'Entahlah, kupikir dia adalah takdirku. Takdir yang mempertemukanku dengannya. Sakura. Haruno Sakura. Gadis manis yang sangat lugu namun juga sangat misterius. Aku tak menyangka dia dapat mengubahku menjadi pemuda yang sangat bertolak belakang dengan masa laluku dan menyembuhkan luka dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sakura.'
-Sasuke U.-
'Takdir ya? Kau membuatku bimbang dengan segala perlakuanmu terhadapku. Kau menyiksaku dan memerangkap diriku dalam hatimu. Tak tahukah kau, aku sangat bahagia? Terimakasih karena takdir telah mempertemukan kita. Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'
-Sakura H.-
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
BLACK LOVE © Evellyn Ayuzawa
Title: Black Love [Chapter 3]
Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)
Genre: Romance, Crime, Hardness, Supernatural
Length: Chaptered
Rated: M (for Mature Content)
Main Cast:
Sasuke U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-AUTHOR Pov.-
.
.
.
.
.
Lahir dan tumbuh di lingkungan yang keras. Ayah seorang pemimpin Yakuza, sedangkan Ibu yang seorang ibu rumah tangga yang hebat. Telah menjadi pelajaran tersendiri bagi seorang gadis belia ini –Haruno Sakura, agar menjadi pribadi yang kuat dan tegas.
Sakura diperkenalkan dengan dunia seni bela diri sudah sejak ia masih kecil. Bahkan bisa dibilang bahwa ia telah mengenal dunia bela diri sesudah ia lahir ke dunia.
Orang tua Sakura tidak pernah menutupi apa yang menjadi profesi sang Ayah. Bahkan kediaman keluarga Haruno menyatu dengan sanggar bela diri yang dikelola klannya.
Sakura mulai dilatih bela diri pada usia yang bisa dibilang masih sangat muda. Usia 5th, ia sudah dilatih gerakan-gerakan dasar. Usia 10th, Sakura sudah mulai dilatih menggunakan katana dari kayu. Usia 15th, ia telah dilatih oleh guru besar yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri. Dan juga ia telah diperbolehkan menggunakan katana asli.
Karena kemampuannya yang bisa dibilang mengalami peningkatan yang sangat pesat dibandingkan anak-anak seusianya yang juga mengikuti latihan bela diri, orang tua Sakura memutuskan untuk menjadikannya sebagai salah satu pelatih di sanggar milik keluarganya.
Berkali-kali ia diikut sertakan lomba-lomba bela diri dan hampir setiap lomba mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tidak hanya dalam bidang seni bela diri saja yang digelutinya. Sakura juga tak kalah terampil dalam bidang akademik. Ia termasuk kategori siswa teladan serta berprestasi.
Mempunyai wajah yang cantik dan kulit yang putih serta tubuh yang langsing namun berisi dan tinggi, juga memperoleh nilai tersendiri bagi dirinya. Banyak lelaki yang berusaha mendekatinya agar mendapatkan hatinya.
Bukannya menolak atau tidak tertarik, namun Sakura telah berjanji pada orang tuanya –juga dirinya sendiri– bahwa tidak akan pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak ia cintai.
Sakura juga berpendapat bahwa setiap lelaki yang mendekatinya pasti hanya tertarik pada fisiknya saja.
Terbukti setiap lelaki yang menyatakan perasaannya pada Sakura selalu alasan yang sama diberikan, "Karena kau cantik, kau pintar dan kau dari keluarga terhormat." Itulah kalimat yang sudah berkali-kali ia dapatkan sebagai jawaban jika ia bertanya tentang alasan mengapa lelaki itu menyukainya.
Bohong jika ia tidak menginginkan jalinan kasih dalam suatu hubungan laki-laki dan perempuan.
Namun, ia takut salah pilih. Ia sangat mudah merasakan suka atau cinta pada seseorang. Jadi ia lebih memilih sendiri dulu sembari menunggu datangnya sosok pangeran yang diidam-idamkannya, seseorang yang mencintai dan dicintainya.
Ia takut jika tidak begini, ia akan salah mencintai seseorang. Dan akan berakhir pada sebuah penyesalan dan kekecewaan.
.
.
.
.
.
Sakura sangat menyayangi kedua orang tuanya. Memiliki orang tua yang sangat menyayangi dan mencintainya, sungguh membuat dirinya merasa senang dan nyaman. Bersama dengan kedua orang tuanya dapat membuatnya merasa aman.
Ia tahu jika bisa saja bahaya menghampirinya, karena Sakura adalah anak seorang pemimpin Yakuza. Jadi, tidak mungkin klannya tidak mempunyai musuh 'kan. Pasti ada saja musuh, walaupun sampai sekarang masih mampu diatasi.
Genap di usianya yang 18th, Ayahnya memberikan sebuah kalung yang bisa dibilang unik. Sebuah kalung dengan bandul sebuah mutiara hitam.
Memang jika dilihat sekilas akan terlihat seperti mutiara biasa, namun jika diamati dengan teliti akan sangat jelas terlihat seperti ada cahaya putih di dalamnya.
Seperti air yang terpantul cahaya bulan purnama. 'Sangat indah.' Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh Sakura setelah mengamati dengan teliti bandul kalung tersebut.
"Ayah, apa maksud dari mutiara hitam ini?" tanya Sakura yang mengalihkan pandangannya dari kalung menuju Ayahnya.
"Kamu ingin Ayah beritahu maknanya secara sederhana atau yang penjelasan panjangnya, sayang?"
Sakura berpikir sejenak memilih salah satu pilihan yang diucapkan Ayahnya, "Hmm... Penjelasan yang panjang saja. Aku ingin tahu semuanya!"
Ayah Sakura tersenyum dan mulai menjelaskan, "Warna hitam yang mendasari dari mutiara itu bisa diibaratkan sebagai gelapnya malam. Gelapnya malam dapat berarti sebagai hati yang gelap dan keras, yang haus akan indahnya gelora-gelora kemaksiatan dan nafsu. Seperti Ayahmu ini, dulu Ayah adalah seorang pria yang sangat brengsek. Ke manapun dan di manapun, tak luput dari hal-hal yang hina dan tak pantas. Dulu sebelum bertemu dengan Ibumu, Ayah seakan tidak pernah mengenal kata cinta. Menurutku cinta itu hanyalah sebuah perasaan yang tak berdasarkan pada apapun. Jadi, Ayah tidak mempercayai adanya cinta. Ayahmu ini dulu adalah seorang pembunuh bayaran. Beraksi pada malam hari dan selesai pada malam hari juga. Selalu haus akan pertumpahan darah dan pertarungan. Setiap Ayah melakukan aksi, seakan-akan hatiku merasakan sensasi yang sangat luar biasa menyenangkan. Gelapnya malam sudah seperti penglihatanku. Walaupun dunia ini tanpa cahaya sedikitpun, Ayah tidak akan pernah tersesat atau kesulitan memandang."
"Lalu.. apa arti dari warna putih di dalam hitam?" Tanya Sakura penasaran.
"Warna putih dalam hitam diibaratkan sebagai cahaya bulan. Bulan akan bersinar jika malam telah tiba. Memberikan pancaran kesenangan, ketenangan, kenyamanan, keindahan dan kepercayaan. Warna putih itu adalah Ibumu, sayang. Disaat Ayah semakin membabi buta membunuh seseorang, Ibumu selalu menumbuhkan rasa kasih sayang yang senantiasa menghilangkan kekejaman dari apa yang Ayahmu ini perbuat. Ibumu adalah salah satu dari keluarga korban dari perbuatan Ayah."
Sakura terlihat semakin antusias mendengarkan penjelasan Ayahnya, "Waw... Kenapa Ayah tidak membunuh Ibu juga?"
"Hmm... Kamu sangat ingin tahu ya, sayang?" Tanya Ayah Sakura sembari mencubit pipi anaknya.
"Umm!" Jawab Sakura menganggukkan kepalanya.
"Saat Ayah akan menebas leher Ibumu, tanpa disengaja, Ayah dan Ibumu saling berpandangan. Sungguh, Ayah tidak habis pikir. Saat mata kami bertemu, Ayah seperti melihat diriku sendiri yang membunuh orang. Betapa mengerikannya diriku saat melakukan setiap pembunuhan. Ayah seperti tersedot dalam-dalam pada lingkaran waktu dan melihat secara terus-menerus kejadian pembunuhan itu. Setelah sadar, Ayah menurunkan katana yang telah bersimbah darah dan berjalan menjauh dari Ibumu. Namun, tak ku sangka ternyata Ibumu mengejar Ayah. Masih sangat ku ingat waktu itu Ibumu memintaku membawanya. Ia beralasan kalau ia sudah tak mempunyai siapapun. Ku pikir Ibumu akan membenciku, tapi ternyata dia sangat tulus. Akupun menyetujuinya dan kami tinggal bersama."
"Ayah tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah pada Ibu saat kalian tinggal bersama 'kan?" Tanya Sakura curiga, Ayah Sakura menyeringai nakal. "Heeeeee? Ayah! Apa yang Ayah lakukan saat tinggal bersama Ibu?! Oh tidak! Kalian tidak melakukannya 'kan? Ayah sendiri yang melarangku untuk tidak melakukannya sebelum menikah! Ayah!"
Ayah Sakura semakin melebarkan seringainya. Tak percaya dengan dugaan putrinya yang mengira kalau orang tuanya dulu melakukan hal-hal yang yaaa... kalian tahu apa yang ku maksud.
"Sayang, kau menginginkan jawaban jujur atau dusta?" Tanya Ayah Sakura dengan senyuman lembut, tak lagi menyeringai.
"Jujur!" Jawab Sakura tegas dan yakin.
"Kau tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun kalau aku ceritakan 'kan, sayang?"
"Aku janji!"
"Bahkan pada Ibumu?"
"Bahkan pada Ibu! Aku janji, yah." Sakura semakin penasaran.
Tn. Haruno tersenyum pada putrinya, "Kami tidak melakukan apa-apa."
"HEEEE? Benarkah?! Aku tidak percaya!" Bantah Sakura kecewa.
"Hahaa... tenang dulu, sayang. Ayah 'kan belum selesai bicara." Sakura mengangguk dan mulai menyimak kembali cerita dari Ayahnya.
"Begini, sayang. Saat kami tinggal bersama, Ayah maupun Ibumu tetap seperti orang asing yang tak saling mengenal. Ayah tetap melakukan pekerjaan Ayah dan Ibumu mulai kembali beraktifitas normal dengan pekerjaan rumah. Memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Bahkan walaupun kami seperti tidak saling kenal, Ibumu selalu menyiapkan air hangat dan baju bersih saat Ayah pulang bekerja."
"Waw... Ibu sangat rajin!" Sakura tersenyum mendengar cerita Ayahnya.
"Iya, sayang. Ibumu adalah tipe wanita yang sangat sempurna untuk dijadikan seorang istri," Tanggap Ayahnya pada Sakura yang terlihat semakin antusias.
"Lalu?" Tanya Sakura penasaran.
"Kami tetap seperti orang asing selama kurang lebih dua tahun. Saat itu usiaku baru 27th dan Ibumu baru berusia 20th,"
"Waw... Ayah dan Ibu beda usianya sedikit jauh ya," Komentar Sakura di sela-sela cerita Ayahnya.
"Iya, sayang. Ibumu saat itu memang masih sangat muda. Tapi tidak heran kalau dia sangat dewasa. Dia terlahir di keluarga bangsawan yang terhormat, pasti sudah sejak lahir dia diwajibkan berperilaku sopan dan pekerja keras. Namun sayang, dia harus menjadi putri dari bangsawan yang semena-mena dan kejam. Sehingga walaupun terhormat, itu karena orang-orang takut padanya makanya mereka menghormati orang tua Ibumu. Jadi banyak bangsawan maupun orang biasa yang menginginkan dia dilenyapkan. Hahaa... aku masih sangat mengingat bagaimana sensasi yang sangat dahsyat saat aku menebas lehernya dan membelah perutnya lalu mengobrak-abrik isi perutnya. Sayang, kau boleh menyebut Ayahmu ini seperti psikopat. Namun, kalau kau tahu rasanya melenyapkan seseorang yang sangat diinginkan kematiannya itu terasa sangat menyenangkan disaat kau goreskan pedangmu di permukaan kulitnya. Rasanya seperti kau mencapai klimaksmu saat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenismu."
"Aaah! Ayah terlalu vulgar dan blak-blakan! Mana aku tahu rasanya. Aku belum pernah membunuh seseorang, apalagi berhubungan seksual. No! Ayah memang sangat terbuka," Ucap Sakura dengan wajah yang memerah.
Tn. Haruno terkikik pelan, "Ayah tidak ingin menutupi apapun padamu, sayang. 'Kan tadi kamu sendiri yang bilang ingin jawaban yang jujur."
"Iya sih, yah. Tapi aku keberatan dengan kalimat dan kata-kata yang terlalu jauh dari apa yang ku pikirkan," Jawab Sakura.
Tn. Haruno mengangguk mengerti dengan tanggapan putrinya ini, "Baiklah, akan ku coba untuk berhati-hati mengucapkan kata-kata yang ringan. Ingatkan aku kalau kalimatku terlalu berat, sayang." Sakura mengangguk pasti.
"Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Seiring bergulirnya waktu, dan intensitas kami berdua semakin sering bersinggungan. Hal itulah yang menumbuhkan suatu perasaan yang entah apa namanya. Yang ku yakin adalah apa yang ku rasakan selalu membuatku malu. Saat tak sengaja pandangan kami bertemu, aku merasa malu. Saat tak sengaja kulit kami bersentuhan, tubuhku merasakan panas. Saat aku memperhatikan setiap apa yang dilakukan Ibumu, entah kenapa ada suatu perasaan yang menarik benda di dalam dadaku berdenyut aneh."
"Aku tahu! Itu artinya Ayah mulai mencintai Ibu!" Ucap Sakura bersemangat.
"Tidak sesederhana itu, sayang. Ada kalanya, aku sangat merasa gelisah. Takutnya Ibumu tidak merasakan apa yang Ayah rasakan pada Ibumu. Setiap kami berada di dalam ruangan yang sama atau sedang dalam jarak yang lumayan dekat, ingin sekali aku menarik tubuh Ibumu ke dalam rengkuhanku dan menyalurkan kehangatan untuknya. Ehmm... ya walaupun akhirnya aku tak tahan dan ku lakukan saja apa yang ingin ku lakukan. Aku memeluknya, menciumnya dan membawanya dalam kehangatan tubuhku. Ku pikir Ibumu akan menolak, tapi ternyata dia menerima perlakuan yang ku berikan. Malam itu, karena terlalu terbawa suasana, akhirnya untuk pertama kali menghabiskan malam bersama."
"Oh tidak! Ayah dan Ibu melakukannya?" Tanya Sakura sedikit menyelidik.
"Ya, kami melakukannya. Hahaa... masih sangat jelas ku ingat bagaimana setiap ekspresi Ibumu saat ku tindih tubuhnya. Ekspresi kesakitan, kenikmatan dan kelelahan. Semua itu terlihat indah di mataku. Sedikit menyesal dan khawatir kalau-kalau nantinya Ibumu akan marah padaku atau mungkin sampai membenciku. Namun, ada perasaan yang lebih membahagiakan selain kekhawatiran itu, sayang."
"Apa?" Tanya Sakura memiringkan kepalanya dan penasaran.
"Karena aku adalah yang pertama bagi Ibumu," Jawab Tn. Haruno dengan pandangan menerawang.
"Yang pertama dalam hal apa saja memangnya?"
"Dalam hal apa saja. Aku cinta pertamanya, aku orang pertama yang mencintainya tanpa embel-embel kedudukan keluarganya yang terhormat. Dan yang paling penting, aku adalah yang pertama dan akan menjadi yang terakhir yang bercinta dengan Ibumu. Hahahaa..."
"Lalu?" Sakura semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Ayahnya.
"Lalu aku melamar Ibumu." Singkat, padat dan masih membingungkan bagi Sakura.
"Iya, sayang. Tidak mungkin Ayahmu ini tidak bertanggung jawab dengan apa yang telah ku lakukan. Dan juga, aku tidak ingin membuat Ibumu terbebani dengan anggapan-anggapan orang sebagai wanita murahan yang menjual tubuhnya pada pria yang mengijinkannya untuk tinggal bersamanya. Jadi aku memutuskan untuk menikahinya," Jelas Tn. Haruno dengan senyuman mengembang.
"Apa Ibu menerima Ayah dengan mudah?"
"Tentu saja!" Jawab Tn. Haruno bangga.
"Huh! Tanpa syarat apapun? Tidak mungkin!" tanya Sakura tak percaya.
"Hahaa... tidak ada satupun syarat yang diajukan Ibumu padaku."
"Enak sekali! Huh... Ibu terlalu mencintai Ayah," Ejek Sakura mengalihkan pandangannya dari Ayahnya yang masih membanggakan dirinya.
"Karena Ibumu yang tidak meminta apapun padaku, aku merasa tak nyaman. Karena waktu itu beredar rumor tentang batu mutiara yang cantik dengan kilauan indah, yang dapat menyalurkan kekuatan pada si pemakainya, mutiara itu adalah bandul dari kalung ini. Namun, mutiara ini sangat langka dan sangat sulit mendapatkannya. Letaknya ada di dasar laut yang terdalam. Di dalam kerang yang dijaga oleh taman ubur-ubur mematikan. Tampak sekali jika memang mutiara ini sangat berharga."
"Bagaimana Ayah bisa mendapatkan mutiara ini?" Sakura mendekatkan tubuhnya pada Ayahnya.
"Aku menyelam, menyelam dan menyelam sampai dasar. Sampai aku menemukan kerang itu. Melewati taman ubur-ubur, tubuhku waktu itu penuh sekali dengan luka sengatan ubur-ubur. Padahal aku sudah memakai baju khusus untuk menyelam, tapi tetap saja sengatannya menembus baju itu."
"Ayah hebat!"
"Tentu saja. Ibumu sangat senang saat ku berikan kalung mutiara itu. Dia sampai menangis sambil tersenyum. Hahahaa... dia terlihat sangat manis."
"Lalu kami menikah!" Sahut suara lembut dari belakang tubuh sang Ayah.
"Ibu!" Ya... itu Ny. Haruno yang berjalan dengan santainya menuju kedua orang yang dikasihinya, suami dan anaknya. Dengan membawa sebuah nampan berisi tiga buah cangkir dan satu teko berisi teh hangat, tak lupa disertai dengan kue kering sebagai pelengkap.
"Heee... kalian berdua ngobrolnya keras sekali. Dari luar saja terdengar jelas sekali suara kalian," Ucap sang Ibu kepada suami dan anaknya.
"Hahaha... istriku, putrimu ini rupanya sangat penasaran dengan sejarah mutiara itu. Yaa... jadi ku ceritakan saja." Tn. Haruno tersenyum lalu menarik pinggang istrinya agar merapatkan tubuh mereka, dengan cepat mengecup sekilas bibir istrinya. Membuat putri tunggal mereka terbelalak kaget dengan mulut terbuka dan muka memerah.
Sakura berdiri dan berlari menjauh dari orang tuanya, tidak habis pikir dengan adegan yang baru saja ditontonnya.
"Ayah dan Ibu jangan melakukannya di depanku! Tidak sopan!" Ucap Sakura tanpa menghentikan langkah cepatnya.
Ayah dan Ibu Sakura hanya tersenyum melihat kepergian putrinya. "Suamiku, tolong jangan kau ulangi lagi perbuatanmu tadi."
"Siap! Tapi aku tidak janji," Jawab Tn. Haruno seraya menyeruput teh hangatnya.
"Huh... kau itu."
Sore hari yang menyenangkan. Menghabiskan waktu dengan bercerita dan bersenda gurau bersama keluarga, sungguh hal yang istimewa yang bagi siapa saja.
.
.
.
.
.
"Naru... to," Panggil Sakura lirih pada pemilik nama yang kini sedang asyik memaksakan diri untuk membuat hidangan makan malam.
Naruto mengalihkan pandangannya pada Sakura yang sekarang berdiri di belakangnya. Gadis ini telah merubah penampilannya –setelah dibelikan beberapa potong pakaian oleh Naruto, tentunya-
"Hmm... ada apa, Sakura -chan?" Tanya Naruto dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Sakura mengalihkan penglihatannya dari mata Naruto, ia menunduk. "Itu... biarkan saya saja yang memasak."
Naruto mengulurkan tangan kanannya dan meraih dagu Sakura, menuntun Sakura agar mendongak –memperhatikan raut wajah gadis ini, Naruto tersenyum.
Dalam hati, Naruto ingin sekali menempelkan bibirnya pada gumpalan kenyal milik gadis di hadapannya ini yang terlihat sangat menggoda.
Kalau bisa, menyesap dan melumatnya. Memasukkan lidahnya dan mengajak bertarung daging tak bertulang milik Sakura. Mengecap setiap rasa yang berasal dari bibir indah gadis ini.
Lalu mengajaknya pada permainan selanjutnya.
Ranjang yang empuk dengan sprei yang bersih dan wangi yang harum, namun dapat menarik hasrat setiap orang yang beraktifitas di atasnya.
Aaaaahh... Naruto ingin sekali membuat gadis di hadapannya ini mendesah dan meneriakkan menyebut namanya. Lalu mereka akan mencapai klimaks bersama dan saling melengguhkan nama satu sama lain.
"Naru... Naruto... Naruto," Naruto tersadar dari fantasi liarnya saat pendengarannya dimasuki suara lembut yang memanggil namanya.
Naruto segera melepaskan tangan kanannya dari dagu Sakura dan melebarkan senyumannya pada gadis ini.
"Ada apa?" Tanya Sakura memiringkan kepalanya ke samping.
Naruto menggeleng lalu menyingkir dari kompor, memberi ruang untuk Sakura melanjutkan kegiatan memasaknya.
Setelah Sakura fokus dengan apa yang dikerjakannya, Naruto duduk di kursi meja makan –memperhatikan gadis di depannya yang memakai apron.
Tubuhnya yang langsing namun berisi, membuat penampilannya yang hanya memakai dres tanpa lengan dan ke bawahnya hanya mencapai paha –sekitar 15cm di atas lutut.
Sungguh sajian yang menggiurkan dan pasti sangat lezat rasanya jika dinikmati.
Oke, Naruto! Kau semakin terperosok dalam pikiran liarmu. Sepertinya kau haus sekali akan sentuhan seorang gadis polos layaknya gadis di depanmu itu. Stop, Naruto! Sakura milik sahabatmu, Sasuke.
Naruto menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencoba menghilangkan bayangan-bayangan mesum yang terbang di pikirannya.
Yang membuatnya berimajinasi tentang hal-hal yang tak seharusnya ia bayangkan.
"Ada apa? Kamu sakit?" Tanya Sakura yang kini menghampiri Naruto, ia berjongkok di samping kiri Naruto.
Sakura mendongakkan kepalanya mencoba melihat wajah Naruto, wajah mereka hanya berjarak setengah lengan.
Jarak yang cukup dekat jika Naruto ingin memajukan wajahnya pada Sakura dan dengan cepat bibir mereka dapat bertemu dan saling mengecap rasa masing-masing. Ok, Naruto! Kau mulai lagi.
Sakura hampir menyentuh kening Naruto, jika lelaki di depannya itu tidak menolehkan kepalanya menyamping –menghindari sentuhan gadis itu.
Dengan cepat, Naruto menyahut "Tidak... tidak apa-apa kok, Sakura-chan. Oh iya! Tolong kamu tambahkan porsi makanannya," Ucap Naruto masih enggan untuk menatap mata Sakura.
Sakura memiringkan kepalanya, "Kenapa? Akan ada tamu?" Tanya Sakura sopan.
Naruto mengangguk.
Kemudian Sakura bangkit dari posisinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat terhenti.
Naruto memandangi Sakura dari belakang. Tampak gadis itu yang terlihat serius berkutat dengan masakannya.
Seulas senyum manis mengembang begitu saja di dua sudut bibir Naruto. Sudah sangat lama baginya melihat pemandangan seperti ini, seorang perempuan memasakkannya makanan di dapurnya.
Bahkan jika tak ada gadis itu, tak mungkin Naruto menyentuh dapur miliknya. Hanya Ibunya saja yang menggunakan dapur itu.
Naruto melihat jam dinding yang berada di dekatnya. Setelah memastikan waktu yang kini menunjukkan pukul 06.30 pm, Naruto pamit pada Sakura untuk kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Naruto meraih ponselnya yang berada di nakas samping ranjangnya. Dengan segera, ia menekan tombol no. 1 di ponselnya yang otomatis men-dial nomor telepon seseorang. Sangat bisa dipastikan jika lelaki ini sering menghubungi nomor tersebut. Tak berapa lama, suara berat di seberang telepon terdengar.
"Hn, ada apa?"
"Kau sudah makan?" Tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaan orang di sambungan teleponnya.
"Belum," Jawab orang tersebut dengan malas.
"Bagus, ke apartemenku sekarang."
"Kenapa aku harus ke apartemenmu?" Tanya suara berat lelaki di seberang, terdengar ogah-ogahan menyetujui perintah Naruto.
"Kau akan berterimakasih padaku nanti. Sekarang lakukan saja perintahku, atau kau akan kehilangan harta karunmu." Naruto segera memutus sambungan teleponnya dengan lelaki tadi, sebelumnya menyempatkan diri untuk salam "Selamat sore, Teme."
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Assalamu'alaikum... sebenarnya FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Kai EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada nama yang salah, itu semata-mata kelalaian saya. Dan juga, maaf karena tidak bales review kalian –saya tidak sempat. Karena di FFn saya baru, boleh dong minta saran dan kritik dari senpai dan reader semua! Sekian terima kasih!
Hahaha... maaf ya kalau di chapter ini Sasuke belum ketemu sama Sakura. Sengaja aku bikin begini, soalnya tiba-tiba saja aku kehabisan ide. Tenang saja, chapter depan mereka bakalan ketemu kok. Di atas tadi 'kan yang diundang Naruto buat dateng itu Sasuke, jadi bisa dipastikan kalau chapter depan itu mereka ketemu. Walaupun banyak scene Naruto sama Sakura, tapi tenang saja... pairingnya tetap Sasuke sama Sakura. Naruto hanya selingan saja, lagi pula Naruto tidak akan saya buat menusuk teman dari belakang. Ia adalah sahabat terbaik yang dimiliki Sasuke. Naruto sangat setia sama Sasuke, jadi di sini nanti Naruto itu yang membantu terjalinnya hubungan Sakura sama Sasuke.
Maaf juga karena di chapter ini kebanyakan scene-nya menceritakan tentang masa lalu Sakura. Sudah pada tahu 'kan dulu di chapter 1 itu kenapa Sakura bisa tiba-tiba sadis pas ngebunuh orang? Itu karena emang udah ada yang diturun. Ayahnya Airin itu 'kan dulu pembunuh bayaran yang sangat sadis.
Di chapter depan akan saya jelaskan lagi tentang adanya daya tarik atau kekuatan yang ditimbulkan oleh kalung itu. Kenapa bisa sampai sifat dari sang Ayah dapat menurun ke anaknya. Ditunggu saja ya... Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
