Naruto © Masashi Kishimoto
HEARTBEAT © Evellyn Ayuzawa
Title: Heartbeat [Chapter 4]
Author: Evellyn Ayuzawa
Genre: Romance, Drama, Shoujo, Slice of Life
Length: Chaptered
Rate: M (for any reasons)
Main Cast:
Naruto U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Special Thanks to: ALL READER, ARIGATOU!
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-Normal Pov.-
.
.
.
.
.
"Aku mencintaimu, Sakura."
"Aku jugs mencintaimu, Naruto-kun."
Sakura menarik lebih dalam ciuman mereka, hingga tak terasa tubuh Sakura telah berbaring dengan Naruto berada di atasnya. Naruto melepaskan tautan bibir mereka. Sakura memeluk Naruto dengan erat.
"Da—dapatkah kita bersama-sama hingga besok?"
Naruto tersentak dengan pertanyaan Sakura. Ia tersenyum kemudian mencium puncak kepala Sakura lembut.
"Tentu saja. Kenapa tidak?" ucapnya dengan suara serak dan berat.
Naruto kembali menautkan bibir mereka. Lagi-lagi sengatan listrik itu kembali menjalar ke seluruh tubuh keduanya. Sakura merasakan tubuhnya memanas hingga ke pusat dirinya. Naruto membuka paha Sakura dan mengambil tempat di antaranya.
Sakura dapat merasakan ereksi Naruto yang keras padanya. Tubuh mereka sama-sama terbakar gairah. Namun, tiba-tiba saja Sakura merasa takut. Tubuhnya sedikit bergetar. Naruto menyadarinya, ciuman Sakura tak lagi sama seperti tadi. Naruto melepaskan tautan mereka dan menjauhkan wajahnya agar dapat melihat wajah Sakura, ia dapat melihat ekspresi Sakura yang tampak ketakutan. Bibirnya bergetar beserta tubuhnya dan ada sedikit air mata di ujung matanya yang tertutup. Naruto merasa bersalah karena telah membuat Sakura ketakutan.
Naruto tersenyum kemudian mengecup kedua mata lalu puncak kepala Sakura dengan lembut. Sakura merasakannya, ia membuka matanya dan masih melihat senyuman tulus pada bibir Naruto yang tertarik ke atas.
"Jangan khawatir, aku akan menunggu sampai kau siap," ucap Naruto.
Sakura menyesal telah membuat Naruto kecewa, "Maafkan aku, Naruto-kun. Aku—aku hanya malu."
Naruto menggeleng, "Tidak, Sakura. Kau bukannya malu, kau takut."
"Aku tidak takut, Naruto-kun!" Tegas Sakura dengan suara meninggi namun bergetar karena menahan tangis.
"HAHAHAHA!"
Naruto bangkit dari posisi menindih Sakura dan tertawa keras. Sakura ikut bangun dan mengusap air matanya. Ia menatap sebal pada Naruto yang terus menertawakannya.
"Apa yang kau tertawakan, Bodoh?!" Sakura memukul lengan Naruto.
Naruto berhenti tertawa walaupun raut geli masih bertengger pada wajahnya, "Maaf... maaf... tubuhmu gemetaran dan juga kau menangis. Mana mungkin kau tidak takut? Sudahlah, tak apa. Aku bisa menunggu."
Sakura menggeleng, "Aku tak apa-apa sekarang. Aku sudah tak takut."
Naruto mengusap pelan mahkota merah muda milik Sakura, "Sakura-chan, aku tak akan menyentuhmu."
Sakura tersentak dengan ucapan Naruto. Ia merasa Naruto telah menolaknya. Sakura membalikkan tubuhnya membelakangi Naruto dan lama-kelamaan tubuhnya mulai bergetar. Naruto menduga bahwa Sakura kembali menangis.
Naruto mendekat pada Sakura kemudian ia melingkarkan tangannya pada pinggang gadis merah muda itu dari belakang.
"Dasar cengeng! Aku belum selesai bicara, Sakura!"
Sakura sesenggukan menjawabnya dengan suara parau, "Apa?"
Naruto menempelkan hidungnya pada rambut Sakura. Menghirup aroma wangi stroberi dari sampo yang dipakai Sakura.
"Aku tak akan pernah menyentuhmu lebih sebelum kau tumbuh menjadi seorang wanita dewasa," ucap Naruto.
Sakura menengokkan kepalanya ke samping untuk melihat Naruto, "Jadi maksudmu aku ini masih anak-anak?!" tanya Sakura dengan suara yang meninggi.
Naruto menggelengkan kepalanya, "Sakura-chan, kau tahu tidak kalau kau itu sangat egois?"
Sakura terkejut dengan kalimat ejekan Naruto kepadanya. Ia hendak berdiri namun Naruto mencegahnya dengan memerangkap Sakura dalam dekapan hangatnya.
"Sakura-chan, kenapa kau tak memikirkan perasaanku juga? Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Apa kau tak kasihan padaku?" Naruto menyerang Sakura dengan beberapa pertanyaan.
"Apa maksudmu dengan semua pertanyaanmu itu? Kenapa tiba-tiba kau seolah-olah sedang mengolokku dengan pertanyaan seperti itu? Aku benar-benar tak mengerti!" jawab Sakura sedikit terengah karena terlalu cepat berbicara.
Naruto semakin mengeratkan pelukannya karena Sakura mulai meronta meminta dilepaskan. Ia menggigit cuping telinga Sakura pelan. Menimbulkan sensasi panas yang kembali menjalari tubuh Sakura hingga menuju pusat dirinya.
Sakura dapat merasakan kembali ereksi Naruto yang telah mengeras pada tubuh belakangnya yang menempel pada lelaki itu. Tangan Naruto menyusup ke dalam baju Sakura, mengelus perut datar Sakura dengan pola-pola melingkar. Membuat Sakura menggigit bibir bawahnya agar tak membuat suara-suara yang menurutnya memalukan.
"Sakura-chan, kau bisa merasakan itu 'kan? Taukah kau bagaimana dampak dari sentuhan darimu? Kau sangat menyiksaku," ucap Naruto yang dijawab Sakura dengan anggukan kepala.
"Sakura-chan, kau itu sangat manis, harum, menggoda dan juga panas. Kenapa kau tidak sadar juga selama ini?"
"Naru—" Sakura tak jadi melenjutkan kata-katanya karena Naruto kembali menggigit gadis itu, namun kali ini di lehernya.
"Tidak, Sakura-chan. Biarkan aku menjelaskan dulu," ucap Naruto yang kembali dijawab Sakura dengan anggukan kepala.
"Sakura-chan, kau adalah satu-satunya orang yang paling berharga bagiku –Ehm, tentu saja setelah orang tuaku. Aku tidak mungkin ingin merusak apalagi menghancurkan milikku yang paling berharga. Dengan keadaan kita sekarang, aku dengan mudah melakukan hal yang paling aku tahan selama ini padamu. Lagipula aku tidak mungkin bisa tinggal bersama denganmu sekarang tanpa beberapa syarat dan perjanjian dengan orang tuamu. Ayahmu bahkan sempat memaki dan hampir menghajarku saat aku memberitahu mereka tentang rencana itu, yeah... aku bersyukur saat itu ada Ibumu mencegahnya. Jadi, Sakura-chan, kesimpulan dari penjelasanku tadi adalah aku harus menghormatimu dan memperlakukanmu sebagai lawan jenis secara normal dan bersih, kau pasti mengerti maksudku 'kan? Lagipula aku juga ingin memegang janjiku pada orang tuamu. Yeah, aku cukup menunggu sampai kau lulus SMA lalu menikahimu," Naruto menyelesaikan kalimat panjangnya dan menunggu tanggapan dari gadis muda dalam pelukannya.
"Jadi kau meminta izin orang tuaku?" Naruto mengangguk.
Kemudian Sakura melanjutkan, "Lalu kenapa mereka tidak memberitahuku dulu kalau kau akan datang?"
"Aku yang melarang mereka," jawab Naruto santai.
"Kenapa kau melarang mereka? Itu tidak adil! Setidaknya biarkan aku sedikit bersiap-siap," Naruto mendengus geli mendengar kalimat Sakura serta omelan-omelannya.
"Ku pikir kau masih menyukai kejutan," Sakura memanyunkan bibirnya ke depan.
"Yeah, tentu saja aku masih menyukainya. Tapi tetap saja itu sedikit menyebalkan," Naruto kembali terkikik geli.
"Tapi kau suka 'kan aku datang?" Sakura diam beberapa saat, ia menunduk kemudian mengangguk. Senyum semakin mengembang di bibir Naruto.
"Eum, aku harus memeriksa tugas-tugasku," ucap Sakura pelan.
Naruto tahu jika gadis merah muda itu membutuhkan waktu sendiri, maka dari itu dia mendaratkan kecupan singkat di bibir ranum gadis itu kemudian bangkit dan keluar dari kamar Sakura. Meninggalkan gadis pemilik mata hijau alami itu tertegun mendapatkan sentuhan ringan namun berdaya seribu volt pada tubuhnya hingga membuat wajahnya merah padam.
"Jangan tidur terlalu larut!" seru Naruto dari luar.
Sakura tak menjawab. Gadis berhelaian merah muda sepinggang itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke ranjang kemudian menjatuhkan tubuhnya tengkurap dan membenamkan wajahnya pada bantal seraya berteriak.
Naruto tersenyum saat mendengar teriakan Sakura walau tak terlalu kentara, ia tahu jika gadis itu meredam teriakannya pada bantal. Hal tersebut mengundang tawa renyah pria dua puluh tujuh tahun itu.
Naruto masih menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar sang gadis pemilik hatinya. Jantungnya kembali berdebar keras saat mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu di dalam ruangan di belakang punggungnya. Pemuda pirang itu menyentuh dadanya tepat dimana jantungnya berada. Dapat ia rasakan dengan jelas detak demi detak yang cukup keras terasa.
"Bodoh! Tadi itu hampir saja," ucapnya kemudian bergegas meninggalkan ruang pribadi milik gadis pemilik aroma memabukkan itu.
"Ku pikir aku harus mandi dulu sebelum tidur."
.
.
.
.
.
"Kau kenapa?" Ino melipat kedua tangannya di bawah dadanya seraya melotot pada Sakura yang kini menolehkan kepalanya pada gadis bermarga Yamanaka itu dengan bingung.
"Apa maksudnya?" gadis pemilik surai merah muda itu melirik pada dua temannya selain Ino yang juga tengah bergabung untuk istirahat makan siang di kelas, Hinata dan Tenten yang balik meliriknya tak mengerti kemudian kembali menatap mata biru milik sahabat pirangnya.
"Ayolah, hari ini kau kelewat cerah, Sakura! Pasti ada yang terjadi 'kan?" Ino mengibaskan tangan kanannya dua kali kemudian menatap penuh curiga pada Sakura.
Sakura tak menjawab, dia mengalihkan pandangannya dari mata penasaran milik Ino yang menuntut. Rona merah mulai menjalar pada wajahnya, hal tersebut tak luput dari penglihatan tajam sang ratu gosip, Yamanaka Ino.
"Apa yang terjadi, Sakura?! Cepat ceritakan pada kami!" dengan semena-mena, gadis pirang itu memerintah Sakura.
"Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian," ucap Sakura dengan suara lirih.
"Kenapa tidak bisa?" pertanyaan itu keluar secara bersamaan dari mulut Ino dan Tenten. Sedangkan Hinata masih tetap diam memperhatikan Sakura dengan penasaran.
"Karena sangat memalukan. Aku ingin melupakannya,"
Ino menyeringai. Ia terlalu mengenal Sakura. Gadis pirang itu tahu bahwa Sakura pasti terlibat hal yang menarik sekaligus memalukan seperti katanya tadi. Dan hal yang disembunyikan oleh Sakura itu sangat membuatnya penasaran.
"Baiklah jika kau tak mau mengatakannya, Sakura. Mungkin itu memang bukanlah hal yang menarik," Ino menutup kotak bekalnya kemudian meminum susu kotaknya dari sedotan tanpa menatap gadis merah muda itu.
Hinata dan Tenten menatap Ino kecewa. Mereka berdua tak dapat melakukan apa-apa jika Ino telah menyerah. Padahal mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Sakura.
Sakura menatap Ino kemudian tersenyum lebar pada gadis pirang itu. Ino adalah sahabatnya yang paling mengerti dirinya dibandingkan dua sahabatnya yang lain. Ino sangat tahu kalau tak akan ada gunanya memaksa Sakura bercerita jika gadis merah muda itu tak ingin menceritakannya.
Maka untuk mengurangi kedongkolan Ino, Sakura menyuapkan telur gulungnya pada Ino yang mendapat tatapan tajam dari mata biru gadis itu.
"Kau menyuapku?" Sakura menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku menyuapimu," jawab Sakura dengan senyum lebar.
"Issh... menyuap dengan menyuapi itu beda, Sakura," Ino membuka mulutnya dan membiarkan telur gulung Sakura masuk ke dalam mulutnya utuh.
"Bukankah itu sama saja," jawab Sakura pura-pura tak tahu.
"Tidak, itu berbeda. Kalau menyuap itu kau menyogok namanya," Ino tetap bersikeras.
"Terserah," jawab Sakura tanpa beban.
Ia melempar senyum pada Hinata dan Tenten yang sekarang sudah membereskan kotak bekal mereka. Sakura ikut memberesi kotak bekalnya yang telah kosong isinya kemudian meminum susu kotaknya yang sama dengan milik Ino.
"Oh iya, Sakura. Kemarin Shika menanyakan tentangmu lagi," Ino menumpukan kedua tangannya di meja dan menyangga dagunya. Ia menatap Sakura datar.
"Apa yang dia tanyakan?" Sakura tak terbiasa membicarakan tentang laki-laki. Walaupun Ino dan Tenten suka berbincang tentang laki-laki, tak berarti dia juga suka dengan topik lawan jenis.
"Dia hanya menanyakan tentang apa yang kau sukai. Sepertinya dia berencana menyatakan perasaannya padamu," Sakura paling tak suka jika Ino mulai berbicara tentang segala hal yang menyangkut masalah asmara.
"Ino, sebaiknya kau abaikan saja jika ada yang bertanya tentang hal-hal seperti itu padamu. Bukannya aku sok jual mahal atau apa, tapi aku hanya berpikir lebih baik orang itu menanyakan hal seperti itu langsung pada yang bersangkutan. Lagipula kau sendiri tidak mendapatkan untung apapun," Sakura mengalihkan pandangannya ke luar jendela ruang kelasnya yang berada di lantai tiga.
"Kau benar. Mulai sekarang aku tidak akan mau menjawab apa saja yang ingin ditanyakan Shika tentangmu. Maaf ya, Sakura. Kau jadi merasa tak nyaman begini," Sakura mengibaskan tangannya di depan wajah beberapa kali pada Ino.
"Tak perlu dipikirkan. Santai saja,"
.
.
.
.
.
Naruto berjalan ke dapur dengan handuk kecil di lehernya kemudian mengambil gelas dan menuangkan air mineral ke dalamnya. Ia meminumnya hingga tak tersisa setetespun. Tubuhnya sudah kembali segar setelah mandi air dingin yang menyejukkan sepulang dari kantor tempatnya bekerja yang juga merupakan perusahaan milik Ayahnya yang sampai sekarang dipimpin sendiri oleh si pemilik.
Naruto merupakan pewaris tunggal kerajaan bisnis Namikaze yang berkecimpung di dunia perhotelan dan pariwisata internasional. Ia memang masih belum secara resmi mewarisi itu semua tetapi kedudukannya di perusahaan sudah setara dengan CEO.
Pria dua puluh tujuh tahun tersebut melangkah dari dapur menuju ruang pribadinya yang sekarang ditempati oleh dirinya dalam rumah mungil milik keluarga Haruno. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran sedang.
Matanya terpejam beberapa saat kemudian terbuka lagi. Tangan kanannya meraih benda persegi panjang elektronik yaitu ponsel. Ia membuka e-mail pribadi yang dikhususkannya untuk urusan bisnis kemudian segera memeriksa beberapa e-mail baru yang kebanyakan berasal dari beberapa kolega perusahaan yang mengajukan kerjasama. Ia mendesah pelan karena bosan dengan isi e-mail tersebut yang kebanyakan berisi hampir sama.
Naruto keluar dari situs online dan memilih untuk membuka galeri. Membuka salah satu folder yang paling sering ia kunjungi dengan urutan paling atas sendiri. Lebih dari seribu gambar dengan objek yang sama memenuhi folder tersebut.
Objek yang sekarang hidup dengannya di dalam satu rumah. Seorang gadis yang masih menduduki sekolah menengah atas pemilik kamar tidur yang berseberangan dengan kamarnya.
Gadis delapan belas tahun yang sekarang sangat feminin dan semakin manis. Gadis musim seminya. Pemilik surai merah muda panjang yang halus dan harum serta mata hijau yang sangat jernih. Gadis kecilnya telah tumbuh menjadi gadis manis yang semakin memesonanya begitu dalam.
Sakura kecilnya. Sakura cinta pertamanya. Sakura gadisnya. Sakura miliknya.
Gadis kecil yang terpaksa ia tinggalkan saat ia harus mulai bekerja di perusahaan Ayahnya yang ada di Amerika setelah lulus kuliah di Jepang. Ia ingat sekali waktu itu dirinya sama sekali tidak memberitahukan hal itu pada Sakura yang masih berusia empat belas tahun dan dirinya sendiri telah menginjak usia dua puluh tiga tahun.
Setelah dua hari keberangkatannya ke Amerika, ia dikabari oleh kakak Sakura yaitu Sasori yang juga berada di Amerika kalau adiknya masuk rumah sakit. Sasori bilang kalau Sakura tak berhenti menangis karena ia tinggalkan begitu saja. Sakura akhirnya terkena demam tinggi sekaligus alergi dinginnya kambuh.
Ia sangat merasa bersalah dengan hal itu. Dan ia juga mengerti kenapa gadis itu melupakan wajahnya yang jelas-jelas tak mungkin dilupakan karena mereka sudah bersama-sama sedari kecil. Karena demam tinggi Sakura, gadis itu melupakan beberapa hal yang menyedihkan termasuk Naruto. Ia sangat menyesal dulu karena meninggalkan gadis itu.
Naruto berjanji dalam hati kalau ia tidak akan pernah meninggalkan Sakura untuk kedua kalinya. Itulah janji seumur hidupnya.
Mereka sebenarnya tidak berpacaran. Naruto tidak pernah mengajak Sakura berkencan. Dari kecil mereka telah bersama karena selain mereka tinggal di pemukiman yang sama, orang tua keduanya juga berteman dekat. Jadi intensitas pertemuan mereka berdua otomatis sangat banyak.
Hal tersebut membuat keduanya merasa nyaman satu sama lain. Walaupun usia keduanya terpaut sembilan tahun, hal itu tidaklah menghambat hubungan mereka. Malah Naruto senang karena ia lebih tua dari Sakura. Ia dapat melindungi Sakura dari orang-orang yang suka mengganggu gadis itu.
Karena Naruto lebih dewasa dari Sakura, ia dapat memperlakukan Sakura lebih baik. Sakura dari kecil sangat manis, dia banyak disukai lawan jenis. Tapi karena yang namanya anak-anak lebih suka menjahili orang yang mereka suka, Sakura menjadi target segala jenis kenakalan.
Akhirnya sebagai laki-laki satu-satunya yang dekat dengan Sakura. Naruto dengan segenap hatinya selalu menjaga gadis itu. Kemana-mana selalu ada dirinya di samping Sakura jika ia memiliki waktu luang. Karena dirinya juga harus tetap fokus dengan pendidikannya, ia tentu tak memiliki banyak waktu luang. Tapi sebagaimanapun keadaan, Naruto tetap menyempatkan diri menemui Sakura setiap hari.
Sebenarnya ia tidak rela dulu meninggalkan gadis itu. Apalagi waktu ia pergi, Sakura telah menduduki bangku sekolah menengah pertamanya. Ia terlihat sangat manis dengan seragam sailornya. Untunglah gadis itu memilih masuk sekolah khusus perempuan, jadi ia cukup tenang dengan hal itu.
Anak muda jaman sekarang banyak yang nekat. Pergaulan bebas serta tindak kriminal semakin meningkat tiap tahun. Walaupun hanya empat tahun ia pergi, tak seharipun ia melewatkan kehidupan Sakuranya.
Ia menyewa beberapa orang untuk menjaga gadis itu. Hatinya sangat cemas saat gadis itu memilih keluar kota untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya. Apalagi Sakura meminta rumah sendiri dan bukannya apartemen atau asrama.
Jika Sakura tinggal di sebuah apartemen, akan ada petugas keamanan di sana. Jadi tindak kejahatan akan lebih minim di sana. Tapi karena Sakura memilih sebuah rumah kecil dekat sekolahnya, Naruto lumayan marah sekaligus khawatir dengan gadis itu.
Apalagi tetangga di sekitar rumah Sakura kebanyakan ditinggali para keluarga dengan jumlah anak laki-laki berusia setara dengan Sakura sangat banyak. Kecemasan Naruto semakin tak terbendungkan dan akhirnya setelah banyak syarat yang diajukan Ayahnya agar memenuhi permintaannya kembali ke Jepang ia sanggupi, di sinilah dirinya sekarang. Berbaring di ranjang di dalam rumah Sakura.
Ia masih belum mempercayai dirinya sendiri jika ia sekarang benar-benar tinggal dengan gadis itu. Sebenarnya Naruto sangat senang dengan kenyataan ini. Tapi dia juga sedikit cemas.
Ia tidak percaya dengan apa yang ia lakukan di kamar Sakura kemarin. Oh Tuhan, mereka hampir bercinta. Ia tidak percaya telah melakukan hal jahat itu pada Sakuranya yang polos. Gadis itu bahkan tidak melawan saat tangannya menyentuh tubuh gadis itu lebih berani.
Ia mengutuk dirinya sendiri yang lepas kendali. Sungguh tidak seperti biasanya. Ia sangat kuat dalam hal mengontrol sifat hewani tersebut. Bahkan di usianya yang hampir menginjak kepala tiga itupun tak pernah satu kalipun dirinya menyentuh lawan jenis lebih dari jabat tangan atau pelukan persahabatan yang selalu ia berikan pada teman ataupun rekan kerja.
Apa yang keluar dari mulutnya kemarin bukanlah hal yang sejujurnya. Ia hanya ingin mengetahui perasaan Sakura padanya setelah dirinya melakukan hal kejam. Tapi ternyata gadis itu masih sama seperti dulu, walaupun ia telah meninggalkan Sakura tanpa pamit dan tanpa kabar, gadis itu tetap mencintainya. Sakura menangis mendengar bualannya tentang wanita. Ia sangat senang sekaligus marah pada dirinya sendiri karena telah membuat gadisnya menangis.
"Aku sangat mencintaimu, Sakura-chan," ucapnya lirih dengan mata terpejam.
Ponselnya masih menyala dengan gambar gadis bersurai merah muda panjangnya tengah tersenyum tulus.
"Aku akan menjagamu dan melindungimu seumur hidupku. Karena kau ditakdirkan hanya untukku dan aku hanya untukmu. Selamanya kita akan selalu bersama. Selamanya,"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Assalamu'alaikum! Halo semua... maaf ya, aku updatenya lama. Semoga tidak lupa ya sama ceritaku yang satu ini. Selamat membaca! Jangan lupa tinggalin jejak yaaa...
