Waktunya balas review! XD
Chisami Fuka: oke oke ini update kan? ^^
Alfianonymous22: mm... shiro itu kan artinya putih ya, berhubung warna kucingnya putih gitu ya, masa namanya kuro? hehehe (-,) okee, ini update kan ^^
Shinichi Rukia: kalo soal shiro-chan yg dikasih itu, selain buat balas budi, ada alesan lain. Tapi... itu nanti, hehehe :D ini update yaa ^^
Namikaze Kyoko: itu... masih rahasia ;)
Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Note:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, de el el
Enjoy!
Shiro-nyan
A LenxRin story
by reynyah
Chapter III — Shiro dan Kantin Sekolah
Rin POV
Masa sih, gue... suka Len? pikir Rin heran. Semacam mustahil... tapi...
Aku menghela napas lalu mulai berjalan menuju kantin SMA Voca. Di sana, aku melihat Neru dan Miku sedang duduk berdua di meja yang biasa kami tempati. Aku tersenyum kecil lalu menghampiri mereka. Miku sedang sibuk makan negi sedangkan Neru asyik sendiri dengan handphone-nya. Itu kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan di tiap detik kosong yang mereka miliki dalam hidup. Anehnya, mereka tidak pernah bosan melakukan kegiatan macam itu dalam hidup. Aku saja mulai bosan makan delapan jeruk dalam sehari. Akhirnya, aku mulai menguranginya menjadi lima jeruk dalam sehari.
"Hai!" sapaku. "Neru, lo jahat banget sih, ninggalin gue cengo di depan kelas."
Neru menatapku heran. "Bukannya tadi lo sama Len? Yaa, mending gue tinggal."
Aku mengerutkan dahi heran. "Hah?"
"Rin, lo jahat amat, sih," kata Miku. "Len kan, jatah gue."
"Yee, lo kan, sama Kaito-senpai," balasku sebal. "Kenapa jadi sama Len?"
"Habis dia ganteng, sih," jawab Miku sambil terkekeh pelan. "Tajir pula, kayaknya lumayan. Lagian, dia gak jelek-jelek amat, kok."
Aku tertawa kecil. "Yang jahat justru elo, Mik. Ngambilin duit orang mulu."
Miku memasang cengiran khasnya. "Biar, ah."
"Rin, mending lo samperin itu bocah," ujar Neru. "Kasian, dia nunggu dari tadi."
"Emang bocahnya dimana?"
"Tuh," jawab Neru sambil menunjuk kios minuman. "Mending lo samperin."
"Hah? Samperin?" tanyaku sambil mengerutkan dahi. "Buat apa? Males amat. Mending gue sama elo berdua."
"Lo dapet kesempatan kok, dibuang gitu aja, sih?" tanya Miku kesal. "Kalo lo gak mau sama dia, lo kasih buat gue, ya? Plis... kali aja gue dilirik sama dia, berhubung sama-sama kelas sebelas."
Aku mendesah. "Ya udah, lo ambil aja dia."
Miku tersenyum senang. "Lo emang sobat paling baik sedunia, Rin."
Aku memasang senyum kecil lalu duduk. Beberapa saat kemudian, aku tertegun. Aku memang berkata kalau Miku boleh mengambil Len kapan saja. Lagi pula, Len juga pasti menyukai Miku, kok. Miku kan, cewek tercantik di kelas sebelas, pasti tidak ada yang tidak mau meliriknya, kecuali senior-senior yang lebih "melirik" Meiko-senpai atau Luka-senpai. Tapi...
Kenapa aku merasa sesak?
Kenapa aku merasa sebal pada Miku?
Kenapa rasanya... aku tidak mau melepaskan Len untuk Miku, ya?
Aku mendecak pelan. Miku dan Len kan, berhak memilih. Buat apa aku pusing soal mereka? Biarkan saja mereka bebas memilih, toh, tidak ada sangkut pautnya denganku. Aku juga kan, punya kebebasan dalam memilih.
Apaan sih, ginian aja gue pikirin, pikirku sebal. Peduli amat.
Len POV
Setelah memesan minuman dan makanan untukku, aku duduk di depan kios es jeruk. Menunggu.
Menunggu gadis berambut kuning madu.
Menunggu gadis berpita putih besar.
Menunggu gadis penyayang binatang.
Menunggu gadis pemilik Shiro-chan yang baru.
Menunggu gadis dengan nama Kagami Rin.
Tadi, aku sudah mengajaknya makan bersamaku, tapi entah kenapa dia justru duduk bersama kedua temannya. Yang satu berambut kuning panjang dengan model kuncir samping, sedangkan yang satunya lagi berambut hijau toska panjang dikuncir dua. Kalau tidak salah, gadis rambut hijau itu namanya Miku. Gosipnya, dia cewek paling cantik di kelas sebelas. Menurutku sih, itu salah. Lalu... gadis rambut kuning itu namanya Neru, teman sebangku Rin. Sepertinya, kedua orang itu adalah sahabat baik Rin. Soalnya, mereka tampak dekat sekali.
Hmm... apa aku akan mengganggu jika mengajak Rin makan bersamaku?
Tidak ada salahnya dicoba.
Aku berdiri lalu menghampiri meja yang diisi ketiga orang itu. Aku tersenyum pada ketiganya, lalu menghampiri Rin yang duduk di samping Neru. "Rin... jadi makan sama gue?"
Rin terdiam sejenak. "Lo serius, ya?"
Aku mengangguk pelan.
"O-oke, di mana?"
Aku menunjuk satu meja kosong. "Gue udah beli makanan sama minumannya, kok."
Rin tertegun. "Oke."
Rin beranjak bangun lalu berkata padaku, "Kalo gitu, lo jalan duluan."
Aku mengangguk lalu menarik tangannya. Rin tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengikutiku berjalan. Lagi pula, suasana kantin sedang ramai dan anak baru sepertiku tidak begitu menarik perhatian. Hoho, tidak akan ada yang tahu soal ini.
Lagi pula, hanya sekali, kok.
Sekali untuk hari ini maksudnya, hehehe.
Tiba-tiba, Rin menyentakkan tangannya. Aku membalikkan badanku lalu bertanya, "Kenapa?"
"Lo lupa kalo lo murid baru?" tanya Rin pelan. "Sekarang semua orang merhatiin kita."
Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Memang benar, kini semua mata tertuju pada kami berdua. Aku menghela napas pelan. Inilah risiko jadi figur publik, selalu dilirik di mana pun kau berada. Saranku, tidak perlu jadi figur publik, deh. Tidak enak.
Aku memutuskan untuk memasang cengiran kecil. "Biarin aja, supaya cewek-cewek gak berani deketin gue lantaran tau gue udah punya cewek."
Rin menatapku heran. "What? Punya cewek? Maksud lo..." Rin terdiam sejenak. "Gue?"
Aku terkekeh. "Iya."
Mata Rin membelalak. "Len... lo sadar gak sama apa yang baru aja lo bilang?"
Aku mengerutkan dahi. "Ada yang salah sama apa yang gue bilang?"
Rin tertawa getir. "Lo bercanda, ah."
"Emang bercanda, kok," balasku santai. "Lo bukan cewek gue, kan?"
Rin terdiam sejenak. "Emang bukan," balasnya riang. "Ya udah, jadi... gue harus jadi cewek "boongan" lo, nih?"
Aku mengangguk. "Gue cuma gak mau ada cewek-cewek gak jelas deketin gue."
Rin tertawa kecil lalu menarik tanganku. "Kalo gitu, cuek aja."
Aku membiarkan tangan Rin menggenggam pergelangan tanganku dengan santai. Aku juga membiarkan tatapan-tatapan horor, aneh, iri, senang, dan sebagainya dari ratusan murid SMA Voca yang kini ada di kantin. Biarkan. Yang penting, saat ini aku bersama Kagami Rin.
Tunggu, apa aku baru saja bilang Rin itu penting?
HAH! Sejak kapan aku berpikir seperti itu?
Lupain aja, Len...
Rin POV
Fyuh... untung si Len cuma bercanda, pikirku. Kalo nggak, mau ditaro mana muka gue? Jadian sama si pewaris tunggal Kagamine ini? Miku bisa mati berdiri!
Harus kuakui, jantungku berdegup sangat kencang ketika Len bilang "udah punya cewek" tadi. Aku langsung paham bahwa maksudnya adalah aku. Siapa lagi cewek yang ada di dekatnya saat itu? Cuma aku. Akulah korbannya.
Jadian sama Len? Yang bener aja...
Aku gak pernah berharap itu terjadi, kok. Cukup jadi Kagami Rin yang biasa, gak perlu yang aneh-aneh. Gak perlu ada kisah cinta tak berarti dalam hidup seorang Kagami Rin. Aku sudah senang dengan hidup santai seperti ini. Tak ada masalah yang perlu kukhawatirkan. Aku hanya perlu menjalaninya seperti biasa, santai dan tanpa beban. Tidak perlu ditambah dengan hal-hal baru. Kurasa, itu tidak begitu bagus untukku.
"Rin, mejanya di sini," kata Len sambil menahanku. "Tuh, makanannya aja udah dateng."
Aku menatap meja itu bingung. "Oh, di sini, ya?" Aku terkekeh pelan. "Oke."
"Kamu suka makanannya, kan?" tanya Len padaku.
Aku menatapnya heran. "Apa? "Kamu"?"
Len mengangguk. "Kita pura-pura pacaran, bukan?"
"Oh, iya-iya." Aku manggut-manggut. "I-iya, aku suka kok, makanannya..."
"Duduk," ujar Len sambil tersenyum. Ya ampuuuun... bisa-bisa aku meleleh hanya gara-gara senyumnya. MANIS BANGEEEET. KAITO-SENPAI AJA KALAH!
"Iya, Len," balasku juga dengan senyum. "Kamu juga, dong."
Len terkikik. "Ternyata lo bisa sandiwara juga," bisiknya pelan. "Selamat, lo bener-bener bikin gue berpikir kalo kita emang jadian."
"Inget, ini cuma sandiwara."
"Ya, ya," balas Len santai. "Nih, minummu. Es jeruk, kayak yang kamu suka, kan?"
Aku memasang tampang mpos-gue-ketauan pada Len. "Tau aja, sih."
"Kalo pacar sih, tau segalanya, dong."
Gawat, gawat... pikirku panik. Wajahku mulai memanas. Ah, tampaknya wajahku memerah. Cepat-cepat kulahap makanan yang disediakan Len untukku. Kegiatan itu adalah kegiatan terbaik untuk menghindari tatapan Len pada pipiku. Yah, setidaknya dia tidak sadar kalau wajahku berubah menjadi udang rebus.
"Kayaknya kamu laper banget, ya," komentar Len sambil tertawa kecil. "Bagus deh, jadi makanan yang kubeli buatmu gak sia-sia."
Aku hanya membalas ucapan itu dengan senyuman. Tidak sopan kan, kalau kita makan sambil berbicara? Kakakku yang satu itu, Kagami Rinto, selalu mewanti-wantiku supaya tidak berbicara ketika makan. Supaya tidak "digetok" dengan kepalan Rinto yang besarnya melebihi palu sungguhan itu, aku terpaksa menurut. Eh, akhirnya malah jadi kebiasaan.
Tiba-tiba kurasakan bulu-bulu halus lewat di bawahku...
Aku mengerutkan dahi. Melihat ekspresiku, Len bertanya, "Kenapa, Rin?"
"Kayaknya ada yang lewat di bawah," ucapku ragu. "Aku mau liat."
"Aku juga!"
Kami berdua mengintip ke kolong meja kantin. Ehem, yang kami lihat ternyata...
Bersambung...
Gimana, minna-san? Lanjutannya bakal Rey apdet secepatnya, deh! Sekarang, sampai saat ini maksudnya, Rin udah suka sama Len tapi masih gak mau ngaku. Biasalah, gengsi yang dipertahankan xD /eh.
Oke, sampai ketemu di chapter selanjutnya!
