Waktunya balas review! XD
Kireina Yume: hahaha, Len udah ga nahan mau jadian sama Rin xD terima kasih atas pujiannya *bungkuk bungkuk*
Kirina Fujisaki: siap! Ini apdet berikutnya kok ^^
Kurone Ryu: jawab mau gak, yaaa? Hehehe, ini apdetnya kok ^^
Shinichi Rukia: maafkan Rey telah membuatmu menunggu ya ;^;
Lacie Helra-Chan: waaah, makasih yaa w
neko-neko kawaii: iya dong, Len kan... macho (?) /bukan
Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Note:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, de el el
Enjoy!
Shiro-nyan
A LenxRin story
by reynyah
Chapter V —Di Bawah Pohon Sakura
Rin POV
"Kamu mau jadi pacar beneranku, gak?"
Eh?
Eh?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
SI LEN SERIUS?!
"Len, jangan bercanda..." ucapku salah tingkah. Kesambet apa bocah pisang satu itu siang bolong begini? Nah kan, sekarang seluruh penghuni kelas menatap kami dengan tatapan membunuh yang seolah-olah berkata awas-kalo-lo-terima-hidup-lo-gak-bakal-tenang. Bagaimana aku bisa tenang dengan semua itu?
"Aku serius, Rin," katanya sambil menarik satu tanganku. "Serius nih, kamu mau?"
Aku menghela napas. "Nggak."
"Nggak? Tapi, Rin—"
Aku menarik tanganku. "Maaf, Len. Kayaknya kita emang udah mutlak jadi temen selamanya," ucapku sambil berusaha tersenyum. "Buat sekarang, hidupku udah cukup bahagia tanpa punya pacar."
Len menatapku dengan tatapan tidak percaya. Duh, aku jadi tidak enak sendiri. "Oke, aku ngerti kalo itu mau kamu, Rin," katanya dengan nada pengertin. Fyuh, syukurlah dia tidak apa-apa. "Tapi jangan harap dengan itu kamu bukan pacar bohonganku lagi."
"Apa?"
"Statusmu masih sama, tahu? Kamu masih cewek bohonganku," kata Len sambil tertawa kecil. "Ya udahlah, aku harus ke kelas lagi. Sampai nanti."
Sebelum pergi, Len meninggalkan kecupan kecil di dahiku. Kontan wajahku memerah.
"CIEEEE~ RIN JADIAN SAMA LEN, YAA?!"
Aku membalikkan badan dan menemukan sosok Neru. "Neru?"
"Tadi lo ditembak, kaaan?!" tanya Neru histeris dengan wajah bahagia. "Lo jawab apa? Lo terima, kan? Rin! Gue ikut bahagia buat loo! Selamat, ya! Akhirnya lo punya pacar juga!"
Aku terdiam heran. Kenapa Neru mendadak jadi cewek rusuh nan gak bisa diem begini, sih? Biasanya dia rada kalem kalo menghadapi soal beginian.
"Nee, Rin, lo bilang apa tadi?" tanya Neru padaku.
Aku menarik napas panjang lalu menjawab, "Gue ceritanya nanti aja sepulang sekolah, ya? Kalo sekarang... gue takut ngeliat itu..."
Neru membalikkan badannya dan melihat seluruh penghuni kelas XI-3 sedang menatapku dengan tatapan membunuh yang lebih parah dari yang tadi. Ya ampun, aku ini banyak dosa. Harusnya aku emang gak berhubungan dengan pewaris tunggal Kagamine Corporation yang satu itu. Kami-sama... kenapa hidupku begini malang, sih?
"Oke, oke," balas Neru sambil terkikik ria. "Yang jelas, gue ikut bahagia buat lo. Lo berhasil bikin puluhan cewek di SMA Voca patah hati, tau? Termasuk sohib kita yang rambutnya ijo-biru itu."
Aku tersenyum tipis. Patah hati? Kayaknya nggak. Lagian...
Aku kan, nolak Len...
Len POV
Baru kali ini aku jatuh cinta.
Baru kali ini juga aku ditolak.
Ya ampun, ternyata sesakit itu. Pantas saja orang-orang banyak yang buru-buru bunuh diri setelah ditolak. Rasanya memang sakit. Sakiiiiiiiiit sekali.
Tapi... aku tidak akan bunuh diri hanya karena masalah sepele begini, kok.
Lagipula, Rin masih menjabat sebagai cewek bohonganku.
Hehehe... setidaknya, aku masih bisa berhubungan dengannya, walau pura-pura.
Aku harus membuatnya suka padaku. Titik.
"Kagamine-san!"
Aku membalikkan badanku dan menemukan sosok seorang perempuan tinggi, berambut coklat pendek, dan berpakaian seragam SMA Voca yang berbeda denganku. Ah, mungkin dia senpai-ku. Siapa ya, kira-kira? Aku belum mengenal seluruh murid SMA Voca. Tentu saja, aku baru satu hari di sini. Apa yang kuharapkan?
"Ada apa, ya?" tanyaku berusaha sopan.
"Kenalkan, aku Sakine Meiko, pemimpin redaksi Triple Voca," katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya. "Kagamine Len."
"Aku tahu, kok," balasnya sambil terkekeh pelan. "Oke, aku cuma mau menyampaikan satu hal penting buatmu."
"Apa?"
"Minggu depan, kamu akan menjadi penggantiku secara resmi."
"Aku—apa?"
"Kamu akan jadi pemimpin redaksi Triple Voca, menggantikanku," ulangnya. "Barusan anggota Triple Voca berunding. Anak-anak kelas sebelas yang sekarang gak ada yang memenuhi standar kami. Cuma kamu satu-satunya yang memenuhi."
"Senpai, aku ini anak baru, loh," ucapku pelan. "Aku bahkan gak tau cara memimpin redaksi."
"Ada satu orang di angkatanmu yang tau, dia bakal jadi wakilmu. Dia emang gak pernah beli majalah sekolah, jadi kami juga ragu waktu mau menunjuk dia," jelas Meiko-senpai. "Yang jelas, dia pinter banget, kok. Alesan kami gak nunjuk dia adalah karena dia terlalu diem, kami takut dia gak bisa bekerja sama dengan anggotanya. Makanya kami nunjuk kamu... yang dikenal banyak orang."
"Senpai dikenal banyak orang?"
Meiko-senpai tertawa. "Gak ada manusia di SMA Voca yang gak tau aku."
Aku manggut-manggut. "Aku... gak yakin bisa, Senpai."
"Ah, justru karena kamu punya bakat makanya kamu kami tunjuk," balas Meiko-senpai. "Gini deh, kamu masih punya waktu seminggu sebelum aku pensiun. Kamu bisa lihat cara kerja tim redaksi di ruang redaksi. Harusnya, akhir minggu ini Triple Voca terbit lagi. Dan itu adalah Triple Voca terakhir di masaku."
"Terus... yang jadi wakilku siapa?"
"Oh ya," Meiko-senpai tertawa. Sepertinya dia memang orang yang periang. "Wakilmu perempuan, di kelas XI-3. Namanya Kagami Rin."
"Ka-Kagami Rin?"
"Iya, yang warna rambutnya sama denganmu itu, loh," kata Meiko-senpai. "Kenapa? Kamu gak suka?"
Aku menggeleng. "Suka banget, kok. Arigatou gozaimasu, Senpai!"
"Gak usah formal gitu ke aku, deh."
Aku tertawa. "Oke, oke, arigatou, Senpai!"
"Douita~"
SKIP TIME. WAKTU PULANG SEKOLAH~~
Rin POV
"Neru! Gue tunggu di bawah pohon biasa, ya!"
"Oke, Rin!" balas Neru sambil mengacungkan jempolnya. Sip, berarti sekarang aku tinggal mengambil ancang-ancang dan lari secepat mungkin ke pohon sakura tempatku biasa duduk-duduk bersama Neru dan Miku sepulang sekolah. Aku harus cepat atau orang lain akan mengambil tempat favoritku. Maklum, pohon itu memang menjabat sebagai salah satu pohon terfavorit se-SMA Voca.
Aku tiba di pohon sakura itu. Memang cukup ramai, tapi di bawah pohon sakuraku yang biasa kosong. Miku pun belum ada di sana. Ya sudah, aku duduk di sana lalu mengambil snack yang kubawa dari rumah. Aku sengaja menyiapkannya karena sudah hapal dengan kebiasaan Miku dan Neru; mencomot uangku untuk membeli snack tanpa permisi. Daripada mereka terus-terusan menguras dompetku, lebih baik aku yang menyediakan snack untuk mereka.
"Rin?"
Aku mendongak. "Loh? Ada apa, Len?"
Sebenarnya, pertanyaan yang lebih tepat itu, kenapa kamu bisa tau aku ada di sini?
"Shiro-chan."
"Oh," anggukku. "Mana Shiro-chan?"
Len tersenyum lalu menyerahkan sebuah kardus. "Masih di dalam. Tadi aku beliin dia susu, sampai ketiduran. Kenyang kali, ya?"
Aku tersenyum tipis. "Makasih udah dirawat, ya."
Len mengangguk. "Gimanapun juga, dulu dia punya gue."
Aku mengerutkan dahi. "Len... soal yang tadi di—"
"Ah, gak usah dibahas," potong Len sambil mengibaskan tangannya. "Gue juga gak tau kenapa bisa ngomong kayak gitu. Kayaknya gue emang udah bener-bener suka sama elo."
Aku tersenyum. "Makasih buat perasaannya, ya. Gomen, gue gak bisa nerima."
"Ah, gue gak peduli-peduli amat, kok," balasnya. "Tapi... gue masih bisa jadi temen elo, kan?"
"Masih lah, gue gak akan ninggalin lo lantaran tau lo suka gue, kok," ucapku sambil tertawa kecil. "Duduk sini, lo suka makan snack?"
"Snack?" tanyanya sambil duduk di sampingku. Aku mengangguk pelan. "Wah, bukan Len namanya kalo gak suka sama yang disebut-sebut orang sebagai snack itu."
Aku tertawa. "Kalo suka tinggal ambil, kok," ujarku sambil menyodorkan sebungkus snack yang kusiapkan untuk dua sohibku itu pada Len. "Gue masih punya banyak."
"Oh ya?" tanya Len dan aku mengangguk. "Buat apa lo bawa banyak-banyak?"
"Neru sama Miku itu tukang ngambilin duit gue," jawabku. "Daripada dompet gue dikuras terus, mending gue bawain snack aja."
Len tertawa. "Ternyata temen makan temen, ya?"
"Nggak, kok," jawabku sambil meringis. "Cuma temen makan duit."
Len tertawa lagi. "Bisa aja lo."
"Waaah! Ada Len-senpai!" seru seorang siswi. Hmm... kalau dari seragamnya, sepertinya dia murid kelas sepuluh alias adik kelas. "Ganteng, ya!"
"Kaito-senpai lebih ganteng, ah," balas temannya.
"Hah? Kaito-senpai? Muka tua gitu lo bilang ganteng?"
"Eh, tua-tua gitu juga dia masih cowok populer di sekolah."
"Tetep aja tua, kan?"
"Nggak!"
"Mending Len-senpai, tau! Masih muda!"
"Lo ngomong begitu kayak yang selisih umur mereka seabad aja, sih!"
Aku tertawa kecil mendengar debat antar siswi itu. Yah, sejak pagi aku memang mendengar bisik-bisik antar siswi yang mendebatkan siapa yang lebih ganteng; Len atau Kaito-senpai. Beberapa ada yang berpendapat kalau Len lebih ganteng, ada yang sebaliknya. Gara-gara hal tidak penting semacam itu, mereka malah jadi berdebat dan membuat keributan di mana-mana. Bahkan di perpustakaan pun anak-anak kutu buku juga membicarakan mereka! Aku tidak mengerti ada apa dengan siswi-siswi SMA Voca ini.
"Sebenernya, gue gak keberatan diomongin sama orang-orang," tutur Len padaku dengan suara pelan. "Tapi gak usah kenceng-kenceng juga ngomongnya, kan? Apa mereka gak sadar di sini itu rame banget?"
Aku tertawa. "Yah, gue juga gak ngerti anak-anak itu pada kenapa."
"Kaito-senpai itu siapa, sih?"
"Kaito-senpai itu salah satu cowok paling populer di sini. Miku aja ngeceng dia."
"Lo juga?"
"Gue?" tanyaku sambil mengerutkan dahi. "Nggak, lah. Gue gak suka tipe-tipe cowok populer kayak dia."
"Lo gak suka gue, dong?"
Aku nyaris saja tersedak. "Apa?"
"Lo bilang lo gak suka cowok populer," ulang Len. "Terus gue?"
"Kriteria orang kan, beda-beda, Len," jelasku. "Gue gak bilang kalo gue gak suka sama elo, kok."
"Tapi lo juga gak bilang kalo lo suka sama gue."
Aku menghela napas. "Lo bener-bener mau gue suka sama elo, ya?"
"Iyalah," jawabnya. "Gue kan, gak berharap kalo perasaan gue cuma bertepuk sebelah tangan."
"Kalo gitu, kasih gue waktu."
"Waktu apaan?"
"Waktu buat berpikir ulang," jawabku. "Ini semua cepet banget, tau? Gue butuh waktu buat mikir lagi. Mungkin aja dengan berpikir lagi, perasaan gue bisa berubah," aku diam sejenak. "Tapi... gue juga gak jamin."
"Boleh," angguk Len. "Kalo gitu... besok, ya?"
Aku mendengus. "Lo mau gue kasih keputusan dadakan?"
"Eh, jangan," cegahnya. "Ya udah, akhir minggu ini, deh."
"Akhir minggu?"
Len mengangguk. "Gue ke rumah lo akhir minggu nanti."
"Emangnya lo tau rumah gue di mana?"
Len meringis. "Nggak, sih."
"Nah, terus gimana caranya lo ke rumah gue?"
"Tadinya sih, gue mau minta alamat lo."
Aku tertawa. "Gak mau, ah."
"Kenapa?"
"Usaha dong, Leeeen."
Len mendengus. "Gimana caranya, Rin?"
"Terserah, yang jelas gak boleh nanya temen-temen gue, ya," balasku sambil berusaha menahan tawa. Muka Len imut banget kalo lagi bingung.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh.
.
.
Imut?
Ah, dasar Rin.
Len mendesah. "Ya udah, gue terima tantangan lo, deh."
Aku tersenyum. "Terus... ada yang mau lo omongin lagi, gak?"
"Ada," jawab Len sambil mengubah posisi duduknya. "Lo bakal jadi wakil gue."
"Wakil? Wakil apaan?"
"Wakil redaksi Triple Voca."
"Wakil redaksi Trip—WHAT?!"
"Eh, Meiko-senpai belum bilang ke elo, ya?"
"Bilang apa?"
"Ternyata gue emang ditunjuk jadi pemimpin redaksi gantiin dia," jelas Len. "Dan sebagai wakilnya, mereka nunjuk elo."
"Hah? Gue bahkan gak pernah beli Triple Voca."
"Yah, itu juga pertimbangan mereka. Jadi, mereka nempatin gue sebagai ketua. Tadinya mereka bakal nunjuk elo, tapi berhubung lo juga gak pernah beli itu majalah... jadi lo cuma ditaruh sebagai wakil."
Aku tertawa pelan. "Gak pernah beli majalah aja ditunjuk jadi wakil, apalagi beli tiap terbit, ya?"
Len tertawa. "Lo pinter katanya, makanya ditunjuk."
"Hah, kalo soal pinter kayaknya banyak yang lebih dari gue."
"Yah, mana gue tau? Pokoknya, mereka bilang gitu," balas Len. "Btw, lo kapan pulang?"
"Gue nunggu Neru sama Miku," jawabku. "Gak tau ke mana dua bocah itu, padahal kita udah janjian di sini."
"Lah, bukannya itu Neru yang ngintip-ngintip dari balik semak?"
Semak? Aku memutar kepalaku dan menemukan semak yang dimaksud Len. Benar saja, aku melihat rambut kuning panjang Neru dan rambut hijau kebiruan Miku yang tidak bisa tertutup semak itu. Aku menghela napas. "Neru, Miku, udah cukup petak umpetnya."
Mereka berdua keluar dari semak itu dengan wajah jahil. "Hehe, jadi udah ngapain aja tadi?" tanya Miku dengan wajahnya yang super jahil dan menyebalkan.
"Ngobrol biasa doang, kok," jawab Len santai. "Masalah Triple Voca."
Miku dan Neru duduk di sampingku. Anehnya, mereka tidak dekat-dekat Len dan membiarkan hanya aku saja yang duduk di sebelahnya. "Triple Voca, ya?" balas Miku heran. "Oh ya, bukannya lo emang bakal ditunjuk jadi pemimpin redaksi?"
Len mengangguk. "Dengan wakilnya Rin."
Mata Neru dan Miku seketika membulat. "HONTOU?!" seru mereka berdua. Ya ampun, kedua sohibku ini emang lebay kuadrat.
"Serius, kok," balas Len. "Jadi, besok kita berdua emang harus liat-liat ruang redaksi."
"Dan perekrutan anggota baru," sambungku. "Tiap tahun selalu kayak gitu, kan?"
Miku mengangguk. "Selamat buat lo berdua, ya," katanya padaku dan Len. Kemudian, dia menatap Neru. "Lucu banget ya, Ner, dua sejoli ini baru aja jadian, eh, bakal diangkat jadi pemimpin redaksi bareng-bareng lagi."
Neru mengangguk setuju.
"Jadian?" tanya Len heran. "Siapa yang jadian?"
"Elo sama Rin, dong," jawab Miku. "Siapa lagi emangnya?"
"Mm... For your information aja, gue sama Rin gak jadian, kok."
Lagi-lagi mata dua manusia berambut kuning dan hijau kebiruan itu melebar. "HONTOU?!" Ya ampun, kenapa aku harus punya sohib selebay ini, sih?
"Iya, emang gak jadian," sahutku. "Kita temenan aja, kok."
"Temenan kok, berduaan mulu?" tanya Neru heran.
"Namanya juga akrab," balas Len sambil merangkulku. Eh? Eh? "Kita kan, akrab gara-gara kucing putih satu ini."
Aku tersenyum lalu mengeluarkan Shiro-chan dari kardus. "Nih, kucing gue. Namanya Shiro-chan."
"KAWAIIII~!" jerit Miku dan Neru histeris. Oke, mereka memang benar-benar sohib yang lebay. "Lucu banget, Rin! Lo beli di mana?" tanya Miku antusias.
"Dikasih."
"Sama?"
Aku menuding Len.
Miku menatap Len. "Lo bener-bener ngasih kucing ini buat dia?!"
Len mengangguk.
"Lo baik bener!" seru Miku. "Kayak Kaito-senpai yang merelakan koleksi es krimnya buat Meiko-senpai..."
Aku tertawa kecil. "Cukup meratapnya, Miku."
"Dia gak pernah ngelirik gue, Rin," curhat Miku. Nah, ini dia kebiasaan Miku paling jelek; curhat tiba-tiba tanpa kenal tempat. "Eh! Tapi gue dapat kabar bagus! Dia udah putus dari Meiko-senpai!"
Mataku dan Neru melebar. "Lo apain? Lo adu domba?" tanyaku kaget.
"Enak aja!" balas Miku sebal. "Gue gak ngapa-ngapain, tau! Mereka putus tanpa ada sangkut pautnya sama gue!"
"Kaito-senpai itu orangnya yang mana, sih?" tanya Len yang sedari tadi tutup mulut.
"Orangnya tinggi, rambutnya biru, rambutnya agak panjang gitu, biasanya pake syal..." Miku menatap sekeliling. "AH! Itu orangnya! Yang jalan ke sini!"
Len manggut-manggut. "Eh, dia bener-bener ke arah sini, loh."
Kami semua menoleh ke arah yang ditunjuk Len. Ternyata benar. Kaito-senpai, dengan syal dan rambut birunya, menghampiri kami sambil tersenyum kikuk. Ketika sudah dekat, dia berkata, "Permisi, apa saya mengganggu?"
"Nggak sama sekali kok, Senpai!" jawab Miku antusias.
"Oh, syukurlah," kata Kaito-senpai. "Saya ada perlu."
"Sama siapa, Senpai?" tanya Neru heran. Yah, aku mengerti situasi macam ini. Miku akan salah tingkah dan mulai berbicara yang tidak-tidak kalau ada di depan Kaito-senpai. Jadi sebaiknya, Neru saja yang bicara.
"Kagami Rin-san?"
Mataku melebar. Kurasakan tatapan tajam Miku dan Len padaku.
.
.
.
Tunggu.
.
Kalau Miku sih, tidak masalah.
.
.
.
Tapi Len?!
"Ada apa, Senpai?" tanyaku sambil mendongakkan kepalaku.
"Ah, cuma mau mengingatkan kalau besok kamu harus ke ruang redaksi Triple Voca."
"Aku gimana, Senpai?" tanya Len dengan wajah pura-pura bodoh. Uh, dasar cowok.
"Kamu juga. terutama kamu," jawab Kaito-senpai dengan nada agak mengancam. Cowok-cowok ini kenapa, sih? "Ya sudah, itu saja, kok. Maaf ya, sudah mengganggu acara kalian."
"Rin... gue tau Kaito-senpai baru putus," kata Miku padaku setelah Kaito-senpai melenggang pergi dari tempat kami berkumpul. "Tapi kenapa harus move on ke elo sih, dia?!"
Aku mendecak. "Belum tentu dia move on ke gue, Miku."
"Sembilan puluh persen kemungkinannya itu," sahut Len dengan nada kesal. Ya ampun, rumit amat sih, hidupku sekarang. "Oh ya, Rin, gue pulang duluan deh, kayaknya. Jangan lupa akhir minggu, ya. Shiro-chan jangan ditinggal di sekolah."
Aku hanya mengangguk. Oh, jadi sekarang dia mau pura-pura marah padaku?
Len menggendong tasnya lalu pergi. Tanpa selamat tinggal pada Neru dan Miku? Dasar cowok menyebalkan. Ada apa sih, dengannya? Kenapa jadi sensitif begitu?
"Lo harus cerita ada apa di antara lo sama Len," ujar Miku sambil menatapku serius. "Jelas banget tadi Len itu cemburu sama Kaito-senpai! Sama halnya dengan gue."
Aku menghela napas. "Oke, lo berdua harus tau kalo di antara gue sama Len emang gak ada apa-apa."
"Lo gak jadian?" tanya Neru heran. "Bukannya tadi dia nembak lo? Bahkan cium dahi?"
Mata Miku melebar. "Len cium dahi lo?!"
Aku mendesah. "Itu sih, bukan kemauan gue."
"Jadi, lo jadian sama dia atau nggak, sih?" tanya Miku.
Aku menggeleng.
"Nggak?"
Aku mengangguk tegas. "Gue sama dia emang gak jadian. Cuma temenan."
"Tapi... tadi di kelas... kenapa sampai gitu?" tanya Neru heran (lagi). "Kalo lo gak jadian, ngapain juga dia pake acara cium dahi di depan umum?"
Aku menghela napas. "Gue kan, masih jadi cewek bohongannya dia."
"Lo pacaran bohongan sama Len?!" tanya Miku kaget.
Aku mengangguk.
"Kok, lo mau pacaran bohongan sama dia?" tanya Miku heran.
"Soalnya, dia bilang dia gak mau dideketin cewek-cewek gak jelas yang cuma ngincer duitnya," jawabku sedikit mengarang cerita. "Pokoknya, dia pake gue sebagai pacarnya supaya gak dideketin cewek lain."
"Dan lo mau?"
"Gue gak punya pilihan."
"Terus, terus," sela Neru sebelum Miku sempat bertanya lagi. "Tadi Len bilang akhir minggu, itu maksudnya apa?"
"Mm... dia minta jawaban buat penembakan dia tadi," jawabku. "Padahal gue udah nolak, tapi dia nanya lagi. Akhirnya, gue terpaksa bilang kalo gue akan pikirin soal ini baik-baik."
"Terus akhir minggu itu?" tanya Miku mengulang pertanyaan Neru.
"Itu waktu gue ngejawab dia," jawabku lagi. "Katanya, dia bakal dateng ke rumah gue. Karena dia gak tau rumah gue di mana, gue tantang dia buat nyari sendiri. Pokoknya, dia gak boleh nanya."
"Kok, elo jahat, sih?" tanya Neru bingung.
"Bukan jahat, Ner—"
"Itu nguji perjuangan Len dong, Ner," potong Miku. "Masa gitu aja lo gak tau?"
"Seumur hidup gue kan, selalu jomblo, Mik. Jangan samain sama elo, dong," balas Neru sambil cemberut. "Jadi... intinya, lo bakal jawab pernyataan dia akhir minggu nanti, Rin?"
Aku mengangguk.
"Wah, selamat buat lo aja, deh," kata Neru sambil menepuk bahuku. "Semoga beruntung, ya. Btw, snack ini lo bawa buat gue sama Miku, kan?"
Aku tersenyum kecut lalu mengangguk.
"Wah! Baik banget lo!" puji Miku sambil meraih sebungkus snack. "Lo emang sobat paling keren, paling baik, paling cantik, paling—"
"Modus buat dapet snack gratisan lagi, ya?" potongku.
Miku nyengir kuda. "Tau aja lo."
"Ya udah, balik ke masalah Len, semuanya terserah elo," ucap Neru sambil mengunyah snack-nya. "Kalo lo terima ya syukur, kalo nggak juga gak apa-apa. Cowok masih banyak di dunia ini, ya gak, Rin?"
Aku mengangguk pelan.
"Gue sih, lebih milih kalo lo terima dia," ujar Miku. "Dia cinta mati sama lo, Rin. Kaito-senpai yang cuma mampir ke sini sekali aja udah dia pelototin sampai matanya udah mau keluar gitu. Masa lo mau sia-siain dia? Tajir, loh!"
Aku mendengus. "Lo emang selalu mikirin duit, Mik."
Miku nyengir lagi. "Gomen, gomen, gue tau lo bukan tipe kayak gitu," katanya. "Yang jelas, lo jangan sia-siain perasaan dia yang tulus buat lo."
Neru manggut-manggut. "Gue setuju."
Aku hanya bisa mendesah.
Bersambung...
Ya ampun, kenapa jadi banyak chapter-nya gini, ya?
Nah, hampir sampai di bagian jawaban Rin! Pokoknya, Rin itu bimbang sebimbang-bimbangnya bimbang. Kira-kira, dia bakal nerima saran Miku gak, ya? Kira-kira, dia bakal nolak atau nerima Len jadi pacarnya? Terus, Shiro-chan bakal ngapain di chapter selanjutnya? Buat apa sih, dia ditaruh di judul kalo cuma menjabat sebagai "kucing yang dikasih Len ke Rin sebagai tanda balas budi"?
Saksikan jawabannya di chapter selanjutnya, ya! XD
Mind to review? ^^
