'Entahlah, kupikir dia adalah takdirku. Takdir yang mempertemukanku dengannya. Sakura. Haruno Sakura. Gadis manis yang sangat lugu namun juga sangat misterius. Aku tak menyangka dia dapat mengubahku menjadi pemuda yang sangat bertolak belakang dengan masa laluku dan menyembuhkan luka dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sakura.'
-Sasuke U.-
'Takdir ya? Kau membuatku bimbang dengan segala perlakuanmu terhadapku. Kau menyiksaku dan memerangkap diriku dalam hatimu. Tak tahukah kau, aku sangat bahagia? Terimakasih karena takdir telah mempertemukan kita. Aku mencintaimu, Sasuke-kun.'
-Sakura H.-
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
BLACK LOVE © Evellyn Ayuzawa
Title: Black Love [Chapter 6]
Author: Evellyn Ayuzawa
Genre: Romance, Crime, Supernatural
Length: Chaptered
Rated: M (for Mature Content)
Main Cast:
Sasuke U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Special Thanks to: semuanya yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Terimakasih banyak!
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-AUTHOR Pov.-
.
.
.
.
.
"Sakura-chan, kemarilah sebentar nak. Ayah dan Ibu ingin memberi tahu sesuatu," Sakura menghentikan langkahnya sejenak memperhatikan wajah ke dua orang tuanya kemudian kembali melangkah mendekati mereka.
Sebenarnya Ia sedang terburu-buru kembali ke kamarnya untuk segera mengerjakan tugas pendidikannya yang sempat terlupakan karena terlalu fokus pada kompetisi bela diri yang ia pegang.
"Ada apa, yah?" tanya Sakura langsung pada intinya setelah sebelumnya ia memutuskan untuk duduk di hadapan ke dua orang tuanya.
Ibu Sakura tersenyum tulus padanya, Ayahnya yang memang bawaan wajahnya yang kaku dan tegas tak dapat menutupi sinar kebahagiaan di matanya. Ibunya melingkarkan lengan kirinya pada lengan kanan suaminya.
Sakura sebenarnya sudah biasa melihat adegan mesra tersebut, sang Ibu memang suka sekali bermanja-manja pada Ayahnya, namun kali ini sedikit berbeda. Ia kembali memperhatikan kedua orang tuanya secara bergantian, berharap mengetahui apa yang akan mereka sampaikan padanya.
Namun nihil, ia tetap dibuat kebingungan dan bertanya-tanya. Sampai keheningan tersebut hilang saat Ayahnya berdehem kecil guna memusnahkan suasana canggung yang sempat terjadi.
"Begini, nak. Kami ingin mem—" kalimat sang kepala rumah tangga itu terpotong oleh suara riang seseorang di sampingnya.
"Kami ingin memberitahumu kalau sebentar lagi keluarga kita akan bertambah!" ucap Ibunya dengan sangat semangat. Sakura tersenyum, merasa sudah mengetahui akan maksud perkataan Ibunya.
"Oh... benarkah?! Apakah Ibu dan Ayah mengadopsi seorang anak? Kumohon laki-laki! Aku ingin adik laki-laki!" ucap Sakura tak kalah semangatnya.
"Aww— sayang! Kenapa kau berpikir kami mengadopsi anak?" tanya Ibunya masih dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya. Sakura menggeleng.
"Entahlah, ku pikir itu adalah hal yang paling mendekati perkataan Ibu tentang bertambahnya keluarga. Jadi bukan ya?"
"Tentu saja bukan! Memangnya kenapa kau berpikir kalau mengadopsi adalah hal yang paling mendekati perkataan Ibu tadi? Bukankah ada hal yang lebih dekat atau mungkin memang tepat selain mengadopsi? Misalnya –Ia memberi jeda sebentar– Ibumu ini sedang hamil?" akhir kalimat Ia ucapkan dengan nada tanya serta memiringkan wajah dengan senyum misterius kepada Sakura. Sakura kembali menggeleng.
"Tidak mungkin, memangnya Ibu masih bisa hamil?" tanya Sakura polos dengan wajah bertanya-tanya.
"Aww— sayangku! Kau menyakiti hati Ibumu ini, nak!" ucap Ibu Sakura dengan wajah yang muram dan sedih.
Sakura tak mengerti, ia ganti berpaling kepada Ayahnya yang sedari tadi mendengarkan perbincangannya dengan Ibunya.
"Oh anakku... Kau tidak akan percaya ini, sayang. Tapi Ibumu memang benar-benar sedang mengandung adikmu," ucapnya dengan suara datar namun tersirat kelembutan serta kebahagiaan yang kentara. Tak berapa lama ia meringis karena terkena cubitan kecil dari istrinya yang memandangnya kesal dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi kau juga tidak percaya kalau aku masih bisa hamil? Kalian berdua memang menyebalkan!" Sakura dan Ayahnya tak dapat menahan gelak tawanya saat sang Ibu bersungut-sungut marah.
"Oke oke, jadi sekarang Ibu hamil?" sang Ibu memandangnya kemudian mendengus agak keras.
"Ya ampun! Kemana perginya analisa tentang hal-hal rumit serta rumus-rumus yang kau pelajari, sayang? Kenapa begitu sulit mengartikan kalimat sederhana tadi?" tanya Ibunya dengan membara dan tak sabaran.
Sakura merasa ngeri sendiri melihatnya, ia seperti melihat bayangan shinigami di belakang tubuh Ibunya.
"Ayolah, bu! Aku hanya bercanda! Oh Ibuku tersayang, aku sangat senang!" Sakura bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Ibunya dan segera memeluknya erat. Sang Ibu kembali tenang dan senyum tulus hadir di sudut-sudut bibirnya. Ia balas memeluk Sakura.
"Kau senang?" tanya Ibunya dengan suara yang halus. Sakura mengangguk dengan antusias.
"Sangat senang! Selamat atas kehamilannya, bu! Terimakasih karena sekali lagi telah membuatku sangat bersyukur karena memiliki kalian berdua," ucap Sakura kembali memeluk Ibunya sangat erat.
Ayahnya tak ketinggalan untuk memberikan pelukan pada kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya, yang tak lama lagi akan bertambah jumlahnya.
Mereka bertiga tersenyum bahagia dalam pelukan hangat sebuah keluarga sejati. Sakura tak dapat membendung rasa harunya hingga tak sengaja menitikkan air mata. Sang Ibu yang melihatnya juga terbawa menangis.
Ayahnya hanya tersenyum lembut namun kebahagiaan menyiram seluruh dunianya. Dalam hati, Sakura berjanji akan selamanya membuat keluarganya dilimpahi kebahagiaan dan cinta.
.
.
.
.
.
"—ra...,"
"—kura...,"
"Sakura!"
Sakura terbangun dengan sedikit terkejut sehingga tak sadar langsung terduduk. Ia membelalakkan matanya serta meringis merasakan sakit yang tak terlalu parah pada kepala dan tubuh bagian bawahnya. Kepalanya berdenyut cukup parah, ia mengerang dan memijat kepalanya pelan dengan kedua tangannya.
"Minumlah." Sakura mengangguk kemudian menerima gelas berisi minuman bening yang ia yakini adalah air mineral kemudian meneguknya sampai habis.
"Terimakasih," ucap Sakura menoleh pada orang yang memberinya air –yang sekarang tengah duduk di sampingnya yang kini tengah menatapnya khawatir.
"Sasuke-kun."
"Sudah merasa baikkan?" Sasuke bertanya lembut namun dalam suaranya masih kental menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
Sakura mengangguk, ia memperhatikan pria di sampingnya. Sasuke sudah rapi dengan pakaian lengkap, rambutnya masih agak basah dan tubuhnya wangi.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Sakura –masih tetap memandangi Sasuke.
"Kau menangis dalam tidurmu –dan terus berkeringat," jawab Sasuke santai. Kemudian menghapus keringat di kening Sakura dengan tangan kanannya.
Sakura memejamkan matanya, ia nyaman dengan sentuhan-sentuhan Sasuke di tubuhnya. Bagaimana semalam mereka melakukan percintaan untuk pertama kali. Sasuke sangat lembut dalam memperlakukannya, walaupun memang sedikit kasar namun Sasuke tidak menyakitinya sama sekali.
Tangannya memang kasar, namun terasa menyenangkan. Setiap desahan dan erangan yang mereka keluarkan masih terasa. Bibir Sasuke yang sangat panas di seluruh tubuhnya. Sangat memabukkan.
"Sudah selesai membayangkanku?" pertanyaan Sasuke berhasil membuyarkan lamunannya, rona merah menjalar ke seluruh pipinya sampai merambat pada cuping telinganya.
Sakura mengerang pelan saat ia merasakan pangkal pahanya telah basah hanya dengan membayangkan percintaan mereka.
"Kau mengerjaiku," ucap Sakura dengan suara yang teramat pelan namun cukup jelas untuk terdengar pria maskulin di sampingnya.
Sasuke menyeringai tipis, ia menarik Sakura ke dalam pelukannya, menempatkannya di antara kakinya dari belakang. Kedua tangannya melingkar erat pada perut Sakura. Ia dapat merasakan gairah dengan cepat timbul ke puncak saat punggung telanjang Sakura di depannya kini menempel rapat di dadanya.
"Sasuke-kun, aku belum mandi!" Sakura meronta dalam pelukan posesif Sasuke agar terlepas, namun bukannya melepaskannya Sasuke malah semakin mengeratkan pelukannya hingga punggung Sakura menempel kembali pada dada Sasuke.
Sakura merasakan panas kembali menjalar ke seluruh tubuhnya saat tubuh mereka bersentuhan –bergesekan. Ia kembali mengerang saat hasratnya muncul ke permukaan. Ia meremang dalam pelukan Sasuke.
"Memangnya aku peduli," Sasuke mengeratkan pelukannya. Ia menundukkan wajahnya kemudian mencium bahu telanjang Sakura dengan lembut. Sasuke menenggelamkan wajahnya pada leher Sakura, menghirup aroma alami dari tubuh gadis itu.
Miliknya.
Perasaan frustasi serta keposesifan pada diri Sasuke memuncak akan hasrat ingin memiliki Sakura menjadi begitu menggila. Berbagai bayangan buruk dalam otak Sasuke bermunculan.
Bagaimana jika dulu Ia tidak pernah terlibat dengan dunia gelap sehingga tak akan mendengar tentang Klan Haruno? Pasti Sakura akan menjadi milik orang lain yang belum tentu menginginkan gadis itu jiwa raganya seperti Ia yang begitu gila menginginkannya, pasti hidup Sakura akan susah dan tak akan bisa bahagia.
Bagaimana jika dulu saat Ia menyerang kediaman Haruno dan tak berkeliling sebentar untuk melihat-lihat isi rumah itu dan tak menemukan kamar gadis yang sekarang tengah Ia peluk sedemikian sialan eratnya ini? Pasti Ia tidak akan pernah berniat untuk menemukan Sakura yang sangat sialnya begitu memabukkan aromanya.
Bagaimana jika dulu Sakura tak berhasil menghabisi pembunuh yang mengejarnya serta Ibunya saat melarikan diri hingga menewaskan Ibu yang sangat gadisnya ini cintai? Pasti Sakura akan tewas seperti Ibunya dan Ia akan semakin gila karena tak dapat menghirup aroma sialan gadisnya yang sangat memabukkan dan sangat Ia inginkan keberadaannya. Itu akan menjadi alasan yang kuat untuknya bunuh diri. Ia tak akan bisa hidup sedetikpun tanpa kehadiran Sakura.
Baru kali ini Sasuke merasa sangat bersyukur karena telah masuk ke dalam dunia gelap penuh darah, hanya karena seorang gadis.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sakura –memecah keheningan di antara mereka.
Sasuke mengangkat wajahnya dari leher Sakura kemudian memberikan kecupan ringan pada pipi gadisnya.
"Aku hanya bertanya-tanya, mimpi apa kau sampai membuatmu menangis dalam tidurmu? Apa ini sering terjadi?" Sasuke terpaksa berbohong, tidak mungkin Ia memberitahu tentang pemikiran-pemikirannya tadi, hal itu akan langsung membeberkan tentang perbuatannya pada keluarga Sakura.
Sakura diam tak menjawab, Sasuke merasakan tubuh Sakura menegang dan sedikit gemetar. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Sakura agar berhenti bergetar. Lama-lama tubuh gadisnya tak lagi gemetar atau tegang. Sakura telah kembali tenang.
"Aku hanya merindukan orang tuaku," Sasuke menegang mendengar jawaban Sakura.
Ternyata Sakura masih belum bisa merelakan orang tuanya. Rasa bersalah yang teramat mendalam membuncah dalam hatinya. Segala hal negatif dengan cepat menyebar dalam dirinya.
Ia kembali merunduk dan menenggelamkan wajahnya pada leher Sakura. Sasuke ingin mengubur jauh ke dalam dirinya tentang kenyataan telak di antara mereka.
Hal yang sangat Ia takutkan.
Sakura sangat menyayangi kedua orang tuanya serta seluruh orang yang menjadi bagian Klan Haruno, Sasuke tahu itu. Semua terpancar jelas pada kedua mata indah milik gadisnya. Sungguh, hal itu meremukkan hatinya terlalu dalam. Rasa sakit yang menikam yang berbeda dengan luka senjata, bahkan sakitnya melebihi itu.
"Aku sangat merindukan keluargaku," lagi– suara penuh kelembutan Sakura sangat menyiratkan kerinduan itu semakin menyakiti Sasuke. Ia tak ingin mendengar apapun tentang keluarga atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu gadisnya itu lagi.
Sakura menengokkan kepalanya ke belakang, Sasuke sudah kembali duduk tegap. Namun Ia tetap menunduk, tak berani menatap binar indah kedua mata Sakura. Ia takut mata itu dapat menggali semua kenangan dalam mata Sasuke jika mereka bertatapan.
Sakura menangkupkan kedua tangannya di pipi Sasuke, mau tak mau memaksa Sasuke untuk berhadapan langsung pada kedua manik indah milik kekasihnya. Sasuke terkejut dengan apa yang terlihat di kedua mata Sakura, kebahagiaan, ketulusan dan kasih sayang.
Kenapa Sakura memandangnya dengan tatapan seperti itu? Bukankah Ia sedih karena kehilangan seluruh keluarganya?
Sasuke bertanya-tanya pada kedua manik indah yang memancarkan kelembutan alami itu, mata yang tak pernah berbohong padanya.
Mata Sakura.
"Aku bersyukur dapat bertemu denganmu, Sasuke-kun. Aku seperti mendapat keluarga baru yang ku nantikan dari dulu. Aku sangat bahagia! Aku mencintaimu," ucap Sakura yang tak sadar menitikkan air mata.
Tangan kanannya bergeser ke belakang kepala Sasuke dan menariknya agar merunduk kemudian menyatukan bibir mereka. Sakura memberikan ciuman lembut dengan sangat sayang.
Sasuke terkejut dengan kalimat Sakura. Ia bersyukur karena bertemu Sasuke. Gadisnya sangat bahagia karena bertemu dengannya! Sasuke tak dapat membendung perasaan bahagia serta kehangatan yang diberikan Sakura padanya menyebar dari hatinya ke seluruh tubuhnya.
Sakura memberikan cintanya pada Sasuke. Sakura bersedia menjadi miliknya seorang. Sasuke membalas tak kalah lembut ciuman dari bibir manis milik kekasihnya. Sungguh momen terindah yang pernah Ia dapatkan seumur hidupnya. Segala pemikiran negatif menghilang dari otaknya.
Ternyata selama ini Ia salah, ternyata Sakura juga menginginkannya.
Sakura melepaskan tautan bibir mereka, Ia terengah-engah. Sasuke menyeringai lebar melihat Sakura kewalahan. Rona merah kembali menjalar ke pipinya, Sakura kembali membelakangi Sasuke. Sasuke menatap geli pada gadisnya, sangat lugu dan polos.
Ia kembali mengeratkan tangannya memeluk Sakura dan mengecup kecil bahu serta leher kekasihnya. Sakura tersipu. Sasuke kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Sakura. Menghirup aroma tubuh gadisnya dalam-dalam.
"Sasuke-kun," panggil Sakura lembut. Sasuke hanya bergumam menjawabnya.
"Kau sudah makan?"
"Belum," jawabnya singkat, masih menenggelamkan wajahnya pada leher Sakura.
Sakura mengerling pada jam dinding besar di kamarnya –11.00 a.m.– Kedua mata Sakura membelalak lebar. Mereka melewatkan sarapan, kemarin mereka juga melewatkan makan malam. Dan ya ampun! Ia melupakan seseorang yang juga tinggal di rumah ini.
"Gila!" maki Sakura pada diri sendiri seraya bangkit dari pelukan Sasuke, namun sayang pelukan Sasuke sangat erat hingga Ia kembali pada posisi semula. Sasuke menatapnya bingung.
"Apa yang salah?" tanyanya pelan. Sakura panik sekaligus kesal karena Sasuke tak melepaskannya.
"Ini sudah siang!" jawab Sakura sedikit kasar sembari berusaha melepaskan tangan Sasuke di perutnya. Sasuke tetap cuek dan kembali memerangkap Sakura pada tubuhnya.
"Memangnya kenapa?" Sakura semakin kuat meronta dalam dekapan lengan kekar Sasuke.
"Aku harus segera menyiapkan makan siang. Kita melewatkan makan malam dan sarapan! Ayolah... lepaskan aku, Sasuke-kun." Sakura meronta-ronta dalam pelukan posesif Sasuke.
"Naruto sudah masak tadi," jawab Sasuke santai. Ia sama sekali tak bergerak walau Sakura semakin menggila ingin dilepaskan.
"Apa? Bagaimana kau tahu? Tadi kau bilang belum makan," Sakura berhenti meronta dan membenarkan selimutnya yang sempat melorot.
"Tadi dia yang membangunkanku," Sasuke masih dengan santai menjawab. Sakura semakin panik dan was-was.
"Dia masuk ke sini?" Sasuke mengangguk. Sakura shock dengan jawaban non-verbal dari Sasuke.
"Dia tidak marah melihat kita?" Sasuke menggeleng cuek.
"Memangnya kenapa dia harus marah?" tanya Sasuke datar.
"Karena kita melakukan 'itu' di rumahnya dan kita belum terlalu lama saling mengenal," jawab Sakura malu-malu.
Kemudian Ia melanjutkan, "Ia pasti sekarang menganggapku gadis menjijikan dan murahan."
Sasuke mendengus mendengar kalimat Sakura, "Jadi kau menyesal telah melakukan 'itu' denganku –yang belum kau kenal lama?" Sakura terkejut dengan pertanyaan Sasuke yang sangat tidak beralasan itu.
"Aku tidak bilang menyesal, aku hanya takut Naruto-kun menganggapku gadis yang menjijikan dan murahan, Ia pasti tak menyangka menemukan kita dalam kamarku."
"Jadi kau hanya mengkhawatirkan Naruto yang menganggapmu menjijikan dan murahan karena melakukan 'itu' dengan orang yang belum kau kenal lama?" Sasuke bersungut-sungut marah. Sakura tidak kalah kesalnya karena Sasuke menganggapnya begitu.
"Aku tidak bermaksud begitu! Kenapa kau berpikir aku seperti yang kau katakan tadi?!" Sasuke melepaskan dekapannya dan mulai bangkit dari ranjang, melangkah menuju pintu.
"Terserah! Aku tak ingin mendengar apapun lagi," ucap Sasuke acuh seraya membanting pintu kamar Sakura dari luar.
Sakura tak percaya dengan apa yang terjadi dalam sekejap. Ia tak habis pikir dengan kesalahpahaman Sasuke yang mengartikan kalimatnya tadi. Sakura meremas selimut yang membungkus tubuhnya, wajahnya merah karena sangat kesal dan marah.
Dengan kasar Ia menyingkirkan selimut tebal dari tubuhnya kemudian melangkah menuju kamar mandi. Ia tak peduli dengan ketelanjangannya. Toh Ia yakin tak akan ada yang melihatnya karena kamar mandi berada di dalam kamarnya.
Ia tak peduli dengan rasa ngilu pada pangkal pahanya. Ia segera menyiram seluruh tubuhnya dengan air segar. Rasa lelah dan pegal-pegal terasa kembali. Tubuhnya seperti hancur rasanya.
Sakura mengisi bath up dengan air hangat, Ia juga menuangkan sedikit sabun cair beraroma terapi serta sabun anti biotik kemudian memutuskan untuk berendam sebentar agar pegal-pegal di tubuhnya sedikit menghilang.
.
.
.
.
.
"Apa yang terjadi?" Naruto bertanya pelan pada Sasuke yang mendudukkan dirinya dengan kasar di sampingnya. Naruto kembali memperhatikan tv yang menampilkan acara musik dengan stoples makanan ringan di pangkuannya.
"Tak apa, hanya kesal." Sasuke mendengus mengingat pertengkaran kecil mereka tadi.
Ia berpikir kenapa Sakura bisa sangat egois dengan mengatakan bahwa gadis itu takut dianggap menjijikan dan murahan oleh pria di sampingnya ini.
"Kalian habis bertengkar?" Naruto kembali membuka suara namun pandangannya tetap menuju tv.
"Hm.. Dobe, apa menurutmu Sakura itu menjijikan karena mau ku ajak melakukan 'itu' padahal kami belum terlalu lama kenal? Apa kau menganggapnya murahan?" Sasuke tak dapat menahan tentang pemikiran kekasihnya tadi. Sungguh membuatnya kesal dan muak.
Naruto mengalihkan perhatiannya dari tv, Ia menatap Sasuke dengan pandangan bingung.
"Kenapa kau berpikir aku begitu? Kau tidak percaya padaku lagi?" Naruto balik menatapnya serius.
"Sakura yang beranggapan begitu," jawabnya datar. Naruto menyeringai.
"Jadi sekarang kau peduli dengan perkataan orang lain?" tanya Naruto mencoba mengejek Sasuke. Sasuke melengos mengalihkan pandangannya ke tv.
"Dia bukan orang lain. Dia kekasihku," jawab Sasuke masih dengan nada yang datar. Namun Naruto tak dapat menyangkal saat Ia menangkap rona merah yang sangat tipis pada pipi Sasuke.
"Jadi sekarang kalian sepasang kekasih?" Naruto tak dapat menahan nada mengejeknya dengan seringai yang puas. Sasuke kembali mendengus.
"Hm.. ya," jawab Sasuke pendek.
"Yah... itu adalah masalah pribadi. Tidak seharusnya aku mencampuri privasimu, Teme. Tapi kau tahu sendiri kalau Sakura bukanlah gadis sembarangan," Sasuke tahu jika Naruto tengah mengajaknya berbicara serius.
"Ya. Kau tak perlu mengingatkan aku lagi. Aku muak," ucap Sasuke tajam tanpa mengalihkan pandangan dari tv.
"Awalnya aku tak menyangka kau akan bertindak secepat ini pada Sakura. Kau tahu aku mengkhawatirkanmu," Naruto berkata dengan prihatin.
Sasuke tertawa pelan, "Ironis sekali bukan? Mungkin ini karma yang harus ku terima," jawab Sasuke dengan tenang namun Naruto dapat mendengar kegetiran yang ada dalam suaranya.
"Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya. Aku janji, Sobat!" mereka berjabat tangan secara jantan. Naruto tersenyum tulus, Sasuke membalasnya dengan seringainya yang biasa.
.
.
.
.
.
"Terimakasih atas makanannya!"
Mereka bertiga telah selesai dengan makan siang. Suasana meja makan terasa sangat canggung dan kaku. Tak seperti biasanya. Sasuke tak mengeluarkan suaranya selama mereka makan, atau mungkin saat Sakura keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sederhana namun tetap cantik di tubuhnya.
Kemeja warna hijau muda berlengan panjang dengan bawahan celana jins selutut. Ia membiarkan rambutnya tergerai indah di punggungnya untuk sekedar menutupi bekas cupang di lehernya.
Beberapa kali Sakura mencoba mengajak Sasuke untuk berbicara, namun memang dasar sifat Sasuke yang terlalu kaku atau apapun itu –entahlah, Ia tetap mendiamkan Sakura hingga membuatnya gila.
Selama acara berendamnya tadi, Ia memutuskan untuk mengalah dan meminta maaf dahulu. Namun berkali-kali Ia mengucapkan maaf yang tulus pada Sasuke, tetap saja hasilnya sama.
Terabaikan.
Seolah Sakura adalah makhluk halus yang tak kasat mata. Padahal Sakura jelas-jelas menangkap Sasuke yang melirik padanya atau mencuri pandang, namun saat Ia balik menatap pria itu selalu mengalihkan pandangannya. Akhirnya Sakura memutuskan untuk mendiamkannya juga.
Sakura bangkit dari duduknya kemudian membereskan meja makan. Memindahkan peralatan yang mereka pakai untuk makan untuk dicuci. Sasuke tak membantu, Ia langsung melesat pergi, kembali menghadap tv.
Sakura masih terlalu malu pada Naruto, akhirnya Ia hanya diam saja. Hanya berbicara jika Naruto yang mengajaknya berbicara. Selebihnya hanya Ia habiskan untuk diam. Setelah selesai membereskan dapur yang dibantu Naruto sedikit, Sakura memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Sakura-chan," panggil Naruto pelan. Sakura menghentikan langkahnya kemudian memandang pada Naruto.
"Aku tidak pernah menganggapmu menjijikan atau murahan karena melakukan 'itu' dengan Sasuke. Jadi kau tidak perlu khawatir dengan pemikiran konyolmu itu lagi. Lebih baik sekarang kau menyelesaikan masalahmu dengan Sasuke. Dia memang kaku dan kasar, tapi dia lemah dengan orang yang menyayanginya," Naruto tersenyum tulus, tak memberi kesempatan pada Sakura untuk menjawab karena Ia segera meninggalkan Sakura begitu saja di dapur.
"Dasar idiot tolol! Bodoh bodoh bodoh!" maki Sakura pada diri sendiri sembari memukul kepalanya berkali-kali –walaupun hanya sebuah jitakan pelan. Ia sangat menyesal berprasangka buruk pada pria yang sudah Ia anggap sebagai malaikat penyelamatnya itu.
Oh Naruto yang baik! Puji Sakura dalam hati.
"Kau bisa amnesia kalau terus menerus memukul kepalamu seperti itu," suara berat yang berbahaya terdengar dari pintu masuk dapur.
Sakura melemparkan pandangan ke arah pintu dengan kecepatan super yang baru Ia rasakan efeknya mungkin saja bisa mematahkan lehernya.
Pria itu berdiri menjulang di tengah pintu. Tubuh yang proporsional. Garis wajah yang tajam dan berbahaya namun sangat menawan. Warna kulit yang putih bersih dan seksi. Lengan berotot yang tadi memeluknya erat.
Oh betapa indahnya pemandangan itu.
Kekasihnya yang sempurna.
Sakura mengalihkan pandangannya. Mencari-cari objek yang dapat Ia perhatikan. Apapun, yang dapat mengalihkannya dari mata kelam yang menyedotnya semakin dalam milik pria itu.
"Mengabaikanku?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada.
Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu di belakangnya. Oh, Sasuke telah menutup pintu dapur.
Bagus, bagus sekali! Sekarang aku tak bisa kabur. Batin Sakura mengumpat segala macam kebodohannya.
Ia masih belum siap menghadapi Sasuke. Ia juga masih sangat kesal karena terus menerus diabaikan. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali.
"Masih tidak mau berbicara? Apa aku perlu melakukan sesuatu agar mendapatkan perhatianmu?" Sasuke mulai beranjak dari tempatnya. Mendekati Sakura yang semakin panik serta frustasi saking bingungnya memikirkan cara agar bisa kabur.
Satu-satunya jalan keluar adalah pintu itu. Namun bagaimana Ia bisa melewati Sasuke? Membenturkan dahinya pada Sasuke agar pria itu kehilangan fokusnya dan memberinya kesempatan untuk kabur. Mungkin itu mustahil, tapi patut dicoba.
Sakura melihat pintu dan Sasuke secara bergantian. Ukuran dapur ini tak terlalu luas, sebenarnya cukup luas namun karena terdapat meja makan yang agak besar –yang membuat ruangan ini bisa dikatakan sempit.
"Tak akan ku biarkan kau kabur dariku. Memangnya aku musuhmu sampai-sampai ingin kabur segala?" Sasuke menyeringai tipis, Ia tahu dan mengerti dengan rencana kekasihnya yang ingin lari darinya, mata Sakura terus menerus melihatnya was-was bergantian dengan pintu di belakangnya. Sangat lucu, sampai-sampai Ia harus menahan tawanya agar tak lolos.
Sakura menegang karena rencananya ketahuan. Dengan terpaksa Ia menerima kekalahannya –walaupun tak ada pertandingan apapun di antara mereka. Ia menghela napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan agar tubuhnya tenang. Sakura memberanikan diri menatap Sasuke yang tengah memandangnya juga.
"Menyerah?" tanya Sasuke mencibir, Ia tak dapat menahan perasaan puas karena ketidak berdayaan kekasihnya. Sakura mengangguk dua kali. Sasuke dengan jelas melihat Sakura mencoba menahan amarahnya dengan menggigit bibir bawahnya. Oh... sangat memuaskan.
"Kemarilah," ucap Sasuke. Ia menjulurkan tangan kanannya yang terbuka, menunggu Sakura menggapainya.
"Maafkan aku," ucap Sakura tulus menundukkan wajahnya, Ia menerima uluran Sasuke.
Sasuke menggenggamnya kemudian mengangkat tangan kecil Sakura untuk kemudian mengecupnya sayang.
"Maaf diterima," jawab Sasuke santai. Ia melepaskan tangan Sakura kemudian menariknya mendekat dan memeluknya erat.
"Kenapa tadi kau mengabaikanku saat aku mencoba meminta maaf? Berkali-kali!" Sakura mendengus jengkel saat mengingat betapa kesalnya Ia diacuhkan oleh kekasihnya sendiri.
"Hm.. kupikir kau membutuhkan hukuman ringan. Dan tentu saja itu berhasil, bukan?" Sasuke menyeringai jahil, Sakura kembali mendengus.
"Oh... Tuan, sepuluh poin untukmu," cibir Sakura.
Sasuke tertawa pelan kemudian semakin menarik tubuh Sakura menempel padanya. Sakura menikmatinya, Ia menyukai bagaimana Sasuke memperlakukannya. Begitu nyaman saat kulit mereka kembali bersentuhan. Sakura menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sasuke yang mulai mencanduinya.
"Kau tahu, kakiku mulai kesemutan," ucap Sasuke datar. Sakura mendengus kesal karena momen indah yang Ia rasa belum lama –harus lenyap karena kalimat kekasihnya itu.
"Aku tahu," jawab Sakura sedikit emosi. Ia melepaskan dirinya dari dekapan Sasuke kemudian mulai melangkah keluar dapur tanpa memandang Sasuke, Sakura tahu Sasuke mengikutinya.
"Kenapa kalian cepat sekali selesainya?" tanya Naruto polos saat Sakura dan Sasuke bergabung dengannya di ruang tengah.
"Memangnya apa yang kau harapkan terjadi sampai harus memakan waktu lama?" Sasuke balik bertanya datar. Sakura bersungut-sungut tak habis pikir dengan pertanyaan Sasuke.
Mengapa Sasuke-kun sama sekali tidak peka dengan situasinya? Pikir Sakura dalam hati.
Naruto hanya mengedikkan kedua bahunya tak peduli kemudian kembali fokus pada tontonannya.
"Kalian tidak bekerja?" tanya Sakura bingung saat menyadari kalau dua pria itu tidak keluar untuk melakukan kegiatannya, padahal hari ini masih termasuk hari kerja.
Sasuke dan Naruto saling pandang, Sasuke tak berniat untuk menjawab.
"Hari ini libur," jawab Naruto santai walaupun dalam hati Ia sedikit gugup dengan pertanyaan Sakura.
"Memangnya kalian kerja apa? Hari ini kan masih hari kerja," Sakura memiringkan wajahnya penasaran.
Ia memandang Naruto menunggu pertanyaannya kembali di jawab. Sasuke tetap cuek, Ia pura-pura fokus pada tv tapi tetap mendengarkan obrolan Naruto dan Sakura.
"Emm.. Kami bekerja di bidang jasa," jawab Naruto sedikit bingung untuk memikirkan jawabannya.
Tidak mungkin Ia mengatakan pada Sakura bahwa mereka adalah pekerja gelap yang menawarkan pembalasan dendam atau apapun itu, yang pasti jika pekerjaan mereka sampai tercium pihak berwajib hal itu akan sangat tidak menyenangkan.
Dan satu-satunya jawaban yang paling mendekati pekerjaan asli mereka adalah jasa, jadi Ia tidak harus berbohong lebih jauh untuk menutupi pekerjaan mereka berdua. Lagipula jika Ia mengatakan yang sebenarnya pada Sakura, kemungkinan gadis itu tidak akan mempercayainya.
"Oh... lalu ap–" Sakura tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat dengan tiba-tiba kekasihnya menyentakkan tangannya kemudian mengajaknya berdiri.
"Tiba-tiba aku ingin mencari udara segar," ucap Sasuke datar seraya menarik Sakura dan mulai melangkah meninggalkan Naruto yang ikut kebingungan seperti Sakura.
"Tu– tunggu sebentar!" Sakura mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke yang sedikit mendekati menyakitkan, namun sosok yang menggenggam tangannya tak bergeming sedikitpun dan tetap melanjutkan langkahnya.
Sasuke berjalan sangat cepat, seperti orang terburu-buru mengejar kereta yang telah melaju yang tak mungkin bersedia berhenti sesaat untuk menunggunya naik. Hingga tak sadar membuat Sakura tergopoh-gopoh menyamai langkah kaki Sasuke yang lebar-lebar.
"Sasuke-kun!" Akhirnya Sakura dapat merasakan tangannya kembali. Mereka berhenti berjalan tepat di depan pintu kamar Sakura. Sasuke masih memunggunginya dengan kesunyian, Sakura mengurut pelan pergelangan tangannya yang terasa sedikit ngilu dan juga memerah.
"Kau itu kenapa?!" Sakura tak dapat menahan emosinya saat bertanya, suaranya meninggi tanpa ia sadari. Ia sungguh tak habis pikir dengan perilaku dan apa yang ada di pikiran kekasihnya yang sama sekali tak dapat ia mengerti.
Sakura memandangi kekasihnya yang sekarang sudah membalikkan tubuhnya dan kini menghadap pada dirinya. Sasuke balik memandangnya datar seolah sikapnya adalah hal yang paling normal yang ia lakukan dan Sakura adalah satu-satunya orang abnormal yang aneh.
"Aku hanya ingin mencari udara segar dan berencana keluar, bukankah tadi aku sudah mengucapkannya dengan jelas?" Sakura hampir memutar bola matanya malas.
"Aku tahu itu dan kau tak perlu mengucapkan kalimatmu kembali karena asal kau tahu, aku memiliki daya ingat yang kuat dan aku sangat bersyukur telah memilikinya," jawab Sakura dalam satu tarikan nafas.
Sasuke menyenderkan tubuhnya pada dinding namun tak mengalihkan tatapannya pada gadis di depannya yang tampak kesal. Sangat menggemaskan, pikir Sasuke dalam hati.
"Lalu kenapa kau menanyakannya kembali?" Tak pernah sebelumnya ia mengalami sebuah tindakan lancang seperti apa yang baru saja kekasih menggemaskannya lakukan.
Sakura dengan cepat mendekat dan berjinjit kemudian menyentil keras dahi Sasuke hingga membuatnya mengaduh pelan hingga meringis. Sasuke mengusap dahinya bekas sentilan jari lentik Sakura sambil mengumpati kekasihnya dalam hati.
"Kau mendapatkan hukumanmu?" tanya Sakura dengan seringai tipis di bibirnya pada Sasuke yang kini tengah menatapnya tajam.
"Yeah, sepertinya begitu. Walaupun aku tak tahu apa salahku," jawab Sasuke datar –masih menatap tajam kekasihnya. Sakura hanya mengangkat bahu tak peduli kemudian mengibaskan tangannya dua kali.
"Kalau kau ingin mencari udara segar, kenapa harus membawaku?" Sasuke menaikkan alisnya heran. Ia melipat kedua tangannya di dadanya.
"Well... jadi maksudmu kau keberatan ku bawa dan lebih memilih duduk berdua dengan Naruto, begitu?" Sakura membelalakkan kedua matanya terkejut.
"Ap– apa?! Tidak! Aku tidak berpikir begitu! Aku tidak mungkin lebih memilih Naruto-kun daripada kau –walaupun sebenarnya aku tak terlalu keberatan dengan Naruto-kun karena dia sudah seperti kakak kandungku, tambah Sakura dalam hati– lagipula kenapa kau selalu memancing pertengkaran di antara kita? Ok stop! Itu tidak penting! Aku hanya bingung padamu karena tiba-tiba menyeretku dengan kecepatan kuda! Kau itu membingungkan!" Sakura menyelesaikan kalimatnya yang panjang lebar dengan cepat. Wajahnya memerah karena kesal.
"Aku tidak membingungkan! Kau saja yang tidak mengerti aku!" jawab Sasuke tak kalah cepat namun tak sepanjang kalimat Sakura.
"Makanya beritahu aku! Buat aku mengertimu! Jika kau diam saja dan tak mengatakan apapun, apa yang bisa ku mengerti?" Sakura menunggu Sasuke menjawabnya, namun beberapa saat ia menunggunya, Sasuke masih tetap diam tak bergeming walaupun ia tampak seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun hanya udara kosong yang keluar.
"Terserah!" ucap Sakura tak peduli.
Sakura menghentak-hentakkan kakinya kemudian melangkah meninggalkan kekasihnya memasuki kamarnya dan membanting keras pintu tepat di hidung Sasuke.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
A/N: Haloo... saya akhirnya kembali dengan kelanjutan fanfic BL ini. Maaf bagi yang menunggu update fanfic ini. Karena saya punya pekerjaan lain selain menjadi seorang Author, jadi saya gak bisa update dengan cepat. Tapi saya tetap usahain buat nyelesain fanfic ini ataupun fanfic yang lain.
Terimakasih yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca fanfic saya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Terimakasih juga yang sudah review, menfolow, menfav, dll. Jangan lupa lakukan hal itu di chapter ini yaaa...
