Beep Beep
Author : gaemkevin
Genre : Mystery, Horror, Romance, Siblingship
Rated : T
Cast : LuhanBaekhyun[sibling], Sehun, Kai, and other
Pair : HunHan, Kaibaek.
Summary : "Beep Beep. Beep Beep. Beep Beep". Apa itu? Terdengar begitu aneh namun lucu. Apa aku boleh mengangkatnya?
Warn : genderswitch![forLuBaek] / Typos / Abal / Gaksherhem / KurangNendang / dan lain lain.
A/N : first horror fic i made. Sorry if this to bad or you dont like it. Inspiration from SNSD's new title song : Beep Beep. Enjoy it.
.
.
..
Chapter 6
.
Beep Beep
.
.
Joomyeon memandangi ponselnya. Baekhyun baru saja menelponny, meminta untuk menjemputnya di halte bus dan dia malah memutuskan secara sepihak.
'Ada apa dengan Baekhyun ya?' pikirnya sedikit cemas.
"Kim Joomyeon-ssi,"
Joomyeon langsung menoleh kedepan dan tersenyum canggung pada Kepala Sekolah yang melihatnya tajam.
"Kita sedang rapat. Bisa tolong simpan ponsel mu?"
Joomyeon mengangguk pelan dan putus putus. Dia meyakui kembali ponselnya.
"Cobalah serius. Kau guru baru. Harusnya kau mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,"
Joomyeon mengangguk lagi. "Maafkan aku,"
Kepala Sekolah membuang mukanya dan berdeham sebentar. Lalu melanjutkan berbicara tentang apa yang sedang mereka rapatkan sebelumnya.
30 menit berlalu sampai akhirnya Kepala Sekolah itu meangkhiri rapat mereka. Joomyeon menguap sebentar dan merapikan kertas kertas berserakan di atas meja.
"Joomyeon-ssi ingin pulang bersama?" tanya seorang guru perempuan.
"Ah—anu aku ingin mengerjakan seseatu dulu sehabis ini,"
"Oh yasudah. Kalau begitu aku duluan ya,"
Joomyeon tersenyum dan balas melambai ketika guru perempuan tersebut keluar dari ruang rapat. Dia lalu bergegas keluar dari ruangan besar berisi meja dan layar proyektor itu menuju ke ruang guru. Tas dan barang-barangnya masih tertinggal disana.
DAK
"Aduh!" rintihnya saat tak sengaja menjatuhkan vas bunga dari tanah liat keras dari atas mejanya. Dia membungkuk mengambil vas bunga yang masih utuh itu.
TRAK
Ponselnya terjatuh. Oh, dia jadi mengingat sesuatu. Baekhyun. Tadi kenapa ya? Suaranya terdengar ketakutan dan resah.
Joomyeon mengambil ponselnya dan memperhatikannya intens.
"Bi—bisakah anda menemuiku?"
"Apa..Apa tidak bisa sekarang?"
"Kau milikku sayang..."
Joomyeon terdiam. Dia baru ingat mendengar suara itu tadi. Suara laki-laki. Kalau Baekhyun memang bersama seseorang mengapa dia meminta Joomyeon untuk menemuinya. Kecuali kalau dia—
"—diculik," gumam Joomyeon. Dia terdiam beberapa saat sampai matanya membulat.
"HAH?!"
.
.
.
"Hosh.. Hosh.." Joomyeon merunduk memegang lututnya. Nafasnya menggila.
Joomyeon berlari dengan sekuat tenaga dan kini dia tiba di area halte bus yang bahkan satu orang pun tidak ada.
Oh, dia tau. Dia memang terlambat. Tentu saja. Ini sudah ke 37 menit semenjak Baekhyun menelponnya tadi.
Joomyeon menggigit bibirnya cemas. Dia yakin Baekhyun benar diculik. Andai dia datang lebih awal. Andai dia ijin dari rapat yang sangat menyebalkan itu.
DDRRT DRRT
Mata Joomyeon menoleh ke arah bawah. Tepatnya dibawah bangku halte. Sebuah benda. Persegi panjang, tipis, putih, dan layarnya menyala.
Oh, Handphone.
Hah?
Joomyeon membungkuk dan mengambil handphone itu.
20 call missed.
17 Message.
Baekhyunnieeeeeeee~ kau dimana? Ken..
"Hee? Baekhyunnie? " Joomyeon buru-buru menggeser tombol kunci slide ke samping dan membuka semua pesan-pesan yang masuk.
From: Kkamjongie
Subject: -
Baekhyun, kau jadi kesini bukan?
.
From: Kkamjongie
Subject: -
Halo, Baekhyunnie. Angkat panggilan ku sayang.
.
From: Kkkamjongie
Subject:-
Baekhyunnie, balas pesanku maniiiiiiiis.
.
From: Kkamjongie
Subject:-
Baekhyun, kau dimana? Apa memang belum pulang?
.
From: Kkamjongie
Subject:-
Baek-hyuniiiieeeeee~ kau dimanaaa? Kenapa belum sampaaaai?
.
Joomyeon mengeryit. Siapa itu Kkamjongie. Isi pesannya sama semua. Pikir Joomyeon. Dia lalu beralih ke menu panggilan tak terjawab.
"Kkamjong semua," gumamnya.
Tiba-tiba handphone ditangannya berbunyi nyaring.
"UWAA!" teriak Joomyeon. Hampir dia melempar handphone itu. Tapi mengingat barang itu mahal dan bukan miliknya dia tidak melakukannya.
Kkamjong calling
"Ouh, Kkamjong," gumam Joomyeon. Dia secara tak sadar menyentuh tombol jawab panggilan.
"Baekhyun kau dimana?"
"Eh, aduh" rintih Joomyeon saat menyadari bahwa dia telah mengangkat panggilan itu.
"Lho? Ini siapa?"
Joomyeon terdiam bingung.
"Ini handphone Baekhyun, kan?"
"A—anu itu—"
"Bagaimana bisa handphone kekasihku berada ditanganmu? Kau penguntit yang sering Baekhyun bicarakan ya."
"Bu—Bukan!" jawab Joomyeon cepat.
"Lalu kau siapa? Suaramu kedengaran seperti suara laki-laki,"
"Aku Joomyeon. Guru Baekhyun,"
Tak ada sahutan selama beberapa detik.
"Baekhyun tidak pernah cerita. Kau berbohong, bukan."
"Tidak! Aku sungguh gurunya! Kau harus percaya,"
"Bagaimana aku bisa percaya kalau kau adalah seorang lelaki,"
Uh, Kkamjong ini.
"Benar kan. Ternyata kau memang—"
"Tadi Baekhyun menelponku. Dia menyuruhku untuk menemuinya di halte bus. Tapi saat itu aku sedang rapat guru, jadi aku bilang tunggulah sebentar. Namun aku mendengar suara Baekhyun yang begitu ketakutan. Tak lama dia memutuskan sambungan secara sepihak. Aku bingung. Rapatku baru selesai 37 menit yang lalu. Dan saat aku menyusul ke halte bus dia sudah tak ada. Dan aku menemukan ponsel ini dibawah bangku halte," cerita Joomyeon kebut.
Lagi tak ada sahutan dari Kkamjong disebrang sana.
"Bagaimana bisa dia menelpon lelaki lain untuk menemuinya sementara ia bisa menelpon Luhan atau Sehun. Atau aku pentingnya,"
"Jangan bertanya hal itu. Aku juga tidak mengerti,"
"Kau tidak bisa dipercaya. Kalau kau memang menyukai Baekhyun. Bersikaplah gentle. Temui aku. Jangan jadi penguntit menjijikan dan mengambil ambil handphone kekasihku,"
ADUH! Jerit Joomyeon dalam hati. Kkamjong ini menyebalkan. Sensitif. Posesif. Berlebihan. Tidak percayaan. Judes. Dingin. Eungh
"Aku bersungguh-sungguh. Aku bisa saja menemuimu dan menyerahkan kembali handphone ini kepadamu jika kau mau," jawab Joomyeon akhirnya.
"Cih. Bilang saja jika kau memang mau cari ribut. Kutunggu. Aku sedang dirawat di Rumah Sakit xxx. Kalau kau tidak datang. Kau akan mati,"
Gluk
Ludah Joomyeon serasa berat sekali untuk mengalari tenggorokannya.
'Aku tidak tau jika Baekhyun mempunyai kekasih sesangar ini.' Batinnya lemah.
"Baiklah, aku akan datang,"
—PIIP
Sambungan diputus secara sepihak. Joomyeon berdecak.
"Sudah judes, kasar, tidak sopan pula. Awas saja jika orangnya tak lebih tampan dariku. Aku akan mengutuknya."
.
.
"Cih sialan," umpat Kai sambil melempar handphonennya diantara kakinya yang terlapis selimut.
"Ada apa?" tanya Taemin.
"Penguntit Baekhyun. Sepertinya dia mengambil-ambil handphone Baekhyun. Sungguh menjijikan,"
Taemin terkekeh. "Biasalah, orang cantik memang penggemarnya banyak bukan?"
"Tapi kalau sampai main ambil handphone kan tidak wajar," omel Kai.
"Yasudah, terus kau mau apa?"
"Dia akan kesini. Katanya dia bukan penguntit. Alasan," jawab Kai sambil menggeleng saat Taemin menawarkannya sebuah jeruk.
"Hah? Untuk apa?" tanya Taemin bingung.
"Untuk pembuktian. Kalau dia itu laki-laki dan bukan pengecut,"
Taemin tertawa. "Kau ini ada ada saja,"
TOK TOK TOK
"Masuk," jawab Kai cepat.
Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang perawat perempuan dengan tubuh tinggi langsingnya.
"Oh, Sooyoung-ssi,"
"Dokter, ada pasien," lapornya. "Seperti biasa,"
Taemin mengangguk.
"Selamat bersenang-senang dengan anak kecil, dokter," ejek Kai.
"Aku akan kembali lagi kesini. Tunggu oke hanya sebentar,"
"Tidak butuh," jawab Kai judes.
Taemin menggeram. 'Dasar tidak sopan!' umpatnya dalam hati.
Taemin berjalan keluar bersama suster tadi.
Kai mengambil handphonenya. "Huft," keluhnya. Dia membuka folder permainan. Beginilah, jika dia bosan apalagi selain main game.
15 menit berlalu.
"HUAAAAH!" teriak Kai. "Aku bosan," keluhnya.
"Mana sih Baekhyun?!" tanyanya emosi. Pacarnya tidak ada, temannya pergi kemana. "Mana lagi si penguntit norak itu. Katanya gentle. Apa apaan," ucapnya geram.
TOK TOK TOK
"Masuk!" jawab Kai emosi.
Pintu terbuka perlahan. Sebuah kepala dengan rambut pendek hitam menyembul.
"Maaf, apakah ini ruangan Kkamjong-ssi?" tanyanya pelan. Dia lelaki, dengan tinggi rata-rata ah mungkin tergolong pendek, baju formal, dan wajah yah tampan lah. Tak lebih tampan darinya.
"Iya. Aku Kkam—hah?!" Kai melotot kearahnya. "Kau siapa sok akrab memanggilku Kkamjong?!"
Lelaki itu tersenyum canggung. Tangannya merogoh kantong sakunya dan menunjukan benda lonjong tipis berlogo apel dibelakangnya.
"Aku ingin mengembalikan ini..."
Kai terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya—
"OH, JADI KAU YA?" tanya Kai menggelegar. Dia turun dari kasurnya lalu merebut ponsel yang ada di tangan lelaki muda itu.
"A—aku sungguh tidak mengambilnya.."
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Kai menatap lelaki tadi tajam.
"Aku menemukannya.."
KRREEKKTT
"A—Aw.." rintih lelaki itu saat Kai mencengkram kerah lehernya. Mengangkat badannya hingga berjinjit membuat lehernya terpeluk erat oleh kerah bajunya yang begitu kaku.
"Alasan,"
Lelaki muda itu menelan ludahnya.
Kai mengepalkan tangannya. Membawanya melayang menembus udara menuju wajah lelaki muda tak dia kenali itu.
"Suho Hyu—? Astaga, Kai hentikan!"
BRUGH
"Aww!"
Taemin menarik Joomyeon dan mendorong Kai hingga membuat kekasih dari Baekhyun itu terjatuh meringis memegangi perutnya.
"Kai, ya ampun maafkan aku," Taemin segera berlari ke arah Kai dan membantunya berdiri.
Kai hanya diam saja. Dia berdiri menepuk nepuk baju rumah sakitnya yang kotor terkena lantai kamar yang agak kurang diresiki itu.
Baru saja tangan Kai ingin beralih mencengram kerah baju Joomyeon namun Taemin dengan cekatan menahannya.
Kai menepis tangan tangan. "Kau kenapa hyung?! Dia itu penguntit Baekhyun!"
"Kau yang kenapa Kai?! Dia ini Kim Joomyeon! Guru Baekhyun!" bentak Taemin kesal.
Kai membelalak. "Hah? ..Guru?"
"Ma—maaf.. Aku memang mencurigakan ya?" Joomyeon tertawa canggung sembari menggaruk belakang kepalanya.
Kai tersadar dan membuang muka. "Cih, kenapa tidak bilang saat ditelepon tadi,"
"Aku sudah mengatakannya, namun kau tak mau percaya.." ucap Joomyeon pelan.
Taemin memandang Kai tajam. Kai mengusap mukanya kasar.
"Arrgh! Iya iya aku minta maaf! Lagipula kan aneh. Baekhyun kekasihku, namun dia malah meminta guru laki-lakinya untuk menemuinya!" sebal Kai. Dia berjalan ke arah ranjang dan melipat tangan kesal.
"Bagaimana ia bisa menyuruhmu menemuinya kalau keadaanmu begini? Dasar bodoh," cetus Taemin.
"Maafkan aku. Aku tidak tau. Bukankah aku sudah menjelaskannya tadi padamu?" tanya Joomyeon.
"Menjelaskan apa? Aku lupa tuh," balas Kai sewot.
"Tadi Baekhyun memintaku untuk menemuinya dihalte bus. Saat itu aku sedang ada rapat. Jadi kuminta dia untuk bersabar. Namun, suara Baekhyun terdengar ketakutan.. dan tak lama setelah itu sambungan terputus sepihak darinya,"
"Ketakutan?" tanya Taemin. Joomyeon mengangguk. Sedangkan Kai malah pura pura tidak peduli. Dia masih kesal.
"Iya.. Huft sayang sekali aku tidak punya rekamannya. Suaranya terdengar gelisah. Seperti orang yang sedang panik diawasi sesuatu,"
"Kau berbohong ya." Ucap Kai.
"Tidak! Aku tidak berboh—"
Suara nyaring ringtone terdengar menggema diseluruh ruangan.
Taemin merogoh sakunya dan melihat ponselnya. "Luhan," ucapnya sambil melirik ke arah Kai dan Joomyeon secara bergantian.
"Angkat," suruh Kai. Taemin mengangguk .
"Yeobosseyo?"
"Taemin-ah,"
"Luhan?"
"Iya.. ini aku.."
Taemin mengeryit. Suara Luhan terdengar aneh. "Ada apa? Kenapa suaramu gugup begitu?" tanya Taemin.
"A—aku..menemukan Kyungsoo.."
Taemin terdiam.
"Hyung? Ada apa?" bisik Kai pelan menyadarkan Taemin. Taemin menggeleng tersadar. Dia menatap Kai aneh dan yang ditatap hanya membalas tatapan bingung.
"Tapi Luhan, Kyungsoo sudah hi—"
"Dia ada disini. Mayat Kyungsoo. Dirumah Jonghun,"
"A—apa?!" teriak Taemin terkejut. Membuat Joomyeon dan Kai ikut terjolak juga.
"Datanglah kesini. Secepat mungkin,"
"Luhan, kau tidak—"
—PIIP
"Ada apa Taemin-ah?" tanya Joomyeon. Taemin menelan ludahnya dan menggenggam ponselnya erat.
"Luhan. Luhan menemukan mayat Kyungsoo, Hyung. Dirumah Jonghun,"
"APA?!" tanya Kai dan Joomyeon berbarengan. Taemin mengangguk.
"Dia memintaku untuk cepat datang kerumah Jonghun,"
"Kalau begitu ayo!" ucap Kai.
"Tapi kau masih sakit?" tanya Taemin.
"Tidak penting!" Kai mengambil jaketnya dan memakainya. Menutupi tubuhnya yang berbalut pakaian khas pasien rumah sakit.
Saat ia hendak membuka pintu suara Jommyeon menginstrupsi.
"Bagaimana kalau kita.. bawa polisi juga?"
.
.
"Apa maumu?" tanya Luhan langsung ke inti dengan nada dingin.
Jonghun melebarkan matanya. "Aku?" telunjuk ditangannya yang semula untuk memegang dagu Baekhyun berpindah ke sudut bibirnya.
"Mauku dirinya," tunjuk Jonghun pada Baekhyun. "Dan kalian," kini telunjuk dan jari tengahnya menuding Sehun dan Luhan. "Mati,"
"KAU!"
"Luhan!"
Sehun menahan kedua lengan Luhan yang bersiap menerjang Jonghun.
"Lepaskan aku! Biar ku habisi lelaki brengsek ini!" berontak Luhan brutal. Sehun dibuat kerepotan. Sedangkan Jonghun tertawa kencang.
GRAB
"LUHAN TENANG!" bentak Sehun.
Luhan terdiam. Pergerakannya terhenti. Air mengalir keluar dari mata rusanya.
"Tenang. Kumohon tenang," ucap Sehun mempererat pelukannya dipinggang Luhan. Kepalanya ia cerukkan di perpotongan bahu dan leher Luhan.
"Hiks.." Sehun merasakan. Sangat merasakannya. Getar ditubuh Luhan dan kepiluan didalam tangisnya. "Baekhyun..Baekhyun.."
"Jie..Jie..?"
Luhan dan Sehun mengangkat kepalanya kearah Baekhyun.
"Luhan Jie? Kau..kah?" suara lembut Baekhyun terdengar.
Luhan terdiam. Air matanya mengalir semakin deras. "Baek—"
"Jie, gelap? Kau yang menutup mataku? Aku tidak bisa membukanya. Tanganku sakit dan kaku. Apa yang kau lakukan padaku Jie?" tanya Baekhyun sedikit meronta mencoba melepaskan ikatan tangannya yang begituan kuat. "Jie, ini sakit. Sudahi tolong. Kepalaku juga pusing,"
Luhan semakin terisak. "Baekhyun.. Hiks.. Bukan aku.. Bukan.."
"Kau menangis?" tanya Baekhyun. "Luhan Jie kau menangis? Kenapa? Apa Sehun oppa berbuat jahat?"
"AHAHAHAHAHAHA!"
Baekhyun, Luhan, dan Sehun terjolak.
"Siapa?" tanya Baekhyun takut.
"Kau tidak mengenalku sayang?" Jonghun mendekatkan bibirnya ke telinga Baekhyun. Baekhyun bergidik ngeri. Bibirnya memucat dan mengering. Suhu tubuhnya drop seketika. Rasanya ia ingin terjun dari tebing saja.
"Kenapa? Bukankah kau menyukaiku?!" tanya Jonghun meremas pundak Baekhyun kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lepaskan tanganmu, brengsek," desis Sehun kesal.
Jonghun menatap Sehun bingung. "Lalu aku harus meletakkan tanganku dimana? Disini?" tangan Jonghun mengelus leher Baekhyun dan menelusupkan tangannya didalam kerah seragam Baekhyun.
Baekhyun meronta kasar. Dia mencoba meminta Jonghun untuk mengeluarkan tangannya. Imbasnya malah pipinya tergores mata pisau lipat yang begitu tajam itu. Darah segar mengalir melewati pipi dan rahang Baekhyun.
Luhan terisak melihat adiknya terluka. "Lepaskan Baekhyun. Kumohon," pintanya pada Jonghun. Tangan Luhan melepas kedua lengan Sehun yang melingkar dipinggangnya.
"Kau boleh membunuhku tapi kumohon jangan sakiti Baekhyun," isaknya parau.
"Luhan apa yang kau—"
Luhan melepaskan genggaman tangan Sehun dilengannya.
Jonghun menyeringai senang. Dia berjalan ke arah Luhan.
"Kemari, biar kau kuteliti dulu," suruh Jonghun.
"Luhan kumohon." Pinta Sehun. Namun Luhan malah melengos dari ucapan Sehun dan bergerak mendekati Jonghun.
"Hm, kau sangat cantik ternyata," nilai Jonghun saat melihat wajah Luhan dari dekat. "Seperti porselen. Kalian berdua tak jauh beda ya," ucap Jonghun. Tangan Jonghun terulur menarik tangan Luhan dan memeluk pinggangnya.
Sehun membelalak. "Sh—"
"Wah nyaman sekali," gumam Jonghun sambil meraba pinggang Luhan. Luhan hanya diam saja.
Jonghun menempelkan benda logam tajam mengkilat itu ke leher Luhan.
"Bagaimana? Sakit tidak?" tanya Jonghun. Luhan hanya diam.
Sungguh, tidak akan ada yang bisa menjelaskan semarah apa Sehun saat ini.
"Ja—jangan sakiti kakakku.." lirih Baekhyun.
Jonghun menoleh dan tersenyum kearah Baekhyun [yang sudah pasti tidak akan terlihat oleh Baekhyun].
"Tidak kok. Aku hanya ingin bermain dengan kakakmu, sayang. Dia begitu cantik," ucap Jonghun dengan suara imut yang dibuat-buat.
Baekhyun menangis. Menabah perih luka dipipinya yang tergores cukup dalam. Sedangkan Sehun sedaritadi sudah mengepalkan tangannya hingga memutih. Bahkan urat pun mulai tampak disekitar lengan bawahnya.
Sehun membuang muka saat melihat Jonghun yang mulai memperdalam tekanan pisaunya di leher Luhan. Tak sengaja pandangannya bertemu dengan pintu depan apartement Jonghun.
Sehun terbelalak ketika menemukan Kai, Taemin, dan Joomyeon juga beberapa komplotan polisi berdiri didepan koridor pintu apartemen Jonghun.
Sehun membuka mulutnya hendak bersuara namun Kai memelototinya garang, membuat mulutnya yang semula terbuka kembali terkatup.
"Ah, sepertinya lebih baik kalo langsung intinya saja," gumam Jonghun. Dia menjauhkan pisaunya dari leher Luhan. Sehun bernafas lega. Namun Sehun hampir saja berteriak saat Jonghun mengarahkan pisaunya cepat hendak menikam Luhan. Tapi—
—DOOR!
"Aarrrgghhhh!"
Sehun menangkap Luhan yang hampir jatuh terkulai lemas. "Luhan-ah, kau baik-baik saja?" tanya Sehun panik. Dia menyingkap poni Luhan dan mengelus dahinya yang berkeringat dingin. Badan Luhan bergetar dan kedua tangannya menangkap leher Sehun. Menangis ketakutan.
"Kau habis Jonghun!" ucap Kai sinis. Dia mendaratkan kakinya ke dada Jonghun yang terkapar karena tembakkan salah satu polisi tepat di kaki kanannya.
"Sialan," desis Jonghun sambil meringis kesakitan.
"Dimana mayat Kyungsoo?" tanya Joomyeon. Sehun menunjuk pintu yang ia masuki tadi.
Taemin, Joomyeon dan beberapa polisi segera masuk menggeledah kamar tersebut.
"Kyungsoo..ah.." lirih Taemin melihat kekasihnya terbujur kaku memutih dan agak berbau busuk. Tapi walaupun begitu, Kyungsoo masih terlihat cantik.
"Kita akan melakukan sedikit pengidentifikasian," lapor salah satu polisi. Taemin dan Joomyeon mengangguk.
Kai melepas ikatan tali yang tersimpul kuat di tangan Baekhyun. Setelahnya ia juga melepas kain hitam yang menutupi mata Baekhyun.
Baekhyun mengerjap pelan. Cahaya remang namun terasa silau menyapa matanya yang masih beradaptasi karena ditutup sekian lama.
"K—kai..?" tanya Baekhyun saat melihat bayangan Kai yang mulai terbentuk dihadapannya. Kai tersenyum dan menggenggam tangan Baekhyun.
"Hiks, Kai.." Baekhyun menghambur memeluk Kai erat. "Aku takut.." lirih Baekhyun.
"Luhan Jie.. mana Luhan Jie?" tanya Baekhyun melepas pelukan Kai. Kai mengeryit melihat sesuatu panjang dan dalam tercetak dipipi Baekhyun.
"Kenapa ini?" tanya Kai. Baekhyun menggeleng. "Tidak apa,"
"Ck, ulah si lelaki tua itu kan? Minta dihajar dia," Kai berbalik dan bersiap bangun. Namun ia tak menemukan Jonghun ditempat ia terkapar tadi.
"BAEKHYUN! AWAS!" teriak Taemin membuat Kai dan Sehun (yang sibuk dengan Luhan) menoleh ke arah Baekhyun.
"Baekhyun!"
BREEET
Kai buru-buru menarik Baekhyun kearahnya dan menatap garang Jonghun yang menyeringai dengan sobekan baju menempel di pisau lipatnya.
"KAU GILA!" maki Sehun.
"HAHAHAHAHAHA!" tawa Jonghun menggelegar.
"AKU GILA! YA YA! AKU GILA!" teriaknya tak waras. "INI SEMUA KARENA WANITA BERNAMA KYUNGSOO DAN KAU!" tunjuk Jonghun pada Baekhyun. Baekhyun meringkuk dipelukan Kai.
"DAN JUGA GARA GARA KALIAN SEMUA! KALIAN SEMUA HARUS MAATIIII!" teriaknya keras seperti orang keseurupan.
Jonghun bersiap dengan pisau ditangannya untuk menerjang Kai yang kedua kalinya. Namun tiba-tiba tubuhnya kaku seperti tak bisa digerakkan.
Kai mengeryit bingung. Begitupun dengan yang lainnya.
"Kyu—Kyungsoo..."
Sosok putih terang itu berjalan pelan dengan sedikit diseret. Semua yang ada disitu shock. Kyungsoo kan sudah.. mati?
TRAK
Pisau Jonghun terjatuh begitu saja. "A—ampuni aku.."
Kyungsoo menggeleng dan menatap Jonghun marah. Tangannya terjulur untuk menyentuh Jonghun.
"Tidak! Kyungsoo! Hentikan!"
Kyungsoo berhenti dan menoleh kearah Taemin yang mencegahnya. "Jangan.." desis Taemin sedih.
"Tapi dia yang membuhuhku. Dan membuatku jauh darimu," ucap Kyungsoo pelan dan pilu.
"Apa dengan membunuhnya bisa membuatmu hidup kembali?" tanya Taemin. "Apa dengan membunuhnya bisa membuat kita bersama lagi?" tanya Taemin lagi.
"Tapi—"
"DIA KABUR!" teriak Sehun saat melihat Jonghun yang berlari ke arah pintu apartemen. Kyungsoo menoleh dan dengan cepat menyusul Jonghun tanpa menapakkan kaki dilantai.
"Brengsek!" maki Kai. Dia melepas pelukannya untuk Baekhyun dan bersiap untuk mengejar.
"Kai tunggu!" cegat Taemin. "Biar aku saja!" ucapnya sambil berlari. Berlalu meninggalkan orang-orang yang masih merasakan atmosfer dingin diruangan itu.
"Apa-apaan?!" ucap Kai marah. "Aku juga akan pergi!"
Baekhyun menahan lengan Kai.
"Aku.. Aku ikut,"
.
.
"Tidak! Jangan kejar aku! Jangan!" teriak Jonghun sambil berlari dari Kyungsoo.
"Kau harus membayar semua ini! Kau keparat!" ucap Kyungsoo ganas. Tangan tembus Kyungsoo terjulur menyentuh punggung Jonghun. Membuat Jonghun jatuh dan ketakutan. Namun dengan sigap laki-laki itu kembali berdiri.
"KAU HARUS MATI!" gelegar Kyungsoo.
Tubuh Jonghun bergetar hebat. Dia buru-buru lari dan menuruni tangga dengan cepat.
"Kyungsoo tunggu! Kumohon!" teriak Taemin dari jauh.
"Kau tau, balas dendam bukan satu-satunya jalan terbaik!" teriak Taemin lagi. "Kita bisa membawanya ke polisi dan biarkan polisi itu yang mengadilinya!"
"Itu semua sia-sia!" balas Kyungsoo berteriak. Membuat Taemin hampir terjatuh karena tekanan arwahnya yang begitu besar.
"Aku ingin dia mati! Aku ingin dia mati!" teriak Kyungsoo lagi dan menghilang tiba-tiba dari pandangan Taemin.
"Argh! Sial!"
BRUGH
Sudah keberapa kali Jonghun jatuh. Entahlah. Yang ia pikirkan saat ini adalah menghindar dari si hantu Kyungsoo.
Dia masih ingin hidup.
Jonghun berlari ke arah luar apartemen. Dia celingak celinguk bingung harus kemana karena Kyungsoo pasti akan tau.
Jonghun mendegar suara gaduh orang menuruni tangga. Badannya gemetar. Itu pasti Kyungsoo. Jonghun menoleh dan menemukan Taemin, dan juga Kai dan Baekhyun yang menyusul dibelakangnya. Namun dibayangannya kini hanya ada Kyungsoo. Dan halusinasinya membawanya terbang mengira itu adalah Kyungsoo dan para hantu yang ingin membunuhnya.
"Tidak! Jangan! Jangan bunuh aku!" teriak Jonghun kesetanan. Membuat beberapa orang yang berlalu lalang langsung menoleh aneh kepadanya.
"Jonghun! Tunggu!" teriak Taemin.
"TIDAAAAK!" Jonghun berlari ke arah jalanan yang saat itu sedang ramai. Taemin terbelalak saat melihat Kyungsoo diseberang menyeringai mengerikan. Wajahnya reflek menoleh kekanan dan menemukan sebuah truk troton besar melaju dengan kecepatan tinggi.
Dengan sekuat tenaga dia berlari menyusul Jonghun.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNN!
BRUAAAAAKKK!
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
.
_Omake_
.
"Mama, aku mau selai," pinta Baekhyun. Wanita paruh baya yang sedang mengolesi selai untuk Luhan itu kini beralih mengambil roti Baekhyun dan mengolesinya pelan.
"Mama, sepertinya hari ini aku pulang telat. Ada latihan untuk theater bulan depan," ucap Luhan sembari menggigit rotinya anggun.
"Tak apa. Asal kau ingat pulang," kekeh Mamanya. Luhan tertawa.
"Papa, bisakah kau membelikanku album terbaru Girl's Generation?" rajuk Baekhyun sembari menumpuk satu roti lagi diatas roti selainya.
"Kau punya uang mengapa harus meminta kepada Papa?"
Luhan tertawa mengejek sedangkan Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal.
TIN TIIN
Baekhyun menjolak senang. "Itu pasti Kai!" dia buru-buru menghabiskan sarapannya dan meneguk susunya.
"Ya, pelan-pelan dasar anak kecil," ejek Luhan.
Baekhyun mengambil tasnya. Mencium pipi kedua orang tuanya dan berlari kegerbang depan.
Tak lama terdengar suara nyaring milik Baekhyun. "YAAAA! ADA SEHUN!"
Dan decakan sebal mengalun dari bibir tipis wanita berkelahiran China itu.
.
.
Luhan memandang kosong jalan-jalan pinggiran yang ramai diisi oleh orang-orang yang berlalu lalang.
Luhan menghela nafas bosan mendengar teriakan Baekhyun untuk yang kesekian kalian karena ulah usil Kai. Dan Sehun yang sedaritadi mengomel-ngomel meminta pasangan itu untuk diam.
Luhan terkesiap saat mobil Sehun melewati kawasan apartement yang pernah ia dan Baekhyun tinggali dulu. Apartement itu kelihatan buruk. Tidak terawat dan kosong. Gelap dan mengerikan. Padahal ini masih siang.
"Sudah satu tahun, ya," gumam Luhan. Sehun menoleh.
"Bagaimana keadaan Jonghun?"
Kejadian setahun yang lalu. Dijalan ini, seorang lelaki berumur 35-an berlari seperti orang kesurupan dan hampir saja tertabrak sebuah truk besar. Syukurlah ada orang yang berbaik hati mendorongnya dengan cepat kepinggir jalan. Namun naas, orang itu malah tertabrak dan meninggal ditempat.
Orang itu Taemin.
Setelah kejadian itu Luhan dan Baekhyun memaksa kedua orangtuanya kembali tinggal bersama mereka. Dan kini hari demi hari mereka lewati bersama tanpa ada rasa ketakutan dan beban. Tetapi masih ada sedikit rasa sedih mengingat peristiwa yang membuat Taemin menutup mata untuk selama-lamanya itu.
Setelah kejadian itu pula, pemilik apartemen merasa bahwa apartemennya dikutuk. Pemilik apartemen itu memutuskan menjualnya kepada sembarang orang dan pergi untuk tinggal di luar negri.
"Baik kurasa? Terakhir kali aku menjenguknya 2 bulan yang lalu. Dan tampaknya dia sangat sehat," jawab Sehun membelok stir ke arah kanan. Ke arah sekolah Baekhyun.
Jonghun dijebloskan hukuman penjara selama-lamanya karena dianggap telah membunuh 2 orang. Selain itu dia juga mendapat perawatan medis karena mengalami gangguan jiwa.
"Kuharap, dia akan selalu baik-baik saja," doa Luhan.
Sehun tersenyum. "Kau terlalu baik. Dia kan jahat,"
"Salahkah?" tanya Luhan. Sehun menggeleng dan tersenyum. "Tidak. Kau malah terlihat istimewa, sayang,"
Luhan tersenyum senang dan memeluk lengan Sehun.
"Eeeee apa-apaan. Dilarang bermesraan didepan adik kelas," Baekhyun memisahkan kepala Luhan yang bersandar di bahu Sehun.
"Dasar masih ada kami tau," sungut Kai sebal.
"Alah, biasanya juga kalian tidak pernah lihat tempat," ejek Sehun.
"YA!"
Dan setelah itu tawa nyaring terdengar menggema didalam ruangan milik mesin beroda empat tersebut.
.
Seorang lelaki paruh baya masuk kedalam sebuah ruangan yang hampir satu tahun belakangan ini tak dihuni. Terlihat dari pakaiannya, pakaian yang biasa digunakan oleh seorang cleaning service.
"Ah, ruangan macam apa ini. Seperti gudang bawah tanah saja," dumelnya.
Matanya menangkap sebuah telepon tua yang terlihat bagus walaupun berdebu.
"Wah! Bagus! Anakku pasti akan senang kalau dibawakan mainan seperti ini!" soraknya gembira.
BEEP BEEP.
Dia tejolak kaget.
"Hee ini bukan mainan toh?" tanyanya sambil mengelus kulit luar telepon. "Suaranya lucu,"
BEEP BEEP
"Whoa!" kagetnya lagi. "Aneh!"
BEEP BEEP
"Boleh diangkat tidak ya?" gumamnya. "Argh! Ngapain ngurusin beginian? Sudah ah," Dia berbalik hendak memulai pekerjaannya.
"Hei..."
Dia bergidik.
"Hei..."
Tiba-tiba badannya bergetar ketakutan. "Siapa...?"
"Hei..."
Kepalanya perlahan menengok kearah belakang.
"...
Kenapa kau tidak menjawab panggilan...ku...?"
"AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGHH!"
.
.
[Officially] -Fin-
Haloooo!
Aduh untuk yang kesekian kalinya author pengen ngucapin maaf beribu maaf. Author gak update udah kayak hiatus. Tapi sebelumnya author gabilang mau hiatus kan? Author jadi merasa bersalaaah banget huhuhu.
Jadwal author ini ya, dari senin sampe bahkan minggu itu padet bener. Celahnya sedikit buat mainan. Jadi kesel.
Sebenarnya ini cerita udah selesai laaamaa banget. Tapi end pertama kali itu fic nya short bangeett. Gak jelas pula (ini juga gajelas sih). Tapi kan seenggaknya ya, masa ending cerita cuma 2 word? Kan lucu deh.
Jadi author berpikir keras gimana buat nambahin tanpa ngerubah endingnya. dan berhasil. Author suka curi-curi kesempatan buat ngetik waktu ngerjain tugas dilaptop. Ya kadang juga nyepiknya belajar ternyata ngetik huhu.
Yang buat nungguin ini cerita makasih banget. Sayang banget sama kalian yang sabar. Dan maaf banget kalau endingnya gak sesuai keinginan kalian huhuhu.
Maaf banget ya maaaf banget.
BigBigBig Thanks To :
XiaLu BlackPearl, jjonghun, RadenMasKYU, Kazuma B'tomat, chachaku felice, mumu, ChanLoveBaek, chyshinji0204, Park Ha Woo, Love Couple, InaaKim, RoseExoticsFRIEND, Imeelia, jungsssi, han eunmi, stefany, VampireXoXo, ssjllf, Park Ri Yeon, Manchungi98, Astri407, EXOTics, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, zitao's wife, hunhanshipper, Wu Lian Hua-Lyn Wu, Maje Jannah 97, pinoya, Eartlings, fkchu, Choirunnisa, myuu myuu, Park Byun Joon, FranciscaGun03, Udel Myungsoo.
