PLEASE LOVE ME

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata

Rated : T

Author : okta0809

Don't Like Don't Read

Hinata tampak sumringan sepanjang hari yang membuat Sakura bertanya-tanya apa yang terjadi pada Hyuuga sahabatnya itu, saat ditanya Hinata hanya tersenyum lalu diam menambah rasa khawatir Sakura, bisa saja Hinata sebelum berangkat kekampus jatuh atau terbentur sesuatu.

Sampai sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 dan ia baru keluar dari kampusnya, masih dengan senyum manisnya ia menuju gerbang Universitas. Mengetehui siapa yang sedang menunggunya disana, Hinata kembali merona, mungkin dia sudah gila karena perlakuan Sasuke kemarin.

Menenangkan dirinya untuk bersikap normal tentu saja ia tidak mau jika Sasuke berpikir sama seperti Sakura jika melihatnya.

Masih tersenyum manis ia sedikit berlari mempercepat langkahnya agar segera sampai.

Tetapi tiba-tiba tubuhnya berhenti bergerak, kakinya seakan lumpuh ditempat, matanya membulat, rasanya seperti dikoyak. Perlahan air matanya menetes tanpa ia sadari, pandangan hanya tertuju pada objek yang membuatnya ingin lari tetapi ia beku. Tetes demi tetespun keluar, tanpa ada satu katapun ia hanya memandangnya, senyum yang sedari tadi di bibirnya hilang seketika.

"Sasuke-kun." Gumamnya penuh kepedihan.

Padahal baru kemarin Hinata merasa bisa berharap lebih pada Sasuke, Sasuke jelas memberinya ciuman kemarin walau itu tiba-tiba, tetapi Hinata bisa mengartikan bahwa itu tanda dari Sasuke kan.

Dan sekarang, sore ini Hinata melihatnya, mereka berdua.

Semua harapannya, impiannya, rasa sayang Hinata seolah dihancurkan sampai berkeping-keping, pecah, dan berserakan, dan tak terbentuk.

Kemarin itu mungkin Sasuke hanya iseng saja menggodanya.

Kemarin itu mungkin Sasuke hanya ingin bermain-main padanya.

Kemarin itu mungkin Sasuke hanya lelah dengan pekerjaannya.

Mungkin Sasuke...

Memang...

Memang tidak bisa...

Tidak akan bisa melepaskan Ino.

Dan berbalik mencintainya.

"Tidak bisa." Jantungnya berdetag mengebu-gebu.

Menggepalkan erat tangannya, air matanya tidak bisa berhenti, mengalir dari matanya menuju pipinya, terus ke dagunya lalu terjatuh begitu saja.

Ia seperti jatuh di lubang yang dalam. Mengapa ia harus memiliki cinta seperti ini.

Ini menyebalkan.

Ini menyesakkan.

Sasuke terlalu memberinya harapan.

Cinta itu menyebalkan.

.

Tanpa disadari Hinata, tiba-tiba tubuhnya tertarik, seperti ada yang menariknya. Saat menyadari tangannya sedang digenggam oleh seseorang, Hinata menatap wajah itu. Wajah yang selalu ada dengan senyuman kini terlihat dingin tak berekpresi. Cepat-cepat Hinata mengahapus air matanya, ini tidak boleh diketahui.

"Sai-kun." Panggil Hinata saat dirasa cengkraman Sai terlalu erat dan juga langkah kakinya yang lebar membuat Hinata tidak bisa menyeimbangi.

"Sai-kun hiks le-lepas." Masih terisak memegangi tangannya yang dicengkeram.

Mendengar suara terisak Hinata, Sai mau tak mau berhenti, membawa Hinata tepat didepannya. Ditatapnya gadis yang menjadi pujaan hatinya, air mata Hinata terlihat jelas di mata Sai walau Hinata sedang menunduk menggigit bibir bawahnya. berusaha agar tak bergetar akibat tangisnya.

"S-sai-kun."

"Kau melihatnya ? kau melihat Sasuke brengsek itu ?" Emosi Sai tidak tertahankan lagi, ingin rasanya ia menghampiri Sasuke saat ini juga. Matanya terlihat sedikit memerah karena amarah.

Hinata menggeleng. Ingin rasanya ia menjadi bisu dan tuli, agar tidak bisa mendengar dan menjawab pertanyaan Sai.

Hinata yang menunduk menyembunyikan wajahnya yang terus mengeluarkan air mata dari kedua matanya. Hinata memberanikan diri untuk menatap Sai. Mengumpulkan oksigen ke dalam paru-parunya, Memejamkan matanya.

Dengan helaan nafas panjang menyakitkan, Hinata membuka kelopak matanya yang basah.

"A-aku ti-tidak apa, Sai-kun." Mencoba tersenyum pada Sai. Berusaha menghapus air matanya yang terus saja mengalir.

"Kau sedang kenapa-kenapa Hinata." Suara Sai meninggi mengeluarkan rasa kesalnya. Menatap Hinata yang terisak pedih didepannya sungguh membuatnya hancur.

"Jangan pikirkan aku Sai-kun, aku benar tidak apa." Mencengkeram erat tangannya berusaha terlihat kuat. Hinata ingin mengatakan jika ia sangat kenapa-kenapa saat ini, hatinya hancur didalam sana. Ini kali pertamanya mencintai seseorang, tetapi kenapa harus sesakit ini.

"BAGAIMANA BISA AKU TIDAK MEMIKIR KANMU HAH ? KAU MENANGIS SEPERTI INI, INI MEMBUATKU GILA." Sai berteriak keras, ia terlalu emosi melihat Hinata yang sok kuat didepannya.

Hinata menunduk, terkejut mendengar Sai yang memarahinya. Ini kali pertama Hinata melihat Sai semarah ini padanya. Ia tau Sai menyukainya. Dan ia juga tau perasaan Sai bagaimana.

-grep-

Sebuah tangan besar nan kekar mencapai kepalanya, sebelum Hinata tersadar akan tangan dikepalanya, sudah terlebih dahulu ia merasakan dada bidang membentur pipi basahnya. Sai memeluknya erat dan hangat, menenangkan Hinata. Seketika tangisnya kembali pecah, membalas pelukan Sai dengan tak kalah erat. Ia membutuhkan ini, ia membutuhkan penyangga untuk tubuhnya yang terlalu lelah menangis, dan juga lelah dengan perasaannya.

"Gomen." Suara Sai melembut, menyadari kesalahannya yang telah membuat Hinata takut. Hinata menggeleng mengucapkan terima kasih pada Sai yang sudah ada saat dia terlihat lemah seperti ini.

"Kau menangis seperti ini, kau sepertinya menyukai Sasuke ?" Suara rendah Sai terdengar jelas ditelinga Hinata, nadanya menyakitkan.

"..."

"Hinata ?"

"Ak- hiks." Tidak sanggup menyakiti Sai lebih jauh lagi.

"Kau menyukainya ?" nada itu lagi, hati Hinata mencelos mendengarnya. Mengapa orang yang menyukainya yang harus menenangkannya.

"Ak-huk.. hiks ak-ku mencintainya." Sesunggukan dan tagis kepedihan tedengar jelas didalamnya, Hinata memejamkan matanya, mengingat kembali cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

Sai tersenyum miris, sudah ia duga dari dulu Hinata menyukai tidak bahkan mencintai sepupunya. Hatinya tidak kalah hancurnya dari Hinata, ia harus berusaha tenang saat Hinata menyatakan jika ia mencintai Sasuke didepannya yang jelas-jelas mencintainya.

"G-gomen." Suara lembut Hinata bersamaan dengan pelukannya yang semakin mengerat, berharap Sai ingin memaafkannya.

"..."

"Sai-kun Gomen." Melonggarkan sedikit pelukannya, ingin menatap Sai.

Mata mereka bertemu, mereka adalah orang yang sama-sama tersakiti oleh cinta. Mencintai tapi tidak di cintai.

"Apa aku juga harus menangis sepertimu ?" Tanya Sai, matanya menyiratkan kesedihan yang sama yang dialami Hinata.

"Apa aku harus merutukimu, dan memakimu karena mencintai orang lain ?"

"Apa aku harus membunuh Sasuke yang membuatmu jatuh cinta dan menyakitimu seperti ini ?" Hinata tidak bisa melihat Sai yang seperti ini, ia tidak menyukainya, sungguh.

Sai menggapai kedua rahang Hinata, menatap matanya dalam. Kedua pasang mata itu sama. Sama memancarkan kepedihannya.

"Bukan itu yang harus kulakukan Hinata-chan, posisiku saat ini memang harus seperti ini. Memelukmu dan menenangkanmu. Kita sama, sama-sama tersakiti, kau disakiti Sasuke dan kau.. kau menyakitiku.

Air mata Hinata mengalir lagi, kini bukan karena Sasuke, tetapi karena Sai. Ia tidak menyangka Sai menyukainya sampai seperti ini, seharusnya Sai senang melihat Sasuke yang tidak membalas perasaannya, dengan itu ia bisa mendekatinya..

"Tetapi aku tidak bodoh, mengambil kesempatan ini untuk mendekatimu. Walau Sasuke tidak membalasmu, bukan berarti kau akan berpaling bukan ?" seolah membaca pemikiran Hinata, Sai menjawab apa yang sedang dipikirkan Hinata saat ini.

"Gomennasai." Langsung memeluk Sai dengan erat, berharap bisa mengurangi rasa perih di hati keduanya.

Cinta memang benar-benar menyebalkan.

.

.

.

Kembali di tempat Sasuke dan Ino yang sedang berpelukan, saat ini mereka sudah tidak berpelukan lagi. Sasuke kini sudah ada di dalam mengemudikan mobilnya. Ada yang terlihat lain di wajahnya. Wajahnya lebam di area sudut bibir dan tulang pipi kiri dekat matanya.

-flashback-

-Bhuuk-

Sebuah tarikan keras di bahunya dan sebuah kepalan tangan memukul wajahnya, tepat disudut bibirrnya. Membuat Sasuke sedikit terjungkal dari tempatnya, merasakan darah yang mengalir di sudut bibirnya, ia tau jika yang memukulnya adalah Sasori.

"DIA BUKAN MILIKMU, BRENGSEK." Teriak Sasori memaki Sasuke, siap untuk memukul Sasuke kembali. Mencengkeram erat kerah kemeja Sasuke. Tatapan membunuh ia berikan pada Sasuke yang sudah menyeringai penuh arti.

"Bagaimana rasanya ? Sama seperti apa yang kurasakan ? Dan jangan lupa kau yang mengambilnya dariku Akasuna." Menyeringai tanpa rasa takut malah semakin menantang Sasori yang sudah penuh dengan emosi.

"Kau yang mengambilnya, DARI AWAL DIA TIDAK PERNAH MENCINTAIMU UCHIHA." –bhuuk- satu pukulan lagi di tulang pipinya, kembali terduduk mencerna kata-kata Sasori.

"DIA TIDAK PERNAH MENCINTAIMU SAMA SEKALI DIA HANYA MEMBALAS DENDAM PADAMU BRENGSEK." Maki Sasori yang sudah hilang kendali.

Sasuke yang mendengar perkataanya, terbelalak 'balas dendam' sekaligus bingung, ia tidak ingat jika ia sudah melakukan kesalahn pada Ino, ia benar-banra tidak tau.

-bhukk-

"DIAM KAU, JANGAN BERMAIN DENGANKU." Sasuke bangkit melayangkan tendangannya di perut Sasuke, pukulan demi pukulan ia berikan pada Sasori. Dua pukulan yang ia dapatkan tidak akan cukup jika ia hanya membalasnya sekali atau dua kali.

Sedangkan Ino yang sedari tadi diam membeku menutup mulutnya, air matanya perlahan mengalir belum terlalu sadar akan Sasori yang sudah babak belur ditangan Sasuke.

"Sasuke sudah, sudah, lepaskan Sasori-kun." Isak tangisnya pecah, terdengar memohon pada Sasuke untuk melepaskan Sasori. Ia merasakan dejavu.

"Diam Jalang." Matanya penuh emosi, masih memukuli Sasori yang terlihat tak berdaya.

"Sudah. AKU MOHON HENTIKAN." Ino tidak tahan melihat Sasori sekarang, ia seperti ingin membunuh Sasori. Menyingkirkan tubuh Sasuke dengan sekuat tenaga. Memeluk kepala Sasori melindunginya agar Sasuke tidak memukulnya lagi.

Sasuke berdiri, ada rasa puas dalam dirinya melihat Sasori yang sudah babak belur sana-sini, menatap Ino yang terisak memeluk Sasori, ia mendecih melihat betapa tersakitinya mantannya ini.

"Cih kalian memang terlihat cocok, menyedihkan." Lalu pergi meninggalkan dua orang itu menuju mobilnya, melupakan tujuannya kemari.

-flashback off-

.

.

Malam sudah tiba, dari kejadian sore tadi Sasuke sudah tidak mood untuk melakukan apapun selain berbaring di atas tempat tidurnya. Kata-kata Sai tentang balas dendam terus ada dalam pikirannya. Ia benar-benar tidak tau apa kesalahannya pada Ino, sampai-sampai Ino menipunya seperti ini.

Menghela nafas berat, Sasuke memutuskan menghubungi seseorang yang tadi tidak jadi ia temui.

-tuuut- tuut- tuuut

Tidak ada jawaban.

-tuuut- tuuut- tuuut

Lagi-lagi tidak ada jawaban, Sasuke menaikkan alisnya. Tumben sekali Hinata tidak menjawab telepon darinya. Ia berpikir apa Hinata marah karena Sasuke tidak menjemputnya, bisa saja dia sudah menunggu Sasuke seperti orang bodoh tadi.

Tiba-tiba kejadian waktu hujan dulu terngiang, "apa dia tinggal lagi ?"

Tidak mungkin pikirnya, lalu menghubunginya lagi.

.

.

Di posisi Hinata, dia duduk di mejanya sambil menggenggam handphone di tangannya dengar erat. Hanphonenya terus berdering menandakan panggilan masuk, tetapi sungguh ia tidak ingin mengangkatnya tetapi ia juga tidak ingin jika Sasuke mengetahui alasan mengapa ia seperti ini.

Ini sudah panggilan ke 5, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian tadi sore.

"Apa Sasuke-kun khawatir seperti waktu itu ?"

"Ahh- tidak, kau akan tersakiti lagi Hinata."

"Sasuke-kun tidak boleh tau, aku.. apa kau bisa mengahadapinya ?"

Sibuk dengan dirinya sendiri, tidak menyadari jika ini sudah panggilan ke 8. Dengan ragu Hinata menekan tanda hijau di Handphone touch nya.

"Kau dimana ?" tiba-tiba suara Sasuke terdengar saat ia meletakkan handphone di telinganya.

"A-aku dirumah." Singkatnya, merutuki diri saat menyadari ia kembali tergagap. Ada perasaan rindu sekaligus sakit saat mendengar suara Sasuke.

"Syukurlah, kenapa lama sekali ?" Suaranya yang tadi terdengar khawatir kini lega, begitu pendengaran Sasuke.

"Aku dikamar mandi." Memejamkan matanya.

"Apa terjadi sesuatu ?" jujur saja Sasuke merasa berbeda dengan suara Hinata kali ini, terdengar sedikit tidak manis seperti biasa yang ia dengar.

"Tidak." Masih memejamkan matanya, berusaha menghilangkan bayangan Sasuke dan Ino yang sedang berpelukan.

"Hn, Gomen tidak menjemputmu."

"Tidak apa-apa, tadi kebetulan Sai-kun lewat, jadi aku ikut dengannya." Mendengar nama Sai, hati Sasuke tiba-tiba panas tetapi juga sedikit berterima kasih, tapi tetap saja ia tidak suka.

"Hn, besok aku akan menjemputmu. Tidurlah Hinata."entah kenapa suara Sasuke terdengar lembut ditelinga Hinata, ia merindukan pria itu.

"Tolong, jangan beri harapan lebih padaku Sasuke-kun." Ucapnya setelah panggilannya mati, tentu saja tidak bisa didengar Sasuke.

.

.

"Ya ampun wajah Sasuke-kun." Ucap Hinata saat melihat Sasuke yang menunggunya di mobil.

"Hn."

"Ada apa ?" Tanyanya khawatir.

"Hanya perkelahian kecil." Jawabnya santai.

"Tapi itu lebam, kita obati dulu." Tambah khawatir melihat sikap santai Sasuke.

"Sudah, Okaa-san sudah mengobatinya."

"Tapi kenapa bisa berkelahi ?" Menyentuh sisi luka Sasuke, Sasuke meringis perih.

"Hanya salah paham, jangan khawatir." Bohongnya, tidak mungkin jika ia menceritakan masalahnya pada Hinata.

.

Hinata melihat jalanan melalui kaca jendela mobil. Terdiam. Tadi pagi ia sudah sepakat dengan dirinya, untuk bersikap seperti biasa tidak terjadi apapun. Tetapi ternyata susah, ia sulit memulai pembicaraan seperti dulu. Tetapi bukan berarti ia tidak ingin berdamai, ia berpikir ia harus memaklumi Sasuke, mungkin ia sangat rindu pada Yamanaka Ino itu.

"Kau sakit ?" Tiba-tiba suara Sasuke membuyarkan lamunannya. Hinata hanya menggeleng menghadap pada Hinata.

"Kau terlihat aneh." Sasuke sedikit menyadari perubahan sikap Hinata yang sedikit lebih pendiam.

'apa terlihat jelas' ucap Hinata dalam hatinya.

"Kau marah padaku ?" Mengira-ngira penyebab perubahan sikap Hinata.

"Tidak Sasuke-kun, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tidak enak badan." Berusaha tersenyum manis, melupakan sakit hatinya.

"Kau ingin kerumah sakit dulu ?" Sembari menyentuh kening dan leher Hinata, ingin merasakan suhu tubuh Hinata.

"Tidak, aku tidak apa-apa kok." Menyentuh tangan Sasuke, menggengamnya erat.

Mungkin ini bukan kali pertama ia memegang tangan Sasuke, melihat perkembangan hubungan mereka. Tetapi ini kali pertamanya Hinata menggenggam erat tangan Sasuke menyalurkan emosi yang terpendamnya. Lalu tersenyum manis.

"Hn." Membalas genggaman tangan Hinata.

.

"Nanti akan kujemput, hubungi aku jika sudah selesai." Membelai puncak kepala Hinata, ini sudah menjadi hobi baru bagi Sasuke, mengusap puncak kepala Hinata dan membelai rambut lembutnya bagaikan sudah menjadi kebiasaan untuknya.

Hinata mengangguk mengiyakan.

"Jangan pulang bersama Sai." Ucapnya sebelum berlalu, Hinata masih tersenyum memandang mobil hitam itu pergi.

Senyumnya kembali hilang.

"Seperti tidak terjadi apapun." Suara lelaki yang ia kenali membuatnya berbalik mendapati Uchiha Sai yang sudah ada dibelakangnya.

"Sai-kun." Berjalan bersama menuju tujuan masing-masing.

"Kau memilih untuk menyembunyikan ?"

Hinata mengangguk dan diam.

"Kau tidak asik Hinata-chan, seharusnya kau sudah membunuhnya karena dia berselingkuh tepat didepanmu." Hinata langsung menatap horor pada Sai, apa-apaan lelucon itu.

"Baik-baik, aku hanya bercanda. Kalau begitu bagaimana jika kita saja yang berselingkuh, hm ?" Ucap Sai bangga merangkul bahu Hinata, tersenyum penuh arti.

"Sai-kuuun." Memukul bahu Sai, melepaskan diri.

"Aku tidak boleh egois, dari awal memang Sasuke-kun tidak menyukaiku. Aku saja yang terlalu berharap." Menatap kedepan menjelaskan isi hatinya.

"Kalau begitu kenapa tidak batalkan saja perjodohannya." Ucap Sai gamblang.

"Entah, aku merasa tidak bisa melakukannya, janjiku pada Okaa-san." Menghela nafas

"Bukan janjimu, tetapi kau mencintainya." Ucap Sai miris yang juga memandang lurus kedepan.

"..."

"Apa kau pernah ciuman ?" –deg- berdetak tiba-tiba, memori saat Sasuke menciumnya lewat di bayangan Hinata. Memalingkan menatap Sai yang juga sudah menatapnya.

"Apa aku harus menciummu agar kau bisa mencintaiku ? Kau tahu, aku pencium yang handal." memajukan tubuhnya seakan-akan bersiap mencium Hinata.

"Sai-kun, aku harus pergi." Melesat pergi meninggalkan Sai.

Sai menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "Kau sungguh menarik Hinata-chan". Tersenyum menatap kepergian Hinata.

.

.

.

Malam ini Sasuke meminta Hinata untuk menginap kembali dirumahnya, alasannya yah karena Mikoto dan Fugaku pergi ke Ame. Dan juga karena masakan dan tidak lupa kopi Hinata, terdengar klasik di telinga Hinata memang. Hinata sempat menolak, tetapi saat melihat tatapan tajam Sasuke yang seolah berkata –aku tidak menerima penolakan- mau tidak mau Hinata setuju, belum juga izin dari Hiashi membuatnya tak bisa mengelak lagi. Tanpa Hinata sadari ada senyum tipis –sangat tipis di bibir Sasuke.

"Sasuke-kun ingin makan apa ?" Tanya Hinata yang sudah ada didapur siap dengan apronnya. Seusai membersihkan diri Hinata langsung menuju kedapur untuk memasak.

"Terserah saja, jangan lupa kopinya. Aku mandi dulu." Lalu pergi kekamarnya.

"Baiklah." Memulai memasaknya.

Sebenarnya ini baru kali ketiga ia menginap, sebelumnya ia pernah ditawari oleh Mikoto tetapi ia menolak alasan ada urusan. Dan juga Sasuke pernah menyuruhnya juga karena Mikoto tidak ada, tetapi juga menolak alasan banyak tugas. Tetapi hari ini, ia ada disini dengan perasaan yang masih sama canggungnya.

Sebenarnya juga dia masih selalu mengingat Sasuke dan Ino, tetapi Hinata ingin melupakannya sejenak. ia ingin menikmati sebentar saja waktunya dengan Sasuke, jika saja Sasuke tidak akan memilihnya nanti.

.

Setelah selesai memasak Hinata mengatur masakannya dibantu maid yang malam ini hanya dua yang terlihat. Menata makanan di atas meja lalu duduk menunggu Sasuke dikursi yang biasa ia gunakan.

"Sudah selesai ?" Terlihat Sasuke yang sudah siap dengan pakaian santainya, menuju ke meja makan, mendorong kursi lalu mendudukkan diri.

"Ekstra tomat ?" Bertanya melihat makanan kesukaannya lebih banyak tomat dari biasanya.

"Iya, Sasuke-kun sangat menyukai tomat bukan." Tersenyum lalu memberi nasi dipiring Sasuke, oh benar-benar sudah seperti suami istri kalian ini.

Menikmati makanan mereka tanpa suara karena memang kebiasaan yang diajarkan memang seperti itu.

"Malam nanti, apa kau bisa membuatkanku kopi ?" Tanya Sasuke setelah selesai dengan makannya.

"Lagi ?" Tanyanya heran, benar-benar tidak habis pikir dengan kecanduan Sasuke pada kopi. Padahal baru tadi ia mengabiskan kopinya.

"Hn."

"Apa Sasuke-kun akan bekerja ?"

"Hn, seperti biasa."

"Hm baiklah, nanti aku buatkan." Mengacak rambut Hinata lalu pergi menuju kamarnya.

Hinata selalu merona jika Sasuke mengacak atau sekedar membelai puncak kepalanya, itu terasa membuatnya tenang.

.

.

Setelah makan malam Hinata tidak langsung kekamarnya, ia memutuskan untuk menuju ruang tv menonton beberapa acara untuk menghilangkan bosan, sedikit berpikir jika ia dipanggil kesini hanya untuk makanan dan kopi, tetapi ia senang merasa Sasuke membutuhkannya mungkin.

Mengingat kejadian yang lalu, Hinata memutuskan untuk bersikap seperti biasa. Ia ingin menjadi orang yang mengerti Sasuke, mungkin benar Sasuke sangat merindukan Ino. Dan mungkin memang benar Sasuke belum bisa mencintainya. Ia tidak boleh egois.

.

Hinata menonton tv sampai lupa waktu, sekarang sudah menujukkan pukul 10.35, dan tentu juga melupakan kopi yang harus dibuatnya untuk Sasuke. Entah karena acara tv yang bagus atau karena Hinata hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Masih asik memutar-mutar channel tv yang dirasa kini kurang menarik. Hinata tidak menyadari jika seseorang sedang mendekat padanya, bukan mengendap-endap hanya Hinata saja yang tidak merasakannya.

Tiba-tiba tempat sebelahnya duduk terasa diisi seseorang, seketika Hinata menoleh kaget melihat siapa yang sedang duduk disamping menatapnya.

"Sasuke-kun." Mata Sasuke terlihat lelah, lalu Hinata teringat sesuatu.

"Ya ampun aku lupa. Sasu-" –sreet-

Mata Hinata membulat bersamaan dengan kedua tangan kekar melingkar di perutnya, memeluknya sedikit agresif. Menyadari sesuatu, Hinata sedikit berontak ingin melapaskan diri.

"Diam, sebentar saja.. Aku lelah."

Seketika Hinata diam tak berani bergerak, Hinata menggigit bibir bawahnya. Jantungnya bertalu-talu, Sasuke memeluknya. Remote yang tadi ia genggam sudah terjatuh tak berdaya dibawah sana.

Sasuke gesekan hidung mancungnya ke kulit leher Hinata, menghirup bebauan lembut yang menempel di sana. Hembusan nafas Sasuke membuat Hinata meremang, ada rasa aneh yang ia rasakan terasa geli setiap Sasuke menghembuskan nafasnya. Entah sadar atau tidak Sasuke menekan bibir tipisnya dan mengecup kulit itu perlahan. Bersamaan dengan pelukannya yang semakin agresif di pinggang Hinata.

"Sasuke-kun." Hinata kaget merasakan kecupan di lehernya, mencengkeram tangan kekar Sasuke yang ada dipinggangnya.

Ini tidak boleh terjadi, ia tidak boleh jatuh terlalu dalam dengan pesona Sasuke, sudah cukup.

Sasuke tidak menginginkannya.

"Sasuke-kun tolong." Cicitnya berharap Sasuke ingin mendengarnya.

"..."

Tak ada jawaban hanya hembusan nafas yang sekarang mulai teratur di tengkuknya.

Hinata menoleh melirik Sasuke, bola mata Sasuke tidak terlihat, hanya ada matanya yang terpejam damai, masih menempatkan kepalanya di bahu Hinata. Pelukan Sasuke belum juga terlepas, dan itu membuat Hinata kebingungan untuk melepaskan diri.

Sejujurnya ia merasa senang dengan ini, tetapi logikanya selalu berkata tidak berlawanan dengan hatinya. Ia nyaman dengan Sasuke tentu saja, tetapi Sasuke ?

Perlahan Hinata mulai sedikit melepaskan tangan Sasuke pelan-pelan takut membangunkan Sasuke. Lalu menidurkan Sasuke sepanjang sofa itu. Pergi mengambil selimut tipis untuk digunakan Sasuke.

Hinata duduk dibawah menghadapkan wajahnya tepat didepan wajah Sasuke, menatap wajah damai yang terlihat lelah itu. Mengacungkan jari telunjuknya, mulai menyusuri wajah itu tanpa menyentuhnya. Matanya, hidung mancungnya, rahang yang terpahat sempurna, kulit putih mulus tanpa noda, dan juga bibirnya yang memang sepertinya diciptakan terlihat menggoda –apa yang kau pikirkan hinata-.

"Sasuke-kun pasti lelah." Ucapnya rendah membelai rambut biru dongker Sasuke dengan lembut.

"Sasuke-kun.."

"Apa Sasuke-kun tidak pernah menyadarinya ? perasaanku." Matanya berkaca-kaca.

Hinata terbawa kesedihannya.

Cinta yang menyebalkan ini membuatnya seperti ini.

Selalu terlihat lemah.

"Ini terasa sulit Sasuke-kun."

Sulit karena terlanjur mencintai

Sulit karena kau tidak mencintanya

"Ini menyebalkan, kenapa aku harus mencintai Sasuke-kun."

Tetapi kau tidak

Tidak akan pernah bisa

"Tetapi hiks.. Sa-sasuke-kun mencintanya."

Mencintai yang seharusnya tidak kau cintai

Mencintainya yang seharusnya membuatmu muak

"Tidak bisakah.." Hinata terisak, menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.

"Tidak bisakah, Sasuke-kun melupakannya dan..."

"Dan mencintaiku ?" Hinata menutup kelopak matanya yang terasa perih karena air mata, terasa pedih dalam hatinya.

Pria didepannya ini, kenapa harus dia.

Perlahan Hinata memajukan wajahnya, memperkecil jarak diantara mereka. Perlahan-lahan Hinata menggapai bibir dingin Sasuke.

Menyatukannya.

Mengecupnya diam, menyalurkan perasaanya.

Ia sangat ingin memilikinya, memiliki hati lelaki ini.

Hanya dia, bukan Yamanaka atau yang lain.

Masih dengan posisinya, memejamkan matanya erat penuh kepedihan.

Tanpa ia sadari.

Kedua kelopak mata itu terbuka.

TBC

Arigatou lagi buat reviewnya...

buat saran dan kritiknya...

terima kasih sekali...

maaf belum bisa balas-balas review..

maaf kalau updatenya lama, soalnya udah mulai sibuk ini huhu.

apapun itu terima kasih ...

R&R