'Entahlah, kupikir dia adalah takdirku. Takdir yang mempertemukanku dengannya. Sakura. Haruno Sakura. Gadis manis yang sangat lugu namun juga sangat misterius. Aku tak menyangka dia dapat mengubahku menjadi pemuda yang sangat bertolak belakang dengan masa laluku dan menyembuhkan luka dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sakura.'
-Sasuke U.-
'Takdir ya? Kau membuatku bimbang dengan segala perlakuanmu terhadapku. Kau menyiksaku dan memerangkap diriku dalam hatimu. Tak tahukah kau, aku sangat bahagia? Terimakasih karena takdir telah mempertemukan kita. Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'
-Sakura H.-
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
BLACK LOVE © Evellyn Ayuzawa
Title: Black Love [Chapter 5]
Author: Evellyn Ayuzawa
Genre: Romance, Crime, Supernatural
Length: Chaptered
Rated: M (for Mature Content)
Main Cast:
Sasuke U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Special Thanks to: semuanya yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Terimakasih banyak!
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-AUTHOR Pov.-
.
.
.
.
.
Tak terasa sudah satu bulan berlalu semenjak pertemuan pertama mereka berdua –Sasuke dan Sakura. Belum ada kepastian yang jelas apa hubungan mereka berdua sekarang. Yang jelas, keduanya bukan lagi orang asing, mereka lebih layak disebut sepasang kekasih.
Walaupun begitu, tetap saja Sakura sebagai seorang perempuan membutuhkan kepastian yang jelas dari pihak laki-laki. Dengan perilaku Kai yang terkesan cuek dan santai, mau tak mau Sakura sedikit mencemaskan keadaan mereka yang tanpa status tersebut.
"Sasuke-kun," Panggil Sakura lembut.
"Hm..." Sasuke hanya bergumam menjawab panggilan gadis yang duduk di sampingnya.
Mereka berdua sekarang tengah berada di ruang tamu apartemen milik Naruto. Sakura duduk di samping kiri Sasuke sembari melipat baju. Posisi Sasuke setengah berbaring dengan stoples snack yang berada di atas perutnya. Pandangannya lurus ke depan pada layar tv yang menyajikan acara olah raga.
"Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Sakura tanpa menghentikan aktifitasnya. Nampaknya Sasuke sama sekali tidak keberatan dengan pekerjaan Sakura sekarang –melipat baju.
"Apa?"
"Ehm... Sasuke-kun, apa hubungan kita sebenarnya?" Sakura menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya menuju Sasuke.
Sasuke tak menjawab, ia malah kembali memasukkan makanan ringan tersebut ke dalam mulutnya –masih memandang lurus ke tv. Sakura yang menunggu Sasuke bersuara akhirnya harus kecewa, karena Sasuke seperti tak menghiraukannya.
Karena ia telah menyelesaikan pekerjaannya –melipat baju, Sakura bangkit dari sofa dan melangkah ke kamarnya tanpa memberitahu Sasuke terlebih dahulu. Ia bahkan tak menyahuti panggilan Sasuke yang menanyakan ia akan ke mana.
Sesampainya di dalam kamarnya, Sakura memasukkan baju-baju tadi pada lemari. Setelah selesai, betapa terkejutnya ia saat berbalik. Ternyata Sasuke telah berdiri menjulang di hadapannya dengan ekspresi kesal di wajahnya.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Sakura mengalihkan pandangannya dari pria tersebut dan melangkahkan kakinya menuju pintu –hendak keluar. Namun, sebelum tangannya menyentuh pegangan pintu, sepasang lengan kekar milik pria di belakangnya telah melingkari pinggangnya.
"Hei, kau marah?"
"..."Sakura tak menjawab.
"Kau marah ya?" suara berat Sasuke terdengar seperti sedang mengejek di telinga Sakura.
"..."Sakura kembali tak menjawab.
Dengan sedikit kesal, Sasuke membalikkan tubuh gadis di dekapannya itu. Sasuke sedikit terkejut melihat ekspresi Sakura yang tampak seperti menahan tangis. Matanya telah berkaca-kaca. Sasuke melepaskan lingkar tangannya di pinggang Sakura dan memindahkannya di kedua sisi wajah gadis tersebut.
"Hei, kenapa? Jangan menangis. Maafkan aku, Sakura," Sasuke memberika kecupan ringan di kening gadis itu. Berusaha menyalurkan kehangatan dalam dirinya pada Sakura.
"Sasuke-kun, aku hanya ingin kepastian darimu. Aku ini apa bagimu?" air mata Sakura mulai melumer keluar.
"Apa aku harus menjawabnya?" Sakura mengangguk lemah.
"Apa selama ini kau tidak tahu apa arti dirimu bagiku? Setelah apa yang telah kita lalui selama sebulan ini?" tanya Sasuke menatap dalam pada manik indah milik Sakura.
"Tapi aku butuh kepastian, Sasuke-kun. Aku takut jika kau hanya mempermainkanku. Sebulan bukanlah waktu yang lama."
Sasuke mengusap-usap air mata yang keluar dari kedua mata Sakura. Hatinya sakit melihat setiap air yang keluar dari mata indah gadis yang ia cintai. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia sendirilah yang membuat gadis itu menangis. Kau bodoh, Sasuke.
"Kau sangat berarti bagiku, Sakura. Kau sangat berharga untukku. Akan ku habisi semua orang yang berani menyakitimu."
"Lalu kenapa kau ragu padaku?"
"Aku tidak ragu, Sakura." Sasuke diam sejenak, lalu melanjutkan "Aku takut kehilanganmu jika mengikatmu dengan status kita."
"Aku tidak akan ke mana-mana, Sasuke-kun. Aku hanya ingin kepastian darimu. Apa sebenarnya hubungan kita ini. Agar aku bisa memantapkan hatiku hanya padamu."
Sasuke menundukkan wajahnya. Sakura tahu, Sasuke adalah pribadi yang irit bicara. Namun, apa susahnya jika hanya mengatakan status saja. Kekasih atau bukan?
"Aku takut lepas kendali," ucap Sasuke yang telah kembali menatap Sakura.
"Lepas kendali? Maksudmu?"
"Iya, aku takut lepas kendali dan menyentuhmu," Sasuke mengalihkan pandangannya ke samping.
"Apa maksudmu, Sasuke-kun? Kau kan sudah menyentuhku. Sekarang kau juga menyentuhku," ucap Sakura yang sulit mencerna maksud dari kalimat Sasuke. Kedua tangannya yang sedari tadi hanya diam menggantung di samping tubuhnya kini terangkat, masing-masing menyentuh siku milik Sasuke.
"Bukan seperti ini, Sakura. Menyentuhmu lebih," dirasa telah mengerti maksud dari kalimat Sasuke, Sakura menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar tak berteriak karena terkejut.
"Kau pasti akan membenciku dan pergi dariku jika aku menyentuhmu,"
Sakura diam sejenak untuk menenangkan dirinya. Tentu saja dia terkejut dengan maksud Sasuke. Mereka berdua masih belum dewasa. Tahun ini saja, ia baru berusia 19th dan setahunya, Sasuke 20th. Sakura pribadi masih belum siap jika harus melakukan hubungan intim. Belum lagi nanti jika hubungan mereka membuahkan hasil.
"Sasuke-kun, aku—"
"Aku tahu kau belum siap. Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya memperingatimu, Sakura," Sasuke tampak kecewa. Ia menurunkan kedua tangannya dari pipi Sakura dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.
"Tidak, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya—" lagi-lagi Sasuke memotong kalimat Sakura.
"Tidak apa. Aku mengerti," ucap Sasuke.
"Sasuke-kun! Dengarkan aku dulu!"
"Apa?" Sasuke masih tak memandang Sakura.
Karena kesal Sasuke tak menatapnya saat bicara, dengan cepat Sakura membalikkan tubuh Sasuke berhadapan dengannya lagi. Ia sedikit berjinjit agar sejajar dengan Sasuke. Kedua tangannya ia lingkarkan di leher Sasuke dan dengan cepat Sakura menyentuhkan bibirnya di bibir milik pria itu.
Sasuke tentu saja terkejut dengan apa yang telah dilakukan gadis itu. Tubuhnya sedikit menegang merasakan kelembutan dari bibir Sakura yang menempel di permukaan bibirnya. Karena merasa nyaman, ia memejamkan matanya. Kedua tangan Sasuke kembali melingkari pinggang ramping milik Sakura. Ia mempertipis jarak di antara mereka sampai tubuh keduanya saling menempel.
Namun tak berapa lama, Sasuke merasa hampa setelah bibir mungil milik Sakura meninggalkan bibirnya.
"Sasuke-kun, aku sudah siap jika kau memang menginginkanku. Tapi, aku ingin kau memberikanku kejelasan dalam hubungan kita ini. Agar aku tidak meragukanmu,"
Sasuke kembali mengalihkan pandangannya menuju hal lain yang dapat ia jangkau. Kedua tangan Sakura telah berpindah pada kedua pipi Sasuke agar menatapnya kembali.
"Apa aku belum cukup meyakinkanmu?" tanya Sakura dengan suara yang lembut.
Sasuke memberika senyuman tipis, "Tidak sama sekali. Aku ingin kau menjadi istriku,"
"Ha? Sasuke-kun! Kita masih muda, aku tidak mau!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau nantinya kau akan meninggalkanku karena bosan. Lagi pula, kita masih belum terlalu saling mengenal satu sama lain. Aku tidak mau ah!"
"Hei, kau takut kehilangan aku ya?" tanya Sasuke dengan wajah yang mengejek.
Sakura mulai merasakan panas di sekitar wajahnya. Ia menundukkan kepalanya –masih dalam dekapan tangan Sasuke, ia mengangguk kecil. Sasuke tertawa kecil.
"Jangan tertawa, Sasuke-kun! Aku tidak sedang bercanda," Sakura kembali menatap Sasuke. Walaupun wajahnya masih memerah.
"Haha... aku juga tidak sedang bercanda," walaupun berkata tidak bercanda, namun Sasuke tetap tertawa.
"Sasuke-kun, jangan tertawa!" Sakura mulai mendorong tubuh Sasuke yang melekat pada tubuhnya agar menjauh –ia ingin melepaskan diri.
Karena tahu maksud dari pergerakan Sakura yang ingin menjauh darinya, dengan cepat, Sasuke kembali merapatkan tubuh mereka agar melekat seperti tadi.
Sakura mulai merasakan panas dari dalam tubuhnya akibat bergesekan dengan tubuh Sasuke. Padahal mereka masih mengenakan pakaian. Bagaimana jika bersentuhan secara langsung, tanpa terlapisi kain atau apapun. Pasti akan membakar tubuhnya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat wajah Sakura semakin merona.
"Baiklah, jika kau tidak mau menjadi istriku. Kau jadi kekasihku saja," ucap Sasuke cuek.
Sakura mengangguk pelan, ia mendongakkan wajahnya. Mukanya memerah merona, matanya memandang sayu pada sosok Sasuke di depannya.
*NO CHILD/18++*
Sasuke menundukkan kepalanya, dengan cepat bibir mereka kembali bersatu. Sentuhan-sentuhan bibir mereka terasa mengalir dengan alami. Kedua tangan Sakura kembali melingkar pada leher Sasuke.
Mereka semakin memperdalam ciuman itu. Berusaha merasakan dan mengecap apa saja yang ada di kedua goa lembab milik masing-masing. Sampai dirasa pasokan udara yang sama-sama menipis, dengan sangat tak rela mereka melepas tautan bibir mereka.
"Ahh..." lenguhan kecil berhasil lolos dari mulut Sakura setelah lepas dari jeratan bibir Sasuke.
Ia meraup dengan tergesa-gesa udara yang ada, guna mengisi paru-parunya yang terasa mengecil. Wajahnya memerah, tubuhnya memanas hanya karena ciuman tadi.
"Belum," ucap Sasuke datar.
Ia kembali menautkan bibir mereka.
Kali ini ciuman tersebut terasa semakin dalam. Lidah Sasuke mulai memasuki mulut Sakura. Mengajak bermain lidah milik Sakura. Saling bertukar saliva, saling menggigit, saling melumat. Tampaknya Sasuke yang lebih mendominasi. Namun, Sakura mencoba untuk dapat mengimbangi permainan pasangannya. Ia tidak ingin hanya dia saja yang puas, Sasuke pun juga harus puas.
Tangan Sasuke mulai bergerak. Sebelah kanan tetap memegangi pinggang Sakura. Tangan kiri Sasuke mulai menyibak kaos yang dikenakan Sakura dari belakang. Mengelus punggung Sakura.
Bagaikan tersengat ratusan ribu volt berkekuatan tinggi. Tubuh Sakura mulai menegang merasakan pergerakan tangan Sasuke di punggungnya. Panas di tubuhnya semakin terasa membakar. Karena tak kuasa merasakan sentuhan itu, kakinya tiba-tiba melemas.
Sasuke merasakan tubuh Sakura memberat, ia berusaha tetap menahan tubuh itu tetap di dekapannya. Lenguhan-lenguhan kecil kembali terdengar di setiap decapan mulut mereka. Dengan segera, ia mengangkat tubuh Sakura dan membaringkannya di ranjang yang letaknya tak jauh dari mereka.
Mereka kembali melanjutkan ciuman yang penuh dengan gairah membakar setiap inci bagian tubuh masing-masing. Sasuke menindih tubuh lemas Sakura. Kedua lengan Sakura masih melingkar di leher Sasuke. Sasuke melepas ciuman mereka, lagi-lagi karena kebutuhan akan pasokan udara.
Dilihatnya wajah manis Sakura yang memerah. Mulutnya sedikit terbuka, nafasnya terputus-putus. Matanya memandang sayu pada Sasuke. Rambutnya yang tergerai berantakan di bantal. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan.
Setelah dirasa cukup mengambil nafas, ia kembali menautkan bibir mereka. Kedua tangan Sasuke kembali menyibak kaos Sakura ke atas. Dengan cepat, kaos tersebut telah ditanggalkannya. Sasuke melepaskan bibirnya dari bibir Sakura. Ia mulai mengecup kecil leher Sakura. Awal yang lembut, namun dengan cepat pula berubah mengganas.
Ia menjilat, menghisap dan menggigit pelan leher Sakura. Mulai terlihat beberapa bercak-bercak berwarna merah dan sebagian ada yang membiru di leher jenjang Sakura. Karena dirasa telah cukup merasakan leher Sakura, Sasuke kembali menurunkan kepalanya.
Dada yang tak terlalu besar, namun cukup berisi dan menggoda sekarang tersaji di depannya. Padahal benda kenyal itu –jika dirasakan- masih terbungkus bra berwarna merah jambu dengan corak bunga dan model berenda di pinggirannya.
Ia merasa kagum, jantungnya berdetak dengan cepat. Baru kali ini ia merasakan perasaan ini, bohong jika ia mengaku tidak pernah melihat dada seorang wanita. Sudah berkali-kali Sasuke melakukan hubungan intim dengan beberapa wanita.
Jangan salahkan dirinya, dunia hitam tempatnya tinggal telah menyajikan hal-hal seperti tempat prostitusi di mana-mana. Namun, baru kali ini jantungnya berdetak dengan sangat cepat seperti habis lari marathon, hanya karena melihat dada seorang gadis.
Tentu saja jantungmu berdetak dengan sangat cepat karena melihat dada Sakura, Sasuke. Dia masih polos dan masih bersih, tidak seperti wanita-wanita yang pernah kau tiduri. Mereka semua adalah jalang murahan yang menjual tubuhnya demi kesenangan dan uang. Tidakkah kau dapat membedakannya, Sasuke?
Sakura menutupi belahan dadanya yang tak tertutupi bra. Ia merasa malu karena Sasuke memandangai dadanya lama sekali.
"Hei, kenapa kau tutupi?" tanya Sasuke sembari menyingkirkan tangan Sakura dari dadanya.
"Aku malu...," jawab Sakura dengan tatapan sendunya.
"Jika sekarang kau menyuruhku berhenti, aku akan berhenti. Aku tak ingin menyakitimu, Sakura,"
Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, Sasuke-kun. Kau tidak menyakitiku,"
"Kau yakin?" tanya Sasuke lembut sembari membelai surai halus milik gadis di bawahnya itu. Sakura mengangguk.
Sasuke menyeringai, "Aku sudah memperingatimu, Sakura. Aku tidak akan berhenti walaupun nanti kau merengek atau meneriakiku karena menyakitimu."
Sakura hendak menjawab, namun dengan cepat Sasuke menyerbu dadanya. Desahan kembali keluar dari bibir Sakura. Ia tak kuasa menahan rasa yang diberikan Sasuke.
Sasuke mengecupi dada Sakura dengan lembut. Menghisapnya dan menggigitinya pelan. Tangan kirinya mengangkat sedikit tubuh Sakura dan tangan kanannya menuju pengait bra Sakura. Tak butuh waktu lama, pengait bra itu telah lepas dan bra itu sendiri telah terlempar jatuh ke bawah ranjang.
Dengan leluasa, Sasuke kembali mengecupi dada Sakura. Kadang menghisapnya dan kadang menggigitnya. Rancauan yang keluar dari mulut Sakura bagaikan nada penyemangat bagi Sasuke. Lama-lama ciuman itu menurun menuju perut Sakura.
Dari situ, Sakura mulai merasakan sesuatu yang membuncah. Sesuatu yang ingin keluar dan meledak. Tepat di bawah perutnya.
Sasuke masih tetap mengerjai perut rata Sakura. Ia tahu dari pergerakan tubuh Sakura yang terasa gelisah – Sakura akan mendapatkan puncak pertamanya.
Sasuke melepas ciumannya dari perut Sakura. Ia melepaskan kancing celana yang dikenakan Sakura. Gerakannya ditahan Sakura, "Kenapa?" tanya Sasuke sedikit kesal pada Sakura.
"Aku malu sekali, Sasuke-kun," Sakura memandangnya sendu.
Dengan pelan dan lembut, Sasuke memindahkan tangan Sakura dan menggenggamnya. "Percayalah padaku. Aku menyukai apapun yang ada pada dirimu. Apa saja!"
Sakura mengangguk dan membiarkan Sasuke meneruskannya. Sasuke tersenyum sebentar lalu kembali beralih pada kancing celana Sakura.
Ia melepaskan celana Sakura dengan pelan, langsung dengan celana dalamnya. Kini Sakura telah polos sepenuhnya.
Sasuke memandangi tubuh Sakura dari atas sampai bawah. Tak ada cela sedikitpun. Walaupun terlihat disekujur tubuh atasnya banyak bercak kemerahan akibat ulah bibirnya tadi.
Tubuh gadis yang belum disentuh siapapun. Sebentar lagi ia akan merubah gadis itu untuk menjadi seorang wanita.
Mulai dari sini, biarkan nafsu mengendalikan mereka.
Dengan segera, Sasuke juga melepaskan satu per satu kain-kain yang melekat pada tubuhnya. Kini mereka telah siap untuk melakukan hal yang lebih dalam lagi.
Sasuke mengambil posisi di antara kedua paha Sakura yang mengapitnya. Rasa malu yang awalnya hadir, tampaknya telah hilang sepenuhnya. Yang tampak hanyalah aroma tubuh masing-masing yang menguar keluar.
Sasuke kembali menciumi perut Sakura. Ciuman itu semakin turun dan turun. Sakura tak kuasa menahan desahan yang mendesak keluar dari bibirnya saat dirasanya lidah Sasuke memberikan sentuhan-sentuhan di sekitar pusat dirinya.
Mengecap rasa yang ada di sana dengan liar. Setelah puas hanya menjejakkan lidahnya di luar. Kini dengan berani, lidah Sasuke mulai menusuk-nusuk lubang milik Sakura. Desahan Sakura mulai tak karuan, menyebut nama Sasuke. Kedua tangan Sasuke ia gunakan untuk menahan paha Sakura agar tak menutup. Gerakan tubuh Sakura semakin gelisah.
Sebentar lagi...
"Haa... Ahhh!" teriak Sakura saat tubuhnya mencapai pelepasan. Nafasnya tak karuan, tubuhnya lemas. Matanya terasa berat.
Sasuke masih berada di posisinya. Tak ada perasaan jijik, ia menghisap cairan yang dikeluarkan Sakura. Setelah cukup, Sasuke mensejajarkan tubuhnya dengan Sakura. Mereka kembali berciuman. Membagi apa yang dihisap Sasuke tadi dengan Sakura. Ia memeluk tubuh Sakura erat. Kedua tangan Sakura melingkari lehernya.
"Ku sudah siap, sayang?" tanya Sasuke dengan nafas berat. Sakura hanya mengangguk lemah.
Tanpa menjauhkan tubuh masing-masing, Sasuke menyatukan tubuh mereka. Sakura sedikit menjerit saat proses itu, Sasuke dengan cepat meredamnya dengan ciuman. Mengajak Sakura untuk membagi rasa sakit yang dirasanya. Walaupun lidah Sasuke digigit Sakura, tetap saja ia tak berusaha menarik lidahnya.
Setelah sepenuhnya tubuhnya di dalam tubuh Sakura, Sasuke membiarkannya sebentar sampai Sakura menyuruhnya bergerak dan telah terbiasa oleh miliknya.
"Bergeraklah," ucap Sakura pelan. Sasuke mengangguk.
Pelan-pelan Sasuke menggerakkan tubuhnya, ia takut menyakiti gadisnya –oh tidak... wanitanya. Tubuh mereka saling bergesekan, menimbulkan sensasi tersendiri pada masing-masing.
"Ahh... hahhh...," Sakura kembali mendesah. Pergerakan tubuh Sasuke semakin cepat dan tak beraturan. Beberapa kali tubuhnya tersentak ke atas karena Sasuke terlalu cepat.
"Haah.. hhh... Sasuke-kun, sakit. Pelan-pelan," ucap Sakura mengingatkan Sasuke.
"Maaf.. Haaaahhh...," Sasuke melambatkan gerakannya sembari terengah.
Sasuke kembali menciumi leher Sakura. Memberikan tanda di sana, lagi dan lagi. Sakura hanya mendesah merasakan permainan Sasuke pada tubuhnya.
Peluh telah membanjiri tubuh masing-masing. Ranjang yang awalnya rapi dan bersih, sekarang telah acak-acakan dan kotor. Bed cover yang melekat pada permukaan telah jatuh ke lantai, bersama dengan material-material lainnya –termasuk pakaian mereka.
Tak henti-hentinya Sakura menyebutkan nama Sasuke di sela-sela desahannya. Ia tak kuasa menahan agar tak merancau dan mendesah. Ini adalah pengalaman pertama baginya.
Cinta pertamanya, ciuman pertamanya dan pengalaman pertamanya dengan Sasuke.
"Aku mencintaimu, Sakura."
"Aku juga mencintaimu, Sasuke-kun."
Waktu telah menunjukkan sore hari, jadi sepanjang siang mereka melakukannya. Mungkin bisa jadi mereka akan melakukannya sampai malam. Siapa tahu?
.
.
.
.
.
"AKU PULANG!" teriak Naruto bersemangat saat ia memasuki kediamannya. Kedua tangannya masing-masing membawa kantung plastik besar. Kelihatannya berisi makanan dan hal-hal lain.
Karena tak ada yang menyahutinya, Naruto sedikit kesal. Ia segera melemparkan kedua kantung plastik yang dibawanya ke sofa. Naruto melihat barang-barang Sasuke di meja dan stoples snack yang tak tertutup.
"Kemana mereka berdua?"
Naruto melangkahkan kakinya ke dapur, ia tak menjumpai siapapun. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya menuju beranda, yang ada hanya jemuran yang digantung di sebelah kanan berandanya. Naruto kembali ke ruang tamu. Ia memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya.
"Jangan-jangan mereka sedang kencan. Huh... kutinggal sebentar saja langsung hilang. Dasar Teme mencari kesempatan dalam kesempitan," umpat Naruto kesal.
Ia memutuskan untuk menyalakan tv dan membongkar isi kantung plastik tadi.
Naruto melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, "Eh, oh tidak! Ternyata aku meninggalkan mereka terlalu lama. Tadi aku keluar masih pukul sembilan pagi dan sekarang sudah pukul tujuh malam! Sial, ternyata aku sendiri yang membiarkan Teme mengambil kesempatan dalam kesempitan,"
Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang. Naruto awalnya hanya mengabaikan suara-suara aneh itu, namun karena lama-lama suara itu terdengar semakin kencang, mau tak mau Naruto menghentikan kegiatannya. Ia mematikan tv dan konsentrasi mendengarkan suara-suara tadi.
Tak salah lagi, itu suara Teme! Apa yang dia lakukan? batin Naruto penasaran.
Naruto mengikuti arah sumber suara itu. Dan di sinilah ia berdiri sekarang. Di depan pintu yang bertuliskan 'Sakura H.' di gantungan yang tertempel di pintu –kamar Sakura.
Suara-suara itu sudah tak terdengar lagi. Karena penasaran, Naruto mencoba memutar pegangan pintu.
Cklek
Tak terkunci.
Naruto membuka sedikit pintunya, ia merasa sedikit tidak sopan karena memasuki kamar Sakura tanpa ijin. Bagaimanapun ini adalah wilayah pribadi seorang gadis.
Betapa terkejutnya Naruto melihat sajian yang ada di dalam kamar itu.
Dua sahabatnya tengah berpelukan di atas ranjang Sakura. Mereka sekarang tengah memejamkan mata. Sasuke yang terlentang dan menjadikan lengan kirinya untuk menopang kepala Sakura. Dan Sakura dengan posisi tidur miring yang melingkarkan lengannya di sebagian perut Sasuke.
Namun, yang membuat Naruto membelalakan matanya yaitu melihat tubuh polos mereka yang hanya mampu ditutupi selimut yang hanya mencapai pertengahan perut mereka.
Dan juga, banyaknya material-material yang tercecer di lantai, juga pakaian yang persis sama dengan yang dikenakan keduanya –seingat Naruto– sebelum ia pergi tadi.
Sebenarnya Naruto merasa senang sahabatnya telah memiliki gadis –yang kini menjadi wanita. Namun, apakah harus secepat ini? Bagaimana jika Sakura mengetahui kalau Sasuke-lah yang membunuh klannya?
Pikiran-pikiran tersebut membuat Naruto pusing dan tak mau lama-lama menyaksikan pemandangan itu. Ia segera berbalik dan menutup pintunya pelan.
"Sasuke, kau itu bodoh atau tolol sih?" Naruto melangkahkan kakinya kembali ke ruang tamu.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
A/N: Haloo... saya akhirnya kembali dengan kelanjutan fanfic BL ini. Maaf bagi yang menunggu update fanfic ini. Karena banyak fanfic yang juga harus aku lanjutkan jadi terpaksa diundur-undur. Alias sebenarnya aku kehilangan ide buat nglanjutin nih fanfic, jadi ya nunggu ide balik.
Terimakasih yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca fanfic saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Terimakasih juga yang sudah review, menfolow, menfav, dll. Jangan lupa lakukan hal itu di chapter ini yaaa...
RnR please!
