Sepanjang perjalanan, gadis kecil itu terus saja mengumpat. Benar-benar tak habis pikir dengan Niisan yang terus saja betah untuk diam. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja Ino termasuk dalam tipikal orang yang tak bisa diam. Setidaknya, Niisan bisa memberitahu namanya ke Ino— berjaga-jaga jika mereka tak bertemu dalam waktu yang lama. Lagipula, apa yang salah dengan berkenalan? Ia tahu nama Ino—dan sudah menjadi timbal balik Ino tahu namanya.
Mengabaikan sekujur tubuh yang basah kuyup, Ino terus saja menggumam tak jelas. Bahkan termosnya yang baru ia beli berkemungkinan besar tak dapat digunakan kembali. Rumah pohonnya dan panti asuhan tempat Ino tak jauh, hanya sekitar dua ratus meter. Jadi kemungkinan untuk sakit karena hujan-hujanan cukup jauh. Pasti Mito-baachan juga paham mengenai polah tingkah salah satu anak asuh tertuanya itu.
Dengan pakaian yang basah kuyub itu, itu membuka pintu belakang—tepat di dekat dapur—panti asuhan pelan.
"Tadaima," ujarnya lesu. Perutnya yang terus keroncongan bahkan dihiraukan.
Mito yang tengah memasak pun hanya mengangguk pelan, "Okaeri." Wanita cantik di usia tuanya itu tetap tekun dengan sayuran yang ia potongi. Memasukkannya ke dalam panci rebusan besar sebelum melirik Ino sekilas.
"Ino, kenapa baru pulang—ASTAGA!" Sendok sayur besar tak berdosa pun ikut menjadi korban kekagetan Mito—melayang dengan sempurna mengenai kepala Ino.
Ino hanya menampilkan cengiran tak berdosanya saat Mito-baachan menatapnya dengan kilatan amarah. Ino sudah terbiasa jika terkena dampratan Mito-baachan, tapi hukuman yang didapatkan yang membuat Ino frustasi. Terkadang Ino disuruh mencuci piring seluruh penghuni panti, melakukan patroli guna memastikan adik-adik Ino tidur tepat waktu, hingga membuang kantung sampah yang besarnya dua kali besar tubuh Ino. Kali ini, ditambah lemparan sendok sayur pula.
"Tadi ada kakek-kakek tua, Baachan. Bukankah kita wajib menolong orang tua? Jadi, aku meminjamkan payungku padanya."
Mito Uzumaki nampak menghela nafas pelan—seolah mafhum dengan tingkah salah satu anak asuh tertuanya, "Lekaslah mandi, Ino. Ada yang ingin aku bicarakan."
Ino mengganguk paham, sebelum meletakkan termosnya di sembarang tempat, "Baachan tidak menyuruhku agar aku bersekolah, 'kan?"
"Lekas mandi, Ino!"
Dan seolah ia yang paling mengerti dirinya, Ino memberengut. Aquamarinenya memutar bosan. Sekolah. Sekolah. Sekolah. Kenapa semuanya harus diukur berdasarkan pendidikan? Lagipula, jika Ino bersekolah mungkin ia akan diejek, diolok atau entah diapakan karena statusnya yang menjadi anak panti.
"Jika Mito-baachan tetap akan membicarakan itu, jangan harap aku mau keluar kamar malam ini." Dengan begitu, malam ini kekeras kepalaan Ino yang mengambil alih. Membiarkan wanita paruh baya itu lagi-lagi menghela nafas pasrah.
Apa-apaan coba Mito-baachan? Kenapa bebal sekali?
.
.
.
.
.
Childhood by Ayam Rusa
Saya pemilik murni alur cerita
Semua pemeran milik Masashi Kishimoto
Itachi U. — Ino Y.
.
.
.
.
.
Sejak sebelum mandi hingga Ino berbaring di kamarnya, segala macam gerutuan terlontar. Pemilik surai pirang platina ini bahkan mengabaikan teriakan adik-adiknya untuk mengajaknya makan malam. Mulai dari pagi hingga malam, orang-orang di sekitar Ino seolah membuat tensinya naik.
Ino tahu dirinya. Meski usianya tidak memungkinkan untuk berpikir yang macam-macam, tetapi Ino mengerti mengenai apa itu kesulitan dan bagaimana rasanya merasa iri. Ia dan panti asuhan saja sudah cukup merasa sulit menghadapi beratnya beban biaya hidup yang harus ditanggung. Lalu kenapa Mito-baachan tetap bersikukuh menyuruh Ino sekolah? Apakah sekarang keelitan sekolah masih menjadi mode?
Bahkan dipikir berapa kali pun, Ino tahu jika berjualan lebih baik dari sekolah. Ia bisa belajar membaca buku di perpustakaan kota. Ino juga belajar hitungan dengan menonton televisi.
Jika Ino sanggup belajar sendiri, kenapa harus sekolah?
Huh, tidak Mito-baachan, tidak Niisan, semuanya menyebalkan!
Eh, Niisan?
Ino mengerjapkan matanya ragu. Posisinya yang tadi berbalik seketika saja terbangun—duduk di atas ranjangnya. Manik jernihnya melirik jam di nakas samping ranjang yang menunjukkan pukul sembilan malam.
Gadis cantik Yamanaka ini nampak berpikir, sebelum memutuskan kembali merebahkan dirinya dengan nyaman di atas ranjang. Mengenyahkan pikiran macam-macam yang sempat singgah. Tidak, tidak! Ino tidak boleh memikirkannya.
"Abaikan saja dia, Ino. Dia tidak peduli padamu. Membiarkan dirimu tahu namanya saja tidak."
Sepersekian detik kemudian, Ino kembali bangun. Melirik jendela kacanya yang masih basah. Hujan belum juga mereda—padahal malam semakin larut. Tanpa perlu berpikir dua kali, Ino bergegas turun dari ranjang—melipat selimut diranjangnya serapi yang Ino bisa. Dengan cekatan pula, si pirang ini mengobrak-abrik lemari kecil di samping ranjangnya—mencari plester demam atau obat apa pun itu. Kemudian Ino segera bergegas memasukkannya ke dalam tas sekolah—yang sayangnya tak pernah terpakai olehnya.
Mungkin terdengar sedikit gamang, tapi Ino satu-satunya anak asuh yang memiliki uang jajan serta kamar sendiri di sini. Entah itu karena Ino memang yang tertua atau memang ada suatu hal yang membuat Ino teristimewakan di sini.
Apa pun itu, Ino tak ambil pusing. Ia juga mengambil beberapa lembar uang hasil berdagang onigiri di stasiun hari ini. Biarlah besok Ino tak berjualan—sesekali Ino juga perlu libur. Toh, liburan yang Ino ambil pasti akan menyenangkan karena ada Niisan.
Seolah kembali meneliti, Ino menatap tas berwarga ungunya dengan tatapan bingung. Apakah Ino sudah memasukkan semua yang diperlukan untuk Niisan? Atau mungkin ada yang kurang?
Perasaan bersalah mulai hinggap—ia yang mengajak Niisan untuk menginap, ia juga yang meninggalkan Niisan begitu saja. Padahal Niisan tak memiliki siapa pun yang dikenalnya kecuali Ino. Dan Ino marah hanya karena Niisan tak mau menceritakan dirinya? Pasti Mito-baachan akan menjewernya jika tahu perbuatan tak bertanggung jawab Ino ini.
Setelah memastikan semuanya sudah lengkap, Ino mengambil jas hujannya. Memakainya dengan hati -hati sebelum berjalan mengendap ke luar. Adik-adik panti Ino pasti sudah tidur—dan membuat keributan di malam hari bukanlah opsi yang baik.
Begitu kedua kaki mungilnya melewati kamar Mito-baachan, Ino berhenti. Seburuk apapun perilaku Ino, ia tetap harus menjaga agar tak membuat Mito-baachan khawatir. Dengan keyakinan itu pulalah, Ino membuka bangsal coklat di hadapannya, "Baachan?"
Mito nampak terkejut, sebelum menyembunyikan tumpukan kertasnya ke belakang punggung, "Ino? Kenapa belum tidur?"
Ino hanya mengernyit aneh menatap sesuatu yang nampak disembunyikan wanita Uzumaki ini, "Ino ingin membuang sampah. Mungkin Ino juga akan menginap di rumah pohon malam ini."
"Kau yakin? Hujannya masih deras, Ino-chan." Mito tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
Ino menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, Baachan. Ino bisa menjaga diri, kok," yakinnya sebelum menutup pintu—tanpa menunggu jawaban Mito.
Mito lagi-lagi menghela nafas sebelum memijat keningnya yang terasa berkedut, "Jika semua anak di sini sepertinya, mungkin aku akan segera mati."
.
.
.
.
.
Ino sengaja mengubah jalurnya dengan memutar. Dengan berbekal kecerdasannya, Ino berniat membelikan Niisan pakaian. Pasti Niisan juga risih harus memakai satu baju untuk dua hari. Walau Ino tak pernah berbelanja sendirian, tapi Ino yakin ia cukup pintar untuk mencari harga yang murah.
Dengan rintikan hujan yang masih deras, Ino membiarkan sepatu boots miliknya beradu dengan beceknya air. Hari sudah cukup malam—dan beberapa toko di pusat kota sudah tutup. Hanya menyisakan beberapa, termasuk toko pakaian.
"Selamat datang, ada yang bisa saya—apa yang kau lakukan di sini, Bocah?"
Ino memberengut sebal mendengar sindiran pedas itu. Irisnya tanpa gentar mendelik. Bagaimanapun, Ino calon pembeli. Berani-beraninya seorang pegawai memperlakukan calon pembeli seperti itu!
"Yak, Orang tua! Kau pikir kau siapa? Kasar sekali dengan calon pembeli!"
Seketika pria paruh baya itu tertawa pelan, "Maaf, maaf. Jadi, kau benar-benar ingin membeli baju, Bocah?"
Ino melipat kedua lengannya di depan dada, kepalanya melengos enggan. "Aku ingin baju untuk anak laki-laki berwajah boros."
Pria paruh baya itu menatap Ino tak mengerti. Ino yang meliriknya sekilas hanya menghembuskan nafasnya pelan, "Maksudku, aku ingin membeli baju untuk anak laki-laki." Ino berjingkit, mengancang-ancang tinggi Niisan—Itachi dengan meletakkan tangannya di udara. "Tingginya sekitar ini ... uhm, dia juga memiliki badan yang kurus." Ino nampak kembali berpikir, "Dan berikan padaku yang harganya paling murah, Jisan."
—Childhood—
Hal yang pertama kali Ino lakukan ketika sampai adalah mengecek apakah Niisan sudah tidur atau belum. Namun yang didapatinya justru pemandangan yang membuat dua maniknya membulat. Seolah memastikan jika irisnya tak salah melihat, Ino kembali melempar pandangannya ke penjuru mana pun.
Tetap sama. Niisan tak ada di sini.
"Niisan?"
Di tengah dinginnya guyuran hujan serta udara malam yang menusuk, Ino merasakan pelupuknya memanas.
Ke mana Niisan?
Setelah meletakkan kantung plastiknya, Ino kembali menyambar jas hujan serta sepatu bootsnya. Kedua tungkai kakinya sudah siap untuk keluar—mencari Niisan. Airmata yang merembes mengalir begitu saja melewati dua pipi gembulnya seolah terabai.
Niisan ke mana?
Bagaimana jika Niisan kehujanan?
Bukankah Niisan tidak bisa bertemu banyak orang?
Niisan pasti akan tersesat!
Jika Niisan keluar, Niisan pasti akan sakit!
Seolah baru menyadari kesalahannya, Ino mengutuk dirinya sendiri sembari memukul kepalanya berulang. Mengucapkan kata bodoh-bodoh-bodoh tanpa henti. Andai saja Ino tidak keras kepala, andai saja Ino tak egois. Mungkin ... mungkin tidak akan jadi seperti ini. Jika saja Ino kemari lebih cepat, Niisan tidak mungkin pergi tanpa memakai payung yang sengaja Ino tinggalkan untuknya. Niisan tak mungkin membiarkan dirinya sendiri berkeliling seperti orang gila di tengah hujan deras yang mengguyur Uzushio.
"Ino?"
Setidaknya sebelum tubuh kuyub itu berdiri di ambang kusen pintu dengan ekspresi yang tak terbaca oleh Ino. Meski di sini gelap, Ino tahu jika kedua obsidian yang biasanya menusuk itu menatapnya dengan pandangan lega.
"Niisan!"
Bruk!
Dan sebelum Itachi menjawab, tubuhnya terlebih dahulu ditabrak dengan pelukan kencang Ino. Sesekali suara plastik jas hujan Ino yang bergeser menginterupsi keduanya. Namun sepertinya Ino tak berniat melepaskan pelukannya. Kedua lengannya mengamit punggung Itachi tanpa ampun. Bahkan status tubuh Itachi yang basah kuyub seolah terabai olehnya—Ino semakin menenggelamkan kepalanya ke dada Itachi.
"Maaf. Maaf. Maafkan aku ..."
Kedua tangan Itachi yang tadinya menggantung bebas di kedua sisi tubuhnya terangkat. Mendekap gadis kecil—yang entah mengapa menghangatkannya—ini erat. Seakan dengan pelukannya saja, Itachi sanggup menjawab segala ucapan Ino. Nyatanya, si sulung Uchiha ini tetap membiarkan saat tangisan Ino semakin kencang. Walau tak mengerti apa alasan Ino menangis, tapi Itachi mengerti mengapa ia tetap membiarkan Ino menangis di dadanya.
Karena ... karena hatinya semakin menghangat saat tangisan itu menyebut dirinya.
—Childhood—
"Bagaimana mungkin seorang membiarkan dirinya diguyur hujan sementara payung pemberian seorang gadis cantik justru diabaikannya?"
Itachi hanya diam mendengar celotehan Ino. Tidak hanya cerewet, sepertinya gadis ini juga memiliki kepercayaan diri teramat tinggi—meski Itachi sendiri juga mengakui Ino termasuk cantik untuk ukuran gadis seusianya. "Aku mencarimu."
Ino menghentikan kegiatannya mengusap-usap rambut Itachi menggunakan handuk hanya untuk mendengus, "Bagaimana mungkin seseorang mencari orang lain di tempat yang tak pernah ia kelilingi sebelumnya?" Ino terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.
"Mungkin aku hanya terbawa perasaan."
Ino memiringkan kepalanya bingung, "Terbawa perasaan apa?"
"Lupakan. Lanjutkan saja."
Ino menggembungkan pipinya sebal mendengar penuturan tanggung Niisan sebelum kembali mengusap lembut handuk putih kecil itu ke surai Itachi. Jika kalian bertanya dari mana Ino bisa mendapat kesimpulan untuk melakukan hal itu, tentu saja Ino mendapatkannya dari serial dorama. Meski sering menonton dorama percintaan atau entah apa lagi, Ino tetap tak mengerti maksud apa yang dikatakan para pemerannya. Jadi, hanya perilaku mereka saja yang menjadi pengawasan Ino.
"Nah, selesai."
Ino meletakkan handuknya asal sebelum menyambar kaos putih polos serta jeans tiga perempat yang baru dibelinya tadi. Ino tidak tahu ukuran Niisan, jadi ia membeli ukuran yang umum digunakan anak remaja, di samping mencari harga yang paling murah tentunya. Yah, walau Ino tetap tak mengerti mengapa wajah tua Niisan—Itachi itu disebut usia remaja.
Sekali lagi, Ino berterima kasih pada Mito-baachan yang memberinya uang jajan yang kelewat banyak.
"Niisan, ganti pakaianmu." Ino menyodorkan satu setel pakaian yang dibelinya asal dari toko tadi.
Lain Ino, lain pula Itachi. Pemuda tampan itu justru menatap pakaian yang disodorkan Ino dan Ino secara bergantian. Ino pun yang ditatap seperti itu memutar kedua bola matanya jengah, "Kenapa tidak segera ganti baju, Niisan?"
"Kau ingin melihatku berganti baju?"
Mendengar ucapan Niisan yang terkesan ambigu itu, Ino mengangkat kedua alisnya, "Kenapa? Tidak boleh? Aku sering kok mengganti pakaian adik laki-laki di panti asuhan."
Mau tak mau, Itachi menatap horor Ino disertai dengan kerutan dahi. Ia baru sadar jika bukan hanya dirinya, Ino sendiri pun tak pernah berinteraksi dengan makhluk berbeda kelamin selain adiknya di panti asuhan—serta Shikaku Nara sepertinya.
"Jadi?"
"Apa?"
"Jadi Niisan mau aku yang menggantikan baju?"
CTAK!
"Ittai! Niisan-baka! Kenapa—"
"Berbalik."
Ino menelan salivanya ngeri. Jika Niisan sudah mengeluarkan nada mengerikan seperti itu, pasti keselamatannya akan terancam. Jadi, tanpa menjawab apapun, Ino membalikkan tubuhnya memunggungi Niisan—yang entah tengah melakukan apa. Huh, menyebalkan!
Gerutuan serta cacian tajam Ino memenuhi rumah pohon kecil itu. Mengabaikan ucapan-ucapan Ino, Itachi justru merasa jika wajahnya menghangat. Ia Uchiha jenius. Tentu saja pertanyaan polos-nan-bodoh Ino itu tertangkap lain bagi otaknya. Tak berselang lama, imajinasi liarnya justru mengambil alih. Bagaimana jika—sebentar ... apa tadi?
ITACHI UCHIHA! APA KAU BARU SAJA BERPIKIRAN MESUM DENGAN BOCAH DELAPAN TAHUN?
Jika Itachi sudah sampai di Konoha nanti, mungkin hal pertama yang harus dilakukannya adalah menebas kepala Uchiha Shisui yang selalu mencekoki mata polos Itachi dengan film-film tak jelas. Gara-gara Shisui, pikirannya juga ikut-ikutan ngelantur terlalu jauh. Selain itu, Itachi juga harus cepat-cepat mencari pacar supaya pikirannya tidak terkontaminasi plus jelalatan dengan bocah kecil di bawah umur—di sini Itachi Uchiha tak menyadari umurnya sendiri rupanya.
"Niisan, sudah belum?"
"Jangan berbalik sebelum aku yang menyuruhmu."
Lagi-lagi Ino mendengus sebal. Mungkin besok Ino harus ke perpustakaan Uzushio untuk mencari tahu apa penyebab seorang ayah atau saudara laki-laki uring-uringan tak jelas. Tadinya mencela, lalu berbaik hati memberi nasihat plus diberi senyuman manis, belum lagi tingkah perhatiannya berbagi payung dengan Ino, kemudian membuatnya menangis. Sekarang justru kembali mengeluarkan mode setannya.
Tapi ... jika dipikirkan kembali, ini pertama kalinya Ino dekat dengan anak laki-laki selain adik-adiknya. Apalagi, Niisan ini usianya lebih tua dibanding Ino. Meski auranya tidak sebijak Shikaku-jisan, namun ada hal lain yang membuat Ino merasakan kehangatan.
Uhm, seperti kehangatan yang membuatnya selalu nyaman dan merasa aman. Pokoknya, kehangatannya berbeda dari kehangatan yang Ino rasakan sebelum-sebelumnya. Dari Mito-baachan, dari saudara pantinya, bahkan dari Shikaku-jisan sekali pun.
Mungkin, Ino juga bisa mencari tentang ini di perpustakaan besok.
"Berbaliklah."
Mendengar abaan itu, Ino berbalik. Atensinya menatap penuh rambut setengah basah Niisan hingga ujung kakinya. Tak lama, dahinya berkerut. Jika memakai pakaian seperti ini, Ino seperti pernah melihat Niisan sebelumnya.
"Ada apa?" Niisan memposisikan dirinya duduk senyaman mungkin di samping Ino yang malah melamun. Hujan mulai mereda, tetapi dinginnya malam sama sekali tak berkurang.
"Aku seperti pernah melihat Niisan di televisi," tutur Ino polos.
Seorang yang dipanggil Niisan oleh Ino itu—Itachi—menghela nafas pelan sebelum menepuk kepala pirang si Yamanaka yang duduk di sampingnya. "Jangan terlalu dipikirkan. Wajahku mungkin pasaran."
Yah, Itachi benar, 'kan? Semua Uchiha memiliki iris obsidian serta surai gelap. Jadi mungkin yang diketahui Ino itu para Uchiha lain.
Ino hanya mengangguk, membiarkan keheningan mulai menyelimuti keduanya. Meskipun keadaan sekeliling gelap, Ino masih sangat sadar jika Niisan masih berada tepat di samping Ino. Merasa tak nyaman dengan kesunyian dalam gelap, akhirnya Ino buka suara, "Niisan ingin pulang kapan? Aku sudah membawakan uang untuk membeli tiket kereta."
"Mungkin ..." Niisan Ino itu menggantungkan kalimatnya, "besok."
"Oh ..." Ino hanya menjawab seadanya. Ia tak bisa berbohong saat sisi terburuknya merasa tak rela. Baru saja Ino merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya, secepat itu pulalah kehangatan itu akan segera hilang.
Baik Ino atau Itachi memutuskan untuk tetap diam. Mungkin Ino merasa tak rela, tapi Itachi merasa jauh lebih tak rela. Ingin sekali ia memboyong Ino jika tak menyadari sebentar lagi dirinya akan meninggalkan Jepang. Keinginan itu mungkin harus Itachi tahan—entah untuk berapa tahun yang akan datang.
"Ino?"
"Hm?" Itachi tak bergeming saat merasa beban mendarat di bahunya.
"Kita pasti akan bertemu lagi."
"Aku juga berharap begitu." Ino memejamkan matanya.
Terkadang kebebasan itu membebani. Itachi baru paham makna kalimat ini. Sekian tahun terkurung dengan aturan dan doktrin macam-macam membuatnya haus akan kebebasan. Namun saat kebebasan singkat itu diraihnya, Itachi semakin menginginkan kebebasan yang lain. Inilah sikap buruk manusia, mereka tak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan.
Itachi ingin bisa bersama Ino lebih lama. Sama rasanya dengan Itachi sang sulung yang ingin selalu menjaga adiknya Sasuke setiap saat.
"Niisan?"
"Hn?"
"Aku ngantuk."
Tanpa berucap apapun, Itachi menegakkan kepala Ino yang bersandar di bahunya. Kemudian dengan cepat mengambil selimut yang teronggok di kantung plastik. Karena selimut yang dibawa Ino dua, maka Itachi memutuskan untuk menggunakan salah satunya sebagai bantal. Sementara yang lain ia gunakan untuk menghangatkan Ino.
Bagai seorang ayah yang menjaga buah hatinya, Itachi menaikkan selimut hingga sebatas leher Ino. Pandangan khawatir Itachi tak dapat ia sembunyikan begitu menatap Ino yang nampak kelelahan. Sebagai seorang yang seharusnya hanya tahu bermain dan belajar, Ino justru memilih takdir lain. Pasti berat untuk Ino.
"Tidurlah, Ino. Aku akan menjagamu." Diusapnya lembut surai pirang itu.
Keduanya diam, sebelum mendadak Ino merasa kedua aquamarine miliknya berair. Dalam kegelapan malam, Ino menangis tanpa suara. Membiarkan airmatanya menetes membasahi selimut yang ia gunakan sebagai alas kepala.
"Niisan?"
"Hn."
"Bisakah Niisan berbaring di sampingku?"
Meski Niisan tak menjawab, Ino tahu jika seorang yang baru dikenalnya sehari itu memposisikan dirinya berbaring senyaman mungkin di sebelah Ino. Suasana sunyi semakin mendukung airmata Ino turun. "Kenapa aku selalu merasa iri? Aku benci diriku sendiri, Niisan. Aku ... aku ingin seperti mereka juga." Kali ini, ia tak menyembunyikan isakan pilunya. Ino tidak bisa. Ino tak akan sanggup. Kenapa kebahagian selalu terasa semu bagi Ino?
Tubuh tegap itu kemudian berbaring menyamping, memutar tubuh mungil Ino agar menghadap ke arahnya. Walau gelap, namun seluruh tubuh Itachi bisa merasa kepedihan dari airmata Ino. Dengan perlahan, Itachi merengkuh tubuh Ino dalam dekapannya. Menekan kuat kepala gadis kecil itu supaya semakin tenggelam di dadanya—berharap agar semua yang ingin Itachi ucapkan tersampaikan.
"Sekarang. Untuk saat ini. Aku di sini, Ino."
Ino semakin terisak dalam. Ya, Ino memang cerdas. Ia pintar. Ia bisa berhitung. Tapi Ino tak memiliki apa yang para bocah kecil umumnya miliki. Mainan yang banyak. Kasih sayang yang berlimpah. Tak perlu memikirkan apa pun selain belajar dan menghabiskan waktu dengan bermain.
Bahkan teman pun, Ino tak pernah punya. Satu-satunya yang Ino anggap teman hanyalah Nara Shikaku. Ino merasa sepi untuk dirinya sendiri.
Benar-benar sepi.
Meski Ino tak pernah mengeluh mengenai rasa sepinya. Yamanaka Ino hanya ingin semua orang bisa melihatnya sebagai Ino yang ceria—tidak seperti Ino bocah panti yang patut dikasihani. Nyatanya, Ino tak sanggup jika harus demikian untuk waktu yang lama.
Ia hanya gadis kecil delapan tahun yang senantiasa berharap segala sesuatu membahagiakan. Tetapi takdir lain memaksanya untuk menikung. Ino hanya seorang gadis kecil biasa. Bocah sama yang ingin mendapat sesuatu yang sama seperti selayaknya anak lain.
Dan dengan begitu pula, di malam sunyi pasca hujan, sepasang anak kecil itu terlarut dalam kedinginan hati berlapis pelukan hangat. Untuk malam ini, biarkanlah kehangatan tubuh yang berbicara.
.
.
.
.
.
Awal musim gugur keesokan hari, dedaunan mulai terombang-ambing tak tentu arah oleh angin. Meski udara cukup menusuk, tetapi tak menyurutkan niat orang-orang untuk melakukan aktivitas mereka sebagaimana seharusnya. Ya, seharusnya hal yang paling utama di tengah musim gugur adalah pakaian berlapis hangat. Tapi tidak, dua anak itu memutuskan untuk tetap dengan pakaian mereka.
Itachi Uchiha—dengan kaos putih polos berlengan pendek serta celana jeans sebatas bawah lutut—nampak santai menautkan jemarinya ke jemari kecil Yamanaka Ino—yang justru menggunakan gaun selutut tanpa lengan. Rambut pirang pendek Ino dihiasi jepit rambut di sisi kiri. Keduanya nampak bahagia—meski salah seorang di antara memasang wajah sedatar aspal.
"Niisan mau ke mana?"
Sosok yang dipanggil Niisan itu tak kunjung menjawab, keduanya hanya terus berjalan meninggalkan stasiun. Ya, Niisan itu adalah Itachi Uchiha—sang sulung Uchiha—yang beberapa jam lalu nyaris menyandang gelar gelandangan jika tak ada malaikat manis bermanik sebening lautan yang menyelamatkannya dari rasa malu sekaligus mempermalukan dirinya sendiri.
"Kau sendiri ingin ke mana?"
Meski yang ditanyai bertanya balik, Ino sama sekali tak merasa keberatan. Gadis kecil bersurai pirang itu sudah mengerti mengenai Niisannya. Kemarin malam, pemuda berambut legam itu bercerita segala tentang dirinya. Kecuali nama dan keluarganya.
Ino mengerti Niisan ini harus lulus sekolah dasar di usia sembilan tahun.
Ino tahu jika Niisan paling suka kubis dan tidak terlalu menyukai daging.
Ino juga paham jika Niisan gemar berkeliling ke warung tradisional—tetapi itu nyaris tak pernah terwujud karena rutinitasnya. Ia bahkan tahu jika Niisan anak sulung dan memiliki adik yang seumuran dengan Ino. Dari bagaimana adik Niisan hingga keluarganya yang memaksa Niisan selalu sempurna.
Ino bahkan satu-satunya perempuan yang disentuh Niisannya selain ibunya.
Oleh karena itu, Ino ingin sekali memberi apa yang tak bisa Niisan dapatkan saat pulang nanti.
"Aku ingin ke taman kota saja. Tidak terlalu jauh dari sini. Bagaimana?"
Seorang yang Ino panggil Niisan itu hanya mengangguk tanpa berniat menyahuti apapun.
Dan begitulah sepanjang perjalanan mereka hanya berisi keheningan. Untung saja tak banyak yang menyadari jika salah satu yang berjalan di kerumunan itu si Uchiha sulung yang sering keluar masuk televisi seolah tanpa sensor.
"Niisan, sebentar." Ino melepaskan genggaman tangan mereka. Sementara Niisan hanya menatapnya dengan pandangan datar. "Berjongkoklah."
Itachi sebenarnya sangat ingin mengajukan protes, namun Ino sudah terlebih dahulu menarik bahunya agar turun. Untung saja ini masih pagi, jika tidak mungkin ia akan menanggung malu teramat sangat. Berjongkok di tengah trotoar dengan pakaian ala kadarnya pada musim gugur—ini adalah hal memalukan ke sekian kalinya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Diamlah, Niisan! Sebentar lagi selesai."
Itachi merasa rambutnya tertarik-tarik. Belum lagi jemari Ino yang terasa menyentuh lembut surainya. Apapun yang Ino lakukan, itu akan mengubah model rambutnya. Begitu pulang dari sini, pasti Mikoto akan bertanya yang macam-macam.
"Selesai deh!"
Si sulung Uchiha ini langsung beranjak berdiri sembari menyentuh bagian belakang rambutnya. Sementara Ino yang berdiri di belakangnya terkikik menang. Oke, mungkin Itachi harus sesekali mengalah pada Ino yang terus-menerus membantunya.
"Niisan kelihatan lucu kalau begitu." Ino mengerling pada Itachi. Pemuda itu sudah bersiap melepas ikatan kunciran rambutnya jika saja wajah Ino yang memberengut itu tak tampak. "Jangan dilepas. Itu untuk tanda jika kita bertemu suatu hari nanti."
Itachi menghela nafas, "Tidak perlu tanda, aku pasti akan mengenalimu lebih dulu."
"Oh ya? Bisa saja Niisan justru yang melupakanku lebih dulu." Ino tetap bersikeras, kini justru melipat tangannya di dada sembari menatap Niisannya sengit, "Jika Niisan tak mau dikuncir, aku marah." Si pirang itu justru terlihat sedang merajuk.
Suasana hati seorang gadis kecil lebih parah dibanding adik laki-laki yang manja. Hal yang baru diketahui Itachi saat bersama Ino.
"Baiklah." Pada akhirnya Itachi menurut. Jemarinya kembali bertaut ke jemari Ino yang tadi sempat terlepas, "Asal kau berjanji satu hal padaku."
"Apa?"
"Apapun yang terjadi nanti, kau harus mencariku. Cari aku sampai aku bisa menemukanmu."
Meski Ino tak mengerti makna perkataan Niisan—Itachi—namun ia tetap mengangguk patuh, "Jika aku yang mencari Niisan, pastikan Niisan akan segera mengenaliku."
Tanpa berniat menjawab, Itachi mengeratkan genggamannya. Menatap taman kota yang semakin dekat dengan jarak pandangnya dengan tatapan senang. Sudah lama sekali ia tak merasakan bagaimana bermain di sana. Pasti sangat menyenangkan.
"Ino?"
Ino menoleh, "Niisan senang?"
Yang dipanggil Niisan tak menjawab, obsidiannya menatap pemandangan di hadapannya tak percaya. Mau tak mau, bibir Ino melengkung ke atas membentuk senyuman manis. Ino akan ikut senang jika Niisan merasa senang.
"Terima kasih ... Ino."
Dan sebelum Ino bisa menjawab ucapannya, tubuhnya berbalik menyamping sebuah kecupan dalam di dahinya yang memang tak berponi. Kedua tangan besar Niisan menangkup pipi Ino, sementara Ino di biarkan memasang wajah kaget. Entah karena kehangatan di pipi Ino atau memang tubuh kecilnya yang seolah dipeluk oleh tubuh tegap Niisan, Ino merasa jantungnya berdetak cepat.
Kali ini Ino membiarkan maniknya bersembunyi. Abaikan sesaat jantung Ino yang ingin melompat, lupakan tentang pakaian ala kadarnya di tengah musim gugur, tak perlu berpikir bagaimana hari esok jika Niisan tak ada. Biarkan saja ... biarkan saja Ino keras kepala menikmati kebersamaan hangat ini. Kebersamaan yang mungkin tak akan bisa nikmati di masa mendatang.
Tidak dalam waktu dekat.
Niisan... perasaan apa ini?
Itachi melepas kecupannya. Menatap Ino dengan mata kelam berbinar yang tak pernah Ino temui sebelumnya. "Ayo."
Ini bukanlah Niisan yang Ino tahu. Bukan Niisan yang berekspresi triplek, bukan Niisan yang gemar berkata ketus, tidak pula Niisan yang menatap tajam.
Niisan ini... Niisan yang selalu Ino harapkan. Niisan Ino yang hangat.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
Balas yang non login dahulu XD
Buat amay : Wkwk, begitulah deritanya memiliki wajah peot nan keriputan hani XD. Aduh, maap kalo sedih-sembari menyodorkan tisu-
Untuk JelLyFisH : Oke, ini udah dilanjut kok :*
Shiroe Ino : Aduh, makasih :* :* :*. Saya korban film soalnya, jadi yah beginilah jadinya T_T. Makasih ya komentarnya sayang :* :* :*
Kak el Cierto : Kak el cepetan kambek juga biar ItaIno makin rame T_T/kibarin bendera OTP/. Makasih banyak loh komentarnya kak el :* :* :*. Terkadang orang jenius memang mendekati wajah boros kok :3 /dianya sambil ngliatin poto suami yang syudah tiada T_T
Untuk yang lain, silahkan cek inbox masing-masing :* :* :*.
Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada siapa pun yang berkenan meninggalkan jejaknya di sini :* :* {()}. Juga meminta maaf kalau ada yang berharap cerita ini akan menjadi bagus.
Duh, cerita singkat ini akan tamat di chapter kurang dari lima XD. Karena sesuai dengan judulnya, maka yang akan dibahas ketika mereka masih berusia seukuran anak kecil. Makanya alurnya juga lambat T_T. Saya bukan ahlinya dalam hal alur pelis :')
Bigluv untuk yang favorit, follow, bahkan mau meninggalkan jejaknya :* :* :* /bungkuk dalam-sedalam-dalamnya.
