Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, Maybe OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Eren berusaha mencari-cari Rivaille, ia perlahan bangun dari tidurnya tapi ia tidak melihat sosok Rivaille dimanapun. Apa tadi ia hanya bermimpi? Apa karena terlalu memikirkan Rivaille ia sampai bermimpi pemuda itu menciumnya? Wajah Eren memerah dan ia menunduk malu, memikirkan Rivaille sampai seperti itu bisa membuat jantungnya berdetak sangat kencang.

.

.

.

Sedangkan Mikasa, Armin, Jean, Sasha dan Annie berada di markas. Mereka tampak membicarakan tentang rencana Armin itu. Setidaknya rencana Armin bisa mereka pakai jika bertemu dengan Dark. Pilihan pertama tetap mengintainya, pilihan kedua berusaha menyerangnya dan pilihan ketiga memberi kode kepada rekan satu tim untuk meminta bantuan. Rencana itu bisa saja mereka pakai untuk saat ini.

"Kalian..."

Terdengar suara seorang gadis dan mereka semua menoleh ke arah suara itu, lebih tepatnya tadi Christa yang berbicara dan disamping gadis mungil berambut pirang itu berdiri seorang gadis berambut coklat yang dikuncir, Ymir.

"Kudengar misi kalian ada hubungannya dengan Dark ya?" tanya Ymir santai kepada rekan-rekannya itu. "Annie, kau kembali berhadapan dengannya."

"Iya." ujar Annie singkat.

"Sepertinya ini misi yang cukup sulit. Dia sudah melakukan empat kali pembunuhan di kota ini. Bagaimana cara kalian untuk menangkapnya dulu?" tanya Armin.

Ymir terdiam dan ia terlihat bingung harus menjawab seperti apa. Lagipula tim mereka tidak membawa hasil apa-apa saat melakukan misi untuk membunuh Dark. Mereka pulang dengan badan penuh luka dan satu rekan mereka gugur dalam misi, tapi mereka membawa beberapa informasi yang cukup penting mengenai Dark.

"Kami tidak menangkapnya, kami pulang dengan tangan kosong. Kau juga tahu itu." jawab Ymir.

"Lagipula ini kisah yang tidak ingin kami ceritakan."

Terdengar suara seorang pemuda dan terlihat sosok Bertholt dan Reiner juga Connie. Sepertinya mereka sudah selesai melakukan misi di luar kota, sejak kemarin mereka memang pergi untuk melakukan misi.

"Kalian semua... Wah, markas ramai dengan kedatangan kalian." ujar Jean sedikit menyindir.

"Berisik! Kami juga sudah selesai melakukan misi. Tidak mungkin kami terus-terusan di luar kota." ujar Connie sedikit berteriak.

"Armin, kau tampak penasaran dengan cerita tim kami." ujar Reiner.

Armin tediam dan ia mengangguk. Tentu, mempelajari musuh dari seseorang yang pernah menghadapinya akan membuatnya mampu menyusun strategi yang lebih baik. Reiner duduk di hadapan Armin dan berdehem, ia akan mulai menceritakan masa-masa kegagalan tim mereka saat itu.

"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Eren," Connie tampak mencari-cari Eren. "Dia tidak ada ya?"

"Dia tidak kembali kesini." ujar Mikasa.

Connie mengangguk mengerti dan Reiner menceritakan saat dirinya, Bertholth, Connie, Ymir, Annie dan Marco melakukan misi untuk membunuh Dark. Mereka harus kehilangan Marco saat itu, kematian Marco tidak sia-sia karena dengan hal itu mereka berlima tahu sekuat apa musuh yang mereka hadapi dan memiliki beberapa informasi berharga tentang Dark. Dengan kekuatan enam orang tidak cukup untuk mengalahkannya.

"Dia memiliki kekuatan sebesar kekuatan 100 orang jika bersama. Kekuatan yang mengerikan." ujar Connie dengan wajah serius.

"Kami benar-benar menyesal Marco gugur dalam misi saat itu." ujar Reiner.

Jean terdiam saat mendengar nama Marco disebut, ia masih sedikit tidak rela saat menerima kabar bahwa sahabatnya itu telah gugur dalam misinya. Ia tahu Marco sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tetap saja Jean merasa kesal.

"Aku pasti akan membunuhnya!" ujar Jean langsung.

"Jean?" Armin dan Connie memanggilnya di waktu yang bersamaan.

"Aku akan membalaskan dendam Marco. Pasti, aku akan mengalahkannya!"

"Tapi aku tidak bertanggung jawab jika kau tewas sepertinya." ujar Annie datar.

Mereka terdiam mendengar ucapan Annie, suasana terlihat mencekam. Tidak ada yang berbicara di ruangan ini, mereka semua terdiam memikirkan seberapa kejam Dark itu. Apalagi kelima orang yang pernah bertarung dengannya, mereka tahu persis mereka berhadapan dengan seorang pembunuh keji layaknya psikopat.

"Sudah teman-teman, tolong jangan murung seperti ini." ujar Christa tiba-tiba.

Mereka semua menoleh ke arah Christa dan menatap gadis itu. Christa menatap semua teman-temannya dan ia merasa tidak senang jika teman-temannya seperti ini, kehilangan semangat seperti bukan mereka saja.

"Aku memang tidak pernah berhadapan dengan Dark. Tapi teman-teman pasti bisa melakukannya. Jangan sampai ada korban seperti Marco. Aku tidak tega," ujar Christa pelan. "Seandainya saja aku bisa membantu kalian..."

"Tidak Christa. Aku tidak akan mengizinkan kau terlibat dalam misi yang membahayakan nyawamu itu." ujar Ymir langsung dan membelai rambut Christa.

"Tapi... Aku yang sekarang ini tidak bisa membantu tim Mikasa. Aku ingin bisa membantu mereka."

"Tidak apa jika kamu tidak bisa membantu. Kamu percayakan saja kepada mereka."

Ymir berhenti membelai rambut Christa dan tersenyum pada gadis manis itu, Christa berusaha tersenyum kepada sahabatnya. Ia merasa lebih tenang sekarang. Memang ia sangat peduli dengan semua teman-temannya, Christa adalah gadis yang baik hati. Ymir berusaha agar Christa tidak mengambil misi yang dapat membahayakan nyawanya, ia tidak ingin kehilangan gadis itu seperti Jean yang kehilangan Marco.

"Percayakan saja pada kami, kami akan melakukan sesuatu." ujar Armin.

"Iya. Aku akan membuat penjahat itu menyesal pernah membuat urusan dengan kelompok kita." ujar Jean dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya, sepertinya Jean terlihat sangat serius sekarang.

Christa mengangguk dan ia memilih untuk percaya kepada teman-temannya. Sedangkan Ymir, Reiner dan Bertholth hanya terdiam. Entah apa yang mereka bertiga pikirkan, tidak ada yang tahu. Connie mendukung semangat Jean meski ia sedikit mengkhawatirkan temannya itu. Misi mereka kali ini sama berbahaya dengan misi tim Annie dulu. Tapi jika mereka bisa melewatinya bersama, setidaknya bisa memperkecil resiko rekan mereka mengalami luka atau menghindari kematian rekan satu tim.


Malam ini Armin, Jean, Sasha dan Annie akan tetap mengawasi orang yang mereka perkirakan adalah target Dark. Awalnya Jean sedikit tidak setuju karena mereka kembali mengintai, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk bertemu dengan Dark. Jean setuju dan ia melakukan pengintaian bersama teman-temannya. Sedangkan Eren dan Mikasa berada di rumah, mereka tidak diwajibkan untuk melakukan pengintaian karena orang yang mereka awasi sudah tewas.

Mereka berdua hanya berada di dalam rumah dan meminum teh, cuaca malam ini memang sedikit dingin. Mereka terdiam dan tidak berbicara, sepertinya mereka masih memikirkan tentang misi kali ini. Tapi apakah itu yang Eren pikirkan?

Bukan.

Eren memikirkan Rivaille. Ia mencari-cari Rivaille tadi tapi ia tidak bertemu dengan pemuda itu. Apalagi ia merasa seperti dicium saat tidur. Ia berani bertaruh jika yang melakukannya adalah Rivaille, tapi ia tidak tahu dimana pemuda itu. Ia menyentuh bibirnya dan wajahnya sedikit memerah. Mikasa melihat itu dan sedikit terkejut melihat wajah Eren yang memerah.

"Kamu kenapa, Eren? Kau baik-baik saja?" tanya Mikasa langsung.

"Aku... aku baik-baik saja." ujar Eren yang menunduk.

Tenang.

Eren berusaha menenangkan diri.

Lagi-lagi dirinya seperti ini ketika memikirkan Rivaille. Sosok pemuda yang telah menciumnya dan mereka menjadi sepasang kekasih. Meski mereka tidak saling mengatakan dengan jelas, tapi dengan pernyataan rasa saling suka sudah cukup jelas bagi Eren.

Mikasa hanya bisa memperhatikan Eren, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Eren. Bahkan ia merasa Eren sedikit menjauh dari dirinya. Seperti ada jarak yang Eren buat dan Mikasa tidak bisa mendekatinya. Mikasa menatap Eren dengan wajah sendu dan menepuk pundak Eren.

"Apapun yang kamu pikirkan, jika itu menganggumu kau bisa mengatakan itu padaku," ujar Mikasa. "Aku mengkhawatirkanmu."

Eren terdiam mendengar Mikasa bicara seperti itu, Mikasa sangat mengkhawatirkan Eren. Eren tahu itu, ia tidak buta dengan perasaan khawatir Mikasa pada dirinya. Sebagai adik angkat yang baik Mikasa itu terlalu mengkhawatirkan dirinya, Eren sendiri sampai tidak tega melihat Mikasa yang terus-terusan mengurusi dirinya.

Tapi mungkin Eren tidak melihat bahwa perhatian yang Mikasa tunjukkan padanya itu lebih dari sekedar saudara saja. Mikasa menyukai Eren lebih dari sekedar saudara. Mikasa mencintai Eren, tapi Eren tidak mengetahui hal itu dan menganggap Mikasa menyayanginya sebagai saudara.

"Jangan khawatir Mikasa. Aku tidak apa," ujar Eren. "Bukankah kita harus ikut dalam pengintaian kali ini?"

"Tapi..."

"Aku baik-baik saja. Ayo kita membantu yang lain."

Mikasa mengangguk menyetujui ucapan Eren. "Kita akan pergi ke rumah yang jaraknya lebih dekat. Rumah yang diintai oleh Jean lebih dekat dengan rumah kita."

"Begitu ya? Baik kita akan kesana."

Mikasa dan Eren menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka dengan seragam Recon Corps berupa seragam berwarna hitam. Tidak lama mereka keluar dari rumah dan menuju rumah yang diintai oleh Jean.

.

.

.

Jean sedang memperhatikan orang yang sedang ia awasi, tidak ada gerakan yang mencurigakan. Sekarang baru jam 11 malam dan ia melihat orang yang ia awasi sudah tidur. Jean menghela napas lega karena sepertinya tidak terjadi apa-apa. Tapi mengingat targetnya adalah Dark yang pernah membunuh sahabatnya membuatnya merasa sangat kesal.

'Aku pasti akan menghabisinya dengan tanganku.' batin Jean.

Ia memang tidak melihat saat Marco tewas dan mendengar berita bahwa Marco sudah tewas dari Reiner. Betapa hancurnya hati Jean saat itu, ia merasa kesal dan berjanji akan membalaskan dendam Marco.

Tidak lama Jean mendengar langkah kaki, ia langsung waspada dan terkejut melihat sosok Eren juga Mikasa yang berada di hadapannya. Mereka sekarang berada di atas atap rumah orang yang diawasi oleh Jean.

"Eren dan Mikasa? Kenapa kalian kemari?" tanya Jean bingung.

"Berterima kasihlah kami mau membantumu, Jean." ujar Eren.

"Kalau Eren tidak kemari, aku juga tidak akan kemari." tambah Mikasa dengan wajah datar.

Jean menghela napas melihat kedua temannya itu tapi ia tidak keberatan dengan kedatangan mereka. Dengan adanya kedua temannya itu ketika terjadi apa-apa mereka bisa saling bekerja sama.

Waktu sudah semakin malam dan sekarang jam 12 tengah malam, Jean merasa mengantuk karena kebosanan, Eren yang hanya menatap langit saja sedangkan Mikasa mengawasi orang yang sedang tidur. Tidak ada gerakan yang mencurigakan.

"Aku bosan." keluh Jean.

"Kau selalu seperti itu jika sedang melakukan tugas? Dasar pemalas." ujar Eren.

"Jangan meremehkanku! Tapi memang iya terkadang capek juga mengawasi seperti ini. Memangnya kau tidak capek?"

"Sudah, kalian berisik saja." ujar Mikasa yang mengawasi dengan serius.

Eren dan Jean otomatis langsung diam daripada Mikasa kembali memarahi mereka. Jean menghela napas dan sekilas ia melihat sesuatu yang melesat lewat.

"Eren, Mikasa." panggil Jean.

"Ada apa?" tanya mereka bersamaan.

Jean langsung menarik tangan mereka berdua agar mendekat dan mengajak untuk turun. Eren dan Mikasa mengerti dengan kode itu lalu mereka turun dari atap dengan melompat dan bersembunyi di belakang pohon. Jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah itu, jadi mereka masih bisa mengawasi dengan baik. Setelah semuanya aman, Jean menatap mereka dengan pandangan serius.

"Tadi aku melihat ada sesuatu yang lewat." ujar Jean pelan.

"Apa itu Dark?" tanya Mikasa.

"Mungkin saja. Sebaiknya kita bersiap-siap."

Eren terdiam mendengar ucapan Jean. Dark akan datang kembali untuk mencuri dan membunuh. Hampir setiap malam mereka mengawasi dan orang yang diawasi selalu terbunuh, sepertinya Dark senang sekali melakukannya seolah-olah itu adalah hobinya.

Mereka bertiga terdiam dan berusaha tidak membuat suara. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arah pintu belakang. Mikasa memperkirakan penjahat itu selalu masuk melalui pintu belakang, Jean hanya mengamati tanpa banyak bicara sedangkan Eren terdiam.

"Dia sudah masuk. Apa kita akan mengikutinya?" tanya Jean.

Mikasa dan Eren menganggukkan kepala mereka. Mereka bertiga mempersiapkan pistol masing-masing dan segera keluar dari persembunyian mereka. Jean bertindak cepat karena ia berlari dan segera masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang yang terbuka.

"Jean! Gegabah sekali dia." ujar Eren yang mengikuti Jean untuk masuk lalu disusul oleh Mikasa.

Jean melangkahkan kakinya perlahan menaiki tangga dan ia sekarang berada di tembok yang menghadap ke kamar. Ia mendengar suara langkah kaki di kamar dan sedetik kemudian terdengar teriakan. Sepertinya sang penjahat itu sudah beraksi.

'Tidak akan aku biarkan.' batin Jean dan ia bergegas mendekati kamar.

Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana penjahat itu membunuh, ia berada di depan pintu dan ia sedikit terkejut melihatnya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa orang berwajah datar saat menusuk leher seseorang dengan darah yang mengalir sangat deras seperti itu.

Jean menelan ludah dan ia perlahan mundur untuk bersembunyi sejenak, badannya terasa gemetaran. Ia berusaha untuk tenang dan berpikir akan menyerang penjahat itu saat ia keluar dari pintu. Ia tidak peduli dengan Mikasa dan Eren yang tidak menyusulnya itu.

Sedangkan Mikasa dan Eren sudah berada di lantai yang berada dekat dengan kamar, mereka melihat Jean yang sedang bersembunyi. Setidaknya tidak terjadi hal buruk pada Jean, tapi mereka sudah tahu bahwa penjahat itu sudah kembali beraksi.

"Sebaiknya kita menahan gerakannya." ujar Mikasa dan ia menembak ke arah depan kamar. Otomatis Eren terkejut melihatnya dan salut dengan keberanian Mikasa itu.

Jean yang mendengar suara tembakan itu terkejut, ia melirik ke arah belakang dan melihat Mikasa yang sudah selesai menembak lalu di sebelahnya ada Eren. Rasanya Jean ingin mengacungi jempol atas kenekadan Mikasa saat ini.

Jean memberanikan diri keluar dari persembunyiannya, diikuti oleh Mikasa dan Eren. Mereka sekarang berdiri di depan pintu kamar dan melihat sosok berpakaian serba hitam itu membawa kantung. Sepertinya ia sudah berhasil mengambil perhiasan pemilik rumah ini.

"Ternyata ada yang berani menggangguku." ujar orang itu.

Mikasa dan Jean terdiam mendengar orang itu bicara, sedangkan Eren merasa tidak asing dengan suara itu. Orang itu melirik ke arah mereka bertiga dan keluar dari jendela yang terbuka.

"Tunggu!" ujar Jean yang langsung mengejar orang itu.

Mikasa dan Eren segera mengikuti Jean. Eren mengenali suara itu, sangat mengenalinya. Suara yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang karena memikirkan sosoknya, suara yang hangat dan tegas itu. Sosok itu sedang bermain di benak Eren, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Apakah?

Apakah pikirannya ini nyata?

'Tolong siapa saja sadarkan aku dari mimpi ini.' batin Eren.

Tapi ini bukanlah mimpi, ini kenyataan. Orang itu berhenti, demikian juga Jean, Mikasa dan Eren yang mengejarnya. Bulan di langit bersinar dengan terang dan Eren benar-benar terkejut saat melihat sosok orang itu, sosok yang selama ini ia percayai bahwa bukan dirinya yang melakukan kejahatan.

Rivaille.

Sosok Rivaille sedang berdiri di hadapan mereka bertiga.

Tapi bagi Eren, sosok Rivaille itu seperti menatap langsung ke arah matanya. Ia tidak tahu, ia bingung. Tatapan mata Rivaille juga lebih tajam dan dingin daripada biasanya. Ia tidak mengerti kenapa harus Rivaille yang adalah pelaku kejahatan itu.

Kenapa harus dia?

Jean menatap sosok orang itu dengan tatapan benci, tentu saja karena Dark adalah yang membunuh sahabatnya. Ia mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Dark. Sosok Dark itu menatap Jean dengan wajah yang datar.

"Aku tidak menyangka kalian anggota Recon Corps akan kembali mengejarku." ujarnya.

"Kamu! Kamu yang telah membunuh Marco!" ujar Jean kesal dan menatap penuh kebencian.

"Marco? Aku tidak pernah mengingat nama orang yang aku bunuh."

Jean benar-benar merasa kesal, ia mengambil sebuah senjata dan menembakkannya ke langit, terlihat cahaya seperti asap berwarna merah yang keluar dari senjata itu. Mikasa terdiam, ia tahu maksud sinyal yang Jean berikan. Kemarin Armin mengatakan untuk menyalakan sinyal itu jika membutuhkan bantuan untuk melawan Dark.

"Aku tidak akan segan-segan lagi." ujar Jean yang mengarahkan pistolnya pada sosok itu dan menembaknya.

Tapi Rivaille langsung mengambil pedangnya dan membelah peluru itu hingga tidak mengenai dirinya. Jean sampai terkejut melihatnya dan Mikasa hendak menyerang juga, ia langsung menembak tapi Rivaille berhasil menghindar dan menatap mereka dengan pandangan datar. Jean merasa emosinya tersulut dan Mikasa terdiam melihatnya.

Eren tidak bisa melakukan apa-apa, seolah-olah badannya terasa kaku. Jadi sosok Dark yang selama ini meneror kota adalah Rivaille. Eren tidak bisa berkata apa-apa, menggerakkan badan juga tidak mampu, apalagi berpikir untuk menyerang. Tidak bisa, Eren tidak mampu melakukannya setelah melihat penjahat itu adalah kekasihnya sendiri.

"Eren apa yang kau lakukan?" teriak Jean berusaha menyadarkan Eren.

Eren tersadar dari lamunannya itu dan melihat ke arah Jean juga Mikasa lalu Rivaille. Entah kenapa ia masih tidak bisa mempercayai sosok yang di depannya adalah Rivaille. Ia tidak ingin percaya lebih tepatnya.

Tidak lama Armin, Sasha dan Annie sudah datang ke tempat ini dan terkejut melihat keadaan yang ada. Mereka bertemu langsung dengan penjahat yang meneror kota, Dark. Annie menatap Dark dengan tatapan datar dan ia langsung bergerak untuk menembak, ia menembak bertubi-tubi hingga peluru di pistolnya habis. Tapi Rivaille dapat menangkis serangan itu dengan mudah dan melempar pedangnya.

Annie sedikit lengah, posisinya sedang duduk untuk mengisi peluru. Ia terkejut saat melihat pedang itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya dan hampir mengenai wajahnya. Sasha langsung bergerak dan melindungi Annie di depannya dengan merentangkan tangannya hingga tangan kanannya yang terkena pedang itu.

"Ukh!" Sasha berusaha menahan rasa sakit yang ia dapatkan itu.

"Sasha!" Mereka semua terkejut melihat Sasha yang langsung melindungi Annie.

"Ehehe... Tiba-tiba badanku bergerak sendiri. Aku tidak ingin ada yang terluka." ujar Sasha.

"Hoo..." terdengar suara Rivaille yang datar.

Rivaille menatap datar dan ia tidak bergerak, hanya melihat anak-anak itu yang tampak terkejut. Rivaille hanya menyeringai melihat mereka dan berjalan mendekati Sasha, ia langsung mencabut pedang itu dari bahu Sasha dan darah keluar dari sana.

"Padahal aku memperkirakan akan mengenai gadis pirang itu." ujarnya.

Annie terdiam dan ia langsung membawa Sasha untuk menjauh dari sosok Rivaille dan bergabung dengan teman-temannya. Armin melirik ke arah Sasha yang terluka, Sasha hanya tersenyum saja.

"Ini bukan apa-apa." ujar Sasha yang berusaha menahan sakitnya.

Armin, Jean, Mikasa, Annie dan Sasha berusaha menembak Rivaille bersamaan. Tapi peluru-peluru itu dapat ditangkis dan dihindari dengan mudah. Sosok Rivaille tiba-tiba sudah tidak ada, mereka berlima bingung melihatnya. Annie menyadari sesuatu dan ia langsung menoleh ke belakang. Benar saja Rivaille sudah berada di belakang mereka dan menarik Eren. Rivaille memeluk pinggang Eren dan mengacungkan pedang hampir mengenai matanya. Mikasa sangat terkejut melihatnya dan wajahnya terlihat penuh amarah.

"Kalian lengah sekali. Aku sampai mudah mendapatkannya." ujar Rivaille.

"Eren! Lepaskan Eren!" Mikasa langsung mengacungkan pistolnya dan hendak menembak tapi Armin menahannya.

"Mikasa, kalau kau tidak hati-hati pelurumu akan mengenai Eren." ujar Armin.

Mikasa tersadar dan ia terdiam, ia menatap penuh amarah karena Eren diperlakukan seperti itu. Bisa dibilang sekarang Eren dijadikan layaknya sandra. Semuanya terdiam dan menatap Eren yang tidak bergerak.

"Eren, bunuh saja dia!" teriak Jean.

Eren terkejut mendengar ucapan Jean. Tidak mungkin ia bisa melakukannya dengan posisi seperti ini. Tapi Eren tidak merasa terancam, justru ia merasa jantungnya berdebar sangat kencang karena baru kali ini Rivaille memeluknya seperti ini.

'Kenapa aku memikirkan hal ini?' batin Eren yang menunduk.

Rivaille terdiam dan melirik ke arah Eren, pedang yang ia acungkan hampir mengenai mata Eren itu ia turunkan. Tapi bukan berarti Rivaille tidak akan melakukan sesuatu, tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya. Mikasa mencari celah untuk bisa menembak, saat ia menemukannya ia langsung menembak tapi dengan mudah Rivaille menangkisnya.

"Mikasa, jangan!" ujar Eren sedikit berteriak.

Mikasa terkejut mendengar ucapan Eren, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka mengira karena Eren disana jadi Mikasa tidak bisa sembarangan menembak begitu saja. Rivaille terdiam dan menatap ke arah gadis bernama Mikasa.

'Jadi itu Mikasa?' batin Rivaille.

Entah kenapa Rivaille merasa kesal. Ia mengingat ucapan Eren tentang Mikasa, ia merasa kesal. Ia menatap Eren dan mendekatkan wajahnya, menatap lebih tajam. Mereka semua tidak melihat tapi saat ini wajah Eren justru memerah.

"Aku tidak akan memberikanmu pada gadis itu." ujar Rivaille.

"Eh?" Eren tampak bingung mendengar ucapan Rivaille.

Tapi Rivaille tidak berkata apa-apa, ia langsung melepaskan Eren dari pelukannya. Eren sedikit terkejut dan berusaha menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi di saat yang bersamaan ia merasa sakit di bagian punggungnya.

"Eren!" teriak Mikasa.

Eren merasa sakit dan ia terjatuh, Rivaille memberikan luka di punggungnya. Mikasa semakin geram dan memberikan tembakan bertubi-tubi pada Rivaille tapi Rivaille hanya memotong peluru-peluru itu dan menatap mereka dengan pandangan dingin. Lalu langsung pergi meninggalkan mereka, semuanya berusaha memberi tembakan tapi tidak mengenainya dan sosok itu menghilang.

"Eren!" Mikasa langsung berlari mendekati Eren. "Eren, kau tidak apa? Kau sakit? Aku obati ya."

Mereka semua terdiam melihatnya, Mikasa berusaha memeriksa badan Eren. Tapi ia melihat seragam Eren yang tampak sobek terkena pedang tadi. Mikasa tidak melihat ada darah yang banyak, hanya berupa sayatan dengan darah yang sedikit.

"Kau juga harus diobati, Sasha." ujar Armin.

"Ah, terima kasih." ujar Sasha.

Armin berusaha mengobati luka Sasha dengan seadanya. Jean dan Annie hanya terdiam melihat mereka. Annie menyimpan lagi pistolnya dan melirik ke arah Sasha, wajah datarnya itu terlihat tersenyum meski sedikit.

"Terima kasih sudah menolongku. Cepat sembuh." ujar Annie dan ia pergi meninggalkan mereka.

"Bagaimana jika dirawat dirumah Eren saja?" tanya Armin. "Mikasa, ada kotak obat di rumahmu?"

"Ada. Ayo." ujar Mikasa yang langsung saja membawa Eren.

Armin membantu Sasha untuk bergerak dibantu juga oleh Jean dan mereka semua menuju rumah Mikasa dan Eren. Sesampainya disana, Armin langsung mengobati Sasha dengan obat yang ada sedangkan Mikasa meminta Eren melepas bajunya dan mengelap tubuh Eren dengan air agar lukanya tidak terinfeksi.

"Mikasa, aku malu..." ujar Eren.

"Kenapa? Kan ada aku." ujar Mikasa santai.

"Tapi, masa aku harus membuka baju disini lalu kau mengobati lukaku seperti ini? Mana disini ada Jean!"

"Eh?! Kenapa juga aku dibawa-bawa? Harusnya aku yang kesal karena Mikasa yang mengobati lukamu." ujar Jean sedikit emosi.

"Sudah kalian ini jangan bertengkar." ujar Armin mendamaikan mereka.

Jean terdiam mendengar ucapan Armin dan ia langsung duduk di sebelah Armin. Ia menatap ke arah Eren dengan pandangan cemburu dan kesal. Sedangkan Eren kembali memakai bajunya yang dilepas Mikasa untuk mengobati luka di punggungnya.

"Awas kau Eren, akan kubuat Mikasa mau melakukan hal yang sama padaku." ujar Jean.

"Aku tidak akan melakukannya." ujar Mikasa yang menatap Jean dengan pandangan yang mengerikan.

"Maaf Mikasa, aku hanya bercanda." ujar Jean.

Tapi Eren terdiam, ia tidak habis pikir bahwa Rivaille dan Dark adalah orang yang sama. Eren sama sekali tidak menyangka. Selama ini ia selalu menyingkirkan pikirannya yang mengatakan kemungkinan Dark itu Rivaille karena penampilan mereka sama. Tapi setelah melihat kenyataan yang ada dia merasa sangat terpukul.

'Kenapa Rivaille?' batin Eren.

Mikasa selesai mengurus Eren dan melihat raut wajah Eren yang tampak sedih. Ia tidak mengerti kenapa Eren seperti itu. Untung Armin, Jean dan Sasha tidak terlalu memperhatikannya. Tapi ada Mikasa yang selalu memperhatikan Eren, dan ia tahu bahwa Eren merasa sedih, mungkin lebih tepatnya merasa bingung.

'Tapi karena masalah apa?' batin Mikasa.

Armin memperhatikan teman-temannya dan terdiam, Jean melihat raut wajah Armin yang berubah dan menatapnya.

"Ada apa, Armin?" tanya Jean.

"Aku hanya bingung," gumam Armin. "Baru kali ini kita menghadapi musuh sekuat Dark. Sekarang aku mengerti dengan ucapan semuanya. Kita berhadapan dengan lawan yang kuat. Bahkan Annie saja lengah tadi, Sasha terluka begitu juga Eren. Apa kita sanggup membunuhnya?"

Suasana tampak hening, mereka terdiam mendengar ucapan Armin. Mereka semua memiliki rasa khawatir yang sama. Apakah mereka sanggup mengalahkan pembunuh yang sadis seperti Dark dengan kemampuan yang mereka miliki? Seolah pertarungan tadi bagai pemanasan tapi jika mereka lengah mungkin Dark akan menghabisi mereka saat itu juga.

"Kita harus lebih kuat lagi." ujar Mikasa.

"Tidak cukup waktu," ujar Jean. "Menurutku dengan kemampuan kita yang ada kita harus menggunakan dengan maksimal dan saling bekerja sama untuk menyerangnya. Pasti bisa ada celah walau hanya sedikit."

"Kurasa begitu... Kita harus bekerja sama untuk menghabisinya." tambah Sasha.

Lagi-lagi hanya Eren yang tidak ikut dalam pembicaraan, Eren hanya terdiam saja. Mereka semua menoleh ke arah Eren. Semenjak melawan Dark tadi mereka melihat Eren seperti tidak biasanya. Biasanya Eren akan bersemangat, Armin yang sering satu tim dengan Eren tahu hal itu. Tapi sejak melawan Dark tadi seolah-olah Eren tidak bisa melakukan apa-apa.

"Apa kau takut, Eren?" tanya Jean langsung dengan nada sedikit menyindir.

"Ah? Tidak. Aku tidak takut." jawab Eren langsung.

"Tapi kau tidak bisa menembaknya kan? Aku yakin kau pasti ketakutan melihat betapa kuatnya Dark itu."

Belum sempat Eren membalas ucapan Jean, Mikasa langsung menatap Jean dengan tatapan tajam. Mungkin kalau tatapan bisa membunuh, Jean akan tewas dengan tatapan tajam Mikasa. Tatapan yang terlihat mengerikan. Armin hanya tersenyum paksa melihat tingkah Mikasa itu. Jean juga tampaknya terkejut dan memilih untuk diam.

"Eren, apapun yang terjadi aku akan melindungimu. Kita pasti bisa melawan Dark." ujar Mikasa.

"Itu benar Eren. Jangan membiarkan penjahat seperti dia memandang kita remeh," ujar Sasha. "Kau lihat tatapan matanya tadi? Kelihatan sekali bahwa dia meremehkan kita."

Eren tersenyum tipis mendengar ucapan Mikasa dan Sasha, kedua gadis ini memang berpikiran positif khususnya Mikasa. Mikasa pasti rela melakukan apapun demi Eren. Jean hanya menghela napas dan ia langsung bangun dari sofa.

"Baik, terima kasih untuk Eren dan Mikasa yang mau membantuku tadi," ujar Jean. "Aku pamit."

Jean sudah pergi dari rumah Eren juga Mikasa, Armin dan Sasha juga pamit pada mereka. Sekarang tinggal Eren dan Mikasa saja, suasana di rumah kembali sepi seperti sedia kala. Mikasa menatap Eren dengan pandangan khawatir, tapi ia berusaha percaya kepada Eren.

"Eren, kurasa kau harus istirahat. Kalau masih sakit panggil saja aku." ujar Mikasa.

"Iya. Aku baik-baik saja," ujar Eren santai. "Lukanya tidak terlalu sakit."

"Iya. Saat aku mengobati lukamu memang tidak parah, hanya seperti sayatan saja. Darah yang keluar juga sedikit. Tidak seperti Sasha."

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa. Eren melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rivaille hendak membunuh Annie tapi karena Sasha melindunginya jadi Sasha mengalami luka di bahu, untung tidak terjadi hal buruk. Tapi Eren juga diserang, ia tidak mengerti karena ia diserang di punggung dan luka yang ia alami tidak separah Sasha.

'Kenapa?' batin Eren.

Kenapa?

Hanya satu kata itu yang terus bermain di benak Eren hingga saat ini. Sejak melihat sosok Rivaille ketika ia bertugas tidak ada habisnya ia ingin mengatakan kata kenapa itu. Eren belum bisa menerima kenyataan bahwa Dark dan Rivaille adalah orang yang sama.

"Sebaiknya aku ke kamar." ujar Eren.

"Aku juga mau tidur. Selamat tidur Eren." ujar Mikasa yang berjalan menuju kamarnya.

Eren menghela napas dan ia juga menuju kamarnya. Ia sudah menutup pintu kamarnya dan melihat cermin yang ada di kamarnya. Ia membuka kembali bajunya dan berusaha melihat luka yang ada di punggungnya, memang tidak parah hanya seperti sayatan.

'Apa Rivaille ingin membunuhku?' batin Eren bingung.

Ia mengganti bajunya dengan piyama dan menatap cermin lagi. Ia menyentuh cermin itu dan memejamkan matanya lalu menuju ranjang. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Ia ingin apa yang ia lihat sedari tadi hanyalah mimpi buruk saja.


Tapi kenyataan memang pahit. Semua yang terjadi memang nyata dan sosok Rivaille sebagai Dark itu memang nyata. Eren sudah terbangun dari tidurnya dan menatap datar ke arah sekelilingnya, ia berusaha bangun dari ranjang dan melirik ke arah jendela. Langit terlihat cerah dengan matahari yang menyinari, tapi hati Eren terlihat diliputi awan.

"Hah~ sebaiknya aku cuci muka dulu." ujar Eren yang berjalan keluar kamar.

Setelah selesai dengan aktivitasnya, sekarang Eren dan Mikasa menikmati sarapan mereka. Mereka hanya diam, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya Mikasa ingin sekali bertanya tentang Eren tapi ia memutuskan setelah selesai makan.

"Eren, bagaimana dengan lukamu?" tanya Mikasa.

"Tidak apa. Kurasa sudah lebih baik." jawab Eren.

"Benarkah? Syukurlah."

Mikasa tersenyum lega dan ia tampak lebih baik. Setelah mereka selesai sarapan mereka menuju markas Recon Corps, disana mereka akan kembali menyusun strategi dan akan melaporkan kejadian kemarin kepada atasan mereka.

.

.

.

"Bagaimana dengan misi kalian?" tanya Christa khawatir.

Christa menatap ke arah Mikasa, Annie, Sasha, Eren, Armin dan Jean bersamaan. Sekarang mereka semua berada di ruang berkumpul, bersama dengan Connie dan Reiner. Mereka berenam terdiam saja. Sasha terlihat santai meski tangannya masih sedikit sakit. Tiba-tiba saja Ymir datang mendekati mereka dan satu tim itu.

"Dari wajah kalian kutebak kemarin kalian bertemu dengan Dark ya?" tebak Ymir.

"Kau pintar membaca suasana." ujar Annie.

"Benarkah? Kalian tidak apa?" tanya Christa lagi.

"Kemarin kami sempat bertarung dengannya. Eren dan Sasha sampai terluka karena Dark." ujar Armin.

Christa sedikit terkejut dan mendekati Sasha juga Eren bergantian. Eren sedikit bingung melihat sikap Christa, tapi ia tahu Christa itu gadis yang baik dan mengkhawatirkan temannya. Wajar saja jika ia khawatir seperti itu.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Christa.

"Aku tidak apa." ujar Eren.

"Aku juga, Christa. Jadi kamu tidak usah cemas," tambah Sasha yang memakan kentangnya. "Memang masih sedikit sakit, tapi tidak apa."

"Begitukah? Aku khawatir dengan kalian." gumam Christa.

Ymir langsung mendekati Christa dan menepuk puncak kepalanya dengan lembut. Christa menatap Ymir dengan pandangan bingung.

"Sudah, mereka baik-baik saja. Kamu jangan khawatir seperti itu." ujar Ymir.

"Aku mengerti," ujar Christa yang tersenyum. "Waktu kamu melakukan misi itu, kamu juga terluka kan? Aku sangat khawatir."

"Iya, tapi toh sudah sembuh jadi jangan khawatir. Kamu manis sekali kalau seperti itu. Bisa-bisa aku akan langsung menikahimu saat ini."

Ymir membelai rambut Christa dan tersenyum, lalu ia menatap rekan-rekannya dengan tatapan biasa. Sedangkan Christa memaklumi Ymir yang senang membelai rambut pirangnya, ia juga tidak merasa keberatan.

"Baiklah, kami akan melakukan misi. Untuk tim kalian hati-hati saja."

Ymir langsung pergi meninggalkan mereka disusul oleh Christa yang tampak mengekor di belakang Ymir. Mereka berdua memang akrab, semua teman-teman mereka tidak ingin memusingkan apa hubungan kedua gadis itu sebenarnya.

"Mereka akrab sekali." celetuk Jean. "Aku jadi curiga dengan mereka."

"Bukankan mereka akrab sama seperti kamu dan Marco?" tanya Armin.

"Hei, aku kan tidak sampai seperti itu." Jean tampak salah tingkah dengan ucapan Armin dan ia terlihat kesal atau mungkin malu. Connie dan Reiner tertawa melihat tingkah Jean dan Jean tampak mengamuk dengan mereka berdua.

Akhirnya mereka berenam mulai membicarakan strategi untuk misi mereka sedangkan Connie dan Reiner pamit untuk menjalankan misi. Eren hanya terdiam dan sesekali memperhatikan ucapan teman-temannya itu. Entah kenapa setiap kali ia berusaha menghilangkan pikiran tentang Rivaille tapi sosok Rivaille selalu muncul di benaknya, bahkan tidak mau menghilang.

"Aku akan melaporkan hal ini pada Sir Shadis." ujar Armin yang berdiri dan menatap teman-temannya.

"Aku akan menemanimu." ujar Jean yang langsung mengantar Armin. Armin tersenyum saja dan mereka berdua berjalan menuju ruangan atasan mereka.

"Kalau begitu kita bisa pulang kan?" tanya Sasha.

"Kita harus menyiapkan diri." ujar Annie.

"Kita harus bisa kompak untuk menjalankan rencana ini." Mikasa tampak serius dan kedua temannya itu mengangguk lalu mereka pergi meninggalkan ruangan.

Sekarang hanya ada Mikasa dan Eren di ruangan ini, mereka juga tidak memiliki pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Eren langsung bangun dari tempat duduknya, membuat Mikasa sedikit terkejut dan ikut bangun juga. Mikasa melihat Eren hendak pergi meninggalkan ruangan.

"Kamu mau kemana, Eren?" tanya Mikasa.

"Aku mau ke tempat biasa. Nanti aku kembali Mikasa." ujar Eren yang tersenyum tipis ke arah Mikasa lalu pergi meninggalkan Mikasa. Dan Mikasa hanya bisa menatap sosok Eren yang menjauh dengan wajah yang sendu.

'Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Eren?' batin Mikasa.

.

.

.

Eren pergi menuju bukit seperti biasa, ia ingin menenangkan pikirannya disana. Ia menatap pohon di hadapannya dengan pandangan datar. Ia mendekati pohon itu dan bersandar disana, langit yang cerah. Matahari tidak pernah lelah untuk menyinari bumi dengan cahayanya, selalu terlihat terang.

"Kenapa matahari selalu bersinar?" gumam Eren.

Eren terdiam dan ia sampai bingung dengan ucapannya itu. Tentu saja itu sudah fungsi dari matahari, tampaknya sejak ia melihat sosok Rivaille di malam itu membuat Eren tidak bisa berpikir jernih. Setidaknya ia semakin memikirkan sosok pemuda itu.

"Rivaille..." gumam Eren sambil memejamkan matanya.

Selama ini Eren berharap bisa bertemu Rivaille. Merasakan tangan hangat itu yang membelai rambutnya dan merasakan ciuman hangat itu. Tapi kenapa ia harus bertemu Rivaille di waktu yang tidak bagus seperti itu. Di saat Eren bertugas dan Rivaille adalah pelaku kejahatan yang harus Eren habisi.

Ia merasa tertipu.

Eren tertipu mentah-mentah dengan Rivaille.

Entah kenapa memikirkan Rivaille adalah seorang penjahat membuat Eren merasa sedih. Karena ia tahu tugasnya adalah membunuh penjahat itu. Mau tidak mau Eren harus berhadapan dengan Rivaille.

Lalu membunuhnya.

"Tidak bisa... Aku tidak bisa melakukannya." suara Eren terdengar parau. Ia sulit untuk bicara mengenai Rivaille, ia tidak mengerti. Rasanya jantungnya berdetak kencang, tapi di saat yang bersamaan ia merasa sakit juga.

Saat Eren melamun, ia mendengar langkah kaki yang berjalan di bukit. Eren berusaha fokus dan mencari asal suara langkah kaki itu. Betapa terkejutnya ia melihat sosok Rivaille yang berjalan menuju bukit. Pandangan mata mereka lagi-lagi bertemu, seperti saat pertama kali mereka bertemu.

"Rivaille..."

To Be Continued

A/N: Akhirnya update lagi...^^

Terima kasih untuk Sedotan Hijau, Nacchan Sakura, Azure'czar, Keikoku Yuki dan luffy niar atas reviewnya di chapter sebelumnya...^^

Sepertinya aku tidak bisa menahan diri untuk membuat chapter yang panjang-panjang, jadi inilah hasilnya. Setiap update selalu panjang... XD

Aku juga merasa perlu ada perubahan genre jadi Romance dan Drama karena aku belum yakin dengan endingnya, apakah sesuai dengan genre Tragedy atau tidak. Tapi intinya sama saja apapun genrenya...^^

Sampai jumpa di chapter berikutnya... :)