Waktunya balas review! XD

Kirina Fujisaki: wah, makasih udah puas sama fic saya, ya! ^^

Kagamine Laras: wah, emang di situ keliatan banget Kaito suka sama Rin, ya? Padahal Rey gak bilang gitu, loh. Baca yang ini dulu deh, ya, mumpung Rey lagi rajin update XD


Disclaimer:

Vocaloid yang bukan punya saya

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya, selalu

Warning:

OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, de el el

Sepertinya chapter ini bakalan jadi chapter terakhir petualangan Len, Rin, dan juga Shiro-chan.

Akhirnya gimana, ya? Apa Rin bakal nerima atau justru nolak Len lagi?

Shiro-chan... bakal ngapain, ya?

Selamat membaca! XD


Shiro-nyan

A LenxRin story

by reynyah

Chapter VI —Ya


Kaito POV (satu-satunya Kaito POV dalam cerita ini, yang gak begitu penting TwT)


Hem. Apa yang salah dengan menyuruh Kagami Rin pergi ke ruang redaksi esok harinya?

Aku kan, cuma mengingatkan. Bukankah wajar sebagai senior mengingatkan juniornya? Yah, aku memang tidak mengingatkan Kagamine Len-san. Bukan salahku, kan? Aku tidak melihat manusia berambut kuning pewaris tunggal Kagamine Corporation itu di sana. Kurasa wajar-wajar saja kalau aku mengingatkan Rin untuk datang besok.

Lalu, kenapa Miku, cewek terpopuler di kelas sebelas, dan Len, cowok rambut kuning yang jelas-jelas baru masuk, menatapku seolah aku adalah narapidana penjara yang berhasil lolos setelah ratusan tahun dikejar?

Oke, aku tidak akan ambil pusing soal itu.

Lagipula, aku kan, tidak ada hubungan apa-apa dengan Rin. Aku juga tidak mengharapkan apa-apa darinya. Aku hanya mengingatkan. MENGINGATKAN. Apa susahnya mengerti aku, sih?

Saat ini, aku hanya tertarik pada Hatsune Miku seorang.

Jadi, tidak perlu ada cemburu-cemburuan ya, Miku. Karena aku memang hanya tertarik padamu.


Len POV


Rin itu cewek, tapi anehnya, dia tidak sepeka cewek-cewek lain.

Oke, mungkin dia memang bukan tipe cewek kebanyakan, tapi setidaknya dia sadar dong, kalau aku tidak suka melihatnya berbicara dengan Kaito-senpai di depanku. DI DEPANKU. Memangnya tidak sakit?

Pagi ini, aku dan Rin pergi ke ruang redaksi untuk mempelajari beberapa hal dari ketua lamanya alias Meiko-senpai. Kami memang tidak tahu apa-apa, Meiko-senpai tahu itu, tapi bersikeras menunjuk kami sebagai penggantinya. Sebagai gantinya, dia bersedia mengajarkan aku dan Rin hal-hal penting seputar redaksi. Sisanya, katanya, kami bisa pelajari sendiri begitu sudah terjun ke lapangan.

"Kalian lihat? Itu anggota redaksi yang lain," jelas Meiko-senpai. "Mereka bertugas mencari informasi. Informasi bisa darimana saja, bisa dari kantin, ruang kepala sekolah, ruang guru, atau gosip antar siswa. Nanti, kalian bertugas menyortir berita mana saja yang akan masuk majalah dan tidak. Batas maksimal penentuan kalian adalah dua hari per berita yang diterima. Kalau lebih, artinya sama saja dengan gugur. Batas penerimaan berita paling lambat adalah tiga hari sebelum cetak."

"Berita luar sekolah gimana, Senpai?" tanya Rin, yang sudah akrab dengan Meiko-senpai padahal mereka baru saling mengenal.

"Ada kolom khusus kok, Rin-chan," jawab Meiko-senpai sambil tersenyum. "Ada tim khusus buat berita luar sekolah, tapi memang cuma sedikit yang diterima karena sebagian besar berita luar udah ada di koran dan majalah lain. Jadi, majalah kita emang cuma buat anak-anak sekolah, sekaligus promosi sekolah buat anak-anak SMP yang mau masuk ke sini."

Rin manggut-manggut. "Kalo soal biaya gimana?"

"Biaya selalu ditanggung sekolah."

"Jumlah majalah yang dicetak?"

"Itu ditentukan sama sekolah, tergantung penjualan kita dua minggu sebelumnya," jelas Meiko-senpai. "Kalau dua minggu sebelumnya rugi, biasanya sekolah bakal ngurangin jatah cetaknya. Kalau untung, biasanya disamakan atau dilebihkan. Yah, gimana mood mereka, sih."

Mendengar obrolan mereka, aku mengerti, tapi aku sama sekali tidak mengerti satu hal.

Apa yang harus kutanyakan?

Menurutku, Meiko-senpai sudah menjelaskan semua hal yang memang harus aku dan Rin ketahui. Tapi entah kenapa, Rin selalu menemukan pertanyaan dari penjelasan-penjelasan Meiko-senpai. Tampaknya benar, Rin memang pintar luar biasa.

"Omong-omong soal waktu kerja," ucap Meiko-senpai. "Kalian akan mulai kerja seminggu setelah kalian dipilih. Jadi, minggu depan kalian masih punya waktu untuk adaptasi dan tanya-tanya sekaligus perekrutan anggota baru."

"Kalau waktu kerja per hari?"

"Anggota redaksi punya waktu khusus yang diberikan sekolah," jelas Meiko-senpai. "Mereka diizinkan bolos dua jam pelajaran per harinya di minggu kedua, yaitu satu minggu menjelang waktu cetak. Kalau di minggu pertama sih, tidak ada izin bolos. Ditambah, anggota redaksi diizinkan menggunakan ruangan sekolah sampai pukul enam sore."

"Enam sore?" tanya Rin heran. "Itu beneran, ya? Kukira cuma gosip."

Meiko-senpai tertawa. "Bener dong, Rin-chan. Kita kan, bisa dibilang punya kekuasaan banget di sini."

Rin tertawa. "Oke deh, terus jadinya gimana soal penggunaan komputer?"

Meiko-senpai mulai menjelaskan lagi. Aku tidak begitu menyimak. Aku terpana oleh Rin yang sibuk sekali bertanya sejak tadi.

Kerennya, Rin bisa bertanya dengan nada dingin tapi tidak menusuk. Kalau berbicara denganku, nada suaranya lembut, terkesan kekanakan, dan santai. Dia... berkepribadian ganda atau bagaimana, sih? Kenapa bisa jadi seperti itu?

Mm... mendadak aku jadi ingat perjanjian kami akhir minggu itu.


Rin POV


Hari Minggu yang cerah di rumah keluarga Kagami alias rumahku sendiri...

Pagi ini, kedua orang tuaku sedang pergi ke rumah nenek yang sedang sakit. Alhasil, aku hanya ditinggal berdua dengan kakakku satu-satunya, Kagami Rinto, yang masih berleha-leha di kasurnya mengingat betapa malamnya dia pulang kemarin. Rinto-niichan memang sering pulang larut, tapi tidak pernah selarut kemarin. Katanya, ada kelas tambahan yang lucunya, dimulai pukul sepuluh malam. Terang saja Rinto-niichan jadi molor sepanjang pagi.

Pagi ini juga, jantungku berdebar terus. Aku ingat hari ini adalah hari di mana aku harus menjawab pernyataan Len dengan perasaanku yang sejujur-jujurnya. Aku jadi gugup dan tidak bisa tidur semalaman. Alhasil, aku terbangun dengan lingkaran ungu mengitari kedua mataku. Bagus sekali, sebentar lagi aku akan dicap Rinto-niichan sebagai "panda liar nyasar ke Jepang". Terima kasih.

Pagi ini juga, ada satu hal yang membuatku panik. Shiro-chan hilang, lagi. Aku tidak menemukannya di manapun, tidak di kamar orang tuaku, tidak di kamar Rinto-niichan, tidak di kamarku, tidak di dapur, tidak di ruang tamu, tidak di koridor, tidak di halaman depan atau belakang, tidak di kamar mandi.

Tidak ada di manapun.

Aku berusaha tenang dan mencari sekali lagi. Tetap tidak ada...

Bagaimana ini? Berarti aku sudah mengecewakan Len...

TOK! TOK!

Suara pintu diketuk?

.

.

.

.

.

.

.

.

Semoga bukan Len.

Aku berjalan menuju pintu depan lalu membukanya dan menemukan sosok yang tak kuharapkan. "Len?"

"Gue berhasil nemu rumah lo," ujarnya bangga. "Tanpa nanya siapapun."

Mataku melebar. "Gimana caranya?"

Len menyodorkan sebuah bola putih berbulu yang sejak tadi dia pegang. Itu... itu...

SHIRO-CHAN?!

"Kenapa dia bisa sama elo?" tanyaku heran sambil mengambil Shiro-chan.

Len mengangkat bahu. "Tadi pagi gue udah hopeless, Rin. Gue pikir gue gak akan bisa ke rumah lo," jelasnya. "Tiba-tiba Shiro-chan muncul di rumah gue. Gue berusaha nangkep, tapi dia lari. Akhirnya, gue sampai di sini dan ngebaca papan nama keluarga lo di depan."

Aku tersenyum. "Lo menang."

Len mengangguk. "Jadi? Jawaban lo?"

"Gue gak bisa bilang gak suka sama lo," jawabku. "Jadi, jawabannya iya."

"Apa? Gak kedengeran, Rin."

Aku menghela napas. "Gue bilang, gue terima!"

"Kurang keras~" katanya dengan nada jahil.

"Iseng!" ujarku sambil mendorong pelan bahunya. Len tertawa lalu merangkulku. Kami tertawa bersama. Shiro-chan mengeong-ngeong bahagia di pelukanku.

Yah, terima kasih Shiro-chan, deh.


FIN


Thanks God, akhirnya FF ini beres juga!

Akhirnya emang rada geje, Rey minta maaf yang sebesar-besarnya T^T

Mind to review?~