Waktunya balas review! XD
Shinichi Rukia: kok... kamu bisa tau, sih? XD okee, ini update, kan? :D
Chisami Fuka: mm... kan, di sini Rey bikin Miku itu cewek tercantik sekelas sebelas, jadi yaa, sikap cewek populer kan, rada-rada gitu. Mana dia cantik kan, pasti nyari-nyari yg ganteng, jadi sukanya gak serius. Asal pilih cowok lah, jadi bisa dibilang playgirl *dibakar Miku*
Alfianonymous22: okee, ini update, yaaa ^^
KagamineRin: hahaha iya XD ketebak banget, ya? ;w;
LinLinOrange: so pasti, dong~
Aprian. : si Shiro emang rada-rada ajaib, makanya bisa nyelinap ke mana-mana. Maklum, namanya juga keturunan ninja /plak
Kirina Fujisaki: iyaaa, hahaha ^^
Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Note:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, de el el
Pertama-tama, Rey mau minta maaf gara-gara apdet yang kelamaan ini u_u maklum lah, Rey baru selesai ujian, jadi punya banyak waktu senggang. Waktu itu... Rey kehabisan ide. Jadi ceritanya terpaksa pending dulu, deh.
Enjoy!
Shiro-nyan
A LenxRin story
by reynyah
Chapter IV —Di Pintu Kelas
Rin POV
Ehem, yang kami lihat ternyata Shiro-chan.
Tunggu.
.
.
.
SHIRO-CHAN?!
"Kenapa kamu di sini?" tanyaku heran sambil mengangkat tubuh kucing putih itu ke atas meja. "Aku kan, udah ngunci pintu kamar..."
"Shiro-chan?" Len mengerutkan dahinya. "Ah, dia emang gitu, Rin-chan. Walau kamu kunci pintu, dia tetap bisa cari jalan keluar."
Aku menatapnya heran. "Sejak kapan gue dipanggil 'Rin-chan'?"
"Lo kan, pacar boongan gue," balas Len pelan. "Gimana, sih? Baru bentar aja udah lupa."
Aku mendecak. "Gomen, liat Shiro-chan gue langsung buyar."
"Lebih sayang Shiro-chan daripada gue, ya?"
Aku memelototi Len. "Apaan sih, lo?"
Len terkikik. "Sebagai pacar kan, gue boleh cemburu."
"Boongan, Len."
Len mendengus. "Iya deh, boongan."
Aku tersenyum. "Mm... ngomong-ngomong makananku udah abis," ucapku. "Aku ke kelas dulu ya, sekalian mau cari kardus buat Shiro-chan."
"Kardus? Buat apa?"
"Yah, tempat Shiro-chan untuk sementara," jawabku. "Sebelum pulang nanti."
"Di sekolah ini boleh bawa hewan?"
Aku terdiam sejenak lalu menggeleng.
"Aku ada ide," kata Len sambil nyengir.
SKIP TIME. DI LAB BIOLOGI~~~
"Len? Kita ngapain di sini?" tanyaku heran. "Lab Bio? Kamu mau bedah katak?"
"Enak aja," balas Len sebal. "Gue mau cari tempat buat Shiro-chan!"
Aku manggut-manggut. Mendadak aku ingat sandiwara kami di kantin. Yah, di sini tidak ada siapa-siapa, jadi untuk apa berpura-pura? Baiklah, mungkin aku memang harus ber-"elo-gue" lagi.
Kok... aku merasa tidak enak, ya?
Jangan-jangan aku memang menyukai Len?
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebaiknya jangan.
"Rin, di sini lebih aman daripada di kelas lo," kata Len. "Lab Bio itu emang tempatnya binatang."
"Lo kira Shiro-chan itu binatang kayak kodok, ikan, ular, dan kawan-kawannya?" tanyaku heran. "Shiro-chan bukan kucing buat dibedah, Len."
Len mendecak. "Gue kan, gak maksud gitu..."
"Ya udah, di mana lo mau taro Shiro-chan?"
"Di bawah meja ini ada dus," kata Len sambil berusaha mengeluarkan dus tersebut. "Dan... kosong, Rin! Syukur deh, jadi Shiro-chan bisa masuk."
Aku menyerahkan Shiro-chan pada Len dan membiarkan Len memasukkan kucing berbulu putih itu ke dalam dus yang tadi. "Len... kok, gue ngerasa Shiro-chan bakal lebih aman kalo ada di kelas gue, ya? Yah... masa kita tinggalin di Lab Bio?"
Len menghela napas. "Nanti lo gak konsen belajar, loh."
Aku bergerak-gerak gelisah. "Perasaan gue lebih gak enak kalo Shiro-chan ditinggal di sini."
Len mengangkat bahunya lalu menarik kardus tadi. "Kalo gitu, biar gue bawain sampai kelas lo."
"Gak usah, Len. Biar gue bawa sendiri."
Len menggeleng. "Gak ada acara lo yang bawa. Biar gue yang bawa. Sekarang, ayo keluar."
Aku mendesah pasrah lalu mengangguk. Uh, memangnya kenapa kalau aku yang membawa Shiro-chan? Bukankah sekarang aku adalah pemilik sah Shiro-chan? Kenapa Len bersikap seperti itu? Menyebalkan. Memangnya dia siapa? Mentang-mentang pewaris tunggal Kagamine Corporation. Huh.
.
.
Eh, dia kan, pewaris tunggal Kagamine Corporation.
Berarti dia punya kekuasaan, ya?
Oke deh, kuakui aku kalah.
Len POV
Rin kenapa diam saja, ya?
Sejak kami meninggalkan Lab Biologi, Rin jadi sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa, ya? Apa karena aku? Memangnya aku melakukan apa? Memangnya aku melakukan sesuatu yang salah, ya? Apa karena Shiro-chan? Memangnya salah kalau Shiro-chan datang ke sini? Bukankah Rin seharusnya senang? Atau karena aku memutuskan untuk menaruh Shiro-chan di Lab Biologi? Tapi kan, aku sudah membawanya sekarang. Aku bahkan mengalah untuknya—maksudku, aku mau membawakan Shiro-chan dan mau memindahkan tempatnya, ini bukan berarti aku mengharap imbalan, ya.
Sebenarnya, sikap Rin yang satu ini benar-benar lucu, kok.
.
Tunggu.
.
.
.
.
.
.
LUCU?!
Omaigat, Len... lo udah bener-bener gak waras.
Orang marah-marah dibilang lucu?
Otak lo isinya apaan?
.
.
.
.
.
Yah, tampaknya aku mulai menyukai Rin.
Ya ampun, emangnya mungkin, ya?
"Rin, lo gak apa-apa?" tanyaku pada Rin setelah mengakhiri pikiran gila yang sejak tadi menghampiri otakku. "Kok, lo diem aja?"
Rin menggeleng pelan. "G-gue ke kelas duluan ya, Len."
Sebelum aku berkata "ya" atau apapun, Rin sudah berlari meninggalkanku. Tuh kan, ada apa sih, dengannya? Memangnya ada yang salah denganku, ya? Memangnya apa yang kulakukan? Mengganggunya? Atau gara-gara ideku meninggalkan Shiro-chan di Lab Biologi?
Plis deh, masa Rin lebih sayang Shiro-chan?
Normal POV
Rin berjalan memasuki kelasnya, kelas XI-3, lalu duduk di samping Neru seperti biasa. Setelah duduk, Rin hanya diam. Tidak berkata apa-apa. Neru yang mengenal seorang Rin sebagai seseorang yang cerewet bin gak bisa diem hanya memandangnya dengan penuh rasa heran.
"Lo baik-baik aja, Rin?" tanya Neru heran.
Rin mengangguk. "Gue gak apa-apa, kok."
"Ya udah," balas Neru tidak mau mendesak Rin lebih jauh. "Btw, lo taro di mana kucing lo?"
Tubuh Rin seketika menegang. "Lo... tau?"
"Gue liat, Rin."
"Miku juga tau?"
"Miku juga liat."
"Terus... terus... gue harus gimana, dong?"
"Itu sih, urusan elo. Kenapa gue yang pusing?"
Aku mendesah. "Gue bingung."
"Kenapa?"
"Len."
"Oh, bukan masalah kucing lo?"
"Ah, itu biar dipikirin nanti," balas Rin. "Masalahnya sekarang bukan Shiro-chan, tapi Len."
"Shiro-chan siapa?"
"Kucing gue."
"Oh," Neru manggut-manggut. "Ya udah, jadi lo mau cerita apa sih, sebenernya?"
"Ner! Masa Shiro-chan mau ditinggalin di lab bio?!" tanya Rin sebal dengan suara yang diusahakan sepelan mungkin.
"Kucing lo ditinggal di lab bio?" balas Neru heran. "Sama siapa?"
"Sama Len, lah."
"Oh, jadi itu alesan lo kesel sama dia?"
Rin memandang Neru heran. "Emangnya tadi gue bilang kalo gue kesel sama dia, ya?"
"Terus kalo lo gak kesel sama dia, kenapa lo mau cerita tentang dia?" tanya Neru bingung. "Jadi lo mau cerita tentang kucing lo atau Len, sih? Kenapa gue jadi lemot gini?"
Kadang—sering malah—Neru itu gak nyambung kalau diajak ngobrol. Walau begitu, Rin tetap menganggap Neru sebagai sohib curhat nomor satunya. Neru selalu mau mendengarkan cerita Rin, yah, walau Rin memang harus sabar-sabar menghadapi "kelemotan" sohibnya yang tiada dua itu.
"Maksud gue, gue mau cerita soal Len," jelas Rin. "Tapi gue bukan sebel sama dia."
"Oh, oke oke," balas Neru sambil membetulkan posisi duduknya. "Jadi... lo mau cerita apanya, dong?"
Rin menarik napas panjang. "Tadi dia bilang, gue harus jadi pacar boongannya dia."
"Pacar boongan?"
"Terus, sikap dia ke gue udah kayak orang pacaran beneran."
"Pacaran beneran?"
"Tapi pas gak ada orang yang liat, tetep aja gue sama dia ngomongnya "elo-gue" lagi."
"Elo-gue?"
"Anehnya, gue justru ngerasa aneh waktu dia gak bersikap kayak orang pacaran lagi," tutur Rin. "Rasanya kayak ada yang... hilang."
"Hilang?"
"Neru, plis banget, deh! Lo gak harus ngulang tiap kata yang gue sebut!"
Neru terkekeh. "Kalo gak kayak gitu, bisa-bisa cerita lo gak gue cerna, tau?" Neru berpikir sejenak. "Jadi... lo kayak ngarepin kalo lo pacaran sama dia terus?"
Rin memutar bola matanya. "Semacam itu, deh."
"Wah, Rin, kalo lo sampai kayak gitu, itu sih, namanya lo udah suka sama dia."
Mata Rin melebar kaget. "Ya ampun! Gak mungkin, Ner! Gue kan, udah rela ngasih dia buat Miku!"
"Gila lo, si Miku diturutin," balas Neru. "Miku gak bakal serius sama Len, tau? Lagian, banyak cowok di SMA Voca yang ngeceng si Miku. Dia tinggal pilih aja mau sama siapa. Lah, elo? Kapan lagi disukain cowok cakep nan tajir kayak si Len?"
Rin mendengus. "Kata-kata lo barusan bikin gue ngerasa kalo gue adalah jomblo paling ngenes sedunia."
Neru meringis. "Kenyataannya emang gitu, kan?"
"Jahat amat lo, Ner. Salah pilih temen curhat, nih."
"Eh, eh! Gue bercanda kali, Rin. Sentimen amat lo," kata Neru sambil terkikik pelan. "Ya udah, jadi sekarang mau lo gimana? Kayaknya lo gak akan rela kalo Len sampai direbut Miku."
Rin menatap Neru sebal. "Itu sih, elo yang gak rela."
"Iyalah! Gue akui gue suka Len, tapi gue lebih suka liat dia sama lo daripada sama Miku yang jelas-jelas playgirl!" ujar Neru. "Miku emang temen kita, Rin, tapi tetep aja dia playgirl kelas kakap, tau?"
"Lo jahat amat sih, hari ini."
"Terserah apa kata lo, deh," balas Neru mulai putus asa. "Pokoknya, sekarang ini lo harus—"
"Permisi," ujar seseorang di pintu kelas. "Saya mencari Kagami Rin... apakah ada?"
Rin dan Neru menatap pintu kelas mereka. Di sana, mereka menemukan seorang bocah berambut kuning berbentuk tak jelas apa membawa sebuah kardus yang entah isinya apa.
Kagamine Len rupanya.
Tunggu, kalau Len yang membawa kardus itu...
Isinya berarti...
.
.
.
.
.
.
.
SHIRO-CHAN!
Rin POV
Aku buru-buru menghampiri bocah pisang satu itu dengan kesal. Apa yang dia pikirkan? Benar-benar membawa Shiro-chan ke kelasku? Bagaimana kalau ada guru yang melihat?
"Lo gila atau gimana?!" tanyaku dengan suara serendah mungkin. "Nanti kita dihukum!"
"Kamu sendiri yang bilang gak tenang kalo Shiro-chan gak deket-deket kamu," ucap Len polos. "Aku bingung kan, jadi aku bawa ke sini aja."
Aku mendongak menatap wajahnya. Duh, dasar cowok. Tingginya selalu menjulang. Aku jadi harus mendongak kalau mengobrol dengan cowok-cowok.
Atau aku saja yang terlalu pendek, ya?
"Ya udah, jadi sekarang harus gue pegang?" tanyaku setelah berhasil mengendalikan nada suaraku. "Kalo ketauan guru gimana, Len?"
"Kalo lo takut dihukum, biar gue yang pegang."
"Hah?"
"Gue bisa beralasan gak tau aturan sekolah," papar Len. "Lagian, gue emang gak tau sampai lo kasih tau. Terus, Shiro-chan ke sini kan, bukan atas kemauan kita berdua, Rin. Tiba-tiba aja dia udah muncul di sini, iya, kan?"
Aku mengangguk. Kata-kata Len memang tidak ada salahnya sih, tapi...
"Gak apa-apa kalo kamu dihukum?"
"Ah, aku cuek aja."
"Serius?"
"Selama kamu gak dihukum, aku gak bakal kenapa-kenapa."
Aku menunduk dan wajahku mendadak terasa panas. Aduh, jangan mulai. Kenapa harus panas, sih? Apa wajahku memerah, ya? Memangnya kenapa? Kata-kata Len cuma kata-kata ringan yang biasa dipakai cowok-cowok buat ngegombal. Iya, cuma sebatas itu. Kenapa aku harus kegirangan, sih?
Ayo, Rin. Kuasai dirimu.
"Ya udah, terserah kamu," balasku sambil menatapnya lagi. "Ngomong-ngomong, statusku yang itu—"
"Itu bakal tetap berlaku sampai kamu jawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan?" Aku mengerutkan dahi heran. "Pertanyaan apa?"
"Kamu mau jadi pacar beneranku, gak?"
Bersambung...
Naaah! Akhirnya kesampaian juga buat apdet, Rey jadi terharu TwT
Liat kan, Len udah nembak Rin! Len udah nembak Rin! #duniaharustahu. Ehem, oke, jadi intinya, Len emang udah blak-blakan, deh! Dia udah gak malu-malu lagi buat ngaku kalo dia suka sama Rin. Rey juga jadi agak berpikir setelah nulis cerita ini, apa Rey gak kecepetan? Apa perasaannya terlalu cepat berkembang? Tapi mau gimana lagi, ya? Orang bilang, butuh waktu singkat buat jatuh cinta tapi waktu lama buat move on.
Oke, sekian! Rey akan mengusahakan apdet selanjutnya cepat! ^^
