Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Annie yang tampak yakin bahwa pelakunya adalah seorang penjahat bernama Dark. Pandangan mata Annie terlihat tajam, berarti tidak mungkin Annie berbohong dengan teman-temannya. Tapi mereka masih tidak bisa seyakin Annie.

"Tapi Eren belum melihat sosok itu dengan jelas kan? Mungkin bukan dia." ujar Sasha.

"Entah kenapa firasatku mengatakan itu..." gumam Annie.

Mereka terdiam dan hanya bisa saling berpandangan. Armin berusaha memahami Annie yang sebelumnya pernah melawan Dark, pasti ia punya alasan kuat sampai langsung mengira pelaku itu adalah Dark.

"Bagaimana kalau besok kita selidiki lagi? Karena Eren sudah melihatnya berarti salah satu diantara kita harus ada yang melihatnya." ujar Armin. Ia tampak berpikir dan menatap Eren. "Bagaimana kalau besok kau tidak ikut mengintai? Tugasmu sudah selesai, Eren."

"Eh? Jadi aku tidak ikut?" tanya Eren bingung.

"Iya. Besok hanya kami berlima yang bertugas untuk memastikan apakah sosok yang kau lihat itu nyata atau tidak. Tapi kau masih tetap ikut dengan kami untuk melihat kondisi mayat itu."

Yang lain tampak menyetujui ide Armin lalu mereka semua memutuskan untuk pulang dan kembali bertemu esok hari setelah jam makan malam untuk memulai misi mereka. Karena mereka masih menjalankan misi, mereka punya kebebasan untuk tidak datang ke markas supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan misi.

Eren hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang. Ia memang hanya melihat sosok hitam itu sekilas, ia juga tidak bisa sembarangan menyamakan sosok itu dengan Rivaille. Mentang-mentang pakaian yang mereka kenakan memiliki warna yang sama. Jujur saja pakaian Eren dan semua rekannya juga berwarna hitam, jadi sulit untuk menentukan siapa pelakunya. Lagipula warna hitam itu warna yang sangat umum, siapapun bisa memakainya.

"Eren, kau baik-baik saja?" tanya Mikasa.

"Ah iya." jawab Eren datar.

"Kau melihat kejadian itu dengan mata kepalamu sendiri, apa benar kamu tidak melihat penjahatnya dengan jelas?"

Mikasa sedikit ragu dengan ucapan Eren. Bukan berarti Mikasa tidak percaya dengan Eren, ia hanya ingin tahu lebih jelas. Siapa tahu Eren menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya. Ia yakin Eren tidak akan berbohong kepadanya.

"Benar, saat itu gelap. Aku hanya melihat sosok hitam yang sudah pergi meninggalkan rumah. Lagipula besok kita kesana, siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk lebih jelas." ujar Eren.

Mikasa mengangguk saja dan mereka segera kembali pulang ke rumah, mereka ingin istirahat. Sepertinya misi kali ini sedikit merepotkan mereka, tapi inilah tugas mreka.


Pagi telah tiba dan hari ini tim Mikasa akan pergi ke rumah korban ketiga, mereka juga ingin melihat dengan mata kepala sendiri kondisi di sana. Mereka semua sudah datang dan memeriksa isi rumah orang itu, Eren langsung ke kamar orang itu dan masih menemukan pria itu di meja kerjanya. Masih di posisi yang sama, masih dengan aliran darah yang sama. Tidak ada yang berbeda dengan semalam.

"Tidak ada tanda-tanda yang tertinggal disini." ujar Sasha.

"Seperti dua kejadian sebelumnya. Aku akui dia pintar membuat suasana disini seperti tidak tersentuh. Hanya ada korban yang sudah tewas dan perhiasan yang diambil. Tempat penyimpanan perhiasan juga tersusun rapi, benar-benar cerdas." gumam Jean.

Annie mendekati Eren yang sedang menatap ke arah mayat itu, ia meliriknya datar lalu kembali melihat mayat itu. Seandainya saja orang mati bisa bicara mereka pasti bisa mengetahui siapa pelakunya, tapi tentu saja itu tidak mungkin.

Eren menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela, hari memang terlihat cerah dengan sinar matahari yang bersinar cukup terang. Ia merasa misi kali ini memang sedikit menguras tenaga karena tidak bisa langsung diselesaikan.

"Berarti nanti aku tidak ikut misi mengintai?" tanya Eren.

"Iya. Tapi kalau kau mau ikut juga tidak apa," ujar Armin. "Hanya saja keenam orang yang kemarin aku bilang itu memiliki kemungkinan untuk diincar oleh penjahat itu."

"Mereka punya persamaan. Kaya raya, itu saja," ujar Jean menambahkan. "Kaya raya dalam arti benar-benar kaya. Tidak setengah-setengah. Lihat saja rumahnya ini."

"Iya. Di kota kita, keenam orang ini yang memiliki pengaruh kuat dan uang yang banyak. Jika ditambahkan dengan korban pertama berarti ada tujuh orang." gumam Armin lagi.

"Tapi tidak mungkin kita membiarkan sisanya terbunuh kan?" tanya Sasha. "Kita kan harus mencegahnya dan jika kita tahu pelakunya kita bisa membunuhnya."

"Tidak semudah itu, kecuali kalau kau mau setor nyawa padanya." ujar Annie.

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Annie, sepertinya lawan mereka kali ini sangat kuat. Apalagi jika mereka berpencar dan berusaha melawan penjahat itu sendirian, mungkin ucapan Annie benar. Mereka semua seolah-olah seperti menyetor nyawa kepada penjahat itu.

"Kurasa kita bisa kembali ke markas atau bisa ke rumah masing-masing," ujar Armin yang berusaha mencairkan suasana. "Nanti malam kita kembali bertugas."

Semuanya setuju dan mereka hendak ke markas untuk melaporkan kejadian yang mereka selidiki hari ini kepada atasan mereka. Armin yang bertugas membuat laporan tentang hal yang terjadi selama misi mereka kali ini, semua orang dalam tim setuju jika Armin membuat laporan karena ia lebih cermat dan teliti.

.

.

.

Mereka semua sudah seleasai dengan urusan di markas dan hendak pulang ke rumah masing-masing. Mikasa ingin mengajak Eren pulang, tapi ia melihat Eren tidak ada disampingnya. Ia sampai terkejut melihat Eren tiba-tiba menghilang. Sepertinya Sasha tahu Mikasa mencari Eren, ia memakan kentangnya dengan tenang dan menunjuk ke arah pintu keluar.

"Tadi aku melihat Eren keluar." ujar Sasha sambil menguyah kentangnya.

"Ah? Cepat sekali. Terima kasih, Sasha." Mikasa langsung keluar untuk menyusul Eren.

Sedangkan Eren sudah berada di atas bukit, ia merebahkan dirinya di bawah pohon seperti biasa dan melihat ke arah langit. Langit terlihat cerah dengan matahari yang bersinar terang, ia memang tidak bisa langsung melihat ke arah matahari tapi ia bisa merasakan sinar matahari yang terang itu. Ia hanya tersenyum saja.

'Cahaya matahari memiliki pesona yang bagus seperti bulan.' batin Eren.

Eren melihat ke arah rerumputan yang ada di sekitarnya, angin juga berhembus cukup kencang membawa hawa yang nyaman. Rasanya Eren ingin memejamkan matanya karena merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi seperti ini.

"Eren!"

Tapi Eren langsung membuka mata emerald miliknya begitu ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia melihat Mikasa berlari mendekatinya dan ia tampak kelelahan, mungkin Mikasa berlari untuk mencarinya disini.

"Mikasa? Kenapa kamu kemari?" tanya Eren.

"Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu," ujar Mikasa. "Kenapa kamu selalu disini? Kamu belum makan siang kan? Ayo kita pulang."

"Nanti saja, aku masih mau disini..."

Mikasa sedikit terkejut mendengar ucapan Eren dan terdiam, mereka jarang sekali mereka pulang bersama. Mikasa mengira ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Eren, tapi ternyata Eren memilih untuk menghabiskan waktu di bukit ini.

"Ah, apa kau melihat langit lagi?" tanya Mikasa sambil menghela napas.

"Iya," jawab Eren santai. "Kau tahu Mikasa, matahari itu memiliki sinar yang terang. Entah kenapa bagiku pesona matahari layaknya bulan. Mereka sama-sama indah dengan fungsi mereka. Tapi apakah mereka pernah saling tertarik satu sama lain?"

"Apa maksudnya?"

"Iya. Matahari dan bulan. Apakah mereka pernah tertarik satu sama lain? Mereka tidak pernah bertemu dan muncul di waktu yang berbeda, apakah mereka bisa saling mengenal?"

"Kau bicara seolah-olah matahari dan bulan adalah makhluk hidup."

Eren tersenyum tipis mendengar ucapan Mikasa dan ia memejamkan matanya, setidaknya ia ingin bisa menikmati angin yang sejuk sambil memejamkan mata. Mikasa menatap Eren seperti itu dan menghela napas saja, ia duduk di sebelah Eren. Hanya sebentar, untuk mengistirahatkan diri sejenak lalu ia bangun dari posisinya dan hendak meninggalkan Eren.

"Nanti kamu pulang ya." ujar Mikasa.

"Iya. Dimana lagi tempatku untuk pulang selain di rumah." ujar Eren yang masih menutup matanya.

Mikasa tersenyum mendengarnya dan ia berjalan menuruni bukit untuk kembali ke rumah. Eren memang suka sekali menghabiskan waktunya di tempat ini, menikmati angin yang berhembus, melihat langit atau mungkin tidur.

Atau... menanti kedatangan sosok Rivaille?

Memikirkan hal itu membuat wajah Eren bersemu merah, lagi-lagi sosok Rivaille muncul di benak Eren. Ia tidak bisa melepaskan pikirannya dari sosok misterius itu sebentar saja. Tapi memikirkan Rivaille membuatnya teringat dengan sosok misterius yang ia lihat saat mengintai semalam.

'Mungkin hanya mirip saja. Bukan dia, bukan dia. Dia hanya pengelana biasa.' batin Eren.

Tiba-tiba Eren mendengar langkah kaki yang berjalan mendekati pohon tempat ia merebahkan diri sekarang. Eren membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok berambut hitam dengan jubah hitam itu.

Rivaille.

"Kita bertemu lagi, bocah." ujar Rivaille datar.

"Ah..." Eren sampai terbangun dari posisi tidurnya dan sekarang ia sedang duduk menatap Rivaille. "Rivaille..."

"Hmm? Kenapa kau diam seperti itu? Terpesona denganku?"

"Ah? Apa?!"

Wajah Eren kembali memerah mendengar ucapan Rivaille itu, malu sekali rasanya. Tapi mana mungkin ia mengatakan hal itu kepada Rivaille saat ini. Dirinya memang terpesona dengan pemuda misterius itu, pemuda yang bahkan ia tidak tahu latar belakangnya.

Rivaille terdiam dan ia mendekati Eren lalu duduk di samping pemuda berambut coklat itu, Eren melirik ke sampingnya dan pandangan mata mereka berdua. Sekali lagi, untuk sekali lagi Eren seperti terhisap ke dalam pesona warna hitam itu. Hitam bagai malam, hitam yang menariknya, hitam layaknya kegelapan. Dan ia rela jika harus terjatuh dalam kegelapan itu.

"Matamu... indah juga." ujar Rivaille.

"Eh?" Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille itu.

Rivaille memuji matanya? Apa ia tidak salah mendengarnya. Tapi Eren merasa pendengarannya masih cukup bagus dan Rivaille memang memuji dirinya, lagi-lagi wajahnya memerah dan jantungnya berdetak kencang. Sampai kapan ia harus merasakan perasaan seperti ini pada Rivaille?

Ketika tidak bisa bertemu, Eren ingin bertemu dengan Rivaille. Ketika sudah bertemu, Eren malu dan tidak tahu harus membicarakan apa dengan Rivaille. Cinta memang sedikit memusingkan rupanya bagi pemuda berambut coklat itu.

'Uh, aku tidak kuat. Jantungku berdetak kencang sekali.' batin Eren malu.

Rivaille menatap Eren yang hanya terdiam dengan wajah yang memerah. Ia merasa tertarik dengan anak itu, sejak ia mencuri ciuman Eren ia semakin tertarik dengannya. Ia meletakkan tangannya di puncak rambut Eren dan membelainya, Eren terkejut merasakan sentuhan hangat di kepalanya itu dan wajahnya tetap memerah.

"Rivaille." panggil Eren dengan suara pelan seperti berbisik.

"Apa?" tanya Rivaille datar tapi ia masih membelai rambut Eren.

"Kenapa kau..."

Rivaille terdiam karena Eren tidak meneruskan kalimatnya, ia berhenti membelai rambut Eren dan menatap lurus ke arah padang rumput yang terlihat dengan jelas. Eren tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bahkan ia malu untuk bertanya kenapa Rivaille memperlakukannya seperti tadi.

"Tidak apa. Aku hanya ingin mencobanya." ujar Rivaille.

"Eh?" Eren bingung mendengar ucapan Rivaille.

"Membelaimu seperti tadi."

Dan lagi-lagi wajah Eren memerah, Rivaille tersenyum tipis melihat wajah Eren seperti itu. Rivaille merasa Eren adalah pemuda yang unik karena ia melihat seorang pemuda yang dikategorikan bocah baginya memiliki wajah memerah yang manis seperti itu. Tunggu? Manis ya? Sepertinya bukan hanya Eren yang merasakan hal yang lebih.

Mungkinkah Rivaille juga sama?

Tapi Rivaille tidak bisa menutupi bahwa dirinya memang tertarik dengan Eren. Entah rasa tertarik itu hanya tertarik biasa atau... cinta.

"Kenapa aku selalu melihatmu disini? Apa kau tidak punya tempat lain, bocah?" tanya Rivaille dengan nada bicara yang khas.

"Ah, aku suka sekali melihat langit disini." jawab Eren.

"Langit?"

"Iya... Matahari dan bulan memiliki pesonanya tersendiri. Aku suka memperhatikan langit dan melihat pesona matahari dan bulan. Tapi.."

"Tapi... apakah matahari dan bulan bisa tertarik satu sama lain?"

Rivaille benar-benar terdiam mendengar ucapan Eren, ia tidak bisa berkomentar banyak mengenai ucapan Eren itu. Matahari dan bulan memiliki fungsi yang berbeda, mereka tidak pernah bertemu jadi apakah mereka masih bisa tertarik satu sama lain?

Entah...

Rivaille tidak tahu, lagipula ia tidak terlalu memperhatikan hal seperti itu. Tapi melihat wajah Eren yang tampak berseri-seri saat menceritakan hal tadi membuatnya tertarik. Rivaille juga melihat Eren layaknya matahari, selalu bersinar dengan terang, membuat relung hatinya terasa hangat tiap kali mereka berbincang bersama.

"Jika suatu saat matahari dan bulan saling tertarik, apakah itu bisa terjadi?" terdengar suara Eren lagi.

"Entah... Masing-masing memiliki takdirnya tersendiri." ujar Rivaille.

Eren terdiam dan tersenyum tipis, ia melihat langit lalu menatap ke arah Rivaille. Setiap kali ia melihat Rivaille ia merasa ada sesuatu dari diri Rivaille yang terlihat misterius. Selain penampilannya yang misterius, Rivaille juga dingin tapi di saat yang bersamaan Rivaille juga baik. Eren berpikir bahwa Rivaille itu layaknya bulan, yang terlihat misterius dan dingin tapi sebenarnya baik. Sama seperti bulan yang terlihat misterius tapi memiliki keindahan.

'Apa yang aku pikirkan?' batin Eren.

Mereka hanya terdiam dan membiarkan angin berhembus dengan kencang, menemani mereka dalam kesunyian ini. Rivaille tidak membenci kesunyian, justru ia menyukainya. Lagipula hidupnya dari dulu hingga sekarang selalu sunyi, tidak ada seseorang yang dapat menyambut kehadirannya.

Itu dulu.

Sekarang setiap kali Rivaille berjalan ke bukit ini, ia selalu melihat Eren disana. Ia selalu melihat Eren yang seperti menanti kedatangannya. Ia tersenyum tipis mengingat hal itu. Sepertinya Rivaille benar-benar tertarik dengan Eren.

"Kau... sudah bekerja?" tanya Rivaille agar suasana tidak terasa canggung. Eren memang masih memakai seragam khas Recon Corps karena setelah bekerja Eren langsung kemari.

"Iya. Demi hidupku dan Mikasa, kami harus bekerja dan hanya Recon Corps saja yang mampu menampung kami. Memang pekerjaan yang dilakukan cukup sulit, apalagi dengan misi baru yang kami terima. Tapi, asal bisa dapat penghasilan bagiku tidak masalah." jawab Eren.

Rivaille hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Eren. Tapi pikirannya terusik saat mendengar nama Mikasa. Nama siapa itu? Gadis yang disukai Eren? Rivaille menatap Eren dengan wajah datar, berusaha menyembunyikan rasa tidak suka itu.

"Kenapa kau menceritakan hal itu padaku?" tanya Rivaille tiba-tiba.

Eren sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Rivaille itu. Kenapa? Benaknya juga bertanya seperti itu. Kenapa ia menceritakan hal itu kepada Rivaille? Padahal ia belum mengenal Rivaille dengan baik. Tapi Eren merasa tidak masalah menceritakan hal itu kepada Rivaille.

"Kurasa tidak apa. Karena kau... orang yang baik?" ujar Eren sedikit ragu.

Rivaille hanya menyeringai tipis dan menggantikannya dengan senyuman. Tapi Eren tidak melihatnya karena Rivaille tidak memandangnya. Rivaille kembali memasang wajah datarnya dan menatap Eren, ia merasa anak itu memang menarik perhatiannya.

"Kau tidak mengenalku tapi bisa berkata seperti itu," ujar Rivaille yang menatap mata Eren dan mulai mendekatinya mungkin sedikit memojokkan Eren. "Kau menarik, Eren."

"Eh? Ah?" Eren terlihat gugup.

Posisi mereka berdua sangat dekat, wajah Eren memerah. Apalagi mata hitam Rivaille menatapnya tajam, napas Eren sampai tertahan karena ditatap seperti itu. Rivaille membelai wajah Eren dan ia mendekatkan wajahnya kepada Eren.

Beberapa senti lagi.

Hanya butuh beberapa senti lagi dan kedua bibir itu akan bertemu.

Wajah Eren benar-benar memerah, ia tidak bisa memberikan perlawanan. Sekedar mendorong tubuh Rivaille atau apapun itu. Harusnya ia melakukan hal itu demi dirinya sendiri, seharusnya begitu.

Tapi disini Eren hanya terdiam dan membiarkan Rivaille menyentuh bibirnya, membawanya ke dalam ciuman hangat. Memang hanya sekedar saling menempelkan bibir tapi sudah membuat Eren panas dingin. Jantung Eren serasa terpompa cukup cepat, debarannya kencang sekali.

Tidak lama Rivaille melepaskan ciumannya dan menatap wajah Eren yang memerah. Eren sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi dan ia hanya menundukkan wajahnya. Itu adalah ciuman pertamanya. Ciuman pertama dengan orang yang ia cintai.

Ayo, katakan perasaanmu Eren.

Harusnya ia bisa melakuknnya, tapi mulutnya serasa terkunci. Hanya wajah memerah yang menjadi jawaban kalau ia menyukai ciuman tadi. Rivaille tidak banyak bicara dan ia kembali ke posisi semula.

"Kau tahu, Eren." gumam Rivaille.

"Itu... itu ciuman pertamaku..." ujar Eren malu.

"Benarkah? Tapi ini bukan pertama kali aku menciummu."

Eren terkejut mendengarnya dan menatap Rivaille. Rivaille masih menatapnya dengan wajah yang datar dan bersikap santai.

"Saat aku kesini di malam hari. Aku melihatmu tertidur dan aku melakukannya."

Wajah Eren benar-benar memerah mendengar ucapan Rivaille itu, ia tidak menyangka Rivaille mencuri ciuman pertamanya. Tapi entah kenapa ia tidak merasa kesal, ia mungkin merasa bersyukur. Eren sampai menundukkan wajahnya karena malu, ia tidak tahu kenapa bisa berpikir seperti itu. Apakah rasa cintanya pada Rivaille semakin bertambah?

"Cu... curang..." gumam Eren pelan.

"Salahkan dirimu yang tidak waspada." ujar Rivaille santai.

Eren kembali menatap Rivaille dan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Rivaille. Rivaille sedikit terkejut dengan tindakan Eren tapi ia membiarkan anak itu menciumnya, tidak butuh waktu lama bagi Eren untuk melepaskan ciumannya. Tentu saja wajah Eren sudah sangat memerah.

"Aku... Karena kau... aku jadi seperti ini." ujar Eren.

"Kenapa?" tanya Rivaille santai.

"Aku... aku menyukaimu, tahu!"

Eren merasa tidak bisa mundur lagi, apalagi ia sudah mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Tidak mungkin tiba-tiba ia berkata bahwa dirinya bercanda, mau ditaruh dimana mukanya itu. Rivaille sedikit terkejut mendengarnya dan tertawa, Eren tampak bingung.

"Maaf, aku tidak menyangka kau akan memiliki perasaan seperti itu." ujar Rivaille.

"Kau jangan menghinaku! Aku... aku sangat malu..." ujar Eren malu.

"Tidak... Mungkin aku... senang."

Rivaille kembali membelai wajah Eren dan sekali lagi menyatukan bibirnya dengan Eren melalui ciuman yang hangat. Eren menutup matanya dan merasakan ciuman itu, ia benar-benar tidak keberatan memberikan perasaan cintanya kepada orang yang baru beberapa kali ia temui. Lagipula, ia tidak bisa berhenti memikirkannya dan ia rela melakukan apa saja demi Rivaille. Eren tidak peduli dengan segala hal yang membatasi cinta mereka.

Ia tidak peduli.

Asalkan ada Rivaille di sisinya. Semuanya sudah cukup.


Hari sudah malam, kali ini tim Mikasa akan kembali mengintai rumah kelima orang yang sama. Mereka berpisah dan mulai melakukan pengintaian seperti kemarin sedangkan Eren berada di rumahnya, ia tidak melakukan pengintaian karena ia sudah selesai menjalankan tugas. Tapi ia juga merasa tidak enak hanya berdiam diri di rumah.

"Aku juga ingin membantu mereka." ujar Eren.

Ia mempersiapkan dirinya, ia sudah memakai seragamnya dan mengisi pistolnya dengan beberapa peluru. Setelah selesai ia keluar dari rumah dan hendak mencari Mikasa, ia ingin membantunya untuk mengintai.

Eren terus berlari dan ia sampai di depan rumah tempat Mikasa mengintai, Mikasa tampak bersembunyi di belakang dan Eren mendekatinya. Dengan langkah perlahan Eren sampai di sebelah Mikasa dan menepuk pundak gadis itu.

"Mikasa," ujar Eren. "Aku akan membantumu."

Mikasa sedikit terkejut dan hampir saja ia akan menyikut Eren atau mungkin menghajarnya. Tapi melihat sosok Eren yang ada di sebelahnya ia merasa lega, ia tidak menyangka Eren akan datang kemari untuk membantunya mengintai. Lagipula tugas Eren untuk mengintai juga sudah selesai.

"Eren? Kenapa kamu kemari?" tanya Mikasa pelan.

"Tentu untuk membantu. Lagipula aku tidak mungkin hanya duduk-duduk dengan tenang di rumah sementara kau dan yang lainnya bertugas. Tidak adil bukan?"

"Terima kasih."

Mikasa membiarkan Eren membantunya, lagipula bekerja sama seperti ini membuat Mikasa merasa lega karena bisa berada di sisi Eren dan memperhatikannya. Pekerjaan akan terasa lebih mudah dan jika mereka akan berhadapan dengan sang penjahat itu, Mikasa akan melindungi Eren. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Tapi prioritas utama kegiatan kali ini adalah mengenali fisik si penjahat itu bukan melawannya.

'Apakah benar jika ucapan Annie bahwa penjahatnya adalah Dark?' batin Mikasa.

Mikasa bukannya tidak percaya dengan Annie tapi ia ingin membuktikannya, demikian juga semua anggota tim mereka. Mereka ingin melihat secara langsung, apalagi Eren mengatakan melihat sosok hitam yang keluar dari rumah yang Eren awasi kemarin.

.

.

.

Hari sudah semakin malam dan sekarang sudah pukul 12 tengah malam, tidak ada pergerakan mencurigakan di rumah yang Mikasa dan Eren awasi. Begitu juga dengan Armin, Annie, Jean dan Sasha. Semuanya terlihat aman, satu jam lagi sebelum mereka selesai bertugas dan kembali ke rumah masing-masing.

Sasha mengawasi orang yang sama seperti kemarin, agar ia tidak mengantuk ia selalu memakan kentang yang ia bawa. Sekaligus untuk mengganjal perut agar tidak lapar. Lain lagi dengan Annie yang selalu mengawasi dengan serius, Annie mengawasi layaknya burung elang yang siap menangkap mangsanya.

Armin berusaha menahan kantuknya dan mengawasi dengan serius. Sedangkan Jean tampak serius mengawasi, sejak kejadian Eren yang melihat penjahat itu ia bersemangat untuk menemukan sosok penjahat itu. Ia ingin bisa melihatnya atau melawannya jika perlu.

Semuanya tampak menjalankan tugas dengan baik, sepertinya tidak ada tanda-tanda kemunculan penjahat itu. Bahkan sekarang sudah jam satu dini hari dan semuanya baik-baik saja. Mikasa dan Eren melihat orang yang mereka awasi sudah tidur sedari tadi. Sekarang sudah waktunya untuk pergi dan melaporkan kondisi yang mereka lihat tadi.

Tapi saat mereka akan pergi dari rumah itu, Mikasa dan Eren merasakan gerakan yang aneh. Mereka berdua memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon yang ada di dekat pintu belakang. Untung saja pohon itu besar sehingga mereka bisa sembunyi disana dan ditutupi oleh semak-semak.

Samar-samar terdengar langkah kaki yang berjalan mendekati pintu belakang. Mikasa sedikit terkejut melihat sosok serba hitam yang berjalan masuk ke dalam pintu belakang itu.

"Apakah itu orang yang kau lihat kemarin, Eren?" tanya Mikasa.

"Iya. Sepertinya itu dia." ujar Eren yakin.

"Kita harus mengikutinya."

.

.

.

Armin, Jean, Annie dan Sasha sudah berkumpul di tempat biasa, tapi Mikasa belum kembali. Mereka semua terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Mikasa? Tapi Mikasa itu cukup kuat dan tidak mungkin kehilangan kontak begitu saja.

"Apa dia melihat penjahat itu?" tebak Jean.

"Mungkin saja." gumam Armin.

"Apa kita harus menolongnya? Jika Mikasa berhadapan dengan penjahat itu aku tidak yakin ia bisa mengatasinya, apalagi ia hanya sendirian." ujar Sasha.

Annie terdiam dan ia melihat ke arah lain, ia memperhatikan tempat mereka berkumpul dan berusaha mengingat tempat dimana Mikasa melakukan pengawasan. Memang tidak jauh dari sini, jika disusul mungkin hanya butuh sekitar lima menit untuk sampai di rumah itu. Annie langsung saja berlari meninggalkan ketiga temannya itu.

"Annie!" panggil Sasha.

"Sepertinya kita harus mengikutinya." ujar Jean yang menghela napas.

Mereka semua menyusul Annie dan ingin menemui Mikasa, mereka tahu Mikasa pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri tapi entah kenapa Annie ingin menemuinya. Annie ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri siapa penjahat itu.

.

.

.

Mikasa dan Eren sudah berada di dalam rumah orang yang mereka intai. Beruntung pintu belakang terbuka hingga memudahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah ini. Pemilik rumah ini adalah seorang wanita yang memiliki bisnis batu mulia. Tentu dengan bisnis seperti itu ia memiliki banyak sekali uang.

Mikasa dan Eren menyembunyikan diri mereka agar tidak ketahuan jika mereka menyusup ke dalam. Tidak lama terdengar suara teriakan yang kencang, sepertinya penjahat itu sudah memulai aksi membunuhnya. Mikasa buru-buru keluar dari tempat persembunyiannya dan ingin melihat kondisi orang itu.

"Mikasa, jangan gegabah." ujar Eren.

Mikasa yang sudah berlari dan hendak menuju kamar orang itu berhenti, ia bersembunyi karena merasa ada langkah kaki yang berjalan keluar. Penjahat itu berjalan keluar dan Mikasa berusaha mengintip untuk melihat siapa sosok itu.

'Tidak terlihat jelas.' batin Mikasa.

Tapi Mikasa melihat sosok itu memakai pakaian serba hitam, seperti yang Eren bilang. Sedangkan Eren sedang bersembunyi di tempat yang berbeda dengan Mikasa, ia tidak bisa keluar begitu saja sekarang. Kecuali jika ia siap untuk menyerang penjahat itu.

Eren menyiapkan pistolnya dan ia berusaha mengintip sosok penjahat itu. Ia sedikit terkejut melihat sosok penjahat itu yang memiliki pedang di sisi kirinya. Orang itu sedang membawa pedang yang berlumuran darah dengan kantung besar.

'Pedang?' batin Eren.

Mikasa menoleh ke arah Eren dan memberi kode bahwa mereka harus keluar dengan berjalan perlahan. Memang beresiko terdengar oleh penjahat itu tapi mereka berdua sudah menyiapkan pistol dan akan melumpuhkan penjahat itu. Setidaknya dengan kekuatan dua orang, gerakan penjahat itu bisa terhenti sementara.

Mereka keluar dari tempat persembunyian masing-masing dan mulai melangkah dengan pelan menuju kamar sang korban, mereka yakin wanita itu sudah tewas. Buktinya saja penjahat itu berkeliaran dengan bebas. Sekarang mereka berada di depan pintu kamar dan melihat sosok itu dengan jelas.

Sosok dengan pakaian serba hitam yang membawa pedang di sisi kirinya dan di tangannya terdapat kantung besar, pasti isinya barang curian miliknya. Mikasa sudah bersiap untuk menembak penjahat itu tapi karena lampu kamar terlihat sedikit gelap agak menyulitkan Mikasa untuk menembak.

Tapi kamar itu masih terlihat sedikit terang, lebih tepatnya remang-remang karena terkena cahaya bulan saat ini. Penjahat itu menoleh ke belakang dan ia tidak bergeming saat melihat Mikasa, ia cuek dan langsung saja pergi meninggalkan mereka.

"Tunggu!" teriak Mikasa.

Tapi orang itu sudah lari, Mikasa hendak mengeluarkan tembakan tapi penjahat itu sudah pergi entah kemana. Sososknya sudah menghilang, Mikasa terlihat kesal karena tidak bisa menembak orang itu sementara Eren terdiam. Ia tampak tidak mengerti dengan apa yang ia lihat tadi.

"Eren! Eren.." panggil Mikasa.

"Ah? Mikasa." gumam Eren yang tersadar dari lamunannya.

"Dia lolos. Tapi setidaknya kita bisa melihat sosoknya. Benar seperti yang kau bilang, dia berpakaian serba hitam dan membawa pedang di sisi kirinya. Apakah itu Dark ya?"

Eren tidak menjawab apa-apa dan hanya terdiam, seolah-olah pikirannya tidak berada disini. Tidak lama terdengar langkah kaki dan Mikasa melihat sosok teman-temannya yang sudah berada di depan pintu. Mereka sedikit terkejut melihat Eren berada disini, tapi itu bukan masalah untuk saat ini. Mereka semua penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Eren! Mikasa!" panggil Armin dan ia langsung mendekati kedua sahabatnya itu.

"Armin... Kalian semua." ujar Mikasa.

"Apa yang terjadi, Eren dan Mikasa?" tanya Jean.

"Kalian baik-baik saja? Tadi kami mendengar suara tembakan." ujar Sasha.

"Aku berusaha menembak tapi orang itu sudah kabur." ujar Mikasa.

"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Annie langsung.

"Seperti yang Eren bilang, sosok itu berpakaian serba hitam. Ia membawa pedang di sisi kirinya. Tapi aku tidak melihat wajahnya." jawab Mikasa.

"Sudah pasti. Itu Dark, tidak salah lagi." ujar Annie.

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Annie itu, Annie terlihat sangat yakin karena ia pernah ditugaskan untuk menangkap Dark tapi gagal dan ia hafal dengan ciri-ciri itu. Annie sangat yakin bahwa kelompok mereka kembali berhadapan dengan penjahat satu itu.

Penjahat yang menggemparkan kota.

Tapi ekspresi Eren terlihat lebih mengejutkan lagi, Eren tidak terlihat seperti orang yang kaget mendengar ucapan Annie. Sejak kedatangan keempat temannya Eren hanya terdiam, bahkan Mikasa tidak mengerti apa yang terjadi dengan Eren saat ini. Pandangan mata Eren terlihat kosong, seolah-olah seperti jiwanya melayang.

"Eren!" panggil Mikasa sedikit kencang agar Eren tersadar.

"Ah, iya." ujar Eren.

"Kamu kenapa?"

Eren hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Mikasa, sedangkan Jean melihat kondisi mayat itu. Mayat itu berada di ranjang dan tertusuk di bagian jantung tapi tidak ada senjata tajam di dekat sana.

"Lagi-lagi tidak ada senjata ya." gumam Jean.

"Apa senjatanya dibawa oleh pelaku?" ujar Sasha.

"Dark membawa pedang dan ia membunuh dengan pedang itu. Pedang itu juga yang melukai timku waktu itu, untung saja kami berhasil mundur setelah bala bantuan datang. Dan Dark tetap buron, tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan kembali berulah." ujar Annie.

"Kira-kira apa motifnya ya?" pikir Mikasa.

"Jika dilihat dari riwayat Annie yang pernah menyelidiki masalah ini, kurasa Dark itu hanyalah penjahat yang mencari sensasi," ujar Armin. "Atau mungkin motif sebenarnya memang uang, dengan mengambil perhiasan lalu menjualnya ia bisa mendapatkan banyak uang. Lalu ia membunuh korban agar korban tidak melapor padanya."

"Kalau dipikirkan untuk mencari sensasi, sepertinya benar juga," gumam Sasha. "Dia menyita banyak waktu kita."

"Riwayat membunuhnya panjang, jika bisa ditulis mungkin sudah lebih dari 100 orang yang ia bunuh. Makanya banyak polisi dan organisasi rahasia yang berusaha menangkap Dark. Dia memang pencuri dan pembunuh ulung, tidak ada yang tahu jejaknya. Dia menghilang begitu saja seperti angin." ujar Annie.

Semuanya terdiam dan tampak berpikir. Mereka memang seperti menyetor nyawa dalam misi kali ini, misi yang melibatkan hidup atau mati mereka. Mereka harus bisa membunuh penjahat itu atau mereka yang akan terbunuh.

"Hei Eren, katakan sesuatu." ujar Jean.

Mereka semua melirik ke arah Eren, Eren masih saja memasang ekspresi seperti tadi. Hanya diam tanpa bisa mengatakan apa-apa. Sebenarnya Eren berusaha untuk bangkit dan berbicara dengan teman-temannya, tapi ia tidak bisa.

Pakaian serba hitam.

Pedang di sisi kiri.

Misterius.

Semuanya terlalu mirip, terlalu mirip dengan Rivaille. Kenapa Eren jadi berpikir bahwa Rivaille adalah dalang di balik semua kejahatan ini? Padahal mereka baru saja menjadi kekasih. Kenapa? Kenapa ia harus menghadapi masalah seperti ini.

"Eren?" Mikasa tidak lelah untuk memanggil Eren.

"Ah? Maaf, kurasa sebaiknya aku pulang." ujar Eren yang pergi meninggalkan mereka semua.

"Eren, tunggu!"

Mikasa berusaha mengejar Eren dan hendak pulang bersama, tapi ia merasa ada yang tidak beres dengan Eren. Ia merasa Eren seperti menyembunyikan sesuatu dari teman-teman bahkan dari dirinya juga. Tapi hal apa itu? Mikasa sendiri tidak tahu.

"Apa menurut kalian Eren takut?" ujar Jean tiba-tiba.

"Eh?" Armin, Sasha dan Annie tampak bingung mendengar ucapan Jean.

"Lihat saja wajahnya. Aku merasa dia seperti ketakutan."

"Kita tidak bisa memastikannya. Lagipula ini misi kita, jika takut sama saja mengantarkan kita pada kematian." ujar Annie tegas.

Mereka semua terdiam dan tidak ada yang berbicara lagi. Jean menghela napas dan ia menatap teman-temannya, ia berjalan lebih dulu dan meninggalkan teman-temannya.

"Karena mereka sudah pulang, kita juga pulang." ujar Jean.

"Iya, besok kita bisa mencari tahu lagi." ujar Sasha.

Mereka semua memutuskan untuk pulang dan akan menyelidiki kejadian ini keesokan harinya. Tapi entah kenapa kata-kata Jean itu membuat pikiran Armin dan Sasha sedikit tidak tenang, sedangkan Annie terlihat santai saja.


Pagi hari ini mereka kembali memeriksa rumah korban keempat kecuali Armin, kejadian ini hampir terjadi setiap hari. Tidak mungkin mereka bisa membiarkannya begitu saja. Sang atasan Keith Shadis sudah sering kali bertanya mengenai perkembangan misi yang dijalankan tim Mikasa. Ia tampak terkejut bahwa dugaannya selama ini benar.

Sekarang Armin berada di ruangannya Keith, ia akan menjelaskan situasi yang dialami timnya selama menjalankan misi ini. Armin berusaha menjelaskan dengan baik dan Keith menatapnya dalam diam.

"Jadi kita kembali berhadapan dengan Dark." gumam Keith.

"Itu benar Sir. Eren dan Mikasa sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri dan melihat ciri-cirinya. Menurut Annie, penjahat yang berkeliaran dan melakukan pembunuhan di kota ini adalah Dark." ujar Armin menjelaskan.

"Begitu. Lanjutkan misi kalian. Misi tim kalian belum selesai sampai kalian berhasil membunuh Dark. Mungkin agak sulit mengingat tim Leonhardt mengalami kegagalan dalam menjalankan misi ini, tapi aku harap kalian bisa menyelesaikannya."

"Siap!"

Armin pergi meninggalkan ruangan Keith dan ia hendak menyusul kelima temannya yang berada di rumah korban keempat. Ia ingin juga memeriksa dan mencatat beberapa hal yang bisa ia temukan disana.

.

.

.

Mikasa, Eren, Jean, Annie dan Sasha sudah memeriksa rumah korban keempat ini. Sama seperti korban-korban sebelumnya, rumah ini tetap sama, barang-barang tidak ada yang berantakan dan hanya tertinggal korban yang tewas dengan semua perhiasan yang diambil. Anehnya pencuri itu selalu mengambil perhiasan, bukan berupa uang.

"Kenapa dia hanya mengambil perhiasan saja ya? Padahal menurutku lebih mudah mengambil uang langsung." gumam Sasha.

"Perhiasan lebih bernilai daripada uang langsung, siapa tahu harganya lebih mahal." ujar Mikasa yang memberikan hipotesisnya.

Sasha mengangguk saja dan ia berdiri di dekat pintu kamar korban, ia tampak lelah dan mengeluarkan kentangnya untuk dimakan seperti biasa. Misi mereka kali ini memang menguras tenaga, tapi untunglah mereka berhasil mengetahui target mereka.

"Ah, Sasha?" terdengar suara Armin, ia baru saja sampai rumah ini.

"Eh? Ah maaf aku menghalangi jalan." ujar Sasha sambil tersenyum.

Armin melihat Eren, Mikasa, Jean dan Annie yang tampaknya masih memeriksa isi kamar itu. Armin sudah memberitahukan situasi misi mereka kepada sang atasan. Eren berhenti memeriksa karena menurutnya tidak ada hal yang bisa ia dapatkan, ia melihat sosok Armin yang mendekati mereka.

"Armin, kau sudah datang." ujar Eren.

Annie, Jean dan Mikasa menoleh dan mereka melihat Armin mendekati mereka, Armin tersenyum tipis tapi raut wajahnya sekarang berubah serius. Sepertinya ada hal penting yang ingin Armin sampaikan kepada mereka.

"Semuanya, aku ingin mengatakan sesuatu." ujar Armin langsung.

"Ada apa, Armin?" tanya Mikasa.

"Setelah kita semua tahu siapa target kita sebenarnya kurasa kita harus menggunakan cara lain untuk menangkapnya. Ah, maksudku untuk menghabisinya."

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Armin, terutama Eren. Lagi-lagi pikirannya kembali kepada sosok yang ia lihat ini, ia bingung. Kenapa sosok penjahat yang ia lihat harus memiliki ciri-ciri yang sama dengan Rivaille? Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin mempercayai Rivaille, tentu saja karena ia mencintai pemuda itu.

Armin berusaha mengatakan rencananya, setidaknya untuk berjaga-jaga jika mereka berhadapan dengan Dark itu. Mereka semua terdiam dan tampak menyetujui rencana Armin, daripada tidak bisa melakukan apa-apa. Armin menatap Eren yang hanya diam saja, tapi Eren tidak tampak menyimak ucapan Armin.

"Eren? Kau baik-baik saja?" tanya Armin.

"Ah? Tidak apa..." jawab Eren pelan.

Mikasa menatap Eren dalam diam, ia mengkhawatirkan Eren yang hanya diam itu. Mikasa menyentuh pundak Eren dan menatap Eren dengan tajam. Eren sedikit terkejut melihat Mikasa yang melihatnya dengan tatapan seperti itu.

"Ada apa Mikasa?" tanya Eren.

"Eren, benar kau baik-baik saja? Kau tidak sakit? Kau tidak merasa lelah atau apapun kan?" tanya Mikasa bertubi-tubi.

Eren hanya tersenyum tipis melihat tingkah adik angkatnya itu, baginya sikap Mikasa yang terlalu mengkhawatirkannya itu masih sama seperti dulu. Mikasa adalah Mikasa yang selalu mengkhawatirkan Eren.

"Tidak apa," Eren langsung berjalan meninggalkan mereka. "Kurasa aku akan pulang. Kita tidak pekerjaan lagi kan?"

"Eren..."

Mereka semua menatap Eren, Mikasa tentu khawatir melihat Eren begitu juga dengan Armin. Tapi Annie dan Jean terlihat cuek, mereka merasa Eren hanya ingin memiliki waktu sendiri sedangkan Sasha kembali memakan kentangnya itu dan menatap Mikasa juga Armin. Ia tidak ingin bertanya banyak tentang Eren untuk saat ini.

.

.

.

Eren berjalan menuju bukit seperti biasa, ia ingin menenangkan pikirannya disana. Entah kenapa ia merasa sedikit pusing. Pusing karena memikirkan tentang misi yang sedang dilakukannya dan mengenai pelakunya. Tidak lama ia sudah sampai dan mengambil posisi seperti biasa, merebahkan dirinya di bawah pohon.

"Kenapa aku merasa bingung seperti ini?" gumam Eren pelan.

Eren melihat ke arah langit, hari ini langit bersinar dengan cerah tapi sedikit berlawanan dengan suasana hati Eren yang tidak baik. Eren merasa khawatir untuk alasan yang tidak ia ketahui, ia merasa bimbang.

"Ah lebih baik aku tidur saja."

Eren memejamkan matanya dan memutuskan untuk tidur, lebih baik melupakan masalah sejenak dengan mengistirahatkan badan. Lagipula sejak melakukan misi ini ia merasa sedikit sekali waktunya untuk beristirahat.

Sepertinya Eren cepat sekali terlelap dalam tidurnya, ia bahkan tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat padanya. Eren sudah terlelap dalam alam mimpinya.

"Kau memang seperti putri tidur, Eren."

Rivaille sudah berada di samping Eren, ia memperhatikan wajah tidur Eren yang manis itu. Rivaille duduk di samping Eren dan ia membelai wajah itu, wajah seseorang yang membuatnya tertarik. Bolehkah sekarang ia menyebut wajah di hadapannya itu dengan sebutan sang kekasih?

Rivaille menatap Eren yang tertidur dengan damai itu, seolah tidak memiliki beban. Ia merasa Eren hanyalah anak yang polos. Tapi di matanya ia melihat Eren itu berbeda dari dirinya, jauh berbeda. Ia merasa Eren seperti matahari dan ia semakin yakin dengan hal itu. Eren bagaikan matahari, menyinari hatinya yang gelap.

Rivaille mengeluarkan pedang miliknya dari sarungnya dan menatap Eren dengan wajah datar. Ia mengacungkan pedang itu tepat di hadapan wajah Eren, lalu turun menuju bahu Eren. Rivaille masih saja terdiam dan tidak melakukan apa-apa.

'Rasanya aku ingin meninggalkan luka di punggungmu dan luka itu tidak akan bisa hilang untuk selamanya.' batin Rivaille.

Tapi Rivaille tidak bisa melakukannya, ia tidak bisa langsung menghunuskan pedang itu kepada Eren yang masih tertidur. Tidak adil bukan? Tapi bukankah dunia itu memang tidak adil? Rivaille hanya tersenyum tipis dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung itu lagi.

Rivaille mendekatkan wajahnya pada Eren dan mencium bibir Eren. Ia kembali merasakan bibir manis itu. Rivaille kembali mencium Eren tanpa Eren sadari. Rivaille masih merasakan manisnya bibir itu, ia tidak ingin melepaskannya meski hanya sebentar.

Tapi sepertinya Rivaille harus melepaskan ciuman itu, ia merasa Eren sedikit tidak nyaman dalam tidurnya. Ia langsung bangun dan memilih untuk menyembunyikan dirinya dari Eren, ia berada di belakang pohon itu. Entah kenapa Rivaille ingin bersembunyi, ia tidak ingin Eren mengetahui kehadirannya untuk saat ini.

Eren perlahan terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa. Tapi meski sekilas ia merasa ada seseorang yang mencium bibirnya. Tidak mungkin Mikasa, Mikasa tidak akan melakukan hal senekad itu. Eren terdiam dan menyentuh bibirnya dengan jarinya, wajahnya memerah karena terbayang sosok Rivaille.

"Rivaille..." gumam Eren dengan wajah yang memerah.

Sedangkan Rivaille yang berada di belakang pohon itu hanya terdiam dan memejamkan matanya, ia membayangkan wajah Eren yang memerah karena ia menciumnya. Ia merasa belum saatnya ia menunjukkan sosoknya pada Eren untuk saat ini.

Belum saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.

Apakah ia harus mengatakannya atau membiarkan Eren mengetahuinya sendiri? Ia tidak tahu latar belakang Eren, begitu juga sebaliknya. Mereka tidak saling tahu tapi mereka saling mencintai. Rivaille membuka matanya dan menatap kedua tangannya.

'Sebersih apapun diriku tapi tangan ini tetap kotor. Meski begitu aku ingin memelukmu lebih erat.' batin Rivaille.

To be Continued

A/N: Akhirnya update lagi. Sepertinya cukup panjang juga chapter kali ini. Terima kasih kepada semuanya yang sudah memberi review...^^

Review dari kalian semua adalah semangatku untuk melanjutkan fic.. :)

Azure'czar: Ini updatenya, semoga kamu suka...^^

Sampai jumpa di chapter berikutnya...^^