Fanfiction : True Love ( Chapter
5 )
Title : True Love ( Sequel Always Smile )
Author : Junmen02
Length : Chapter
Cast : Kim Joonmyeon aka Suho (gs), Oh Sehun aka Sehun, Wu Yifan aka Kris
Other Cast : Do Kyungsoo aka Kyungsoo (gs), Kim Jongin aka Kai, Byun Baekhyun aka Baekhyun (gs), Park Chanyeol aka Chanyeol, Oh Hyun Yu (oc)
Spesial Cast : YUI (Soloist Jepang)
Pair : HunHo, KrisHo, KrisBaek, ChanBaek, KaiDO, dll.
Genre : romance, hurt, school life.
Rate : T+
Summary : "Terkadang, rasa kekaguman membuat kita buta dan mengatakan itu cinta.. Namun, kita tak menyadari jika cinta sejati berada di sekitar kita selama ini.. Bahkan di sisi kita.."-True Love-
Disclaimer : tokoh milik Tuhan dan orangtua masing masing.. Sedangkan alur cerita pemikiran author sendiri..
A/n : annyeong *-* cha kambek dengan chap 5 '-' kali ini cha mau bahas review readersdeul yg kebanyakan nanya alas an sehun.. Okey, check this out!
Q : Kenapa Sehun nyatain perasaaannya duluan ke Junmyeon?
A : Karena Sehun udah nggak tahan dan kebujuk sama kalimat YUI waktu selesai nyanyi di panggung..
Q : Sebenernya YUI itu perannya apa sih?
A : Akan dijawab di chap ini *-*
Q : Apa YUI itu peramal?
A : Akan dijawab di chap ini *nyengir
pacman emotikon
Q : Ini end nya Krisho or Hunho?
A : Dari awal udah jelas kan, kalo ini Hunho?

Q : Kapan Junmyeon tau kalo Yifan selingkuh sama Baekhyun?
A : chap ini *-*
mungkin itu aja dulu .-. Langsung aja ya^^

.

.

.
Happy Reading!
4 years ago…
Tokyo — 20.13 AM

(a/n : anggep aja dialognya bhs jepang '-')
"Boya." panggil seorang perempuan paruhbaya pada gadis dewasa yang ada
di depannya.
"Hai, Ma?" jawab gadis dewasa tersebut.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang," kata perempuan paruhbaya tadi.
"Aish. Yoshi masih ingin disini." Rengek gadis dewasa tersebut.
"Hah. Lagipula ritualnya sudah selesai kan?" hela perempuan paruhbaya.
"Ma, kenapa yoshi harus punya kekuatan ini?" lirih gadis dewasa bernama Yoshi tersebut.
"Jangan bahas itu. Itu mukjizat dari Tuhan." jawab ibu Yoshi tidak suka.
"Tapi Ma. Yoshi dijauhi beberapa teman karena mengetahui kekuatan Yoshi ini." gerutu Yoshi.
"Bukannya kau punya kekuatan?" heran ibu Yoshi.
"Aku tidak akan menggunakan kekuatan itu." desis Yoshi.
"Terserah. Tapi kau pasti akan menggunakannya," hela ibu Yoshi.
"Ya, ya, ya." Yoshi memutar bola matanya malas.
"Ingat Yoshi, jangan gunakan kekuatanmu karena emosi." peringat ibu Yoshi.
"Aku tau Mama." Yoshi terlihat kesal.
"Mama bilang jangan gunakan." peringatnya sekali lagi.
"Aku tau Mama!" jerit Yoshi tidak tahan.
"Yoshioka!" teriak ibu Yoshi menyebut nama lengkap anaknya tersebut.
Namun Yoshi segera menyambar tas selempangnya lalu keluar dari rumah ibunya.
"Hati hati dengan fansmu, YUI!" teriaknya lagi.

"Haish. Dasar ibu tua bangka. Cih. Kekuatan apaan. Kekuatan ini menyiksaku. Apapun yang akan kukatakan akan menjadi kenyataan? Baiklah. Kalau begitu aku akan mengadakan tour ke beberapa Negara empat tahun ke depan," gerutu Yoshi atau YUI.
Ia tidak peduli jika ada yang mengenalinya sebagai YUI. Ia sangat kesal saat ini.
YUI kesal dengan mukjizat–kata ibunya– yang ia punya. Hal ini ia sadari saat baru menjadi artis. Ia pernah bertengkar dengan artis senior dan menyumpahi artis senior tersebut karirnya akan menurun drastis. Dan benar saja. Artis senior tersebut tidak pernah muncul di TV keesokan harinya sampai sekarang. YUI juga pernah –atau– sering mendapat bayangan. Waktu itu ia tengah ada di lokasi syuting outdoor. Tiba tiba kepalanya terasa berat dan sesaat itu juga sekelebat bayangan tentang 'kebakaran' terlintas di ingatannya. YUI segera memberitau beberapa crew. Namun yang ada mereka memilih acuh
dan melanjutkan syuting. Sedangkan YUI segera mengamankan diri. Beberapa menit kemudian tercium bau asap yang tebal. Kebakaran itu terjadi.

"Sial! Mukjizat setan ini mengangguku!" desisnya.

BRUKK!

Seorang remaja tinggi semampai menabrak YUI dari belakang.
"Itai, oya oya!" jerit YUI.
"Moshiwake arimasen." kata remaja tadi singkat dan segera berlari tanpa melihat wajah YUI.
"Iie do ashimashite." jawab YUI sedikit kesal.
"Sial!" desis YUI lagi. "Anak remaja sekarang memang kurang ajar." YUI kembali melanjutkan langkahnya.
Namun, baru beberapa langkah..

BRUKK!

"Oya oya!" teriak YUI. Baiklah, ini terjadi lagi.
"Moshiwake arimasen." gadis belia yang menabrak YUI membungkuk dalam.
"Ya! Kenapa semua orang menabrakku!" teriak YUI kesal.
Sedangkan gadis yang menabrak YUI tadi membungkuk hormat lalu melengos pergi.
"YA! DASAR REMAJA KURANG AJAR! AKU BERSUMPAH KALIAN AKAN BERJODOH KARENA TAKDIR KONYOL! KALIAN AKAN MERASA TERSAKITI KARENA PERASAAN KALIAN SENDIRI!" teriak YUI murka. Ia tidak peduli dengan tatapan orang yang menganggapnya gila.

Dengan perasaan dongkol, YUI kembali melanjutkan perjalanannya. Sedangkan di tempat lain, dua orang remaja berbeda kelamin terlihat saling mengejar.

"YA! OH SHIXUN! KEMBALIKAN NAMETAGKU!" teriak gadis yang menabrak YUI tadi.
"Kim Junmian, eoh?" remaja yang dipanggil Oh Shixun tadi ber-smirk ria.

Junmyeon menatap tubuh mungilnya di pantulan kaca. Senyuman manis tersungging di bibir tipisnya.
Dengan dress baby blue diatas lutut membuatnya terlihat imut. Tidak lupa ia memberikan make up tipis di wajahnya. Rambutnya bebas tergerai.
"Hah. Aku datang Kris." gumamnya sambil tersenyum lebar.

Cklek..

"Noona?" Jongin mengernyit saat melihat Junmyeon menggunakan pakaian yang terkesan rapi.
"Ne?" Junmyeon menoleh.
"Eodiga?" tanya Jongin tanpa basa basi.
"Berkencan dengan Kris." Jawab Junmyeon enteng.
"Tidak bisa." Jongin menggeleng. "Noona harus mengajariku tugas dari Go seongsangnim."
"Memangnya kau siapa?" tanya Junmyeon sinis.
"Aku? Aku adalah dongsaengmu yang paling tampan sedunia." balas Jongin tak mau kalah.
"Yak!" Junmyeon melemparkan tatapan tajamnya. "Demi Tuhan, aku akan berkencan Kkamjong!"
"Terserah. Lagipula aku sudah memberitau Appa." Jongin mengangkat bahunya acuh.
"Dongsaeng sialan!" umpat Junmyeon.

Asalkan kalian tau, jika Jongin sudah mengadu pada Tuan Kim, Junmyeon tak akan pernah bisa bebas. Tentunya sebelum Jongin menyelesaikan tugasnya.

"Hah! Kalau begitu kemarikan bukunya! Biar aku langsung kerjakan saja! Butuh waktu satu abad untuk mengajarimu!" jerit Junmyeon.

Jongin tersenyum penuh kemenangan sambil menyerahkan satu buku dan satu lembaran pada Junmyeon. Junmyeon menatap lembaran soal yang diberikan Jongin horror.

"Apa apaan ini! Kenapa soalnya ada 50!" teriak Junmyeon nyalang.
"Sudahlah Noona. Cepat kerjakan atau kau tidak akan berkencan dengan tiang listrikmu." Jongin menghempaskan tubuhnya pada kasur king size milik Junmyeon.

Dan Junmyeon hanya bisa mengumpat tanpa suara. Ia harus mengerjakan tugas Jongin dengan cepat agar bisa menemui kekasihnya.

15 menit kemudian..
"Jongin?"
"Heum?"
"Ponselku mana?"
"Ponsel? Aku sedang memegangnya."
Jongin sibuk mengutak atik ponsel Junmyeon.
"Tsk. Kemarikan! Aku ingin memberitau Kris kalau aku telat datang!" Junmyeon menatap Jongin tajam.
"Memangnya Noona sudah selesai dengan tugasku?" tanya Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Noona nya tersebut.
"Aku baru mengerjakan setengahnya." Junmyeon memutar bola matanya malas.
"Ya sudah. Kerjakan saja," jawab Jongin enteng.
"Aish. Ayolah Jongin~" rengek Junmyeon.
"No, no, no." Jongin menggeleng.

Junmyeon menggeram kesal. Lebih baik ia melanjutkan 'kegiatannya'.

"Noona?"
"Hng,"
"Kudengar, Sehun akan pindah ke Jepang. Apa itu benar?"
"Molla. Dia juga menjauhiku. Tsk. Aku sangat sedih jika mengingatnya," Junmyeon mulai mendramatis(?).
"Seperti kau kekasihnya saja." Cibir Jongin.
"Hum," gumam Junmyeon.
"Ahh. Kurasa noona menyukai Sehun," Jongin mulai menggoda Junmyeon.
"Tsk. Jangan menggodaku Jongin. Aku sedang mengerjakan tugasmu." Jawab Junmyeon malas.
Jongin menatap Junmyeon remeh. "Dasar. Masih saja tidak mau mengaku," gumamnya.
"Diam, atau aku akan merobek tugasmu." desis Junmyeon.
"Coba saja. Kujamin appa akan memarahimu," ledek Jongin.
"YA! KKAMJONG SIALAN!" teriak Junmyeon murka.
Selanjutnya hanya suara Jongin yang tertawa keras.

.

.

"Oppa," panggil Hyun Yu. Sehun menoleh.
"Aku ingin pamit," Hyun Yu mengerjapkan matanya.
"Pamit?" Sehun mengernyit.
"Ahh. Maksudku aku ingin mengerjakan tugas." cengir Hyun Yu.
Sehun sweatdrop. "Eodiga?"
"Eum," Hyun Yu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ch–Chanyeol oppa." Hyun Yu menggigit bibir bawahnya.
"Bukankah seharusnya kau mengerjakannya dengan teman sekelas?" heran Sehun.
"T–tapi aku ingin mengerjakannya bersama Chanyeol oppa," jawab Hyun Yu polos.
"Aish. Sudahlah. O iya, jangan lupa bawa payung. Mungkin malam ini akan hujan," kata Sehun acuh.

Hyun Yu hanya memekik tanpa suara. Ia segera menyambar tas sekolahnya lalu
berlari menuju rumah Chanyeol. Melupakan pesan Sehun. Sepertinya anak itu sengaja. Atau.. Memang ceroboh?

.

.

"HAH! AKHIRNYA!" pekik Junmyeon riang.

Jongin yang baru saja memasuki alam bawah sadarnya tersentak.
"Ya!" teriak Jongin.
"Hehe," cengir Junmyeon. "Ini tugasmu."

Jongin mengambil buku yang disodorkan Junmyeon. Sesaat ia meneliti jawaban lalu mengangguk singkat. Sok ngoreksi gitu–" Padahal gak tau apa apa # abaikan

"Ya sudah. Aku pergi, ne? Ppai!" Junmyeon segera menyambar ponsel beserta tas selempangnya.

BLAM!

Junmyeon menutup pintu kamarnya rapat.

.

.

TING NONG!

Terdengar suara bel yang ditekan di kediaman keluarga Park. Hyun Yu menatap pintu yang ada di depannya was was.

Cklek..

"Ah. A-annyeonghaseyo." Hyun Yu membungkuk pada yeoja paruhbaya yang membuka pintu.
"Annyeong. Ada apa, nak?" tanya yeoja paruhbaya tersebut ramah.
"E-eum. Apa Chanyeol oppa ada?" Tanya Hyun Yu pelan.
"Chanyeol? Ah. Dia ada di taman belakang. Apa kau juga temannya?" tanya Nyonya Park.
"Mwo? 'juga'? Maksud Ahjumma?" heran Hyun Yu.
"Tadi ada juga teman Chanyeol yang datang kemari. Mereka ada di taman belakang," Nyonya Park mempersilahkan Hyun Yu masuk. Hyun Yu mengernyit.
"Kau hampiri saja dia. Ahjumma akan membuat minuman dulu." kata Nyonya Park.
"Ah. Gamsahamnida, Ahjumma." Hyun Yu menundukkan kepalanya sambil tersenyum manis.

Nyonya Park pun berlalu ke dapur.
Perlahan, Hyun Yu melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud Nyonya Park tadi.

"Chan—" Hyun Yu tertegun saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia memandang dua orang yang membelakanginya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Chanyeol terlihat membelai surai yeoja yang ada di dekatnya dengan lembut. Sedangkan kepala sang yeoja bersender di bahu kekar Chanyeol. Hyun Yu tau. Ia tau siapa yeoja itu. Siapa lagi kalau bukan yeoja yang ia marahi pagi tadi. Sungguh yeoja tak punya malu, batinnya miris. Tanpa berkata, Hyun Yu segera berbalik keluar dari kediaman keluarga Park. Ia tak peduli di cap sebagai tamu tak sopan karena keluar seenaknya saja tanpa berpamitan. Seharusnya ia menerima tawaran Ahri—teman sekelasnya agar
mengerjakan tugasnya di rumah yeoja tersebut. Namun Hyun Yu dengan riang menolak dan menjawab akan mengerjakannya di rumah Chanyeol. Bukannya pulang, Hyun Yu malah melangkahkan kakinya menuju rumah Ahri. Ia tidak mau tenaganya sia sia tapi tugasnya belum selesai. Sangat keras kepala memang. Sama seperti sang kakak.

.

.

.

.

.

"Yeol?" panggil Baekhyun pelan.
"Hm?" jawab Chanyeol sambil membelai rambut halus Baekhyun.
"Mianhae," Chanyeol mendesah.
"Gwaenchana, Baek." helanya.
"Chanyeol?" tiba tiba Nyonya Park dating membawa sepiring camilan dan tiga gelas minuman.
"Ne, Eomma?" jawab Chanyeol.
"Ah, mian Eomma menganggu kalian. Eomma hanya ingin memberikan ini," cengir Nyonya Park.
"Gomawo Eomma/Ahjumma." Jawab Chanyeol dan Baekhyun serempak.
"Eoh? Temanmu yang satunya mana?" heran Nyonya Park saat baru menyadari Hyun Yu tidak ada.
"Satunya? Dari tadi hanya aku dan Baekhyun disini Eomma." Chanyeol mengernyit.
"Mwo? Tadi ada gadis kecil kesini." Nyonya Park semakin bingung.

Hening.

Ketiga orang tersebut bergelut dengan fikiran masing masing.

"E-eum. Yeol, Ahjumma. Aku pamit dulu," Baekhyun memecah keheningan tersebut.
"Ah. Baiklah." Nyonya Park tersenyum. Baekhyun pun segera beranjak dari duduknya dan memilih untuk pulang.

"Eomma?"
"Ne?"
"Kira kira ciri ciri gadis tadi seperti apa?"
"Eum.. Tubuhnya mungil, dan rambutnya kepang dua."
'tidak salah lagi.'

"Hah." Untuk kesekian kalinya namja jangkung tersebut menghela nafas. Ia kembali menatap benda yang ada di pergelangan tangannya.
"Tsk. Sebenarnya dia kemana." gumamnya.

Perlahan, Yifan—namja tadi mendongakkan kepalanya pelan. Ia dapat melihat rintik hujan yang mulai
membasahi wajahnya. Yifan pun segera melangkah menuju sebuah toko yang sudah tidak digunakan.
Setidaknya ia bisa berteduh disana.

.

.

.

.

.

Tik. Tik. Tik.

"Eh?" Baekhyun mendongak. Ia merasakan ada cairan yang mengenai pakaiannya.

Tak lama kemudian titik titik air tersebut kian besar dan langsung menghujani tubuh mungil Baekhyun.

"Aigoo. Kenapa harus hujan?!" decaknya. Baekhyun segera berlari mencari tempat untuk berteduh. Tak lama kemudian, ia menemukan sosok familiar tengah duduk di depan toko yang sudah usang. Baekhyun mengernyit. Ia segera menghampiri sosok tersebut.

"Kris?"

Sosok itu menoleh. Baekhyun tersenyum.
"Baekhyun? Bagaimana kau bisa disini?" kaget Yifan. Baekhyun kembali tersenyum lalu duduk di dekat namja berambut pirang tersebut.
"Aku hanya kebetulan lewat disini, dan aku menemukanmu." jawabnya. "Kau?"
"A–aku?" Yifan sedikit tergagap. Baekhyun hanya mengangguk walaupun ia sedikit bingung.
"Eum. Aku. Sedang menunggu Suho." Cicit Yifan sambil menggaruk tengkuknya.
Baekhyun tersenyum maklum. "Begitu ya."
"Kalau kau?" tanya Yifan balik.
"A–apa?" kali ini Baekhyun yang terperangah.
"Aku. Sudah ke rumah Chanyeol." jawabnya sambil menunduk. Kini, Yifan yang tersenyum maklum.

Hening.

"Hyun Yu-ah, kurasa hujan akan awet malam ini." ujar Ahri. Hyun Yu mendesah.
"Eottokhae?" lirihnya.

Ahri tersenyum.

"Tenang saja, kau bisa menginap disini. Lagipula Appa dan Eomma sedang bisnis ke luar kota." jawab Ahri senang.
"mwo? Tapi. Oppaku," gumam Hyun Yu. Ia takut jika Sehun mengkhawatirkannya.
"Apa gunanya ponsel?" kata Ahri sedikit jengkel.
"Ah." cengir Hyun Yu. "Kau benar."

Hyun Yu segera meraih ponsel yang ada di tas sekolahnya lalu mendial nomor sang kakak.
"Yeoboseyo, oppa?"

"…"

"Oppa~ aku ada di rumah Ahri. Dan ini hujan,"

"…"

"Eum. Tidak jadi. Aku langsung ke rumah Ahri."

"…"

"Nde, Oppa. Boleh aku menginap di rumah Ahri? Maksudku hujan tidak reda dari tadi. Dan saat ini sudah tengah malam,"

"…"

"Jeongmal?! Gomawo Oppa! Saranghae!"

"…"

"Ne!"

Clip!

"Kyaa~! Oppa memberiku izin Ahri-ah!" pekik Hyun Yu. Ahri tersenyum lebar.
"Baiklah. Kita tidur di kamarku!" balas Ahri. Hyun Yu mengangguk antusias.
"Siapa yang siap dengan pesta bantal?!"
"KYAAAAAAA~~~!"
Baiklah, mari kita tinggalkan dua gadis kecil yang tengah histeris menyambut 'pesta perang bantal' mereka.

"Hufftt." Sehun menghela nafas. Ia sangat bosan sendirian di rumah.

Setelah beberapa menit berfikir–agar bisa menghilangkan rasa bosannya– Sehun mengambil ponselnya dengan gerakan cepat. Ia segera mencari kontak seseorang. Namun, baru saja Sehun hendak menekan tombol hijau, gerakannya terhenti.

Tidak.

Ia tidak boleh seperti ini. Ia harus melupakannya. Ya.. Sebentar lagi semua akan berakhir.

'Princess'

"UWAAAAA~!" Jongin berteriak sambil berguling guling tidak jelas di kasurnya.

Tadi, setelah tugasnya selesai, Junmyeon langsung melengos pergi tanpa memikirkan nasib sang adik yang kesepian. Ia benar benar bosan sekarang. Sebenarnya tugas yang diberikannya pada Junmyeon tadi dikumpulkan minggu depan. Tapi, ia sengaja membuat sang kakak tertahan(?) di rumah. Tapi nyatanya, otak Junmyeon terlalu encer sehingga mengerjakan tugas fisika sebanyak 50 soal dalam waktu 1 jam.

"AKU BOSAAAAANN~" teriaknya lagi. Well, dia bisa saja menyuruh Kyungsoo untuk datang. Tapi, ia tak tega karena hampir larut malam. Hey, hanya namja bodoh yang menyuruh kekasihnya untuk datang larut malam, okey? Dan Jongin bukanlah namja yang seperti itu.

Drrtt..Drrttt..

Ponsel yang ada di dekatnya bergetar. Jongin berdecak. Siapa yang tega menelfonnya selarut ini. Tanpa melihat ID sang pemanggil, Jongin langsung menekan tombol hijau.

"Yeoboseyo?"
"Jongin?"
"Mw—Kyung noona?!"
"Waegeurae?"
"A-aniya,"
"Emm. Kau sedang apa?"
"Aku? Ahh.. Tidak ada, waeyo?"
"Aniya. Aku.. Hanya.."
"Hanya apa? Merindukanku?"
"Yak!"
"Hehee. Sudahlah noona, mengaku saja."
"Baiklah, baiklah. Kali ini kau benar."
"Woahh. Jadi noona benar
merindukanku? Padahal aku tadi hanya
bercanda, lho."
"Mwo?!"
"Hehe. Aniya, nado bogoshippeo, noona."
"Hum~"
"Noona?"
"Ne?"
"Kau tidak tidur?"
"Aku belum ngantuk~"
"Tsk. Bagaimana kalau aku bernyanyi?"
"Mwo?! Andwae!"
"Yak! Wae?"
"Suaramu jelek,"
"Aish. Noona belum mendengarnya,"
"Hem. Kalau begitu nyanyikan aku lagu
yang membuatku mengantuk."
"Baiklah.
Baby, how are you tonight?
This is a note from your boyfriend,
With me, everything is ok,
Baby, how are you tonight?
Baby, don't worry I am fine,
Promise to see you this summer,
This time there will be no delay,
Baby, how are you tonight?
"

"Noona?"

"Noona? Kau sudah tidur?"

"Hah. Baiklah, jaljayo noona. Saranghae,"

Dan malam itu Kyungsoo bermimpi indah. Tidak lupa menyertakan Jongin.

"Ahri-ah, keripiknya." Hyun Yu bersuara.

Tanpa menjawab, Ahri segera menyambar keripik yang ada di dekatnya lalu memberikannya pada Hyun Yu. Yeah, setelah mereka berperang bantal mereka memilih untuk menonton film sambil menguras isi kulkas sang tuan rumah.

Krauk..Krauk..

Hyun Yu mengunyah keripiknya dengan ganas.

Drrrtt..Drrttt..

"Aish." Hyun Yu mendengus. Ia meraih ponselnya dengan gerakan malas.
"MWOYA?!" Hyun Yu memelototkan matanya kala melihat ID sang pemanggil.

'Chanyeol oppa'

"Yak! Bisakah kau tidak berteriak!" pekik Ahri.
"Aniyo, aniyo." Hyun Yu menggeleng cepat. "Eottokhae, Ahri-ah?! Eottokhae!"
"Tsk. Kau kenapa?" tanya Ahri acuh.
"Omona!" jerit Hyun Yu sambil memegang erat ponselnya–yang masih tertera nama Chanyeol–.
"Hey! Ponselmu bunyi bodoh!" desis Ahri tajam.
"Aku tau!" balas Hyun Yu.
"Ya sudah, angkat!" teriak sang tuan rumah.

Hyun Yu hanya mendengus namun tetap menurut.
"Y-yeoboseyo?" Hyun Yu menggigit bibir bawahnya.
"Hyun Yu-ah?" panggil Chanyeol.
"N-nde?" Hyun Yu memejamkan matanya erat.
"Kau dimana?"
"E-emm. A-aku. Ada di rumah Ahri," Hyun Yu menggerakkan bola matanya kesana kemari.

Sementara Ahri menatap Hyun Yu datar. Menerima telepon, tapi seperti menerima tuntutan pekerjaan! Desisnya.

"Ahri?" suara Chanyeol kembali terdengar.
"N-nde. Temanku,"
"Ahh. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
"M-mwo?" Hyun Yu mengernyit.
"Apa tadi kau ke rumah Oppa?"
"MWO?!" Baik, teriakan kali ini lebih keras.
"Yaa! Hyun Yu pabbo! Jangan berteriak!" pekik Ahri. Hyun Yu hanya diam menghiraukannya.
"Hyun Yu-ah?" panggil Chanyeol lagi.
"Ah. Eum. Anu. Uhh." Ayolah, Hyun Yu harus menjawab apa?

"N-nde.." jawabnya pelan.
"Kenapa kau pulang?"

DEG

Hyun Yu terpaku. Kali ini lidahnya benar benar kelu. Apa ia harus jujur?

"E-em. A-aku, aku langsung ke rumah Ahri. Ya, ke rumah Ahri. Aku mengerjakan tugas," Hyun Yu mengepalkan tangannya.
"Jeongmal?" tanya Chanyeol.
"N-nde,"
"Kau berbohong?"
"N-nde—Ah! Maksudku aniyo!"
"Lalu, apa kau masih di rumah temanmu?" tanya Chanyeol.
"Nde, waeyo?"
"Bukankah saat ini hujan? Kenapa kau belum pulang?" di seberang sana
Chanyeol mengernyit.
"Justru itu, aku menginap disini karena hujan." jawab Hyun Yu.
"Aku jemput. Bagaimana?" tawar Chanyeol.
"M-MWO?!" pekik Hyun Yu.
"Nde, sekarang kirimkan alamat rumah temanmu, ne?"
"T-tapi—"
"Sampai jumpa Hyun Yu-ah,"

TUT….TUT…TUT

Chanyeol mematikan panggilannya secara sepihak. Hyun Yu melongo. Apa apaan ini? Batinnya.

"Wae?" tanya Ahri.
"Ahri-ah, kalau dia datang, bilang saja aku sudah tidur nde?" Hyun Yu menatap Ahri dengan puppy eyes nya.
"'Dia'? Nugu?" Ahri mengernyit.
"Ahh! Pokoknya kalau seseorang datang, bilang saja aku sudah tidur oke?!" Hyun Yu berkata tanpa memandang Ahri. Ia sibuk mengetik pesan berisikan alamat
sang tuan rumah ke nomor Chanyeol.
"A-ah, ne." Ahri mengangguk ragu.
Mereka pun melanjutkan kegiatan menonton mereka yang sempat tertunda
tadi.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol menyambar jaketnya secepat kilat. Ia segera keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju pintu rumahnya.
"Chanyeol-ah, eodiga?" tiba tiba Ny. Park muncul dari arah dapur.
Chanyeol menoleh. "Eomma? Aku ingin keluar sebentar. Menjemput Hyun Yu,"
"Hyun Yu?" Ny. Park mengernyit.
"Hoobae ku," jawab Chanyeol singkat.
"Aku pergi ne? Ppai!"

Baru saja Ny. Park membuka mulutnya, Chanyeol sudah pamit keluar rumah.
"Anak itu," Ny. Park geleng geleng.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol menaruh ponselnya di atas dashboard mobil. Mungkin ia tau alamatyang dikirim Hyun Yu tadi. Tidak terlalu jauh, fikirnya.

Tak lama kemudian, ia sampai di sebuah rumah yang cukup mewah. Chanyeol memastikan alamat rumah tersebut terlebih dahulu sebelum menekan bel.

Ting nong…

Cklek.

"Nuguya?" Ahri mengernyit sekaligus kagum melihat namja yang ada di depannya.
"Apa Hyun Yu disini?" tanya Chanyeol.
"Hyun Yu? Ahh. Hyun Yu. . . Sudah tidur," Ahri menggaruk tengkuknya.
"Mwo? Jeongmal?" Chanyeol membulatkan matanya.
Ahri mengangguk.
"Bisa kau panggil dia? Maksudku…" Chanyeol mendadak speechles.
"A-ah. Nde, tunggu sebentar," Ahri segera masuk ke kamarnya.

"Hyun Yu-ah! Ada yang mencarimu!" heboh Ahri.
"Lalu? Apa dia sudah pergi?" tanya Hyun Yu santai.
"Belum. Dia menyuruhku untuk memanggilmu," jawab Ahri.
"MWO?!" pekik Hyun Yu.
"Cepat hampiri dia!" jerit Ahri.

Hyun Yu berdecak namun tetap melangkahkan kakinya keluar menghampiri Chanyeol.

"Eung. Oppa? Hoaam." Hyun Yu menghampiri Chanyeol dengan wajah - pura pura- bangun tidurnya.
"Kajja, kita pulang." ajak Chanyeol.
"Mwo? Ta-tapi, aku akan menginap disini." rengek Hyun Yu.
"Aniya. Cepat ambil tasmu," kata Chanyeol telak.
"Tapi ini masih hujan." Hyun Yu tetap kekeuh menolak.
"Aku bawa mobil." Chanyeol menghela nafas.
Hyun Yu mencebikkan bibirnya lalu kembali ke kamar Ahri untuk mengambil tasnya.
"Kajja."

.

.

.

.

.

.

.

"Gomawo," Hyun Yu tersenyum kecil.
"Cheonma. Masuklah." kata Chanyeol sambil tersenyum.
Hyun Yu mengangguk.
"Ppai!"

Blam!

"Huh," Chanyeol menghela nafas. "Capek juga,"
"Eh? Tapi.. Kenapa aku harus menjemputnya?"

"Brrr." Baekhyun mengusap lengannya beberapa kali.
"Baek?" panggil Yifan.
"N-ne?" lirih Baekhyun.

Bukannya menjawab, Yifan malah menyelimuti Baekhyun menggunakan jaketnya.

"K-kris." Yifan tersenyum.
"Kita tunggu saja hujannya reda, ne?" Yifan membawa Baekhyun ke pelukannya.

Baekhyun hanya mengangguk lemah. Tubuhnya masih kedinginan.

"Kris.." panggil Baekhyun.
"Hm?" Yifan mengelus surai yeoja yang ada di dekapannya.
"Emm." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Apa.. Kau sudah memutuskan?" tanya Baekhyun lirih. Sangat lirih.
"Hah," Yifan menghela nafas. "Aku belum berfikiran seperti itu, Baek. Kau tau kan? Aku tidak ingin menyakiti hatinya."
"Hmm. Aku tau. Aku juga tidak ingin menyakiti Junmyeon. Bagaimana kalau
kita—–"
"Aniya."
Baekhyun mendongak. Yifan menatapnya tajam.
"Kumohon. Aku sudah lelah," Baekhyun mendesah keras.
"Aniya, Baek. Aku mencintaimu. Dan aku berjanji akan memutuskan Junmyeon secepatnya." Yifan menatap Baekhyun lembut.
"Gomawo," Baekhyun tersenyum lirih. Matanya sedikit berkaca kaca.

Yifan hanya tersenyum lalu mendaratkan bibir kissable nya pada bibir mungil Baekhyun. Hingga mereka tidak sadari bahwa ada hati yang terluka dengan apa yang mereka ucapkan tadi. Terlebih, mereka
saling memagut mesra.

"K-kris.."

TBC
Kyaaa~!
Ayoloh, coba tebak siapa yang liatin KrisBaek kisseu?
Apa Junmyeon? Atau siapa?
Maaf kalau ceritanya ngebosenin. Soalnya cuman ini yang ada di otak cha :'3
soal YUI udah kelar yah! Ada yang udah nebak YUI jauh jauh hari? Atau mungkin tebakan kalian meleset? /ditabok/
gitu dulu ya, pokoknya jangan lupa review..

Oiya, satu lagi, kayaknya ff ini updatenya tahun depan T,T

So, sampe ketemu tahun depan ya!
Ainngg~