'Entahlah, kupikir dia adalah takdirku. Takdir yang mempertemukanku dengannya. Sakura. Haruno Sakura. Gadis manis yang sangat lugu namun juga sangat misterius. Aku tak menyangka dia dapat mengubahku menjadi pemuda yang sangat bertolak belakang dengan masa laluku dan menyembuhkan luka dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sakura.'
-Sasuke U.-
'Takdir ya? Kau membuatku bimbang dengan segala perlakuanmu terhadapku. Kau menyiksaku dan memerangkap diriku dalam hatimu. Tak tahukah kau, aku sangat bahagia? Terimakasih karena takdir telah mempertemukan kita. Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'
-Sakura H.-
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
BLACK LOVE © Evellyn Ayuzawa
Title: Black Love [Chapter 2]
Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)
Genre: Romance, Crime, Hardness, Supernatural
Length: Chaptered
Rated: M (for Mature Content)
Main Cast:
Sasuke U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-AUTHOR Pov.-
.
.
.
.
.
Berjalan dan terus berjalan, hanya itulah yang dapat Sakura lakukan. Ia tak tahu harus ke mana, kakinya terus melangkah tanpa mengetahui arah mana yang akan ia tuju.
Tubuhnya kotor dan bau, gaun tidur yang ia pakai sudah sangat lusuh dan kotor serta banyak noda darah yang menempel.
Setiap orang yang berlalu lalang melewatinya selalu menatapnya sinis dan jijik. Namun, semua itu diabaikan begitu saja oleh Sakura.
Pikirannya kosong, ia sangat terpukul dan marah. Karena hidupnya yang awalnya tenang-tenang saja, tiba-tiba hancur hanya dengan satu malam saja.
"Akhh...," Rintih Sakura saat ia rasakan bagian tubuh bawahnya terasa perih.
Sakura menundukkan kepalanya ke bawah untuk memeriksa bagian yang terasa sakit. Ternyata rasa sakit itu berada di kaki kanan bagian bawah.
Terlihat kini kondisi kaki itu sudah sangat mengenaskan. Betapa tuhan sangat tidak adil, sepasang kaki yang polos tanpa alas kaki, sekarang bagian tubuh yang dapat menuntun tubuh itu berpindah kini terasa sakit akibat tak sengaja menginjak pecahan kaca.
Kaca itu cukup dalam menancap pada telapak kaki bagian bawahnya.
Sakura terduduk di tanah karena tidak dapat menopang berat tubuhnya. Ia berharap akan ada orang baik yang bersedia menolongnya.
Namun, sungguh miris nasib gadis tersebut. Bahkan satu orang saja tak ada yang melirik ataupun berhenti untuk sekedar bertanya.
Sakura memegang kakinya yang terluka. Lagi, ia meringis kesakitan kala Sakura mencabut kaca yang tertancap di kakinya dengan hati-hati.
"Eh... kamu tidak apa-apa?"
Sakura tersadar dari pikirannya setelah mendengar suara berat seorang pria. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat pria yang menanyainya.
Sakura belum menjawab pertanyaan pria tersebut, ia masih diam menatap pria yang berdiri di depannya.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Sakura, pria itu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Sakura yang kini tengah duduk.
"Kamu terluka, ayo ikut aku!" Tanpa menunggu jawaban dari Sakura, pria itu dengan sigap memposisikan tangannya di bawah lutut dan pinggang Sakura lalu mengangkatnya, pria itu menggendong Sakura.
Tangan pria itu terasa sangat hangat dan sangat melindungi. Sakura merasakan sesuatu yang hangat mengalir di hatinya, menjalar ke seluruh tubuhnya.
Rengkuhan tubuh pria itu terasa sangat nyaman. Membuat Sakura untuk mempercayai apa yang pria itu lakukan.
'
'
'
'
'
"Teme! Aku menemukannya!" Naruto berlari sekencang mungkin menghampiri sahabatnya yang kini tengah bermalas-malasan di dalam kamarnya.
Sasuke hanya menyahutinya santai dan tetap cuek dengan kehadiran Naruto yang tiba-tiba sambil berteriak, orang mana pun akan penasaran dengan apa yang akan disampaikan Naruto dan akan cepat-cepat menanyakannya dengan antusias.
Namun, hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh Sasuke.
Semua orang yang mengenal Sasuke pasti akan sangat tahu apa kebiasaannya, yang hanya akan berekspresi datar dan ogah-ogahan mendengar apapun yang menurutnya tidak penting. Walaupun ia belum mengetahui apa itu.
"Teme! Aku menemukannya!" Naruto kembali mengucapkan kalimatnya tadi pada Sasuke karena kesal tak ditanggapi oleh lawan bicaranya.
Sasuke menggeliat malas di atas ranjangnya yang berantakan, untuk menghadap sahabatnya itu.
Naruto terlihat semakin kesal dengan sikap Sasuke yang seperti tidak menghiraukannya, walaupun ia sangat tahu kebiasaan Sasuke tersebut. Tetap saja hal itu membuatnya kesal.
Selama bersahabat dengan Sasuke hampir 10 tahun lamanya, Sasuke tetap saja seperti itu. Sangat berbeda dengannya yang sangat enerjik dan ceria. Sasuke akan terlihat sangat malas dan murung.
"Apa?" Tanya Sasuke sembari menguap lebar.
Naruto menjitak kepala sahabatnya itu karena gemas sekali pada Sasuke, "Heh... aku menemukan harta karunmu!" Naruto berucap dengan yakin dan tegas.
Sasuke gelagapan menatap Naruto, ia bangkit dari posisinya dan terlihat sangat antusias mendengarkan ucapan sahabatnya itu.
"Di mana? Bagaimana dia? Apa dia baik-baik saja? Apakah ak-" Belum sempai Sasuke melontarkan pertanyaannya, Naruto membekap mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Dengarkan aku dulu! Setelah aku selesai dengan ceritaku, kau baru boleh menanyaiku." Sasuke hanya mengangguk menjawab Naruto. Sasuke memposisikan duduknya dengan nyaman dan mulai mendengarkan dengan seksama apa yang akan diceritakan oleh sahabatnya itu.
"Ehm, aku hanya sekilas melihatnya saat menuju ke sini tadi. Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja. Setelah aku menajamkan penglihatanku, ternyata itu memang dia. Gadis itu berjalan sempoyongan dengan pakaian yang kotor. Dia juga tidak memakai alas kaki," Ucapnya.
"Ha? Bagaimana kau yakin kalau itu dia?" Tanya Sasuke memotong cerita Naruto. Lagi-lagi Sasuke mendapat jitakan gratis di kepalanya, kali ini sedikit lebih keras dari yang pertama.
"Makanya dengarkan aku dulu!" Naruto kesal dengan Sasuke yang tak sabaran ini.
"Oh, maaf! Aku hanya penasaran," Ucap Sasuke santai sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan dari Naruto.
"Aku mengikutinya, sedikit jauh berada di belakangnya. Awalnya aku ingin langsung menanyainya dan membawanya ke padamu, tapi ku pikir lagi itu akan terasa sangat mencurigakan. Lalu tak berapa lama, aku melihatnya duduk di tanah dan memegangi kakinya. Ternyata kakinya berdarah. Karena tak ada yang menghampirinya untuk membantu, jadi aku yang datang menolongnya." Naruto berhenti bercerita, Sasuke merasa digantung oleh cerita Naruto.
"Lalu?" Sasuke semakin dibuat penasaran oleh Naruto.
"Lalu... Aku membawanya ke rumahku," Ucap Naruto santai.
Sasuke terlihat kesal dan terkejut, "Aku ingin bertemu dengannya! Ayo ke rumahmu!" Ajaknya menggebu-gebu.
Naruto menahan lengan Sasuke yang akan beranjak dari ranjangnya, "Belum saatnya kau bertemu dengannya," Ucap Naruto dengan tenang namun disertai dengan tatapan tajam.
"Tapi-"
"Memangnya kau mau bilang apa pada gadis itu? Apa kau tidak memikirkan ke depannya bagaimana? Teme, kau yang menghancurkan keluarganya," Ucap Naruto masih dengan tatapan tajamnya yang menusuk penglihatan Sasuke.
Sasuke kembali terduduk, ia lupa untuk memikirkannya. Ia menatap frustasi pada Naruto, "Aku..." Sasuke tak dapat menyelesaikan kalimatnya.
Naruto menatap Sasuke sendu, "Sudah ku duga, kau belum memikirkan hal itu."
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya secepat ini," Ucap Sasuke lemah.
"Makanya tadi aku bilang belum saatnya kau bertemu dengan gadis Haruno itu."
Sasuke menatap Naruto kecewa, Naruto tersenyum ceria lalu mengusap pelan mahkota hitam milik sahabatnya.
"Sudah... Jangan sedih begitu! Aku kan tidak melarangmu bertemu dengannya untuk selamanya. Ini juga demi dirimu dan dia, hanya sampai kau mempersiapkan apa saja yang kau butuhkan untuk berhadapan langsung dengannya nanti. Berusaha menyembunyikan masalah tentang keluarganya denganmu bukanlah hal yang baik, Teme. Itu sama saja melarikan diri dari kenyataan. Apa kau selamanya akan hidup dengan kebohongan? Apa kau tega padanya?" Ucap Naruto menenangkan sahabatnya.
"Hmm... Aku hanya ingin bertemu dengannya." Sasuke menundukkan kepalanya.
"Heh... Jangan perlihatkan sisi lemahanmu seperti itu padaku, aku kan jadi ingin memelukmu!" Sasuke buru-buru memundurkan tubuhnya menjauhi Naruto.
Sasuke sangat tahu apa yang Naruto akan lakukan. Ia akan benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.
Memeluk, mencium, bahkan hal-hal yang sulit dimengerti pun akan Naruto lakukan jika ia mau, entah itu pada laki-laki atau perempuan.
"Akan ku pukul kau jika menyentuhku!" Ancam Sasuke sembari melempari Naruto bantal.
Naruto tertawa tertahan dengan tingkah Sasuke yang seperti ketakutan, "Haha... Kau masih trauma dengan ciuman kita dulu? Uuuh... manisnya!" Naruto mengacak rambut Sasuke gemas.
Seketika wajah Sasuke berubah merah padam, "Ak– aku hanya memperingatimu saja! Hah! Ciuman kita?! Lebih tepatnya kau yang memaksaku berciuman denganmu!"
Tawa Naruto sudah tak bisa ia tahan lagi, ia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sasuke yang kaku dengan wajah yang merona.
"Kau sangat menyukai gadis itu ya?" Tanya Naruto setelah berhasil menenangkan dirinya dari tawa tadi.
Wajah Sasuke semakin merona, ia mengangguk atas pertanyaan Naruto.
Naruto memperlihatkan senyumnya yang sangat manis itu pada Sasuke dan kembali mengusap mahkota milik sahabatnya itu.
"Memangnya apa yang kau sukai darinya? Aku tebak, kau bahkan belum pernah sekali pun bertemu dengan gadis itu kan?" Lagi, Naruto bertanya pada Sasuke.
"Entahlah... Aku hanya mencium aroma tubuhnya saja di rumah itu," Jawab Sasuke malu-malu dengan kepala tertunduk.
"Eh? Mencium aroma tubuhnya? Maksudmu?" Naruto tak mengerti dengan jawaban Sasuke yang tak masuk akal itu.
"Iya, aku mencium aroma harum yang sangat menenangkan dan terasa sangat nyaman. Waktu itu aku hanya iseng melihat-lihat isi rumah itu. Tiba-tiba saja aku mencium aroma itu. Aku penasaran dari mana asalnya dan aku sampai di kamar gadis itu. Aku terus saja mengendus aroma itu, menghirupnya dalam-dalam. Dan..." Sasuke tak melanjutkan kalimatnya.
"Dan kau merasa kalau hatimu itu telah terikat oleh gadis itu hanya dengan aroma tubuhnya, begitu?" Sasuke hanya mengangguk mengiyakan tebakan Naruto yang tepat sekali.
"Aku mengerti, aromanya memang sangat harum dan enak. Tak salah lagi, gadis itu memang dia," Ucap Naruto dengan yakin.
Sasuke menatap intens sahabatnya itu, "Tolong, jaga dia sampai tiba saatnya aku menemuinya." Naruto mengangguk menyetujui permintaan sahabatnya itu.
"Teme, maafkan aku." Naruto menatap Sasuke sendu.
Sasuke balik menatap Naruto bingung, "Maaf untuk apa?"
"Maaf, aku tidak sengaja melihat masa lalunya." Jelas Naruto pada Sasuke, Sasuke segera tahu siapa yang dimaksud 'dia' oleh Naruto, Sakura.
"Kau memakai kemampuanmu lagi?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk. Sasuke menghembuskan napas berat lalu kembali menatap Naruto.
"Aku tidak sengaja," Ucap Naruto lantang.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Sasuke langsung pada intinya.
Naruto menunduk sejenak lalu mengambil napas dan menghembuskannya pelan. Ia menatap Sasuke dengan sendu –lagi-, "Sasuke... Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Aku pikir ini hal yang tidak mungkin dilakukannya."
"Memangnya apa yang dia lakukan?" Tanya Sasuke yang terlihat sangat penasaran.
"Sasuke... gadis itu, dia membunuh seseorang," Ucap Naruto pelan.
Sasuke yang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu terkejut bukan main. Ia membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa kau tidak salah lihat?" Tanya Sasuke mencengkram kedua pundak sahabatnya itu dengan keras. Membuat Naruto sedikit meringis kesakitan.
"Sakit, Teme!" Naruto melepaskan cengkraman tangan Sasuke di kedua pundaknya.
"Eh... maaf. Cepat katakan!" Perintah Sasuke.
"Haisssh! Makanya tadi aku bilang kalau aku ragu dengan apa yang aku lihat ini," Ucap Naruto dengan santai namun raut wajah yang terlihat ragu-ragu jelas tergambar di wajahnya.
"Katakan apa saja yang kau lihat!" Perintah Sasuke –lagi- pada Naruto. Naruto hanya mengangguk dan menuruti perintah Sasuke padanya.
Naruto menceritakan kronologis kejadian yang terjadi pada Sakura. Sasuke hanya diam mendengarkan cerita Naruto dengan serius.
"Jadi yang dibunuh oleh gadis itu siapa?" Tanya Sasuke saat Naruto selesai dengan ceritanya. Naruto terdiam memikirkan sesuatu. Ia mengingat-ingat wajah pria yang dibunuh Sakura. Kemudian Naruto menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu. kau pikir-pikir dulu, Teme. Waktu kau menyerang kediaman itu, kau bersama siapa?" Tanya Naruto.
"Eh? Aku sendirian," Jawab Sasuke singkat.
"Hmm... Apa mungkin ada kelompok lain yang juga mengincar klan Haruno? Teme, bagaimana menurutmu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin dugaanmu itu benar. Kalau itu memang benar, berarti nyawanya dalam bahaya!" Ucap Sasuke dengan nada yang tinggi.
"Lalu sekarang apa rencanamu?" Tanya Naruto.
"Sebisa mungkin jangan bawa dia keluar rumah. Kalau waktunya tiba, aku akan menjemputnya. Tolong jaga dia untukku."
"Siap!" Jawab Naruto dengan semangat.
"Lalu... apa yang dilakukannya sekarang?" Tanya Sasuke dengan ekspresi malu-malu.
Naruto tersenyum tipis melihat orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya itu tampak malu, "Hmm... tadi aku manyuruhnya membersihkan diri," Jawab Naruto santai.
"Lalu bagaimana dengan pakaian yang dipakainya?"
"Pakai bajuku, habisnya aku kan tinggal sendiri. Karena aku tidak punya baju perempuan, jadi ku suruh pakai bajuku. Hahaa...," Lagi-lagi jawaban yang keluar dari mulut Naruto tampak sangat santai tanpa memperhatikan seseorang yang bertanya tadi sedang mengeluarkan hawa panas.
"Heee? Kau menyuruhnya memakai bajumu?" Tanya Sasuke dengan api yang berkoar-koar di sekitar tubuhnya.
Naruto mengangguk gugup, "Tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Sasuke dengan tatapan ingin tahunya.
Naruto terlihat ragu untuk menjawab. Tapi karena tidak mau membuat marah si lelaki di depannya itu akhirnya ia mulai membuka kembali mulutnya meneruskan kalimatnya. "Tapi aku hanya meminjamkan baju luar saja, kalau masalah dalaman aku tidak tahu."
Dan kalimat terakhir Naruto telah sukses membuat kedua lelaki yang tengah beranjak dewasa tersebut menimbulkan debaran tak menentu di dalam dadanya, serta wajah mereka pun tak luput dari semburat merah. Perasaan panas dan juga gelisah mulai menjalar pada tubuh mereka.
,
,
,
,
,
Sakura telah selasai membersihkan diri juga berganti baju. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, melihat penampilannya.
"Apa terlihat sekali ya?" Sakura menatap lekat pada tubuhnya.
Ia hanya menggunakan kaos lengan pendek berwarna putih polos, kainnya lumayan tipis, ukurannya juga besar. Kaos itu menutupi tubuh langsing Sakura dengan lengan yang sampai siku juga bagian bawahnya sampai sekitar sepuluh cm di atas lututnya.
"Hmm, aaaaaaa!" Sakura menundukkan wajahnya frustasi.
Bagaimana tidak, Sakura khawatir kalau tubuh bagian dalamnya terlihat dari luar. Jika dalam keadaan normal pasti hal ini biasa saja.
Namun, keadaan yang dialaminya sekarang tidak normal. Ia tidak memakai dalaman. Hanya kaos saja.
"Apa sebaiknya aku memakainya lagi? Aaaah, tidak mungkin! Semua terkena cipratan darah dan bau anyirnya sangat jelas tercium. Lagi pula, sudah aku buang ke tempat sampah tadi," Rancau Sakura tak jelas. Ia masih setia berargumen dengan pikirannya.
Di saat yang bersamaan kamar tempat Sakura berada tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan sosok visual dari seseorang yang telah menyelamatkannya.
Dengan cekatan, Sakura berbalik membelakangi sosok Naruto yang kini memandangnya bingung.
"Permisi. Hehee... Aku mengganggu ya?" Tanya Naruto santai namun terdengar cemas. Naruto berjalan menuju Sakura dan berdiri di depan gadis itu. Otomatis Sakura lagi-lagi berbalik dan membelakangi Naruto yang kini memasang ekspresi kebingungan.
"Eh? Kenapa? Kau marah padaku karena meninggalkanmu sendirian di sini? Haha... Maaf ya? Aku ada perlu sebentar." Naruto menyentuh kedua bahu Sakura lalu membalikkan tubuh gadis itu, kini mereka saling berhadapan. Sakura menundukkan wajahnya. Ia merasa malu juga gugup.
"Ada apa? Maafkan aku," Tanya Naruto sekalian meminta maaf. Ia menyentuh dagu Sakura lalu menuntun wajah Sakura agar berhadapan dengan wajahnya. Sakura tidak menolak. "Kenapa kau diam saja?"
"Anu... Tuan-"
"Naruto. Namaku Uzumaki Naruto," Ucap Naruto memotong kalimat Sakura. Sakura mengangguk, " Jadi, ada apa?"
"Hmm, aku..." Sakura menggantungkan kalimatnya. Ia kembali terdiam, bingung.
"Apa? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Naruto santai, masih memandang wajah gadis di depannya ini.
Berkali-kali Naruto mengucapkan dalam hatinya tentang pemandangan indah yang terpampang di wajah gadis di depannya ini. Manis, sangat manis.
Seperti anak kecil yang masih putih dan bersih tanpa dosa. Naruto melepaskan tangannya yang tadinya menyentuh dagu Sakura. Tangannya kembali pada kedua bahu gadis itu.
Sakura mengangguk, "Apa yang kau butuhkan? Katakan padaku," Tanya Naruto lagi. Betapa menggemaskannya wajah memerah Sakura yang berada di depannya ini. Kalau saja dia tidak ingat sahabatnya –Sasuke- pasti sudah Naruto nikmati gadis di depannya ini.
"Aku... butuh beberapa ehmm... itu..." Sakura semakin gugup mau mengatakannya pada Naruto. Kalau saja yang ia butuhkan hal biasa pasti dengan mudah ia mengatakannya.
Namun, hal ini bersifat pribadi. Pasti sangat memalukan jika Sakura mengatakannya pada seseorang. Apalagi dengan lawan jenis, seperti Naruto.
Naruto memiringkan wajahnya. Masih dengan senyuman di sana. Ia dengan sabar menunggu lanjutan kalimat Sakura.
"Naruto..."
"Hmm?" Naruto mendekatkan kepalanya pada Sakura.
"Aku membutuhkan beberapa ehmm... pakaian... dalam," akhirnya, kalimat itu lengkap.
Tangan kiri Sakura ia gerakkan ke atas untuk memegang tangan kananya sehingga tangan kiri itu menutupi bagian dadanya.
Spontan Naruto melepaskan kedua tangannya di masing-masing bahu Sakura. Dengan cepat, Naruto membalikkan badannya membelakangi Sakura. Mendadak keduanya diselimuti kecanggungan.
Tiba-tiba panas menjalas di sekujur tubuh Naruto. Tangan kanannya menyentuh dadanya. Debaran dadanya begitu menggila. Tubuhnya membutuhkan sesuatu.
'Tidak! Tidak boleh! Dia milik sahabatmu, Naruto! Jangan kecewakan Sasuke!' Batin Naruto bergejolak.
Naruto berjalan menuju ranjang di kamar tersebut. Ia mengambil selimut tebal yang ada di atasnya.
Dengan perasaan campur aduk, Naruto berjalan menuju tempat Sakura berdiri. Matanya sibuk mengalihkan pandangan dari gadis yang tengah berdiri memandangnya.
Dengan cepat, Naruto menutupi tubuh Sakura dengan selimut tersebut.
"Jangan ceroboh seperti itu! Aku juga pria sehat yang normal, mana mungkin aku tidak tertarik dengan tubuhmu itu," Ucap Naruto sedikit memberikan penekanan pada Sakura.
"Maaf, aku hanya bingung harus bagaimana. Terimakasih," Sakura memegangi selimut pada tubuhnya. Ia tersenyum melihat Naruto tak berani memandang langsung ke arahnya.
Sebeginikah efeknya pada laki-laki?
"Ya, aku akan keluar sebentar membelikanmu 'itu'. Tetap di dalam rumah dan tunggu aku kembali," Naruto berjalan ke luar kamar diikuti Sakura di belakangnya.
"Ha? Naruto tidak malu? Nanti bisa-bisa Naruto diejek dan dikira yang tidak-tidak," Tanya Sakura pada Naruto yang sedang memakai jaketnya.
"Eh, iya. Aduh... Bagaimana ini? Tidak mungkin kau pergi sendiri untuk membelinya."
"Naruto, aku pinjam celanamu dan juga jaket. Aku akan membelinya sendiri," Ucap Sakura pada Naruto.
"Hah? Jangan!" Cegah Naruto.
"Kenapa?" Tanya Sakura bingun dengan penolakan Naruto dengan idenya.
Naruto semakin terlihat gugup "Biar aku saja yang membelikannya. Kau tetap di dalam rumah. Di luar sana banyak orang jahat," Jawab Naruto berusaha meyakinkan Sakura.
"Aku bisa menjaga diri kok."
"Tetap tidak boleh," Lagi, Naruto mencegah Sakura.
"Baiklah, bagaimana dengan anggapan orang-orang nanti?" Tanya Sakura meragukan keputusan Naruto.
"Aku tidak peduli," Dengan cepat Naruto keluar dari rumahnya tak menghiraukan teriakan Sakura memanggil-manggil namanya.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Assalamu'alaikum... sebenarnya FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Kai EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada nama yang salah, itu semata-mata kelalaian saya. Dan juga, maaf karena tidak bales review kalian –saya tidak sempat. Karena di FFn saya baru, boleh dong minta saran dan kritik dari senpai dan reader semua! Sekian terima kasih, Wassalamu'alaikum.
