Beep Beep
Author : gaemkevin
Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship
Rated : T
Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other
Pair : HunHan, Kaibaek.
Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? terdengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?
Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Abal / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.
A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it
.
.
.
Chapter 3
.
Beep Beep
...
..
.
Luhan membuka matanya pelan.
"Ngh.."
Dia memegangi kepalanya yang agak pening. Pandangannya juga masih memburam.
Dia mengucek matanya pelan sampai penglihatannya jelas kembali.
Setelahnya mengedarkan pandangan kesegala arah.
"Dimana ini?"
Dia bangkit dari tempat duduknya.
"Kemana Baekhyun dan Kai?" tanyanya saat disadar bahwa sofa adalah tempatnya pertama kali sadar tadi. Dan tidak ada Kai dan Baekhyun disampingnya.
Luhan mengeryit saat melihat lampu ruangan yang redup. Masa baru kemarin dipasang, lampu ini sudah mau mati? Pikirnya.
Hidungnya bergerak tak nyaman saat bau tak sedap menyapa. Luhan buru-buru menutupnya saat bau itu kian tercium dan rasanya sangat busuk.
Dia mengedarkan pandangannya. Mata Luhan membulat takat dilihatnya mayat seseorang yang berbujur kaku disamping kamar Baekhyun.
Menggunakan dress kuno bewarna coklat kumuh dengan kaos kaki setumit yang terciprat darah.
Dadanya berdegup kencang. Kaki kecilnya melangkah pelan mendekati wanita itu. Luhan menaikkan satu tangannya untuk menutup mulutnya. Mencegah mual yang datang ketika kakinya menginjak darah yang tergenang disekitar mayat itu. Belum lagi melihat perut wanita itu tertusuk pisau hingga menancap sampai gagangnya.
Tangan mungilnya diarahkan kedagu wanita itu. Sedikit bergetar karena menahan rasa takut.
Diangkatnya perlahan wajah tertutup rambut itu.
TUK. BRUK
Luhan terkejut membuat tubuhnya limbung dan jatuh terduduk kebelakang. Nafasnya tercekat dan tubunya bergetar hebat.
"Ba—baekhyun.."
..
"Jie! Jiejie!"
Luhan membuka kedua matanya kejut. Dadanya naik turun, peluh berlomba-lomba mengaliri pelipis dan lehernya.
Luhan langsung bangun duduk dikasur membuat selimut yang dipasang melorot sampai ke pinggulnya.
"Jie, akhirnya kau sadar,"
Luhan menoleh kearah Baekhyun yang memandangnya lega.
CKLEK
"Kai,"
"Kau sudah bangun?"
Kai menyodorkan segelas air putih pada Luhan. Luhan meminumnya dengan perlahan.
"Apa yang terjadi?" tanya Luhan.
"Kau pingsan," jawab Kai singkat.
Luhan menatap Kai.
"Aku juga gak tau kenapa kamu pingsan. Jangan tatap aku,"
Baekhyun menyela. "Kau pingsan tiba-tiba, Jie. Saat kau baru saja pulang dan menanyakan aku tidur jam berapa,"
Ah, Luhan ingat. Dia bertemu seorang wanita di samping pintu lift, mengejarnya karena ia kira itu Baekhyun. Lalu ia masuk keapartemen dan menemukan Baekhyun yang sudah tertidur dengan Kai. Pingsan karena melihat wanita didekat telepon yang begitu menyeramkan dan memimpikan Baekhyun yang—
"Akh," Luhan memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Jie? Kau kenapa?" tanya Baekhyun khawatir. Luhan menggeleng pelan. Dia mengusap air asin yang mengalir dipelipisnya. Tangannya menggenggam tangan Baekhyun yang mengelus pipinya.
"Aku—"
Luhan menatap Baekhyun penuh kasih dan terlihat tak ingin kehilangan.
"—baik baik saja, sayang,"
Entahlah, Baekhyun merasa sangat sedih. Dia menangis dan memeluk kakaknya erat.
Kai tersenyum dan mengelus kepala Baekhyun sebentar.
"Kau tau, dia sangat khawatir dan langsung menangis,"
"Benarkah?"
Kai mengangguk. Luhan mengelus kepala dan bahu adiknya lembut.
"Aku tak apa. Berhentilah menangis, Baekhyun,"
Dirasakannya kepala Baekhyun yang mengangguk-angguk didadanya.
Luhan tersenyum. "Anak pintar,"
.
.
.
Baekhyun menaikkan selimut Luhan sampai kedada ketika kakak perempuannya itu sudah tertidur lelap.
"Aku pulang, ya,"
Baekhyun menatap Kai dengan tatapan anak anjingnya. "Kenapa tidak menginap?"
"Ini sudah malam, lho," tambah Baekhyun
Kai melirik arlojinya, 11.45.
Kai tampak menimbang.
"Tidak, ah. Aku takut diamuk masa eomma,"
Baekhyun menghela nafas dan mengalah. Dia mengantar Kai ke pintu depan.
"Langsung pulang. Jangan nyangkut kemana-mana,"
Kai tertawa. Tangannya mengacak rambut Baekhyun dan menimbulkan decakan sebal serta tepisan kasar dari si pemilik rambut.
"Iya. Iya. Tenang saja," Kai memakai sepatunya dan membetulkan tata letak hodienya.
"Aku pulang, ya,"
Belum sempat Kai membuka kenop pintu, tangan kanannya disentuh Baekhyun.
CUP
Kai terbelalak sedangkan Baekhyun menunduk. Sedalam-dalamnya.
"Su—sudah! Pulang sana!" usir Baekhyun sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Kai tertawa geli.
"Manisnya,"
Baekhyun semakin malu. Wajahnya memerah semu sampai ketelinga. Gadis itu membuka pintu dan mendorong Kai keluar lalu menutup pintu cepat.
"Pulang sana!"
Kai makin geli. "Baiklah. Selamat malam. Saranghae Kim Baekhyun~!"
"Y—YA!"
.
.
.
Kai berjalan sambil bersiul pelan. Bibirnya terus terangkat, tersenyum-senyum gak jelas.
Kai tertawa tapi ia hentikan kala mengingat ini hampir tengah malam. Dia berbelok arah menuju lift. Kai memasuki lift dan menekan tombol lantai bawah. Tubuhnya ia senderkan kedinding lift.
"WA!" dia berteriak kaget ketika tangannya tak sengaja menyentuh suatu benda dingin. Sangat dingin.
Dia mengusap tangannya dan menoleh kesamping. Sedikit terkejut ketika menemukan wanita dengan dress selutut bewarna coklat yang sangat kumuh dan hei! Dia hanya memakai kaos kaki setumit? Yang benar saja. Di malam sedingin ini?
Kai lebih memilih tak menghiraukan wanita disampingnya itu dan menatap lurus pintu lift.
"...hati-hati..."
Kai menoleh lagi. "Maaf?"
"..hati.. hati... hhihihi.."
Kai membelalak. Wanita tadi.. tertawa?
"Maaf, kenapa ka—"
TING
Pintu lift terbuka dan perempuan itu berlari keluar.
"He —hei!" panggil Kai. Wanita itu berhenti dan menoleh kearah Kai dengan senyum lebarnya.
Mata Kai melotot. "Baekhyun?!"
Kakinya maju dan tangannya terjulur untuk menyentuh pundak wanita ––yang dianggapnya Baekhyun itu—.
"Sedang apa kau— Astaga!" Kai segera menarik tangannya saat pintu lift tertutup cepat.
Kai menatap tangannya. Hampir saja.
Lift kembali berjalan dan terbuka begitu sampai lantai 1.
"...hati-hati..."
Kai melihat tangannya lagi. "Apa maksudnya?"
Tubuh Kai bergidik ketika dia merasa ada yang mengawasinya dari belakang. Kepalanya menoleh dan hanya menemukan kegelapan di koridor apartemen yang sepi.
"Hiiiiy!" kakinya berlari cepat meninggalkan apartemen Baekhyun.
Dari balik dinding apartemen seorang wanita berdiri. Menatap Kai dengan tatapan sendu. Namun sedetik kemudian terganti dengan muka hancurnya.
"Hi..hihih..hihiihh.."
.
.
.
"Luhan Sehun Luhan Sehun!"
Luhan dan Sehun menoleh saat mendengar Kai yang memanggil mereka begitu norak.
"Apa Kim Jongin?" tanya Luhan malas.
Kai merendahkan tubuhnya sambil memegangi lutut. Mulutnya terbuka dan mengelurakan hembusan nafas yang tak teratur.
Kai berdiri tegap kembali sambil memegangi dadanya. "Kalian jalannya cepet banget!"
"Kamu kali yang lelet,"
Mereka bertiga berjalan masuk pintu utama Seoul University.
"Luhan! Luhan! Luhan! Kau tak akan mempercayai ini! Tapi percayalah kau akan terkejut!"
Luhan memutar bola matanya malas sedangkan Sehun hanya tertawa kecil.
"Aku melihat hantu!"
Luhan berhenti berjalan. "Apa?"
"Aku melihat hantu," ulang Kai. "Hantu wanita menggunakan dress selutut bewarna coklat dan kaos kaki setumit. Dan dan kalian tidak akan percaya ini!"
Luhan menatap Kai lekat.
"Dia benar-benar mirip dengan Baekhyun!"
Luhan melotot. Sehun malah tertawa.
"Kau ada-ada saja, Kai!" tawa Sehun. Kai mendelik. "Aku serius. Hantu itu begitu jelas!"
"Dimana kau melihatnya?" tanya Luhan.
"Di lift saat pulang dari rumahmu. Itu tengah malam. Mustahil kan ada cewek yang keliaran tengah malem, gapake alas kaki lagi!"
Luhan diam. Wanita menggunakan dress coklat tanpa pakai alas kaki? Lalu mirip Baekhyun? Jangan-jangan Kai juga–
"Xi Luhan!"
Luhan menoleh saat melihat wanita muda tersenyum padanya dengan setumpuk buku ditangannya. Luhan balas tersenyum.
"Bisa bantu saya?"
Luhan mengangguk.
"Aku duluan, ya," pamit Luhan pada Sehun dan Kai.
Kai mendesah kecewa. Padahal dia berniat bercerita lebih panjang lagi dengan Luhan.
Luhan mencium pipi Sehun dan menonjok lengan Kai sebelum akhirnya ia berlari menuju dosen muda itu.
"Sialan. Kubalas kau nanti, rusa jelek!" maki Kai sambil mengusap lengannya.
"Kai, soal hantu itu—"
"Ah iya! Kau tau! Dia juga bilang hati-hati padaku! Setelah itu keluar dan tersenyum lebar," cerita Kai. "Seperti ini!" tambah Kai sambil mempraktekkan senyum menakutkan wanita semalam.
Sehun tertawa. Mereka berdua berjalan menuju kelas mereka yang seperti telah masuk pagi ini.
.
.
.
.
"Baekhyuuuuuuuun! Aku senang sekaliiii!"
Baekhyun menutup telinganya. "Tak usah berteriak, Xiumin!"
"Tapi Baekhyun! Yaampun! Ini! Coba lihat ini! Chen mengirimiku ajakan kencan! Kyaaa!"
"Lagi?"
Xiumin mengangguk semangat. Dia loncat-loncat sambil menarik tangan kiri Baekhyun.
"Ya tuhan, Xiuminnie! Itu hanya ajakan kencan biasa, kan? Sudah keberapa kali coba,"
"Tapi—tapi aku gugup, Baekhyun. Astaga astaga astaga!" teriak Xiumin heboh. Dia membuka surat dengan kertas bewarna pink berlatar boneka beruang lucu. Membacanya cepat dan mulai bertingkah aneh.
"Kau pikir apa baju yang cocok untuk nanti sore? Apakah pink? Tapi kalau hujan sepertinya akan jelek! Bagaimana kalau orange? Ah tidak! Hitam? Astaga aku akan terlihat suram! Putih! Terlihat kotor nanti! Lalu bla bla bla.."
Baekhyun memutar bola matanya malas. Tangannya bergerak mencomoti udang goreng kecil menu makan siang hari ini. Dia mencibir malas ketika mendengar suara Xiumin yang kembali berteriak-teriak. Pandangannya ditorehkan kearah atap gedung sebelah timur kelasnya.
Mata Baekhyun menyipit ketika melihat seorang gadis yang sedang berada di pagar pembatas. Anehnya, gadis itu memakai dress bukan baju sekolah.
Wajahnya tak tampak karena rambut panjang yang menutupi hingga keleher. Tapi rambutnya cukup indah.
Mata Baekhyun mengikuti arah pergerakan gadis itu. Kakinya yang terangkat kepagar pembatas dan—
Mata Baekhyun terbelalak.
"ASTAGA!"
"Ya! Mau kemana kau baek?!" teriak Xiumin. Dia berlari mengejar Baekhyun yang tiba-tiba keluar kelas.
.
.
"Baekhyun! Haah.. Haah.. kenapa kau berlari Baekhyun?"
Baekhyun menatap shock tanah kosong didepannya. Tidak ada gadis, darah atau semacamnya seperti dipikiran Baekhyun.
"Baekhyun? Hei!" Xiumin memukul kesal bahu Baekhyun.
"Tadi disini ada yang lompat dari atas,"
"Haaaa?"
"Benar, Xiumin! Tadi ada gadis dengan dress coklat meloncat dari atap—"
"Kau bercanda? Dress? Yang benar saja, Baek. Tidak ada murid yang diperbolehkan masuk tanpa menggunakan seragam," sela Xiumin.
"—sekolah.." Baekhyun diam.
Dia lihat benar, kok. Matanya masih normal dan belum terkena minus. Dan itu sangat jelas.
Tapi benar kata Xiumin, tidak ada murid yang boleh masuk kesekolah tanpa menggunakan seragam.
"Tapi Xiumin, aku benar-benar melihatnya.." ucap Baekhyun lirih.
"Hanya halusinasi disiang hari mungkin," tanggap Xiumin gampang. Gadis itu berbalik, hendak kembali kekelas.
"Itu jelas! Sangat jelas!" tegas Baekhyun.
"Sudahlah, Baek. Jangan suka mengarang yang tidak-tidak, nanti kau gila," ledek Xiumin. Dia berjalan meninggalkan Baekhyun yang masih berpikir keras.
Tadi siapa? Kenapa loncat? Tidak pakai seragam? Mungkin pembantu sekolah? Siapa? Siapa? Siapa?
Tapi, benar kata Xiumin. Mungkin ini halusinasi. Bukti, tak ada apa-apa disini. Padahal Baekhyun yakin kalau jatuh kemungkinan besar jatuh tepat ditempatnya berdiri.
Tapi—
Tak ada apa-apa disini. Kosong.
"Hh.. Mungkin benar. Halusinasi," gumam Baekhyun. Dia beranjak pergi menyusul Xiumin yang berjalan belum jauh darinya.
.
.
.
.
Kai mengeryitkan dahinya saat melihat keributan didepan gerbang kampus.
—"Aduh manisnya,"
—"Anak smp ya?"
—"Astaga mungil sekali,"
—"Menunggu siapa cantik?"
Kai berjalan cepat dan memaksa badannya mendesak sekumpulan anak lelaki dan sebagian anak perempuan yang sedang berumbuk. Berniat melihat apa objek yang diributkan.
"Lho, Baek—hyun?"
"Ah, oppa!"
Objek itu kini berlari kearah Kai dan memeluknya.
"Jongin, dia pacarmu?"
"Asyiknya,"
"Aku iri~"
Kai hanya tersenyum canggung kepada teman-temannya dan membawa Baekhyun menjauh.
"Kau sedang apa disini? Kau tidak sekolah?" tanya Kai.
Baekhyun menggeleng imut. "Aku sudah pulang,"
"Lalu kau ngapain disini?"
"Aku mau ajak oppa jalan-jalan. Aku sedikit bosan," ucap Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan sedikit menggembungkannya.
Kai menatapnya Baekhyun lekat. Seperti ada yang.. berbeda.
"Oppa tidak mau, ya?" tanya Baekhyun. Dia menatap Kai dengan pandangan memelasnya.
"A—aniya! Aku mau kok! Ayo!"
Kai menarik tangan Baekhyun menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Setelah itu mereka pergi dari kampus.
.
.
.
Kai menatap lekat Baekhyun yang sedang asyik bermain lempar basket. Mereka ada di area tempat bermain di salah satu pusat perbelanjaan.
"Oppa! Ayo bermain!" ajak Baekhyun.
Kai menggeleng cepat. "Tidak, ah. Kau saja,"
Kai berjalan menuju mesin minuman. Mengambil softdrink dan menegakknya. Mendesah lega karena hausnya terobati.
"Untuk apa dia pakai dress disiang bolong begini?" bisik Kai memperhatikan Baekhyun lagi. Ah tunggu, sepertinya Kai ingat sesuatu. Tapi apa ya? Dress coklat itu seperti yang—
"Oppa! Aku lapaar!" rengek Baekhyun yang kini sudah ada dihadapan Kai. Kai tersentak dan berdiri normal.
"Ah, ayo kalau begitu," Kai bermaksud menggandeng tangan Baekhyun tapi Baekhyun menolak. "Aku ingin jalan sendiri,"
Kai mengangkat bahunya.
"Kita makan disana, bagaimana?" tanya Kai sambil menunjuk salah satu restoran bergaya Eropa klasik. Baekhyun menggangguk manis.
.
.
"Kau mau makan apa?"
Baekhyun terlihat berpikir. "Aku ikuti oppa saja,"
Kai mengangguk. Dia terlihat sedang berbicara pada pelayan. Tak lama pelayan itu mengangguk dan pergi.
Kai menopang dagunya di sebelah tangan. Matanya memperhatikan Baekhyun yang sedang bermain-main dengan bunga dalam vas.
Ada yang banyak hal ganjil disini menurutnya. Pertama, Baekhyun tak terlihat manis hari ini. Kedua, Baekhyun tidak terlihat bersinar seperti biasanya. Ketiga, gaya berpakaian Baekhyun cukup aneh disiang hari seperti ini (karena Kai tau, kekasihnya cukup fashionable). Keempat, dia datang dengan sendirinya ke kampus Kai dan mengajaknya pergi duluan. Dan terakhir, Baekhyun memanggilnya oppa.
Maksud Kai itu—ck ayolah. Kalian tau Baekhyun sama sekali tak pernah mau memanggil Kai dengan tambahan 'Oppa'. Menurut Baekhyun, itu err—aneh.
Kai memijat pelipisnya. Hal-hal tersebut cukup membuat Kai berpikir keras dan berusaha menuju ke arah positif. Seperti yah.. Baekhyun memang sengaja mungkin atau semacamnya.
"Oppa, kau kenapa?"
Kai menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada Baekhyun. "Aku baik-baik saja,"
Baekhyun mengangguk dan mulai memegang megang bunga kembali.
"Baekhyun, boleh aku bertanya?"
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan mengangguk.
"Kenapa kau memanggilku—oppa?" tanya Kai. Baekhyun diam. "Maksudku, hmm..yah.. aku tau kau tak begitu suka ketika kusuruh memanggilku oppa. Tapi sekarang malah.. ah—sudahlah lupakan, aku hanya merasa—"
"Memang biasanya aku memanggilmu apa?"
Kai mengeryit. "Hah? Kau.."
"Ani—aniya! Aku hanya.. hanya ingin memanggilmu begitu saja. Apa tidak boleh?"
"Boleh! Sangat boleh! Maaf, aku hanya merasa tidak terbiasa," ucap Kai cepat.
Setelah Kai berbicara seperti itu, pelayan datang membawa pesanan mereka. Tak ada yang berbicara saat makan. Entah tak ada topik atau mungkin Kai merasa canggung soal pertanyaannya tadi.
Kai menelan suapan terakhirnya dan mengelap mulutnya. Setelahnya Kai meminum minumannya sembari memperhatikan Baekhyun yang sedang memotong daging panggang menggunakan pisau dan garpu.
Dan apa itu? Tangannya tampak bergetar. Tak seperti biasanya.
"Perlu kubantu?" tanya Kai. Baekhyun menggeleng cepat. Ditekannya kuat pisau dan langsung menariknya vertikal.
Kai tersenyum sedikit.
"Aku mau pulang," ucap Baekhyun saat sudah menghambiskan steaknya.
"Wae? Masih jam 5 sore. Luhan pasti belum pulang," balas Kai sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya. "Tidakkah terlalu cepat?" tanyanya.
Baekhyun menggeleng. "Aku mau pulang. Sekarang,"
"Apa kau marah dengan pertanyaanku tadi?" tanya Kai. Dia menggenggam tangan Baekhyun lembut. Sedikit terkejut saat merasakan permukaan tangan itu begitu kasar dan dingin. Rasanya tadi tangan itu tidak seperti itu.
Baekhyun langsung menarik tangannya cepat dan menyembunyikannya dibawah meja lalu memalingkan wajahnya. "Tidak, aku tidak marah! Aku hanya ingin pulang saja, aku capek,"
Kai hanya mengangguk saja.
.
.
.
Kai membuka pintu mobilnya dan berlari sembari tangannya menggenggam payung dan membuka pintu mobil satunya. Baekhyun keluar dan Kai langsung merangkul bahu Baekhyun menuju kedalam apartemen.
Suara hujan semakin deras saat mereka sudah ada didalam apartemen.
"Kau kebasahan tidak?" tanya Kai sambil melipat payungnya.
Baekhyun malah menunduk dan hanya menggeleng kecil. Padahal bajunya sedikit basah dibagian kiri.
"Baekhyun?" tangan Kai terjulur untuk menyentuh pipi gadisnya. Tapi dengan kasar Baekhyun langsung menepis tangan itu kasar.
Kai terkejut sungguh. "Baekhyun kau kenapa?"
Baekhyun hanya diam. Kakinya melangkah memasuki lift yang sudah terbuka. Kai mengikutinya masuk dan berdiri disampingnya bingung. Kai menekan tombol begitu pintu lift tertutup.
Mereka terus diam selama lift berjalan menuju lantai 5.
TING
Lift terhenti dan pintunya terbuka perlahan.
"Lho? Kai?"
Mata Kai membulat.
"Baekhyun?!" tanyanya tak percaya. Kai menengok ke sampingnya. Kosong. Sekelilingnya. Kosong. Hanya ia sendiri dan Baekhyun sudah ada dihadapannya. Bukannya tadi masih didalam lift bersamanya?
"Kau..kenapa ada disini?" tanya Kai.
"Hah? Seharusnya aku yang bertanya kan? Aku mau belanja karena kulihat dikulkas tak ada apa-apa. Luhan Jie juga bilang dia main kerumah Sehun. Jadi mungkin pulang malam," jelas Baekhyun.
"A—apa? Bukannya tadi kau pergi denganku dan—dan.." Kai terhenti saat melihat penampilan Baekhyun. Hotpants putih, kaos putih tipis dan varsity. Tak lupa tangannya yang menggenggam payung bewarna hitam.
Ini bukan pakaian Baekhyun yang tadi di lift dan bersamanya!
"Jalan-jalan? Kau ngelantur? Aku baru saja pulang dari rumah Xiumin,"
Kai beku. Dia diam. Dia shock.
"Kai? Wajahmu pucat, kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun khawatir. Tangannya mengelus pipi Kai. Jari lentiknya mengusap sekitar pelipis Kai yang mengeluarkan keringat.
Tangannnya halus dan hangat. Kai menggenggam tangan itu erat.
Kai merasakan kepalanya berdenyut-denyut. "Baekhyun, aku.. merasa tidak dalam keadaan baik,"
Baekhyun jadi panik. "Benarkah? Aduh.. Kalau begitu, ayo keapartemenku saja. Cepat," Baekhyun menarik tangan Kai meninggalkan lift.
Meninggalkan wanita yang sedang memandang mereka disamping pintu lift.
.
.
.
.
Luhan sedang berada dirumah Sehun sekarang.
"Jangan ganggu Sehun!" bentak Luhan saat Sehun menyandarkan kepalanya dibahu Luhan. Tangannya mendorong kepala Sehun menjauh, bahkan sampai hampir terjungkal kebelakang.
Sehun merengut.
Luhan kembali serius dengan film action didepannya. Sesekali memakan popcorn yang disediakan Sehun.
Sehun melirik meja disamping sofa. Menyeringai saat melihat kemoceng yang diletakkannya begitu saja di atas meja. Diambilnya dan dicabut salah satu bulu kemoceng.
Sehun terkikik pelan. Laki-laki itu mendekat pada Luhan perlahan dan menggelitik permukaan kulit pipi Luhan.
Luhan tidak merespon.
'Mungkin kurang,' pikir Sehun. Bulu ditangannya menyentuh lebih dekat kulit permukaan wajah Luhan. Mengelusnya pelan dari wajah ke leher.
"Sehunnie, geli," protes Luhan. Sehun hanya tertawa pelan dan semakin menggelitiki Luhan.
Luhan menoleh kearah Sehun dengan wajah marah. "Berhenti!"
Sehun meneguk salivanya kasar. Dia bersiap kabur tapi tangan Luhan sudah ada di kedua pipinya dan menariknya kearah berlawanan.
"Dasar pengaaang..gguu!" ucap Luhan gemas. Tangannya mencubiti pipi Sehun.
"Ammfhuun Hhuhaaan," pinta Sehun berusaha melepaskan tangan Luhan dari kedua pipinya.
Luhan tidak peduli. Dia semakin gemas menarik kedua sisi Sehun. "Rasakan!"
SREEEET
Luhan berhenti. Dia mendongakkan kepalanya kearah perbatasan ruang tivi dan dapur.
Sehun bersorak senang dan langsug menjauh dari Luhan. Dia mengelus pipinya pelan dan mendengus.
"Kau ja—"
"Apa ada orang lain yang tinggal di apartemenmu Sehun-ah?" tanya Luhan. Matanya masih menatap lurus kearah dapur.
"Hah? Tidak. Aku tinggal sendirian, kok. Soalnya lebih enak sendiri," jawab Sehun.
"Tapi tadi aku.."
Luhan menggeleng. Dia lalu berdiri. "Aku mau pulang,"
Luhan menarik tasnya dan berjalan kearah pintu apartemen Sehun.
"Apa?" Sehun terkejut mendapati perubuhan sikap Luhan. Dia segera meraih jaket dan kunci mobilnya. Dia berlari mengejar Luhan yang telah keluar apartemen.
"Luhan! Wae? Ya! Tunggu aku!"
Sehun meraih tangan Luhan yang hendak menekan tombol lift.
"Kau kenapa?!" tanya Sehun. Luhan menunduk dan menggeleng pelan.
Sehun menghela nafas dan tersenyum kecil.
"Baiklah, kuantar kau pulang,"
.
.
.
.
"Ini,"
Baekhyun menyodorkan segelas air hangat pada Kai.
"Kok hangat?" tanya Kai pelan. Ia sedang duduk bersandar di sofa sekarang. Dia masih merasa pening dengan kejadian.. yaah tadi.
"Kata Luhan Jie, air hangat baik untuk orang yang sedang sakit,"
Kai mengangkat bahu dan meminum air itu perlahan.
"Jadi, apa yang kau maksud dengan aku jalan-jalan denganmu tadi?" tanya Baekhyun.
Kai meletakkan gelasnya dimeja lalu menatap Baekhyun.
Ceritakan tidak yah. Batin Kai.
Dia berpikir sembari menatap Baekhyun. Tapi lama-lama ia malah asyik menikmati kecantikan kekasihnya.
"Kai?" panggil Baekhyun sambil mengibaskan tangannya didepan muka Kai.
"Kau jadi cantik lagi, Baek," gumam Kai.
"Hah?"
Kai mendekati Baekhyun dan memeluknya erat.
"K—Kai! Apa yang kau lakukan?!" Baekhyun yang terkejut berusaha melepaskan diri dan mendorong dada Kai. Namun sepertinya tidak berhasil.
"Kau wangi sekali, habis mandi ya?" tanya Kai sambil menciumi leher Baekhyun.
"Kai! Astaga apa yang kau lakukan?!" bentak Baekhyun dan mendorong Kai sekuat tenaga.
Pelukan mereka terlepas. Kai menggelengkan kepalanya dan memukulnya pelan.
Baekhyun mengambil varsity yang ia sampirkan di pegangan sofa dan memakainya.
"Kau berbahaya, Kai,"
Kai menggaruk tengkuknya canggung. "Maaf, Baekhyun. Aku hanya merasa ada yang berbeda tadi. Kau terlihat sangat cantik,"
"Hah? Aku bahkan belum mandi jika kau mau tau," ucap Baekhyun sebal.
"Tapi kau yang tadi dan sekarang itu—"
"Apa? Yang tadi? Maksudmu apa?" sela Baekhyun.
Kai diam. Sial, dia kelepasan.
"Bukan! Bukan apa-apa, haha.. HAHA,"
Baekhyun menyipit. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku!" ucapnya garang.
"Tidak! Tidak ada apapun! Percayalah!" kata Kai.
"Mukamu tak bisa dipercaya tau!" balas Baekhyun kesal. Kai merengut menggumam sialan.
"Ayo beritau!" paksa Baekhyun menggoyangkan lengan Kai keras.
"Apasih?! Beritau apa? Aku tak menyembunyikan apapun!" bantah Kai.
"Bohong! Ekspresimu itu mengatakannya tau!" kekeuh Baekhyun.
Kai mendengus kesal kala Baekhyun yang tak mau berhenti memaksanya. Tangannya menyergap tangan Baekhyun dan membawanya ke pinggir sofa.
BRUGH
Kai menindihnya dengan kaki mengangkang mengapit kedua kaki Baekhyun. Mata Baekhyun membulat.
"YA! LEPASKAN!"
"TIDAK SEBELUM KAU DIAM!"
"LEPASKAN AAAKUUUUU!"
"KUBILANG DIAM. BARU KULEPAS!"
"LEPAS—"
"ASTAGA! KALIAN BERDUA SEDANG APA?!"
.
.
.
Luhan berjalan keluar mobil Sehun. Sedikit berlari karena hujan masih mengguyur sedaritadi. Walaupun sekarang hanya rintik-rintik saja.
"Tunggu Luhannie, aku ikut," ucap Sehun. Dia mengejar Luhan setelah mengamankan pintu mobil.
"Kau masih marah, ya?" tanya Sehun saat melihat Luhan yang diam saja ketika didalam lift.
Luhan tertawa kecil. "Tidak, kok. Memang siapa yang bilang kalau aku marah?"
"Tapi tadi kau tiba-tiba minta pulang,"
"Ah, itu.." Luhan diam. Pintu lift terbuka dan Luhan bergegas keluar menuju apartemennya.
"Luhan!" Sehun meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat.
"Aku.. lelah, Sehunnie,"
Sehun jadi tak tega ketika melihat wajah Luhan yang begitu kelelahan. Dielusnya sayang rambut Luhan.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tak bermaksud membentakmu,"
Luhan mengangguk. Dia segera berjalan (bersama Sehun tentu) menuju apartemennya.
Dia langsung membuka pintu.
Tidak dikunci, mungkin Baekhyun baru pulang.
BRUGH
Luhan dan Sehun tersentak kaget.
"Suara apa itu?" tanya Sehun. Luhan menggeleng tak tau. Dia buru-buru melepaskan alas kakinya dan berlari kedalam.
"Baekhyun! Apa yang ter—"
Mata Luhan melebar hampir keluar saking terkejutnya.
"ASTAGA! KALIAN BERDUA SEDANG APA?!"
.
.
Luhan memijit pelipisnya pelan. Sedangkan Sehun memijat kedua bahunya dan tertawa kecil melihat Baekhyun dan Kai yang menunduk.
"Jadi, maksud posisi kalian yang tadi itu apa?"
Baekhyun hanya menggeleng cepat. "Kami tidak melakukan apa-apa Jie!"
Luhan menghela nafas.
"Kau tau Jongin, Baekhyun masih berusia 16 tahun,"
Kai mengangguk.
"Dan kau tau, kau terlihat seperti om-om mesum yang sedang memaksa seorang gadis untuk menemaninya malam-malam,"
Kai mendelik. "Aku tidak—"
"Belum waktunya, Jongin. Bersabarlah, suatu saat pasti kau boleh melakukannya. Suatu saat," ucap Sehun.
Kai makin mendelik. 'Sialan!' umpatnya dalam hati.
"Aku hanya kesal! Lagian dia banyak bicara!" kata Kai duluan.
"Heh! Aku?! Kau yang duluan main sembunyi-sembunyian begitu!" sergah Baekhyun.
"Sembunyian apa?! Aku kan sudah bilang tidak ada yang kusembunyikan!"
"Tapi ekspresimu itu menyebalkan!"
"Aku tak memintamu menilai ekspresiku!"
"Tapi aku ingin! Lagipula aku kan kekasihmu, salah jika aku ingin tahu hah?!"
"Apa yang harus kuberitau padamu, SA—YANG?! Kubilang kan aku tak menyembunyikan apapun!"
"Tapi kau—"
"BERHENTI!" teriak Luhan.
Kai dan Baekhyun langsung menunduk lagi.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Yatuhan kepalaku pusing," keluh Luhan bersandar di sandaran sofa.
"Dia bilang dia mengajakku jalan-jalan siang ini. Tapi aku kan baru pulang dari rumah Xiumin jam setengah 4 sore. Apa itu tak terdengar aneh?" tanya Baekhyun pada Luhan dengan masih kesal melirik Kai.
Kai balik memelototi Baekhyun dengan ekspresi kenapa-kau-cerita-bodoh-.
"Kencan denganmu tapi bukan dirimu? Aku tak mengerti," Luhan menggeleng gelengkan kepalanya bingung.
Kai diam saja. Dia badmood banget.
"Ayolah Tuan Muda Kim Jongin, sebaiknya cerita saja," kata Sehun.
Kai melirik sinis pada Sehun yang mengikuti panggilan pelayan dirumahnya. Kai terlihat menimang-nimang.
"Baiklah,"
Dan akhirnya berdehem sebentar.
"Sekitar jam 3 sore, Baekhyun datang kekampusku, dia datang tiba-tiba dan tiba-tiba juga ia ingin jalan-jalan bersamaku,"
"Mwo?! Aku—"
"Jangan menyela!" ucap Kai tajam. Baekhyun merengut.
"Kami akhirnya pergi ke salah satu mall dan bermain-main disana. Setelah itu kami makan disalah satu restoran. Aku baru sadar ada yang aneh dengan Baekhyun,"
"Seperti?" tanya Luhan.
"Dia terlihat agak kusam dan dekil. Adaw!" Kai meringis saat Baekhyun melemparnya dengan bantal berat.
"Baekhyun, tenanglah," ucap Sehun. Baekhyun makin merengut sebal.
"Kulanjutkan, ya. Dia juga memanggilku 'Oppa'. How amazing banget kan? Berbulan bulan jadi kekasihnya, dia mana mau panggil aku Oppa,"
Luhan dan Sehun tertawa kecil.
"Tidak lama waktu untuk kami makan. Hanya sebentar karena Baekhyun bilang ingin pulang. Saat aku menggenggam tangannya, itu terasa sangat dingin! Sungguh, yang aku tau tangan Baekhyun adalah tangan terhangat yang kumiliki setelah kedua orang tuaku dan kakakku,"
Baekhyun tersenyum kecil mendengar penuturan Kai.
"Lalu kami pulang ke apartemen Baekhyun. Aku merasa aneh untuk yang kesekian kalinya karena setelah turun dari mobil dia terus menunduk dan wajahnya agak pucat, saat kutanya dia malah berlari kedalam lift,"
Baekhyun, Sehun, dan Luhan sedikit terkejut dengan ekspresi 'Apa?'
"Baekhyun diam saja di lift, ya jadi aku juga diam. Saat pintu lift terbuka dilantai lima.. aku melihat.. Baekhyun.." tunjuk Kai pada Baekhyun.
Baekhyun membelalak. "Ja—jadi.."
"Aku tidak tau ini apa, tapi itu cukup membuat otakku berpikir keras dan kepalaku menjadi sangat pening," kata Kai.
"Luhan?" Sehun mengguncang bahu Luhan ketika melihat gadis itu terlihat shock dan pucat.
"Jongin.. apa baju yang ia pakai?" tanya Luhan.
"Ah! Iya! Sampai lupa! Masa Baekhyun pakai dress coklat sore-sore begitu. Bukan style dia banget, kan? Dan aku juga shock banget waktu lihat Baekhyun yang aku lihat dihadapanku waktu didepan lift malah pakai hotpants, kaos putih, dan varsity, padahal tadi kan—"
"Jongin," panggil Luhan.
"Apa? Aku belum selesai," sungut Kai.
Luhan terdiam sebentar.
"Kurasa.. kita bertemu wanita yang sama,"
Kai, Sehun, dan Baekhyun terbelalak.
"MWO?!"
Luhan mengangguk.
"Bagaimana—"
BEEP BEEP.
Wajah Luhan memucat.
"Hee? Suara apa itu?" tanya Sehun heran. Baekhyun mengangkat bahu dan Kai yang menajamkan pendengarannya.
"Apa itu bunyi handphone kalian?" tanya Sehun pada Baekhyun dan Kai. Keduanya menggeleng serentak.
BEEP BEEP.
"Ah! Itu!" tunjuk Kai pada telepon diatas meja yang terletak disamping kamar Baekhyun.
"Sehun! Jangan!" teriak Luhan saat melihat Sehun yang ingin mengangkat panggilan itu.
Sehun mengeryit. "Waeyo Lu?"
Luhan menggeleng cepat. Dia menarik tangan Sehun dan memeluknya erat. "Jangan! Pokoknya jangan!"
Sehun hanya mengangguk-angguk tak mengerti. Sedangkan Kai dan Baekhyun malah semakin bingung.
BEEP BEEP.
"Jie, kenapa suara itu muncul lagi?" tanya Baekhyun heran. Luhan menggeleng didada Sehun.
"Pokoknya jangan ada yang mengangkatnya!" perintah Luhan tajam.
"Memang kenapa—"
"Hihi...Hihihi.."
Wajah Luhan makin memucat. Sehun dan Kai menegang sedangkan Baekhyun yang tak tau apa-apa juga langsung memeluk lengan Kai.
Dengan gerakan pelan mereka berempat menolehkan kepala kearah telepon tadi.
Wajah keempatnya memucat hebat.
"...kenapa...kenapa tidak.. mengangkat telepon dariku...?"
.
.
::TBC::
AAAH MAAFIN SAYA. HUHUHU
Lama banget ya? Iya, soalnya minggu kemaren saya pulang kampung dan gaada koneksi buat nyambung keinternetT_T
Pulang dari kampung dan besoknya langsung study perpisahan. Maapin yak huhuhuhu.
Maaf, juga ceritanya makin ganyambung. Entah deh, author merasa ini lama-lama kayak film horror indonesia yang bokep bokep zzz_-
Tapi author udah berusaha lho :') jadi mau review kan? Kasih tau aja kesalahan author dimana, atau yang mau nyumbang ide buat chap depan boleh, kok.
Untuk reader CHOCOLATE, masih proses pengetikan. Author buntu taau.
Cerita ini juga sempet ngendat ngendet akunyaa. Gadapet feel gegara poto Kai cifokan ama cewe dan ternyata itu jaejoong bukan Kai. Zzz-_-
Tapi, katanya bener ada adegan kissing di mv baru exo nanti?
Luhan juga kissing katanya.
HUHUHU author jadi mules tau mikirinnya. Cenad cenud gimana gitu.
Luhan.. huhuhu:"""" Luhan..
Hhhh-_-
Thanks To :
jungsii, ramiminnie, canyol, Blacknancho, Lkireii0521, ChanLoveBaek, zie, RadenMasKYU, Zie, Astri407, widyaokta, cho, mitatitu, chyshinji0204, Love Couple, 0312luLuEXOticS, , MeelMeel Aideen, ohristi95, fadillaShiners.
Aku sayang banget ama kalian:') muah.
