"Kamu…akan menjadi pahlawanku?"

.

.

.

"The Day I Saw You"

Chapter 4

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Rated : T

Pairing : AkaKuro

Warning: OOC, possible typo(s) and many more.

.

.

By : onoderabun

.

.

"Memangnya kenapa Tetsuya? Apa kau pernah melihat gantungan kunci seperti ini?" tanya Akashi mulai mengayuh lagi.

"Eh? Se-sebenarnya aku bukan melihat, justru aku malah merasa mempunyainya dulu. Namun kemudian hilang sampai sekarang. Tapi, aku juga tak tahu dapat dari mana sih waktu itu dan kapan aku mempunyai," ungkap Kuroko sambil mengingat-ingat.

"Kau ini. Masa kecilmu jangan dilupakan begitu saja. Lagipula, memangnya gantungan seperti ini hanya ada satu saja?" tanya Akashi lagi tanpa mengacuhkan pandangan Kuroko padanya.

"Benar juga. Yang seperti itu pasti banyak ya. Gomen," kata Kuroko sambil menyenderkan kepalanya ke punggung Akashi, tanpa disadari sambil menguap lebar.

Akashi hanya diam, fokus terhadap apa yang ada di depannya. Namun, di samping semua itu, ia cukup kuatir dengan Kuroko yang sepertinya sudah terkantuk-kantuk di belakang. Akhirnya, ia pun membiarkannya saja namun ia berharap Kuroko tak akan melepaskan tangannya itu.

Setelah beberapa lama kemudian, mereka pun memasuki area parkir apartemen mereka dan memarkirkan sepedanya. Namun, Akashi tidak bisa turun dari sepedanya karena Kuroko tertidur pulas dalam keadaan tangannya yang memeluk erat dirinya.

'Kelihatannya aku salah besar jika berharap supaya ia tidak melepaskan pelukannya,' batin Akashi.

Ia pun melepaskan tangan Kuroko dari tubuhnya, lalu membangunkan Kuroko.

"Tetsuya, bangunlah. Tetsuya,"

Siiiing…..

Tidak ada suara. Tidak ada balasan. Kuroko masih saja tertidur pulas di hadapan Akashi. Diam-diam, Akashi terus memperhatikan wajah tidur Kuroko.

'Kawaii,' pikir Akashi sambil mengelus pipi Kuroko yang putih itu.

'Tapi sampai kapan ia akan tertidur seperti ini?' sambungnya sambil berusaha membangunkan Kuroko lagi.

Namun, usaha yang ia lakukan tak membuahkan hasil sama sekali. Akashi pun menghela napas, menandakan menyerah dengan kekuatan tidur Kuroko yang sangat kuat. Ia pun mengalungkan salah satu lengan Kuroko di lehernya, lalu berjalan menuju lift.

Ia menekan tombol ke atas. Beberapa lama kemudian, pintu lift terbuka lalu Akashi masuk dan menekan tombol tujuh. Ia pun terus memperhatikan wajah tidur Kuroko, yang kemudian membuatnya ingat akan sesuatu.

"Di mana Tetsuya menyimpan kunci kamarnya?" gumam Akashi pada dirinya sendiri sambil berusaha meraih tas Kuroko dan mulai merogoh-rogoh isi tas Kuroko hanya dengan satu tangan karena tangan satunya memegang tubuh Kuroko dan tentunya dengan susah payah.

'Terlalu banyak kantung di dalam tas ini. Rasanya susah sekali menemukannya,' ujar Akashi dalam hati.

Kemudian, seseorang pun masuk ke dalam lift itu dan Akashi langsung berlagak seperti biasa dan cuek, takut disangka yang tidak-tidak oleh orang itu. Lagipula, Akashi menyerah dengan isi tas Kuroko yang terlalu banyak mempunyai tempat yang berselak-beluk hingga membuat tangannya sempat kram.

Orang itu pun keluar lebih dulu di lantai enam. Akashi menghela napas bukan karena orang itu sudah keluar duluan, tapi karena ia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan karena situasinya sudah seperti ini.

Ting.

Pintu lift pun terbuka di lantai tujuh. Akashi menggiring Kuroko ke pintu kamar apartemennya. Ia membuka kamar apartemennya dan masuk. Ia langsung menaruh tasnya dan tas Kuroko di atas meja makan dan menaruh Kuroko di tempat tidurnya.

"Hah. Biarpun badanmu kecil seperti ini, kau berat juga Tetsuya," sergah Akashi sambil mengebaskan pakaiannya.

Namun, tatapan dari matanya itu tak bisa lepas dari pandangan wajah tidur Kuroko. Ia mulai melayangkan pikirannya, tapi langsung ia tepis begitu saja dan berjalan keluar kamar. Namun ia kembali lagi untuk menyelimuti Kuroko dan membelai lembut rambutnya.

"Tetsuya…apa kamu mampu menanggung beban hidupmu nantinya?" bisiknya pelan sambil menatap wajah Kuroko dengan penuh arti.

Ia pun berdiri, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang tengah dan memulai aktivitasnya di situ.


Kuroko membuka matanya yang berat secara perlahan-lahan, membiarkan sinar kembali memasuki matanya lagi. Ia sempat mengerjap-ngerjap menatap langit-langit kamar, kemudian melihat sekelilingnya.

"Ini…bukan kamarku," sadar Kuroko sambil menatap tubuhnya

Oh, ia masih berpakaian lengkap. Ia pun bersyukur atas semua itu melalui helaan napasnya. Tunggu, memangnya kenapa kalau ia tak berpakaian lengkap? Lagi-lagi ia menghela napas karena ia sudah berpikiran yang tidak-tidak.

"Apa mimpimu indah, Tetsuya?"

Suara dari ambang pintu kamar itu mengangetkan Kuroko dan spontan menengok ke sumber suara itu.

"Akashi-kun,"

"Kau itu merepotkan ya Tetsuya," ungkap Akashi sambil membawa dua gelas mug yang berisikan minuman hangat, salah satunya disodorkan pada Kuroko.

"Minumlah,"

"Apa ini?" tanya Kuroko sambil menerima gelas itu dengan hati-hati.

"Susu panas. Supaya perutmu hangat. Daritadi kita kan kena angin," balas Akashi, kemudian ia ikut menyeruput susunya.

'Tidak kuduga Akashi yang kelihatan sangat dewasa ini masih minum susu,' pikir Kuroko memandang Akashi sambil meminum susu panasnya.

Akashi pun menyadari bahwa Kuroko terus memandanginya. Matanya bergeser ke wajah Kuroko yang langsung kewalahan meminum susunya.

"Uff…panas…" Kuroko menjulurkan lidahnya yang melepuh karena ia meneguk susunya terlalu cepat.

"Itu akibatnya kalau kau memikirkan hal yang lain sambil meminum yang panas-panas," ucap Akashi sambil berjalan keluar kamar.

"Kalau kau mau pulang, pulang saja ya. Aku mau keluar sebentar," lanjutnya sampai sosoknya menghilang di balik pintu kamarnya.

Tapi sebelum itu, Akashi mundur lagi dan menengok ke arah Kuroko sambil berkata…

"Betulkan rambutmu itu. Aku hampir tidak bisa menahan tawa melihatnya," kemudian ia pun pergi lagi.

Kuroko pun bengong menatapi pintu tersebut. Barulah ia sadar bahwa sekarang ia berada di kamar apartemen Akashi. Ia tadi tertidur pulas di sepeda saat perjalanan pulang sehingga mau tak mau, Akashi membawanya ke sini. Ia juga baru sadar bawah rambutnya kumat lagi ketika ia baru bangun tidur. Ia pun merapikannya.

"Aku memang suka kewalahan kalau mengantuk. Aku jadi merasa tidak enak pada Akashi-kun karena sudah merepotkannya," gumam Kuroko pada dirinya sendiri.

Ia pun meneguk habis susu tersebut. Lalu berjalan keluar kamar. Dilihatnya sekeliling itu dengan perasaan antusias, lalu matanya menangkap piring cucian yang masih tergeletak begitu saja.

'Mungkin aku bisa berguna untuk Akashi-kun,' kata Kuroko dalam batinnya sambil melipat lengan bajunya dan mulai mencuci piring-piring tersebut.

Tak hanya itu, bahkan ia membersihkan debu dan menyedot debu sampai di sudut-sudutnya selagi Akashi masih belum kembali. Penyedot debunya pun menabrak sebuah laci yang pintunya setengah terbuka hingga menjatuhkan satu buku kecil yang berisikan kertas-kertas kecil yang ikut keluar berhamburan.

"Ah, gawat. Aku harus membereskannya," ucap Kuroko pada dirinya sendiri sambil berjongkok dan membereskan semuanya.

Tapi, Kuroko pun terdiam menatap lembar-lembaran kertas kecil yang ia pegang sekarang. Ternyata…itu foto-foto Akashi saat ia masih kecil!

"Akashi-kun imut sekali…berbeda dengan yang sekarang," ungkap Kuroko sambil menatap foto itu satu per satu. Mulai dari Akashi baru lahir, saat ia belajar merangkak, belajar berdiri dan berjalan, tertawa sambil menunjukkan giginya yang masih belum lengkap, saat masuk playgroup dan taman bermain kanak-kanak, dan masih banyak lagi. Kuroko hanya bisa tersenyum memandang semua foto itu.

Namun, ada satu foto yang membuatnya terpaku. Foto itu menggambarkan Akashi yang kelihatannya masih berada di sekolah dasar, berada di ujung seluncuran dengan wajah ceria dan cengiran yang lebar. Tapi yang membuat Kuroko terpaku bukan Akashi itu, yang ia maksud adalah seorang anak yang bersama dengan Akashi di foto itu namun anak masih itu berdiri di atas seluncuran itu sambil tersenyum memandang kamera.

Di balik foto itu, ada lagi foto di mana Akashi masih bersama anak itu. Tapi kali ini ekspresi mereka berbeda jauh dengan foto yang sebelumnya. Foto itu terlihat sangat suram. Mereka berdua memakai baju hitam. Wajah mereka terlihat sangat sedih dan malang. Mereka sedang menangis. Ada Akashi memegang pundak anak itu yang menangis lebih parah darinya. Anak itu berlutut di dekat dua buah peti, tak lupa dengan balutan di kepalanya.

Badannya yang mungil, bersurai Baby Blue, berbola mata Cyan…

"Tetsuya,"

Kuroko tersentak kaget dan langsung mendongak ke belakang, di mana Akashi berdiri dengan kantung belanjaan yang berada di tangannya sekarang. Wajahnya penuh dengan amarah dan ia menggenggam kantung belanjaan itu lebih erat.

"Tetsuya. Pulanglah sekarang,"

"Tapi—"

"PULANG SEKARANG!"

Kuroko tersentak lagi mendengar seruan Akashi yang membuatnya takut bukan main. Baru kali ini ia melihat Akashi semarah itu. Ia pun segera mengambil tasnya dan berjalan keluar ke ruang apartemennya tanpa memandang Akashi lagi.

Ia segera masuk ke ruang apartemennya, menguncinya dan langsung bersandar kemudian lama kelamaan ia merosot duduk. Ia memeluk lututnya dan menempelkan kepalanya di atas lututnya itu. Kini benaknya dipenuhi dengan sirkulasi kebingungan atas apa yang ia lihat sebelumnya. Juga muncul pertanyaan-pertanyaan yang tentunya tak bisa terjawab sekarang, yang terus berputar di dalam pikirannya itu.

'Foto apa itu? Kapan foto itu diambil? Siapa yang meninggal?'

.

.

.

'Bukankah anak yang bersama Akashi itu…adalah aku…?'


Noh kan bener apdetnya cepet, lagi rajin sih =w=)

Gue yakin sekarang para readers makin kebingungan abis baca chapter ini. Iya kan? Iya gak? /gak

Mau nanya? Tak diterima /dishoot midorima

Eh iya. Gue berencana munculin midorima di chapter selanjutnya nih h3h3 ama takao juga dong

Sama om dim alias aomine dan mukkun yang baru aja ultah tanggal 9 kemaren~

Yang udah review lagi makasih banyak ya o/ teruslah berkarya dalam kotak reviewkuuu~~~ /apasih

Oke, untuk chapter selanjutnya, tunggu pake perasaan aja. Sayangnya apdetnya ga bakal secepet chapter yang ini fufu~ /digeplak

Jangan lupa review lagi. Bubaaaiii~~~ o/