"Eh? Siapa kamu? Untuk apa kamu mendatangi aku?"

.

.

.

"The Day I Saw You"

Chapter 3

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Rated : T

Pairing : AkaKuro

Warning: OOC, possible typo(s) and many more.

.

.

By : onoderabun

.

.

"Tetsu-kuuuun~ Aka-chaaan~"

Kuroko memandang gadis berambut merah jambu dan laki-laki bersurai pirang sedang duduk bersama di satu meja menyisakan dua kursi kosong khusus dirinya dan Akashi. Gadis itu sedang melambai-lambai ke arah mereka berdua sedangkan laki-laki di sampingnya sedang menelepon seseorang, entah siapa itu.

"Mou! Kalian berdua lama sekali! Aku dan Ki-chan lelah menunggu tau!" keluh Momoi sambil menggembungkan pipinya memandang Kuroko.

"Gomen. Tadi ada yang menghambat kami sebelum berangkat ke sini," ungkap Kuroko sambil memandang Akashi sekilas.

"Menghambat? Oh iya, kenapa Tetsu-kun dan Aka-chan bisa datang berbarengan? Apa kalian bertemu di jalan? Bahkan Aka-chan membonceng Tetsu-kun! Itu lucu sekali hihihi~" kata Momoi sambil cekikikan sendiri.

"Itu—"

"Kami tinggal di apartemen yang sama," potong Akashi lebih cepat sebelum Kuroko menyelesaikan penjelasannya.

"Di apartemen yang sama?!" sahut Kise kaget tiba-tiba, sehabis selesai menelepon.

"Ya…sepertinya itu kebetulan. Iya kan, Akashi-kun?" ujar Kuroko sambil memberi tatapan isyarat kepada Akashi untuk mengiyakannya, biarpun ia belum tahu itu memang kebetulan atau bukan.

"Ya," jawab Akashi singkat akhirnya, membuat Kuroko lega.

"Wah, dunia memang sempit ya-ssu," ucap Kise menunjukkan cengiran khasnya.

"Sudah! Sudah! Kita ke sini mau kerja kelompok! Ki-chan, keluarkan laptopmu! Tetsu-kun, coba aku lihat laporanmu! Aka-chan, aku sudah menyuruhmu mencari beberapa media mengenai budaya kita kan? Coba pinjam flashdisk-mu!" perintah Momoi karena ia sudah merasa gatal akan perbincangan mereka yang hanya menghabiskan waktu saja.

Semuanya pun mulai sibuk dengan tugas mereka, terkecuali Kuroko. Dia disibuki oleh pikirannya sendiri yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas mereka.

.

.

.

"Kurokocchi kenal orang berambut merah itu? Akashi kan namanya?" ujar Kise kaget yang tadinya menopang dagunya dengan punggung tangannya.

"Yup! Tetsu-kun baru saja bilang! Iya kan, Tetsu-kun?" kata Momoi memastikan sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Y-ya, kami bertemu di perpustakaan kota dan ternyata ia baru pindah dari Australia dan mungkin secara kebetulan kami bertemu lagi di kampus ini, bahkan di kelas yang sama pula," jelas Kuroko sambil masih menatap Akashi tak percaya, yang kini telah duduk di barisan kedua dari barisannya di depan.

"Bisa begitu ya," komentar Kise sambil ikut menatap Akashi.

"Oh, saya baru ingat. Akashi kan baru pindah ke kelas ini dan belum mendapat kelompok untuk tugas budaya kita. Siapa yang mau memasukkan Akashi ke dalam grup?" tanya dosen tak lama setelah itu.

Kuroko ragu untuk mengangkat tangannya. Setelah ia sejenak berpikir, mungkin lebih baik Akashi mencari grup lain saja. Ia berhak mendapatkan yang lebih baik daripada grupnya.

"Masuk grup kami saja, pak!" ujar Kise tiba-tiba sambil mengangkat tangannya terlebih dahulu.

"..Kise-kun?" mata Kuroko melebar memandang sahabat pirangnya itu yang kini membuatnya terkejut tak main.

"Hmm…baiklah. Akashi, kamu masuk kelompok mereka ya. Mereka akan menjelaskan mengenai tugasnya juga nanti. Mengerti, Akashi?" tanya dosen itu setelah berpikir sejenak.

"Baik pak," jawab Akashi sesudahnya.

"Baiklah, buka buku hala—"

.

.

.

"…-kun…Tetsu-kun!"

Kuroko tersentak mendengar seruan Momoi yang mengagetkannya. Ia pun langsung melempar pandangannya ke Momoi, yang duduk di sebelah Kise yang sedang memperagakan pose mengetik dan di sampingnya ada Akashi yang kini tengah menatapnya. Tidak, bukan hanya Akashi yang menatapnya, tapi Kise dan Momoi pun juga.

"Mou, Tetsu-kun! Bantu kami dong! Jangan hanya bengong seperti itu!" keluh Momoi lagi dengan nada centilnya.

"Hai. Gomen," jawab Kuroko sambil berdiri dan berdiri di tengah-tengah mereka untuk melihat ke layar laptop Kise dan ikut menyusun presentasi mereka.

Tanpa ada yang menyadari, sepasang mata Heterochromia menatap Kuroko lekat. Seakan-akan ia mengetahui apa yang membuat Kuroko bengong barusan. Atau ia memang tahu?


"Fuaah…akhirnya selesai juga-ssu! Aku sangat bersyukur kita bisa menyelesaikannya tanpa sehari!" ujar Kise sambil menarik tangannya ke atas sambil bernapas lega, lalu membereskan laptopnya.

"Iya, semuanya berkat Aka-chan! Semuanya jadi cepat! Biasanya kita kan kerjanya lama hehe," balas Momoi sambil tertawa pelan.

"Aku juga bersyukur. Arigatou Akashi-kun," kata Kuroko juga pada Akashi yang kini sedang menikmati secangkir kopi yang ia pesan.

"Lebih baik cepat mengerjakan daripada hanya menghabiskan waktu yang tersisa begitu saja," jawab Akashi yang masih menyeruput kopinya.

"Nah, kita tinggal membagi-bagi bagian presentasi saja-ssu! Tapi karena kita sudah lelah, bagi-baginya besok saja ya! Nanti kalau sudah membagi bagian presentasi kita, kalian latihan ya, biar tidak gagap di depan nanti!" ucap Kise panjang lebar.

"Tetsu-kun! Kamu juga harus latihan dengan suara yang keras! Biar dosen dan teman-teman menyadari kehadiran kamu loh," saran Momoi pada Kuroko.

"Hai. Ganbarimasu," jawab Kuroko.

"Bagaimana kalau sekarang kita main? Rasanya aku butuh sesuatu untuk menghibur-ssu," sahut Kise.

"Minggu depan saja sehabis presentasi, kalau sekarang kita terlalu lelah tau! Lagipula ini juga sudah terlalu telat. Taman bermain juga sebentar lagi sudah mau tutup," ujar Momoi.

"Eh…iya juga sih. Bagaimana kalau kita ke taman bermain? Aku rasa itu adalah tempat terbagus untuk menghilangkan rasa jenuh," saran Kise dengan ceria.

"Ide bagus juga tuh!" puji Momoi.

"Hehee Momoicchi sudah setuju-ssu! Kurokocchi dan Akashicchi ikut tidak minggu depan?" tanya Kise pada Kuroko dan Akashi yang dari tadi hanya menatap mereka berdua.

Kuroko menatap Akashi sekilas, lalu ia kembali menatap Kise.

"Aku ikut," jawab Kuroko.

"Kalau Akashicchi ikut tidak?" tanya Kise lagi.

"…baiklah. Aku juga ikut. Sepertinya aku tidak ada jadwal di hari itu," jawab Akashi beberapa detik kemudian, membuat mata Kuroko melebar tak percaya dan hati kecilnya merasa ia sangat senang akan hal itu.

"Yosh!~" Momoi pun mengepalkan tangannya ke udara dengan rasa bersemangat, diikuti oleh Kise beberapa detik kemudian.

"Kalau begitu, kami pulang dulu," kata Akashi sambil berdiri sesudah menghabiskan kopinya, melihat ke arah Kuroko sekilas.

"…ya, kami sudah mau pulang. Nanti kemalaman," sambung Kuroko.

"Eeh? Sudah mau pulang ya? Baiklah, kalian berdua hati-hati di jalan ya," ucap Momoi pada Akashi dan Kuroko.

"Terima kasih Momoi-san," balas Kuroko sambil sedikit tersenyum padanya, membuat Momoi hampir melayang-layang melihatnya.

"Enaknya dibonceng Tetsu-kun. Kapan ya aku dibonceng oleh Tetsu-kun?" tanya Momoi berandai-andai.

"Nanti kasihan Kurokocchi. Momoicchi kan lebih berat daripada Akashicchi-ssu," kata Kise sambil menunjukkan cengiran usil.

"Apa katamu, Ki-chaaaan!" Momoi pun mulai naik darah dan mengejar Kise hingga sosok mereka berdua hilang di pandangan Kuroko dan Akashi.

"Sudah saatnya kita pergi kan?" tanya Akashi di belakang Kuroko.

"Ah iya," Kuroko dan Akashi pun berjalan ke area parkir di mana sepeda Kuroko terparkir.

Akashi pun bersedia membonceng Kuroko lagi. Dia beralasan kalau ia tak biasa dibonceng. Sebenarnya Kuroko juga, namun karena Akashi yang meminta, mau tak mau ia harus dibonceng.

Selama di perjalanan, Akashi dan Kuroko hanya terdiam. Tak ada satupun dari mereka yang mengangkat topik pembicaraan. Kuroko sendiri sibuk dengan pikirannya.

Cring. Cring.

Kuroko masih menatap gantungan kerincingan yang menggantung manis di tas Akashi. Benaknya masih penuh dengan keheranan mengenai dari mana Akashi mendapatkan gantungan itu.

Apa pernah ia jatuhkan dan Akashi memungutnya?

Ah, tidak. Akashi baru pindah kemarin. Itu artinya ia baru kali ini bertemu dengannya. Gantungan itu juga sudah hilang beberapa tahun yang lalu. Bahkan Kuroko tak ingat ia mempunyai gantungan seperti itu sebelumnya.

Tiba-tiba, sepeda mereka melewati gundukan batu dan membuat keseimbangan Kuroko hilang.

"Huaah," Kuroko langsung memeluk Akashi tanpa ia sadar, takut ia akan jatuh dari sepeda.

"Ah, maaf Akashi-kun. Aku tidak sengaja," ujar Kuroko sambil hendak melepaskan pelukannya.

Tapi, tangan kekar Akashi meraih tangan Kuroko dan menaruh di perutnya.

"Lebih baik begini. Supaya kau tidak jatuh. Bahaya kan," perintah Akashi hingga membuat Kuroko merona merah.

"Te-terima kasih. Maaf jadi mengkhawatirkan," balas Kuroko sambil menutupi mukanya dengan menunduk dan menempelkan dahinya ke punggung Akashi.

"Bukan apa-apa,"

Mereka pun melaju tanpa berkata-kata sedikitpun. Namun, Kuroko nampaknya sangat menikmati momen mereka. Ia bisa memeluk erat Akashi. Rasanya hangat dan nyaman. Rasanya ia tak ingin melepaskannya dan berharap waktu berhenti berputar. Ia juga tak peduli dengan orang yang ada di sekitar mereka. Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas di otaknya.

'Sepertinya Akashi sedang di mood yang bagus. Aku…bisa bertanya padanya sekarang,' batin Kuroko sambil mengumpulkan keberaniannya.

"Ano…Akashi-kun,"

"Hm?"

"B-boleh…aku bertanya sesuatu?"

"..boleh. Apa itu?"

"Itu…gantungan yang menggantung di tasmu itu, dari mana kau mendapatkannya?" tanya Kuroko mulai lega karena akhirnya ia bisa menanyakan hal itu.

Akashi nampaknya kaget hingga ia mengerem sepeda itu dan membuat mereka berhenti mendadak. Kuroko pun terkejut akan hal itu.

"…Akashi-kun?" Kuroko bingung dengan perbuatan Akashi barusan.

Akashi tak menjawab. Ia hanya menatap ke bawah dengan tatapan yang sama sekali tak santai. Sepertinya Akashi sedang panik, tapi juga sedang bingung. Kuroko pun ikut terdiam, karena ia tak bisa menatap wajah Akashi dari belakang dan karena Akashi masih diam tak menjawab pertanyaannya. Bahkan ia juga tidak berani mengangkat bicara lagi.

'Ada apa dengan Akashi-kun?'


Akhirnya selesai juga /tepar/

Hehe aku abis acara sekolah di lembang, jadi capek banget

Tapi aku malah waktu di sana tangan gatel gitu pengen nulis fic, jadi pulang2 langsung buat deh

Tapi tau2 wifi rumah mati gara ketumpahan jus nanas, jadinya telat apdet orz gomen ya minna~

Kayaknya aku dapet kutukannya miyaji yah /ha

Yang udah review, makasih banyak ya! Aku makin seneng ngeliat ada yang masih setia mau ngereview ficku _(:3

Untuk chapter selanjutnya, tunggu aja pake perasaan. Okeh? /wink wink /udah

Jangan lupa review ya. Bubaaai~ o/

P.S: chapter 4 bakal aku apdet besok ato lusa. sebenernya ini udah selese dari kapan tau tapi mau bikin readers penasaran jadi aku tahan ga apdet dulu e u e