Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


"Rivaille..." gumam Eren yang melihat sosok Rivaille.

Rivaille hanya terdiam dan menatap Eren dengan wajah datarnya. Ia mendekati Eren dan Eren tetap diam di tempat tanpa bergerak sedikitpun. Sekarang Rivaille sudah berada tepat di hadapan Eren, menatapnya dengan tatapan tajam. Tatapan yang membuat pertahanan Eren serasa runtuh, ia selalu termakan oleh pesona Rivaille.

"Akhirnya kita bisa bertemu." ujar Rivaille.

Mereka berdua terdiam, hanya angin malam yang menemani mereka. Rivaille berjalan perlahan dan mendekati Eren hingga sekarang mereka saling berhadapan. Hijau bertemu dengan hitam. Rivaille yang berdiri dan Eren yang duduk sambil menatap ke arah Rivaille.

Tidak ada suara.

Tidak ada yang bisa dikatakan.

Eren merasa mulutnya terkunci tapi benaknya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk bertanya, tapi Eren ingin mendengar kejelasan dari kekasihnya sendiri. Ia memang tidak pernah bertanya tentang latar belakang Rivaille, jadi wajar saja jika ternyata kemungkinan terburuk dari diri Rivaille adalah seorang penjahat.

"Jadi kamu..." akhirnya Eren membuka suara.

Rivaille terdiam dan ia mengerti ke arah mana pembicaraan ini, Eren bertanya tentang dirinya. Tentu saja identitasnya di hadapan Eren sudah terbongkar semuanya. Rivaille tidak bisa menutupinya lagi. Ia duduk dan menatap Eren dengan pandangan tajam.

"Iya. Apa ada yang salah Eren?" tanya Rivaille datar.

"Tentu saja ada!" jawab Eren langsung. "Kau... kau ternyata... Aku tidak menyangka..."

"Kau tidak tahu latar belakangku, demikian juga sebaliknya. Apa yang kau harapkan dariku?"

Eren lagi-lagi terdiam, ia tahu bahwa ia tidak bisa berharap banyak. Tentu saja ia berharap bahwa sosok Dark adalah orang lain tapi ternyata Dark dan Rivaille adalah orang yang sama. Eren tidak ingin menerima kenyataan itu, ia selalu berharap semua yang ia lihat adalah mimpi buruk belaka. Suatu saat ia akan terbangun dari mimpi buruk ini dan Rivaille adalah sosok pemuda biasa.

Sayangnya ini adalah kenyataan.

Tidak ada yang bisa Eren lakukan selain berusaha menerima kenyataan bahwa Rivaille adalah seorang pencuri sekaligus pembunuh. Rivaille adalah pemuda yang sangat dicari dan dijadikan target untuk dibunuh oleh Recon Corps. Jantung Eren serasa sakit memikirkan hal ini, ia tidak tahu harus berekspresi apa atas kenyataan pahit ini.

"Kenapa? Kenapa kau seperti itu?" tanya Eren dengan suara pelan. "Dan kenapa kau melukaiku?"

Rivaille terdiam dan menatap Eren dengan pandangan dingin, pandangan yang sama saat Rivaille berhadapan dengan kelompok Recon Corps yang berusaha memburunya. Tatapan dingin yang tampak meremehkan itu menusuk bagi Eren.

"Kenapa? Kau tanya kenapa ya... Memangnya kenapa ya?" gumam Rivaille datar dan menatap mata Eren tajam. "Kurasa... karena aku menyukainya."

Eren benar-benar terkejut mendengar ucapan Rivaille. Menyukai? Melakukan pencurian dan pembunuhan adalah hal yang disukai Rivaille? Apa Eren tidak salah mendengarnya? Eren sampai tidak bisa berkata apa-apa dan matanya menatap wajah Rivaille dengan polosnya.

"Tidak mungkin aku bisa melakukan perjalanan tanpa uang. Aku butuh uang dengan cepat untuk kehidupanku. Aku ingin menata semuanya dari awal." ujar Rivaille lagi.

"Kenapa kau harus melakukan hal seperti itu? Aku tidak mengerti..." gumam Eren. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Ia merasa bingung, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Apalagi mendengar Rivaille menjelaskannya secara langsung.

"Maka dari itu aku bukanlah orang baik seperti yang kau kira."

Sekali lagi Eren terdiam, ia tidak mengerti dengan alasan yang Rivaille katakan kepadanya. Alasan yang menurutnya sedikit tidak masuk akal, ia merasa seperti berhadapan dengan seorang psikopat.

Apakah Rivaille memang seperti itu? Tapi jika ia psikopat, kenapa ia bisa mencintai Eren? Apakah seorang psikopat bisa mencintai seseorang? Jangan salah sangka Eren, bahkan seorang psikopat itu mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Mereka bisa menjadi orang yang mencintaimu sekaligus orang yang menghancurkanmu.

Rivaille menatap datar ke arah Eren yang hanya terdiam. Ia mendekati sosok Eren dan mendorongnya hingga terjatuh. Eren sangat terkejut dengan tindakan Rivaille dan kedua tangannya dikunci oleh Rivaille. Rivaille menggenggam kedua tangan Eren dengan kencang, pandangan matanya tertuju ke arah mata emerald Eren. Mata itu terlihat ketakutan.

"Apa yang kau lakukan? Lepas..." pinta Eren.

"Kau ingin tahu kenapa aku melukaimu kan?" ujar Rivaille.

Rivaille tidak melepaskan tangannya dari Eren, ia langsung mendekatkan wajahnya pada Eren dan mencium bibirnya. Eren terkejut dan wajahnya mulai memerah, ia merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Ia memejamkan mata dan berusaha menikmati ciuman Rivaille itu.

Tapi sepertinya Rivaille tidak ingin bersikap lembut pada Eren. Ia mencium bibir Eren dengan ganas, Eren sedikit terkejut dengan perubahan ciuman ini. Ia belum pernah merasakan sensasi ciuman seperti itu. Rivaille menjilat bibir Eren dan sedikit menggigitnya sehingga secara refleks Eren membuka mulutnya dan Rivaille langsung memasukkan lidahnya.

"Ahh..."

Eren mendesah pelan merasakan ciuman ini, ia merasa lemas. Eren tidak tahu harus melakukan apa, ia terbuai dengan ciuman Rivaille. Rivaille tahu Eren merasa lemas dan ia melepaskan tangannya yang menggenggam erat kedua tangan Eren. Tangan Rivaille mulai menjelajah leher Eren dan Rivaille melepaskan ciumannya. Bahkan Rivaille mulai berani mencium, menjilat dan menggigit pelan leher Eren, meninggalkan bekas kemerahan di lehernya.

"Aaahh?! Apa yang... aahh lepas."

Rivaille tidak menyangka akan mendengar suara Eren yang manis seperti itu, suara yang terdengar menggoda di telinganya. Semakin bertambah nilai Eren di mata Rivaille. Anak yang menarik seperti Eren membuat Rivaille tidak ingin melepaskannya. Meski hanya sedetikpun.

Rivaille berhenti menyentuh Eren dan menatap wajah Eren yang sudah memerah. Ia membelai wajah Eren dan memperlihatkan senyumannya, wajah Eren semakin memerah dan ia tidak bisa menghindari tatapan mata Rivaille.

"Eren, kau adalah milikku. Maka dari itu, aku ingin merasakan kelemahanmu." ujar Rivaille.

Eren terkejut dan sedikit bingung dengan ucapan Rivaille. Tapi tangan Rivaille terus membelai leher Eren membuat Eren sedikit merinding sekaligus geli. Eren tidak membenci perasaan itu meski ia merasa sangat malu, apakah tubuhnya menginginkan hal itu? Apakah ia ingin membiarkan Rivaille merasakan kelemahannya?

"Aku ingin kau yang merasakan kelemahanku." terdengar ucapan Eren, ia mengatakannya dengan suara pelan seperti berbisik. Tapi Rivaille dapat mendengarnya dengan jelas.

"Apa aku boleh memelukmu?"

"Aku ingin kau memelukku."

Rivaille tersenyum tipis mendengar ucapan Eren, apalagi wajah Eren tetap saja memerah seperti itu. Ia tahu bahwa Eren memang mencintai dirinya, meski dirinya telah melakukan hal yang kotor sekalipun. Begitu juga dengan Rivaille, ia juga mencintai Eren.

"Apa tidak apa jika aku seperti ini?" tanya Rivaille.

"Iya." jawab Eren pelan.

"Kau tetap mencintaiku?"

"Iya."

Rivaille tidak menyangka akan menemukan seseorang yang bisa mencintainya sampai seperti itu. Padahal dirinya adalah seorang penjahat dan orang yang mencintainya adalah orang yang harus membunuhnya. Apakah takdir mereka harus seperti ini? Apakah mereka tidak bisa bertemu dengan cara yang lain?

Ia langsung merengkuh Eren ke dalam pelukannya, Eren terkejut dan ia merasa malu. Eren yakin Rivaille bisa mendengar debaran jantungnya yang berdetak dengan kencang. Ia memang merasa malu dan gugup saat ini. Rivaille memeluknya dengan erat seolah tidak ingin kehilangan Eren.

Rivaille tidak ingin kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya.

Sudah cukup dengan kehilangan keluarganya yang membuatnya menangis. Sudah cukup ia kehilangan orang yang ia cintai karena meninggalkannya untuk selamanya.

Semuanya sudah cukup. Jangan sampai ia merasakan kehilangan lagi.

Apakah takdir yang Rivaille jalani harus berakhir dengan kejam seperti ini? Takdir itu kejam baginya dan Rivaille memilih untuk menjadi seseorang yang kejam seperti takdir yang menimpanya. Hanya itu alasan sebenarnya dan ia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun.

"Asal kau tahu aku mencintaimu dengan tulus," gumam Rivaille yang memeluk Eren lebih erat lagi. "Bahkan jika aku harus mati di tanganmu, tidak apa. Aku rela."

Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille itu. Entah kenapa ia merasa sedih mendengarnya dan membalas pelukan Rivaille. Ia takut sosok yang ia peluk saat ini tidak akan pernah bisa ia rasakan lagi. Ia tidak ingin kehilangan Rivaille, ia masih mencintainya. Eren tidak bisa jika harus membunuh Rivaille, ia tidak ingin melakukannya.

"Aku tidak akan membunuhmu. Tidak akan pernah..."

Rivaille tersenyum tipis mendengar ucapan Eren, ia melepaskan pelukannya pada pemuda itu dan membelai wajahnya. Rivaille bangkit dan memperhatikan Eren sambil membelai rambut Eren. Sepertinya Rivaille hanya ingin menyentuh Eren sebelum ia pergi. Karena setelah membelai rambut Eren, ia pergi meninggalkan Eren sendirian,

"Rivaille..."


Hari telah berganti malam dan bulan kembali menjalankan tugasnya untuk menyinari langit. Tim Mikasa juga akan melakukan tugasnya, kali ini mereka sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk melawan Dark. Mereka tidak akan mengawasi seperti kemarin dan memutuskan untuk datang ke rumah yang mereka intai tepat jam 12 tengah malam.

Mikasa, Eren dan Jean berpencar untuk membantu Annie, Sasha dan Armin yang akan mengawasi rumah target mereka. Mikasa dengan Annie, Eren dengan Sasha dan Jean dengan Armin. Masing-masing dari mereka akan berada di rumah tiga target yang masih hidup dan mereka akan bertarung dengan Dark, seperti biasa yang berhadapan dengan Dark akan memberikan sinyal kepada rekannya agar bisa memberi bantuan.

"Berhati-hatilah Eren." ujar Mikasa khawatir.

"Tenang saja. Lagipula aku dan Sasha akan melakukan yang terbaik." ujar Eren sambil tersenyum tipis.

Mikasa berusaha mempercayai Eren, ia akan membantu Annie dalam misi ini. Kemampuan mereka hampir sama dan mereka sama-sama kuat, kombinasi yang cukup mengerikan bagi banyak lawan tapi kemampuan mereka sangat menjanjikan.

Sekarang sudah jam 11 malam dan mereka berkumpul di tempat biasa mereka berkumpul ketika misi pengintaian selesai. Masing-masing dari tim kecil mereka memiliki rencana sendiri untuk menghadapi Dark. Tapi Eren sedikit tidak berkonsentrasi saat Sasha memperkirakan strategi yang akan mereka pakai. Sasha menatap Eren dengan wajah yang bingung.

"Eren? Kamu mendengarkanku?" tanya Sasha.

"Ah? Eh? Ada apa Sasha?" tanya Eren lagi.

"Hmm, tadi aku bilang kita akan menyerang Dark secara langsung dan bertanya padamu apakah itu ide yang bagus atau tidak."

"Be, begitu ya? Ku, kurasa jangan..."

"Eh?"

"Harusnya... kita memperkirakan waktu yang tepat."

Sasha terdiam mendengar ucapan Eren, ia merasa Eren tidak seperti Eren yang biasanya. Ia pernah dua kali menjalani misi bersama dengan Eren dan ia tahu Eren itu pemuda yang bertindak spontan dan jarang sekali murung. Sasha merasa ada sesuatu yang berbeda dari Eren, entah apa itu.

"Baiklah." ujar Sasha.

Sasha tidak ingin bertanya lebih jauh tentang Eren, ia merasa Eren juga memiliki satu atau dua hal yang ia pikirkan dan tidak mungkin ia bertanya begitu saja. Ia ingin bisa bekerja sama dengan Eren sebagai rekan yang baik, mereka akan melakukan misi ini bersama.

.

.

.

Ketiga tim kecil ini mulai berada di posisi masing-masing, sekarang sudah jam 12 tengah malam dan mereka akan menunggu kapan Dark akan muncul. Masing-masing dari mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Dark. Mereka tidak akan segan-segan untuk menghadapi penjahat satu itu.

Armin dan Jean tergabung dalam satu tim kecil ini, mereka berdua mengawasi orang yang diperkirakan menjadi target. Jean melirik ke arah Armin yang mengawasi dengan serius, sesekali juga terlihat lelah. Mereka memperhatikan target dari atas atap rumahnya.

"Apa kau lelah?" tanya Jean.

"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Armin berusaha tersenyum. "Lagipula ini misi yang penting. Kita tidak boleh lengah."

"Kau benar. Tapi saat kita semua berhadapan dengannya aku sama sekali tidak bisa membuatnya terluka. Dia kuat sekali."

"Padahal kita ada enam orang dan kita cukup kesulitan untuk melawannya. Tapi jika kita semua menggunakan strategi masing-masing seperti yang dibicarakan mungkin ada celah untuk membuatnya terluka."

Jean terdiam mendengar ucapan Armin, ia berusaha yakin dengan rencana yang ia dan Armin susun tadi. Jean bertekad untuk bisa melukai atau membunuh Dark, ia akan membalaskan dendam Marco. Ia akan membuat penjahat itu menyesal pernah membunuh sahabatnya. Armin melihat kilatan mata Jean yang terlihat tajam itu.

"Sepertinya kau bersemangat." gumam Armin.

"Begitulah. Aku akan menghabisinya, demi Marco." ujar Jean tegas.

Armin terdiam dan ia tahu semangat Jean itu. Semangat untuk membalaskan dendam. Tidak apa memiliki tujuan untuk membunuh target yang besar seperti Jean, tapi entah kenapa Armin merasa khawatir. Ia juga mengkhawatirkan Eren yang terlihat aneh belakangan ini.

"Menurutmu... Eren aneh tidak?" tanya Armin tiba-tiba.

"Apa maksudnya?" tanya Jean.

"Iya. Aku merasa sejak kita berhadapan dengan Dark ia terlihat tidak bersemangat."

"Mungkin ia takut."

Armin terdiam mendengar ucapan Jean, ia tahu Eren bukanlah pemuda yang penakut. Tapi ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari diri Eren, seperti ada yang mengganjal di benak Eren. Armin bisa merasakan hal itu karena ia adalah teman dekat Eren.

Saat mereka berdua sedang terdiam tiba-tiba terlihat sosok serba hitam yang melompati atap rumah. Jean langsung bersiap-siap, ia segera menarik Armin untuk turun dari atap dan bersembunyi.

"Huwaa?!" Armin sedikit terkejut dengan tindakan Jean yang tiba-tiba tapi ia berusaha untuk peka.

Tidak lama mereka berdua sudah berada di tanah dan segera menyembunyikan diri di balik tembok. Rumah ini cukup luas sehingga tempat mereka bersembunyi tidak mudah ditemukan. Lagipula tempat mereka bersembunyi berada sedikit jauh dengan pintu belakang, jadi mereka tidak akan segera ketahuan.

Jean mengintip ke arah luar untuk melihat apakah Dark sudah datang atau belum, ia melihat sosok serba hitam yang ia yakini adalah Dark. Armin menghela napas dan menatap Jean, ia mengeluarkan pistolnya.

"Jean, kau yakin bahwa kau melihat Dark?" tanya Armin.

"Itu pasti dia. Aku melihat sosok serba hitam itu." jawab Jean.

Jean mengeluarkan pistolnya dan ia tampak siap untuk menembak kapan saja. Ia tidak ingin kalah lagi dalam menghadapi Dark, ia akan melakukan apa saja demi tujuannya itu. Sedangkan Armin juga sudah siap untuk menyerang. Mereka berdua sudah siap dan masih memperhatikan ke arah luar. Memang terdengar langkah kaki yang berjalan perlahan.

Armin tidak bisa berbohong kalau ia juga sedikit merasa takut, ia hanya takut tidak bisa membantu Jean. Tapi ia berusaha meyakinkan dirinya dan melihat Jean yang sudah mengarahkan pistolnya ke arah sosok itu.

"Kau akan mati." gumam Jean.

"Jean, jangan gegabah. Kita tidak bisa langsung menembaknya." ujar Armin.

"Daripada ia membunuh lebih banyak korban."

Jean dan Armin merasa suara langkah kaki itu semakin mendekat, Jean langsung menutup mulut Armin dengan tangannya. Armin terdiam dan sedikit terkejut dengan tindakan Jean yang seperti ini. Armin merasa sedikit malu.

Tapi Jean memang tidak kenal takut. Di saat tangan satunya menutup mulut Armin, ia menggunakan tangan satunya untuk menembak ke arah sosok yang ia anggap sebagai Dark. Terdengar suara pistol tapi sedetik kemudian tidak terdengar suara. Jean merasa ia berhasil menembak tapi ia langsung terkejut saat ia melihat sosok itu tetap berjalan, bahkan sosok itu berjalan mendekatinya.

"Sepertinya sudah ada yang menungguku." terdengar suara dengan nada yang dingin.

Armin sedikit menepis tangan Jean dan ia juga ingin memberikan tembakan tapi ia terkejut bahwa sosok Dark sudah ada di hadapannya dan Jean. Tatapan mata yang dingin serta tajam itu seperti menusuk mereka. Sosok itu sudah mengeluarkan pedangnya dan hendak menghunuskannya ke arah mereka. Jean langsung menarik Armin dan memeluk pemuda itu agar tidak terkena serangan dari Dark.

Dark atau Rivaille itu menatap datar ke arah Armin dan Jean yang berhasil menghindari serangannya. Ia menghela napas dan langsung meninggalkan mereka, lagipula ia datang kemari untuk mencuri. Permainan dengan anggota muda Recon Corps yang memburunya bisa dilakukan nanti.

"Hei! Jangan lari kau!" teriak Jean.

Jean kembali memberikan tembakan tapi peluru itu berhasil dihindari oleh Rivaille. Rivaille terdiam menatap mereka dan ia hanya meneruskan perjalanannya menuju rumah itu. Seperti biasa Rivaille akan mencuri perhiasan disana.

Armin sedikit terkejut dengan tindakan Jean yang tampak gegabah itu, tapi ia lebih terkejut lagi melihat posisinya sekarang. Jean masih memeluknya erat, wajah Armin sedikit memerah karena mengetahui dirinya dipeluk seperti ini.

"Cih, akan kuhentikan dia saat di dalam." keluh Jean.

Jean tidak menyadari bahwa ia masih memeluk Armin, ia berusaha untuk menghabisi Dark yang berada di hadapannya. Ia melirik ke arah Armin dan terkejut melihat wajah Armin yang memerah seperti itu. Jean menyadari posisi mereka dan ia langsung melepaskan pelukannya itu.

"Ma, maaf ya. Aku hanya..." gumam Jean berusaha menjelaskan.

"Tidak apa," ujar Armin pelan. Ia berusaha mengatur napasnya dan menatap ke arah Jean. "Kita harus memberitahu yang lain agar mereka kemari."

"Hmm, kurasa kau benar."

Jean mengeluarkan pistol lain dan menembakkannya ke udara, itu adalah sinyal yang memberi tanda bahwa mereka meminta bantuan untuk menghadapi Dark. Setelah itu Jean dan Armin bersiap untuk masuk ke dalam rumah, setidaknya menahan Dark.

'Kurasa ia pasti sudah membunuh target.' batin Armin yang berlari kecil untuk masuk ke dalam rumah diikuti oleh Jean.

.

.

.

Sepertinya sinyal yang diberikan Jean itu sudah dilihat oleh kedua tim kecil lainnya. Annie dan Mikasa yang sedang mengawasi langsung meninggalkan rumah yang mereka awasi dan berlari menuju tempat Armin dan Jean. Sedangkan Sasha dan Eren juga hendak kesana, tapi pikiran Eren semakin tidak tenang. Artinya ia kembali bertemu dengan Rivaille, seharusnya ia memihak teman-temannya.

Tapi bukannya itu sama saja dengan harus membunuh Rivaille?

Eren tidak mengerti lagi, ia hanya berlari ke tempat Armin dan Jean. Ia dan Sasha harus bisa memberikan bantuan yang maksimal. Sesekali Sasha melirik ke arah Eren, ia merasa ada sesuatu yang membebani pikiran Eren. Ia bisa melihatnya karena raut wajah Eren terlihat gundah.

'Ada apa sebenarnya?' batin Sasha.

Sedangkan Armin dan Jean sudah berhasil masuk ke dalam rumah, sepertinya mereka terlambat dan menemukan orang yang diawasi sudah tewas. Saat mereka berdua masih terkejut melihat kondisi korban yang sudah tewas terdengar langkah kaki yang berada tepat di belakang mereka.

"Tugasku sudah selesai. Waktunya untuk menghabisi kalian." ujar Rivaille.

Armin dan Jean langsung membalikkan badan mereka dan melihat Rivaille menatap datar ke arah mereka dengan pedang yang masih berlumuran darah. Jean menatap kesal ke arah Rivaille dan Armin terdiam. Mereka mengacungkan pistol ke arah Rivaille dengan kompak. Mereka berdua langsung menembak dan Rivaille menangkis peluru itu dengan pedangnya.

Rivaille menatap mereka dengan tatapan datar dan ia menuju jendela untuk pergi. Otomatis Jean dan Armin menyusul dan mereka juga sudah berada di luar. Sekarang mereka bertiga berada di atap rumah, bulan tampak bersinar dengan terang tapi suasana tegang menghampiri Jean dan Armin.

Tidak lama Annie dan Mikasa sudah sampai, mereka juga sudah berada di atas atap. Mereka melihat Armin, Jean dan sang penjahat disana. Wajah Annie terlihat datar tapi terlihat kekesalan juga di wajahnya, begitu juga dengan Mikasa. Kalau Mikasa merasa kesal karena Dark melukai Eren saat mereka bertarung tempo hari.

"Kau akan segera menemui ajalmu." ujar Annie yang mengacungkan pistolnya.

Rivaille tidak bereaksi apapun dan masih memasang wajah datarnya. Ia melihat sudah ada empat orang yang akan melawannya, ia belum melihat sosok Eren diantara kelompok ini. Ia yakin sebentar lagi Eren tiba. Baru saja ia memikirkannya tidak lama Eren datang.

Mikasa menoleh dan melihat Eren juga Sasha yang baru datang. Sudah lengkap kelompok mereka untuk bertarung dengan Dark atau Rivaille. Eren terdiam melihat sosok Rivaille disana, rasanya ia tidak ingin bertarung dengannya. Ia tidak mau. Ia masih mencintai sosok itu.

"Eren, Sasha." panggil Mikasa.

"Maaf kami terlambat," ujar Sasha yang melihat teman-temannya tampak siap dengan pistol mereka. Ia juga mengeluarkan pistol dan tersenyum. "Aku akan membantu kalian."

Eren masih terdiam dan ia menatap Rivaille. Ia merasa tatapan mata Rivaille tertuju ke arahnya, ia menunduk dan berusaha mengeluarkan pistolnya. Jika bisa ia tidak ingin menembak Rivaille, apalagi membunuhnya. Ia tidak sanggup jika memikirkan hal itu.

"Sepertinya kalian sudah lengkap ya." gumam Rivaille.

Ia menatap ke arah enam orang yang ada dengan wajah datar lalu langsung bergerak dengan mengeluarkan pedangnya. Jean, Armin, Annie, Mikasa dan Sasha sudah bersiap untuk menembak dan mereka menembak secara bersamaan tapi Rivaille berhasil menghindari atau memotong peluru-peluru itu. Bahkan ia memotong pistol yang mereka berlima pakai secara bersamaan dan melukai tangan mereka tapi mereka berhasil menghindar kecuali Armin.

"Ukh!"

Pergelangan tangan Armin ditusuk dengan pedang hingga darah mengalir dengan deras. Rivaille menatap datar dan langsung mencabut pedangnya itu. Armin berusaha bertahan dan menatap ke arah Rivaille dengan tajam.

"Armin!" Mikasa tampak khawatir tapi ia terkejut melihat Jean yang langsung menyusul Armin dan mengeluarkan pistol lain lalu menembak Rivaille.

Rivaille menatap datar dan ia berhasil menghindar dari peluru Jean, ia mendekati Jean dan berada di sampingnya.

"Kau ceroboh sekali." gumam Rivaille dan ia menusuk pinggang Jean. Jean terkejut dan ia terjatuh di hadapan Rivaille.

"Jean!" Sasha berteriak melihat kedua temannya terluka dan ia berusaha menembak Rivaille, begitu juga dengan Mikasa dan Annie dan Rivaille menghindarinya dengan mudah.

Tapi Eren tidak melakukan apa-apa, ia merasa sulit untuk menggerakkan badannya. Ia melihat bagaimana saat Rivaille menusuk lengan Armin dan menusuk pinggang Jean, semuanya terekam dengan jelas di benaknya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu teman-temannya.

Eren berusaha mengeluarkan pistolnya tapi tangannya sangat gemetaran. Ia melihat ketiga gadis itu berusaha untuk melawan Rivaille. Sesekali Armin memberi tembakan juga, tapi Jean terlihat kesakitan disana. Wajahnya terlihat geram dan ia menyentuh pinggangnya itu dengan tangannya, berusaha untuk menahan aliran darah yang mengalir dengan deras.

"AAHHH!"

Eren berteriak kencang dan ia mengarahkan pistolnya kepada Rivaille, mereka semua menoleh ke arah Eren dan terkejut melihatnya. Eren masih mengarahkan pistolnya tepat ke arah jantung Rivaille, ia tinggal menarik pelatuk dan habislah sudah Rivaille. Tapi ia tidak melakukannya.

Rivaille tersenyum tipis sekali dan meninggalkan kelima orang itu lalu menuju Eren. Eren terkejut saat Rivaille berada di hadapannya dan mengacungkan pedang ke lehernya. Semua yang melihat hal itu tampak terkejut, Mikasa ingin menembak Rivaille yang berani mengacungkan pedang ke leher Eren.

Mikasa tidak bisa menembak Rivaille karena Rivaille langsung menarik tangan Eren dan membuat pemuda itu jatuh lalu ia berdiri di depannya dan kembali mengacungkan pedang ke arah leher Eren. Posisi Eren yang tampak pasrah itu dengan Rivaille yang berdiri di atasnya sambil mengacungkan pedang itu bukanlah hal yang bagus bagi Mikasa. Di posisi itu ia tidak bisa melakukan banyak hal.

"Kalau kalian berani menembakku otomatis aku akan membunuhnya." ujar Rivaille.

Ujung pedang itu sudah berada di dekat leher Eren dan siap untuk melukai leher itu kapan saja. Eren terkejut dan tidak mengerti kenapa Rivaille seperti ini, tapi ia mengingat kata-kata Rivaille saat mereka terakhir bertemu. Rivaille mencintainya dengan tulus.

Cinta yang tulus.

Apakah cinta yang tulus itu harus membunuh orang yang dicintai?

Eren tidak tahu, rasanya sedih sekali jika melihat pemandangan ini. Ia melihat teman-temannya yang berjuang tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa terdiam dan membiarkan dirinya diserang seperti sekarang ini.

Rivaille menatap Eren yang berada di bawahnya, wajah Rivaille berubah menjadi wajah Rivaille yang selalu Eren lihat. Wajah yang tampak menenangkan. Eren bisa melihat wajah Rivaille dengan jelas, begitu juga bulan yang terlihat di langit.

"Eren..." panggil Rivaille pelan seperti berbisik.

Ia sengaja melakukannya agar teman-teman Eren tidak mendengar mereka berbicara. Jean merasa geram melihat Eren yang tampak pasrah itu, ia sendiri juga berusaha menahan darah yang mengalir. Sepertinya serangan Rivaille tadi tidak terlalu kena bagian vital jadi Jean masih bisa bertahan.

"Tembak dia, Eren!" teriak Jean langsung. "Apa yag kau lakukan bodoh! Bunuh dia!"

Eren terkejut mendengar teriakan Jean dan ia menatap ke arah Rivaille yang tersenyum tipis. Ia tahu, harusnya ia bisa melakukan tugasnya itu. Tapi tidak mungkin karena itu artinya ia harus membunuh Rivaille. Ia tidak ingin melakukannya. Membunuh Rivaille yang adalah kekasihnya adalah hal paling akhir yang akan ia lakukan dalam hidupnya, itu juga dalam keadaan yang sangat terpaksa.

Perlahan Eren menggerakkan tangannya dan mengacungkan pistol ke arah Rivaille. Meski terlihat seperti itu tapi ada setitik air mata di kelopak mata Eren. Rivaille terdiam melihat Eren yang berwajah seperti itu, sekarang semakin jelas bahwa Eren menangis di hadapannya.

'Menarik.' batin Rivaille.

Baru kali ini ia melihat Eren menangis di hadapannya. Ternyata wajah Eren yang sedang menangis itu menarik perhatian Rivaille. Rivaille menarik pedangnya dan menyimpan pedang itu ke dalam sarungnya. Ia melihat tangan Eren yang tampak gemetaran dan menyentuhnya.

"Eh?" Eren tampak bingung melihat Rivaille seperti itu.

Rivaille tidak mengatakan apa-apa dan mulai merendahkan posisinya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Eren. Rivaille menghapus air mata Eren dan tersenyum tipis.

"Kau sangat manis hingga aku ingin membunuhmu." gumam Rivaille pelan.

"Ah?" Eren benar-benar bingung tapi ia melihat Rivaille yang membelai wajahnya lalu pergi meninggalkan Eren.

Mikasa yang melihat hal itu berusaha untuk menembak Rivaille tapi Rivaille langsung menghindarinya dan menatap kelima orang itu dengan wajah yang datar lalu pergi meninggalkan mereka.

"Sial! Tunggu!" teriak Jean.

Tapi sosok Rivaille sudah menghilang dari hadapan mereka, Mikasa langsung berlari ke arah Eren dan membantunya berdiri. Sasha tampak khawatir dan ia mendekati Jean juga Armin yang terluka begitu juga dengan Annie.

"Kalian tidak apa? Luka kalian parah." ujar Sasha.

"Aku tidak apa," ujar Armin. "Tapi Jean..."

"Ini... hanya luka biasa. Aku bisa..."

Belum sempat Jean menyelesaikan ucapannya, Annie langsung mengeluarkan perban dari saku miliknya dan berusaha mengobati Jean. Sasha dan Armin terkejut melihat Annie yang melakukannya dengan sigap. Jean juga terkejut melihatnya dan membiarkan Annie merawatnya.

"A, aku saja yang melakukannya. Kau merawat Armin saja." ujar Sasha.

"Apa kau bisa, Sasha?" tanya Annie. "Bukannya aku meragukan kemampuanmu tapi luka Jean harus diobati lebih cepat. Lalu luka Armin itu bisa kau obati pelan-pelan."

Sasha terdiam dan menatap Annie. "Baiklah..." Ia berusaha mengobati luka Armin dengan perban.

Selain memiliki kemampuan bertarung yang kuat ternyata Annie bisa mengobati teman-temannya dengan pertolongan pertama seperti itu. Jean bernapas lega karena Annie menolongnya, meski ia berharap Mikasa yang melakukannya.

Sedangkan Mikasa menatap Eren yang terdiam, ia tampak khawatir dan memperhatikan tubuh Eren dengan seksama untuk mengecek apakah Eren terluka atau tidak.

"Eren, kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan?" tanya Mikasa langsung.

"Aku tidak apa..." gumam Eren pelan dan mulai bangun dari posisinya.

Sepertinya pertolongan pertama yang dilakukan Annie dan Sasha untuk Jean dan Armin sudah selesai, mereka menatap Mikasa dan Eren. Sasha bersyukur tidak ada lagi teman-temannya yang terluka selain Armin dan Jean. Mikasa membantu Eren untuk berdiri dan mendekati teman-temannya. Eren merasa bersalah juga karena tidak bisa melukai Rivaille. Mana mungkin ia membunuh kekasihnya sendiri?

"Hei Eren, kenapa kau tidak menembaknya? Kurasa kau ada di posisi yang tepat." ujar Jean langsung.

Eren langsung terdiam mendengar pertanyaan Jean itu. Semua teman-temannya menoleh ke arah Eren dan menanti jawaban apa yang keluar dari bibir Eren. Sebenarnya bukan hanya Mikasa tapi Armin, Sasha dan Jean penasaran dengan sikap Eren belakangan ini. Bahkan Annie yang cuek sekalipun merasa sedikit penasaran.

"Iya. Kenapa kau tidak melakukannya, Eren?" tanya Sasha.

"Eh?"

Eren sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan teman-temannya itu. Tentu saja ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, ia tidak tahu apa reaksi dari mereka semua. Eren hanya menundukkan wajahnya, Mikasa tampak cemas dan menepuk pundak Eren dengan lembut.

"Armin dan Jean kalian tidak apa?" tanya Mikasa berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja." jawab Armin.

"A, aku juga... Masa karena luka seperti ini aku kalah." ujar Jean berpura-pura kuat di hadapan Mikasa.

Mikasa terdiam dan ia langsung saja menggendong Eren, Eren dan semua yang ada disana tampak terkejut dengan tindakan Mikasa. Eren merasa malu karena ia digendong seperti itu oleh Mikasa. Ia takut diledek oleh Jean, tapi tampaknya Jean bersikap biasa saja.

"Mikasa?! Turunkan aku!" pinta Eren.

"Tidak," jawab Mikasa langsung. "Ayo kita pulang. Kami pamit."

Mikasa langsung saja pergi dengan menggendong Eren ala tuan putri. Eren sebenarnya malu saat Mikasa melakukan hal ini, tentu saja dia laki-laki. Laki-laki mana yang membiarkan seorang gadis menggendongnya seperti itu? Mungkin hanya Eren saja.

Sedangkan Armin, Jean, Sasha dan Annie terdiam melihat Mikasa juga Eren yang sudah pergi meninggalkan mereka. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Jean bilang ia mampu untuk bertahan sampai di rumahnya, Armin tidak terlalu mempermasalahkan lukanya. Sasha tampak khawatir dengan kedua temannya itu karena mereka terluka dan ia bersikeras untuk menemani Jean.

"Sudahlah Sasha aku baik-baik saja." ujar Jean.

"Tidak, aku akan merawatmu. Annie sudah memberikan pertolongan pertama dan aku akan membawamu menemui keluargaku. Aku yakin dengan kemampuan kedokteran yang dimiliki ayahku ia bisa menolongmu."

"Baiklah, terima kasih."

Akhirnya Jean dibawa ke rumah Sasha untuk merawat lukanya, Armin tersenyum lega dan membiarkan kedua temannya itu. Lalu Annie pulang ke rumahnya. Meski seperti itu pikiran Sasha, Jean dan Armin tertuju pada satu hal yaitu Eren. Mereka merasa ada suatu hal yang Eren sembunyikan dari mereka semua. Entah hal apa itu, tapi mereka bisa merasakan bahwa Eren seperti bukan dirinya saja.

.

.

.

Tidak lama Mikasa dan Eren sudah sampai di rumah, Mikasa langsung menurunkan Eren. Eren merasa lega karena akhirnya ia turun dan ia segera mengambil minum. Mikasa terdiam dan menatap Eren dengan pandangan penuh curiga. Eren selesai meminum air dan menatap ke arah Mikasa, ia bingung melihat Mikasa berwajah seperti itu.

"Kenapa Mikasa?" tanya Eren bingung.

"Kau aneh, Eren." ujar Mikasa.

"Apanya?"

"Aku merasa kau aneh. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Tidak. Hanya perasaanmu saja."

"Aku sudah lama mengenalmu, Eren. Aku mengkhawatirkanmu. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Mungkin kau melakukannya karena tidak ingin diketahui oleh teman-teman, tapi aku ini keluargamu. Apa aku tidak bisa mengetahui tentang dirimu? Kau bisa menceritakannya padaku jika kau merasa bimbang terhadap suatu hal."

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa itu. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada saudara angkatnya ini atau tidak? Ia sendiri tidak tahu apakah harus menceritakan dari awal bagaimana ia bertemu dengan Rivaille, jatuh cinta dengan Rivaille dan menerima kenyataan bahwa Rivaille adalah target yang harus mereka bunuh dalam misi kali ini.

Mikasa memperhatikan wajah Eren yang terlihat bingung. Kali ini Mikasa merasa ada yang tidak beres dengan Eren. Ia mendekati Eren dan menepuk pundak Eren.

"Eren, bisakah kau menceritakannya padaku?" tanya Mikasa.

Eren merasa ragu, ia sampai tidak bisa berbicara. Lidahnya terasa kelu, apalagi dengan tatapan mata Mikasa yang terlihat penuh rasa ingin tahu. Eren menghela napas dan mengalihkan pandangannya agar tidak melihat ke arah Mikasa.

"Aku sedang bicara denganmu, Eren." ujar Mikasa lagi.

"Kurasa aku tidak perlu mengatakannya..." gumam Eren.

"Tapi..."

Eren menghela napas dan ia memilih untuk duduk di sofa. Ia menatap ke arah Mikasa dalam diam, ia tahu ia salah tapi ia belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Mikasa. Ia tidak tahu harus mengatakan hal apa dan tidak tahu apa reaksi Mikasa.

"Apa kau benar takut dengan Dark?" tanya Mikasa.

"Eh? Kenapa kau bertanya hal itu?" tanya Eren.

"Kau tidak pernah melawan Dark dan kau selalu menjadi incarannya. Sepertinya dia merasa kalau kau tidak akan melawannya dan ia selalu membuatmu terlihat tidak berdaya. Aku hanya takut jika dia membunuhmu."

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa, hampir benar menurutnya. Ia memang tidak pernah melawan Dark atau Rivaille. Tentu, mana mungkin ia membunuh kekasihnya itu. Tapi semua teman-temannya bahkan Mikasa sekalipun tidak tahu jika Eren menjalin hubungan dengan Rivaille yang adalah penjahat itu.

"Itu..."gumam Eren.

"Ada apa, Eren?" tanya Mikasa lagi.

"Apa kamu tidak akan marah dengan apa yang akan aku katakan?"

"Eh? Tentu saja, Tapi apa yang ingin kamu katakan?"

Eren mengatur napasnya, ia ingin mengatakan yang sebenarnya walau ia juga merasa tidak tahu apakah pilihannya ini benar atau tidak. Ia hanya tidak ingin Mikasa terus menerus bertanya padanya, ia lelah juga ditanya-tanya seperti ini terus.

"Kau tahu, sekarang aku sudah memiliki orang yang aku cintai." ujar Eren.

Rasanya Mikasa sangat terkejut mendengarnya, terlihat dari wajahnya yang tampak kaget. Mikasa terdiam dan ia berusaha memakluminya, ia tahu bukan dirinya yang dipilih Eren untuk menjadi tambatan hatinya. Ia tahu itu, jadi ia tidak bisa berharap banyak. Dan sekarang ia berusaha untuk berlapang dada mendengar ucapan Eren.

"Begitukah? Selamat," ujar Mikasa yang berusaha tersenyum. "Lalu siapa gadis itu?"

"Aku tidak bilang... gadis kan."

Sekarang Mikasa terkejut mendengar ucapan Eren. Ia berusaha mencerna ucapan itu. Apa ada maksud tertentu dari ucapan Eren itu. Jika bukan seorang gadis yang menjadi kekasih Eren, lantas siapa? Jangan-jangan...

"Jangan bilang kalau..."

"Apa kamu bisa menebaknya? Aku menyukai seorang pemuda."

"Tapi kenapa, Eren? Kenapa kau memilih jalan seperti itu?"

Kenapa?

Iya, kenapa ya?

Eren juga ingin tahu alasannya. Kenapa ia memilih seorang pemuda untuk menjadi orang yang harus ia cintai? Kenapa pilihan cintanya harus jatuh kepada seorang pemuda bernama Rivaille? Dan kenapa Rivaille harus menjadi orang yang harus Eren bunuh?

"Aku memang mencintainya, Mikasa. Aku sudah mencintai Rivaille."

"Jadi namanya adalah Rivaille?"

Eren mengangguk saja dan ia terdiam. Ia baru mengatakan bagian awal dari kisah yang ia dan Rivaille bangun. Ia tahu Mikasa terlihat tidak menyukainya tapi ia ingin jujur, setidaknya agar Mikasa tahu dan tidak bertanya-tanya lagi kepadanya.

"Aku memang baru beberapa kali bertemu dengannya tapi kami sudah saling mencintai. Aku memang tidak tahu latar belakangnya begitu juga sebaliknya. Tapi aku tidak peduli, karena aku percaya dan menyayanginya."

"Begitu..."

"Tapi baru beberapa hari ini aku mengetahui kenyataan yang pahit."

Mikasa terdiam melihat Eren dan ia terkejut melihat Eren yang menundukkan wajahnya. Ia langsung mendekati Eren dan menatap pemuda itu. Ia merasa khawatir dengan Eren yang terlihat murung seperti itu.

"Eren..." panggil Mikasa.

"Kau tahu Mikasa. Orang yang aku cintai itu adalah orang yang harus aku bunuh. Apa lagi yang lebih menyedihkan daripada ini?" ujar Eren langsung.

"Eh?"

Mikasa tidak mengerti maksud Eren. Ia merasa Eren sedikit aneh. Tapi ia berusaha untuk memikirkan kata-kata Eren dengan lebih baik. Mikasa tidak ingin percaya, ia tidak ingin mengatakannya tapi dari bibirnya terucap...

"Kekasihmu itu... Dark?" tanya Mikasa yang memastikannya.

Eren hanya menganggukkan kepalanya dan Mikasa benar-benar terkejut mendengarnya. Matanya berkilat emosi dan ia langsung berdiri sambil menatap Eren dengan tatapan tajam. Mikasa benar-benar merasa kesal saat ini.

"Kalau begitu putuskan saja dia lalu kau bunuh!" teriak Mikasa.

"Mikasa?!" Eren terkejut mendengar ucapan Mikasa.

"Apa lagi yang kau cari, Eren? Dark itu adalah target kita. Jika kita berhasil membunuhnya kita akan mendapatkan banyak uang. Itu tujuan kita melakukan pekerjaan sebagai anggota Recon Corps kan? Apa kau lupa itu?"

"Aku tidak lupa! Justru karena tidak lupa aku semakin bingung apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membunuh orang yang aku cintai."

"Eren, lupakan saja pemuda itu! Jika dia mencintaimu untuk apa dia melukaimu?"

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa. Pertanyaan itu juga pernah terbesit di benaknya tapi saat itu Rivaille bilang bahwa ia mencintai Eren dengan tulus. Eren percaya akan kata-kata Rivaille itu.

Mungkinkah cinta sudah membutakan pandangan Eren?

"Tolong jangan bicara seperti itu, Mikasa. Aku tidak mungkin bisa menjawabnya." ujar Eren dengan suara pelan.

"Tapi Eren, mengertilah. Tidak ada gunanya kau mencintai orang itu," ujar Mikasa langsung dan matanya terlihat emosi. "Aku akan menghabisinya dengan cepat."

"Cih, kau suka melakukan semua hal seenakmu, Mikasa! Kau tidak peduli dengan perasaanku."

Eren langsung bangun dan pergi meninggalkan rumah. Mikasa terkejut dan berusaha mengejar Eren, tapi ia tidak melihat sosok Eren. Sepertinya Eren sudah berlari dengan cepat hingga tidak terlihat. Tapi Mikasa memiliki firasat Eren akan pergi ke tempat itu.

'Aku akan pergi kesana. Eren pasti disana.' batin Mikasa.

.

.

.

Eren sudah sampai di bukit itu, ia lebih senang berada disini dan menenangkan pikirannya. Eren melihat ke arah langit dimana bulan bersinar dengan indah. Hari juga sudah semakin larut, mungkin sekarang hampir jam dua dini hari. Entah, Eren tidak melihat ke arah jam. Ia tidak peduli waktu yang terlewati.

Ia tidak peduli...

Ia ingin bertemu dengan Rivaille.

Sangat ingin bertemu.

"Rivaille..." gumam Eren pelan.

Eren tahu ia melihat bahwa Rivaille telah melukai teman-temannya dengan mata kepalanya sendiri. Tapi Rivaille tidak pernah melukainya dengan serius, sayatan di punggung itu ia anggap seperti luka kecil.

Ia merasa Rivaille seperti memiliki sisi yang berbeda. Apa memang Rivaille seperti itu? Eren tidak tahu dan ia tidak peduli karena ia mencintai Rivaille apa adanya. Ia tidak butuh masa lalu dari Rivaille yang buruk, yang ada di matanya adalah Rivaille saat ini.

Rivaille yang mencintainya adalah Rivaille yang sekarang.

Keinginan Eren hanya sederhana, hanya ingin dicintai dan mencintai seseorang. Begitu hal itu terwujud kenapa orang itu adalah orang yang dianggap oleh orang lain adalah orang yang salah. Apakah takdir mempermainkan mereka berdua? Apakah mereka tidak bisa bersama?

Layaknya bulan dan matahari.

"Rivaille..."

Eren mendengar langkah kaki dan ia memperhatikan sosok Rivaille dari kejauhan. Eren tersenyum tipis melihat Rivaille. Rivaille sedikit terkejut melihat Eren yang tersenyum tapi wajahnya terlihat gelisah. Entah, sepertinya ada banyak emosi yang tergambar di wajah Eren saat ini.

Eren langsung berlari ke arah Rivaille dan memeluk pemuda yang lebih mungil darinya itu. Rivaille sedikit terkejut saat Eren memeluknya seperti ini. Ia mendengar suara ini lagi, suara tangisan Eren.

"Eren..." panggil Rivaille.

"Rivaille, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu." ujar Eren. Sepertinya ia berusaha menahan tangisannya tapi Rivaille bisa mendengar dengan jelas.

"Eren. Aku juga tidak ingin kehilanganmu..."

"Mikasa sudah mengetahui tentang hubungan kita. Dia mendesakku untuk cerita dan saat aku menceritakan semuanya dia memintaku untuk berpisah darimu dan membunuhmu. Mana mungkin aku bisa melakukannya? Meski ini misi kelompokku tapi aku... aku tidak bisa."

Rivaille terdiam tapi ia membalas pelukan Eren dengan lebih erat lagi, terlalu erat mungkin. Bahkan Eren sampai merasa sedikit sesak, tapi ia tidak peduli. Ia ingin pemuda itu memeluknya dengan erat bahkan jika bisa lebih erat lagi dari ini.

"Aku mencintaimu, Eren." bisik Rivaille.

"Aku juga. Aku sangat mencintaimu..." ujar Eren.

Mereka berdua berpelukan dengan mesra dan hangat, seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua. Mereka tidak memerlukan hal lain, yang diperlukan hanya kehangatan satu sama lain. Hanya cinta mereka yang bersinar dengan terang.

Layaknya bulan dan matahari yang berusaha untuk bersama.

Seperti itulah Rivaille dan Eren, dua pribadi yang saling bertolak belakang mencoba untuk bersama. Tidak peduli sekeras apapun rintangan yang ada, mereka tidak peduli.

"Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya." ujar Rivaille.

"Eh?" Eren tampak bingung.

"Keluargaku, kekasihku. Aku sudah kehilangan mereka semua."

Eren terdiam saat mendengar hal itu, berarti ia bukan yang pertama untuk Rivaille. Entah kenapa ia merasa sedih memikirkannya tapi ia masih bisa merasakan pemuda itu memeluknya.

"Meski begitu aku menemukan cintaku yang terakhir untuk selamanya yaitu kamu Eren," Rivaille tersenyum saat mengatakan hal itu. "Untukmu, aku rela menutup mata di hadapanmu."

"Jangan bicara yang tidak-tidak, Rivaille. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku ingin selalu bersama denganmu."

"Aku juga ingin bersama denganmu, Eren."

Rivaille terdiam dan mereka masih berpelukan dengan mesra. Di bawah langit malam, di bawah sinar bulan yang menerangi mereka, mereka berjanji untuk selalu bersama. Bersama sampai maut memisahkan mereka.

Tapi mereka berdua tidak sadar bahwa ada sosok Mikasa yang menatap mereka dari kejauhan. Mikasa terdiam dan tidak percaya bahwa ia akan melihat Eren berpelukan dengan pemuda lain seperti Rivaille.

'Dia adalah Dark?' batin Mikasa. 'Kenapa kau memilih orang seperti itu, Eren?'

To Be Continued

A/N: Akhirnya aku update lagi. Kali ini chapternya panjang seperti biasa...^^

Terima kasih kepada Keikoku Yuki, SeraphelArchangela Claudia, Nacchan Sakura, Kim Arlein17, Hasegawa Nanaho, luffy niar, Azure'czar, Sedotan Hijau untuk review di chapter sebelumnya.

Baik, ditunggu reviewnya dan terima kasih semuanya...^^