"Siapa saja! Tolong aku! Adakah yang mendengarku? Tasukete kudasai!"
.
.
.
"The Day I Saw You"
Chapter 2
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki
Rated : T
Pairing : AkaKuro
Warning: OOC, possible typo(s) and many more.
.
.
By : onoderabun
.
.
Kuroko menatap kosong langit siang yang terbentang luas dari jendela kamar apartemennya. Matahari hari ini cukup terik sehingga cahayanya bisa sampai ke kamar Kuroko. Angin siang yang sepoi-sepoi berdesir di dekat telinganya, seakan-akan berbisik pada Kuroko untuk tidak melakukan apapun. Rambut Baby Blue-nya pun ikut menari-nari mengikuti arah angin bertiup.
Benar saja, Kuroko sudah malas untuk melakukan aktivitasnya di Minggu siang itu. Seakan-akan ia membawa tiga karung beras sekaligus di atas punggungnya sehingga ia malas untuk berbuat hal yang lain. Bahkan, ia hanya bisa bengong dari tadi. Ponselnya pun berdering hingga membawanya lagi ke alam kesadaran. Dengan cepat, ia mengangkat telepon itu.
[Tetsu-kun! Kamu sudah di mana? Aku dan Ki-chan sudah menunggu kalian di kafe nih! Kalian lama sekali!] ucap suara familiar di seberang sana yang tak lain adalah Momoi.
"Gomen. Aku masih di apartemen. Eh? Kalian katamu? Memangnya aku dan siapa yang belum datang?"
[Ya, kamu dan Aka-chan!]
Tenggorokan Kuroko tercekat saat mendengar nama itu keluar dari mulut Momoi. Ia pun terdiam sesaat karena tak tahu harus memasang tampang apa saat bertemu dengannya nanti di sana.
[Tetsu-kun?]
"…Aku akan segera sampai dalam waktu dua puluh menit ke sana, Momoi-san. Tunggu saja ya," kata Kuroko akhirnya.
[Un! Kiyotsukete ne, Tetsu-kun!]
Kuroko pun mematikan telepon ini, tapi tatapannya tertahan sesaat saat ia melihat sesuatu di layar ponselnya.
'Seminggu lagi ya,' batin Kuroko.
Ia pun menutup ponselnya dan bergegas keluar dari ruang apartemennya. Ia menaiki lift dan menekan tombol lantai satu. Ia sempat merogoh-rogoh isi tasnya, namun lama-lama ia mengaduknya tak beraturan karena tak menemukan barang yang paling penting dari semua barang di situ.
"Laporan yang sudah setengah jadi kemarin ketinggalan," gumam Kuroko sendiri lalu segera menekan tombol lantai tujuh lagi, menuju ke lantai di mana ruang apartemennya berada.
Pintu lift pun terbuka. Kuroko yang tadinya masih merogoh-rogoh tas pun akhirnya menegadahkan kepalanya dan matanya melebar kembali karena menangkap sebuah sosok di depan pintu lift.
Seorang laki-laki yang tinggi badannya tak jauh berbeda dengannya. Sebuah t-shirt putihyang ditutupi cardigan berwarna hitam, serta celana Chino berwarna hitam dan classic sneakers berwarna biru denim sehingga gaya sosok itu terlihat sangat kasual. Tak lupa, yang paling dikenal Kuroko dari sosok itu adalah rambut Crimson-nya yang mempunyai warna yang sama dengan bola matanya. Oh sungguh, Kuroko merasa laki-laki itu terlihat sangat keren hari ini.
"Tetsuya?"
"Akashi-kun?"
Mereka pun kini saling berhadapan dan saling memandang satu sama lain dengan perasaan bingung.
"Kau sedang apa di sini, Akashi-kun?" tanya Kuroko akhirnya setelah mengumpulkan keberanian untuk bertanya sambil keluar dari lift itu.
"Tentu saja aku mau bertemu kau dan yang lainnya. Kediamanku di sini," jawab Akashi spontan.
Mata Kuroko lagi-lagi melebar. Ia tak percaya bahwa Akashi juga tinggal di sini. Bahkan, ia bertemu dengan Akashi di lantai tujuh, lantai yang sama dengan lantai ruang apartemennya. Apa Akashi juga tinggal di lantai tujuh?
"Ano, Akashi-kun. Nomor ruang apartemen Akashi-kun berapa?" tanya Kuroko lagi.
"718,"
Kuroko menatap Akashi tak percaya. Ya, dia sangat tak percaya! Ruang apartemen Akashi hanya berbeda tiga kamar dengan ruang apartemen miliknya! Sungguh, ini merupakan kenyataan yang ia tak bisa percaya namun harus ia percayai!
"I-ini kebetulan yang sangat luar biasa ya, Akashi-kun. Aku…tidak menduga kita akan tinggal di satu apartemen," ucap Kuroko sambil mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"Kebetulan?"
Pertanyaan Akashi membuat pandangannya kembali bergeser ke wajah Akashi.
"Apa…ada yang salah, Akashi-kun?" tanya Kuroko gugup.
"Ya. Kata 'kebetulan' itu menurutku salah," jawab Akashi singkat sambil tersenyum simpul, lalu melipat kedua tangannya.
"Eh?"
"Sebaiknya kau cepat Tetsuya. Kau ketinggalan sesuatu kan?" ucap Akashi membuat Kuroko teringat akan kepentingannya saat itu.
"Be-benar. Aku permisi dulu Akashi-kun," kata Kuroko sambil hendak berlari menuju pintu kamar apartemennya, meninggalkan Akashi yang berdiri memandangnya.
'Mengapa ia bisa tahu kalau aku ketinggalan sesuatu?' pikir Kuroko sambil membuka pintu kamar apartemennya dan mengambil laporannya yang tergeletak di meja makan begitu saja.
Ia pun segera menutup kembali pintu kamar apartemennya dan mendapati Akashi berdiri dan bersandar di tembok sebelah pintu kamar apartemennya dengan tangan yang terlipat di bawah dadanya. Kuroko kaget, namun di hatinya yang paling kecil, dia merasa cukup senang akan hal itu.
"Akashi-kun, kau menungguku…?" tanya Kuroko grogi, biarpun ekspresinya tidak terlihat grogi.
"Tentu saja. Tujuan kita sama kan? Lebih baik kita bersama-sama ke sana," tanya Akashi sambil berdiri tegak dan membelakangi Kuroko.
"Ayo jalan,"
Kuroko pun mengekor Akashi yang berjalan lebih dulu darinya. Mereka pun masuk ke dalam lift dan terjadilah keheningan yang cukup panjang. Kuroko merasa gugup. Ia tak tahu harus bicara apa pada Akashi. Ia hanya bisa memandangi Akashi yang berdiri di sampingnya. Jantungnya berdebar dan ia berharap Akashi tak mendengarnya.
Akashi memutar bola matanya dan mendapati Kuroko tersentak kaget lalu melempar pandangan ke arah lain dengan ronaan merah yang tipis di pipinya.
Tiba-tiba, Akashi menghadap ke Kuroko dan mendekatkan wajahnya pada Kuroko. Kuroko lantas makin kaget dan hanya bisa bergetar.
"Tetsuya…"
"A-Akashi-kun mau…mau apa…?" tanya Kuroko menatap Akashi tanpa berkedip.
"Diam sebentar Tetsuya,"
Kuroko langsung menutup matanya dengan cepat dan menunggu apa yang akan terjadi. Entah apa yang ia harapkan, ia hanya bisa menutup matanya sekarang. Jantungnya pun berdetak dengan sistem marathon dan napasnya tertahan.
.
.
.
.
Kuroko membuka matanya karena merasa tidak ada yang terjadi. Ia langsung menatap Akashi yang sudah berdiri di sampingnya seperti sebelumnya dan ia sepertinya memegangi sesuatu.
"Ada nasi di rambutmu. Kalau makan jangan berantakan," ucap Akashi setelah menyadari bahwa Kuroko sudah memandanginya.
"O-oh…gomen," balas Kuroko sedikit lega, lalu ia menghela napas.
Menghela napas kecewa.
'Eh? Kecewa? Kenapa aku merasa kecewa?'
Kuroko merasa heran pada dirinya sendiri. Untuk apa ia merasa kecewa? Mengapa ia kecewa hanya karena Akashi mengambil sebutir nasi di rambutnya?
"Sampai kapan kau mau berdiri di situ, Tetsuya?"
Pertanyaan Akashi membuat Kuroko tersentak kaget dan menyadari bahwa Akashi sudah berdiri di depan lift menunggu Kuroko keluar dari situ. Kuroko pun berjalan cepat dan berusaha berjalan di samping Akashi.
"Jadi…kita akan naik apa, Akashi-kun?" tanya Kuroko.
"Kau biasanya naik apa?" tanya Akashi kembali.
"Aku biasanya naik sepeda kalau ke mana-mana. Sepedaku ada di basement sini," ungkap Kuroko tanpa berpikir panjang.
Akashi pun menatap Kuroko sekilas.
"Ambil sepedamu,"
"Eh?"
"Ambil sepedamu. Kutunggu kau di sini. Lumayan kan kita menghemat biaya dan sehat tentunya," ujar Akashi sambil melipat tangannya lagi.
"H-hai," Kuroko berjalan cepat ke basement dan mengambil sepedanya tanpa menghabiskan waktu yang lama. Kemudian ia ke depan apartemen, tempat di mana Akashi menunggunya.
"Omatase shimashita," ucap Kuroko sambil turun dari sepedanya.
"Duduklah di kursi boncengan. Aku yang akan memboncengmu," perintah Akashi pada Kuroko.
Kuroko ingin mengelak karena tak enak hati, tapi ia mengurungkan niatnya karena Akashi sudah menaiki kursi depan duluan. Akhirnya, ia pun naik ke kursi boncengan dan Akashi mulai mengayuh sepeda tersebut. Kuroko tak pernah dibonceng sebelumnya, makanya ia memegangi baju Akashi erat. Ia takut terjatuh juga.
Kuroko memandang punggung Akashi yang sedang mengayuh sepedanya melaju. Rambut Crimson-nya yang melambai-lambai ditiup angin, pundaknya yang bidang dan masih banyak lagi keindahan yang Kuroko lihat dari Akashi.
Ia pun menatap messenger bag milik Akashi yang menggantung di punggungnya. Tidak, bukan ke tasnya. Tapi ke bagian yang lebih spesifiknya lagi. Pandangan Kuroko menatap sebuah gantungan kecil yang menggantung di tas Akashi.
Cring. Cring.
Gantungan itu mempunyai dua bel kerincing yang kecil disertai pita berwarna biru seperti warna rambutnya. Kuroko mengenal gantungan itu. Namun, ia tak terlalu ingat. Yang hanya ia ingat adalah…
Itu gantungan miliknya.
.
.
Mengapa gantungan itu ada di Akashi?
Heyyo minna o/
Gatau nih tumben2an aku bisa apdet fic kurang lebih 1 minggu, biasanya suka lama2 /?
Mungkin karena pairingnya akakuro fufufu e u e
Sekarang aku bakal membalas review teman2 yang ada di kotak review /o/ tapi aku cuma bales yang menurutku perlu dibales doang, tapi bukan artinya aku ga menghargai review kalian2 yang ga aku bales loh. Aku menghargai review kalian semua. Jangan sakit hati duluan ya o/
loliconkawaii: mueheheheh…akan saya pikirkan /plak/ maksudnya saya usahakan deh _(;3 makasih reviewnya ya!~
Alenta93: iyaa aku salah uw,u aku bermaksud nulis 'zannen desu' tapi ingetnya malah 'zenzen desu' /nangis bombay/ maksudnya 'sayang sekali' kok. maafkan kesalahan author nista ini, terima kasih atas reviewmu. Saya akan belajar dari kegagalan!
Nah, segitu aja ya. Yang namanya ga ada di situ, aku minta maaf banget. Bukan artinya aku pilih kasih kok. Aku seneng bisa menerima review2 kalian, makanya jangan bosan review ya _(;3 dan makasih banyak buat review dan dukungan kalian semua sebelumnya! Arigatou gozaimasu! /nunduk/
Oke, untuk chapter 3 tunggu dengan sabar dari author nista ini ya
Jangan lupa review lagi biarpun udah review, nanti dilempar gunting ama Akashi loh /gak
Jaa ne o/
