"Apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba saja seseorang yang kau tunggu selama ini datang dan akan tinggal serumah denganmu?"
"Aku akan menerimanya dengan senang hati jika itu terjadi padaku."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Bahagia."
"Baiklah, kalau begitu aku juga akan menerimanya dengan senang hati. Karena aku juga bahagia."
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
HEARTBEAT © Evellyn Ayuzawa
Title: Heartbeat [Chapter 2]
Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)
Genre: Romance, Drama, School-life
Length: Chaptered
Rate: M (for Mature Content)
Cast:
Naruto U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-Normal Pov.-
.
.
.
.
.
"Bagaimana masakanku?" Tanya Naruto dengan mata yang berbinar-binar setelah Sakura mencoba masakannya.
"Enak," Jawab gadis itu tanpa memandang orang yang bertanya.
Mereka berdua tengah berada di ruang makan yang menyatu dengan dapur. Menyantap makan malam yang sebelumnya telah dibuat oleh Naruto.
Tidak banyak perbincangan di antara mereka.
Sakura hanya berbicara jika Naruto menanyainya sesuatu –misalnya tadi tentang masakannya. Selebihnya, mereka hanya diam sambil tetap menyantap makanan yang telah tersaji.
"Aku sudah selasai. Terimakasih makanannya," Ucap Sakura yang telah menyelesaikan makannya.
Ia segera beranjak dari duduknya, menuju ke tempat cucian piring dengan membawa serta piring bekas makanannya.
Naruto hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.
"Susu?" Tanya Naruto, setelah Sakura kembali ke meja makan dan meletakkan segelas susu putih di samping piring Naruto.
"Kau sudah tidak suka minum susu?" Sakura bertanya balik pada Naruto. Ia telah kembali duduk di bangku meja makan yang berseberangan dengan posisi Naruto.
Naruto tersenyum lembut. "Aku masih menyukainya, tak ku sangka saja kalau kamu masih mengingatnya."
Naruto mulai meneguk susu tersebut hingga tersisa setengah gelas.
"Ya, aku masih mengingatnya..." Sakura terdiam.
Mana mungkin aku tak mengingatnya, itu 'kan kesukaanmu, lanjut Sakura dalam hati.
Naruto tak membuka suaranya lagi, ia kembali melanjutkan makannya.
Sakura meletakkan kedua tangannya di meja, tangan kanannya menyangga wajahnya.
Ia mulai memperhatikan apa saja dari lelaki di depannya itu.
"Kau terlihat semakin dewasa," Ucap Sakura dengan suara yang telah ia perjuangkan agar terdengar datar, dalam hati, Sakura tengah menahan gejolak emosi saat mengucapkan kalimat barusan.
Naruto tersenyum –kembali memandang Sakura.
"Usiaku sudah 27th, Saku. Aku sudah dewasa," Ucap Naruto singkat –masih dengan senyum lembut yang mengembang di bibirnya. "Dan semakin tampan," Naruto menambahkan.
Ia kemudian beranjak dari duduknya, membawa serta piring bekas makannya ke tempat cucian piring.
"Taruh saja di situ, akan ku cuci." Sakura bangkit dari posisinya kemudian melangkah menuju Naruto berada –di depan tempat cuci piring.
Segera setelah sampai, Naruto memberi ruang di sampingnya untuk gadis itu.
Sakura mengenakan sarung tangan karet khusus untuk cuci piring.
Tanpa mempedulikan Naruto yang masih berdiri di sampingnya, ia mulai mencuci satu per satu piring-piring kotor.
Naruto hanya memandangi apa yang dilakukan Sakura.
Beberapa saat kemudian, Naruto beranjak dari samping Sakura.
Sakura kira bahwa lelaki itu kembali duduk di bangku meja makan. Ia menghela nafas panjang –lega, karena ia tidak akan merasa tidak nyaman seperti Naruto yang memandanginya tadi.
Grep
"Ehh..." Sakura sedikit mengeluarkan suaranya, ia terkejut dengan apa yang Naruto lakukan padanya.
Naruto menyelipkan kedua tangannya di pinggang Sakura kemudian mengaitkan keduanya. Ia mendekap erat gadis itu dari belakang.
"Na... ru...," Panggil Sakura sedikit canggung.
Hatinya berdebar-debar tak karuan kala kepala lelaki tersebut berada di lehernya.
"Hmm..." Naruto hanya bergumam menyahuti panggilan Sakura.
"Eungghhh...," Lagi, Sakura mengeluarkan erangan halus dari bibirnya ketika Naruto mulai menyesap lehernya dari kanan.
Ia tak bisa bergerak barang sedikitpun. Tubuhnya kaku dan sulit digerakkan.
Naruto kembali menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari gadis yang tengah didekapnya itu, "Tubuhmu sangat wangi."
Kedua tangan Sakura yang masih terbungkus sarung tangan karet yang sekarang masih memegang piring dan spons penuh sabun itu terasa lemas.
Apa yang dilakukan Naruto sangat tidak terpikirkan olehnya.
"Naru... aku masih mencuci," Ucap Sakura sedikit tegas.
Naruto tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Tubuh Sakura semakin panas kala Naruto tetap melakukan hal-hal tadi.
"Apa sudah ada pria lain yang menyentuhmu?" Tanya Naruto masih tetap menempelkan bibirnya di leher Sakura.
Beberapa ruam kemerahan telah muncul di leher itu.
"Enghh...," Sakura tidak menjawab. Hanya erangan lembut yang terdengar.
"Baiklah, nanti saja jawabnya. Selesaikan mencucimu dulu, aku mau mandi." Naruto melepaskan pelukannya pada Sakura, kemudian melangkah menjauh dari dapur.
Seketika itu pula, Sakura jatuh terduduk karena kakinya sudah terlalu lemas.
Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya –tak peduli dengan sarung tangan karet yang basah dan terlumuri sabun- agar tak menjerit histeris dengan apa yang telah terjadi padanya barusan.
.
.
.
.
.
"Saku, kau sedang apa? Keluarlah!" Naruto mengetuk pintu kamar Sakura berkali-kali, namun sang pemilik sepertinya sedang tidak mau diganggu. Terbukti tak ada satupun tanggapan dari Sakura.
Setelah Sakura memastikan bahwa Naruto telah berada di kamar mandi, ia cepat-cepat menyelesaikan cuciannya itu lalu bergegas menuju kamarnya.
Ia menguncinya dari dalam. Seketika itu pula, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya lalu membekap mulutnya dengan bantal. Ia berteriak sejadinya.
Kesal karena terus-terusan diacuhkan oleh Sakura, Naruto menyudahi aktifitasnya itu –mengetuk pintu kamar Sakura.
Ia memutuskan untuk keluar, tujuannya hanya mini market. Mungkin membeli beberapa cemilan, karena hampir tak ada makanan ringan sedikitpun di rumah Sakura.
Naruto memilih apa saja yang ingin ia beli. Setelah dirasanya cukup, ia membawa belanjaannya di kasir.
Dengan santai, Naruto berjalan kembali ke rumah Sakura sembari menyesap rokoknya.
Ia tak menyangka akan membawa sekantung besar belanjaan. Padahal tadi ia yakin hanya membeli sedikit. Aneh, pikirnya dalam perjalanan pulang.
Saat sampai di halaman rumah Sakura, ia berhenti sejenak sebelum membuka pagar. Ia melihat dua gadis berada di halaman rumah.
Naruto melanjutkan membuka pagar lalu memutuskan untuk menanyai dua gadis tersebut, "Cari siapa?"
"KYAAAA!" teriak dua gadis itu karena terkejut melihat seorang pria dewasa di hadapan mereka.
Naruto ikut-ikutan terkejut dengan teriakan dua gadis itu, reflek, ia menjatuhkan kantung belanjaannya beserta rokoknya dan mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.
"Haah! KAU SIAPA?!" tanya salah satu gadis yang bersurai pirang yang dikuncir kuda.
Naruto tetap menaikkan kedua tangannya tinggi-tinggi, ia seperti sedang ditangkap petugas saja. "Aku tinggal di sini, kalian siapa?"
"Haaaaahhh?!" Kedua gadis itu terkejut dengan jawaban Naruto.
"Anda tinggal di sini?" Naruto mengangguk.
"Kalian itu siapa? Ada perlu apa di sini?" Tanya Naruto, kini ia sudah menurunkan kedua tangannya.
Kedua gadis itu saling pandang sesaat, "Maafkan kami, Paman! Kami berdua teman dari pemilik kediaman ini sebelumnya." Gadis bersurai ungu tua itu meminta maaf dengan takut-takut jika pria dewasa di hadapannya itu akan memarahi mereka. "Kami tidak tahu kalau dia sudah pindah, maafkan kami ya, Paman?"
"Tunggu dulu, maksud kalian itu Sakura?" Tanya Naruto memastikan.
"I-iya," Jawab gadis bersurai ungu tersebut gugup.
"Oh... jadi kalian temannya Sakura-chan. Dia tidak pindah kok. Kalau begitu, perkenalkan! Namaku Naruto, aku sekarang tinggal di sini bersama Sakura-chan!" Ucap Naruto bersemangat.
Kedua gadis tersebut menganga dengan kedua mata mereka yang terbelalak mendengar jawaban dari pria di depan mereka itu.
Klek
Pintu utama terbuka, seorang gadis bersurai merah jambu keluar dengan santainya, membawa sebuah buku yang terbuka disempitkan di tangan kanan –tampaknya ia sedang membaca, terbukti bahwa sekarang gadis itu memakai kaca mata baca yang lumayan besar.
"Eh... Ino... Hinata..." Sakura membelalakkan kedua matanya melihat kedua sahabatnya yang kini tengah berdiri di samping pria yang mulai sekarang sampai setahun ke depan akan tinggal serumah dengannya itu dengan ekspresi muka sama-sama terkejut –minus Naruto yang malah menampilkan cengiran khasnya.
"Hai, Sakura-chan! Ini temanmu datang," Ucap Naruto memberitahu pada Sakura.
"Ah... hahaa... Hai, Sakura-chan." Hinata tertawa garing karena belum bisa mengendalikan perasaannya.
Ino menatap tajam tepat pada Sakura yang masih terdiam.
Dengan tatapannya saja, Sakura tahu apa yang ingin Ino sampaikan dengan bahasa non-verbal tersebut –Kau harus menceritakan semuanya padaku! SEMUANYA!-
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Assalamu'alaikum... FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Luhan EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada yang salah, itu semata-mata kelalaian saya.
Alhamdulillah banyak respon yang didapat dari FF ini. Terimakasih sudah RnR, maaf ya saya belum bisa membalas review kalian –saya tidak sempat.
Di chapter ini sudah jelas kan alasannya kenapa Sakura lupa sama wajahnya Naruto, ya karena Naruto udah semakin dewasa. Di sini Naruto usianya 27th dan Sakura baru 18th –masih SMA tahun terakhir. Kesannya emang aneh kalau berpisah Cuma 4th tapi Sakura lupa sama wajahnya Naruto, tapi insyaallah akan saya jabarin pelan-pelan di chapter ke depannya.
Dan sekarang, boleh dong minta kritik dan saran dari senpai dan reader semua! Wassalamu'alaikum.
