Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Syukurlah Eren bisa pulang ke rumah dengan selamat tanpa ketahuan Mikasa bahwa semalam ia keluar dan bertemu dengan pemuda misterius bernama Rivaille, tapi sebagai hasil dari tidur jam setengah tiga dini hari sekarang Eren masih mengantuk. Sedari tadi ia menguap dan memakan roti dengan asal-asalan, bahkan merebahkan kepalanya di meja makan. Mikasa bingung melihat tingkah Eren seperti itu dan menepuk pundak Eren yang tertidur.

"Eren, bangun. Ya ampun, kamu sampai seperti ini. Apa kau tidak tidur dengan nyenyak?" tanya Mikasa khawatir layaknya ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

"Ah? Hmm... Aku tidak apa, huah... Hanya kurang tidur saja." jawab Eren yang terbangun dan menguap. Ia meminum air agar tidak haus.

"Begitukah? Apa kau ada misi nanti? Aku khawatir kau tidak bisa bertugas. Apa kau mau istirahat saja?"

"Tidak apa, Mikasa. Aku baik-baik saja."

Mikasa berusaha percaya dengan ucapan Eren dan ia membiarkan Eren menghabiskan sarapannya. Setelah itu mereka akan pergi ke markas untuk melaksanakan tugas mereka, terkadang mereka tidak bertugas dan hanya membantu masyarakat luas dalam beraktivitas.

Eren dan Mikasa sudah sampai di tempat berkumpul organisasi mereka, tampaknya kali ini tidak ada banyak tugas yang bisa dilakukan. Keadaan kota mereka terlihat aman dan tidak menunjukkan tingkat kejahatan yang meningkat. Mungkin akan membosankan tapi jika kehidupan damai seperti ini mereka tidak akan bekerja.

"Ah, aku bosan." keluh seorang pemuda bernama Jean Kirschtein.

"Bukankah indah jika keadaan kota damai seperti ini?" ujar seorang gadis berambut pirang, Christa Renz.

"Tapi kita tidak bertugas seharian ini. Darimana kita bisa mendapatkan uang?"

"Sudahlah, Jean. Pasti nanti ada pekerjaan," ujar Armin Arlert yang berusaha menenangkan Jean.

Jean hanya menghela napas dan ia melirik ke arah lain, lebih tepatnya ia mencuri pandang ke arah Mikasa. Sepertinya hampir sebagian teman-temannya tahu bahwa Jean menyukai Mikasa, tapi Mikasa sendiri tidak tahu atau tidak memperdulikan hal itu.

Di ruangan besar yang selalu digunakan untuk berkumpul ini hanya diisi oleh Eren, Mikasa, Jean, Armin dan Christa. Memang mereka belum mendapatkan misi hari ini, tapi namanya juga pekerjaan untuk memberantas penjahat belum tentu mereka setiap hari melakukan tugas itu. Semuanya bergantung pada misi dan kemampuan para anggota, tentu saja tidak boleh membuang nyawa para anggota yang hebat seperti ini.

Tapi terkadang saat melawan penjahat ada saja anggota yang gugur, kematiannya tidak sia-sia dan dianggap sebagai panutan. Memang jumlah pasukan yang gugur sedikit, karena sebagian besar mereka berbakat. Kecuali jika harus bertarung dengan penjahat yang sangat kejam dan psikopat, bisa saja dalam satu tim itu semuanya terbunuh.

"Apa kalian ingat saat tim Annie menyelesaikan misi untuk menghabisi penjahat di luar kota itu? Hmm siapa namanya?" ujar Jean yang tampak berpikir untuk mengingat nama penjahat itu.

"Maksudmu penjahat yang sering membunuh setelah mencuri itu?" tanya Armin.

"Iya. Aku lupa namanya, bahkan tim Annie saja gagal menjalankan misi itu."

"Tidak bisa disalahkan, penjahat itu bahkan termasuk salah satu penjahat terkuat dan semua orang ingin menghabisinya."

Mereka semua tampak membicarakan tentang kegagalan misi yang dilakukan teman mereka, Annie Leonhardt. Tapi mereka juga mengerti karena misi tim Annie saat itu sangat sulit, bahkan mereka harus kehilangan satu rekan mereka bernama Marco Bodt. Dan saat itu hanya Jean yang terlihat sangat menyesal dengan kematian sahabat baiknya itu.

Eren tampak tidak terlalu tertarik untuk ikut dalam pembicaraan itu, ia memilih untuk merebahkan kepalanya di atas meja. Ia merasa sedikit lelah, meski ia berniat untuk tidur tapi ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan sosok Rivaille yang ia temui semalam, mendadak wajahnya memerah dan ia semakin menyembunyikan wajahnya. Untung saja tidak ada yang sadar dengan tingkah Eren itu.

.

.

.

Akhirnya Eren, Mikasa, Armin, Jean dan Christa pergi ke kota untuk membantu para masyarakat. Sebenarnya jika mereka tidak memiliki misi seperti sekarang, mereka hanya akan membantu masyarakat dengan membantu manula atau membantu untuk mengurusi gereja disana. Mereka melakukan kegiatan sosial lainnya agar bisa bersosialisasi dengan masyarakat dan masyarakat dapat mempercayai semua anggota Recon Corps.

Sekarang Eren dan Mikasa membantu untuk membawakan beberapa buku ke dalam gereja di pusat kota, buku-buku yang diminta cukup banyak dan mereka sudah beberapa kali bolak balik dari gudang ke dalam gereja.

Mikasa sudah memasukkan buku-buku terakhir ke dalam gereja, ia menghela napas bahwa tugasnya sudah selesai tapi ia tidak melihat Eren disampingnya. Ia mencari Eren dan melihat Eren masih berdiri di depan pintu gereja, tapi pandangan matanya ke arah jalanan.

'Apa yang dia lakukan?' batin Mikasa bingung.

Eren yang membawa buku-buku itu tidak segera masuk ke dalam gereja dan ia hanya berdiri di depan pintu. Tentu saja, ia menangkap sosok yang ia sangat kenal. Sosok pemuda berjubah hitam dengan pedang di sisi kirinya, Rivaille. Matanya terus terarah kepada sosok yang bahkan tidak menyadari keberadaannya.

Jarak Eren berdiri dan Rivaille yang berjalan memang sedikit jauh, tapi Eren bisa melihat sosok Rivaille di balik kejauhan seperti itu. Mungkin karena Rivaille satu-satunya yang memakai pakaian seperti itu, ingin rasanya ia memanggil pemuda itu dan berbincang bersama lagi. Tapi ia merasa malu.

"Eren!" panggil Mikasa yang sekarang sudah berada disampingnya.

"Huwaa, Mikasa?! Kau membuatku kaget saja." ujar Eren yang menghela napas lega.

"Kamu kenapa diam saja disitu? Ayo bawakan buku itu ke dalam."

"Iya iya."

Eren berjalan untuk masuk ke dalam gereja dan membawa buku itu. Tapi mata emerald-nya masih memandang ke arah jalanan tadi dimana sosok Rivaille berada, ia sedikit terkejut saat melihat Rivaille juga memandang ke arahnya lalu berjalan lagi.

'DEG'

Eren sampai terdiam dan merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa, ia buru-buru masuk ke dalam gereja untuk membawakan buku itu ke dalam. Sedangkan Mikasa sempat melihat ke arah Eren dan pemuda misterius yang ia lihat itu, ia curiga dengan pemuda itu. Tapi ia membiarkannya dan ia menyusul Eren.


Beberapa hari telah berlalu dan Eren sudah lama tidak bertemu dengan sosok Rivaille, entah kenapa ia merindukan pemuda yang baru dua kali ia temui itu. Jika saat Eren memperhatikan Rivaille dan mereka saling berpandangan itu dihitung berarti sudah tiga kali mereka bertemu. Eren tidak bisa menghilangkan sosok itu dari pikirannya.

"Ada misi baru untuk kalian!" ucapan Keith Shadis membuyarkan lamuyan Eren tentang Rivaille. "Kalian harus menyelidiki tentang kejadian ini. Kemarin ditemukan seorang pria yang tewas mengenaskan di dalam kamarnya."

"Apa itu tugas biasa?" tanya Jean langsung.

"Jangan menyela ketika saya masih berbicara, Kirschtein!"

Dan Jean seketika memilih diam daripada atasannya ini malah memberinya hukuman, semua yang mendengar ucapan Keith Shadis itu terdiam dan memilih untuk mendengarkan dengan seksama.

"Ini baru perkiraan, tapi sepertinya Dark sudah mulai berulah lagi." ujar Shadis.

"Dark?" tanya Mikasa.

"Dia adalah target utama di timku dulu," ujar Annie pelan. "Dia yang membuat timku gagal menjalankan misi."

Semuanya terdiam mendengar ucapan Annie, berarti seseorang bernama Dark ini adalah penjahat yang sangat kuat juga sadis. Terbukti dengan kegagalan misi tim Annie beberapa waktu lalu.

"Tapi saya sendiri juga belum bisa memastikan. Hanya saja dari yang saya lihat di tempat kejadian kemarin bahwa pria itu dibunuh dan semua perhiasannya raib." Shadis menjelaskan situasi di tempat kejadian kemarin.

"Berarti dia mencuri perhiasan lebih dulu dan agar tidak dilaporkan kepada pihak keamanan, sang penjahat membunuh pria itu." gumam Armin.

"Analisa yang tepat, Arlert. Tapi belum ada jaminan bahwa Dark adalah pelakunya. Jika dia memang pelakunya, saya akan mengerahkan kalian untuk menangkapnya. Mikasa Ackerman, Annie Leonhardt, Sasha Braus, Eren Jaeger, Jean Kirschtein dan Armin Arlert mulai sekarang kalian tergabung dalam satu tim. Kalian akan menyelidiki kasus ini, ini adalah misi kalian. Apa kalian mengerti?"

Keenam orang yang dipanggil namanya itu mengangguk dan mereka mengerti dengan misi yang diberikan kali ini. Jean terlihat bersemangat, akhirnya ia kembali mendapatkan misi setelah beberapa hari terakhir menganggur begitu saja. Annie hanya terdiam, sepertinya ia terlihat sangat serius dengan misi yang diberikan kali ini.

Keith Shadis berjalan meninggalkan mereka semua, beberapa rekan yang lain tampak terdiam mendengar misi yang diemban keenam rekannya itu. Ini bukan misi sembarangan, jika pelakunya adalah Dark berarti sama saja seperti mereka berhadapan dengan kematian.

"Bisakah kau menceritakan lebih jelas saat kau menghadapi Dark? Apa yang terjadi dengan timmu Annie?" tanya Armin pada Annie.

"Dia itu... sadis. Aku hanya bisa memberikan info itu saja kepada kalian." jawab Annie pelan.

Mikasa dan Eren terdiam mendengarnya, tapi Sasha tampak tidak terlalu khawatir karena ia masih sempat memakan kentangnya dengan nikmat. Christa yang melihat keenam temannya mendapat misi yang cukup sulit membuatnya merasa beruntung tidak ditugaskan dalam misi itu, meski ia merasa khawatir dengan teman-temannya itu.

Mereka memang mengingat misi tim Annie dulu. Beberapa rekan mereka di tim Annie pulang dengan keadaan penuh luka saat melakukan misi untuk menangkap Dark, bahkan Marco sampai tewas. Terbukti sudah kesadisan Dark itu seperti apa. Siap-siap saja mereka memberikan nyawa jika mereka tidak berhati-hati.


Matahari sudah terbenam dan bergantian dengan bulan untuk menerangi malam. Malam ini memang terasa sunyi, padahal sekarang masih jam delapan malam. Setelah makan malam Eren memutuskan untuk keluar dan Mikasa hanya membiarkannya saja, lagipula Eren juga membawa senjatanya jadi pasti akan aman.

Eren memutuskan untuk pergi menuju bukit itu, disana tidak ada siapa siapa. Hanya ada angin malam yang berhembus dengan damai. Eren menghela napas dan ia mengeluarkan pistol miliknya itu, pistol yang ia pakai jika ia bertugas untuk melakukan misi.

Eren melihat ke arah bulan dan ia mengarahkan pistolnya ke arah langit lalu menembaknya, entah apa yang ia pikirkan saat melakukan hal itu. Tapi ia merasa dengan menembak seperti tadi membuatnya lebih lega.

"Meski tidak mau memikirkannya tetap saja aku memikirkannya." gumam Eren.

Ia teringat dengan ucapan rekan-rekannya mengenai penjahat yang sadis itu, Dark. Penjahat yang mencuri perhiasan lalu membunuh orang yang dirampok perhiasannya dengan cara yang keji. Apalagi Annie sendiri yang mengatakan bahwa penjahat itu sadis, meski Eren tidak menyimak dengan benar tapi jika Annie sampai berkata seperti itu berarti musuh mereka kali ini sangat kuat.

'Apa aku bisa mengalahkannya?' batin Eren yang menyimpan pistolnya itu.

Eren menghela napas dan ia memutuskan untuk merebahkan diri di bawah pohon, ia melihat ke arah langit malam dan bulan yang bersinar dengan terang. Pesona bulan dengan cahaya yang menerangi malam itu tidak pernah membuat Eren bosan melihatnya, tentu saja ia tidak bisa melihat matahari secara langsung.

Eren mulai memejamkan matanya, angin malam seperti ini terasa sangat sejuk. Ia tidak menyangka akan menyukai saat-saat berbaring di bawah pohon ketika malam hari seperti ini, tapi tidak apa hanya sesaat saja.

Sepertinya Eren terlelap dan ia tertidur, buktinya ia tidak menyadari langkah kaki yang berjalan di bukit itu dan mendekat ke arahnya. Pemuda itu sedikit terkejut melihat Eren tertidur di bawah pohon, ia memperhatikan wajah tidur polos itu.

"Eren." panggilnya dengan suara yang khas.

Siapa lagi kalau bukan Rivaille yang memanggil Eren di tempat seperti ini, Mikasa jarang menyusul Eren disini kecuali jika sudah benar-benar malam. Rivaille duduk disamping Eren dan ia memperhatikan wajah Eren dengan seksama.

Wajah tidur yang polos seperti anak kecil, wajah yang terlihat damai. Rivaille menyentuh rambut coklat Eren dan membelainya lembut, sepertinya Eren benar-benar tertidur saat ini. Rivaille menatap datar ke arah Eren dan memperhatikan Eren yang masih memakai kemeja putih dengan dasi hitam dan jas serta celana panjang hitam.

Rivaille tersenyum melihat penampilan Eren seperti ini, penampilan yang sama saat ia melihat Eren di depan pintu gereja waktu itu. Memang itulah seragam anggota organisasi Recon Corps, Rivaille terdiam dan ia masih membelai rambut Eren lembut.

"Aku tidak menyangka bahwa kau tergabung dalam kelompok itu." gumam Rivaille.

Ia hanya memperhatikan wajah Eren yang tampak damai itu, anak itu memang menarik perhatiannya. Rivaille sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa merasa tertarik dengan Eren. Ia memang tahu Eren itu berbeda dari yang lainnya, ia bisa merasakannya. Tapi ia tidak menyangka bahwa rasa tertarik itu semakin bertambah saat ia melihat Eren tertidur seperti ini.

"Kau seperti putri tidur."

Rivaille menatap wajah Eren, ia mendekatkan wajahnya pada Eren dan mencium bibir Eren. Rivaille menempelkan bibirnya dengan bibir Eren dan tidak lama ia melepaskan ciuman itu, rasa ciuman yang berbeda. Ia belum pernah merasa seperti ini, hangat dan manis bercampur menjadi satu dalam ciuman tadi. Padahal Eren tidak membalas ciumannya.

"Kau memang menarik."

Akhirnya Rivaille bangun dari posisi duduknya dan ia memutuskan untuk meninggalkan Eren sendirian disana. Ia tidak ingin mengganggu waktu tidur Eren, lebih baik rasanya jika ia pergi meninggalkannya. Lagipula kepergok saat mencuri ciuman itu sungguh memalukan.

.

.

.

Eren terbangun dari tidurnya, ia tidak menyangka akan ketiduran di tempat seperti ini. Ia melihat sekelilingnya, hanya ada dirinya sendirian saja di tempat seperti ini. Ia menghela napas dan melihat ke arah langit malam yang cerah itu.

Eren melirik ke arah pohon diatasnya, tapi ia tidak melihat sosok Rivaille disana. Wajahnya memerah karena ia memikirkan Rivaille, ia tidak tahu kenapa ingin sekali melihat sosok pemuda itu. Memang sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, entah kenapa Eren merasa ada sesuatu yang hampa.

"Rivaille..." gumam Eren memanggil nama pemuda itu.

Mendadak wajah Eren memanas, ia merasa malu. Ia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak kencang hanya karena memanggil nama Rivalle. Apa... ia mulai tertarik kepada Rivaille? Lebih tepatnya menyukainya?

"Aku tidak tahu..." gumam Eren.

Ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan ingin tidur, lagipula lebih nyaman tidur di ranjang yang empuk daripada di padang rumput seperti ini. Eren melangkahkan kakinya menuju rumahnya tanpa ia sadari bahwa saat ia tidur tadi ada suatu hal yang pasti akan membuatnya malu jika melihatnya sendiri.


Hari ini Mikasa, Eren, Jean, Armin, Sasha dan Annie akan melakukan misi mereka. Pertama mereka akan mengumpulkan beberapa bukti. Di kota mereka sudah ada dua orang yang tewas dan perhiasaan mereka dicuri, kemungkinan pelakunya adalah orang yang sama dengan kejadian pertama kali. Tapi masalahnya pencuri itu pintar untuk tidak meninggalkan jejak.

Sekarang mereka berenam berada di sebuah rumah yang cukup luas, rumah dari korban kedua yang tewas. Mereka memeriksa isi rumah itu, tapi tidak ada apa-apa. Hanya beberapa perhiasan yang menghilang dan semuanya tampak berada pada posisi semula, tidak bergeser sedikitpun.

"Belum pernah ada kejadian seperti ini." gumam Sasha.

"Pelakunya cukup ahli, semua barang-barang tetap pada posisi semula. Meski dia mengambil perhiasan tapi dia menaruh tempatnya dengan rapi. Profesional." ujar Armin yang melihat-lihat sekeliling.

"Kita simpulkan saja dia pencuri ulung." tebak Jean.

Annie memperhatikan korban yang telah tewas itu, meski tewas mengenaskan tapi dibuat seperti kecelakaan. Tidak ditemukan juga benda tajam yang digunakan untuk membunuh, semuanya terlihat sangat rapi. Sangat bersih untuk ukuran seorang pencuri yang melakukan aksi kotor.

Eren terdiam dan ia membantu teman-temannya untuk menyelidiki kasus ini. Tapi meski ini misi yang harus mereka lakukan, mereka tidak bisa bergerak untuk membunuh pelakunya. Mereka belum menemukan petunjuk yang mengarah kepada pelakunya. Meski Eren berusaha membantu, tapi pikirannya melayang kemana-mana.

"Eren." panggil Armin.

Tapi yang dipanggil hanya terdiam saja.

"Eren..."

Sekali lagi, Eren masih terdiam.

"Eren Jaeger!"

"Iya!"

Akhirnya Eren menjawab panggilan Armin dengan suara yang sedikit berteriak, Armin tersenyum tipis tapi ia merasa khawatir melihat temannya yang sedari tadi diam saja. Ia menatap Eren.

"Ada apa denganmu? Aku memanggilmu tapi kau diam saja." ujar Armin.

"Ah, tidak ada apa-apa kok." jawab Eren.

Armin terdiam dan tidak bertanya lebih jauh, lagipula ia merasa tidak pantas bertanya lebih jauh lagi. Ia melihat teman-temannya yang tampak selesai memeriksa seluruh isi rumah ini.

"Memang tidak ada bukti lain yang tertinggal. Semuanya terlihat normal." ujar Mikasa.

"Kalau begini caranya kita tidak bisa menemukan pelakunya." keluh Jean yang melipat tangannya.

"Aku tahu pelakunya." ujar Annie tiba-tiba.

"Oh ya? Siapa?" tanya Sasha.

"Dark."

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Annie. Ucapan Annie sama seperti Sir Keith Shadis yang memperkirakan Dark sebagai pelaku dari dua kejahatan ini. Tapi mereka juga tidak bisa membenarkan ucapan itu, mereka belum menemukan bukti yang kuat.

"Tapi kita tidak punya bukti yang kuat." ujar Armin.

"Itulah jawabannya. Dark akan membuat kita tidak bisa menemukan bukti apa-apa," ujar Annie menjelaskan. "Ia melakukan kejahatan dengan rapi seperti ini."

"Lalu bagaimana cara timmu bisa menemuinya?" tanya Sasha penasaran.

"Kami melihatnya sendiri. Kami memperkirakan siapa target berikutnya. Dia mengincar orang-orang kaya yang memiliki banyak perhiasan, setelah mencuri perhiasannya dia membunuh orang itu."

"Kalau begitu harusnya waktu itu kau bisa mencegahnya kan?" ujar Eren.

"Dia melakukannya dengan cepat. Bahkan aku dan Reiner kesulitan untuk mengejarnya."

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Annie. Tim Annie waktu itu terdiri dari Annie, Reiner, Bertholt, Ymir, Connie dan Marco. Mereka berenam tidak cukup kuat untuk mengalahkan satu penjahat itu. Bahkan mereka semua terluka karena melawan Dark dan Marco tewas karena terlambat menghindar serangannya. Dark itu musuh yang cukup kuat dan termasuk ke dalam urutan penjahat yang paling diincar.

"Jadi sekarang kita harus mencari cara agar bisa tahu dimana ia akan muncul lagi." ujar Armin.

Mereka semua meninggalkan rumah ini dan kembali ke markas Recon Corps, mereka akan menyusun cara untuk setidaknya bisa mengetahui siapa pelaku di balik kejahatan ini. Armin menjelaskan taktiknya kepada teman-temannya, mereka semua mendengarkan dengan seksama.

.

.

.

Malam ini tim Mikasa akan melaksanakan pengintaian terhadap beberapa orang yang kemungkinan menjadi target dari sang pencuri itu. Karena satu tim mereka ada enam orang, lebih memudahkan agar mereka memisahkan diri dan dan mengawasi enam orang yang kemungkinan adalah target Dark malam ini.

Jika Dark tidak muncul malam ini, mereka akan terus melakukannya hingga ada pergerakan penjahat yang masuk ke dalam rumah salah satu orang dari enam orang yang mereka awasi. Tentu mereka tidak memberitahu orang yang mereka awasi agar mereka juga tidak keberatan.

Rencana Armin ini memang sedikit beresiko dan menguras banyak waktu juga tenaga, tapi patut dicoba daripada tidak melakukan apapun sama sekali. Sekarang mereka berenam mulai memisahkan diri dan mulai mengawasi keenam orang yang mungkin menjadi target menurut Armin.

Di kota mereka ini banyak juga orang-orang kaya karena tempat ini makmur dengan hasil panen yang cukup menjanjikan. Jadi tempat ini bisa dijadikan sebagai ladang panen bagi Dark untuk mencuri dan membunuh sekaligus.

Sekarang semuanya sudah berada di tempatnya masing-masing, tidak ada yang bergerak untuk meninggalkan posisi mereka. Semuanya berusaha menjalankan tugas dengan serius, jika sampai jam satu dini hari tidak ada pergerakan mereka akan pulang dan melanjutkannya esok hari.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, sama sekali tidak ada pergerakan di rumah yang mereka semua awasi. Rata-rata orang yang mereka awasi memiliki aktivitas yang sama saat ini yaitu tidur, tapi orang yang Eren awasi tampak berkutat dengan beberapa kertas. Ia mengawasi seorang wartawan terkenal.

Sasha tampak bosan mengawasi dan ia memakan kentangnya agar tidak lapar, Mikasa tetap mengawasi dengan seksama begitu juga dengan Annie, Jean yang tampak bosan dan hanya memandang langit saja. Armin juga mengawasi dengan seksama meski sesekali ia menguap.

Hari sudah semakin malam dan sekarang sudah jam 12 tengah malam, sebagian besar dari mereka tidak melihat gerakan mencurigakan baik di kamar orang yang mereka awasi atau di tempat lain. Sepertinya Dark tidak akan muncul malam ini, tapi masih ada waktu satu jam lagi untuk memastikan. Jika Dark tidak muncul, maka mereka akan pulang dan melakukan hal ini lagi besok malam.

"Huah... Aku ngantuk..." gumam Eren pelan.

Orang yang dia awasi sudah tertidur di atas mejanya dengan kertas-kertas yang tampak berantakan di meja. Eren melirik sekilas ke arah pria itu dan ia memperhatikan langit malam. Lagi-lagi ia melihat bulan, entah kenapa jika ia melihat bulan ia terbayang sosok Rivaille. Mukanya mendadak memerah karena memikirkan pemuda itu.

'Aku in kenapa ya?' batin Eren malu.

Ia selalu menunjukkan reaksi yang sama ketika ia memikirkan Rivaille. Mereka belum mengenal lebih jauh satu sama lain, Eren sama sekali tidak tahu tentang Rivaille begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa memikirkan pemuda itu membuatnya merasa aneh seperti saat ini.

'Apa aku benar-benar menyukainya?'

Eren kembali melihat langit dan ia hanya tersenyum tipis. Jika ia memang menyukai Rivaille, apakah ia harus mengatakannya kepada pemuda itu? Bahkan ia tidak tahu dimana dan kapan ia bisa bertemu dengan pemuda itu. Rivaille terlalu misterius jika dipikirkan baik-baik.

Tapi Eren tidak merasa keberatan dengan Rivaille yang terlihat misterius itu, justru ia merasa menyukai Rivaille apa adanya. Cinta itu memang tidak mengenal kekurangan orang yang dicintai ya?

Saat Eren kembali melihat ke arah langit sekilas ia melihat bayangan hitam yang melompat melewati bangunan. Ia terdiam dan berusaha memfokuskan pandangan matanya itu.

'Apakah itu Dark?' batin Eren.

Ia mulai menyembunyikan diri di belakang rumah orang yang ia awasi. Pokoknya ia mencari tempat yang tidak mudah terlihat oleh orang-orang, ia harus bersembunyi saat ini. Pilihannya jatuh kepada sebuah tong besar, ia membuka tutup tong itu. Syukurlah tidak ada apa-apa disana, ia masuk ke dalam dan menutup tong itu.

Ia tidak bisa melihat karena gelap tapi karena ada lubang kecil setidaknya ia bisa mengintip untuk melihat ke arah luar meski tidak jelas. Ia mendengar langkah kaki yang berjalan dan membuka pintu, ia tidak tahu siapa itu.

Tapi langkah kaki itu terus menjauh hingga tidak terdengar, sepertinya orang itu masuk ke dalam rumah. Eren ingin keluar dari tong itu karena ia merasa sudah aman, akhirnya ia keluar dengan perlahan dan melihat pintu belakang yang terbuka.

'Ada yang masuk ke dalam. Aku akan menyusulnya.'

Eren ingin masuk ke dalam untuk memastikan apakah ada orang yang masuk, ia memutuskan untuk melangkah dengan pelan. Ia juga tidak bisa menimbulkan bunyi yang mencurigakan, jika benar Dark yang ada di dalam pasti ia akan menghadapinya.

Ia menyiapkan pistolnya, untung saja ia sudah mengisinya dengan peluru yang cukup dan membawa cadangan hingga tidak akan kehabisan peluru jika ia harus melumpuhkan Dark nanti. Tapi mengingat tim Annie dulu sulit menghentikannya apalagi ia yang hanya sendirian saja. Armin memang tidak menyarankan untuk berhadapan langsung dengan sang penjahat, hanya perlu mengawasi dan mencari tahu ciri-ciri penjahat itu jika berhasil melihatnya.

Eren menaiki tangga perlahan dan ia mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Sepertinya penjahat itu sudah mulai beraksi, Eren menelan ludah dan ia berusaha berjalan dengan perlahan. Ia sudah tahu dimana letak kamar orang itu, jika ia kesana ia pasti akan bertemu dengan penjahat itu.

Apakah ia harus kesana? Iya atau tidak? Hanya sekedar memastikan. Eren memutuskan untuk mendekati kamar itu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah terjadi. Ia sudah tiba di kamar pria itu dan ia melihat pria itu bersimbah darah di meja kerjanya, tapi tidak ada siapa-siapa di dalam kamar itu. Buru-buru ia mendekati pria itu dan melihatnya.

"Dia sudah tewas." gumam Eren pelan.

Eren melihat sekeliling, tampaknya ia sempat lengah dan melupakan fakta bahwa kemungkinan Dark masih ada di tempat ini. Ia memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja, sosok Eren tertutupi oleh kaki pria yang telah tewas itu.

Ia mendengar langkah kaki dan beberapa bunyi berisik yang cukup berirama, mungkinkah itu perhiasan yang berhasil dicuri? Berarti pria ini tidak menaruh perhiasannya di dalam kamar.

Eren ingin keluar untuk melihat sosok pembunuh itu tapi ia memutuskan untuk masih berada di tempat persembunyiannya. Ia mendengar suara jendela yang dibuka dan seperti suara orang yang melompat.

'Jangan-jangan dia kabur?' batin Eren.

Eren langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan ia melihat sekilas sosok serba hitam yang sedang melompat dari satu atap ke atap rumah lainnya. Eren memang tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas, apalagi sosok itu juga sudah sangat jauh tapi ia merasa bisa membantu teman-temannya dengan melihat sosok penjahat itu.

Benarkah? Tapi pikiran Eren tidak tenang sekarang. Ia merasa seperti tidak asing dengan penampilan seperti itu. Di dunia ini memang banyak orang yang berpenampilan sama, Eren tidak bisa membuat persamaan begitu saja sang penjahat dengan... Rivaille.

"Tidak mungkin..." gumam Eren yang berusaha tersenyum dan ia pergi meninggalkan rumah ini.

.

.

.

Tidak terasa sudah jam satu dini hari. Sebelum mereka semua pulang ke rumah masing-masing, mereka berkumpul di satu tempat untuk memberi kabar tentang apa yang mereka lihat. Eren merasa ia memiliki informasi yang cukup untuk teman-temannya, setidaknya.

Mereka semua berkumpul dan Armin menatap ke arah teman-temannya. Ia tahu wajah teman-temannya tampak lelah.

"Jadi bagaimana dengan keadaan kalian?" tanya Armin. "Aku tidak menemukan hal mencurigakan."

"Aku juga." ujar Mikasa.

"Sama." tambah Annie.

"Sama denganku. Orang yang kuawasi malah tidur dengan nyenyak." ujar Jean yang mengangkat bahu dengan santai dan tersenyum.

"Aku juga... Bahkan sampai kentangku habis tidak ada gerakan yang mencurigakan." ujar Sasha.

Mereka semua menatap Eren yang hanya terdiam, Eren menatap teman-temannya dengan wajah yang sedikit menyiratkan kewaspadaan.

"Apa yang terjadi Eren?" tanya Mikasa langsung.

"Aku... orang yang kuawasi terbunuh." jawab Eren.

Mereka semua terkejut mendengar ucapan Eren, berarti analisa Armin cukup tepat. Tapi mereka tidak menyangka akan mendengar hal itu, berarti gerakan sang penjahat cukup cepat. Ia mulai membunuh secara berurutan dari kemarin.

"Aku hanya melihat penjahatnya sekilas karena aku bersembunyi agar ia tidak menemukanku. Sosok serba hitam." ujar Eren lagi.

"Itu pasti dia. Sudah pasti. Dia adalah Dark." ujar Annie tegas.

To Be Continued

A/N: Halo minna-san, akhirnya aku update lagi...^^

Terima kasih banyak kepada yang sudah memberi review, fave dan follow fic ini. Aku senang sekali kalian menyukai cerita ini, sebenarnya baru kali ini aku menulis dengan tema seperti ini jadi awalnya agak ragu apakah dapat menulis dengan baik atau tidak.

Untuk yang memberi review, aku mengucapkan terima kasih lewat PM. Untuk Azure'czar ada beberapa pertanyaanmu yang terjawab disini, tapi ada yang belum bisa aku jawab karena akan terjawab jika kamu mengikuti ceritanya...^^

Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya...^^