Beep Beep
Author : gaemkevin
Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship
Rated : T
Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other
Pair : HunHan, Kaibaek.
Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? terdengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?
Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Abal / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.
A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it~
.
.
Chapter 2
.
Beep Beep
.
...
..
.
"Luhan?"
"Luhaaan?"
"YA! Xi Luhan!"
Luhan terjolak. Dia menatap kesal lelaki berkulit tan didepannya.
"Kau mengagetkanku, Kai!" bentak Luhan kesal. Lelaki itu, Kai mengeryit.
"Hah? Aku kan hanya memanggilmu, salahmu sendiri yang daritadi melamun,"
Luhan mendegus sebal. Diseruputnya cepat sedotan yang menancap dikotak susu bewarna pink.
"Ada apa? Tak biasanya kau melamun," tanya Kai sambil menggigit roti miliknya.
Luhan menatap Kai sebentar lalu kembali mengingat dengan kejadian semalam. Dia masih dengan perasaan penasaran dan takutnya. Kabel telepon yang tak tercolok itu berbunyi, lalu.. lalu suara wanita tertawa dan menangis itu..
"Hai sayang,"
Luhan kembali tersadar saat ada seseorang duduk disampingnya. Memeluk pinggangnya dan mengecup pipinya lembut. Luhan menoleh dan tersenyum manis kepada lelaki yang baru saja mencium pipinya itu.
"Hai Sehun,"
"Berhenti melakukan itu ketika sedang ada dihadapanku. Itu menjijikan, kalian tau," ucap Kai kesal. Sehun terkekeh.
"Bilang saja kau sedih karena kesayanganmu tidak berada disini dan tidak bisa kau ciam cium seenaknya. Iya, kan?" ejek Sehun.
"Aku bisa bertemu setiap hari dengannya!" bantah Kai.
"Siapa bilang, hah?" tanya Luhan sewot.
"Oh, ayolah Luhan. Kau mulai jahat," ucap Kai.
"Baekhyun itu adikku. Jadi kau harus ijin denganku dulu kalau mau menemuinya,"
Kai merengut. "Tuh kan. Kau jahat,"
"Jangan melakukan itu, kau tidak terlihat lucu sama sekali," kata Sehun.
"Kalian benar-benar jahat!" teriak Kai kesal.
Luhan dan Sehun tertawa. Kai benar-benar lucu.
.
.
.
.
Baekhyun tersenyum dengan rona merah disekitar pipi saat melihat layar ponsel miliknya.
Xiumin menatap sahabatnya bingung. Menghentikan kegiatan memakan kentang goreng dan merebut ponsel Baekhyun.
"Ah! Ponselku!"
Xiumin tertawa dan berlari menjauh dari Baekhyun. Melihat dengan wajah penasaran layar sentuh yang membuat gadis itu bersemu malu.
From : Kkamjongie
Subject : :*:*:*:*
Nanti sore aku akan ke apartemen mu, kita kencan~ oke? Jam 4 sore kau harus sudah cantik! Berdandan dan pakai eyelinermu! Mengerti?
Saranghae saranghae saranghae~ ;* Aku saaaayaaaaang sekali padamu~ mumumu~
Xiumin sedikit bergidik saat membaca kalimat terakhir. Kai itu menjijikan. Mata Xiumin mengikuti arah ponsel ketika benda itu terangkat dan akhirnya berpindah tangan.
Xiumin tersenyum jenaka saat melihat Baekhyun yang mendelik marah.
"Hehehe.. habis, kau kelihatan senang sekali," ucap Xiumin tertawa hambar.
"Dasar jahil!" Baekhyun kembali duduk dibangkunya. Xiumin juga kembali ke bangkunya dan melanjutkannya kegiatan makannya.
"Kai menjijikan," katanya.
Baekhyun mendelik lagi. "Dia tidak menjijikan!"
"Iya tidak. Tapi menggelikan!"
"XIUMIN!"
"HAHAHA!"
.
.
Baekhyun tersenyum senang melihat pantulan dirinya di kaca. Badan ramping mungilnya terbalut rok coklat berlipat pendek seatas paha dipadu kemeja kerah tanpa lengan bewarna cream yang berpita didada dan berenda di sekitar bagian perpotongan bahu dan lengannya.
Wajahnya dipoles bedak tipis dan lipgloss bening dibibir. Matanya terlapisi eyeliner yang pas dan tak begitu tebal membuat bagian itu terlihat semakin indah. Rambut coklat sepanjang punggung dengan sedikit gelombang dibawah dibiarkannya terurai begitu saja.
Oh, Baekhyun kau sangat cantik!
Dddrrtt Drrtt
Ponselnya bergetar. "Pasti dari Kai," gumamnya.
From : Kkamjongie
Aku sedang berada didalam perjalanan menuju apartemenmu, sayang. Kau harus sudah ada di depan gedung apartemen ketika aku sampai oke?
Saranghae~
Baekhyun tersenyum kecil.
To : Kkkamjongie
Aku akan berjalan menuju ke depan apartemen sekarang.
Nado Saranghae~
Baekhyun memasukkan ponselnya kedalam tas kecil. Dia berjalan keluar kamar dan memakai sepatunya. [bayangin sepatu yang dipake snsd digee dance version. Yang putih itu, lho. Ih, author suka bangets. Uuu~-_-]
Dia berjalan keluar apartemen dan mengunci pintunya. Tak perlu khawatir, Luhan juga memegang kunci apartemen. Kakaknya sengaja membuat kunci duplikatnya karena kadang Baekhyun pulang lebih dulu daripadanya.
Baekhyun berbalik hendak menuju lift, tapi seketika wajahnya memucat.
"Halo, Baekhyun,"
.
.
.
Kai menghentakkan kepalanya kekanan kiri pelan saat musik bergenre RnB mengalun pelan di pemutar musik mobil sportnya.
Dia senaaaaang sekali. Luhan mengijinkannya mengajak pergi Baekhyun. Kakak kandung kekasihnya itu tak bisa pulang kerumah karena masih ada urusan di kampus. Kai bisa menculik Baekhyun sepuasnya!
"Muehehehe.." dia menyeringai menyeramkan. Diparkirkan mobilnya didepan gedung apartemen Baekhyun.
Remaja beranjak dewasa itu mengeryitkan alis saat tak menemukan Baekhyun. Tadi, saat lampu merah dia yakin mengirim pesan pada Baekhyun untuk sudah ada didepan gedung. Harusnya gadis itu sudah ada di depan gedung daritadi.
Kai sempat menimbang untuk menyusul Baekhyun keatas atau tetap menunggu. Dan pilihan pertama yang ia pilih.
Lelaki tampan itu keluar dari mobilnya dan berlari kecil masuk kedalam gedung setelah sebelumnya mengunci pintu mobil.
Dengan brutal ditekan tombol 5 didalam lift. Entahlah, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
TING
Pintu lift itu terbuka dan Kai buru-buru keluar. Dia membelokkan badannya menuju apartemen nomor 026. Apartemen Luhan dan Baekhyun.
Kai membulatkan matanya saat melihat gadis yang dia yakini sebagai kekasihnya itu diapit didinding oleh seorang lelaki berumur 35 tahun keatas. Lelaki itu terlihat menyeringai sambil berusaha meraih bibir Baekhyun dan tangannya yang mengelus paha Baekhyun yang terbuka.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, berusaha menghindarinya. Tergambar jelas ekspresinya yang benar-benar ketakutan.
Rahang Kai mengeras dan tangannya terkepal erat. Dia berjalan cepat.
Kai meraih bahu namja itu dan menonjok pipinya keras.
BUGH! BRUK
"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU, HAH?!" bentak Kai keras. Dia berniat memukul lagi namun Baekhyun menahan lengannya dan menggeleng cepat.
"Cih," Kai menatap sinis dan tajam pada lelaki itu setelahnya pergi menarik lengan Baekhyun menuju lift.
Baekhyun hanya diam dan menunduk.
Kai sedikit mendorong Baekhyun masuk kedalam mobil lalu dia ikut masuk kedalam dan menutup pintunya keras.
Hening.
Kai belum juga menyalakan mesin dan menjalankan mobil. Sedangkan Baekhyun masih bentah menundukan kepalanya dan memainkan ujung roknya.
Baekhyun mengangkat wajahnya dan membuka mulutnya sedikit. Ingin berbicara, namun wajahnya sedikit terdorong kebelakang saat Kai mengecup bibirnya cepat dan tiba-tiba.
"Apa yang dia lakukan?" bisik Kai menatap kedua mata Baekhyun dalam. "Dia menciummu?" tanya Kai lagi.
Baekhyun menggeleng pelan. Mata indah itu berkaca-kaca.
"Aku takut Kai.." kedua tangan Baekhyun melingkari leher Kai dan memeluknya erat.
"Takut..." ucapnya sambil menangis.
Kai balas memeluk Baekhyun lembut. "Aku disini," bisik Kai lembut.
"Aku takut... takut.."
.
.
Luhan mendesah.
Tugasnya. Ini tugasnya. Tugas yang kemarin malam ia kerjakan namun belum selesai gara-gara insiden telepon-berbunyi-tapi-tak-tercolok-stop-kontak. Dia terlalu memikirkan itu sampai ia lupa meneruskan tugasnya. Dan sesuai dugaannya, Dosen Jung mengamuk sepanjang siang. Dia membentak Luhan keras hingga terdengar sampai kekelas atas.
Luhan bilang, kan. Guru itu menyeramkan.
Ini sudah jam 7 malam dan dia belum pulang. Dia masih ada di kampus sekarang. Tepatnya dikantin.
"Haaaah.."
TUK
"Jangan suka menghela nafas berat seperti itu. Keberuntunganmu akan hilang, lho," kekeh Sehun yang meletakkan 2 gelas kopi hangat dimeja.
"Hahaha.. lucu sekali," ucap Luhan dengan tawa yang dia buat-buat. Dia menyesap kopi yang diberikan Sehun lalu kembali berkutat dengan laptop dan kertas-kertas diatas meja.
"Apa masih banyak?"
"Tidak juga, aku sudah mengerjakan setengahnya tadi malam,"
Sehun berdiri dan duduk disamping Luhan. "Kubantu?" tawarnya.
"Memang kau mengerti?" tanya Luhan. Sehun memutar bola matanya.
"Namaku berada di lima besar saat ujian penerimaan Universitas,"
"Oh, aku lupa," Luhan menutup mulutnya dengan mata melebar. Terlihat sekali dia sedang mengejek Sehun. Sehun yang gemas langsung mencubit pipi Luhan kencang.
"Appoya!" jerit Luhan menjauhkan pipinya dari tangan Sehun.
Sehun tersenyum manis, saking manisnya membuat Luhan bergidik takut. "Sakit, ya? Sini mendekat, biar sakitnya hilang,"
"NO!" teriak Luhan menyilangkan tangannya didepan dada dan dia kembali berkutat dengan laptopnya.
Sehun tertawa kecil dan merapatkan jaraknya dengan Luhan. Tangan nakalnya merambat memeluk pinggang Luhan. Luhan yang masa bodoh dengan itu tak memperdulikannya. Tapi ia mulai risih saat Sehun mengecupi lehernya yang memang tengah memekai kerah rendah.
"Diam, Sehun," peringat Luhan dengan nada mengancam. Dia menjauhkan kepala Sehun dari lehernya. Sehun tak mengindahkannya, ia kembali menciumi leher mulus kekasihnya.
"Oh-Se-hun-di-am," Ucap Luhan tegas. Dia tak bisa berkonsentrasi, bagaimana tugas ini cepat selesai. Tangannya kembali mendorong kepala Sehun, serta badannya kali ini.
Tapi bukan Sehun namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dia mengulangi perbuatannya. Kali ini bahkan dia menggigit-gigiti leher Luhan. Luhan mulai emosi. Dia hendak menoleh dan mengamuk.
"Sehun! Bagaimana aku bi–hmmh!"
Bibir Sehun membungkam bibir tipis Luhan yang hendak mengomel. Tangan kanannya menekan lembut tengkuk Luhan memperdalam ciuman mereka. Sehun melumat bibir Luhan lembut.
Walaupun sempat menolak, Luhan akhirnya melingkarkan kedua tangannya dileher Sehun saat tangan Sehun mulai mengelus pinggangnya lembut.
Lelaki berstatus kekasih Luhan itu merapatkan jaraknya dengan Luhan sehingga mereka terlihat seperti menempel sekarang. Luhan membuka matanya sedikit dan dia dapat melihat mata Sehun yang tertutup, terlihat sangat menikmati bibir Luhan.
BEEP BEEP
Luhan membelalakan kedua matanya. Dia reflek mendorong Sehun.
"Ada apa, Lu?" tanya Sehun yang melihat Luhan menutup kedua telinganya erat.
"Se..sehun.. ada telepon.." ucap Luhan gemetar.
"Hah?" Sehun memasang tampang bingungnya.
BEEP BEEP
Luhan semakin menutup kedua telinganya erat. Badannya gemetar hebat.
"Lu? Kau kenapa?" tanya Sehun lagi.
"Bunyi itu Sehun! Bunyi telepon itu!" teriak Luhan histeris. Dia memeluk Sehun erat tapi rasanya aneh. Dia merasa memeluk sesuatu yang tidak ada. Luhan membulat takatla tubuh Sehun yang mulai terlihat transparan.
BEEP BEEP
"Sehun!" jerit Luhan histeris ketika melihat Sehun menghilang dihadapannya. Dia melihat sekelilingnya.
Sangat sepi. Seingatnya tadi masih ada beberapa orang mahasiswa yang berjalan sambil tertawa dikoridor.
"Sehuuun!" teriak Luhan. Dia berdiri dan berputar mencari Sehun. Dia menangis kencang. "SEHUUUUN!"
"LUHAN!"
Luhan membuka kedua matanya. Nafasnya berantakan. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan bola matanya yang terus bergerak brutal.
"Lu? Kau kenapa, sayang?" tanya Sehun khawatir sambil memegang sisi kiri pipi Luhan. Luhan masih mengontrol nafasnya.
"A–apa yang terjadi?" tanya Luhan pelan.
"Kau menutup matamu saat aku menciummu, kupikir itu biasa, tapi kau tak kunjung membukanya saat aku menyudahi ciuman kita. Dan tubuhmu langsung ambruk. Lalu tiba-tiba kau berteriak memanggil manggil namaku," cerita Sehun.
Luhan menatap sekelilingnya. Masih kantin kampus. Malam, dan dia masih melihat beberapa mahasiswa yang berjalan melewati koridor.
Luhan menangis. Sehun yang terkejut melihat Luhan menangis menjadi panik. Dipeluknya Luhan erat dan lembut.
"Lu, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Sehun pelan. Sedangkan Luhan hanya menggeleng pelan sambil terus terisak.
.
.
"Terima kasih untuk hari ini, Kai.."
Kai tersenyum saat melihat senyuman manis Baekhyun untuknya. Dielusnya sayang surai coklat Baekhyun dan mengecupnya pelan.
"Sama-sama,"
"Kalau begitu aku ke apartemen ku, ya,"
Belum sampai tangan Baekhyun meraih pintu mobil Kai menahan bahunya.
"Biar aku antar,"
.
.
.
Kai menggenggam tangan Baekhyun lembut saat lift mulai terbuka. Mereka berjalan keluar dan berbelok kearah apartemen Baekhyun.
CKLEK
Kai dan Baekhyun menoleh bersamaan saat pintu disebelah apartemen Baekhyun terbuka. Menampilkan lelaki yang belum pantas disebut tua karena wajahnya yang memang anak muda dengan menggunakan kaos singlet dan celana selutut.
Baekhyun langsung membuang muka dan Kai yang menatap lelaki itu tajam.
"Baekhyun," lelaki itu hendak meraih tangan Baekhyun tapi langsung ditepis kasar oleh Kai.
"Jangan sentuh. Dia milikku," kata Kai dingin.
Lelaki itu hanya tertawa kecil. Baekhyun segera menarik tangan Kai agar menghiraukan lelaki itu dan merogoh tasnya. Mencari kunci apartemen.
"Luhan belum pulang?" tanya Kai pelan saat Baekhyun memasukkan kunci itu kelubang pintu.
"Sepertinya belum. Lihat, masih gelap," jawab Baekhyun saat pintu apartemennya terbuka.
"Luhan bilang kalau dia pulang malam. Aku dimintanya untuk menemanimu sementara, Baekhyun-ah,"
Lelaki tadi sudah ada didepan pintu apartemen Baekhyun. Tepatnya disamping Kai.
Tubuh Baekhyun menegang. Dia mengeratkan pegangannya pada Kai dan bersembunyi dibalik punggung Kai.
"Sebenarnya kau siapa?" tanya Kai geram.
Tentu saja, lelaki ini yang tadi hampir mencium kekasihnya. Dan sekarang bilang kalau si Luhan menyuruhnya untuk menemani Baekhyun? Hell.
"Park Jonghun. Aku yang tinggal disini," tunjuknya pada pintu yang ia buka tadi. "Bisa dibilang tetangga. 'Tetangga dekat yang baik hati'," lanjutnya tersenyum.
"Benar, kan.. Baekhyunnie?" tanya Jonghun pada Baekhyun yang sedaritadi bersembunyi.
Kai bersumpah melihat laki-laki itu menyeringai tipis.
"Aku yang akan menemaninya. Bukan kau atau siapapun," Kai langsung mendorong Baekhyun masuk kedalam apartemen.
"Orang aneh,"
Setelahnya Kai menutup pintu tanpa melihat lelaki bernama Jonghun itu menyeringai sempurna.
.
.
"Dasar orang gila," maki Kai ketika dirinya sudah duduk disofa ruang tamu. Baekhyun duduk disebelahnya.
"Apa-apaan matanya itu. Melihatmu seolah-olah kau itu makanan siap saji,"
"Kau cemburu?"
"Tentu saja!"
Baekhyun tertawa sebentar.
"Dia memang aneh, Kai," bisik Baekhyun pelan.
"Hah?"
Baekhyun menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa. "Dari aku dan Luhan Jie bertemu untuk pertama kalinya kemarin di lift.. Dia selalu melihatku seperti itu. Tatapan yang.. begitu dalam dan em.. ng..bernafsu mungkin,"
Gadis itu memainkan ujung tali hodie milik Kai.
"Aku sudah bilang pada Luhan Jie bahwa dia menyeramkan dan aku tidak suka. Tapi sepertinya JieJie tidak setuju, dia dekat dan langsung akrab dengan Jonghun dan berkata bahwa dia lelaki yang baik,"
"Aku yang akan bilang pada Luhan kalau begitu," ujar Kai.
"Percuma saja. Luhan Jie pasti akan bilang kalau dia lekaki baik-baik. Selalu seperti itu," ucap Baekhyun sambil menghela nafas berat.
"Bahaya kalau seperti itu! Bisa-bisa kau jatuh padanya dan meninggalkanku!" kata Kai.
"Mwoya?! Aku tak suka bapak-bapak tau!" sangkal Baekhyun kesal.
"Mantanmu?"
"Kau yang pertama bagiku, bodoh!" Baekhyun memukul keras lengan Kai.
"Kukira nanti kau akan berubah haluan,"
"Sialan!"
Dan Kai hanya tertawa-tawa saat Baekhyun yang memukul-mukul badannya.
.
"Maafkan aku, Luhan-ssi.."
"..."
"Iya, dia lebih memilih ditemani oleh seorang namja tinggi berkulit tan,"
"..."
"Ah, kekasihnya? Kupikir dia orang jahat, makanya aku sedikit takut,"
"..."
"Ah, ya. Baiklah sampai jumpa,"
PIK
Sambungan itu terputus. Lelaki dengan paras anak muda itu meletakkan handphonennya asal diatas kasur.
Tangannya terjulur meraih bingkai foto.
Seorang gadis cantik berambut coklat panjang dengan menggunakan dress kuno tersenyum manis menghadap kamera.
Lelaki itu mengangkat salah satu sisi bibirnya. Mengelus perlahan gambar yang terhalang kaca dengan sangat lembut.
"Kau kembali eum? Tapi kenapa kau begitu takut terhadapku?"
"Aku mencintaimu," diciuminya figura itu dengan penuh nafsu.
"Dan lagi.. laki-laki bekulit hitam itu mengangguku,"
Seringaian terlukis diwajah tampannya. "Dia harus disingkirkan,"
"Kau tau.." dielusnya pelan foto itu. "Kau hanya milikku.."
.
"Nugu?"
Luhan menoleh dan tersenyum pada Sehun yang sedang menyetir mobil.
"Tetangga sebelah apartemen. Aku memintanya untuk menemani Baekhyun sementara karena pulang telat. Tapi sepertinya Jongin ada untuk Baekhyun,"
"Apa dia orang yang baik?" tanya Sehun.
"Siapa? Tetanggaku? Dia baik. Tapi kurasa Baekhyun tak menyukainya,"
"Wae?"
"Entahlah. Dia bilang orang itu menyeramkan. Padahal Jonghun-ssi begitu baik pada kami,"
"Benarkah? Mungkin Baekhyun hanya belum terbiasa saja,"
"Kuharap begitu,"
Luhan menyandarkan kepalanya dikaca. Ditatapnya pemandangan kota Seoul yang diguyur hujan malam itu. Masih banyak orang yang berjalan dipinggiran kota, yah walaupun jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
Gadis cantik itu menghembuskan nafas berat.
"Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Sehun lembut. Lelaki itu tidak menoleh, fokus pada jalanan Seoul yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang kesana-kemari.
"A –aku eum.."
Luhan terlihat menimang. Dia ingin sekali bercerita tentang telepon aneh diapartemen barunya pada Sehun.
Ah, mungkin lain kali sajalah.
"Ani.. aku hanya memikirkan apa aku terlihat cocok memakai rok mini atau tidak. Haha," tawa Luhan hambar.
Sehun mengeryitkan alisnya. "Kau tau, kau selalu terlihat cantik menggenakan apapun, Lu,"
Luhan tersenyum senang.
"But.." Sehun menjeda kata-katanya dan mengangkat sudut bibirnya.
"You look more beautiful when you're lying on the bed without your clothes," lanjut Sehun dengan sedikit menjilat bibirnya.
Luhan melotot. Pipinya bersemu merah.
"OH SEHUN! MATI KAU!"
.
.
.
Luhan berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Dasar lelaki kurang ajar," makinya. Dia berjalan masuk kedalam lift dan memencet tombolnya dengan kasar.
Tubuhnya bersender ke dinding lift. Badannya terasa sangat pegal.
TING
Pintu lift terbuka.
"Eh?" Luhan sedikit terkejut mendapati seorang gadis berambut coklat panjang dengan dress yang sedikit kuno disamping pintu lift.
"Maaf?" Luhan menyentuh bahu gadis itu membuat si pemilik mendongak. Ralat. Sedikit mendongak. Hanya sedikit.
Wajahnya pucat sekali, tapi.. hei! Ini kan–
"Baekhyun? Kenapa kau ada disini?" tanya Luhan spontan.
Gadis itu tidak menjawab. Dia menggerakan bola matanya ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Tak tau kenapa, tapi Luhan merasa bulu kuduknya meremang. Gadis itu menyentuh ujung jari telunjuk Luhan dan bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar.
What? Apa itu? Darah?
Luhan menyipitkan matanya, tetapi tiba-tiba gadis itu berlari cepat.
Luhan yang terkejut reflek mengejar gadis itu.
"Baekhyun-ah! Tunggu! Kau mau kemana, hah?! Ini sudah malam!" teriak Luhan. Dia tidak peduli dengan para tetangga yang sudah telelap akan terganggu atau tidak. Yang penting dia mendapatkan adiknya dulu.
Gadis itu berbelok kearah apartemen Luhan.
"Buat apasih dia keluar malam-malam begini? Pakai dress segala lagi," sungut Luhan ikut berbelok kearah apartemennya.
Tapi seketika dia terhenti. Diedarkannya pandangan keseluruh penjuru apartemen.
Tak ada siapa-siapa. Kosong. Sepi. Dan Hening.
"Baekhyun?" panggilnya. Dia berjalan pelan sampai kini berada didepan pintu apartemennya. Dia menghadap kebelakang dan mengedarkan pandangannya lagi keseluruh penjuru koridor.
Tak ada siapun disana.
Luhan mendesah. "Mungkin dia sudah masuk kedalam,"
Luhan meraih knop pintu.
Terkunci.
DEG
Bukankah tadi Baekhyun baru saja masuk?
Luhan merasakan seluruh tubuhnya merinding hebat. Dia merogoh isi tas nya dan mengeluarkan kunci apartemen yang selalu ia bawa. Di pasangkannya kunci itu ke lubang pintu. Dibukanya perlahan dan segera masuk kedalam.
Dia berjalan masuk setelah mengunci pintu.
"Baekhyun?" panggilnya.
Dia menuju ruang tamu dan terpaku.
Dilihatnya Baekhyun yang tertidur pulas disofa dengan kepala Kai yang berada diatas paha Baekhyun sebagai bantalannya.
"Me..mereka sudah.."
Luhan meneguk salivanya kasar.
PRAK
Tas yang dipegangnya terjatuh menimbulkan suara yang cukup menganggu tidur Baekhyun. Baekhyun membuka matanya perlahan dan terkejut melihat Luhan yang berdiri mematung seperti orang shock.
"Jie? Kau sudah pulang?"
Kai yang merasa bantalnya terguncang ikut membuka mata. Dia menguap sebentar dan mengusap matanya.
"Hai, Xi Luhan," sapanya. Tapi Luhan masih tidak bergeming.
"JieJie?" panggil Baekhyun.
"Sudah berapa lama kau tertidur Baekhyun?" tanya Luhan pelan.
"Eum.. entahlah, mungkin 1 jam yang lalu," jawab Baekhyun.
Tubuh Luhan menegang. Diedarkannya seluruh pandangan hingga jatuh kearah telepon tua disamping kamar Baekhyun.
Luhan membelalak. Jantungnya bekerja makin cepat. Keringat dingin membasahi wajah dan sekitar lehernya.
" Aa.. a.. a.." Luhan tergagap.
Gadis itu. Gadis di samping lift tadi. Berdiri sambil memegang gagang telepon dan menatap kearahnya. Tersenyum lebar menampakkan giginya yang terolesi darah hingga menetes kelantai. Luhan melihat jelas kalau bola mata gadis itu berlawanan arah.
Luhan merasakan pening yang luar biasa.
"Lu? Kau kenapa– LUHAN!"
Luhan merasakan gelap setelah sebelumnya mendengar suara Baekhyun dan Kai yang memanggil namanya.
.
.
.
::TBC::
.
.
Hai.
Author minta maaaaaaaf bangets. Soalnya dichapter sebelumnya itu banyak kesalahan.
Makasih banget buat 0312luLuEXOticS yang ngingetin itu Jungho apa Jonghun. Karena kamu bilang begitu author jadi baca ulang lagi ceritanya dan serius itu typo banyak. /muehehe/
Jonghun ya bukan Jungho. [mungkin ini karena tangan author keseleo /SEPIK/]
Tapi kalo yang bagian Luhan itu [kalo yang nyadar itu juga salah ketik], author baru liat. Beneran dah, author udah baca berulang-ulang dibagian itu[ampe mèlèk malah] dan sama sekali ganyadar. Aneh sih ya. Entah, bukannya nakutin, ya. Tapi author sendiri merinding. /sukagituahauthor-_-/
Apa mata author minus nya nambah ya? /-,,-/
Hh.. jangan dipikirkan. Enjoy aja. Ini Cuma cerita fiksi kok. Muehehehe
Yang bagian satu udah author perbaiki. Gaenak soalnya kalo salahnya jelas begitu wkwkwk.
Tapi maaf ya kalo masih ada typo dikit. Author bukan orang sempurna yang bisa ngetik tanpa kesalahn /eak/
Thanks to :
Zie, Astri407, widyaokta, cho, mitatitu, chyshinji0204, Love Couple, 0312luLuEXOticS, , MeelMeel Aideen, ohristi95, fadillaShiners and silent reader tercintah.
Muah.
