'Entahlah, kupikir dia adalah takdirku. Takdir yang mempertemukanku dengannya. Sakura. Haruno Sakura. Gadis manis yang sangat lugu namun juga sangat misterius. Aku tak menyangka dia dapat mengubahku menjadi pemuda yang sangat bertolak belakang dengan masa laluku dan menyembuhkan luka dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sakura.'

-Sasuke U.-

'Takdir ya? Kau membuatku bimbang dengan segala perlakuanmu terhadapku. Kau menyiksaku dan memerangkap diriku dalam hatimu. Tak tahukah kau, aku sangat bahagia? Terimakasih karena takdir telah mempertemukan kita. Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'

-Sakura H.-

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

BLACK LOVE © Evellyn Ayuzawa

Title: Black Love [Chapter 4]

Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)

Genre: Romance, Crime, Supernatural

Length: Chaptered

Rated: M (for Mature Content)

Main Cast:

Sasuke U. x Sakura H.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Special Thanks to:

Sasusakulover47, mei tomatcherry23, kazuran, yu, hanazono yuri, Anka-Chan, Kumada Chiyu, sami haruchi 2, Sasa Cherry, kaka, Cherryma. [maaf ya kalau kelewatan dan tidak aku cantumin]

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

-AUTHOR Pov.-

.

.

.

.

.

"Woah! Kau cepat sekali sampainya. Sudah tidak sabar bertemu dengannya ya?" Tanya Naruto sedikit meledek Sasuke yang sekarang sudah berdiri di bibir pintu apartemennya.

Sasuke hanya mendengus menjawab Naruto. Mereka kemudian segera masuk sebelumnya Naruto menyempatkan diri untuk menutup pintu. Ia mengikuti Sasuke dari belakang.

Dengan seringai jahil, Naruto mendorong tubuh Sasuke agar berjalan dengan cepat. Ia tahu bahwa pria berkulit putih di depannya ini tengah gugup setengah mati. Dapat diketahuinya karena Sasuke berjalan dengan pelan dan tampak ragu melangkahkan kakinya.

"Sakura-chan! Sini deh. Ada yang ingin ku kenalkan padamu," ucap Naruto yang kini sudah berada di dapur, dengan Sasuke yang kini berpindah posisi di belakangnya. Sasuke tampak menghindari menatap gadis bersurai merah muda sepinggang itu.

Sakura menyudahi kegiatannya menyiapkan makanan –karena memang sudah selesai. Ia melempar senyum manis pada pria yang memanggilnya tadi, kemudian berjalan mendekat pada Naruto.

"Hai," sapa Sakura setelah melihat seseorang lagi di belakang Naruto.

"Hai juga," sapa balik Naruto.

Karena dia tidak mendengar Sasuke menjawab sapaan gadis itu, ia menengok ke belakang. Ternyata Sasuke malah membelakanginya sembari berlagak disibukkan oleh melihat-lihat isi apartemen Naruto.

Naruto mencubit pinggang Sasuke sampai terdengar rintihan pelan. Dengan cepat, Sasuke membalikkan tubuhnya menghadap orang yang mencubitnya dan memberinya tatapan tajam.

"Apa?" tanya Sasuke datar.

Naruto menunjuk gadis di belakangnya dengan dagunya yang memandang heran sekaligus tak mengerti. Sasuke kembali kikuk dan gugup setelah ia mengikuti arah pandang Naruto lalu tak sengaja tatapan mata mereka saling bertemu dan berpandangan sebentar. Ya, memang sebentar. Karena dengan cepat –lagi- Sasuke mengalihkan pandangannya menatap sekeliling. Naruto mendengus geli dengan tingkah Sasuke.

"Maaf ya, Sakura-chan. Dia memang pemalu jika bertemu dengan gadis manis seperti kamu," ucap Naruto tak enak pada gadis itu karena terlihat mulai tak nyaman dengan tingkah Sasuke yang seolah menghindarinya karena tak suka.

Padahal Sasuke itu sangat gugup...

Sasuke kembali menunjukkan senyumnya, walaupun tak semanis tadi.

"Makanannya sudah siap," ucap Sakura memberitahu Naruto.

Naruto mengangguk mengerti lalu menarik Sasuke, "Ayo kita makan! Ayo, Teme!"

Mereka bertiga masing-masing telah duduk di kursi meja makan. Sakura mengangsurkan nasi yang baru saja disendokkannya dari wadah nasi yang tampak mengepul uapnya.

Mata Sasuke dengan teliti menatap apa saja gerak-gerik gadis yang mengambil posisi di seberangnya. Betapa terampilnya tangan-tangan mungil itu menyiapkan segala keperluan makan mereka. Bahkan beberapa kali ia melihat Sakura membersihkan makanan yang tercecer ke meja yang disebabkan Naruto.

Sasuke sangat tahu kalau memang kebiasaan Naruto saat makan itu selalu berantakan. Meskipun ia tahu kebiasaan sahabatnya itu, ia tetap mengira bahwa Naruto hanya mencari perhatian gadis itu saja.

Oh... mungkinkah kau cemburu, Sasuke?

Sasuke hanya mendengus pelan melihat interaksi Naruto dengan gadis harta karunnya itu yang terlihat sudah sangat akrab. Naruto yang menyadari itu, langsung mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Ia menyeringai jahil. Ia tahu apa yang dipikirkan Sasuke sekarang tentang ia dan Sakura.

"Aku sudah selesai. Terimakasih makanannya!" ucap Naruto yang telah menandaskan makanannya.

Kemudian ia meminum teh yang tersedia untukknya. Setelah selesai, ia membawa piring bekas makanannya ke tempat cucian piring.

"Aku ke kamar dulu. Oh iya... Teme, tolong bantu Sakura-chan mencuci piring dan membereskan meja ya? Aku lelah sekali." Sebelum sempat menjawab permintaan Naruto, pria itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya.

Sasuke hanya mengumpat dalam hati atas perlakuan sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Naruto hanya mencari alasan agar Sasuke dapat memulai apa yang sangat diinginkannya dengan harta karunnya.

Sekarang, tinggal mereka berdua di meja makan. Sakura sudah menyelesaikan makannya, ia sekarang hanya duduk diam –sesekali memakan buah yang tadi ia siapkan sembari menunggu Sasuke selesai makan.

Tak ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan. Keduanya sama-sama diam.

Sesekali saat Sakura terus memandangi Sasuke, pria itu kadang tak sengaja meliriknya lalu pandangan mereka pun ikut bertemu.

Seperti masuk ke dalam lingkaran kelam yang menyedot kesadarannya, Sakura tak dapat melepaskan tatapannya pada pria pemilik mata kelam tersebut. Bola mata yang indah. Tampak seperti mutiara indah miliknya yang menjadi bandul kalung pemberian Ayahnya. Sangat kelam dan misterius.

Kira-kira, apa saja yang pria itu lihat selama dia hidup? Apa saja yang sudah dialami pemilik mata itu? Apakah yang dirasakannya saat memandang mata itu juga dirasakan oleh pria tersebut?

Ia terus menatapnya, tanpa sadar, tangan kanan Sakura terulur menuju wajah pria di depannya itu yang sekarang juga tengah menatapnya. Tangan Sakura dapat menjangkau dengan mudah wajah pria bersurai raven itu karena meja makan ini tak terlalu lebar.

Ia menyentuhkan pelan permukaan tangannya di pipi tirus milik Sasuke. Sasuke meletakkan sumpit yang sedari tadi dipegangnya. Ia memutuskan untuk menyudahi makannya.

Rasa dingin menyentuh kulit miliknya. Namun dengan segera, telapak tangan gadis yang menyentuh pipi kirinya itu mulai menghangat. Sasuke merasa nyaman. Tangan hangat yang sangat menenangkan hatinya.

Wajahnya ikut menghangat. Ada suatu perasaan yang tiba-tiba menyerang dadanya. Terasa sesak dan ingin meledak.

Seakan dunianya kembali, Sakura buru-buru menarik tangan kanannya dari pipi kiri Sasuke. Namun, belum sempat telapak tangan gadis itu berpindah dari pipinya, Sasuke dengan cepat menaruh telapak tangan kirinya di atas tangan mungil milik gadis itu –mencegahnya.

"Tetap seperti ini sebentar lagi," pinta Sasuke dengan suara datar namun menyiratkan setitik emosi yang meluap. Sakura mengangguk dan tak mencoba menarik kembali tangannya dari wajah pria itu.

"Kau hangat," ucap Sakura lembut. Sesekali mengusap pipi Sasuke dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

Sasuke menikmati usapan dan sentuhan dari tangan gadis itu. Seperti sudah saling mengenal sejak lama, Sakura dan Sasuke tak secanggung tadi.

Serasa kali ini, mereka tengah melepas rindu mendalam yang telah ditahan sejak lama sekali. Sasuke menurunkan tangannya dari atas tangan Sakura. Membiarkan apa saja yang ingin dilakukan gadis itu pada wajahnya.

"Kau juga hangat," ucap Sasuke kemudian menimpali kalimat gadis itu tadi.

Sasuke tersenyum, saat dirasanya sentuhan ibu jari milik Sakura tengah mengusap lembut bibir bawahnya. Ia menatap mata gadis itu, Sakura yang sedang mengamati apa yang disentuhnya. Menekan-nekan bibir bawahnya dengan pelan. Sasuke membuka sedikit bibirnya, tak berapa lama, ibu jari Sakura sedikit masuk ke dalam mulutnya. Menyentuh sedikit lidahnya.

Sasuke menghisap pelan ibu jari milik Sakura. Tubuhnya memanas hanya karena pendengarannya mendengar lenguhan pelan dari gadis di depannya. Sakura menatap Sasuke yang tengah menyeringai padanya. Rona kemerahan semakin terlihat jelas di wajah manis gadis itu.

"Aku masih lapar, boleh ku makan?" pertanyaan Sasuke pada gadis itu sukses membuat tubuh Sakura memanas.

Sasuke tetap menjilat dan menghisap ibu jari Sakura yang masih berada di dalam mulut pria itu. Sasuke memegangi tangan Sakura agar tak ditarik kembali gadis itu.

Sasuke menggigit pelan ibu jari Sakura yang sudah terlumuri salivanya. Sakura mulai memejamkan matanya, menikmati apa yang dilakukan pria itu pada tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya –mencegah agar tak lagi mengeluarkan suara aneh lagi.

Tak berapa lama, Naruto keluar dari kamarnya. Ia hendak menuju dapur, saat tak sengaja matanya melihat pemandangan yang menurutnya tak terduga itu.

Di sana terlihat Sasuke tersenyum lembut sembari tetap memandangi wajah menunduk Sakura di depannya dengan mata sayu. Tangan kiri Sasuke memegang tangan kanan milik Sakura yang sebagian ibu jarinya masuk ke dalam mulut Sasuke.

Naruto tersenyum lebar menyaksikan hal itu. Buru-buru ia membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi dapur. Ia sampai di ruang tamu lalu mendudukkan dirinya di sofa kemudian menyalakan tv. Ia memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.

.

.

.

.

.

"Oh... kalian sudah selesai?" tanya Naruto dengan senyuman lebar yang tak lepas dari bibirnya setelah melihat Sasuke dan Sakura keluar bersama dari dapur dan kini mereka bertiga berkumpul di depan tv. Tentu saja setelah Sasuke dan Sakura membereskan meja makan juga mencuci piring.

"Ya," jawab Sasuke datar tanpa memandang orang yang bertanya.

Sementara Sakura menaruh buah-buahan –yang sebelumnya sudah ia kupas kemudian memotong kecil-kecil buah-buahan- itu di atas meja. Naruto langsung menyambar garbu kecil yang tersedia lalu menancapkannya pada salah satu buah kemudian memakannya.

"Kelihatannya kalian sudah akrab setelah ku tinggalkan tadi. Apa yang terjadi?" tanya Naruto sedikit meledek memandang Sasuke.

Sakura menundukkan wajahnya tak berani menatap Naruto. Ia takut Naruto melihat semburat merah di wajahnya. Sedangkan Sasuke memilih untuk memindahkan buah di tangannya ke dalam mulutnya.

Sasuke sudah tahu bahwa Naruto hanya mencoba menggodanya. Ia tahu bahwa Naruto tadi melihat apa yang ia dan Sakura lakukan saat di dapur. Well... dengan kemampuan bertarung Sasuke, pasti dengan mudah ia dapat merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.

Mereka pun meneruskan kegiatannya dengan menonton tayangan yang ada di tv tanpa banyak bicara. Sasuke dan Sakura sesekali saling memandang kemudian berbisik pelan, membuat Naruto seperti obat nyamuk yang tak dibutuhkan lagi kehadirannya. Sampai akhirnya Sasuke memutuskan untuk pulang. Sakura mengantarkan kepergian Sasuke sampai pintu apartemen, ia sedikit terkejut saat Sasuke mengecup pelan keningnya lalu turun ke bibirnya. Hanya sekilas, namun sangat berefek sekali pada kesehatan jantung gadis itu. Dan Sasuke berkata kalau ia akan datang lagi. Itu cukup membuatnya senang.

"Wah... sepertinya aku ketinggalan sesuatu," ucap Naruto yang masih di depan tv dengan camilan di pangkuannya.

Sakura kembali mendudukkan dirinya di sofa samping Naruto, ia tersenyum. "Aku juga tidak tahu ada apa, Naruto-san."

"Coba ceritakan padaku apa yang kamu rasakan padanya." Naruto menyudahi memakan camilannya dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Ia terlihat sangat antusias mendengar gadis itu akan bercerita.

"Aku merasa nyaman dan tenang saat melihat matanya. Sangat menenangkan dan menghanyutkan," ucap Sakura menutup muka dengan tangan kanannya karena lagi-lagi semburat merah muncul di wajahnya.

"Lalu?" tanya Naruto penasaran.

"Entahlah... semuanya terjadi begitu saja. Tanpa perkenalan terlebih dulu, terasa mengalir dengan cepat. Baru kali ini aku merasakan perasaan ini. Perasaan yang membuat dadaku bergemuruh dan serasa akan meledak." Sakura diam seraya tangan kanannya turun dari wajahnya dan menyentuh dadanya sendiri di mana tempat rasa itu berada.

"Kalau ku bilang dia takdirmu, apakah kamu akan percaya?" tanya Naruto dalam.

Sakura memandang kedua manik biru milik pemuda di sampingnya itu dengan bingung, "Takdirku?"

Naruto mengangguk, "Iya. Takdirmu."

Sakura memiringkan kepalanya ke kanan tanda tak mengerti dengan ungkapan Naruto. "Maksudnya apa?"

"Kau pasti akan tahu nanti. Yang pasti bukan aku atau siapapun yang akan memberitahumu," jawab Naruto –masih dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

"Lalu siapa yang akan memberitahuku?" tanya Sakura yang masih bingung.

"Kamu."

"Aku?" Sakura semakin tidak mengerti dengan maksud Naruto.

"Ya, dirimu sendirilah yang akan mencari tahu jawabannya."

Setelah mengucapkan hal itu, Naruto beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan Sakura yang masih sibuk memahami pernyataan Naruto tentang takdirnya.

"Benarkah kau adalah takdirku, Sasuke-kun?"

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Yaah... lagi-lagi bersambung. Saya tidak tahu pasti sampai chapter berapa FF ini akan tamat. Lagipula, saya masih sedikit kebingungan bagaimana nantinya interaksi Sasuke sama Sakura. Oh iya, kemarin padahal saya udah bilang kalau mau menjelaskan tentang kekuatan mutiara hitam milik Sakura itu. Insyaallah di chapter depan ya. Soalnya di sini 'kan Sakura sama Sasuke baru saja ketemu. Hehee... tenang saja yang mengharapkan Lemon, pasti ada. Karena di atas rate-nya M, jadi bukannya tidak mungkin nanti bakalan ada scene dewasa. Hoho... sekian dari saya, semoga menginspirasi dan bermanfaat.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.