.

Warning!

This is a FanFiction, may contain OOC-ness, typos and pointless craps.

.

Love is Not a Pity
by Ashelia Elnora

.

Chapter 2

Meja makan malam itu terlihat lebih penuh dari biasanya, mungkin jika dihitung makanan itu lebih pas jika disantap dengan empat atau lima orang yang duduk disana tapi pasangan suami-istri itu hanya menunggu satu orang tamu. Melihat kebiasaan makan istrinya dan tamu yang akan datang, dia tahu kalau makanan itu nanti akan banyak yang tersisa. Athrun akan menyuruh istrinya untuk mengantar sisa makanan malam ini untuk bibi Eijah, itu pun jika istrinya belum kepikiran dengan ide itu.

Istrinya berjalan bolak-balik dari dapur ke maja makan, memastikan semua makanan yang dia masak dengan segenap hati tertata secara apik dan tidak ada peralatan makanan yang tertinggal. Sang suami sendiri hanya mencari acara televisi yang layak ditonton sembari menunggu makan malam. Dia ingin membantu istrinya menata makanan dimeja tapi sang istri melarangnya dan bilang dia sudah cukup membantu memasaknya tadi lalu menyuruhnya bersantai saja.

Waktu sudah menunjukkan lewat dari jam makan malam, sang tamu belum juga memencet bel untuk menandakan kedatangannya. Istrinya mulai khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada saudara tercintanya itu, rasa khawatirnya memang kadang berlebihan. Athrun berusaha menenangkan istrinya dengan merangkulkan lengannya pada bahu sang istri ketika mereka duduk berdua menunggu didepan televisi.

"Aku harap dia tidak lupa dengan janjinya karena kesibukannya," bisik istrinya yang sekarang menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.

"Tidak, dia orang yang selalu menepati janjinya walaupun sering datang terlambat," kata Athrun tenang, Athrun tahu orang itu tidak akan pernah mengecewakan saudarinya sendiri. Orang itu rela melakukan apa saja untuknya, karena baginya istrinya adalah belahan jiwanya.

"Hm, aku tahu tapi ̶ "

Ucapan istrinya terpotong oleh bunyi bel yang menggema didalam rumah. Wajah istrinya langsung berubah berseri begitu mendengar bunyi bel, seperti wajah anak kecil yang kedatangan Santa Clause saat natal. Athrun hanya melihat istrinya berjalan cepat kearah pintu depan dengan senyum lebar diwajahnya. Dia tersenyum kecil melihatnya, membuatnya mengingat masa lalu yang sudah lama hilang.

Gadis itu menuju pintu dengan perasaan tidak sabar, dia ingin sekali cepat-cepat memeluk saudaranya itu kepelukannya. Sudah berapa bulan dia tidak melihat batang hidung saudaranya itu secara langsung? Dia tidak ingat dan hanya melihat perkembangan karirnya lewat televisi walaupun dia kadang ingin menghubunginya, dia takut dia menelepon disaat yang tidak tepat.

Mempercepat langkahnya, dia membuka pintu dengan kegembiraan tidak terbendung. Dibalik pintu, seorang gadis seperti ingin memencet bel lagi, tangannya sudang terangkat kearah tombol yang ada disisi kanan sang gadis.

"Lacus!" jerit wanita yang memiliki postur tubuh dan wajah yang sama dengan gadis yang dipanggil Lacus. Gadis itu selalu merasa seperti berdiri didepan cermin ketika mereka berdua bersama, ada sedikit perasaan tidak enak yang menggelayuti dirinya dalam situasi seperti ini.

"Aku senang sekali kau bisa datang hari ini!" lanjut saudari kembar Lacus, dia tidak menunggu lama-lama lagi untuk mengalungkan lengannya pada leher saudarinya. Mengesampingkan perasaan tidak enak kesudut hati tergelapnya.

Lacus yang masih dalam mode terkejutnya, tersentak dan membalas pelukan hangat saudarinya itu.

"Lama tidak bertemu, Meer."

Makan malam mereka berjalan seperti selayaknya perjamuan makan pada umumnya. Bertukar kabar, menceritakan aktivitas atau kejadian sehari-hari yang berkesan satu sama lain dan berkomentar tentang perkembangan yang ada. Terdengar seperti basa-basi tapi itu juga merupakan bagian dari mengenal seseorang lebih jauh. Kepribadian seseorang kadang bisa tercermin dari hal-hal kecil seperti itu.

Selesai makan malam, Athrun menggiring Lacus menuju beranda belakang rumah. Sedang Meer membereskan peralatan makan mereka sendirian karena ketika mereka berdua menawarkan bantuan, Meer menolak dengan tegas. Menurutnya, itu tugas tuan rumah untuk membuat tamu merasa nyaman dan itu termasuk tidak membebani tamu dengan tugas berberes.

"Meer terlihat lebih bersemangat dari biasanya," ucap Lacus tiba-tiba dengan senyum lembut yang seakan ingin mengatakan sesuatu yang lain.

"Itu berkat kau, Lacus. Apa kau tidak sadar dia selalu seperti itu saat kau datang bekunjung?" Athrun melempar senyum balik pada Lacus sambil menuangkan wine ke kedua gelas anggur yang sudah mereka bawa.

"Begitukah? Aku pikir ada sesuatu yang terjadi yang membuatnya sangat gembira," jelas Lacus. "Kesehatannya sudah cukup baik dan stabil sekarang."

Athrun terdiam, dia tidak bodoh untuk tidak mengetahui kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Ibunya juga sudah menyebutkannya secara terselebung seperti yang Lacus lakukan kini. Selagi Athrun bisa menghindari pertanyaan itu dengan ibunya, Athrun tidak yakin bisa melakukan hal yang sama dengan Lacus. Kadang Lacus bisa lebih persuasive daripada siapapun yang Athrun kenal.

Athrun menghampiri Lacus yang bersandar pada banister beranda dengan membawa dua gelas wine yang sudah diisinya tadi. Lacus menerimanya dengan senyuman terima kasih ketika Athrun memberikan salah satu gelas itu padanya. Athrun meminumnya terlebih dulu.

Tidak mendapat jawaban apapun dari Athrun, Lacus sudah bisa menebak bahwa Athrun berusaha menghindari topik ini sejak dulu. Tapi demi saudarinya, dia tidak akan menyerah begitu saja. Lacus masih punya segudang cara untuk membuat Athrun menyerah. Lagipula ini waktu yang paling tepat untuk menyempurnakan pernikahan mereka, lima tahun tentunya sudah cukup untuk memberikan Athrun waktu.

"Meer merawat kebun ini dengan baik, lili-lili itu terlihat cantik," ucap Lacus mengarahkan pandangannya pada bunga lili yang berjajar rapi disisi-sisi kebun walaupun lili bukan hanya bunga yang ada di kebun itu, dia hanya menyebut lili karena itu bunga kesayangan Meer dan dirinya.

Athrun mengangguk membenarkan, "Dia tidak sendiri, bibi Eijah juga ikut membantu."

Jawaban dingin Athrun sedikit membuatnya mendidih, dia tahu Meer tidak mungkin melakukan semuanya sendiri saat itu. Tapi lili-lili itu ada karena Meer yang mempunyai ide itu jadi setidaknya Athrun harus menghargai usaha Meer walau sedikit. Lacus menghela nafas diam-diam, merobohkan dinding pertahanan Athrun Zala memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin.

"Tentu saja, bibi Eijah sangat berdedikasi. Dia sudah merawat Meer lama dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Aku dan Meer sudah menganggapnya seperti ibu sendiri," terang Lacus, sorot matanya tampak kosong seperti sedang memutar kembali video lama dibenaknya.

Athrun hanya meneguk kembali wine-nya yang tersisa sedikit. Bibi Eijah adalah pembantu yang dibawa Meer ketika mereka pindah kemari. Rumah baru yang dibelikan oleh ibunya sebagai kado pernikahan mereka. Pandangan Athrun menjadi tidak fokus, Athrun bosan dengan pembicaraan ini dan Lacus mengetahuinya. Intuisinya memang tidak perlu diragukan.

Lacus meniru apa yang Athrun lakukan, mendekatkan gelasnya kebibirnya untuk meredam rasa kesal yang menyeruak. Lacus hanya ingin yang terbaik untuk saudarinya dan Athrun tidak memberikannya. Mungkin lebih baik Lacus mengatakan maksudnya secara langsung apa yang diinginkannya. Itu lah caranya mendapatkan Athrun Zala dulu.

"Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, Athrun. Apakah itu masih belum cukup?" tanya Lacus secara langsung, tidak lagi menutupi tujuannya. Matanya mengarah pada sekelompok semak primrose yang berada diantara kawanan bunga lili. Walaupun terbilang sedikit dibanding dengan lili-lili yang ada diberbagai sisi kebun, hal itu malah membuat semak itu semakin terlihat menonjol dan istimewa.

"Kau meminta terlalu banyak, Lacus." Athrun berbalik, hendak mengisi gelasnya yang kosong.

"Aku tidak akan meminta jika kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan, Athrun. Itu kewajibanmu," serang Lacus menggunakan nada yang sama dinginnya dengan Athrun. Jika Meer adalah tipe gadis yang menerima apa adanya dengan kondisinya, itu malah semakin membuat Lacus tidak akan menyerah untuknya, sekarang ataupun nanti.

Botol wine yang digenggam Athrun bergetar sedikit, tidak begitu kentara jika dilihat dari posisi Lacus sekarang. Athrun mengeratkan pegangannya pada botol tersebut, mencurahkan konsentrasinya dalam menuangkan wine itu kedalam gelasnya.

"Athrun, kau mencintai Meer, kan?" tanya Lacus kembali yang sudah terlalu lelah dengan sikap tak acuh Athrun. Lacus tahu, dia sudah meminta terlalu banyak dari Athrun tapi tidak bisakah Athrun menghargai sedikit usaha Meer dan dirinya disini. Selama ini Meer sudah berjuang keras untuk hidup dan mencintai seorang Athrun Zala yang tidak pernah sedikitpun melirik usahanya. Lacus hanya ingin Meer mendapatkan apa yang menjadi haknya. Meer mempunyai hak untuk bahagia dan dicintai, kan?

"Setidaknya belajarlah mencintainya, dia sudah berjuang keras untuk sampai sejauh ini."

Angin malam berhembus pelan, terasa lebih menusuk tulang daripada malam-malam sebelumnya atau itu karena kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Lacus. Athrun mengamati gelas anggur yang terisi terlalu penuh hingga sebagian wine-nya tumpah tercecer diatas meja. Entah kenapa Athrun merasa seperti gelas anggur itu.

Jalanan kota Heliopolis tampak begitu sibuk, pejalan kaki memenuhi kanan dan kiri jalan. Walaupun waktu masih tergolong terlalu pagi tapi itu tidak menyurutkan para workaholic untuk menuju tempat kerja lebih pagi atau sekedar menghidari angkutan umum yang penuh sesak ketika jam kerja dimulai.

Seorang gadis duduk sendiri didalam salah satu Café disepanjang jalan, menyeruput latte yang sudah dia pesan dengan bagel sebagai pendamping. Didepannya terdapat sebuah koran pagi yang baru saja dia beli diperjalanannya untuk sarapan pagi. Walaupun takut nanti akan di gebrek para fans atau paparazzi , Cagalli mencintai kebebasan. Dia tidak suka dikekang dengan alasan sepele jadi hari ini dia berpenampilan seperti seorang laki-laki. Topi dimana dia menyembunyikan rambut panjangnya, kacamata bening, T-shirt longgar, jaket, khaki pants dan sneakers. Semua dilakukannya untuk berjaga-jaga, sekalipun dulu tanpa maksud menyamarpun dia sudah dikira sebagai laki-laki.

Sebelum otaknya mulai menyelami kenangan lalu, dia membalik koran di depan ke halaman berikutnya. Dia menemukan berita kepulangannya disana walaupun tidak menjadi berita utama tapi hey,namanya ada dalam koran bisnis. Itu sendiri sudah merupakan suatu pencapaian, kan? Alasan utamanya tentu saja karena dia seorang Athha. Dia tidak membaca artikelnya sampai selesai, dia hanya berpikir berita ini pasti sudah sampai pada ayahnya. Mungkin tidak lama lagi dia akan menghubunginya.

Kemarin sesampainya di hotel yang dia pesan untuk beberapa hari, dia tidak membuang waktu untuk menelepon asistennya. Asistennya bilang kalau seorang paparazzi membuntutinya sampai bandara dan melihat jadwal penerbangan disana. Dia sungguh tidak menduga seorang paparazzi mempunyai bakat Sherlock. Lagipula bukan niatnya untuk pulang sembunyi-sembunyi begini, hanya untuk kepentingan privasi, pikirnya. Dia kembali juga karena pekerjaan, Aisha ̶ pemilik brand Dawn, memintanya untuk menjadi model anaknya. Stellar Louiser, designer baru dalam dunia fashion designer. Walaupun butiknya masih berlabel Dawn, baju-baju yang dijual merupakan karyanya sendiri. Dia ingin mempunyai nama sendiri seperti ibu angkatnya. Gadis ambisius dan juga mandiri, pikirnya.

"Wow, kalau aku lupa Kira tidak pernah mau memakai topi. Aku akan berpikir Kira mengecat rambutnya menjadi pirang karena iri padamu." Ucap seorang gadis memakai kaus lebar berwarna kelabu yang tepat jatuh dipertengahan pahanya dengan hot pants yang memamerkan paha mulusnya, tidak lupa sepasang sepatu olah raga untuk melengkapi kostum jogging-nya.

Cagalli hanya bisa menghela nafas panjang. "Flay, bagaimana kau bisa ada dimana saja? Kau pasti menguntitku," tuduh cagalli yang lebih terlihat bosan daripada mengancam.

Sedikit terhina dengan ide gila yang dicetuskan Cagalli, Flay menarik kursi didepan Cagalli dengan kasar, duduk tanpa permisi dan memesan pesanan yang sama seperti Cagalli dengan gaya angkuhnya. Cagalli yang sudah terbiasa dengan tingkah teman semasa kecilnya ̶ jika bisa disebut seperti itu, hanya diam dan mengamati bagaimana kerutan didahi yang paling dibenci Flay mulai terbentuk dan mata kelabunya yang memincing kearahnya.

"Aku bukan salah satu penggemar gilamu, Athha," ucapnya penuh penekanan disetiap katanya, apalagi dibagian penggemar. "Lagipula aku sudah lama menjadi pelanggan disini jika salah satu dari kita adalah penguntit itu pastinya kau, Athha," lanjutnya dengan seringai sombongnya, kerut didahi hilang secepat hujan di hari yang cerah.

"Kau mungkin langganan disini tapi aku mengenal lebih baik label yang digunakan café ini," balas Cagalli tidak kalah sombong kemudian dengan santainya menunjuk logo yang ada dalam café tersebut.

Dibelakang counter barista terdapat gambar harimau yang membuka mulutnya, memperlihatkan taring tajam yang dimilikinya lalu tepat dibawahnya tertulis Desert Tiger. Flay hanya mendengus melihatnya. Desert Tiger memang merek café terkenal karena cita rasa kopi mereka yang khas dan unik. Pemilik merek itu adalah Andrew Waltfeld suami dari Aisha Waltfeld. Cagalli hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dia sebenarnya tidak begitu suka dikelilingi oleh orang-orang berpengaruh kuat didunia tapi apa boleh buat jika dia mempunyai teman masa kecil yang seorang putri satu-satunya dari salah satu pemegang kuasa didalam Atlantic Federation, tentu saja kau akan mengharapkan sesuatu yang lebih darinya.

"Apa kau habis berolah raga? Tidak biasanya, bukankah kau benci keringat?" tanya Cagalli sambil menyeruput kembali kopinya, berusaha mengalihkan topik darinya.

Bersamaan dengan itu pesanan Flay datang dengan aroma yang menggugah selera. Flay memandangi bagel didepannya dengan pandangan tidak menentu. "Walaupun aku tidak suka berkeringat bukan berarti aku membenci olah raga, itu menyehatkan dan membentuk postur tubuh," jawab Flay ringan.

Cagalli ingin sekali mengingatkan bagaimana temannya ini suka sekali mengeluh dijam olah raga saat mereka masih bersekolah bersama. Tapi dia urungkan karena ini masih terlalu pagi untuk memulai perdebatan dengan Flay, ditambah lagi dia cukup bisa menebak apa penyebab perubahan temannya ini.

"Kira?" tebak Cagalli

"Huh?"

"Kalian kemarin bertengkar lagi, kan? Apa kau sudah berbaikan dengannya?" tanya Cagalli lagi. Begitu mereka sampai di kamar hotel cagalli kemarin, Flay langsung menelepon Kira untuk memberitahukannya kalau sepupu favoritnya sudah pulang. Dari pembicaraan atau lebih tepatnya perdebatan Flay dengan sekretaris Kira, dia bisa menebak mereka akan bertengkar lagi dengan topik yang sama seperti biasanya. Serahkan pada Flay untuk bersikap dramatic, itu lah sebabnya mereka menobatkannya dengan sebutan Drama Queen semasa sekolah. Tapi jika dipandang dari sisi lain, itu adalah bakat alami Flay dan Flay juga menyadari itu. Percaya atau tidak, dia bukan seperti yang kebanyakan orang pikirkan tentangnya.

Raut wajah tidak suka mulai tertempel diwajahnya, Flay tidak suka membahas masalah pribadi pada orang lain dan sebagai gantinya tidak suka mencampuri masalah orang lain pula. Flay mengangkat bahunya, "Bukan kesalahanku, dia yang harus minta maaf."

Tidak menanggapi respon acuh tak acuh Flay, dia jadi berpikir tentang hubungan saudara sepupunya itu. Mereka mulai berpacaran sejak mereka masih sama-sama berada di High School, tapi Kira sudah mengaguminya sejak mereka masih kecil. Menurutnya Flay adalah seorang putri sejati dan Kira ingin menjadi pangeran kuat yang melindunginya. Kurang-lebih begitu lah kisah cinta mereka dimulai tapi seiring pendewasaan Kira, mereka jadi sering bertengkar. Sifat mereka bertolak belakang tapi menurut Cagalli, itu tidak bisa dijadikan alasan kenapa sebuah hubungan tidak berjalan lancar. Sebenarnya sifat mereka akan saling melengkapi jika mereka bisa saling menerima baik dan buruknya sifat pasangan mereka. Cagalli ingin sekali mengatakan ini pada Flay dan Kira, dia sungguh tidak mau hubungan mereka kandas karena tidak adanya rasa saling mengerti. Tapi entah mengapa itu akan terdengar munafik jika dia yang mengatakannya. Mengingat bagaimana hubungan asmaranya berakhir dengan lebih buruk.

Flay melahap bagel yang ada ditangannya dan didepannya sudah terdapat beberapa piring kosong. Cagalli menaikkan salah satu alisnya, heran dengan apa yang ada didepannya. Sejak kapan piring-piring ini ada disini, apa aku berpikir terlalu dalam sampai tidak tahu apa yang terjadi selama beberapa menit, pikirnya dengan raut wajah tak percaya terpasang manis diwajahnya.

"Apa?" sentak Flay yang melihat bagaimana Cagalli dengan wajah yang terlalu abstrak untuk dideskripsikan.

"Apa kau memesan bagel sebanyak ini?" Cagalli menunjuk barisan piring kotor dimeja mereka.

"Apa yang kau harapkan? Aku habis berolah raga," jelas Flay yang tidak terima dengan pandangan menghakimi Cagalli ditambah lagi dengan penghinaan tersirat dari pertanyaannya.

Cagalli tertawa, untuk pertama kalinya setelah menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dia tertawa lepas tanpa beban. Flay tidak serumit dan sesederhana yang orang pikirkan. Flay adalah Flay, kalian hanya perlu mengerti dan menerima.

"Hei, jangan tertawa!"

Sebuah mobil sport berwarna biru gelap terlihat moncolok diantara beberapa mobil yang merayap pelan disisi kiri dan kanannya. Mobil itu tampak tidak bergerak dari tempatnya walaupun dari belakang terdengar suara klakson yang begitu memekakkan telinga. Dilihat dari berbagai sisi manapun itu bukan salah si pengendari mobil sport itu, jalanan macet didepan sana. Karena sebuah kecelakaan, sebagian jalan ditutup untuk memudahkan evakuasi korban dan menghidari kecelakaan selanjutnya.

Seorang pemuda berambut coklat menyandarkan kepalanya didepan setir mobil sport-nya. Dia tampak frustasi dengan macet yang selalu terjadi menjelang jam makan siang kantor. Kalau saja dia tidak mempunyai janji penting siang ini, dia pasti sudah menyuruh sekretarisnya membelikan makan siang di kantin kantornya. Jadi dia tidak perlu berada diposisi seperti ini, tidak ada yang lebih buruk daripada terjebak macet disiang hari yang begitu menyengat. Well, untung baginya alat pendingin didalam mobilnya berfungsi secara baik. Dia sedikit bersimpati dengan para pengendara motor dan penumpang bis umum.

Kira, si pemuda berambut coklat, melirik ponsel miliknya. Layar ponsel itu hitam, tanda bahwa tidak ada panggilan masuk atau pesan masuk. Dahinya berkerut menunjukkan raut wajah binggung kemudian matanya beralih pada jam digital yang ada didalam mobilnya. Tidak biasanya, pikirnya tidak jelas.

Pandangannya kembali pada jalan yang ada didepannya. Terdapat sedikit gap didepan dan dia segera memajukan mobilnya. Menghela nafasnya, dia berpikir bahwa ini akan membuatnya terlambat, sangat terlambat. Dia berharap tidak ada lagi hal buruk yang terjadi hari ini.

Melihat apa yang ada didepan matanya ini, membuatnya bertanya-tanya jika Tuhan membencinya atau dia yang berdoa kurang bersungguh-sungguh. Kira melirik pengawai wanita berambut pendek merah yang ada disebelahnya. Si pegawai wanita dengan name tag yang bertuliskan Lunamaria H, hanya memberikan senyum ragu-ragu kearah kira dan dengan sopan mengundurkan diri. Jika Kira bisa, dia juga tidak ingin terlibat dengan apapun yang terjadi disini. Untuk kedua kalinya dalam sehari, dia menghela nafasnya.

Didepan sebuah meja bundar dua orang wanita duduk berhadapan satu sama lain, raut wajah mereka bertolak belakang satu sama lain mencerminkan kontras warna rambut mereka. Lalu dua wanita lainnya yang berada diantara kedua wanita yang sedang berperang dingin, mereka hanya memasang senyum terpaksa ̶ terlihat dari bagaimana salah satu ujung bibir mereka berkedut karena pegal. Sepertinya tidak ada yang menyadari kehadiranku disini, pikirnya. Dia bermaksud menunggu diluar saja dan pergi secara diam-diam dari arena perang ketika tiba-tiba salah seorang dari mereka mulai berteriak.

"Ahhh ! Tuan, apa ada yang bisa kubantu?" teriak seorang wanita berkucir dua, matanya menyiratkan pesan memohon padanya.

Kira yang tersentak hanya bisa tersenyum kikuk dan membuat gesture tidak jelas pada pegawai wanita itu. Sadar kalau dia sudah menjadi tontonan beberapa pasang mata, dia mulai menenangkan diri sebelum bicara sesuatu yang akan membuatnya terjun bebas ke medan perang.

"Kira!"

Yup, suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah milik saudarinya tercinta, Cagalli. Saudarinya sendiri lah yang akan menyeretnya ke neraka bersamanya. Kira mengutuk keberuntungan yang tidak berpihak kepadanya hari ini.

"Hei Cagalli, aku datang untuk mengajakmu makan siang bersama," jawab Kira seperlunya. Dia ingin menghindari hal buruk yang sedang dan akan terjadi disini.

"Oh, that's so sweet of you, Mr. Yamato!" ucap seorang wanita dengan rambut pink, senyum innocent-nya masih terukir dibibirnya. "Kami baru saja memulai diskusi menyenangkan disini dan akan lebih menyenangkan jika kau turut serta. Lagipula kita bisa makan siang bersama disini," saran si wanita dengan mata berbinar yang mencurigakan.

Cagalli melempar tatapan tak percaya pada sang wanita, dua orang wanita lainnya terlalu terkejut untuk merespon dan Kira, dia hanya diam. Orang bilang, diam adalah emas dan sebagai pria satu-satunya disini, bijak rasanya jika dia tidak mencampuri urusan mereka.

Seolah menganggap kebisuan mereka sebagai kata setuju, sang wanita yang bebalut dress lavender melanjutkan instruksinya. "Meyrin-san, bisakah kau pergi membeli beberapa roti krim yang ada didepan butik ini? Roti krim disana sangat enak, aku ingin kalian semua mencobanya. Lalu aku rasa teh sangat cocok sebagai pendampingnya," pintanya lembut pada gadis berkucir dua yang melihatnya dengan mulut terbuka.

"Ten-Tentu saja, Miss Clyne," jawab meyrin dengan sedikit tergagap dan mulai meninggalkan ruangan tersebut dengan antusiasme yang tidak tertutupi.

Cagalli sudah siap menyeburkan penolakan, yang Kira tebak hanya akan membuat situasi bertambah parah. Hukum opposite attract, tidak berlaku disini. Mereka bukanlah magnet berkutub utara dan selatan. Mereka adalah minyak dan air, kedua unsur itu tidak akan pernah bersatu.

"A-ahh, ba-bagaimana kalau kalian melihat desainku yang lain? Walaupun pertunjukkannya masih beberapa minggu lagi, aku ingin mendengar pendapat kalian. Jadi kalau ada sesuatu yang terlihat kurang ataupun jelek, aku masih bisa memperbaikinya," seorang wanita pirang berambut pendek, Kira berpikir wanita itu sedikit mirip dengan saudarinya, berusaha menengahi dan mencegah perang mulut yang akan terjadi.

Kira bersyukur dia tidak perlu berperan jadi moderator disini, seorang pria tidak diciptakan untuk memerangi wanita. Tapi sepertinya tidak untuk wanita, mereka selalu siap berperang dengan kaumnya sendiri kapan saja. Lihat saja pada kuku-kuku mereka yang selalu dikikir tajam, perawatan rambut agar lebih resistant dari tarikkan maut lalu make-up yang selalu mereka pakai bagai perisai.

"Ah, ini adalah desain terbaruku! Aku harap ini bisa masuk dalam pertunjukkan, bagaimana menurut kalian?" tanya wanita dengan sinar mata kebanggaan yang membuat iris mata pinknya bercahaya.

"Warna gaunnya sungguh cantik dan hiasan bunganya, membuatnya terlihat eksotik, Stellar-san," tutur Lacus dengan memandang kagum desain gaun yang terpampang diselembar kertas.

Jika itu memungkinkan iris pink mata gadis itu membesar menunjukkan sebesar apa rasa bangganya pada karyanya. Stellar mengangguk dengan antusias.

"Menurutku tatanan bunga yang tidak terkoordinasi mengalihkan perhatian dari potongan elegan gaun itu sendiri, akan lebih baik jika menghilangkan hiasan yang terlalu berlebihan itu," sahut Cagalli enteng, tidak menyadari kalau ucapannya telah meredupkan sinar mata sang designer dan membuatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Melihat ini Kira mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

"Why, bunga-bunga itu mempercantik gaun tersebut. Tanpa mereka gaunya akan terlihat plain," debat Lacus dengan sopan, lembut dan senyum yang setia terpasang dibibirnya.

"Aku tidak akan berjalan dengan gaun yang membuatku terlihat seperti taman bunga berjalan," jawab Cagalli singkat yang tidak repot-repot menutupi dengusannya.

"Okay, bagaimana kalau kita mengambil jalan tengahnya saja disini?" tanya Kira cepat-cepat sebelum perdebatan mereka berlandaskan hal yang lebih pribadi. "Buat saja bunganya terfokus pada satu tempat, aku pikir itu tidak akan menutupi potongan gaunnya dan mungkin malah menonjolkannya," lanjut Kira dengan tangan kirinya menyentuh dagu dan keningnya berkerut menunjukkan keseriusannya.

"Ah, tentu saja!" seru Stellar yang seakan ingin melompat kedalam pelukan Kira karena ide jeniusnya baru saja. "Te-terima kasih untuk saran yang sangan membantu, tuan Yamato," ucap Stellar dengan rona wajah yang terlihat jelas.

Kira tertawa ringan melihat kepolosan Stellar dan mengalihkan matanya pada Lacus, "Maafkan kami, Miss Clyne. Tapi aku dan Cagalli harus pergi, ibuku mengharapkan kedatangannya siang ini."

Kira yang sejak tadi berada dibelakang Stellar,menempati posisi meyrin, berjalan kearah Cagalli. Dari jarak pandangnya, Kira sudah melihat bagaimana Cagalli memandangnya seperti seorang pahlawan yang baru saja menyelamatkannya.

Cagalli tidak ingin membuang waktu, dia menyambar topinya yang ada diatas meja dan berjalan menuju pintu keluar tanpa sepatah kata apapun. Kira mengekorinya, masih menyempatkan diri untuk melempar senyum minta maaf pada Stellar yang dibalas dengan anggukkan ringan dan lambaian tangannya.

Lacus milihat kepergian mereka dengan sedikit emosi yang bisa didiskripsikan.

Cagalli memandangi barisan gedung yang berlalu cepat disisi kirinya. Semenjak mereka pergi meninggalkan butik, dia memilih untuk menutup mulutnya dan Kira tidak mempertanyakan apapun padanya. Dia ingin sekali mengosongkan pikirannya atau setidaknya menghapus ingatannya mengenai wanita pink itu. Ini lah alasan mengapa dia begitu enggan kembali ke tempat kelahirannya. Cagalli hanya tidak menyangka mereka akan bertemu lebih cepat dari dugaannya.

"Ehem," Kira berdehem seolah ada sesuatu tersangkut didalam tenggorokannya.

Cagalli memutar matanya, salah satu taktik lama untuk mencari perhatian. Mengabaikan sinyal yang diberikan oleh Kira, Cagalli kembali memusatkan perhatiannya pada pemandangan keluar jendela ̶ walaupun itu cukup membosankan setelah beberapa saat.

"Jadi…," memberi sedikit jeda dan penekanan pada kata pertama, Kira bersiap-siap untuk kalimat selanjutnya. "Apa yang terjadi?" tanya Kira lemah, pertanyaannya itu terdengar begitu bodoh ditelinganya sendiri.

"Itu pertanyaan tolol, Kira. Kau sudah tahu apa yang terjadi disana, kau melihatnya sendiri," jawab Cagalli dengan nada malas.

Cagalli tahu Kira hanya ingin tahu apa yang terjadi sebelum dia datang tapi Cagalli sedang tidak ingin membicarakannya. Lagipula hal itu sudah berlalu, tidak ada gunanya dibahas kembali. Tapi dari keseluruhan kejadiaan siang hari ini, hanya ada satu hal yang terus terngiang dalam kepalanya.

"Athrun sudah bahagia sekarang, aku harap kau tidak kembali untuk mengganggu rumah tangganya."

Kata-kata dingin Lacus serasa menusuk sampai ulu hatinya, membuatnya mengingat akan luka lama yang sudah membekas dihatinya. Dia tidak perlu diingatkan dimana posisinya sekarang, diantara mereka sudah ada jurang besar yang membatasi. Cagalli cukup tahu bagaimana menghargai hidup dan dia yakin Athrun juga mengetahuinya.

Author' Note:

Aku tahu plot ini sudah amat sangat sering digunakan tapi yahh ini versiku. Lalu aku sama sekali tidak berniat membuat karakter antagonis disini, mungkin beberapa dari kalian tidak suka bagaimana aku menggambarkan tokoh Lacus atau Meer disini yang terkesan terbalik. Alasannya tentu saja karena ini bagian dari plot. Karena ini karya amatir jadi masih banyak yang kurang, untuk itu tolong untuk kritiknya, apapun itu jangan sungkan untuk menyuarakan pendapat anda.

Thank you for readers especially reviewers, I appreciate all your kind words and support but forgive me I couldn't update it frequently. I hope you all could bear it with me in this long road journey. Thank you again even if it wouldn't be enough. See ya : )