PLEASE LOVE ME

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata

Rated : T

Author : okta0809

Don't Like Don't Read

Semenjak malam dimana mereka bertengkar Hinata kembali canggung jika bertemu Sasuke, Sasuke juga sudah 3 kali tidak menjemput Hinata dengan alasan sibuk, Hinata mengira jika Sasuke sengaja menghindarinya.

Pagi ini Hinata terlihat duduk bersama Sai disatu bangku dibelakang Fakultasnya, Hinata sebenarnya ragu untuk menghilangkan rasa penasaran dalam dirinya, tapi entah kenapa ia disini mengajak Sai duduk dan berbicara.

"Ada apa Hinata-chan ?" Tanya Sai yang sedari tadi memperhatikan Hinata yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Ano Sai-kun.. hm." Hinata ragu plus malu tentu saja.

"Ada apa ?"

"Sai-kun menganggapku temankan ?" Sai tidak mengerti, pertanyaan Hinata terasa ambigu untuknya.

"Sebenarnya ada apa Hinata-chan ?"

"Kata Sasuke-san.. " Hinata menjeda tak tau bagaimana cara menjelaskannya. Sai terbelalak ia langsung mengerti maksud Hinata apalagi yang akan diungkapkan Sasuke selain tentang perasaannya. 'sial kau Sasuke' umpatnya

"Apa Sasuke mengatakannya ?" Hinata mendongkak ia tau Sai sudah mengerti.

"Itu tak benarkan ?" Hinata mencoba meminta penjelasan memandang Sai serius. Sai menghela nafas ia seperti ditolak sebelum mengutarakan.

"Sayangnya itu benar Hinata-chan."

"A-apa ?" Ini tidak mungkin pikir Hinata.

"Sasuke sialan itu kenapa dia yang bilang padamu, seharusnya aku yang mengatakannya. Baik, Aku menyukaimu Hyuuga Hinata." Menggenggam kedua tangan Hinata memandangnya penuh harap ada rasa lega dihatinya setelah mengungkapkan isi hatinya, Hinata terbelalak ia tak tau akan berbuat apa.

"S-sai-kun."

"Bagaimana ?" Tanya Sai meminta jawaban. Hinata menunduk ia hanya menganggap Sai sebagai teman bahkan sahabat yang baik baginya, tapi ia tak tau bagaimana cara menjelaskannya.

"Apa aku ditolak ?" Sambung Sai melihat reaksi Hinata ia sudah dari awal tau jika Hinata tak mempunyai perasaan lebih padanya.

"Gomen, Gomen Sai-kun."

"Apa kau tak ingin memikirkannya dulu ?" Sai sangat berharap Hinata akan bilang aku akan berpikir dulu ketimbang harus langsung ditolak seperti ini setidaknya ia bisa mempersiapkan mental dulu.

"Sai-kun sangat baik padaku, sungguh aku juga menyukai Sai-ku. Tetapi rasa sukaku pada Sai-kun berbeda, aku menganggap Sai-kun sahabat terbaikku. Gomennasai." Membalas genggaman Sai menyakinkan Sai, hati Sai tentu hancur dengan jawaban Hinata, tetapi jiwa pria sejati masih ada pada dirinya, dia takkan menyerah.

"Jujur ini sangat menyebalkan Hinata-chan, baru kali ini aku ditolak, kau tau ? dan baru kali ini aku mencintai seseorang sedalam ini. Gomen karena telah menyukaimu." Sai menunduk menatap genggaman Hinata menghela nafas kepalanya terasa pusing.

"Sai-kun." Hinata memandang senduh Sai yang menunduk air matanya meleleh entah karena apa. Sai mendongkak terkejut melihat air mata menetes di genggaman tangan mereka, air mata mengalir dari mata Hyuuga ini.

"Jangan menangis, seharusnya aku yang sedih kau yang menolakku kan. Dan dengarkan ini baik-baik Hyuuga Hinata. Ini jelas belum berakhir, seseorang pernah berkata padaku jika perasaan seseorang bisa saja berubah, aku tak tau itu benar atau tidak. Tetapi aku akan menunjukkan pesonaku sampai perasaanmu akan berubah dan takkan berpaling dariku. Tunggu dan Saksikan."

Hinata terdiam mendengar Sai, airmatanya masih mengalir. Ia tahu rasanya, rasa yang saat ini Sai rasakan, lambat laun dia juga akan merasakannya. Sai sangat bersemangat akan cintanya, bisakah dia juga bersemangat akan sebuah cinta pikirnya.

"Tapi Sai-kun kau tahu aku akan menikah."

"Yah, tapi semuanya bisa saja berubah, kau akan jatuh cinta padaku dan akan melupakannya. Bisa saja kan ? apa kau tak berpikir kau ini sangat menarik Hinata-chan. Tapi setelah ini aku tak ingin ada yang berubah Hinata-chan kau tak boleh menghindariku sama sekali, kau takkan melihat pesonaku jika kau menghindar." Jelas Sai masih dengan tatapannya pada Hinata.

"A- aku takkan menghindar." Hinata memang tidak berniat menghindar hanya saja mengetahui Sai menyukainya akan merasa sedikit berbeda.

"Bagus, bersikaplah seperti biasanya sementara aku akan membuatmu memandangku penuh cinta." Menangkup pipi Hinata tersenyum membesarkan hatinya, jika nantinya ia gagal memenangkan hati pujaannya ini, ia harus tetap siap dengan semuanya. Perlahan Hinata tersenyum ia menyukai pribadi Sai yang terlihat keren menurutnya.

Setelah kejadian ini mereka berjalan seperti biasa, Sai terlihat seperti tak terjadi apa-apa, sedangkan Hinata sedikit merasa aneh masih terbawa suasana, ia berpikir bagaimana bisa Sai bersikap santai setelah kejadian tadi dia saja masih memikirkannya sampai sekarang.

Dalam perjalanan Sai dan Hinata bertemu Kiba, lebih tepatnya Kiba yang mencari dan mengejar mereka.

"Hai kalian, apa kalian tuli aku memanggil kalian dari tadi tahu." Teriak Kiba saat sampai di tempat Hinata dan Sai.

"Ah Kiba-kun Gomen, kami tak dengar."

"Ada apa dengan matamu Hinata-chan, kau seperti habis menangis ?" Tanya Kiba saat memperhatikan mata Hinata yang sedikit sembab.

"Tidak, ini tidak apa-apa." Hinata gelagapan ia tak mau ketahuan menangis karena hal tadi, Sai memandang Hinata dengan tatapan sedih.

"Apa Sai yang membuatmu menangis ? hei apa yang kau lakukan pada Hinata-chan ?" Kiba menatap tajam pada Sai yang masih memandang Hinata, menyadari kemarahan Kiba Sai menatapnya bosan.

"Seharusnya aku yang menangis karenamu Hinata-chan. Sudahlah ayo pergi." Menarik pergelangan tangan Hinata pergi, sepertinya Kiba tahu apa yang telah terjadi.

"Kau berhutang cerita padaku Sai." Ucap Kiba lalu berlari menyusul.

-Apartemen Sai-

Kiba jelas tak bisa menahan dirinya untuk meminta penjelasan dari Sai, malam ini iapun langsung menuju apartemen Sai untuk sekedar berkunjung dan membahas rasa curiganya, dan apa yang dia lihat saat Sai membuka pintu apartemennya. Keadaannya terlihat mengkhawatirkan tidak ada Sai yang terlihat sok keren yang ada hanya tampang lusuh khas orang uring-uringan dan itu memperjelas dugaan Kiba.

"Pulanglah aku sedang tidak mau diganggu." Usir Sai berniat menutup pintu tetapi Kiba langsung melesat masuk ke apartemennya. "Kau ingin kutendang ?" Umpatnya.

"Kau masih punya kekuatan untuk menendangku ? lihat keadaanmu sekarang." Ledek Kiba lalu duduk di sofa depan tv mengambil cemilan di atas meja.

"Pergilah Kiba, aku benar-benar sedang tidak ingin main-main."

"Aku kesini bukan untuk main-main, aku kesini untuk mendengar ceritamu." Masih fokus pada tv dan cemilan ditangannya.

"Tidak ada yang ingin kuceritakan." Ujarnya cuek lalu duduk disamping kiba menatap kosong tv.

"Apa kau sudah mengungkapkannya ?" Suara Kiba mulai serius masih mengunyah keripik kentang.

"Apa terlihat jelas ?"

"Jelas sekali malah, ditambah kau yang uring-uringan seperti tak ingin hidup lagi sudah memperjelas semuanya." Sai hanya menghela nafas berat merebut cemilannya pada Kiba. "Hinata-chan benar-benar hebat bisa membuat playboy seperti ini." Tambah Kiba.

"Dia terlalu menarik."

"Lagipula, kau ini bodoh atau apa. Hinata-chan akan menikah jelas sekali dia akan menolakmu." Merebut kembali keripik lalu mengunyahnya lagi.

"Bukan itu, dia tidak punya rasa lebih aku takkan menyerah" Jelasnya menyeringai.

"Kau gila ? menyerah saja Sai, aku yakin kau takkan berhasil." Menghadap pada Sai meminta penjelasannya.

"Ya aku gila, bahkan aku ingin sekali membunuhmu karena seenaknya menyuruhku menyerah sebelum melakukan apa-apa." Sai geram pemikirannya tak sama dengan Kiba.

"Kau ingin melakukan apa lagi hah ? Hinata-chan tak menyukaimu dan dia akan menikah. Apa lagi ? jangan berbuat hal bodoh sama sekali Sai." Kiba ikut geram akan Sai yang keras kepala.

"Tidak, kau salah. Rasaku pada Hinata tidak hanya sebatas itu. Dan kau mengenalku dengan baik, berbuat hal yang bodoh atau cara kotor sama sekali bukan gayaku. Aku akan tetap berjuang sampai keadaan menyuruhku untuk berhenti. Kalaupun nantinya aku yang akan berada di posisi fail, setidaknya aku pernah berjuang untuk sebuah cinta yang kuinginkan." Tersenyum sekali lagi membanggakan diri, Kiba terdiam menatap Sai.

"Kau.. kau KEREN SAI." Teriak Kiba memandang kagum pada Sai. "Sepertinya aku tertarik padamu." Menggeser duduknya lebih dekat mengedipkan matanya bak banci pada Sai.

"Apa a-apa yang kau lakukan brensek." Sai tiba-tiba mundur memukul Kiba dengan bantalan sofa.

"Kalau Hinata-chan tidak ingin, bagaimana denganku ?" Goda Kiba masih terus maju.

"Kau ingin mati." Sai siap-siap mengambil ancang-ancang.

"Hahahaha siapa juga yang tertarik padamu dasar, tapi kau ternyata sudah dewasa dengan cinta, aku bangga." Merangkul sahabatnya Sai langsung menepisnya.

"Sudah pulang sana, aku ingin tidur."

"Tidak, malam ini ayo kita keluar." Ajak Kiba menarik Sai yang ingin berbaring di sofa.

"Malas."

"Ayolah Sai-kun." Lalu melanjutkan aksi mereka.

Hari ini Sasuke tidak menjemput alasannya karena sibuk di perusahaan, Hinata juga memakluminya. Hari ini Hinata juga berencana akan datang lagi kerumah ibu Sasuke, bukan karena diminta datang ini inisiatifnya sendiri karena selama seminggu ini ia belum pernah berkunjung lagi. Tetapi sepertinya rencana tidak bisa terlaksana hari ini melihat hujan deras sedang mengguyur kota Konoha sore ini.

Hinata duduk menunggu di halte bus dekat kampusnya, sebenarnya tadi Sai menawarinya untuk diantar tetapi ia menolak karena tidak enak jika Mikoto melihatnya diantar oleh Sai, alhasil dia disini merutuki dirinya yang bodoh tidak melihat ramalan cuaca hari ini, terlebih bodohnya lagi ia lupa mencharger handphonenya sehingga ia tidak bisa menghubungi siapapun.

Menunggu bus di tengah hujan lebat seperti ini apalagi jam sudah menunjukkan pukul 6.00, benar Hinata merasa sangat bodoh hari ini. Ia mengira hujannya akan sebentar tetapi hujan semakin lama semakin deras, dan membuat Hinata sedikit menggigil kedinginan karena angin yang cukup kencang, ujung sepatunya sudah basah karena percikan air hujan.

Sementara di tempat lain Hyuuga Hanabi yang terlihat sedang sibuk dengan handphonenya, ia sedang menunggu telepon dari Nee-chan nya karena handphone Nee-channya juga tidak aktif, biasanya jika Nee-chan nya pulang terlambat dia akan mengabarinya atau ayahnya, ataupun jika ia sedang berada di rumah Sasuke ia juga akan mengabarinya, tetapi kali ini tidak ada sama sekali, alhasil ia menghubungi Sasuke sebagai pilihan akhir.

-tuuut... t-tuuut...-

"Moshi-moshi Sasuke-nii."

"Ya Hanabi, ada apa ?" Jawab pemuda di seberang sana.

"Apa Sasuke-nii sedang bersama Nee-chan ?" tanyanya sedikit khawatir.

"Tidak,aku sedang dikantor. Ada apa ?"

"Nee-chan belum pulang, kukira Nee-chan sedang bersama Sasuke-nii."

"Belum pulang ? kau sudah menghubunginya ?" Tanyanya nadanya terdengar khawatir.

"Sudah, tapi handphonenya tidak aktif. Biasanya Nee-chan memberi kabar jika pulang ralu,aku sangat khawatir."Hanabi tambah khawatir.

"Yasudah aku akan mencarinya."

"Terima kasih Sasuke-nii, beri aku kabar jika sudah bertemu Nee-chan." Harapnya.

"Hn, jangan khawatir."Hanabi mengangguk lalu memutuskan panggilannya memandang khawatir handphonenya berharap ada kabar dari Hinata.

Sasuke yang sedang duduk diruangan sambil mengutak atik handphonenya, dahinya mengkerut saat mendengar suara operator dari hanphonenya pertanda handphone orang yang sedang dihubungi tidak aktif. 'dimana dia' tanyanya berbisik kekhawatiran menghampirinya menoleh sebentar pada jendela besar yang tidak tertutup tirai, hujan deras masih saja mengguyur diluar sana. Segera ia mengambil jas dan kunci mobilnya.

Tujuan Sasuke saat ini adalah Universitas Konoha, karena ia tidak tau rumah ataupun nomor telepon teman Hinata, jadi dia memutuskan mencarinya di kampusnya. Saat masuk di kawasan Universitas Konoha Sasuke sedikit celingak-celinguk mencari Hinata, walaupun iya tak yakin, Hinata akan ada disana di tengah Hujan deras begini.

Tak mendapat apa yang ia cari iapun melajukan mobilnya terus memutuskan mencari di lain tempat, ia sangat khawatir saat ini entah ia tidak mengerti. Ia juga tak ingin menghubungi Sai, padahal ia sedikit yakin jika ia bersama Sai.

Saat ingin mencapai halte bus Universitas Konoha, tiba-tiba matanya menangkap seseorang berambut panjang yang sedang duduk dibangku, menunduk dan memeluk diri kedinginan , sambil sesekali meniup telapak tangannya, Sasuke mendesah lega sekali lalu melajukan mobilnya ke halte bus tersebut. 'bodoh' umpatnya.

Menghentikan mobilnya didepan halte entah karena terlalu fokus pada diri sendiri, Hinata tidak menyadari mobil tersebut. Sasuke segera berlari menerobos hujan menuju tempat Hinata.

"Hyuuga." Panggil Hinata, tetapi belum menyadarinya.

"Hinata." Menggengam kedua bahu Hinata yang terlihat kedinginan, ia mengira Hinata sudah pingsan.

"S-sakuke-san." Ucapnya terbata-bata mendengar namanya disebut dengan suara yang tidak asing.

"Apa yang kau lakukan disini?" Membuka jasnya lalu menyelimuti Hinata.

"Tidak, Sasuke-san akan kedinginan." Membuka jasnya kembali ingin memberi Sasuke.

"Kau lebih penting. Kau sudah kedinginan." Merengkuh tubuh Hinata, berharap memberinya kehangatan. –deg- jantung Hinata berdebar tak karuan. 'sasuke-san.'gumamnya.

"Ayo." Membawa Hinata ke mobilnya, membuat mereka lumayan basah karena hujan.

"Bodoh, kenapa tinggal disana ?" Sambil menjalankan mobilnya.

"Sasuke-san basah." Hinata masih melihat kemeja hitam Sasuke yang sudah basah.

"Jangan pikirkan aku, lihat dirimu. Kenapa masih tinggal disana ?" Mengacak singkat rambut Hinata yang basah. Entah kenapa Sasuke ingin melakukannya ia khawatir pada Hyuuga ini sangat khawatir malah. Hinata merona atas perlakuan tidak biasa Sasuke.

"Aku tidak tau jika hujannya akan lama." Merapatkan jas kebesaran milik Sasuke, ia masih merasa dingin terlihat dari bibirnya yang sedikit membiru.

"Kenapa handphonemu mati ?" Menorobos hujan yang makin deras.

"Aku lupa mencharger nya."

"Ceroboh." Tanpa mengalihkan pandangannya masih dengan wajah temboknya, Hinata menunduk juga merutuki dirinya yang memang ceroboh hari ini. "Bagaimanapun caranya kau harus tetap menghubungiku saat keadaan seperti, mengerti ?" Hinata terkejut, ada apa dengan Sasuke. Dia lebih protektif dan err.. perhatian padanya. Ada apa ini pikir Hinata.

"Itu akan merepotkan Sasuke-san."

"Aku tidak pernah merasa direpotkan Hinata." –deg- namanya, Sasuke tidak memanggilnya Hyuuga, tapi Hinata namanya. Ini benar-benar membuat Hinata bingung, ada rasa senang yang menggebuh dalam dirinya. "Mengerti ?" Tatap Sasuke tajam, Hinata mengangguk mengerti.

"Hujannya makin deras, kita kerumahku dulu, keringkan dirimu." Ucap Sasuke. Jarak Hyuuga Mansion memang lebih jauh dari Uchiha Mansion. Sasuke berpikirakan sedikit berbahaya jika mereka menerobos hujan deras ini, lagipula Sasuke juga sudah lelah karena bekerja.

"Baiklah." Hinata menurut, berpikiran sama juga dengan Sasuke dan juga melihat wajah lelah Sasuke. "Sasuke-san kenapa tiba-tiba datang ?" Masih bingung pada Sasuke yang tiba-tiba datang menjemputnya.

"Hanabi menghubungiku, dia bilang kau belum pulang. Kukira kau bersama Sai." Jelasnya dingin saat menyebut Sai.

"Lalu... kenapa Sasuke-san datang m-mencariku ?" apa yang kutanyakan rutuk Hinata.

"Entah, aku khawatir." Sasuke blak-blakan, menoleh sebentar pada Hinata. Hinata merona mengetahui Sasuke mengkawatirkannya.

"Gomennasai, sudah merepotkan Sasuke-san lagi."

"Hn, sudah tugasku."

"Hn ?" Tanyanya bingung.

"Aku ... aku harus menjagamu. Aku sudah janji pada Oji-san" Ujarnya berpikir sejenak, tak tahu kau Sasuke kata yang kau ucapkan membuat suhu tubuh Hinata memanas, dan membuatnya merona. Tetapi saat menyadari sesuatu.

"Hm, karena Otou-san." Ucapnya lirih dan pelan.

"Hn ?" Tak begitu mendengar apa yang dikatakan Hinata.

"Tidak apa, Arigatou Sasuke-san." Tersenyum lalu menatap kembali diluar jendela.

Uchiha Mansion terasa sepi, saat mereka tiba tidak ada sambutan dari Mikoto ataupun wajah datar Fugaku di manapun, para maid juga hanya terlihat sedikit mungkin karena sudah malam. Tetapi dua penghuninya tidak telihat sama sekali.

"Ano.. Sasuke-san, Oba-san dan Oji-san dimana ?" Tanya Hinata saat mencapai ruang keluarga melihat sekeliling benar sepi.

"Hn, Tadi pagi mereka berangkat ke Ame, kakekku sakit jadi mereka kesana." Hinata mengangguk mengerti.

"A-apa ? berarti cuma ada kita berdua ?" Menyadari sesuatu Hinata lambat sekali berpikir.

"Tidak, masih ada maid." Benar masih ada maid Hinata, jangan berpikiran yang aneh-aneh. "Kau bisa gunakan kamar tamu yang dulu kau gunakan, kalau butuh sesuatu katakan padaku. Mandilah, aku akan mengantarmu jika hujan sudah reda." Hinata mengangguk lalu mereka berpisah memasuki ruangan masing-masing.

Didalam kamar Hinata berniat membersihkan diri, tetapi saat mengingat tidak membawa baju ganti ia bingung sendiri. Ia pun keluar menuju kamar Sasuke.

"Sasuke-san." Panggil Hinata sambil mengetok pintu. Tak lama pintupun terbuka menampilkan sosok Sasuke yang membuat Hinata merona dan gelagapan, Sasuke yang tidak menggunakan atasan menunjukkan tubuh kekarnya hanya celana kain yang ia gunakan tadi, sepertinya ia akan mandi. Hinata menunduk.

"Ada apa ?" tanyanya sedikit mengosok rambutnya dengan handuk kecil.

"Itu aku tidak punya pakaian ganti." Jelasnya berusaha tenang melihat kearah Sasuke.

"Hn, kau bisa memakai baju Okaa-san, mandilah nanti akan kubawakan." Hinata mengangguk lalu segera pergi.

Dikamar mandi Hinata masih terdiam didepan cermin memperhatikan dirinya, "hari ini apa aku sedang mimpi?." Ucapnya pada dirinya sendiri lalu membasuh wajahnya, setelah itu masuk membersihkan diri.

Sementara Hinata yang masih sibuk dengan ritualnya, suara pintu terbuka terdengar di kamar tamu tempat Hinata, masuk sosok laki-laki yang sepertinya sudah selesai membersihkan diri kelihatan dari pakaiannya yang lebih santai, mengenggam sesuatu berwarna biru soft di tangannya, lalu duduk di tepi ranjang menunggu seseorang.

Selang beberapa menit Hinata selesai dengan mandinya, iapun mengenakan jubah mandi dan keluar dari kamar mandi, seketika ia terkejut mendapati orang yang duduk di tepi ranjang sedang melihat kearahnya.

"S-sa-suke-san." Ucapnya tergagap terkejut, memegangi jumah mandinya. Sasuke yang tidak sengaja langsung melihat Hinata sedikit gelagapan melihat Hinata dengan rambut basah dan jubah mandi ia terihat berbeda, cepat-cepat ia kembali mejadi datar meyerahkan kain yang ia pegang.

"Ini, kamar Okaa-san terkunci aku tidak bisa mengambil baju, kau bisa gunakan kemejaku," Lalu berjalan kearah pintu sebelum berbalik kembali. "sepertinya hujan masih lama, aku sudah menghubungi Hanabi jika kau akan menginap."

"Eh, menginap ?" Hinata bukannya tidak mau, hanya saja.

"Kenapa ? kau keberatan ?. Kalau ingin pulang kau bisa menggunakan mobilku, aku lelah." Kejam sekali kau Sasuke.

"Baiklah, aku ." Mengkerucutkan bibirnya mendengar perkataan Sasuke.

"Hn. Istirahatlah." Lalu pergi keluar kamar. 'dasar uchiha' umpat Hinata lalu mengenakan kemeja yang diberi Sasuke.

Pukul 11.30 malam Hinata benar-benar tidak bisa tidur sepertinya insomnianya kambuh, belum lagi pikirannya tentang ia sedang tidak berada di rumahnya selalu berkeliaran dikepalanya. Memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa ia minum, susu coklat mungkin tidak buruk.

Hinata berjalan keluar kamar menuju dapur, lampu beberapa ruangan terlihat gelap termasuk dapur, berjalan masuk menyalakan lampu. Hinata berjalan pelan menuju meja, mencari-cari sesuatu yang ia maksud tanpa menimbulkan suara takut membangunkan penghuni yang lain, saat menemukannya ia tersenyum lalu segera membuat susu coklatnya.

"Hyuuga." –praak- suara pecahan terdengar setelah namanya dipanggil, Hinata terkejut alhasil saat ingin berbalik pergi gelas yang ia pegang terlepas karena kaget ada yang memanggilnya.

"Sasuke-san, kau mengagetkanku." Tatap Hinata pada pemuda yang sudah tidak jauh dibelakangnya, ia tidak menyadari Sasuke mungkin terlalu asyik. Menatap segelas susu degan gelas yang sudah pecah, cepat-cepat ia duduk ingin membersihkan.

"Tunggu, biar aku saja. kau bisa membuat susu lagi." Cegah Sasuke ikut duduk dihadapan Hinata.

"Tidak usah Sasuke-san biar aku saja." Masih berusaha menggapai serpihan kaca.

"Kubilang tidak, jangan sentuh aku ambil alat dulu." Ancamnya menatap Hinata seakan berkata jangan menyentuhnya sama sekali, alhasil Hinata menurut lalu berdiri. "kau bisa membuat kopi ? buatkan satu untukku." Pinta Sasuke sebelum berlalu.

"Tapi.. ya sudahlah." Lalu kembali membuat segelas susu dan secangkir kopi. Entah kenapa Hinata berpikir jika akhir-akhir ini Sasuke banyak bicara padanya yang tadinya hanya dua atau tiga kata sekarang melebihi.

Sementara Hinata membuat minuman mereka berdua, Sasuke telah selesai dengan tugasnya, lalu menggeser kursi duduk memperhatikan gadis yang menggunakan kemeja kebesaran miliknya. 'hyuuga.' Gumamnya masih memperhatikan tubuh jenjang didepannya.

"Ini mungkin tidak sesuai kesukaan Sasuke-san, tapi Oba-san pernah mengajariku membuat kopi yang Sasuke-san sukai. Jadi cobalah." Sambil meletakkan secangkir kopi dihadapan Sasuke, ikut mendudukan diri saling berhadapan menikmati minuman masing-masing.

"Hn, tak buruk." Ujarnya setelah mencicipi sedikit.

"Benarkah ?" tanyanya antusias tersenyum manis.

"Hn, walau punya Okaa-san masih lebih enak. Hampir mirip." Lalu mencicipi lagi.

"Tentu saja tidak bisa sama." Hinata tersenyum manis menampilakan gigi putihnya, ia merasa senang berbicara santai seperti ini sudah lama ia harapkan. Sasuke mengalihkan pandangannya saat Hinata tersenyum, entah dia menganggapnya sangat hm.. manis.

"Kenapa belum tidur ?" Tanya Sasuke mulai pembicaraan.

"Aku tak bisa tidur sepertinya insomnia lagi." Menyesap susu hangatnya.

"Kau punya Insomnia ?" Hinata mengagguk memandang Sasuke.

"Hm, mungkin karena aku sering begadang karena tugas. Sasuke-san sendiri ?"

"Aku berkerja."

"Benar juga, Sasuke-san sering bekerja hinggah larut. Apa tak melelahkan ?" Berusaha lebih santai dengan Sasuke, menggunakan kesempatan ini untuk lebih akrab berbicara dengan Sasuke.

"Sudah biasa." Persepsinya tentang Sasuke yang dingin dan kejam sedikit berubah sejak malam ini, ia berpikir Sasuke juga memiliki sisi yang seperti ini, apa Sasuke mulai nyaman dengannya. Hinata masih bertanya-tanya.

"Tidurlah ini sudah larut, terima kasih untuk kopinya." Merekapun kembali kekamar masing-masing.

Keesokan paginya Hinata terlihat sibuk di dapur dengan celemek yang biasa ia gunakan jika bersama Mikoto, para maid sudah berusaha meminta Hinata agar duduk saja tapi ia bersikeras ingin memasak pagi ini, sudah seperti seorang istri yang menyiapkan sarapan suaminya bukan, Hinata tentu merona.

Sasuke yang sudah lengkap turun menuju meja makan yang sudah siap dengan segala macam makanan, ia pikir Hinata belum bangun tetapi saat melihat rambut indigo tergerai panjang di dapur yang sepertinya sedang membuat kopi iapun langsung menuju meja makan.

Hinata meletakkan kopi buatannya ke sisi meja Sasuke, sedikit tersenyum memandang karnyanya, lalu ikut duduk didepan Sasuke. Ia benar merasa nyaman didekat pria ini.

"Kau memasak ?" Hinata menganggu tersenyum tipis masih memandang masakannya, Sasuke mangambil sup miso yang terlihat enak dipandang apalagi ada tambahan tomat didalamnya.

"Makanlah, aku akan mengantarmu, tapi tidak bisa mengantarmu kekampus." Ucapnya menikmati sarapannya.

"Hm Tak apa, Arigatou Sasuke-san." Memandang lembut Sasuke yang terlihat lahap, sepertinya ia memang sudah jatuh cinta dengan pria arogan didepannya ini, Hinata berpikir apa ia juga boleh berjuang untuk sebuah cinta, cintanya pada Uchiha ini.


Lima bulan berlalu sejak perjodohan Hyuuga dan Sasuke, sedikit ada perubahan dalam hubungan Sasuke dan Hinata. Mereka yang sudah terlihat lebih santai saat berbincang-bincang, mereka yang sesekali keluar berdua, dan juga yang paling kentara adalah panggilan Hinata pada Sasuke sudah berubah dari –san menjadi –kun, singkat ceritanya karena Uchiha Mikoto yang berusaha memaksa Hinata memanggil Sasuke seperti itu.

Semenjak Sasuke sudah merasakan kopi buatan Hinata, Sasuke jadi sering meminta dibuatkan kopi oleh Hinata jika Mikoto tidak sedang di rumah dikarenakan kondisi kakek Sasuke yang sering kali kambuh membuat kedua orang tuanya sering pulang balik Kohona-Ame.

Seperti saat ini, sore ini Sasuke menjemput Hinata mengantar sampai dirumahnya, tetapi tak langsung pulang melainkan duduk diruang tamu sekedar meminta Hinata membuatkannya kopi, ia tidak bisa menahan diri ia sudah kecanduan kopi. Sasuke tidak tau dengan dirinya yang ia tahu ia hanya mengikuti kemauannya, dan jika boleh jujur jika bersama Hinata Sasuke seperti melupakan sakit hatinya.

"Ini Sasuke-kun." Sambil meletakkan kopinya duduk disamping Sasuke. "Sepertinya Sasuke-kun terlalu banyak mengonsumsi kafein." Ujarnya memandang Sasuke yang menyesap kopinya, pikirnya Sasuke sangat menyukai kopi sampai sedikit membuatnya khawatir.

"Aku sudah tidak bisa berhenti." Datar menoleh sebentar lalu menikmati kopinya kembali.

"Setidaknya Sasuke-kun menguranginya sedikit, dalam sehari entah berapa cangkir yang Sasuke-kun habiskan."

"Kenapa kau keberatan membuatkanku kopi ?" Tanyanya memandang memajukan tubuhnya pada Hinata sambil menyeringai.

"B-bukan begitu, hanya saja kesehatan Sasuke-kun bisa terganggu." Cicit Hinata, tentu saja ia senang sangat senang malah.

"Kau ... Khawatir ?" Menggoda Hinata, lebih memajukan wajahnya, memandang manik levender milik Hinata. Sasuke terhipnotis.

"Sa-sasuk-hump." Hinata terbelalak, benda ini benda yang menempel di bibirnya sangat lembut, jantungnya akan loncat segera. Hanya menempel tapi membuatnya hilang fokus.

"khhm—khmm." Seketika mereka memisahkan diri mendengar suara deheman pria paruh baya. "Kalian tidak boleh melakukannya disini, disini ada laki-laki tua." Ujar Hiashi tersenyum tipis.

Sedangkan Sasuke yang menyadari apa yang dilakukannya tadi langsung gelagapan rona tipis terlihat di pipinya, segera berdiri menunduk sopan pada Hiashi.

"Saya permisi Oji-san, Terima kasih kopinya Hinata." Mengacak rambut Hinata lalu pergi begitu saja, Hinata yang sedari tadi mematung langsung sadar saat Sasuke mengacak rambutnya, menoleh pada ayahnya yang masih berdiri memperhatikannya.

"Apa ?"

"Otou-san." Menutup wajahnya lalu berlari menuju kamarnya, memegangi bibirnya yang terasa dingin. Hiashi tersenyum melihat tingah ananknya yang seperti gadis remaja.

'kami-sama, apa yang Sasuke-kun lakukan' berdiri dibalik pintu kamarnya mematung, memegangi bibirnya mengingat apa saja yang baru terjadi. Seketika jantungnya berdetak kencang. "Apa Sasuke-kun, me-menyukaiku ?" wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus.

Sementara di tempat Sasuke, tepatnya didalam mobilnya yang masih terparkir di kawasan Hyuuga Mansion. "Sial." Umpatnya, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan kekesalan ia malam menyeringai penuh arti 'lembut' oh Sasuke sepertinya tanpa kau sadari, kau terperangkap dalam pesona Hyuuga Hinata.

Dihari berikutnya Sasuke seperti biasa ia menjemput Hinata, ia menunggu sebentar sambil menyandarkan tubuhnya di badan mobilnya mengutak-atik handphonenya, mungkin menghubungi Hinata. Saat mendongkakan kepalanya matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang berdiri seperti menunggu seseorang. Seketika Sasuke membeku sejenak tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju tempat gadis itu berdiri.

Saat menyadari ada seseorang yang berjalan menuju kearahnya seketika badan gadis yang rupanya adalah Yamanaka Ino menegang, mata onyx yang memandangnya tajam terus menuju kearahnya. Ia tidak bisa pergi tidak mungkin lari, rasa takut menghantuinya sampai saat wajah tampan Uchiha Sasuke mantannya ada tepat didepannya. Sekian lama mereka tidak bertemu.

"S-sasuke." Kaget ia terlalu kaget, tetapi tiba-tiba saja mimik wajahnya berubah, terkejut menjadi meremehkan.

"Ino." Ucap Sasuke masih dengan tatapan tajamnya, rasa rindu dan bencinya bercampur menjadi satu.

"Oh Uchiha Sasuke, kita bertemu. Apa kabar ?" senyum meremehkan terpatri diwajah cantiknya sebenarnya ia takut tetapi dia tidak bisa lari, seketika pandangan Sasuke mulai menajam rasa bencinya terus timbul.

"Hn." Menyeringai lebih meremehkan.

"Rupanya kau tak berubah, aku merasa kasihan pada calon istrimu itu. Pasti kau tidak bisa mencintainya karena masih mencintaiku, bukan ?" Membanggakan diri, menegakkan badannya.

"Cih kau terlalu percaya diri." Seringaiannya semakin kejam.

"Tentu saja, kau bahkan tidak bisa melupakanku kan."

"Berhenti bermain-main denganku Ino, kau tau apa yang bisa kulakukan untuk menghancurkanmu, bahkan hanya dengan ujung jariku saja." Ino membeku ini yang ia takutkan, jika Sasuke membalas dendam padanya. Ia membutuhkan Sasori benar-benar membutuhkannya.

Sasuke memajukan tubuhnya menuju ketelinga Ino, membisikkan sesuatu ditelinga Ino. Membuat Ino terbelalak kaget. Bukan, bukan karena bisikan Sasuke ia tidak terlalu memperhatikannya semenjak ia menyadari ada seorang berambut merah yang berdiri tak jauh dibelakang Sasuke.

"Sa-sori-kun." Ucapnya pelan, Sasuke yang menyadari maksud perkataan Ino, langsung merengkuh tubuh Ino, memeluk Ino agresif tak lupa seringaiannya yang kejam.

"Apa yang akan dilakukan sibrengsek itu, jika melihatmu seperti ini." Bisiknya masih memeluk Ino.

"Apa yang kau lakukan ?" Ino panik berusaha melepaskan diri dari Sasuke, Sasori bisa salah paham pikirnya.

"Aku hanya ingin sibrengsek itu merasakan apa yang kurasakan saat kau mengkhianatiku, Jalang." Makin mengeratkan pelukannya mencegah Ino yang berontak.

Dilain tempat disisi lain, seorang gadis yang berdiri diam membeku sudah berlinang air mata menatap kedua insan sedang berpelukan terlihat mesra dimatanya, hatinya hancur seketika.

"Sasuke-kun."

TBC

Haloo..

maaf kalau updatenya telat, lagi sibuk liburan soalnya haha

eh iya sebelumnya Minal Aidin Walfaizin yang Minna-san. maaf telat.

Mohon maaf jika terdapat typo yah belum sempat diedit banget.

Arigatou..

R&R