Waktunya balas review! XD

Shinichi Rukia: tadinya sih, Rey mikir cuma dikasih kue, tapi berhubung kamu nanya, kayanya bakal ada yg lebih :3 baca aja di chapter ini! XD

Chisami Fuka: ahaha, Rey kepikirannya gitu x) oke! Selamat baca yg chapter ini! ^^

airin yukibara: oke! Baca ya chapter ini ^^

Namikaze Kyoko: ahaha, kamu tau aja XD

BerlianaDeceiver0607: ini update kan? ^^

Mai S Alice: makasih pujiannya ^^ siappp, ini chapter barunya :3

Alfianonymous22: oke, semoga enjoy! ^^

IPF: hehehe :D

IKF: makasih ^^

airi shirayuki: ini update ^^ hehehe


Disclaimer:

Vocaloid yang bukan punya saya

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya, selalu

Note:

OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, de el el

Enjoy!


Shiro-nyan

A LenxRin story

by reynyah

Chapter II — Shiro dan Rin


Normal POV


Rin masih menikmati manisnya es jeruk di rumah keluarga Kagamine ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Padahal, dia pulang sekolah pukul dua siang!

"Oke," ucap Rin sambil menaruh gelasnya di atas meja. "Ternyata gue udah kelamaan di sini. Lo kan, udah ngasih makan dan minum, sekarang gue pulang, ya?"

Len terdiam sejenak. "Lo… lo suka kucing?"

Rin menatap Len heran. "Emang kenapa?"

"Jawab aja."

Rin berpikir sejenak. "Mm… gue suka hewan, apalagi yang imut-imut kayak kucing sama kelinci. Sayang, gue gak boleh melihara di rumah."

"Kenapa?"

"Dulu sih, ortu gue bilang kalo gue gak bakal bisa ngurusnya," jawab Rin. "Mereka bilang, gue cuma suka mainnya doang, gak suka ngurus. Ujung-ujungnya pasti ortu gue yang ngurus."

"Sebenernya, gue ada hadiah buat lo..."

Rin menatap Len heran (lagi). "Apa?"

Len menyerahkan kucingnya yang sejak tadi ia dekap. "Shiro-chan... buat lo."

Mata Rin membelalak kaget. "WHAT?! Lo pasti bercanda!"

"Eh, gue serius..."

Rin menggeleng. "Ini kucing mahal, Len. Lo pikir gue mau main ambil cuma gara-gara gue suka itu kucing? Jangan harap."

"Tapi... Shiro-chan suka sama elo."

Rin menggeleng lagi. "Len, kucing lo ini berharga. Dia punya elo, dia sayang elo, dia gak butuh gue."

"Rin, tolong ambil ini kucing."

"Len—"

"Demi gue," potong Len. "Shiro-chan lebih aman kalo sama elo."

"Tapi kenapa?"

"Anggap aja itu balas budi gue buat elo."

"Hah?"

"Ambil aja!" paksa Len sambil menarik tangan Len dan membiarkan Shiro meraihnya. Rin terpaksa harus menahan Shiro agar kucing putih itu tidak terjatuh.

Rin mendengus sebal. "Lo maksa banget, sih!"

"Shiro-chan lebih aman kalo sama elo," ujar Len cuek. "Lagian, lo suka binatang. Gue gak ragu lagi buat ngasihin Shiro ke elo. Sebenernya udah dari dulu gue nyari pemilik barunya Shiro-chan. Gue baru nemu sekarang, hmm... gak apa-apa lah, yang penting dia aman."

"Aman apa sih, maksud lo?"

Len tersenyum kecil. "Lo gak perlu tau sekarang. Mending lo bawa Shiro-chan pulang, deh."

Rin menatap Len sebal. "Lo bukannya balas budi malah nyusahin gue."

Len memamerkan cengiran kecil di wajahnya. "Maaf deh, besok-besok gue janji bakal bikin lo seneng."

Rin mengangkat kedua bahunya. "Terserah deh, sekarang gue pulang, ya?"

Len mengangguk. "Sayounara mata getsu youbi!"

Rin terkikik kecil. "Sayounara ne."


SKIP TIME. HARI SENIN MINGGU BERIKUTNYA~~~


Rin berjalan santai menuju sekolahnya. Pagi ini, kakaknya, Kagami Rinto, membangunkannya terlalu pagi. Akibatnya, dia berangkat sekolah terlalu pagi. Karena benci merasa sendiri di sekolah, Rin memutuskan untuk berjalan pelan-pelan dari rumah. Jadi, ia akan tiba di sekolah ketika suasana sudah agak ramai.

"Loh? Rin?"

Rin berhenti lalu menoleh ke belakang. Rupanya si bocah berambut kuning madu, Kagamine Len, yang memanggilnya. Rin tersenyum kecil lalu menghampiri Len. "Ohayou, Len."

Len mengangguk. "Ohayou mo, Rin. Lo baru berangkat?"

"Gitu, deh," jawab Rin asal sambil mengangkat kedua bahunya. "Lo sendiri? Gak dianter sopir?"

Len menggeleng. "Gue selalu gitu. Gue gak pernah dianter sopir," jawab Len. "Gimana kabar Shiro-chan?"

Rin menatap Len bingung. "Lo bener-bener gak mau melihara dia lagi?"

Len mulai berjalan, kemudian Rin mengikutinya. "Nggak, ah."

"Kenapa?"

Len mengangkat bahunya. "Tau, deh."

Rin mendecak. "Lo beruntung gak gue tinju."

Len terkikik. "Tinju aja kalo berani, Rin. Gue juga bisa bela diri, kok."

"Gue takut digebukin bodyguard lo."

Len tertawa ngakak. "Lo lebay banget, sih."

"Bocah tajir kayak lo kan, pasti punya pengawal pribadi."

Len tertawa ngakak (lagi). "Gue gak tau harus ketawa atau gimana, tapi apa yang lo bilang bener-bener bikin gue geli."

"Emang kenapa?"

"Gue gak punya pengawal dan sopir pribadi," jelas Len. "Gue dibiarin bebas sama ortu gue, biar gue bisa nikmatin masa remaja gue dulu."

"Wah..." Rin tertegun. "Jarang-jarang loh, ada ortu yang mikir kayak gitu. Di mana-mana hampir semua mikir jangan sia-siain masa remaja demi masa depan."

"Yang itu juga bener," ujar Len. "Tapi remaja harus dibebasin biar tau sendiri, walau gak terlalu bebas juga, sih. Maksudnya, remaja itu harus explore dunianya sendiri, bukan dipandu atau dipaksa orang lain."

Rin manggut-manggut. "Gue gak nyangka lo punya pemikiran kayak gitu."

"Yah, jangan liat orang dari luarnya doang, dong."

Rin tersenyum. "Lo emang penuh kejutan."

"Gue tau."

Rin mendengus sebal. "Apa kata lo, deh."

Len terkikik geli. "Lo gampang banget marah, sih."

"Bukan marah."

"Terus apa?"

Rin mengangkat bahunya. "Gue emang gini, kok."

"Oh, kita udah nyampe," ujar Len sambil menunjuk gerbang sekolah mereka, SMA Voca. "Lo kelas berapa, Rin?"

"XI-3," jawab Rin. "Lo di XI-4, kan?"

Len menarik napas panjang. "Sekali lagi lo tau sesuatu tentang gue."

"Temen gue yang kasih tau."

"Wah? Ternyata lo udah nyari-nyari info soal gue."

Rin menatap Len sebal. "Pede banget, sih," ujarnya. "Temen gue yang maksa gue buat dengerin berita Triple Voca waktu itu."

"Triple Voca? Apaan, tuh?"

"Majalah SMA ini."

"Wah? Gue masuk Triple Voca?" tanya Len sambil terkekeh. "Gak nyangka kalo gue seterkenal itu."

"Kata temen gue, lo dicalonin jadi ketua Triple Voca, gantiin Meiko-senpai."

"Rin... kayaknya gue baru masuk, deh."

"Tau deh, temen gue emang sok tau," ujar Rin cuek. "Mungkin dia emang udah ngarep Meiko-senpai pensiun."

Len tertawa ngakak. "Pensiun?"

Rin mengangguk. "Maksud gue, nyerahin jabatannya."

Len manggut-manggut. "Emangnya kenapa?"

Rin mengangkat kedua bahunya. "Mungkin temen gue itu sirik sama Meiko-senpai gara-gara kecengannya direbut Meiko-senpai."

"Direbut atau—"

"Oh, bukan direbut," tukas Rin buru-buru. "Kecengannya emang gak kenal temen gue."

Len manggut-manggut. "Ngomong-ngomong, ini kelas lo," kata Len sambil menunjuk pintu kelas XI-3. "Kalo gitu, sampai ketemu nanti, Rin."

Rin tersenyum. "Sampai ketemu."


SKIP TIME. WAKTUNYA MAKAN SIANG~~~


Rin membereskan buku-buku pelajarannya yang menumpuk di atas meja. Setelah selesai, dia segera menarik Neru, teman sebangkunya, untuk pergi bersamanya ke kantin, seperti biasa. Ketika mereka sudah mendapatkan tempat duduk yang nyaman di kantin, Miku akan menyusul mereka. Seperti itulah mereka, selalu bertiga. Mereka sangat akrab karena mereka sudah berteman sejak SMP.

"Rin, lo udah beres?" tanya Neru sambil meraih dompet dan handphone-nya. "Gue tunggu di depan kelas, ya!"

Rin mengangguk lalu membiarkan Neru melenggang pergi. Rin membuka tasnya lalu buru-buru mengambil dompet kuningnya. Setelah itu, ia bergegas menyusul Neru ke depan kelas. Rin tidak suka menunggu, jadi dia tidak akan membiarkan dirinya ditunggu orang lain.

Tapi, bukan Neru yang ia temui di depan kelas.

Melainkan Len...

"Hei, Rin," sapanya. "Lo mau ke kantin?"

Rin mengangguk pelan. "Tapi... gue udah janji sama Neru dan Miku..."

"Oh, nanti gue izin deh, sama mereka," ujarnya santai. "Tapi, lo mau, kan?"

"Mm... boleh, deh."

"Sip!" ujar Len sambil mengacungkan jempolnya. "Gue bakal traktir lo! Janji!"

"Gak perlu, Len..."

Tapi Len tidak mendengar ucapan Rin. Yang ada, dia justru berlari ke kantin lebih dulu. Meninggalkan Rin terbengong-bengong di depan kelasnya. Meninggalkan Rin yang masih bingung kenapa ada manusia seajaib dan sebaik itu padanya.

Rin terdiam. Kenapa dia jadi memikirkan Len terus? Apa kebaikan Len padanya begitu berkesan sampai-sampai dia tidak bisa berhenti memikirkan Len? Lalu... kenapa dia tetap memikirkan Len walau dia tahu kalau Len terkadang bisa jadi sangat menyebalkan?

Rin mendesah pelan. Masa sih, dia...

menyukai Len?


Bersambung...


Minna! Maaf baru bisa apdet berhubung Rey sibuk akhir-akhir ini u.u tapi akhirnya sempet apdet juga xD yah, jadi di sini Len udah "pedekate" ke Rin dan sebagainya. Terus... perasaan Rin yang asli gimana, ya? Hehehe, silakan simak di chapter berikutnya! ^o^)9