PLEASE LOVE ME
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata
Rated : T
Author : okta0809
Don't Like Don't Read
Kedua kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan bola mata onyx yang mempesona.
Uchiha Sasuke terbangun dari tidurnya saat semalaman terjaga, hari ini rasanya ia tidur dengan baik. Menyingkap selimut yang menghangatkan tubuhnya, lalu bangun terduduk di sofa yang ia gunakan. Mengusap wajahnya sejenak teringat sesuatu.
Hyuuga Hinata
Ia melihat sekitar sudut demi sudut. Tetapi tak melihat sosok berambut indigo panjang yang menemaninya tadi malam. Sasuke pun berdiri untuk mencari Hinata, melangkahkan kakinya menuju dapur, tentu saja itu tempat favorit calon istrinya tersebut.
Tak menemukan Hinata yang biasa memakai apronnya, iapun bergegas menuju meja makan. Sejenak ia terdiam menatap meja makan yang sudah terisi dengan menu sarapan pagi yang terlihat mengungah selera, tetapi yang lebih menarik perhatiannya adalah selembar kertas kecil yang menempel di meja. Sasuke berjalan pelan menghampiri meja makan, meraih secarik kertas mungil tersebut.
Selamat pagi Sasuke-kun
Maaf tidak membangunkanmu, Sasuke-kun sepertinya lelah jadi lebih baik Sasuke-kun istirahat lebih lama. Aku sudah membuat sarapan, dan kopinya sepertinya sudah dingin, panaskan saja jika Sasuke-kun ingin minum. Maaf aku pulang lebih dulu.
Hinata-
Mengalihkan pandangannya pada secangkir kopi hitam di samping piringnya, benar kopinya sudah tidak mengempulkan asap pertanda sudah dingin. Senyum tipis terpatri di bibir pemuda itu, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya memejamkan matanya, meremas kertas mungil dari Hinata.
Tadi malam
Suara isakan yang membangunkannya
"Tetapi hiks.. Sa-sasuke-kun mencintanya."
"Tidak bisakah.."
"Tidak bisakah, Sasuke-kun melupakannya dan..."
"Dan berbalik mencintaiku ?"
Suara lembut penuh kepedihan dan tangisan itu yang membangunkan Sasuke dari alam mimpinya. Dan juga benda kenyal nan lembut yang menyentuh kedua belah bibirnya, Sasuke merasakannya sangat merasakannya.
-flashback-
Tanpa Hinata sadari, kedua kelopak mata itu terbuka.
Hinata masih saja mengecup bibir Sasuke, masih saja terisak dan membuat pipi Sasuke sedikit basah akibat cairan bening dari mata indahnya.
Sasuke sudah terbangun saat suara isakan Hinata dimulai dan juga kata-kata Hinata tentang mencintai dan melupakan, Sasuke mendengarnya. Matanya terbelalak, mencerna ungkapan Hinata serta ciuman lembut penuh isakan di bibirnya.
Ia terdiam menyadari sesuatu.
Mencintai, ia mendengar Hinata memohon untuk melupakan Ino dan berbalik mencintainya.
Hatinya bingung, ada rasa bahagia dan rasa takut. Apa yang dulu ia khawatirkan terjadi. Hinata memiliki perasaan padanya. Tetapi anehnya ia tidak merasa terbebani seperti apa yang dulu ia khawatirkan. Sungguh ia merasa sanggup kali ini.
Melirik mata basah yang tertutup didepannya, Hinata tidak menyadari jika Sasuke melihatnya. Melirik pipi halus yang menempel pada hidung mancungnya. Memandang diam paras gadis yang menangis karenanya.
Saat bibir itu terpisah secara spontan Sasuke langsung menutup matanya, ada perasaan tak rela dalam dirinya saat Hinata melepaskan pangutannya. Hinata mengusap pipi Sasuke yang sedikit basah.
"Go-gomen ne, Gomen telah menyukai Sasu-sasuke-kun."
-flashback off-
Sasuke menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya sedikit kasar.
"Hinata"
Lalu bergegas menuju kamarnya, membersihkan diri memulai aktivitasnya.
.
.
.
"Onee-chan..Onee-chan."
Suara remaja membuyarkan lamunan Hinata yang sedari tadi berdiri di depan jendela kamar tidurnya.
"Ada apa Hanabi-chan ?" Tanyanya sedikit mengeraskan suaranya.
"Apa Nee-chan tidak kekampus ?"
"Sepertinya tidak, Nee-chan sedikit tidak enak badan." Mengahadap kembali pada jendela merengkuh tubuhnya.
"Apa Nee-chan baik-baik saja ?"
"Hm. Nee-chan baik-baik saja."
"Nee-chan yakin ? Apa aku boleh masuk ? kau bisa bercerita padaku, apa yang terjadi tadi malam ? apa yang Nee-chan dan Sasuke-nii lakukan semalam ?" Senyum devil terpatri wajah bungsu Hyuuga tersebut.
Hinata yang mendengar pertanyaan Hanabi bergegas menuju pintu kamar dan membuka pintu mendapati adiknya tersenyum licik.
"Tidak ada yang terjadi Hanabi-chan." Jawabnya sewot.
"Benarkah ? aku dengar Oba-san dan Oji-san sedang tidak disana. Berarti kalian hanya berdua kan ?" Senyumnya tambah licik.
"Masih ada maid Hanabi-chan." Meniru jawaban seseorang.
"Tetapi sama saja, ceritalah padaku Nee-chan, aku ingin mendengarnya. Apa Sasuke-nii orang yang romantis ? andai aku punya kekasih setampan Sasuke-nii." Hanabi berubah antusias menggoda kakaknya, pipi Hinata sontak merona.
"Tidak ada cerita apapun, sana pergi." Mendorong Hanabi menjauh dari kamarnya.
"Hai hai.. Tenang saja Neec-han aku akan menunggu. Kalau sudah siap Nee-chan kekamarku saja atau memanggilku. Jaa-nee." Lalu pergi sambil melambaikan tangannya.
Hinata duduk ditepi ranjang, hari ini ia benar-benar tidak ingin kekampus. Ia hanya ingin berbaring diranjangnya seharian.
"Apa yang kulakukan semalam." Meracau tak jelas, merutuki diri sedari tadi tentang kelakuannya semalam di ruang TV keluarga Uchiha, terlebih lagi oh Tuhan, Hinata tak habis pikir jika ia bernai-beraninya mengecup bibir Uchiha Sasuke.
"Apa Sasuke-kun menyadarinya. Kami-sama aku bodoh sekali." Mengusap bibirnya pelan, pandangannya tiba-tiba menjadi senduh memikirkan dirinya yang bodoh mengharapkan seseorang yang sama sekali tidak mencintainya.
.
.
.
Ditempat lain di Uchiha Corp, di ruangan sang pemimpin Uchiha Sasuke. Ia terlihat berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Konoha. Dasi yang sedikit longgar dan lengan kemeja yang digulung sampai lengan, kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku, sungguh postur yang sangat membanggakan. Mata tajamnya menatap keluar, memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Balas Dendam." Gumamnya rendah.
Melirik jam tangan mahalnya, tidak terasa waktu berlalu. Kini hari sudah sore, ia bergegas mengambil jas dan kunci mobilnya, melakukan kegiatan rutinitasnya sehar-hari menjemput Hyuuga Hinata.
.
Saat sampai di Universitas seperti biasa Sasuke menunggu Hinata didalam atau diluar mobilnya. Tetapi ia merasa ini sudah cukup lama ia menunggu, ia pun keluar dari mobilnya, merogoh sakunya mengeluarkan handphone berniat menghubungi seseorang, tetapi suara mengintruksi kegiatannya.
"Mencari calon istrimu ?" suara yang familiar menghentikan kegiatan Sasuke, Sasuke berbalik mencari asal suara tersebut.
"Sai." Memincingkan matanya menatap sepupunya yang cukup lama tidak ia temui. Sai yang baru saja keluar dari mobil sportnya tersenyum seperti biasa.
"Aku sudah mengantarnya. Tenang saja." Bohongnya masih saja tersenyum.
"Hn, kau gagal dalam berbohong." Ucapnya meremehkan kembali sibuk dengan handphonenya.
"Ah tentu saja. Apa kau mencarinya ? atau mencari.. yang lain ?" Mata Sasuke memincing tajam tidak mengerti maksud pertanyaan Sai, tentu saja ia mencari Hinata.
"Maksudku mencari seseorang yang lain, berambut blonde mungkin."
"Apa maksudmu Sai ?" menatap tajam mata yang sama dengan punyanya meminta jawaban.
"Kau pura-pura tidak tau ? cih, tentu saja seseorang yang bisa dipeluk hangat." Tersenyum licik memperagakan cara mempeluk tubuh seseorang. Otak cerdas Sasuke langsung mencerna maksud Sai.
"Itu bukan urusanmu." Datar dan dingin
"Kau selingkuh Uchiha Sasuke dan aku melihatnya. Bukan begitu ?"
"Kau tidak tahu apa-apa." Sasuke mulai kesal dengan Sai.
"Kau ingat kan kata-kataku, jika kau tidak bisa membuat Hinata-chan bahagia, aku tidak punya pilihan lain selain merebut Hinata secara paksa." Ia berbohong tentang itu, tentang merebut secara paksa, ia tentu sadar ia tidak bisa memaksa Hinata bersamanya, Hinata terlanjur mencintai sepupunya ini.
"Cih, teruslah bermimpi."
"Sayangnya aku serius." Mata Sasuke menajam menusuk ke arah mata onyx Sai.
"Berusahalah dan ketahui hasilnya." Sasuke menyeringai kesal.
'bahkan sebelum aku berusaha aku sudah tau hasilnya' ucap Sai dalam hati.
Sasuke mencoba menghubungi Hinata tetapi tak ada jawaban.
"Hinata-chan tidak datang hari ini." Untuk Sai orang yang baik dan tentu saja keren menurutnya.
"Tidak datang ?"
"Dia menghubungiku jika dia tidak enak badan, apa dia tidak memberitahumu ?" Tanya Sai, senyumnya berubah menjadi seringaian.
"Cih, diam kau." Dengan tampang kesal, Sasuke masuk kemobilya lalu pergi begitu saja.
Sai yang melihat sikap tiba-tiba Sasuke hanya cengo dan bingung.
"Apa tadi dia cemburu ?" menaikkan alisnya heran.
.
Sasuke melajukan mobilnya menuju kediaman Hyuuga, perkataan Sai benar membuatnya kesal, tepatnya kesal pada Hinata. Mengapa ia menghubungi Sai lalu tidak menghubunginya. Ia tidak tau jika Hinata sakit setelah pulang dari rumahnya.
Selang beberapa menit mengemudi Sasuke sampai di rumah keluarga Hyuuga, bertemu Hanabi yang asik dengan majalahnya.
"Sasuke-nii." Seru Hanabi langsung berlari menuju Sasuke.
"Hinata ada ?" Hanabi mengangguk, memandang kagum Sasuke. Padahal ini bukan kali pertamanya ia bertemu, tetapi rasanya Hanabi sangat kagum pada sosok calon kakak iparnya.
"Ia Sasuke-nii, Nee-chan ada dikamar. Sejak pagi dia tidak keluar, katanya tidak enak badan."
"Aku boleh kekamarnya ?"
"Tentu saja." tersenyum manis menunjukkan kamar Hinata.
Tanpa mengetuk pintu dengan tidak sabaran Sasuke langsung membuka pintu kamar Hinata. Terlihat Hinata yang bersandar di kepala ranjang dengan bantal menyangganya, dan juga sebuah buku bisnis yang ia baca.
"Hinata." Panggilnya setelah menutup pintu.
"Sasuke-kun." Hinata terkejut menyadari ada yang membuka pintu dan memanggil namanya.
"Kau sakit ?" Sasuke menuju tempat Hinata berbaring, berniat menggapai Hinata.
"Bagaimana Sasuke-kun bisa disini ?" Masih terkejut dengan Sasuke yang tiba-tiba dikamarnya.
"Apa kau sakit ?" Ulangnya sambil menyingkap poni rata Hinata dan menyentuh kening Hinata.
"A-aku tidak apa." Gagap selalu kembali jika Sasuke memperlakukannya tidak biasa.
"Hanabi bilang kau tidak enak badan." Duduk di tepi ranjang samping Hinata.
"Aku sudah baikan Sasuke-kun." Tersenyum berharap Sasuke percaya.
"Hn, kenapa tidak memberitahuku, aku datang menjemputmu."
"Aaa Sasuke-kun aku lupa, gomen." Menepuk jidatnya menyadari jika dia tadi hanya menghubungi Sai.
"Dan kau malah menghubungi Sai." Tatapan Sasuke berubah menusuk di mata levender Hinata.
"Tentu saja aku harus menghubungi Sai-kun dia satu fakultas denganku Sasuke-kun." Tidak sadar dengan nada bicara Sasuke, cemburu mungkin.
"Aku sudah bilang selalu hubungi aku jika terjadi apa-apa."
"Sasuke-kun tak usah khawatir, aku tidak apa-apa." Teringat akan alasan Sasuke yang mulai protektif padanya, karena ayahnya.
"Kau sudah makan ?" Tanyanya mengusap rambut panjang Hinata. Hinata mengangguk merona.
"Sasuke-kun ?" Sasuke mengangguk mengiyakan.
'apa kita baik-baik saja sekarang' ucap Hinata dalam hati sambil menatap wajah tampan itu.
"Ada apa ?" Tanya Sasuke saat sadar tatapan Hinata.
"Tidak apa, ingin kopi ?" tawarnya sambil tersenyum manis.
"Hn."
"Tunggu disini, aku akan buatkan." Turun dari ranjang dan berlalu menuju dapur.
.
Tidak terasa malam tiba, Sasuke pamit pulang. Hinata mengantarnya sampai di depan pintu mobil Sasuke. Ia merona terus menerus menyadari Sasuke yang sedari tadi saat keluar menggengam tangan mungilnya.
"Hati-hati Sasuke-kun." Melepas genggaman tangannya pada Hinata.
"Hn, istirahatlah." –cup-
Kecupan singkat tetapi sangat membekas.
Sasuke menciumnya.
Lagi
Dikeningnya. Ia merona hebat.
Mengacak rambut Hinata, lalu masuk kemobilnya dan pergi meninggalkan Hinata yang mematung tak menyadari Sasuke yang sudah pergi.
"Sasuke-kun." Menyentuh keningnya, ini kali pertama Sasuke mengecupnya dikening yang menurutnya sangat romantis.
"Apa kali ini aku boleh mengenggamnya ?"
Sibuk dengan pemikirannya sendiri, ia ragu tetapi juga menginginkannya. Ia sungguh takut jika terjatuh lagi, jika sekali saja ia terjatuh lagi, itu mungkin sudah pertanda jika ia harus berhenti.
"Khm.. khm.. Nee-chan suamimu sudah dari tadi pergi, kenapa masih berdiri disitu ?"
"Hanabi-chan." Pemikiran Hinata terhenti oleh suara Hanabi. Hinata merona mendengar kata 'suami'.
"Nee-chan kau merona, hahhaha Nee-chan lucu sekali."
"Hanabi-chan." Ujarnya kesal lalu masuk kedalam rumahnya.
.
.
.
Esok paginya Hinata memulai melakukan aktivitasnya kembali, pergi kekampus dan belajar seperti biasa. Saat sampai dikampus Hinata di cecoki berbagai pertanyaan yang menurutnya berlebihan dari Sakura dan Kiba. Hinata tentu tau jika mereka khawatir tetapi jika berlebihan sampai bertanya yang tidak-tidak tentu Hinata merasa risih, misalkan 'apa Sasuke-kun melakukannya dengan kasar Hinata-chan' apa-apaan pertanyaan itu.
"Apa sudah baikan ?" Suara dan buku tebal yang direbut mengalihkan penglihatannya mencari asal suara tersebut.
"Sai-kun, hm aku sudah baikan."
"Syukurlah, ingin menemaniku nanti ?" Tanya Sai sambil pura-pura membaca buku tebal Hinata.
"Kemana ?"
"Keliling dunia." Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tebal itu.
"Hm ?" Hinata tidak mengerti.
"Haah.. ayolah Hinata-chan, aku merasa jika Sasuke sudah merebutmu dariku se-pe-nuhnya. Kita tidak pernah lagi kemana-mana semenjak kau bersama Sasuke. Oh tolonglah, kalian belum menikah, tetapi kenapa dia tidak membiarkanmu jalan bersamaku." Jelasnya panjang lebar menatap Hinata sedikit senduh.
"Sai-kun mengertilah, Sasuke-kun hanya ingin menjagaku."
"Menjagamu dari siapa ? aku ? apa aku terlihat berbahaya ?" Tanyanya frustasi.
"Tentu saja tidak, Sai-kun sangat baik. Memangnya Sai-kun ingin aku temani kemana ?" Hinata menenangkan Sai.
"Jika kukatakan, apa kau ingin pergi ?"
"Akan kuusahakan."
"Aku tidak mengatakannya kalau begitu. Kau harus berkata ia Hinata-chan." Sedikit kesal.
"Eum baiklah." Mengangguk ragu.
"Bagus, kau sudah berjanji."
"Akan kuberitahu Sasuke-kun nanti." Tersenyum manis. "Lalu mau kemana ?"
"Kemana saja. yang penting hanya kita berdua." Tersenyum bangga.
"Baiklah." Sebenarnya Hinata ragu dengan ini, teringat Sasuke selalu tidak memberinya izin jika bersama Sai.
.
.
Di Uchiha Mansion sudah ada sang kepala keluarga dan istrinya, satu lagi dengan marga yang berbeda Hyuuga Hiashi dan juga Hyuuga Neji. Mereka berbincang diruang tamu keluarga Hyuuga dengan santai.
"Oh iya bagaimana dengan pernikahaannya ?" Suara perempuan mengintruksi pembicaraan para lelaki berambut panjang mengkilau tersebut.
"Sepertinya mereka sudah sangat dekat." Sambungnya.
"Iya, aku rasa juga begitu Oba-san, Sasuke dan Hinata sudah terlihat lebih dekat sekarang." Suara sulung Hyuuga juga ikut menimpali.
"Hn, jadi apa pernikahannya akan ditentukan ?" Tanya kepala keluarga Hyuuga.
"Tentu saja Hiashi-san, ini sudah berjalan 6 bulan sejak perjodohannya. Aku rasa lebih cepat lebih baik." Nyonya Uchiha semakin antusias.
"Baiklah, kita akan mempercepat. Aku akan membicarakannya dengan Sasuke terlebih dahulu."
"Hn, kami juga akan memberitahu Hinata kalau begitu."
"Wah aku sudah tidak sabar. Aku akan mengajak Hinata-chan untuk memilih gaun pengantin yang cantik." Mikoto kembali pada alam khayalnya.
.
.
-Taman Konoha-
Sai dan Hinata berjalan beriringan sambil menikmati ice cream mereka, sambil sesekali tersenyum dan tertawa bersama. Orang yang tidak tau tentu menganggap mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan ditaman disiang hari ini.
Sai dan Hinata kebetulan memiliki jam kosong siang ini, jadi ia bisa lebih dulu berjalan-jalan. Dan tujuan mereka adalah taman Konoha. Sudah lama Hinata tidak ke taman ini, ia teringat saat kecil jika ibunya mengajaknya dan Hanabi ke taman ini saat ayahnya dan Neji sibuk. Sungguh ia merindukannya.
"Kenapa tiba-tiba ingin kesini ?" Mereka mendudukkan diri di rerumputan hijau sambil menikmati ice creamnya.
"Ingin saja, taman ini tempat terakhir yang kukunjungi bersama Okaa-san." Jawabnya sambil tersenyum.
"Gomen."
"Hm tak apa." Menatap Sai lalu tersenyum manis menampilkan giginya.
"Cantik." Gumam Sai
"Hm ?" Tanya Hinata merasa Sai mengatakan sesuatu.
"Aku bilang kau cantik." Sai tersenyum lembut.
"Tentu saja." Hinata membanggakan diri lalu tertawa bersama.
Mereka berbaring di rumput merasakan angin lembut membelai mereka, terasa damai dan indah menatap langit. Hinata memejamkan matanya merasakan angin menerpanya, ia tidak ingat kapan terkahir kali ia bersantai seperti ini. Tanpa Hinata sadari, Sai terus memandangnya, memandangnya lembut wajah cantiknya.
'seperti apa jika seandainya kau menyukaiku ? apa ceritanya tidak akan serumit ini' Ucapnya dalam hati.
-drrrtt.. drrtt..-
Suara getaran yang disadari Sai adalah milik Hinata yang juga disadari Hinata. Hinatapun membuka matanya lalu terduduk mengambil handphone di tasnya. Sai yang melihat siapa yang memanggil langsung terduduk merebut handphone dari tangan Hinata.
"Hinata." Ucap pemanggil saat saat menyentuh answer.
"Ada apa ?" Suara pria yang jelas-jelas bukan Hinata membuat siku-siku di jidat Sasuke.
"Siapa kau ?" Tanyanya belum mengenali suara Sai.
"Jangan pura-pura tidak mengenalku. Ada apa ?" Hinata yang sedari tadi ingin mengambil handphone tetapi dihalangi oleh Sai.
"Sai Dimana Hinata ?" Sai melirik Hinata sejenak.
"Dia sedang bersamaku, kami sedang ditaman menikmati hidup. Kau menganggu saja." lalu segera mematikan panggilannya.
"Sai-kun." Mengambil handphonenya sedikit cemas.
"Kau cemas sekali, dia akan menjemputmu segera." Sai mendengus kesal, ia sudah memprediksinya.
.
Setelah Sasuke menelpon, Sai dan Hinata beranjak dari tempat nyaman mereka. Dengan enggan Sai mengikuti Hinata berjalan menuju gerbang taman, sambil menunggu Sasuke. Sai sungguh menyesal kenapa ia mengatakan jika ia sedang berada ditaman.
"Kau sungguh akan menunggunya ?" Sai menarik tangan Hinata saat sudah hampir sampai di gerbang.
"Iya." Angguknya mengiyakan tanpa melepas genggaman Sai.
"Apa kau tidak lihat aku cemburu ?" Sai seperti merajuk menggenggam tangan Hinata yang satu lagi.
"Sai-kun, kau seperti anak kecil saja." Hinata tau Sai serius, tetapi ia tidak ingin jika suasana menjadi canggung nantinya.
"Kau sudah berjanji padaku." Rajuknya makin menarik Hinata mendekat.
"Inikan sudah sore Sai-kun." Hinata was-was ia merasa ini terlalu dekat.
"Aku tidak mengatakan batas waktunya. Hari ini itu masih panjang, sampai jam 12 malam. Kau tentu tau." Berniat menggoda Hinata, memajukan wajahnya lebih dekat dengan Hinata.
"Sai-kun jangan seper-"
Sebuah tarikan memotong perkataan Hinata, membuatnya terlepas dari jerat Sai.
"Sasuke-kun." Terlihat Sasuke yang sudah menatap Sai dengan tatapan membunuh.
Sedangkan Sai yang ditatap tersebut hanya menaikkan satu alisnya lalu tersenyum licik.
"Kita pulang." Menarik Hinata menjauh menuju mobilnya.
"Tck dia benar-benar cemburu." Masih memandang kepergian kedua orang itu.
.
Suasana di mobil sedikit canggung dengan Sasuke yang terdiam menatap dingin jalanan. Hinata yang ikut diam setelah Sasuke manariknya menuju mobil.
Sasuke yang menyembunyikan kekesalannya di wajah datar nan dinginya sedikitpun tidak melirik Hinata. Ia sungguh kesal dengan Hyuuga ini, walalu ia tau jika pasti bukan inisiatif Hinata. Tapi sama saja Hinata menyetuji permintaan Sai.
"Aku tidak ingin melihatnya lagi." Ucap Sasuke dingin membuat aura hitam disekitarnya menguat, membuat Hinata sedikit bingung menjawab apa.
"A-apa ?" Tanyanya pura-pura tidak tau.
"Kau dan Sai, aku tidak menyukainya. Jangan pergi bersamanya Hinata."
"Tapi-
"Aku tidak suka penolakan. Jangan sampai dia menggenggammu lagi."
"Tapi Sai hanya bercanda sasuke-kun." Ucapnya tak setuju.
"Itu menurutmu."
"Sungguh Sasuke-kun, Sai-kun tidak bermaksud apa-apa." Hinata jadi bingung dengan sikap Sasuke.
"Yang jelasnya aku tidak suka jika kau bersamanya." Tegasnya hatinya panas jika Hinata dan Sai terlihat bersama.
"..." Hinata terdiam sibuk memikirkan sesuatu.
"Mengerti ?" Tegasnya lagi.
"Sasuke-kun cemburu ?" Ucapan itu frontal dari Hinata, sadar tidak sadar hanya itu yang ingin ia ucapkan.
"Diamlah." Sasuke mendengus mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Hinata. Dalam hatinya sungguh sangat mengiyakannya 'baka' ucapnya dalam hati.
Hinata tersenyum melihat Sasuke yang kesal, ia menyimpulkan jika Sasuke cemburu sungguh ia teramat senang. Tandanya Sasuke sudah ingin membuka hatinya bukan.
.
.
Sebuah pesan singkat muncul di layar hanphone milik Sasuke yang terletak di meja kerjanya. Saat Sasuke keluar dari kamar mandi menghampiri meja kerjanya, melirik handphonenya iapun membuka pesan tersebut tanpa nama pengirim hanya nomor tidak dikenal.
Datanglah di kafe dekat Universitas besok.
Aku ingin membicarakan sesuatu. Kali ini aku berharap kau datang.
Yamanaka Ino-
Kira-kira begitulah isi pesan tersebut, Sasuke menatap heran layar handphonenya. Tidak ada degupan, tidak ada getaran rindu yang ia rasakan, biasa saja, tak ada apa-apa. Apakah ini tandanya ia sudah tidak ada perasaan apa-apa dengan mantannya itu, malah dia akan merasa nyaman jika dekat dengan gadis bersurai indigo tersebut.
.
.
.
Esok paginya Sasuke benar-benar pergi memenuhi permintaan Ino, bukan karena apa dia juga ingin meminta penjelasan atas niat Ino membalas dendam padanya.
Sekarang ia disini duduk didalam kafe dengan gadis berambut blonde di depannya. Tidak seperti biasa dengan wajah angkuh dan meremehkan yang ia berikan pada Sasuke, sekarang Ino lebih terlihat biasa saja, malah raut wajah terlihat ingin memohon, tak mengancam sedikitpun.
Wajah Sasuke lebih dingin dari biasanya. Menyesap kopinya dengan santai.
"Hn ada apa ?" Mulainya sambil menatap mata Ino.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu."
"Hn."
"Kau ingat kata-kata Sasori-kun tentang aku yang balas dendam ?" Tanyanya tanpa rasa takut.
Sasuke menajamkan pendengarannya, ini yang ia ingin tanyakan. Meminta penjelasan atas kesalahan yang ia rasa tidak pernah ia lakukan.
"Kau ingat Yakumo ?" Tanya Ino serius.
"Tidak." Sasuke merasa pernah mendengarnya. Ino tersenyum miris akan sahabatnya.
"Siswi yang bunuh diri karena bully. Yakumo-chan adalah sahabatku, tidak banyak yang tau memang, tetapi kami bersahabat sejak kecil. Aku sangat menyayanginya seperti saudaraku sendiri."
Jelas Ino masih menatap Sasuke, sedangkan Sasuke yang sedikit tidak mengerti hanya mendengar Ino menyelesaikannya.
"Kau ingat siswi yang berambut coklat dengan kepangan dua ? kau ingat saat dia menyatakan cintanya padamu ? kau ingat saat kau menolak dengan cara memakinya ? apa kau tidak melihat usaha yang dia lakukan ?" Mata Ino mulai berkaca-kaca mengingat sahabatnya saat itu.
Seketika ingatan Sasuke terbuka, ingatannya saat jaman Senior High School. Saat di berjalan dan dihalangi oleh gadis manis dengan kepangan di dua sisi rambutnya. Menyerahkan kotak coklat padanya dengan ekspresi malu dan takut 'aku menyukaimu Uchiha-san' kata itu yang pertama terlintas di pikirannya.
"Kau sudah ingat ? setelah kau menolak dan memakinya di depan orang banyak. Siswa lain mulai membullynya. Mengatakannya jalang, tidak tahu malu, mengotori lokernya, membuang tasnya di tong sampah, mencoret bangkunya, menguncinya di toilet, semuanya sampai dia tidak tahan dan dan... dan bunuh diri."
Air mata sudah mengalir deras di matanya, ia tidak sanggup mengenang kembali kenangan buruk sahabatnya. Ia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata. Memperlihatkan sisi lemahnya pada Sasuke.
Sasuke terdiam melihat Ino menangis, ada rasa bersalah dalam dirinya. Bukan pada Ino, tetapi sahabat Ino yang bernama Yakumo. Sasuke benar tidak tau akibat penolakan dan makiannya waktu itu. Ia hanya menganggapnya biasa karena sudah biasa jika anak perempuan menyatakan cinta padanya, tetapi tidak ada yang sampai dibully ataupun bunuh diri.
"Maka dari itu... aku mendekatimu. Membuatmu mencintaiku, membuatmu tidak ingin melepasku. Sama seperti Yakumo-chan mencintaimu. Aku ingin kau merasaan apa yang Yakumo-chan rasakan Uchiha."
Wajah Sasuke bertambah dingin, kepalanya sedikit lega mengetahui jawaban dari pertanyaannya. Ia tidak berniat membalas perbuatan Ino, karena ia tidak punya waktu untuk perbuatan busuk seperti itu.
"Kau sudah berhasil." Ucapnya singkat. Lalu berniat beranjak sebelum tangan kecil milik Ino mengenggamnya.
"Maka dari itu aku mohon." Ino mengenggam tangan kanan Sasuke yang kembali duduk dengan kedua tangannya.
"Aku mohon lepaskan aku. Lepaskan Sasori-kun Sasuke."
Makin menguatkan genggamannya.
"Aku mohon lepaskan kami, aku mohon Sasuke. Tolong jangan ganggu aku dan Sasori-kun. Aku mohon."
Masih terisak memohon pada Sasuke. Seumur-umur Sasuke bersama Ino, baru kali ini ia melihat Ino memohon dan menangis seperti ini.
.
Dipintu kafe ada dua bola mata levender menatap dalam kedua orang yang duduk. Tangannya menggengam erat kenop pintu kafe seakan ingin meremuknya. Tidak ada air mata memang, matanya berubah sayu saat tangan kekar pria itu membalas genggaman gadis didepannya. Kali ini ia menyesal membuat janji dengan Sakura di kafe ini, walau memang biasanya disini, tetapi kali ini ia sungguh membenci kafe ini. Ia sudah tidak tahan, ia berlari sekencang-kencangnya. Tetes demi tetes mulai turun membasahi pijakannya.
.
Sasuke membalas genggaman Ino, meremasnya sebentar lalu melepaskannya. Memandang wajah cantik Ino yang sudah basah karena air mata.
"Aku bahkan tidak punya waktu untuk kalian berdua. Aku tidak suka membuang waktu untuk hal yang kotor seperti yang kau lakukan."
Dingin sangat dingin dan datar, lalu pergi dari kafe menyisakan Ino yang menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya tidak menghiraukan pandangan orang-orang yang ada dalam kafe, ia tetap menangis.
.
.
.
Hinata duduk di sebuah bangku belakang fakultasnya yang sekarang sangat sepi. Membuat tangannya saling mengenggam erat sangat erat. Mengigit bibir bawahnya sampai-sampai hampir melukainya.
Tubuhnya bergetar
Menahan tangisannya
Ia tidak boleh menangis, ini salahnya. Salahnya terlalu banyak berharap.
Salahnya yang membiarkan dirinya jatuh dilubang yang sama.
Pada akhirnya inilah yang dia dapat.
Semua perhatian Sasuke, rasa cemburu yang dia kira ada dalam diri Sasuke, ciuman yang Sasuke beri padanya. Semuanya hanya bullshit, semuanya hanya karena formalitas, semuanya hanya sandiwara.
Tangisnya tumpah lebih banyak dari yang dulu, tidak ada Sai yang memeluknya. Dia harus mengatasinya sendiri, tangisnya tidak bisa berhenti, dia terlalu cengeng. Tenggorokannya sudah tercekat karena tangis. Ia menangis sejadi-jadinya.
Sasuke memamg bukan untuknya.
Dia terlalu memaksa kehendaknya.
Dia terlalu melawan takdir yang diberi Tuhan padanya.
Kali ini..
Untuk kali ini..
"Aku menyerah."
TBC
Ohayou...
Ini updatenya telat banget sumpah, maafkan autor yang sangat lambat ini.
Aku mau kasih sedikit bocoran untuk para reader, hm.. sepertinya beberapa chap lagi fic ini akan end T_T. Dikarenakan Author udah mulai sibuk ngurusin ini itu, jadi mungkin waktuku berkurang untuk didepan laptop ngetik imajinasi-imajinasi liar ku. Aku mikirnya dari pada aku updatenya lama banget sampai fic ini lumutan, atau bahkan kalau udah sibuk banget fic ini bakal ada peluang discontinue lagi. Oh tidak aku tidak ingin, jadi mumpung masih ada sedikit waktu buat selesaikan, aku selesain.
Mohon maaf nanti kalau chap selanjutnya ataupun endingnya tidak memuaskan ataupun tidak sesuai dengan keinginannya. Karena jujur imajinasiku akhir2 ini terganggung karena urusan ini itu. Jadi Gomen ne.
Oh iya untuk fic ini sad ending ?
