Beep Beep
Author : gaemkevin
Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship
Rated : T
Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other
Pair : HunHan, Kaibaek.
Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? Terdengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?
Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Absurd / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.
A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it.
.
.
.
..
Chapter 5
.
Beep Beep
.
.
Luhan meremas tangannya gelisah. Sehun mengelus punggung Luhan. "Tenanglah, Lu,"
Luhan tersenyum dan mengangguk pelan.
TING
Luhan langsung saja melesat menuju apartemennya dan perasaannya yang kacau makin kalut saat melihat pintu itu terbuka lebar.
"Baekhyun!" teriak Luhan masuk dengan tergesa-gesa.
"Hiks.. Kai.. Kai.."
Luhan dan Sehun terhenti. Luhan melempar pandangannya ke arah Sehun. Sehun mengangguk meyakinkan. Dia menggenggam tangan Luhan dan berjalan masuk kearah ruang tamu.
Luhan terpaku saat menemukan Baekhyun yang duduk bersipuh dengan kepala Kai dipangkuannya.
Bukan. Bukan itu yang membuatnya terkejut, namun darah yang mengalir membentuk anak sungai kecil dilantai dari perut Kai.
"B—Baek? Apa yang terjadi?!" tanya Luhan menghampiri Baekhyun.
Sehun tidak kalah panik. Saat dia hendak melangkah, sebuah suara menghentikannya.
"Baekhyun, sebentar lagi pihak rumah sakit akan datang!"
"Lho? Jung Ahjumma?"
"Ah, Luhan. Dan—..Sehun,"
Luhan mengelus pundak Baekhyun yang masih terisak hebat. Dia berdiri dan menghampiri Jung Ahjumma dengan berlinang air mata.
"Apa yang terjadi Ahjumma? Kenapa Jongin bisa seperti itu?" tanyanya pelan.
Jung Ahjumma melihat mereka bergantian. "15 menit yang lalu, aku mendengar ribut-ribut dari apartemen Baekhyun. Saat aku keluar ingin mengecek, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam dan topeng keluar sembari memegang pisau yang sudah terlumur darah. Dan aku dapat mendengar jeritan pilu Baekhyun yang kekasihnya ternyata.."
Jung Ahjumma melirik Kai. "Ditikam oleh lelaki itu,"
Luhan menangis kencang. Sehun memeluk Luhan cepat dan menenangkannya.
"Aku sudah hubungi pihak rumah sakit, sebentar lagi mereka akan datang,"
Luhan terisak didada Sehun. "Sehunnie, Kai.." bisiknya lirih.
Sehun mengangguk. Dia membawa Luhan duduk disofa dan menghampiri Baekhyun. Ditepuknya pundak adik kekasihnya itu pelan.
Baekhyun menoleh dengan mata yang benar-benar tertutup air mata. Isakkannya terdengar sangat lirih. Tangannya berkali-kali mengelus rambut Kai yang juga terciprat darah.
"Oppa.. Kai.." rintihnya pilu. "Kai mati.. Mimpiku.. Hiks.."
Sehun mengelus pundak Baekhyun dan menggeleng. "Tidak, Baekhyun-ah. Kai tidak akan mati, percayalah!"
Dan Sehun bisa merasakan matanya memanas ketika Baekhyun masih terintih menyebut nama Kai pelan. Bibir gadis itu bermuara di bibir kekasihnya dan mengecupnya lama.
Sehun mendengar suara gaduh diluar. Seketika beberapa orang dengan pakaian putih masuk membawa keranjang dorong.
Oh, itu pihak rumah sakit.
Sehun menarik Baekhyun untuk melepaskan Kai. Baekhyun meraung saat melihat kekasihnya digotong dan diletakkan di ranjang dorong. Mungkin dia pikir Kai diculik.
"Itu dari rumah sakit Baekhyun-ah, tenanglah," bisik Sehun. Baekhyun langsung tenang ketika mendengar kata rumah sakit.
Luhan berdiri dan memeluk Baekhyun erat. "Ayo kita ikut mereka," bisik Luhan yang diangguki lemah oleh Baekhyun.
Sehun keluar paling terakhir dan mengunci pintu apartemen Luhan. Dia berjalan paling belakang. Badannya tak sengaja bersenggolan dengan seorang lelaki yang baru saja keluar dari lift.
Itu tetangga mereka kan? Siapa? Jonghun? Pikir Sehun.
Tetapi gelagatnya aneh sekali. Mata Sehun sedikit membesar dan alisnya bertaut turun. Sehun bersumpah melihat seringaian kecil Jonghun saat lelaki itu melirik ke ranjang berisi tubuh kaku Kai.
"Sehun?"
Sehun menoleh cepat kearah Luhan dan langsung berlari kedalam lift.
.
.
.
Luhan memeluk dan mengelus bahu Baekhyun yang masih bergetar.
"Apa Kai akan mati, Jie?" bisiknya. Luhan menggeleng pelan.
"Tidak. Kai tidak akan mati. Tidak akan,"
CKLEK
Baekhyun langsung berdiri. Dia mencengkram jas yang digunakan oleh Dokter yang menangani Kai.
"Bagaimana keadaanya, Dok?" tanya Baekhyun.
"Baekhyun," Sehun menarik Baekhyun menjauh sedikit dan menggeleng pelan.
Dokter itu berbatuk sedikit dan menatap Baekhyun tersenyum. "Lelaki didalam kekasihmu?"
Dan Baekhyun langsung mengangguk cepat.
"Tenanglah. Dia tidak apa-apa. Luka tusuknya tidak terlalu dalam, tapi dia kehabisan banyak darah,"
"Ja—jadi?" tanya Luhan.
"Kami sudah mendonorkan sebagian darah bergolongan sama yang kami punya disini. Tinggal menunggu dia sadar saja,"
"Berapa lama?" kali ini Sehun.
"Tenang saja, tidak akan lama,"
Luhan membungkuk berterima kasih ketika Dokter itu berjalan pergi. Baekhyun terduduk dikursi. Kepalanya sedikit pening. Dipejamkan matanya perlahan.
"Hai, kalian yang tadi kan? Sedang apa disini?"
Luhan dan Sehun menoleh dan menemukan Taemin.
"Kami.." Luhan berpikir sebentar. "Kekasih adikku kecelakaan. Dia dirawat disini,"
Taemin menggumam 'Oh' pelan. "Adikmu?" tunjuk Taemin pada Baekhyun. Luhan mengangguk.
Taemin menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah Baekhyun. Seketika wajahnya berubah terkejut. Dia melangkah mundur dengan wajah shock.
Luhan hanya terdiam. Dia tau pasti Taemin akan bilang—
"...Kyungsoo?"
"Bukan. Dia Baekhyun. Adikku," lirih Luhan.
"Ta—tapi wajah ini.." Taemin mengelus pipi Baekhyun.
Baekhyun membuka matanya saat merasa ada sesuatu mengusik ketenangannya. Tangannya menepis kasar tangan Taemin yang sedang mengelusi pipinya. Dia merapatkan Luhan.
"Siapa Jie?" tanyanya takut. Pengalaman dipaksa cumbu oleh Jonghun membuatnya sedikit trauma pada laki-laki. Yah, kecuali ayahnya, Kai, dan Sehun. Dan beberapa teman lelaki baiknya mungkin. Beberapa.
"Namanya Taemin. Lee Taemin," Luhan menuntun tangan Baekhyun ke arah Taemin. "Dia orang baik. Jiejie berani bersumpah,"
Baekhyun dengan tangan gemetar meraih tangan Taemin.
"Ba—Baekhyun.."
"Taemin,"
"Dia.. mirip dengan Kai, Jie," bisik Baekhyun setelah melepaskan tautan tangannya.
Luhan tersenyum kecil.
Taemin terdiam. Lelaki itu masih sibuk menelusuri wajah Baekhyun yang dipahat hampir persis dengan kekasihnya, Kyungsoo.
"Ah, Baekhyun, bagaimana kalau kita mencari makanan? Aku sedikit lapar," tanya Sehun. Baekhyun mengangguk cepat.
Sehun berdiri dan menatap Luhan. Luhan balas menatapnya dan tersenyum. Gadis itu mengerti. Sehun memintanya untuk menjelaskan semuanya pada Taemin.
"Bisa aku meminta Cheese Burger?" tanya Luhan.
"Tentu," jawab Sehun dan pergi berlalu bersama Baekhyun.
Taemin duduk disebelah Luhan. "Jadi?"
"Akan kujelaskan. Tapi omong-omong apa yang kau lakukan dirumah sakit ini?" tanya Luhan penasaran.
Taemin terkekeh sedikit. "Aku seorang Dokter. Dokter anak. Kalau kau ingin tau,"
'Whoaa' gumam Luhan.
"Tapi sebenarnya hari ini aku tidak bekerja. Hanya berkunjung saja. Hm, yasudah, cepat ceritakan,"
Luhan mengangguk. "Ini akan terdengar sangat aneh tapi aku bersumpah tidak berbohong," ucapnya. "Semua berawal dari telepon tua disamping kamar Baekhyun. Di apartemen kami,"
"Telepon?"
Luhan mengangguk. "Malam itu aku sedang mengerjakan tugas. Sekitar jam tengah malam telepon tua itu berbunyi. Bunyi aneh. Seperti 'Beep Beep. Beep Beep.'. Aku bingung. Aku merasa tidak membawa telepon seperti itu kerumah. Lagipula siapa coba yang mau menelpon tengah malam?"
Taemin menggumam 'masuk akal'.
"Aku mengangkatnya. Tapi yang ada hanya suara wanita.. wanita tertawa. Lalu menangis,"
"Hah? Menangis..?" tanya Taemin pelan. Sepertinya dia sedikit merinding.
"Sejak itu hal aneh terjadi. Pertama aku bertemu seorang wanita disamping lift. Sekitar jam 10 malam. Aku kira itu Baekhyun. Karena memang wajah mirip dengan Baekhyun. Tapi aku salah. Ketika aku masuk kedalam apartemen dan menemukan Baekhyun yang sudah tertidur dari 1 jam... yang lalu,"
"Kedua, aku lembur di kampus bersama kekasihku. Saat sedang ehem—eung.." Luhan berhenti sebentar saat mengingat dia yang waktu itu sedang berciuman dengan Sehun.
Taemin tertawa. "Langsung saja. Di skip juga tak apa,"
Luhan tertawa canggung. "Aku.. mendengar bunyi telepon itu. 'Beep. Beep.' Sampai tiga kali dan aku melihat kesekeliling. Kosong. Sepi. Padahal aku ingat masih ada orang yang berlalu lalang di koridor kampus. Sampai aku tersadar saat Sehun meneriakiku dengan cemasnya,"
"Ketiga saat sedang ada dirumah kekasihku aku melihat.. sekelebat bayangan wanita dengan dress coklat dari arah dapur. Padahal Sehun tinggal sendirian,"
"La—lalu?"
"Kekasih adikku, Kai. Yang sedang dirawat didalam," tunjuk Luhan kearah kamar dengan dagunya. "Bertemu juga dengan gadis itu di lift dan.. berkencan dengan.. nya.."
"A—apa? Bagaimana bisa?!"
Luhan menggeleng.
"Wajahnya sangat mirip dengan Baekhyun. Kai tertipu. Dia terkejut saat melihat kekasih aslinya baru pulang dari rumah teman saat dia ingin menuju apartemenku.. mengantar kekasih.. palsunya.."
"Apa wanita itu.."
"Dia Kyungsoo," sela Luhan.
"Kenapa kau yakin?"
"Kau bilang meninggalkan Kyungsoo di apartemen hari itu kan?"
Taemin mengangguk.
"Tepat hari sebelum aku kerumahmu. Aku bermimpi ada seorang gadis yang seperti akan di setubuhi laki-laki. Gadis itu berteriak. Namun sepertinya itu sudah larut malam. Dia melawan dan berhasil. Gadis itu berlari ke arah telepon rumah. Menelpon polisi, tapi belum dia sempat berbicara, dia.. dibunuh,"
Taemin membatu. "Jadi Kyungsoo.. dibunuh?"
"Aku tak dapat menyimpulkan seperti itu. Itu hanya mimpi walau terlihat nyata. Tapi aku yakin wajah itu wajah Kyungsoo.."
"Lelaki itu.. siapa?"
Luhan menggeleng. "Wajahnya tak jelas. Sangat samar. Tapi yang kutahu dia tinggi dan kekar,"
Air muka Taemin mengeras. "Pasti Jonghun sialan itu!"
"Kau kenal Jonghun?"
"Tentu saja. Lelaki yang terobsesi akan Kyungsoo. Dia itu tidak waras,"
Luhan membelalak.
"Aku curiga jangan-jangan sekarang dia terobsesi pada adikmu,"
"Ti—tidak mungkin!" sergah Luhan. "Jonghun itu orang baik!"
Taemin melirik Luhan. "Kau yakin?"
Luhan terdiam. Apa iya Jonghun menyukai Baekhyun?
"Mana adikmu Luhan?"
"Tak apa. Dia manis sekali,"
"Apa Baekhyun mempunyai kekasih?"
"Sampaikan salamku pada Baekhyun, ya,"
"Baekhyun.."
"Baekhyun.."
"Baekhyun.."
BEEP BEEP.
Luhan tersadar. Dia melihat sekelilingnya. Putih. Badannya mulai gemetar.
"Luhan.."
Luhan bergidik.
"He—hentikan.." bisik Luhan lirih. Dia menutup kedua telinganya.
"Luhan.. Luhan.."
Luhan menggeleng. "Diam.."
BEEP BEEP.
"Luhan tolong..."
Luhan dengan takut menoleh kedepan. Matanya membelalak menemukan Baekhyun—ah bukan itu Kyungsoo.
"Tolong aku.."
Wajahnya tidak jelek dan seram. Dia kelihatan sangat cantik namun wajahnya sendu dan pucat sekali.
"Apa yang bisa kulakukan...?" bisik Luhan lirih.
Hantu gadis itu meraba-raba sekitar badannya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Luhan mengkerut bingung. "Apa.. aku tidak—"
BEEP BEEP.
"Tolong.. Tolong aku Luhan.."
"Apa? Apa yang harus kulakukan!?" tanya Luhan terengah.
"Tolong.. Tolong..." banyangan Kyungsoo semakin lama semakin mengabur.
"A—a tunggu! Apa yang harus kulakukan Kyungsoo?! Tunggu!"
"Tolong..."
"KYUNGSOO!"
.
"LUHAN!"
Luhan tersadar kembali. Dia menoleh keatas dan menemukan Sehun dengan wajah paniknya. Disebelahnya ada Baekhyun dan Taemin yang juga bingung.
"A—aku.." Luhan mencari-cari Kyungsoo. "Tadi Kyungsoo minta tolong padaku.. Dia minta tolong.."
Taemin dan Sehun terbelalak sedangkan Baekhyun mengeryit.
"Kyungsoo? Siapa dia?"
"Kekasihnya yang menghilang secara misterius di apartemenmu," bisik Sehun sambil melirik Taemin.
Baekhyun membulatkan matanya. "Apa?! Jangan-jangan wanita yang itu..?" bisik Baekhyun. Dan Sehun mengangguk cepat.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Taemin.
Luhan menggeleng. "Dia hanya bilang tolong.. Hanya tolong.."
"HMMPPH HMMPH!"
Mereka berempat menoleh ke arah kamar Kai.
Baekhyun langsung berlari membuka pintu dan menemukan seorang pria berpakaian hitam memakai topeng membekap wajah Kai dengan bantal.
"APA YANG KAU LAKUKAN!?" jerit Baekhyun.
Lelaki itu menoleh dan melemparkan bantalnya. Dia berlalu cepat kabur lewat jendela.
"YA!" Baekhyun hendak mengejar melompat ke jendela juga namun Taemin langsung menariknya menjauh.
"Jangan gila!" ucap Taemin.
Baekhyun menggeleng dan melihat Kai. Lelaki itu sedang kesusahan mencari oksigen. Mulutnya terbuka dan dadanya naik turun. Baekhyun segera memasang penutup oksigen yang terlepas ke mulut Kai kembali.
"Siapa dia?" tanya Sehun melihat lelaki berpakaian hitam itu berlari kearah belakang rumah sakit.
"Jongina, gwaenchana?" tanya Luhan panik.
Kai masih sedikit kesulitan bernafas. Tak lama dia mengangguk. Baekhyun mengusap peluh yang mengalir di pelipis Kai.
"Apa yang terjadi?" dan Kai hanya menggeleng lemah. Tangannya mengenggam erat tangan Baekhyun didahinya.
Baekhyun bersumpah baru kali ini dia melihat wajah Kai yang terlihat ketakutan. Dia memeluk Kai dan menenangkannya.
Taemin terdiam melihat Baekhyun dan Kai.
"Dia.."
"Wajahnya mirip denganmu, ya?" tanya Luhan. Taemin mengangguk. Dia menggigit bibirnya. Pemandangan ini mengingatkannya pada Kyungsoo. Masa-masanya di masa lalu dengan Kyungsoo sampai gadis itu menghilang...
"Ini bahaya. Sepertinya orang itu ingin melakukan sesuatu pada Kai," kata Sehun.
"Apa ini orang yang sama dengan yang menusuk Kai?" tanya Luhan.
"Aku rasa iya," jawab Sehun.
"Aku tidak mengerti. Kau bilang dia kecelakaan bukan?" tanya Taemin akhirnya.
"Iya, kecelakaan. Dia ditikam oleh pria yang mungkin sama dengan yang kabur tadi,"
"Bagaimana bisa?"
Luhan mengendikkan bahunya. "Hanya Baekhyun yang tau, dan aku tak ingin mengungkitnya. Baekhyun tipe gadis yang mudah menyimpan trauma,"
Sehun melihat lagi keadaan di luar jendela rumah sakit.
'Sial. Aku yakin dia Jonghun.'
.
.
"Byun Baekhyun? Bisakah anda tidak melamun?"
Baekhyun menggeleng kecil dengan cepat dan tersenyum canggung kepada Songsaenim yang sedang mengajar Matematika didepan kelas.
"Ma—maaf, Songsaenim. Sepertinya aku kurang enak badan,"
Wajah wanita paruh baya itu yang tadinya mengeras perlahan melembut. Dia berjalan mendekati bangku Baekhyun. Tangannya menapak di kening Baekhyun.
"Kau sedikit panas. Lebih baik ke Ruang Kesehatan saja,"
Baekhyun mengangguk dan berdiri dari bangkunya. Langkahnya terhenti saat tangannya ditahan Xiumin.
"Aku antar?" tawar Xiumin berbisik.
Baekhyun tersenyum dan menggeleng. Dia melepaskan tangan Xiumin lalu bergumam 'aku bisa sendiri. Tenanglah,'
Xiumin mengangguk. Baekhyun berjalan perlahan. Keluar kelas.
.
.
Baekhyun berjalan sambil memegangi tembok. Entahlah kepalanya begitu pusing. Pikirannya kalut. Dia khawatir pada Kai. Hanya nama Kai yang berputar-putar di otaknya sedaritadi. Dia takut lelaki itu muncul lagi lalu membunuh Kai.
Badannya hampir saja jatuh kelantai jika seseorang tak menangkapnya.
"Kyungsoo?"
Baekhyun mengeryit saat mendengar orang itu berbicara dengan sedikit terkejut. Kyungsoo itu kan..
Dia melihat lelaki itu menggeleng pelan dan mengusap dahi Baekhyun.
"Kau pucat sekali,"gumamnya. "Aku antar ke Ruang Kesehatan,"
Baekhyun merasa tubuhnya seperti melayang saja saat orang itu mengangkat tubuhnya ala pengantin. Jalannya tergesa-gesa dan Baekhyun merasa tak nyaman. Tapi ia musti bagaimana lagi? Bicara saja sulit apalagi memberontak.
CLEK.
Baekhyun membuka matanya ketika ruangan serba putih terpampang di hadapannya.
Orang itu merebahkan tubuh Baekhyun di atas kasur dan menyelimutinya. Lalu beranjak ke arah lemari mengambil handuk dan membasahinya dengan air.
Baekhyun mendesah lega ketika handuk basah itu menempel dikeningnya. Rasanya dingin dan sejuk.
"Kau butuh apalagi?" tanya orang itu. Baekhyun menoleh dan sedikit bisa melihat. Dia laki-laki. Tidak terlalu tua. Cukup muda karena kulit putih bersihnya. Wajahnya juga tampan dan kelihatan ramah sekali.
"Aku Kim Joomyeon,"
Baekhyun tersentak saat orang itu memegang bahunya. Sepertinya orang ini bisa membaca pikiran.
"Tenang. Aku bukan orang jahat. Aku guru baru disini. Lihat?" Joomyeon berdiri dan memperlihatkan dirinya memakai celana dan atasan kemeja formal ala pengajar.
Baekhyun mengangguk pelan.
"Siapa namamu?"
Baekhyun berpikir sebentar dan mengangkat dada kanannya. Mempertujukan name tag hitam dengan tulisan putih.
"Baekhyun?"
Dan Baekhyun mengangguk lagi.
"Hm, ternyata bukan," dan Baekhyun mengeryit lagi saat mendengar suara lirih lelaki itu. Namun ia tak mau tanya. Mulutnya sedikit kelu.
"Jadi, kenapa kau bisa berjalan sendirian begitu? Kau tidak minta ditemani?"
Baekhyun terdiam.
"A—aku.."
"Joomyeon-ssi?"
Joomyeon dan Baekhyun menoleh berbarengan kearah pintu yang menampakkan wanita dengan dress biru dibalut blazer hitam.
"Taeyeon-Songsaenim," bisik Baekhyun lirih.
Joomyeon langsung berdiri dan membungkuk.
Taeyeon ikut membungkuk dan tersenyum. "Sedang apa disini? Bukankah seharusnya anda mengajar dikelas atas? Ini hari pertama anda bukan?"
"Ah, maafkan saya. Tadi murid ini hampir pingsan di koridor, jadi saya harus membawanya kesini dulu,"
Taeyeon melongok dan bergumam 'Baekhyun?'.
"Tapi sepertinya anda bisa menjaganya sementara saya akan mengajar?" tanya Joomyeon.
Taeyeon menggeleng. "Aku juga ada pelajaran jam ini,"
"A—aku baik-baik saja.."
Taeyeon memandang murid kesayangannya khawatir. "Benar?"
Baekhyun mengangguk pelan.
Taeyeon menghela.
"Yasudah. Aku pergi ya,"
Joomyeon mendekati Baekhyun dan menuliskan sesuatu di memo miliknya. Dia menyobeknya dan meletakkannya di bawah vas bunga.
"Nomorku. Kalau ada apa-apa, kau telepon saja,"
Baekhyun tersenyum. Orang ini baik sekali. pikirnya.
Baekhyun mengangguk dan Joomyeon segera berlalu pergi.
Baekhyun memejamkan matanya. Mungkin tidur bisa membuat pikirannya tenang dan kembali normal.
.
.
"Lu?"
Luhan menoleh kearah Sehun yang memandangnya cemas.
"Sehun aku.. masih memikirkan orang itu.."
Sehun menghela nafas. Dia mengusap lengan Luhan.
"Aku sepertinya tau siapa orang itu. Tapi tidak yakin kau akan mempercayaiku,"
Luhan mengerjapkan matanya. "Siapa Hun? Siapa?"
"Aku juga tidak yakin, Lu,"
"Tidak apa! Aku akan percaya walaupun kau menuduh orang seenaknya,"
Sehun tertawa sedikit dan berdehem pelan.
"Tetangga sebelahmu,"
Luhan membelalak. "Apa?! Ti—"
"Tuh kan. Kau langsung menyangkal. Sudahlah. Lupakan," Sehun kembali menyalin catatan Luhan yang ia pinjam.
"Sehunnie maaf, aku tidak bermaksud menyangkal. Hanya saja.. aku sedikit terkejut,"
Sehun berhenti dan menatap mata Luhan.
"Kenapa?"
"Karena Jonghun baik pada kami,"
"Belum berarti orang baik tidak punya alasan khusus kan?"
Luhan terdiam.
"Aku melihatnya menyeringai senang saat Kai dibawa kerumah sakit malam kemarin. Apa itu tidak membuatku curiga?"
"Benarkah? Aku tidak melihatnya,"
"Kau sibuk meredakan Baekhyun, Lu. Aku melihatnya keluar dari lift memakai celana hitam dan baju.."
Sehun terdiam sebentar dan berpikir. "Abu-abu.."
"Tapi ahjumma bilang orang itu memakai baju serba hitam kan?"
"Bisa saja dia memakai jaket sebelumnya,"
Luhan menggigit bibirnya. "Tapi untuk apa dia melakukan itu pada Kai?"
"Tentu saja. Lelaki yang terobsesi akan Kyungsoo. Dia itu tidak waras,"
"Aku curiga jangan-jangan sekarang dia terobsesi pada adikmu,"
"Jonghun menyukai.. Baekhyun.."
Sehun mengeryit. "Hah?"
Luhan memegang bahu Sehun dengan muka aneh. "Kau benar, Sehun. Jonghun bukan orang baik.. Dia menyukai Baekhyun. Dia terobsesi pada Baekhyun. Makanya dia mencoba membunuh Kai!"
"Lu, tenanglah," Sehun menenangkan Luhan dan membawa tubuhnya duduk kembali.
"Aku—aku harus melaporkannya ke polisi!" Luhan mengeluarkan ponselnya.
"Lu! Kita tida tidak punya bukti!"
Luhan tersentak. Matanya meredup dan kepalanya menunduk.
"Aku takut.. Aku takut dia mengambil Baekhyun dan membunuh Kai. Aku takut, Sehunnie,"
Sehun merengkuh tubuh mungil Luhan. "Itu tidak akan terjadi jika kita menemukan bukti yang nyata dan melaporkannya,"
"Ba—bagaimana caranya..?"
Sehun menyeringai. "Kita cari bukti, Lu. Kita geledah rumah Jonghun,"
.
.
.
"Baekhyun? Bangun,"
Baekhyun membuka matanya perlahan saat merasakan pipinya ditepuk-tepuk.
"Xiumin?" tanyanya dengan suara serak.
Xiumin tersenyum saat melihat Baekhyun yang sudah bangun. Dia mengangkat bungkusan berisi kotak bekal.
"Ayo makan dulu,"
.
.
"Masih merasa pusing?" tanya Xiumin. Baekhyun mengangguk pelan dengan mulut penuh nasi. "Sedikit,"
"Kau kenapa sih? Ada masalah ya?" tanya Xiumin lagi.
Baekhyun menelan makanannya pelan dan meneguk air putih yang diberikan Xiumin. Dia terdiam sebentar dan mengangguk perlahan.
"Mau.. cerita?"
Xiumin jadi tidak enak sendiri saat melihat Baekhyun yang hanya diam. "Tidak mau juga tidak apa, Baekhyunnie. Aku tidak memaksa,"
Baekhyun menggeleng. "Kai masuk rumah sakit,"
"Kenapa?"
"Dia hampir dibunuh,"
Xiumin terbelalak. "Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang, Minseokkie.."
Xiumin terdiam lalu tertawa kecil. "Yasudah. Kau mau pulang?"
"Memang sudah jam pulang sekolah?"
Xiumin mengangguk lucu. "Sudah daritadi."
"Kenapa tidak membangunkanku?!"
"Habis kau kelihatan lelap sekali," kekeh Xiumin. Baekhyun merengut. Dia perlahan turun dari ranjang ruang kesehatan. Matanya menangkap secarik kertas yang diberikan Joomyeon tadi. Joomyeon Songsaenim maksudnya.
Dia mengambilnya dan menyimpannya disaku.
"Mau langsung pulang?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum.
"Iya.."
.
.
.
.
Baekhyun tersenyum senang melihat bungkusan besar ditangannya. Malam ini dia akan mengunjungi Kai dengan kue ditangannya. Pasti Kai senang.
Gadis itu memakai sepatunya dan beranjak keluar apartemen. Luhan belum pulang. 'Eum, seperti biasa memang,' batin Baekhyun.
"Hai, sayang,"
Baekhyun menegang. Tangannya menggenggam erat knop pintu saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
"Wangi sekali," Baekhyun bergidik saat hidung mancung itu menyentuh permukaan lehernya. "Mau kemana sayang?"
Baekhyun meneguk ludahnya gugup. Matanya ia pejamkan kuat-kuat.
"Kau tidak menjawabku,"
Baekhyun merasa tubuhnya diputar dan disenderkan ke pintu apartemennya.
BUK
Badannya melemas saat lidah Jonghun menjilat pipinya. Bungkusan ditangannya terjatuh begitu saja.
"He—hentikan.." lirih Baekhyun saat tangan Jonghun mengelus pinggangnya.
"Kenapa? Aku rindu padamu. Kau tidak pernah menyapaku.." Jonghun menggenggam tangan Baekhyun yang mendorong pelan dadanya. Diciuminya dalam.
Baekhyun meraih tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggung. Dia menatap takut pada Jonghun yang menyeringai.
Sial. Kalau sudah dipojokkan begini dia lemah.
"Kau manis sekali," ujar Jonghun. Langkahnya maju semakin menghimpit tubuh Baekhyun.
"Ngh.. Hentikan.." Baekhyun mencoba memberontak saat Jonghun mulai menggigiti lehernya.
Baekhyun makin memberontak saat Jonghun mencengkram kedua tangannya ke dinding dan mencoba meraup bibirnya.
"Kumohon hen—"
BUGH
"APA YANG ANDA LAKUKAN JONGHUN-SSI?!"
Jonghun menyeringai melihat Luhan yang menatapnya dengan kilat marah. Dia mengusap bibirnya yang robek karena ulah Sehun.
"Kau gila!"
BUGH
Jonghun tersungkur lagi saat pipinya kembali dibogem mentah. Bukan hanya pipi sekarang. Tangan, perut, dada. Sehun menghabisinya.
"Hentikan, Sehun!" suruh Luhan. Gadis itu memeluk Baekhyun yang sudah menangis sedaritadi.
Sehun menatap tajam pada Jonghun.
"Kita pergi saja," ajak Luhan. Dia mengambil bungkusan putih dilantai dan menuntun Baekhyun untuk pergi.
Sehun mendecih dan menginjak kaki Jonghun setelahnya menyusul Luhan.
"Aku kecewa padamu, Jonghun-ssi,"
Jonghun hanya tersenyum meremehkan saat Luhan menggumam demikian.
"Baekhyun akan jadi milikku. Dan kalian akan.. Habis,"
.
.
.
.
Kai terus mengalihkan pandangannya kearah jendela. Menghiraukan seseorang yang membujuknya untuk makan.
"Jonginnie~ Ayolah~ Kau harus makan~"
Kai serasa mau muntah saat mendengarnya.
'Kenapa perempuan ini bisa kesini?!' batin Kai kesal.
"Jonginnie!"
Kai mendelik marah saat wanita itu menarik dagunya untuk menghadap ke arah si wanita.
"Makan!"
"Tidak!" bentak Kai.
Wanita itu menggeram kesal. "Pokoknya kau harus makan!" dia memaksa sendok berisi bubur itu masuk kemulut Kai.
PLAK! PRANG!
"Astaga, ada apa ini?"
Wajah Kai berubah berseri saat melihat Luhan membuka pintu kamar rawat inapnya. Tentu dengan membawa mainan kesayangannya—Baekhyun—. Kalau tidak ingat dia sedang di infus pasti dia sudah berlari menerjang gadis mungilnya.
"Lho? Yuri? Sedang apa kau disini?" tanya Sehun heran.
"Dia datang sendiri. Tanpa diundang. Lalu memaksaku makan." ujar Kai dingin.
Yuri menatap tak suka pada Baekhyun yang hanya menunduk kosong menatap bungkusan ditangannya.
"Yasudah! Aku pulang saja!" Yuri menghentak mangkuk berisi bubur itu dimeja dan berjalan keluar.
"Aw," Baekhyun meringis saat bahunya bertubrukan kasar dengan bahu Yuri. Yuri melihatnya intens dari atas sampai bawah sambil tertawa meremehkan.
"Dasar jelek,"
"Apa?" tanya Baekhyun karena Yuri mengucapkannya secara pelan dan samar.
"Jangan dengarkan, Baekkie. Kemari, menjauh dari perempuan itu, nanti kau kotor," suruh Kai.
Sehun tertawa mengejek saat melihat wajah Yuri memerah marah dan menggebrak pintu kamar kencang.
"Dasar aneh,"
"Bukan, dia gila," koreksi Kai. Dan Sehun tertawa terbahak-bahak.
Baekhyun meletakkan bungkusannya di samping makanan Kai.
"Apa itu?"
"Um, Kue,"
"Boleh kulihat? Aku lapar,"
"Tapi sepertinya tadi kau menolak ketika wanita itu menyuapimu?" tanya Baekhyun heran. Kai hanya menggeleng dan mengambil bungkusan putih itu.
Baekhyun menunduk saat kotak itu terbuka. "Maaf, tadi aku terjatuh saat turun tangga,"
Kai menatap kue yang tak terbentuk lagi itu dengan senyum manis. "Tak masalah. Kau membuatnya dengan cinta kan? Pasti rasanya tidak berubah," katanya sambil mencolek krim putih diatas roti busa. "Hm, enak!"
Baekhyun tersenyum kecil dan membuka mulutnya saat Kai menyuapi strawberry kecil di kue itu.
Luhan tersenyum. Sepertinya Baekhyun tak memikirkan soal tadi lagi.
Hm, omong-omong soal tadi.
Luhan menarik tangan Sehun keluar kamar. Kai dan Baekhyun tak menyadari. Mereka asik dengan waktu bercinta mereka.
"Ada apa, Lu?" Sehun duduk dikursi tunggu.
"Aku hanya mau bilang bahwa kau memang benar-benar benar," ucap Luhan pelan. "Jonghun bukan orang baik,"
Sehun terkekeh. "Aku sudah menebak. Lagipula muka seperti dia tak cocok untuk dibilang orang baik-baik,"
"Aku baru lihat sekali dan aku tak bisa percaya ini. Dia betul betul licik," lirih Luhan.
"Hm, kau harus bisa membedakannya dari sekarang, Lu,"
Luhan mengangguk.
"Soal.. rencana mencari bukti itu.."
"Kita akan melakukannya," sela Sehun menggenggam tangan Luhan.
"Tapi Hun.."
"Kau mau terus dihantui oleh Kyungsoo?"
Luhan menggeleng.
"Aku yakin Kyungsoo pasti ingin kita menyelesaikan sesuatu. Soal telepon itu dan dia yang masuk kedalam mimpimu,"
"Aku.. tidak mengerti.."
Sehun tertawa kecil. "Kau pikir aku mengerti? Aku bukan detektif tapi sepertinya kisah ini menarik,"
"Eum.. Tapi bagaimana jika.. Jonghun melakukan hal yang sama pada kita seperti yang dilakukannya pada Jongin?"
"Kau takut, Lu?"
Luhan terdiam dan mengangguk kecil. "Sedikit.."
"Ini demi kenyamanan hidupmu, ketenangan Kyungsoo, dan.. Baekhyun,"
Wajah Luhan mengeras. Tanpa sadar dia mengenggam kuat tangan Sehun. "Baiklah. Aku akan membongkar semua kebusukan Jonghun. Demi Baekhyun,"
Sehun tersenyum senang. Kekasihnya benar-benar seorang kakak yang baik.
"Ma—maaf?"
Luhan dan Sehun menoleh dan menemukan lelaki berkulit putih menatap mereka canggung.
"Apa kalian tau dimana ruang dokter anak?"
Luhan berpikir sebentar. "Lee Taemin?"
Dan lelaki itu mengangguk mengiyakan.
"Ah, aku tidak terlalu tau dimana itu tapi sepertinya Dokter anak punya jam kerja pagi sampai sore bukan?" ingat Luhan. Entahlah, tapi waktu Baekhyun kecil. Dia sering dibawa ke dokter anak ketika sakit dan Luhan pernah membaca di sebuah kertas di dinding tentang jadwal buka dan tutup dokter anak.
"Benarkah? Yah, aku terlambat," lelaki itu mendesah kecewa.
"Kalau boleh tau.. ada urusan apa memang?" tanya Luhan hati-hati. Dia tidak mau disebut orang yang ingin tahu. Tapi memang kenyataannya begitu.
Lelaki itu tersenyum lembut. Oh, astaga Luhan berani bertaruh senyumnya 4 kali lipat lebih mempesona dibanding senyum Sehun.
"Aku Kim Joomyeon, teman Lee Taemin-ssi"
Sehun mendelik sebal. Dia menyenggol lengan Luhan yang masih terpesona oleh senyum Joomyeon.
"Eh? Oh? Ya?"
"Aish," keluh Sehun sambil menutup mukanya. Sedetik kemudian dia tersenyum pada Joomyeon. "Aku Oh Sehun,"
Joomyeon mengangguk. "Kau?"
"Lu Han,"
"Ah, salam kenal Lu Han-ssi,"
Luhan mengipas tangannya didepan muka. "Tak usah terlalu formal. Panggil Luhan saja, eum siapa tadi?"
"Kim Joomyeon,"
"Oh, Kim Joomyeon,"
Luhan mengangguk-angguk pelan.
Eh.
Tunggu sebentar.
Siapa?
Kim Joomyeon?
Kim Joomyeon.
Kim—
—Joom
—yeon
Kim Joom—
"Kim Joomyeon!?"
Joomyeon dan Sehun tersentak kaget.
"Lu, kau kenapa?" tanya Sehun heran.
Luhan memegang erat pundak Sehun. "Dia Kim Joomyeon, Sehun!"
"La—lalu kenapa?" tanya Sehun lagi. Kekasihnya memang terkadang bisa menjadi sangat aneh.
"Kim Joomyeon! Kakak Kyungsoo!"
"Oooh... Kakak Kyung—apa?!"
.
.
.
::TBC::
A/N : iya terserah. Author pasrah diapain aja. Huhuhu. telat banget ya. he'eh. Author sempet buntu ditengah jalanT..T. Udah gitu author kepikiran chanbaek mulu. Heerrr..
Maaf juga kalo makin lama makin ganyambung ama judul. wak. Tiap mau tidur mau makan mau mandi mikirin, ini kelanjutannya gimana ya... ampe mabok.
Udah panjang belom? Author gabisa bikin yang panjang panjang banget. huhuhu
Oh, yang nanya kenapa author milih Kyungsoo buat jadi syaiton. Ya jawabannya karena Kyungsoo cantik. Baekhyun cantik. Dan mereka uke kaaan. Kalo author pake Song Joong Ki kesannya kok jadi machoT.T. Ya udah sekarang salahin aja Luhan Baekhyun Kyungsoo. Kenapa mereka punya muka dua. Cewe cowo diembat. Hm. Iya author tau. TERSERAH KYUNGSOO. BEBAS. LEPAS.
Oh.. ya.. Author lagi suka banget ama K project. Iya tau. Author telat. Telat bingitz.
Itu.. karakter Yashiro Isana.. kok.. sekilas liat jadi inget Luhan ya.. Hm.. iya. reader bilang aja, terserah author. suka suka author aja. ...
Hm, segitu aja. Author lelah :" hem..
Mind Review again?
BigThanksTo :
ByunnieFan, Park Han Woo, yoonminra, Baby Panda Zi Taoris EXOtics, noviradwiasri, Riyoung Kim, InaaKim, Imeelia, Azzelya. Bara,Tania3424, Kazuma B'tomat, kaibaekyeolshipper, hyerinxx, ssjllf, baekyeolssi, Eunsoo, Imeelia, jungsssi, ramiminnie, canyol, Blacknancho, Lkireii0521, ChanLoveBaek, zie, RadenMasKYU, Zie, Astri407, mitatitu, chyshinji0204, Love Couple, 0312luLuEXOticS, ohristi95
SAYANG KALIAN.
Kiss&Hug:*{}
