bagaimana dengan kencan bersama.

"Sayang sekali." Desah Sakura kecewa.

"Kau bisa pergi denganku kalau begitu." Sai tiba-tiba berbicara menampilkan senyumnya.

"Apa maksudmu Sai ?" Tanya Naruto.

"Kau bisa berkencan denganku jika Sasuke tak ingin mengajakmu berkencan Hinata-chan." Hinata sedikit terkejut lalu tersenyum melihat tingkah Sai.

"Hei Sai dia bukannya tidak ingin, calon suami Hinata hanya sibuk. Kau tak mengerti ?." Lerai Kiba tak suka.

"Sama saja, bagaiaman Hinata-chan ? bagaimana kalau nanti kita juga sudah jarang keluar bersama seperti dulu." Ajak Sai sangat berharap Hinata menyetujuinya seperti dulu sebelum ia dijodohkan.

"Gomen Sai-kun sepertinya Sasuke-san akan menjemputku lagi nanti." Hinata sebenarnya ingin keluar bersama Sai mengingat memang sudah lama ia tidak keluar bersama Sai hanya saja ia tak enak jika ia pergi dengan Sai sementara ada Sasuke yang menjemputnya ia juga tak bisa menolak.

"Tak apa, aku akan memberitahu Sasuke. Tenang saja." Hinata akhirnya mengangguk ia juga berpikir jika Sasuke pasti juga senang tak menjemputnya nanti, mengingat selama ini Sasuke menjemputnya hanya karena perintah ibunya.

"Sai apa kau barusan mengajak Hinata berselingkuh ?" Tanya Sakura yang hanya diam melihat drama Sai dan Hinata sejak tadi.

"Tak apa jika kalian menganggapnya begitu." Jawab Sai tak lupa senyumnya melirik Hinata yang sedikit merona dan tersenyum melihat lelucon teman-temannya.

Kelas Sai dan Hinata pun selesai mereka berjalan berdua menuju parkiran tempat mobil Sai, mereka masuk kedalam mobil sebelum menyalakan mobil ia mengambil handphonenya menghubungi seseorang.

"Sasuke kau dimana ?" Tanyanya saat panggilannya tersambung.

"Hn, Dikantor."

"Hari ini kau tak perlu menjemput Hinata dia akan keluar bersamaku." Ucapnya lancar melirik Hinata yang was-was disampingnya ia seperti terlihat sedang berselingkuh.

"Hn." Panggilannya langsung terputus

"Dasar." Gerutu Sai memasukkan kembali handphonenya. "Jika ia menanyaimu katakan saja jika aku memaksamu." Ucapnya memberitahu Hinata yang diam disampingnya.

"Apa kata Sasuke-san?"

"Kau sepertinya khawatir sekali, jangan-jangan kau kecewa tak pulang dengan Sasuke ?" Duga Sai

"T-tidak, ayo jalan Sai-kun." Hinata gugup seketika dan sayangnya disadari Sai.

Sesaat setelah mobil melaju handphone Hinata berdering panggilan masuk, melihat siapa yang menelpon Hinata langsung melirik Sai, Sai yang melihat pemanggil sedikit terkejut Sasuke yang menelpon Hinata setelah ia memberitahunya mereka akan pergi bersama.

"Ya Sasuke-san ?" Angkat Hinata.

"Kau dimana ?"

"Aku dijalan Sasuke-san." Jawab Hinata sedikit takut.

"Dengan siapa ?" Suaranya terdengar serius ia tau Hinata dengan siapa.

"Gomen, hm Sai-kun tiba-tiba ingin mengajakku keluar."

"Dan kau tak memberitahuku ?"

"Gomennasai." Sai melirik Hinata yang berbicara pada Sasuke.

"Hn, Okaa-san ingin kita makan malam."

"Heh ?" Tanyanya bingung.

"Okaa-san ingin kita makan malam, dan aku yakin Okaa-san sudah mempersiapkan semuanya, Kau bisa menolak jika tak mau." Ujarnya diseberang sana. Hinata berpikir sejenak.

"Tak apa, Oba-san sudah mempersiapkannya tak enak jika dibatalkan." Balasnya lembut.

"Aku akan menjemputmu. Jangan pulang malam"

"Baik Sasuka-san." Lalu mematikan panggilannya, Hinata selalu memikirkan hal yang dilakukan oleh Sasuke untuknya bukanlah kemauannya Sasuke memang benar Sasuke terpaksa bersamanya. Makan malam yang diatur oleh ibu Sasuke bukannya Hinata tidak senang hanya saja ia merasa lebih menarik jika Sasuke yang mempersiapkan untuknya, kau berharap lagi Hinata.

"Ada apa ? Sasuke memarahimu ?" Tanya Sai melihat raut kecewa Hinata. Hinata menggeleng lalu tersenyum.

"Lalu ?"

"Kita jangan pulang terlalu malam yah Sai-kun."

"Memangnya kenapa ?" Tidak biasanya Hinata menentukan jamnya.

"Kata Sasuke-san akan ada makan malam, jadi aku tidak bisa pulang malam."

"Tak bisa dibatalkan ?" Sai langsung membalasnya.

"Hm ?" Hinata kurang mengerti perkataan Sai.

"Tak bisakah makan malamnya dibatalkan ? aku berencana mengajakmu makan malam juga." Ucap Sai serius.

"Gomen aku sudah terlanjur berjanji dengan Sasuke-san, dan juga aku tak enak dengan Oba-san, Gomen ne."

"Ah aku harus mengalah lagi yah." Sai menghelah nafas lalu fokus pada kemudi lagi, Hinata merasa ada yang aneh pada sikap Sai terhadapnya hari ini seperti cemburu mungkin itu yang ada dipikiran Hinata.

Jam 7.34 Hinata terlihat mengenggam jemarinya dia baru pulang bersama Sai bukannya melupakan janjinya hanya saja tadi ada insiden ban mobil Sai pecah dan harus diperbaiki dulu, diam-diam Sai merasa berterima kasih pada bannya dengan ini dia bisa lebih lama dengan Hinata dan juga makan malam itu yah begitulah, Sai tidak bermaksud sebenarnya tapi karena kesempatan apa boleh buat.

Sesampainya di rumah Hinata tak disangka-sangka ada mobil hitam yang sepertinya baru diparkir terlihat dari pengemudinya masih ada didalam mobil, bersamaan saat Hinata dan Sai keluar pengemudi itupun keluar. Hinata dan Sai tak menyadari ada seorang selain mereka, mereka masih berjalan menuju pintu masuk sampai suara menginstrupsi mereka.

"Sai ?" Panggil seseorang, orang yang dipanggil seketika berbalik mencari asal suara.

"Sasuke ?" Dengan penampilan formalnya yang kelihatan baru Sasuke berdiri dengan kedua tangan disaku celananya wajah dingin menatap kedua insan tersebut.

"Baru pulang, hn ?" Tanya Sasuke tepatnya ditujukan pada Hinata.

"Oh Gomen Sasuke kami tadi terlalu asyik jadi lupa waktu." Mendahului Hinata untuk menjelaskan, Hinata langsung melihat Sai meminta jawaban mengapa Sai berbohong. Sai tersenyum menyadari Hinata menatapnya, masih menatap pada Sasuke yang terlihat masih dingin dengan tatapan tajam untuk saat ini Sasuke memang tidak merasa cemburu dia hanya kesal pada Sai yang berusaha mengalahkannya.

"Masuk dan bersiap aku menunggumu." Ucap Sasuke datar pada Hinata, Hinata mengangguk dan buru-buru masuk untuk bersiap-siap.

"Cih ini salah satu usahamu ?" Ucap Sai menatap Sai dalam setelah Hinata pergi.

"Aku sudah bilang akan merebutnya, aku akan mengalahkanmu kali ini." Senyum Sai makin merekah.

"Hn kau percaya diri Sai, kau jelas tahu siapa aku." Sasuke menyeringai matanya mengkilat memandang remeh Sai.

"Ya aku tahu, Uchiha Sasuke yang tak terkalahkan. Tapi masalah ini lain, faktanya kalian berdua tak saling menyukai sama sekali." Sai makin berani pada Sasuke, dia memutuskan akan bersaing pada sepupunya ini.

"Kau yakin tentang itu ?" Tanya Sasuke tajam

"Tentu saja, mengingat kau yang tak peduli sama sekali pada Hinata-chan. Hinata-chan terlihat kesepian mempunyai calon suami sepertimu, ini kesempatan bukan ?"

"Kau tak tau apa-apa Sai, berhentilah bermain-main denganku." Ucap Sasuke dia sedikit membenarkan perkataan Sai dalam hatinya, menurutnya mereka memang tidak saling menyukai.

"Aku bukan bermain-main, aku tak pernah seserius ini Uchiha Sasuke." Sai tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Hyuuga Mansion. Sedangkan Sasuke masih berdiri dengan pikirannya, ia bertanya mengapa sangat kesal jika menyangkut Sai yang ingin merebut Hinata.

Setelah kepergian Sai, Sasuke masuk dan dipersilahkan duduk diruang tamu oleh maid Hyuuga, memang tak ada siapapun selain maid dan Hinata dikamarnya karena penghuni rumah sibuk dengan urusan masing-masing.

Tak lama Hinata sudah siap turun menyusuri tangga dengan gaun hitam selutut tanpa lengan yang membentuk lekuk tubuhnya, rambut yang disanggul sederhana tapi terlihat anggun, make up tipis yang tak mengurangi kecantikannya, serta sepatu berhak memperindah penampilannya. Iapun menghampiri Sasuke.

"Sasuke-san maaf membuatmu menunggu." Ujarnya pelan mengenggam tas tangan kecilnya, Sasuke sejenak menatap Hinata yang terlihat anggun malam ini.

"Hn." Bersikap normal kembali lalu pergi diikuti Hinata yang terlihat merona dengan penampilannya di hadapan Sasuke.

-skip time-

Setelah makan malam jam 11.13 mereka baru pulang dari restoran tempat mereka makan malam, Mikoto memang mempersiapkannya dengan baik mengingat ini kali pertama mereka makan malam hanya berdua, dekorasi yang romantis berlebihan mungkin tetapi itulah Mikoto, tetapi tidak didukung oleh mereka berdua yang jadi pemeran utama. Sasuke sama saja datar dan dingin dan Hinata yang terbiasa diam tak banyak bicara.

"Hyuuga." Panggil Sasuke sebelum menjalankan mobilnya. Hinata merasa seperti dejavu saat Sasuke memanggilnya Hyuuga, dimobil yang sama dan pada malam hari.

"Ya ?" Jawabnya tenang.

"Jangan terlalu dekat dengan Sai." Sasuke jelas to the point sekali tentu saja akan membuat Hinata salah paham pada Sasuke. Hinata antara kaget dan bingung ada apa dengan kedekatannya dengan Sai.

"Kenapa Sasuke-san ?" seketika jantungnya berdetak tak jelas.

"Aku tak suka." Masih datar dan dingin..

"Tak suka ?" Hinata heran dia mulai menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak 'apa Sasuke-san cemburu ? tidak Hinata jangan seperti ini' tanyanya dalam hati.

"Hn, jangan terlalu dekat dengannya." Ulangnya lagi entah mengapa ia tak suka ia terus berpikir ia tak mau kalah dari Sai.

"Apa Sasuke-san bisa memberiku alasan yang jelas ?" Tanya Hinata kini mulai menatap pada wajah datar Sasuke meminta penjelasan.

"Sai tak baik untukmu Hyuuga." Sasuke jelas tak boleh menggunakan cara menjelek-jelekkan Sai seperti ini jika ingin bersaing.

"Tak baik ? selama ini Sai-kun selalu baik padaku Sasuke-san, aku tak menemukan bagian yang tidak baik yang Sasuke-san maksud." Hinata sudah tak mengerti jalan pikiran pria ini seenaknya menyuruh menjauhi temannya, Hinata sedikit kesal.

"Jangan membantah Hyuuga." Sasuke menatap Hinata dalam, Sasuke mulai kesal karena Hinata terus menjawabnya ia tak suka dibantah, dia benar salah menilai Hyuuga ini yang terlihat pemalu dan lemah, ia baru jelas melihat sisi lain Hinata.

"Apa maksud Sasuke-san sebenarnya ? aku tak ingin menjauhi siapapun termasuk Sai-kun, dia salah satu temanku. Sai-kun selalu baik padaku dibanding Sasuke-san yang tak pedu-" Ucapan Hinata berhenti menutup mulutnya terbelalak menyadari dirinya tak terkontrol. Sasuke memandang tajam padanya ia jelas tahu maksud Hinata tadi.

"Tak peduli maksudmu ?" Menaikkan alis meminta jawaban. Hinata mengalihkan pandangannya, ia tak ingin membahasnya.

"Kau ingin aku peduli seperti apa Hyuuga ? Seperti kepedulian Sai terhadapmu ? dia hanya mencari muka." Sasuke sedikit kesal Hinata lebih membela Sai dibanding dia entah, iya tak tau kenapa.

"Cukup Sasuke-san, Sasuke-san dan Sai-kun jelas keluarga, Sasuke-san jelas tidak boleh menilai Sai-kun tanpa mengatahuinya dengan baik." Hinata mendongkak menantang Sasuke, ia sudah bilang ia tidak suka jika ada orang yang suka meremehkan orang lain, tak terkecuali Sasuke.

"Justru karena aku mengetahuinya. Atau kau menyukainya ? Uchiha Sai ?" Sasuke memajukan wajahnya menatap Hinata tajam. Hinata kikuk dengan perlakuan Sasuke terlebih pada pertanyaannya.

"Mohon jangan suka menyimpulkan hal yang belum Sasuke-san ketahui, aku dan Sai-kun hanya teman." Jelasnya

"Kau terlalu membelanya jika sebatas teman." Hinata merasa Sasuke terlalu banyak bicara malam ini, ia terlalu heran pada pria didepannya ini.

"Aku tak suka jika Sasuke-san menilai seseorang tanpa mengetahui pribadi sebenarnya."

"Cih, ternyata Sai belum mengungkapkannya." Memperbaiki duduknya ia merasa sudah tidak mood dengan ini.

"Maksud Sasuke-san ?"

"Kau terlalu naif Hyuuga, terlihat jelas Sai menyukaimu." Sasuke menyeringai.

"Menyukaiku ?"

"Hn, Dia mengatakannya padaku." Sasuke benar-benar cerewet malam ini.

"Jangan bercanda." Hinata terkejut apa maksudnya Sai yang menyukainya, ia selama ini menganggap perhatian dan kebaikan Sai adalah kebaikan sebagai teman atau sahabat tak lebih, Hinata langsung teringat kelakuan Sai yang berbeda padanya setelah perjodohan itu, ia merasa orang yang paling tidak peka. Hinata masih tak percaya.

"Cih terserah."

TBC

Ready, tadi sempat publish tapi baru nyadar belum di edit hihi.

Oh iya soal perasaan Ino ke Sasuke, aku jelasin dikit. Sasuke dan Ino emang 3 tahun pacaran, tapi waktu Ino lebih banyak dihabiskan sama Sasori, ditambah juga kebencian Ino. jadi bisa dibilanglah Ino gak punya perasaan sama Sasuke karena dia sama Sasori.

Ok, Next ?

R&R