Beep Beep

Author : gaemkevin

Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship

Rated : T

Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other

Pair : HunHan, Kaibaek.

Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? Terdengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?

Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Abal / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.

A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it.

.

.

..

Chapter 5

.

Beep Beep

.

.


Joomyeon's POV

Aku membuka pintu kamar Kyungsoo. Kulihat dia sedang sibuk berkutat dengan buku-buku tebal di meja belajar nya.

"Oppa? Kaukah?"

Aku tersenyum. "Ya, ini aku,"

Aku menutup pintu kamar dan berjalan pelan duduk ditepi pinggiran kasur Kyungsoo.

"Kyungsoo-ah,"

"Ya?" dia berbalik memutar kursi putarnya menjadi kehadapanku.

"Aku.. apa kau merasa nyaman tinggal disini?"

Kyungsoo mengeryitkan dahinya.

"Maksudku.. yah.. hng.. apa ya? Aku.. agak kurang nyaman dengan lelaki yang tinggal disebelah,"

"Setelah 3 minggu kita tinggal disini?" tanya Kyungsoo. "Lagipula kenapa dengannya? Dia baik kok," lanjutnya.

Aku terdiam. "Iyasih. Tapi.. aku merasa aneh saja,"

"Aneh bagaimana?" tanyanya.

"Um.." aku menggeleng. "Aneh saja,"

"Kalau begini malah kau yang jadi aneh, Oppa," kekehnya pelan.

"Sepertinya dia menyukaimu.."

"Hah?"

Aku langsung menggeleng dan tersenyum canggung. "Ti—tidak! Sudah, lanjutkan belajar saja, aku mau tidur duluan,"

Aku beranjar dan berjalan keluar. "Selamat malam,"

"Selamat malam,"

.

.

Aku mengeryit saat menemukan setangkai bunga mawar merah didepan pintu.

Lagi?

Untuk Kyungsoo.

Selamat pagi, cantik.

Aku mencintaimu.

Huh, isinya sama saja seperti mawar kemarin. Kemarin. Kemarin. Dan kemarin kemarin.

"Oppa! Sarapan!"

"Ya!" sahutku. Aku berlari kecil ke arah dapur. Aku meletakkan mawar itu diatas meja makan.

"Apa ini?" tanya Kyungsoo sambil menyentuh kelopak mawar merah itu.

"Menurutmu apalagi? Didepan pintu dipagi hari,"

Kulihat dia mengeryit. "Sudah keberapa kali.." gumamnya.

"Mungkin fansmu?" ujarku. Aku mengambil selembar roti dan melapisinya dengan selai kacang.

"Aku tidak punya fans," elaknya.

Aku hanya terkekeh kecil. "Yasudah. Penggemarmu,"

"Terserah. Aku juga tidak peduli," ucapnya.

Dan setelahnya kami makan dalam keheningan. Sampai aku meneguk susuku dan teringat sesuatu yang penting.

"Kyungsoo-ah,"

"Apa Oppa?" tanyanya sambil merapikan meja makan.

"Aku mau bilang ini tadi malam. Tapi lupa. Jadi sekarang saja," ucapku. "Aku ada tugas dari Rumah Sakit untuk melakukan pertukaran dokter di Incheon. Jadi aku—"

"Iya, pergi saja. Aku tidak apa-apa,"

"Aku belum selesai Kyungsoo," dengusku. "Aku hanya pergi 3 hari. Kuharap kau baik-baik saja selama itu,"

Kyungsoo tertawa kecil. "Ayolah. Tahun ini aku 19 tahun. Masa iya aku tidak bisa menjaga diriku sendiri saat ditinggal kakaknya pergi sebentar?"

"Tapi kau seorang gadis,"

"Lalu kenapa? Sama saja bukan,"

"Aku hanya.. khawatir,"

Kyungsoo menepuk bahuku. "Aku akan baik-baik saja. Pergilah Uisa-nim,"

Aku tersenyum. Dan sedikit menghela nafas.

Entahlah, aku merasa.. ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengan Kyungsoo.

Kyungsoo berasa begitu.. Jauh..

Joomyeon's POV end

.


.

"2 hari setelahnya Taemin menelpon, kalau Kyungsoo_—menghilang,"

"Apa kau tidak meminta bantuan pada polisi?" tanya Sehun.

Joomyeon mengangguk. "Sudah. Sudah beberapa kali, namun tetap saja. Tidak ditemukan apapun. Yang bisa disimpulkan hanya, Kyungsoo menghilang. Itu saja,"

Luhan mengangguk.

"Oh, dan soal kau tinggal di China.."

"Ya, seminggu setelah kejadian aku memutuskan berhenti menjadi dokter dan menikah dengan pacarku di China. Kupikir aku bisa dengan mudah mendapat pekerjaan disana, tapi dugaanku meleset. Aku bukan warga asli disana, jadi susah sekali untuk hanya menjadi kuli bangunan saja,"

"Jadi kau memutuskan kembali kesini? Bagaimana dengan istrimu?"

"Kami pamit dan memohon pada orang tua istriku agar diperbolehkan. Jadi kami tinggal disini akhirnya. Yah, semoga saja keberuntungan berpihak pada kami sekarang. Lagipula, aku juga masih penasaran dengan motif hilangnya Kyungsoo, walaupun sudah 5 tahun yang lalu,"

"5 tahun yang lalu?!" tanya Luhan terkejut. Astaga dia pikir kejadian ini baru teralami sekitar beberapa bulan atau paling tidak satu tahun ini lah.

"Mungkin penyebab arwah adikku menghantuimu karena tadi kau sempat bilang kalau adikmu mirip dengan adikku kan?" tanya Joomyeon.

"Ya, kupikir sih, begitu.." jawab Luhan.

"Aku pikir Kyungsoo tidak mau adikmu celaka,"

Luhan mengeryit. "Celaka?"

"Aku.. sudah mencurigai seseorang disebelah apartemen dari awal kami tinggal disana. Namanya Jonghun,"

Luhan tersentak. "Ah, dia juga merupakan tetangga kami,"

Joomyeon membulatkan bibirnya. "Pantas saja. Kyungsoo pasti benar-benar tidak ingin adikmu celaka,"

"Maksudnya?" tanya Sehun.

"Hanya aku yang menyadarinya—ah bukan Taemin juga, dia menyadarinya," Joomyeon terdiam sebentar dan menarik nafas pelan. "Kalau Jonghun itu menyukai Kyungsoo. Ani, dia menggilai Kyungsoo,"

"Aku.. juga sudah mendengarnya dari Taemin," ucap Luhan. Joomyeon mengangguk, karena dia sudah tau, tadi Luhan bilang bahwa Taemin juga sudah menceritakan tentang Kyungsoo padanya.

"Mawar yang setiap pagi ada didepan pintu itu..?" ujar Sehun.

"Kemungkinan Jonghun yang meletakkannya. Sungguh, itu menjijikan," ucap Joomyeon. "Dia sudah berusia 33 tahun saat aku tinggal disana. Dan dia menyukai adikku yang bahkan baru saja genap 19 tahun? Pedophile,"

"Tapi menurutku ini lebih menjijikan," kata Sehun. "Adiknya," tunjuk Sehun pada Luhan. "Baru berusia 16 tahun,"

Joomyeon membelalak. "Benarkah?"

Luhan mengangguk.

"Kalau begitu kau harus hati-hati. Dia benar-benar bukan orang baik," ucap Joomyeon.

"Ya. Awalnya aku berpikir dia orang baik. Tapi setelahnya," Luhan menggeleng. Sehun mengelus bahu Luhan kala melihat kekasihnya yang pasti ingat kejadian beberapa saat yang lalu.

"Kyungsoo lamban menyadarinya. Mungkin dia sama sepertimu. Dia gadis yang baik, tidak pernah menuduh orang seenaknya. Akhirnya seperti ini, kan. Tapi aku benar-benar yakin kalau Jonghun adalah dalang dari hilangnya Kyungsoo,"

"Bagaimana.. kau bisa benar-benar yakin?" tanya Sehun.

"Laki-laki itu selalu heboh jika apapun yang bersangkutan dengan Kyungsoo. Tapi saat kejadian dia sama sekali tak nampak. Bahkan 2 sampai tiga hari kedepannya dia sama sekali tidak keluar dari apartemen-nya,"

Sehun terdiam. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu.

"Tenang saja Joomyeon-sshi, kami." Luhan melirik ke arah Sehun. "Akan menuntaskan ini semua. Kami berjanji, akan menemukan Kyungsoo dan membawa kabar gembira padamu,"

Joomyeon sedikit terkejut. "Bagaimana bisa? Memangnya—"

"Kyungsoo meminta tolong padaku. Aku tidak mengerti. Tetapi aku yakin, perlahan petunjuk pasti akan mengalir dengan sendirinya,"

Joomyeon terdiam. Namun perlahan senyumnya tampak. "Terima kasih. Kalian benar-benar orang yang baik,"

CKLEK

"Sehun Oppa, Kai bilang dia ingin—"

"Lho? Baekhyun?"

"Joomyeon Songsaenim?"

"Hee? Kalian saling kenal?" tanya Sehun.

"Anak ini yang kuantar ke Ruang Kesehatan tadi siang," ucap Joomyeon.

Baekhyun segera membungkuk. "Terima kasih untuk yang tadi. Aku tidak sempat mengatakan lebihnya karena kepalaku sangat sakit,"

Joomyeon tersenyum dan mengangguk.

"Kau sakit?" tanya Luhan pada Baekhyun.

Baekhyun hanya menunduk. "Hanya sedikit pusing, Jie,"

"Jie?" tanya Joomyeon.

"Mereka bersaudara," Sehun menarik tangan Baekhyun mendekat. "Ini kakaknya," Sehun menepuk pundak Luhan. "Ini adiknya," tepuknya pada pundak Baekhyun.

"Jadi adikmu yang kau bilang mirip dengan Kyungsoo ini dia?" tanya Joomyeon sedikit terkejut.

"Ya.." jawab Luhan.

Joomyeon merasakan sesuatu bergetar hebat dalam sakunya buru-buru mengangkatnya. Kepalanya terlihat mengangguk-angguk saat menghadapi lawan bicaranya.

"Ng, maaf. Sepertinya aku harus pergi," ucap Joomyeon saat mematikan ponselnya. Dia menoleh ke arah Luhan, Sehun dan Baekhyun.

"Oh, ya.. Silahkan," balas Luhan sambil tersenyum. Dia berdiri dan membungkuk sedikit.

CKRING

Joomyeon membungkuk dan mengambil sesuatu yang terjatuh dari dalam saku jaket Luhan.

"Oh, itu milikku," seru Luhan. Tapi gadis itu mengurungkan niatnya untuk merebut kalung yang diberikan kepadanya dari Taemin kemarin.

"Aku.. sepertinya aku pernah melihat benda seperti ini," gumam Joomyeon.

Luhan dan Sehun tersentak. "Benarkah?"

"Um, ya. Agak kurang yakin, tapi aku pernah melihat kalung ini dikenakan oleh Jonghun.. saat kami pertama kali bertemu di apartemen itu,"

Luhan menoleh kearah Sehun yang juga menatapnya terkejut.

"Jadi, apa benar dia yang—"

DDRRTT DRRRTT

Joomyeon buru-buru mengangkat teleponnya lagi dan terlihat meminta maaf.

"Maaf, Luhan-sshi, Sehun-sshi. Aku sedang benar-benar ditunggu. Ini," Joomyeon meletakkan kalung berbandul perak itu di tangan Luhan.

"Sampai jumpa," lambai Joomyeon berbalik menjauh.

"Tungg—ck, bagaimana ini Sehunnie?" ucap Luhan putus asa. "Sedikit lagi padahal,"

Sehun juga mendesah frustasi.

"Jie? Aku.. tidak mengerti.." suara Baekhyun. Hum, ternyata dia masih disana.

Luhan menoleh kearah Baekhyun dan menepuk pundaknya.

"Dengar, Baekhyun. Kau tidak perlu ikut campur urusan seperti ini. Serahkan semuanya pada JieJie. Tugasmu adalah menjaga Kai, dan menyuruh Kai menjagamu. Ingat, kalian berdua harus saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai Jonghun menyentuh salah satu dari kalian berdua,"

Baekhyun tetap tidak mengerti, namun dia hanya mengangguk saja. "Baiklah, Jie.."

"Anak pintar,"


.


.

"Buka mulut Kim Jongin,"

Kai merengut. Dia membuka mulutnya dengan terpaksa.

"Kau tidak semanis Baekhyun, Luhan," sungut Jongin.

"Memang. Aku kan bukan dia. Lagipula gak ada mutunya aku menjadi manis dihadapanmu, kan?" tanya Luhan sinis. Tangannya kembali menyendok nasi dan sayuran dipiring. "Buka lagi,"

"Ahu behum menhelahnna hahu," ucap Kai kesal. Mulutnya masih penuh dengan nasi sebelumnya. Luhan sedikit tertawa dan menyodorkan segelas air putih pada Kai.

"Ck, rasa makanan ini pahit. Seperti mengunyah obat saja," ujar Kai sambil memeletkan lidahnya.

"Siapa suruh kau sakit begini?" tanya Luhan.

Kai terdiam sebentar. "Aku.. tidak sakit Luhan.." lirihnya.

Luhan menoleh ke arahnya dengan pandangan tidak enak. "Hm, maaf. Aku lupa,"

Suasana menjadi sangat hening. Hanya terdengar detingan sendok saat Luhan mengadukannya dengan piring untuk mengambil nasi dan disuapkan kepada Kai.

"Um, Kai," panggil Luhan saat melihat piring makan Kai sudah habis.

"Apa?" balas Kai.

"Aku ingin bertanya,"

"Tanya saja,"

Luhan berdehem sebentar. "Ini soal kejadian 2 hari yang lalu.."

"Oh, itu," Kai terlihat tidak senang ketika Luhan mengungkit tentang itu.

"Aku hanya ingin tau. Tapi jika kau tidak ingin menceritakannya juga tak apa. Aku tidak bisa bertanya pada Baekhyun. Kau tau, dia tipe gadis yang gampang trauma,"

Kai hanya diam. Luhan juga diam.

"Malam itu," Luhan menoleh saat mendengar Kai yang berbicara. "Aku pergi ke apartemenmu. Tidak ada niatan. Hanya iseng, mengingat kau juga sering pulang malam dan meninggalkan Baekhyun di sana sendirian,"

Luhan hanya tersenyum tipis. Sedikit merasa bersalah juga sering meninggalkan Baekhyun sendirian dalam waktu lama.

"Aku hendak memencet bel, namun terkejut ketika mendengar suara Baekhyun yang melolong minta tolong. Aku panik. Tapi setelahnya aku mendengar suara bedebum keras, dan tak ada suara apa-apa lagi. Hening," cerita Kai. "Aku justru semakin kalut. Jadi aku memutuskan untuk mendobrak pintu karena saat kutekan knop, pintunya terkunci. Aku memukul pintu brak brak brak. Sampai pintu itu terbuka,"

Oh, jadi suara gebrakan pintu itu ulah Kai? Pikir Luhan.

Luhan mengeryit saat melihat Kai yang diam. "Kai?"

"Aku melihat seorang lelaki tinggi dengan baju serba hitam dan topeng, berdiri dibelakang Baekhyun yang sedang memegang ponselnya,"

"Pria.. hitam?"

Kai mengangguk. "Ya, dia.. membawa sebilah pisau yang dia angkat tinggi-tinggi diudara. Aku yang tau niatnya yang ingin menusuk Baekhyun segera berlari ke arahnya, namun pisaunya malah..hm, begitulah,"

Luhan meringis. Entahlah, rasanya ngilu jika membayangkan itu. "Lalu, apa kau sempat melihat wajah lelaki itu?"

Kai menggeleng. "Dia menggenakan topeng. Segini," tunjuk Kai pada batas antara bibir dan hidungnya. "Tapi wajahnya cukup familiar. Aku tidak mengenalinya karena pandanganku langsung buram. Kurasa Baekhyun bisa mengenalinya, karena dia yang berada didalam rumah bersama pria itu,"

Luhan memegang dagunya. "Sama dengan yang kumimpikan.."

"Hah? Kau berbicara sesuatu?" tanya Kai bingung.

Luhan menggeleng. Gadis itu beranjak dari tempatnya dan mengambil tas-nya.

"Aku ada kuliah siang. Sekarang jam 2, sekolah Baekhyun sebentar lagi usai. Dia yang akan menjagamu setelah ini,"

"Oh, yasudah. Pergi sana, hush hush," usir Kai.

"Tidak sopan. Sudah aku suapkan makan siang juga,"

"Aku tidak meminta, kau yang memaksa,"

"Ck, terserahlah. Aku pergi dulu, ya," Luhan melambai singkat dan menutup pintu kamar rawat Kai.

Luhan berjalan melewati koridor rumah sakit dengan tangannya yang mengutak atik ponsel.

To : Sehunnie

Sehun, temui aku sehabis jam kuliahmu di depan gedung apartemenku.

Jangan sampai lupa.

Luhan menekan tombol Send. Dia mencengkram erat ponselnya.

"Kau akan habis Jonghun."

.


.

Baekhyun menatap malas pada roti dagingnya.

"Wae? Kenapa hanya dipandangi begitu? Enak, lho," Xiumin yang duduk didepannya memakan roti bagiannya dengan lahap.

"Katanya mau diet?" tanya Baekhyun bingung.

Xiumin menggeleng. "Chen bilang kalau diet itu tidak bagus. Lagipula dia juga berkata aku cantik apa adanya, kok. Mau gendut mau kurus dia tetep suka," jelasnya dengan pipi merona.

Baekhyun memutar bola matanya malas. Begini jika Xiumin sudah ingat tentang pujaan hatinya. Waktu istirahat bisa digunakannya untuk bercerita panjang lebar tentang kekasihnya.

Kekasih..

Oh! Kekasih!

Baekhyun melihat jam tangannya. 02.20 pm

"Oh, astaga. Aku benar-benar pelupa," Baekhyun meraih tas yang diletakkan dimeja kantin dan berdiri.

"Hei, mau kemana kau?" tanya Xiumin.

"Aku mau menjaga Kai di Rumah Sakit. Harusnya dari jam dua tadi. Kau sih, acara ajak aku mengobrol,"

Mata Xiumin membulat lucu. "Enak saja! Bukankah kau yang minta ditemani?"

Baekhyun menggeleng-geleng kecil.

"Sudahlah, tidak penting. Aku pergi dulu, ya," ucap Baekhyun berjalan menjauh. Dia hanya tertawa kecil mendengar gerutuan Xiumin.

Baekhyun berlari kecil ke arah halte bus. Tapi tiba-tiba di berhenti dan menoleh kebelakang.

"Hm, tidak ada siapa-siapa," gumamnya. "Padahal sepertinya tadi ada seseorang dibelakangku,"

Baekhyun mengangkat bahu cuek. Paling anak kecil yang iseng, pikirnya positif. Dia melanjutkan langkahnya ke halte bus.

Alisnya bertaut ke atas.

"Sepi sekali," gumamnya. Kaki rampingnya berjalan ke tempat duduk halte. Duduk manis sambil memperhatikan sekelilingnya.

Baekhyun mendesah lelah. Sudah hampir 30 menit. Tapi bus belum lewat sedaritadi.

'Jangan-jangan aku ketinggalan bus siang ini,' pikirnya kecewa.

Baekhyun mendadak gelisah. Sedaritadi dia merasa ada yang memperhatikannya. Dari dia keluar gedung sekolah malahan. Dia pikir anak kecil. Namun kenapa perasaannya jadi was-was seperti ini.

Baekhyun merogoh ponsel di dalam tas nya. Dia berniat untuk menelpon Luhan atau Sehun. Siapa tau salah satu dari mereka bisa menjemputnya.

"Oh, mereka kan ada jam kuliah," ingat Baekhyun. Bibirnya mendecak. Siapa yang harus ia hubungi sekarang?

"Ah!" serunya. Dia menelusupkan tangannya ke dalam tas dan mengambil kertas memo kecil.

Kim Joomyeon

+821xxxxxxxxx

"Kayaknya aku jadi sok kenal begini," gumam Baekhyun. Dia masih memperhatikan sereret angka itu.

'Kalau ada apa-apa, telepon saja,'

"Terserah. Kan dia yang bilang begitu. Apa boleh buat," Baekhyun mengetikkan nomor itu di layar touch-nya.

Entahlah tapi jantungnya jadi berdetak 2 kali lipat. Perasaan was-was nya jadi makin menggila. Dia ingin menengok namun tak ada keberanian.

Matanya melirik sedikit ke belakang. Sesosok siluet lelaki. Astaga, Baekhyun takut sekarang.

Cepat-cepat ia menekan gambar telepon dengan latar hijau diponselnya. Nafasnya terengah menunggu Joomyeon mengangkat teleponnya. 'Angkat kumohon..'

"Yobosseyo?"

"K—Kim Joomyeon-sshi?"

"Ya. Ini aku. Nuguya?"

"Aku—Aku Baekhyun.."

"Oh, Baekhyun-ah, ada apa?"

Baekhyun melirik was-was kebelakangnya. "Bi—bisakah anda menemuiku?" bisiknya. Takut suaranya terdengar oleh penguntit dibelakang.

"Ah, boleh saja. Tapi aku sedang mengerjakan sesuatu, sedikit terlambat bolehkah?"

"Apa..Apa tidak bisa sekarang?" lirih Baekhyun. Ya tuhan, Baekhyun merasa orang itu benar-benar ada didekatnya sekarang.

"Hm, kuusahakan. Kau ada dimana?"

"Aku ada dihalte bus. Halte bus dekat sekolah. Kumohon untuk—" mata Baekhyun membulat saat merasakan benda dingin tajam menyentuh kulit lehernya.

'Kau milikku sayang..'

"SIAP_HMMPH!"

"Halo? Baekhyun-ah? Kau kena—"

— PIIIP


.


.

"Kau yakin Luhannie?"

Luhan menoleh ke arah Sehun dan mengangguk.

"Kau sampai bolos jam kuliah seperti ini," gerutu Sehun. Dia paling benci kalau kekasihnya ini bolos kuliah. Sudah otak pas-pasan, belajar ogah-ogahan. Terkadang membuat Sehun geram sendiri.

"Aku tidak peduli. Masalah ini harus cepat selesai," putus Luhan. Dia melangkah dan mengutak-atik lubang kunci apartement Jonghun.

Ya, mereka sedang mencoba menelusup.

"Kalau tiba-tiba Jonghun muncul bagaimana?" tanya Sehun sedikit khawatir.

"Takutan amat sih. Kau ini kan laki-laki," ucap Luhan tegas. Padahal saat merencanakan ini semua Luhan yang kelihatan ragu. Tapi kenapa jadi Sehun yang kelihatan pengecut sekarang?

CKLEK

"Dapat!" sorak Luhan. Dia menyimpan kunci-kunci cadangan yang diberikan pemilik gedung apartement kepadanya kedalam tas. Pemiliknya laki-laki, jadi mudah untuk merayu-rayu.

Luhan menarik tangan Sehun untuk masuk kedalam. Tapi Sehun hanya diam.

"Kenapa Sehuna?" tanya Luhan kesal.

"Aku.. Aku merasakan firasat buruk, Lu," ucap Sehun pelan. Dia memandangi ruang apartement gelap milik Jonghun.

"Bukankah kau pertama kali mengusulkan semua ini?" tanya Luhan lagi.

Sehun melengos. "Y—ya.. tapi tidak sekarang, kan? Mungkin bisa—"

"Kapan lagi? Sudahlah, ayo!" Luhan menarik Sehun untuk masuk.

BRAK

"Maaf.. Aku tidak sengaja menyenggolnya..." ujar Sehun terkekeh canggung. Luhan acuh. Dia mencari saklar lampu didinding.

PIK

Luhan mengeryit. Remangnya. Seperti sudah berbulan-bulan tidak pernah diganti.

"Rumah yang aneh," gumam Sehun.

Luhan berjalan masuk.

"Uh, menjijikan. Apa dia tak pernah tau apa itu membersihkan rumah?" sungut Luhan saat menginjak bungkus snack dilantai.

"Lu, lihat!"

Luhan berlari kecil ke arah Sehun yang menggenggam sebuah topeng hitam sebatas hidung.

"Apa ini?" tanya Sehun.

Luhan terdiam. Dia memegang topeng itu.

"Dia menggenakan topeng. Segini," tunjuk Kai pada batas antara bibir dan hidungnya.

"Sehunnie, Jonghun betul-betul pelakunya," ucap Luhan menatap Sehun dengan sorot mata tajam.

"Ma—maksudmu?"

"Jongin bilang penusuk itu menggenakan topeng sebatas hidung, dan ini.. ini kita temukan topengnya! Sudah tak salah lagi kalau dia pelakunya!" jelas Luhan menggebu.

"Baiklah Lu, baiklah. Tahan dulu emosimu. Kita harus mencari bukti lain. Satu tak akan cukup," Sehun mengelus pundak Luhan.

Luhan menelan ludahnya kasar. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Hidungnya bergerak.

"Sehun," panggilnya. Hidungnya menempel ke lengan Sehun dan mengendus-endusnya pelan.

"Apa Lu? Kenapa mengendus-endus badanku?" tanya Sehun bingung.

"Kau.. belum mandi pagi?" tanya Luhan. Sehun mendelik.

"Enak saja! Tentu saja sudah!" jawabnya kesal.

"Lalu bau apa ini?" tanya Luhan sambil tetap mengendus-endus sekitarnya. Sehun jadi ikut-ikutan menciumi udara hampa.

Dahi Sehun mengkerut. "Seperti bau bangkai. Busuk," ucapnya.

Luhan terus menggerakan hidungnya.

"Eh?" dia menepis dagunya saat ada sesuatu hampa menyentuh bagian itu membawanya menghadap ke arah depan. Tatapannya terpaku pada satu pintu bewarna abu-abu didepannya. Hidungnya mengendus lagi.

"Sehunnie! Disini!" panggilnya. Sehun berlari kecil menghampiri Luhan.

"Uh!" Sehun mengelakkan wajahnya saat hendak menempelkan hidungnya di permukaan pintu.

"Ayo buka," Luhan menggenggam knop pintu sembari menutupi hidungnya. Sehun hanya mengangguk-angguk.

Tangan Luhan bergerak slow motion meneka knop pintu itu.

KREK

Kegelapan menyapa mereka. Dan tentunya bau busuk yang sangat menyengat itu.

Tangan Luhan meraba dinding mencari saklar.

PIK

"Astaga!" seru Sehun dan Luhan berbarengan.

Dihadapan mereka. Tubuh seorang gadis terbujur kaku di atas ranjang putih didekat jendela. Kulitnya pucat putih kaku dan sedikit membiru.

Luhan melangkah mendekat. Dia menarik nafas berkali-kali untuk meredakan detak jantungnya yang tidak stabil.

Matanya membulat besar ketika tau siapa wajah gadis diatas ranjang itu.

"Se—Sehun ini.." Luhan menggenggam erat tangan Sehun yang juga menampilkan wajah shock-nya.

"Kyungsoo.." lirih Sehun.

Mereka terdiam dalam keterkejutan beberapa saat. Hingga Luhan tersadar.

"Sehun.. Ini benar-benar.. Jonghun gila. Kita harus melaporkan ini semua," ucap Luhan bergetar.

"Dia memang tidak waras Lu," Sehun menyipit saat menemukan pisau dengan darah mengering dipermukaannya.

"Lu, ini.."

Luhan yang awalnya ingin menelpon polisi berbalik ke arah Sehun yang menunjuk pisau berdarah kering tersebut.

"Apa ini Sehuna?"

Sehun terdiam dan berpikir sebentar. "Tidakkah kau berpikir ini.. darah Kai?"

Luhan terbelalak. "Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?"

Sehun menggeleng.

"Aku hanya menebak. Mungkin saja.. Jonghun sengaja meletakkan pisau kotor ini disini.. dan mempertunjukkan ini kepada.." Sehun melirik Kyungsoo. "Kyungsoo?"

"Tapi bukankah pembunuh biasanya langsung menandaskan jejak mereka ketika selesai bertugas?"

"Dia bukan pembunuh Lu.." bisik Sehun. "Dia orang gila yang terobsesi pada 2 gadis yang bermuka sama.."

Luhan menelan ludahnya.

"Ja—jadi aku harus apa?" tanya Luhan pelan.

"Kita pastikan kalau ini adalah Kyungsoo. Coba kau hubungi Taemin terlebih dahulu," perintah Sehun.

Luhan kurang yakin atas keputusan kekasihnya itu.

"Percaya padaku, Lu Han," ucap Sehun sambil menggenggam erat tangan Luhan.

Luhan mengambil nafas dan mengangguk. Tangannya gemetar mengetik beberapa angka di layar touch ponselnya.

"Yobosseyo?"

"Taemin-ah,"

"Lu Han?"

"Ya.. ini aku.."

"Ada apa? Kenapa suaramu gugup begitu?"

Luhan melirik mayat Kyungsoo. "A—aku.. Aku menemukan Kyungsoo.."

Hening sesaat. Tidak ada jawaban dari Taemin.

"Kau bercanda, Luhan,"

Luhan meneguk ludahnya untuk kesekian kalinya. "Apakah suaraku mempertunjunkan aku sedang bercanda.. Taemin-sshi?"

Taemin disebrang sana kembali terdiam.

"Tapi Luhan, Kyungsoo sudah hi—"

"Dia ada disini. Mayat Kyungsoo. Di rumah Jonghun,"

"A—apa?!"

"Datanglah kesini. Secepat mungkin,"

"Luhan, kau tidak—"

PIIP

Luhan berkali-kali menghirup nafas. Dia melirik Sehun yang menatapnya kasih.

"Ini semua akan segera berakhir Lu," ucap Sehun meyakinkan. Dan Luhan hanya bisa tersenyum tipis.

"Sebaiknya kita keluar. Dan menghubungi pihak polisi,"

Luhan mengangguk lagi. Kepalanya menoleh ke arah mayat Kyungsoo. Tangannya takut-takut menyentuh pipi halus Kyungsoo yang benar-benar bewarna putih tembok.

"Dingin.." gumam Luhan lirih dalam hati.

Tangannya bergerak pelan menelusuri lekuk pipi tirus itu.

"Bersabarlah, Kyungsoo.. Sedikit lagi," lirihnya pelan.

Sehun menarik tangan Luhan untuk keluar. Luhan dengan pelan melepas tangannya dari pipi Kyungsoo dan mengikuti Sehun.

CKLEK

"Wah, sepertinya aku sudah ketahuan,"

Luhan dan Sehun terbelalak. "JONGHUN!"

Jonghun berdiri dibelakang sofa dengan seringaiannya yang terlihat menjijikan.

"Kalian terlalu pintar!" puji Jonghun.

Luhan menahan nafas. Bukan. Bukan karena Jonghun ada disini. Tapi karena seorang gadis bersama Jonghun yang duduk dikursi dengan mata tertutup kain hitam dan tangan terikat kebelakang.

Itu—

"BAEKHYUN!" jerit Luhan. Sehun menahan tangan Luhan yang bersiap berlari menerjang Baekhyun karena dilihat Jonghun yang mengeluarkan pisau lipat dan langsung meletakkannya di leher Baekhyun.

Jonghun menekan pelan pisau itu ke leher Baekhyun dan menyeringai lebar. Bibirnya didekatkan ke pelipis Baekhyun.

"Kalian semua.. ini sudah berakhir.."

.

.

.


::TBC::

A/N : Akhirnya tau juga gimana lanjutin ini fanfic. Terima kasih ya allah. /bersipuh/ hngg. Maaf kalo bener-bener lama. Otak author buntu sekale akhir-akhir ini. Nafsu ngetik juga sedikit berkurang. T.T

Tapi author sudah dapat pencerahan :'). Chapter depan adalah chapter terakhir sekaligus epilog. Maaf kalo ini ff ga nyambung. Huhuhuhuhu. Author udah berusaha sebaik author bisa.

Yang nanya umur Taemin disini.. dia seumuran sama Kyungsoo. Kyungsoo 19 tahun. Tapi itu 5 tahun yang lalu. Jadi sekarang umurnya? Berapa tebak:3

Trus yang ngusulin buat laporin polisi langsung tentang Kai yang ditusuk.. kalo gitu ini ff bisa end dari chapter sebelumnya dong :'3..?

Buat ByunnieFan iya. Author liat moment Baek Hyun/Jong Baek itu. Greget banget emang. Tapi biasanya author lebih fokus mantengin kaibaeknya. Hew T.T

Jonghun disini itu khayalan author doang... Bukan kpop artis kok... Tiba-tiba muncul aja itu nama. Tring~ gitu..

Oh, buat Bidadari Ketjeh melet ngakak. Iya, apapun kemauan kamu. Follow favorite. Ambil sebagian kecil hati author juga gapapa. Makasih ya, sampe ijin segala. Terharu eum.. ahaha:'3

Huhuhu yasudah. Author berterimakasih banget yang menanti ini ff. Maaf kalo mengecewakan. Huhuhu

BigThanksTo :

Imeelia, InaaKim, mumu, , Nbl, cho, zhehoons, mitatitu, noviradwiasri, XiaLu BlackPearl, zie, Baby Panda Zi TaoRis EXOst, chyshinji0204, RadenMasKYU, ChanLoveBaek, Riyoung Kim, Bidadari Ketjeh melet ngakak, ByunnieFan, ssjllf, , Ochaaa, chakuchaku felice, RoseEXOticsFRIEND, Love Couple, Park Ha Woo, Queen DheVils94