MNEMONIC © Joonseo-Han

K+

Multichapter

Romance, Hurt/Comfort, Family, Marriage life, Angst

Inspired by 10080 © EXObubz_ and Baby's Breath © Jindeul

Chanyeol-Park and Baekhyun-Byun, Rest of EXO member

Saat mereka terpisah, dan terpisah untuk yang kedua kalinya. Saat semua sudah terlambat, barulah dia menyadari, kehilangan bukan suatu hal yang mudah.

" 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13 …"

Mengingat dalam keterbatasan, dia berusaha meraba – raba dalam kegelapan pikirannya.

"Phi."


- Part Two -

[ 2 ]

Bunga bersemi.

Seperti saat mereka bertemu pertama kali dan saling mengikatkan diri pada kenyataan.

Penghujung bulan April.

Dan angin membawa lari aroma bunga Sakura yang mekar dengan sempurna.

Seolah menjadi cerita tersendiri akan sebuah acara pengikatan seumur hidup.

Dia memejamkan kedua matanya, menghirup udara yang seakan menjauh darinya, perutnya terasa aneh, bergejolak tak jelas dan itu cukup membuatnya agak sangsi akan peristiwa seumur hidupnya yang akan dikenang berharga. Dan keringat dingin mulai menapaki kedua tangannya. Dia menghembuskan nafas, terdengar sangat jelas.

Pria paruh baya disampingnya, menepuk tangannya, pria tua itu tersenyum "Tenanglah anakku.. "

Dan dia menganguk seiring dengan pintu gereja yang terbuka lebar dan menampakkan puluhan undangan yang ada dikursi jemaat.

.

.

.

.

.

"Aku bersedia."

Satu kalimat yang tegas mengalir darinya. Satu beban terlepas, dengan bukti kedua cincin pasangan yang melingkar dijari manis mereka. Bukti ikatan cinta mereka yang makin menjajaki hubungan yang serius.

Karena, pernikahan bukanlah untuk main – main.

Walaupun pada akhirnya tidak berdasarkan apapun dan tidak berlandaskan perasaan sama sekali.

.

.

.

.

.

"Kau baik – baik saja, kan?"

Baekhyun mendongak, mendapati si idiot sudah ada disampingnya; ralat, pemuda itu sudah sah menjadi suaminya kini. Tangannya melingkar dengan nyaman dipinggang Baekhyun "Ya, aku sedikit lelah." Ujarnya sambil memasang wajah kusut.

"Kau bisa istirahat.."

Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang akan menyentuh pipinya "Tentu saja. Apa kau bisa membangunkanku pukul lima tepat? Aku ada show yang harus aku hadiri.."

"Baiklah."

Tanpa berucap apapun lagi, Baekhyun segera undur diri dari segerombolan orang yang masih ada dihalaman belakang rumahnya; hadiah pernikahan dari Chanyeol. Dia bergegas menuju kedalam rumah, mengabaikan tatapan sendu dari Chanyeol.

.

.

.

.

.

Hari – hari hanya berjalan seperti itu – itu saja, tidak pernah saling bertemu kecuali hanya untuk hari Minggu. Seperti itu. Baekhyun akan berangkat pagi – pagi buta dan akan kembali saat tengah malam, atau mungkin malah dini hari. Sedangkan Chanyeol, pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu akan berangkat menuju perusahaan pimpinannya saat Baekhyun sudah tidak ada dirumah atau mendapati pemuda mungil itu masih bergelung dengan nyaman diranjang, dan pulang mendapati keadaan rumah masih gelap gulita.

Bulan Juli, pada musim panas yang begitu diharapkannya agar hubungannya dengan pasangannya menghangat. Dan itu hanya sekedar pengharapannya.

Dan satu yang diketahuinya.

"Baekhyun belum pulang.." Chanyeol meraba – raba dinding, sungguh dia mulai hapal dimana letak saklar lampu, karena kejadian seperti ini bukan sekali dua kali, sudah tiga bulan sejak dia menikah dengan Baekhyun, dan setiap dia pulang dari kantor, dia hanya menemukan rumahnya yang gelap gulita.

Chanyeol mendesah.

Dia membungkuk untuk melepas sepatunya dan meletakkannya dengan rapi dirak sepatu, ikut menata sepatu milik Baekhyun yang bercecer disana.

Chanyeol melanjutkan langkahnya, dia berhenti untuk menatap foto pernikahannya yang dipajang diruang tengah.

Keadaaan jauh berbeda dari yang ia kira selama ini, bagaimana dia mengarang semua yang diimpikannya, suatu imajinasi yang ia tuangkan dalam sebuah tulisannya; buku usang yang sekarang hanya tertumpuk dengan rapi dibawah map – map perkerjaan Chanyeol.

Saat dia mengira dia akan hidup bahagia dengan pemuda manis itu.

Saat dia mengira akan mendapatkan cinta dari pemuda itu.

Dia meremas blazer hitam yang digenggamnya, melampiaskan kekesalannya. Sesungguhnya, ada rasa sesal yang berkecamuk.

Perasaan yang selalu ia elu – elukan, kini menguap entah kemana.

Terdengar langkah kaki mendekat, Chanyeol berbalik, mendapati sosok Baekhyun berjalan sempoyongan dengan tangan yang bersender pada dinding, matanya merah, dan Chanyeol dapat mencium aroma minuman keras dari tubuh pemuda mungil itu.

"Baekhyun-ah, kau mabuk?" Chanyeol yang berniat ingin marah, entah kenapa malah bersikap khawatir terhadap pasangan hidupnya itu, dia berjalan mendekat dan mencoba menyentuh pundak Baekhyun, tapi sekali lagi Baekhyun mendorong Chanyeol menjauh; dan Chanyeol bersumpah ini kali Baekhyun bersikap kasar padanya.

Dia meringis kesakitan saat pinggangnya membentur pinggiran meja yang lancip, mengakibatkan vas bunga yang berisi bunga Tulip merah itu terjatuh kelantai, dan pecah berkeping - keping.

Baekhyun memegangi kepalanya yang terasa sakit, sungguh dia benar – benar ingin membenturkan kepalanya ke tembok.

"Baek, kau mabuk!" Chanyeol berteriak. Baru kali ini dia berteriak pada pemuda itu.

Baekhyun menghempaskan tangannya sendiri setelah mengacak surai-nya yang sekarang berwarna hitam dengan sedikit highlight merah bata "APA PEDULIMU, HAH?! DASAR BAJINGAN!" Baekhyun berteriak.

Chanyeol berdiri kaku di tempatnya, dia marah sekarang. Darahnya sudah naik keatas, tanpa berkata apapun Chanyeol mendekat kearah Baekhyun dan melayangkan tangannya kearah pipi Baekhyun.

Chanyeol menampar Baekhyun; untuk yang pertama kalinya.

Dan itu membuat kesadaran Baekhyun kembali, pemuda cantik itu memegangi pipinya yang terasa panas dan menatap Chanyeol dengan matanya yang membulat "K-kau menamparku?"

"Sung-sungguh, Baek. Aku benar – benar minta maaf."

"Apa masalahmu sebenarnya?"

"Oh ayolah, kita sedang sama – sama lelah. Dan kau pulang mabuk seperti ini. Maafkan aku…"

Hanya bantingan pintu terdengar keras menyebar diruangan tengah, meninggalkan seorang Park Chanyeol sendirian, diam – diam dia merutuki kebodohannya.

.

.

.

.

.

Park Chanyeol mengeliat saat merasakan sinar matahari menerpanya, tubuhnya benar – benar terasa sakit karena semalaman tidur disofa yang sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tinggi tubuhnya.

Dia membuka matanya yang berat untuk membuka, mengusap dahinya yang agak basah karena keringat. Musim panas benar – benar terasa panas saat malam hari, dan membuatnya harus bertelanjang dada, karena tidak ada pendingin udara disini.

Dia menegakkan tubuhnya, matanya berkeliling. Rumah terlihat lenggang. Dia mendesah "Sepertinya Baek sudah pergi .."

Dan aroma roti bakar mampir melewati hidungnya.

Chanyeol mengernyit, siapa yang sedang berada didapurnya?

Dia melangkah menuju dapur, dan mendapati pemuda mungil yang sempat bersi-tegang dengannya semalam tengah berkutat dengan pembuat kopi.

Dan justru ini membuat Chanyeol heran, kenapa Baekhyun ada dirumah. Ya ini memang hari Minggu. Dia libur, tapi Baekhyun belum tentu juga libur. Jadwal panggung pemuda itu sangat padat.

"Lebih baik kau segera duduk dan makan sarapanmu. Maaf, aku hanya membuatkan sarapan roti bakar. Tidak ada apapun dikulkas." Baekhyun sama sekali tidak menoleh, sibuk dengan cangkir kopinya.

Dia sibuk mencari botol tempat gula berada, tubuh kecilnya berjinjit untuk mengapai tempat kecil yang agak berada diatas.

Chanyeol tersenyum, dia berjalan perlahan kearah Baekhyun, menempatkan kedua tangannya dipinggang Baekhyun, dan membantunya mengangkat tubuh ringannya.

Begitu Baekhyun mendapatkan apa yang diinginkannya, Chanyeol segera menurunkan Baekhyun.

Pemuda mungil itu berbalik, dan langsung berhadapan dengan badan Chanyeol yang agak berbentuk kotak – kotak.

Baekhyun melotot dan langsung mendongak menatap Chanyeol "Kenapa kau sama sekali tidak berpakaian?"

"Maafkan aku untuk yang semalam.."

"Lupakan."

Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun, membuat si mungil itu memejamkan matanya, lalu kedua tangannya mengalung di leher Chanyeol, membuat si pemuda tinggi itu merunduk, Chanyeol hanya mengecup sekilas bibir merah Baekhyun "Selamat pagi, Park Baekhyun."

"Ya, pagi juga Tuan Park." Baekhyun sama sekali tidak bisa tersenyum, suaranya selalu sarat tanpa ekspresi.

.

.

.

.

.

Udara terasa makin panas walau jendela telah terbuka dan tirai – tirai berwarna putih bersih itu berkibar – kibar karena angin semilir musim panas.

Kedua orang itu hanya bisa melantunkan suara – suara yang makin membuat mereka tak kuasa menahan gejolak yang memburu.

Suara berderit khas ranjang makin melengkapi.

Baekhyun mengambil udara yang melintas didepannya satu – satu, seolah – olah tidak sanggup lagi bernafas. Dia memejamkan kedua matanya, menikmati setiap kenikmatan yang senantiasa menghujamnya. Dia membuka matanya, mendapati sosok suaminya – yang sekarang berambut pendek dan berwarna hitam; membuatnya makin terlihat tampan dan dewasa – yang tengah tersenyum padanya, Chanyeol terlihat bersimbah peluh sama sepertinya.

"Aku mencintaimu, Baek." Chanyeol berbisik tepat ditelinga Baekhyun, mengecup cupingnya dan membuat Baekhyun mengerang panjang.

Baekhyun sama sekali tidak menjawab, bibir merah mudanya hanya sibuk meracau akibat semua perlakuan Chanyeol.

Dan Chanyeol tidak peduli, baginya yang terpenting, dia sudah memiliki Baekhyun-nya.

.

.

.

.

.

" 1, 1, 2, 3, 5, 8 … "

"Berhentilah menghitung dan menulis deretan angka seperti itu. Kau terlihat begitu idiot."

Chanyeol mendongak, mendapati Baekhyun sudah memakai kemeja warna biru kumal yang kebesaran untuknya dan jemari lentiknya sudah memegang cangkir kopi dan piring yang berisi potongan – potongan apel.

"Minumlah … " Baekhyun meletakkan cangkir itu diatas meja, lalu dia menggulung lengan kemeja itu hingga sikunya. Dia mengangkat tubuhnya, memposisikan dirinya duduk diatas meja, tepat disamping kiri Chanyeol.

"Apa yang terjadi? Apa kepalamu terbentur, Baek?"

Si mungil hanya mendengus "Hanya ucapan terima kasih untuk pagi tadi.."

Baekhyun mengunyah potongan apel segar itu, tak lupa dia membaginya dengan Chanyeol "Kau tahu, kita seperti keluarga bahagia jika seperti ini.."

"Kau terlalu banyak menonton drama murahan, Yeol. Tidak ada yang namanya bahagia."

"Ada."

Baekhyun memutar bola matanya, malas. Dia malas merangkai kata untuk berdebat dengan pemuda tinggi itu "Dalam mimpimu, Park Chanyeol."

"Apa kau sama sekali tidak merasa bahagia hidup bersamaku?"

"Aku tidak punya hati , Yeol."

"Lalu alasan apa kau menikahiku?"

Baekhyun tertegun, tapi dengan pintar dia memasang wajah tanpa ekspresinya "Kau yang memintaku menikah denganmu.."

"Apa itu artinya kau hanya terpaksa?"

Baekhyun hanya berkedip, hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Chanyeol sekarang, matanya juga sejajar dengan iris coklat Chanyeol "Berhentilah membuat kita berseteru lagi."

"Tidak apa, jika itu berakhir dengan permintaan maaf dan seks seperti tadi pagi."

Jawaban Chanyeol membuat Baekhyun mengangkat alisnya sebelah "Ya, kau idiot."

"Kemarilah…" Baekhyun menarik leher Chanyeol dengan satu tangan, dengan bergetar, Baekhyun menempelkan bibirnya pada suaminya, mengecupnya sekilas.

"Aku harus berangkat bekerja.." Baekhyun mendorong pelan tubuh raksasa Chanyeol dan dalam sekali lompat, kakinya menapak pada lantai dingin.

"Istirahatlah. Besok kau harus segera bekerja. Dan ngomong – ngomong, aku sudah merapikan semua kemeja-mu dan celanamu, termasuk barang – barang untuk berkerja. Apa kau ini sama sekali tidak diurus istrimu?"

Chanyeol meringis "Kau itu istriku."

"Bodoh. Aku ini suamimu.." setelah itu, Baekhyun keluar dari ruangan kerja Chanyeol yang ada disebelah kamar mereka berdua. Chanyeol berbalik, dan menatap kearah jendela yang tembus ke halaman belakang yang penuh dengan bunga – bunga dari beberapa ras yang menjadi penghias. Sore yang cerah di hari minggu dipenghujung musim panas. Chanyeol meraih cangkir kopinya, tangan kirinya masuk kedalam saku celananya dan menyesap kopi yang dibuatkan Baekhyun.

"Aku mencintaimu, Baekhyun-ah." Chanyeol berbisik pada angin yang keluar masuk lewat ventilasi udara saat mendengar suara mobil makin menjauh dari rumah itu.

.

.

.

.

.

Chanyeol menyalakan televisi yang ada diruangan tengah, ini sudah lewat jam malam dan Chanyeol masih tidak bisa tidur sama sekali, mengabaikan kenyataan bahwa besok adalah hari Senin. Dan seorang CEO sepertinya dilarang keras untuk terlambat.

Dia benci sepi.

Walaupun Baekhyun ada, tapi rumah mereka sama sekali tidak terasa berwarna. Sepi selalu mendominasi. Baekhyun memang irit bicara, dia tidak akan bicara jika tidak ada hal penting atau diajak bicara.

Tapi meskipun begitu, itu sama sekali tidak menjadi masalah.

Chanyeol menyukai saat – saat Baekhyun ada disampingnya, dia tidak peduli akan sesepi apa saat itu, yang terpenting adalah ..

"Kau selalu bersama denganku.."

.

.

.

.

.

Baekhyun duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari kayu rotan dengan angkuh. Dia merapikan kemeja kotak – kotak yang tengah ia pakai; dengan dua kancing yang terbuka. Dia menatap lurus kedepan, menampakkan tatapan tak bersahabat yang sering ia perlihatkan kepada publik.

"Next shoot .. " seseorang berteriak setelah terlihat flash cahaya yang menyilaukan terlihat. Baekhyun mendengus kecil.

"Kau harus melepas kemeja itu, Baekhyun-ssi. Tema majalah ini untuk edisi depan adalah sosok pria metroseksual."

Baekhyun melepas kancing kemeja yang dipakainya dengan cepat, dan segera menyodorkan pakaian itu pada seorang stylist noona yang sudah berdiri dibelakangnya, disusul dengan seorang noona lain yang segera membenahi make upnya.

Baekhyun berjalan kearah jendela buatan pada studio, kembali bergaya sesuai dengan arahan dari sang photographer.

Tapi …

"Berhentilah seperti ini." Baekhyun hapal dengan suara ini, dan terasa ada kain yang menutupi bahunya yang terekspos.

"Ah, Tuan Park. Kehormatan bagi kami, karena anda mengunjungi tempat kami ini." Sang Photographer menghampiri Chanyeol yang masih berkutat dengan jas hitamnya yang sekarang sudah menutupi tubuh bagian atas Baekhyun.

"Jangan membuka tubuhmu dihadapan orang lain." Chanyeol mengacuhkan ucapan sang Photographer, dia mendorong tubuh kecil Baekhyun keluar dari studio pemotretan meninggalkan semua orang yang berada di studio itu dengan kebingungan yang melanda mereka.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Chanyeol mengangkat alisnya "Kenapa? Inikan salah satu cabang perusahaanku."

"Oh."

"Berhentilah bersikap kau mengenalku dihadapan umum. Kita sudah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini. Aku adalah artis."

Chanyeol menunduk "Maafkan aku.."

"Sudah terlambat." Baekhyun melepas jas yang sedari tadi tersampir dibahunya, dia menarik tangan Chanyeol dan meletakkan jas hitam itu diatas tangan pemuda tinggi itu.

Dan Baekhyun kembali masuk keruangan studio pemotretan mengabaikan sosok Chanyeol yang mematung ditengah – tengah lorong.

Dan yang tertinggal hanya suara bedebam menandakan pintu yang tertutup dengan keras.

.

.

.

.

.

Lima bulan.

Dan mereka sudah berpacaran selama satu tahun. Dan itu berarti, mereka sudah bersama selama satu tahun lebih.

Mereka berbeda.

Mereka seperti langit dan bumi, masing – masing tak dapat dipijak maupun digapai.

Mereka seperti bulan di malam hari dengan sinarnya dan matahari di siang hari yang terik. Baekhyun dan Chanyeol.

Dua orang dengan kepribadian yang sangat berbeda, dan disatukan dengan perbedaan mereka, mengabaikan perkataan orang – orang yang mengomentari mereka.

Mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.

Mereka terpisah seperti kutub utara dan kutub selatan.

Tidak akan pernah bertemu.

Dan sampai sekarang, Chanyeol masih tidak mengerti, apa sebenarnya alasan Baekhyun mau menikah dengannya.

"Aku lelah."

Chanyeol memandangi foto pernikahan mereka tanpa berkedip. Satu kalimat pendek itu keluar tak terduga dari bibir Chanyeol.

Chanyeol menoleh pada seonggok majalah yang berada dimeja.

Pada halaman depan, dengan tulisan besar – besar sebagai headlinenya.


' Byun Baekhyun, penyanyi solo pria yang sedang naik daun tengah kepergok berkencan dengan salah satu anggota idol girlband. '

Disebutkan bahwa Baekhyun sama sekali tidak menyangkal adanya hubungan lebih dari sekedar teman dengan wanita itu. Mereka berdua memang sering tertangkap kamera paparazzi kala berkencan diam – diam.


Dan Chanyeol, dia hanya tersenyum tipis.

Tapi dia merasa semua pilar – pilar yang menyangga hatinya sudah roboh.

Tak ada yang bisa dilakukannya, dia terlihat lemah jika seperti ini.

Tapi dia tidak bisa menyalahkan Baekhyun.

Hubungan mereka sudah salah sejak awal. Tapi dia yang memaksakan egonya hingga sampai ditingkat ini.

Foto kedekatan Baekhyun dengan seorang wanita yang terpampang jelas dengan ukuran sedang itu juga makin membuat Chanyeol meradang.

"Aku yang salah.." dan hanya kalimat itu yang berulang – ulang Chanyeol katakan.

.

.

.

.

.

Chanyeol ingat, hari ini adalah hari Minggu, dan kemungkinan besar Baekhyun berada dirumah sepanjang hari. Dia hanya ingin Baekhyun menyapanya, dan itu lebih dari sekedar cukup untuknya.

Tangan besarnya menarik jas biru donker yang tergeletak diatas ranjang. Dia memakainya dengan pelan, sembari menatap pantulan dirinya didepan cermin. Chanyeol merapikan dasinya, merapikan kerahnya, lalu mengancingkan jasnya.

Dia menatap pada kaca.

Kaca yang sanggup menampakkan kekosongan pada matanya sendiri. Chanyeol menghela nafas panjang saat pintu kamarnya dengan Baekhyun terbuka. Sosok kecil Baekhyun – yang baru saja pulang dari jadwalnya – masuk kedalam kamar, dan segera melemparkan tas ransel abu – abunya kesembarang arah.

Tas ransel itu membentur sofa yang ada disana, lalu jatuh keatas lantai begitu saja.

"Apa kau ingin ikut pergi kesebuah acara, Baek?"

"Tidak. Aku benar – benar lelah."

"Baiklah. Beristirahatlah.." Chanyeol berjalan kearah ranjang, dia menunduk dan mengecup pucuk kepala Baekhyun dengan sayang, lalu mengusaknya pelan.

"Tidurlah, sayang.." setelah itu pintu tertutup.

.

.

.

.

.

.

"Ah Presdir Park, saya sangat tersanjung anda mau menghadiri acara peresmian cabang Hyundai kami.." seorang pria tua yang usia sudah setengah abad membungkuk kearah Chanyeol yang baru saja datang. Pemuda berusia dua puluh tiga itu menganguk kecil "Sepertinya acara yang diadakan kali ini sangat ramai dibandingkan beberapa bulan yang lalu." Dia berkomentar, sambil mengedarkan arah pandangnya kesekeliling aula, dia berjalan pelan ditemani dengan pria tua itu.

"Tentu saja. Itu karena kami juga mengundang beberapa artis yang sedang naik daun, Presdir Park."

Chanyeol tersenyum "Maafkan karena saya datang terlambat, Tuan Kim. Ada acara peresmian cabang di Incheon yang harus saya datangi terlebih dahulu."

Pria tua itu mengibaskan tangan kanannya didepan dada "Tidak masalah. Itu sama sekali bukan masalah. Anda tidak harus meminta maaf, Presdir Park."

Chanyeol menerima segelas sampanye yang diulurkan pria tua itu saat seorang pelayan lewat disamping mereka. Keduanya berdiri berhadap – hadapan mengobrol tentang beberapa masalah perusahaan.

Sampai …

Pria tua itu berseru memanggil seseorang diantara hangar – bingar musik.

"Maaf kami datang terlambat." Baru saja Chanyeol menempelkan lingkaran gelas pada bibirnya, dia segera berbalik mendengar suara yang begitu dikenalinya.

"Ah kau datang. Dan…. " Chanyeol melirik pada tautan tangan antara Baekhyun dengan seorang gadis; yang Chanyeol ketahui juga seorang selebritis, gadis yang ada di headline majalah, gadis yang digosipkan menjalin hubungan dengan Baekhyun.

"Baekhyun-ssi dan Taeyeon-ssi, senang kalian bisa datang ketempat ini." Pria tua itu menjabat tangan keduanya, lalu Chanyeol mengulurkan tangannya kearah Baekhyun.

"Aku adalah fans-mu, Baekhyun-ssi." Ucapnya saat tangan mereka saling menjabat. Baekhyun tersenyum tipis "Terima kasih."

Taeyeon – gadis mungil yang cantik itu – menjabat tangan Chanyeol yang sudah terlepas dari tangan Baekhyun "Senang bertemu denganmu, Tuan Presdir Park."

Pria tua yang dipanggil Tuan Kim itu tertawa "Jadi Baekhyun-ssi, sepertinya memang benar rumor yang sedang beredar belakangan ini."

Chanyeol menyerobot percakapan itu "Kau berpacaran dengan Taeyeon-ssi, begitu?"

Pertanyaan itu membuat tubuh Baekhyun mengejang sedetik, belum sempat ia menjawab, Taeyeon sudah menjawab terlebih dahulu "Seperti yang anda semua lihat.." gadis itu mengamit lengan Baekhyun dengan mesra dan menyandar pada pundak Baekhyun, tawa kecilnya berderai.

Dan Chanyeol merasa muak dalam sekejap.

"Kalian sangat serasi." aku Chanyeol, bibirnya tersenyum cukup lebar.

Pria tua itu menganguk semangat "Benar sekali apa kata Tuan Presdir Park."

"Dan tiba – tiba, saya harus segera undur diri. Ada acara lain yang harus saya hadiri." Chanyeol berpura – pura mengeluarkan smartphone dari saku celananya, menunjukkannya, dan mengoyang – goyangkannya, dan beruntungnya memang ada beberapa panggilan tak terjawab terpampang pada screen smartphonenya.

Chanyeol akan mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya untuk sekretarisnya yang tiba – tiba saja meneleponnya; walau dia tidak tahu dan tidak menjawab panggilan itu.

Tuan Kim tampak tak senang, wajahnya yang sudah agak keriput tampak mengerut pada bagian dahinya "Padahal saya ingin anda lebih lama disini untuk menyaksikan duet Baekhyun-ssi dan Taeyeon-ssi."

Chaneyol menggeleng "Ah baiklah. Hanya sebentar.." karena merasa tidak enak hati, Chanyeol akhirnya setuju.

Dan dalam hati, Chanyeol berdoa, agar hatinya yang tengah ia rekatkan untuk tidak hancur lagi.

.

.

.

.

.

Dia hanya berdiri ditempatnya berpijak, sedari tadi. Sejak lagu berakhir sekitar satu menit yang lalu. Dua sosok yang masih ada dipanggung kecil itu tetap tidak berhenti memamerkan kemesraan mereka, mengabaikan blitz dari kamera wartawan yang ada disana.

Dan mengabaikan Chanyeol yang tengah memunguti retakan hatinya.

Sungguh, ini adalah hari yang paling menyakitkan untuknya.

Dan dua sejoli itu masih bergandengan tangan menghampiri Chanyeol dan Tuan Kim "Bagaimana penampilan kami?" Taeyeon mencoba berbasa – basi.

"Jawaban kami seperti tepuk tangan yang riuh dari para penonton di aula ini."

Taeyeon melirik Chanyeol yang diam saja "Ah, Tuan Presdir Park, aku tidak melihat pasangan anda.." gadis ini mengerling, dan jujur Chanyeol bergidik ngeri.

Chanyeol tersenyum sambil melirik Baekhyun, dan pemuda mungil itu menyadarinya.

"Pasanganku ada dirumahnya. Dia sedang lelah, dan aku menyuruhnya untuk istirahat."

Tuan Kim bertepuk tangan kecil, begitu juga dengan Taeyeon "Wah anda benar – benar seorang pria yang sangat baik, Presdir Park." Tuan Kim berkomentar.

"Ya, anda benar – benar dapat diandalkan."

Baekhyun tersenyum "Well, sangat baik." Ucapnya.

"Kenapa tidak mengajak perempuan lain saja?" Tuan Kim melempar guyonan, dan hanya Taeyeon yang tertawa, sedangkan kedua pemuda itu hanya saling tatap.

"Saya adalah tipe setia yang tidak akan berselingkuh, dan saya tidak akan pernah malu mengakui saya sedang berhubungan dengan siapa. Termasuk jika kekasih saya sendiri adalah laki – laki."

"Woaahh. Apa itu sebuah pengakuan?"

"Bisa dibilang begitu."

"Tapi anda tahu kan, hubungan sesama jenis masih dianggap tabu oleh masyarakat. Kita adalah bangsa Timur." Baekhyun beragumen.

"Saya mempercayai apa yang saya yakini selama ini. Selama cinta masih mengikat."

Dan itu membuat Baekhyun merasa de javu. Sama seperti saat Chanyeol menyatakan perasaannya pertama kali, dipinggir danau.

Dan dia merasa miris saat kalimat lain terlontar dari Chanyeol "Kekasihku adalah seorang laki – laki. Dan aku begitu mencintainya."


T B C


Author note : well *acakacakrambut

Ini FFnya bener – bener jadi drama banget. Dan … entahlah…

Kenapa saya menyukai karakter orang munafik disini? Dan kenapa harus Baekhyun eomma yang menjadi orang munafik disini? Karena saya juga orang munafik *eeeaaa

Entahlah yang jelas, muka Baekhyun eomma emang antagonis sih, jadi Chanyeol appa emang pantes buat tersakiti.

Ada adegan agak –tiiit- diatas. Maafkan saya, mau saya panjangin, tapi masih ragu, saya masih kecil masalahnya *slapped

Saya bukan artis – setidaknya belum hahahaha - jadi gak ngerti bagaimana hidup artis itu sebenarnya, karena saya juga gak suka mantengin acara gosip. Saya juga belum berkeluarga, jadi ya .. kisah keluarga di FF ini cuma saya comot – comot dari berbagai kisah nyata dari tetangga kanan kiri saya.

Dan di chapter ini hanya ada kisah masa lalu mereka, dan di chapter depan juga masih seperti ini – kemungkinan besar –

Entah akan jadi berapa Chapter ini nanti, doakan saja saya tidak akan terkena Writer Block saat udah chapter 4..

So, saya tunggu reviewnya…

Kritik dan Saran bisa ditulis dikotak review^^