Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Just Like Moon and Sun
Eren dan Rivaille masih berpelukan dan tidak lama mereka melepaskan pelukan itu. Rivaille membelai wajah Eren dan Eren terdiam. Ia tidak mengerti kenapa harus mengalami takdir seperti ini, seseorang yang ia cintai adalah seseorang yang harus ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Rivaille menggenggam tangan Eren dan ia bisa merasakan tangan pemuda yang lebih muda itu gemetar. Tentu saja siapa yang bisa berwajah tenang di saat kau tahu apa jawaban dari kisah cinta ini. Kisah cinta yang tidak akan berujung dengan kebahagiaan.
"Tanganmu gemetaran, Eren." gumam Rivaille.
Eren terdiam dan ia membalas genggaman tangan Rivaille. Rasanya Eren tidak ingin melepaskan tangan hangat yang menggenggam tangannya ini. Ia takut genggaman tangan ini akan menjadi yang genggaman tangan mereka yang terakhir. Eren tidak ingin kisah mereka berakhir dengan cepat, masih banyak lembaran kisah yang bisa mereka mulai bersama.
"Rivaille..." panggil Eren.
"Ada apa?" tanya Rivaille.
"Kenapa kita harus bertemu jika pada akhirnya kita harus saling membunuh?"
Rivaille terdiam mendengar pertanyaan Eren, ia sendiri juga tidak bisa menjawabnya. Ia menatap wajah Eren, wajah itu mulai menitikkan air mata. Air mata kesedihan yang selama ini selalu Eren tahan.
"Takdir itu kejam, Eren."
Hanya itu yang bisa Rivaille katakan kepada Eren untuk saat ini. Takdir itu selalu berputar, ada kalanya di atas dan di bawah. Dan ada kalanya kau jatuh terperosok ke dalam takdir hingga kau tidak bisa bangkit lagi. Tidak ada yang tahu rahasia takdir, termasuk Rivaille dan Eren sekalipun.
"Rivaille... Aku tidak bisa..." gumam Eren.
Rivaille menatap wajah Eren. Tidak ada senyuman secerah matahari di wajah anak itu, tidak ada kebahagiaan disana. Bahkan mata emerald Eren dipenuhi oleh raut kesedihan. Rivaille memeluk anak itu dan berusaha tersenyum.
"Cinta kita akan terus abadi, Eren. Aku janji itu."
"Rivaille..."
Saat itu juga Eren membalas pelukan Rivaille dan tidak lama Rivaille melepas pelukan itu. Ia tidak ingin Eren bersikap seperti ini meski ia tahu sikap itu adalah bukti cinta Eren padanya. Ia tersenyum tipis dan mulai berjalan meninggalkan Rivaille. Eren terkejut dan ingin mengejar Rivaille.
"Jangan kejar aku. Besok kita akan bertemu lagi."
Akhirnya sosok Rivaille benar-benar menghilang dari hadapan Eren. Eren terdiam seribu bahasa, ia tidak mengerti kenapa harus dirinya dan Rivaille yang menerima kisah seperti ini. Kisah yang sulit untuk dijalani. Mana mungkin Eren tega untuk membunuh Rivaille.
'Tidak bisa.' batin Eren.
Eren langsung duduk di atas rerumputan dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis sendirian disana, ia hanya ingin menumpahkan semua emosinya untuk saat ini. Rasanya berat dan sesak sekali memendam semuanya sendirian.
Rasanya seperti benar-benar terjatuh ke dalam kegelapan.
Bukankah cinta itu indah sekaligus menyakitkan? Sekali kau terjatuh kau akan sulit untuk bangkit dan meninggalkan masa lalu yang menyedihkan. Apakah hal itu berlaku bagi Eren? Tapi Eren ingin dirinya tidak menyerah begitu saja kepada takdir.
Ia ingin bagaimanapun caranya agar ia dan Rivaille bisa bersama. Meski akan banyak rintangan yang akan mereka hadapi. Apapun itu, Eren akan melakukannya.
Malam ini tim Mikasa akan melaksanakan misi seperti biasa. Armin sudah pulih dari lukanya, begitu juga Jean. Meski sesekali Jean masih merasa sakit di pinggangnya, tapi ia yakin bisa ikut dalam misi malam ini. Jean ingin bertarung dengan Dark untuk membalaskan dendam atas kematian Marco. Mungkin hanya Jean seorang yang memiliki tekad kuat seperti itu.
"Malam ini kita akan kembali berhadapan dengan Dark." gumam Armin.
"Tapi dimana kita akan mengintai?" tanya Sasha.
"Dua tempat yang tersisa, apakah kita harus kesana?"
Mikasa mengangguk setuju dan melirik ke arah Eren. Ia sudah mendengar semua dari Eren tentang siapa sebenarnya Dark itu. Mikasa geram sekali dengan sikap Eren tapi ia juga bisa melihat bahwa Eren mencintai pemuda itu dengan tulus.
Mikasa ingin sekali menghilangkan pandangan itu, ia juga mencintai Eren. Ia tidak ingin ada orang lain yang memiliki Eren selain dirinya. Hanya dia dan dia satu-satunya yang bisa melindungi Eren. Jika ia harus menggunakan kekerasan agar Eren menjadi miliknya mungkin Mikasa akan menempuh jalan itu.
'Aku tidak akan menyerahkan Eren padanya.' batin Mikasa.
"Mikasa." panggil Eren.
Mikasa tetap terdiam saat Eren memanggilnya, Eren kembali memanggil Mikasa dan tidak lama Mikasa tersadar. Ia melihat Eren menatapnya dengan bingung. Mikasa tersenyum dan ia merapikan syal merah miliknya.
"Ada apa, Eren?" tanya Mikasa.
"Nanti kau, aku dan Armin akan berada dalam satu tim untuk mengintai." ujar Eren.
Mikasa mengangguk saja dan ia melihat beberapa temannya yang sedang berbincang dengan santai. Mikasa mengepalkan tangannya dan tatapan matanya terlihat tajam, Eren sampai bingung melihat Mikasa seperti itu.
"Akan kubuat Dark menyesal pernah berurusan dengan kita." gumam Mikasa.
Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa itu. Memang hanya Mikasa satu-satunya orang yang mengetahui identitas asli Rivaille sebagai Dark. Mikasa mengetahui tentang hubungan dirinya dan Rivaille, tapi ia juga merasa cemas dengan keduanya. Apa yang akan terjadi jika Mikasa berniat membunuh Rivaille? Eren tidak sanggup jika membayangkan kedua orang yang berarti baginya saling bertarung.
.
.
.
Mikasa, Eren dan Armin berada dalam satu tim kecil bersama sedangkan Jean dengan Sasha dan Annie. Mereka berenam mengintai dua rumah yang tersisa, mereka juga sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Dark.
Annie menatap ke arah kamar orang yang ia awasi, ia menghela napas dan melepas kancing jubahnya. Ia tampak mengeluarkan sekitar empat pistol dengan model yang sama dan kembali mengisi pelurunya. Sasha dan Jean terkejut melihat Annie yang membawa banyak pistol dengannya.
"Annie, kenapa kau membawa empat pistol?" tanya Sasha.
"Kau tidak ingat pertarungan terakhir kita dengan Dark? Pistol kita dibelah olehnya. Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama." ujar Annie datar dan tampaknya ia sudah selesai mengisi peluru di keempat pistol miliknya.
Sasha mengangguk saja dan ia memakan kentang yang ia pegang. Ia memang hanya membawa satu pistol dan banyak peluru tambahan. Ia tidak memperkirakan kemungkinan yang terjadi seperti Annie, tapi ia akan berusaha agar menyerang Dark dari jarak jauh.
Sedangkan Jean menghela napas dan ia mengeluarkan pistol miliknya. Ia juga membawa beberapa bilah pisau dan tersenyum melihatnya. Ia akan mencoba menggunakan serangan baru. Memang organisasi Recon Corps mewajibkan semua anggotanya untuk menggunakan pistol tapi jika mereka ingin memakai senjata lain juga diperbolehkan.
"Kau akan memakai itu?" tanya Annie.
"Iya. Jika dengan pistol tidak bisa, aku akan menggunakan pisau-pisau ini." ujar Jean.
"Kalian mempersiapkan diri dengan baik ya." gumam Sasha.
"Memangnya kau tidak mempersiapkan dirimu?" tanya Jean heran.
Sasha hanya tersenyum tipis dan ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyiapkan dirinya seperti Annie dan Jean, ia hanya bermodalkan satu pistol dan beberapa peluru cadangan. Bukan berarti ia menganggap remeh lawan mereka, hanya saja ia tidak memiliki keahlian lain selain menembak.
"Kurasa aku akan menyerangnya dari jauh. Aku hanya bisa menembak saja." ujar Sasha.
"Tapi jika ia mendekat dan memotong pistolmu lagi kau tidak akan bisa menyerang." ujar Jean yang sudah merapikan pistol dan pisau-pisaunya. Ia menyimpannya di balik jubahnya.
"Kita harus bisa menutupi kekurangan Sasha." ujar Annie.
"Kau benar. Ayo kita hancurkan dia!"
Jean terlihat bersemangat dan ia sudah mempersiapkan satu pistolnya, Annie terdiam dan mengelap pistolnya begitu juga dengan Sasha yang sedang memegang pistolnya. Mereka siap untuk memulai penyerangan jika Dark mulai berulah.
Lain lagi persiapannya dengan Mikasa, Eren dan Armin. Mungkin mereka bertiga sama seperti Sasha, tidak membawa perlengkapan lebih demi menghadapi Dark. Tapi Armin akan memikirkan strategi yang tepat jika Dark menyerang dan ia akan memberitahukan kepada Mikasa juga Eren.
Sedari tadi Eren hanya terdiam saja, ia melihat Mikasa dan Armin yang sedang menyiapkan pistol mereka. Eren mengeluarkan pistolnya dan hanya memeriksa peluru di dalamnya tanpa mengecek lebih lanjut lagi. Eren langsung memasukkan pistolnya dan ia terdiam, ia memandang langit malam yang indah.
"Bulan bersinar dengan terang malam ini." ujar Mikasa.
Eren menoleh ke arah Mikasa dan Mikasa menatap datar ke arah Eren, ia merapikan syal merah miliknya dan duduk di samping Eren. Eren terdiam dan kembali menatap langit. Armin yang sudah selesai menyiapkan pistol miliknya terdiam melihat kedua sahabatnya sedang duduk santai dan mengamati langit.
"Eren, Mikasa. Kalian sedang apa?" tanya Armin.
Mikasa menoleh ke arah Armin tapi tidak dengan Eren, Eren masih memperhatikan bulan yang bersinar. Bulan mengingatkannya akan sosok Rivaille, lagi-lagi wajahnya memerah memikirkan Rivaille. Rasanya berdebar memikirkan kekasih sendiri seperti itu.
"Hanya memperhatikan langit saja." ujar Mikasa langung.
Eren tersenyum dan ia kembali melihat bulan di langit, bulan yang bersinar dengan indah. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan sosok Rivaille terus bermain di benaknya. Selama ia masih bisa memikirkan sosok itu, ia ingin terus memikirkannya. Ia ingin impiannya itu menjadi kenyataan, bahwa ia dan Rivaille akan bersama untuk selamanya sampai akhir hayat.
Tapi apakah matahari dan bulan bisa bersama?
Bukankah Rivaille dan Eren seperti bulan dan matahari? Mereka memiliki pribadi yang jauh berbeda dan latar belakang yang berbeda. Apakah mereka bisa bersama? Apakah mereka bisa menghadapi tantangan yang akan tiba jika mereka bersama nanti? Eren berusaha yakin bahwa ia akan bisa bersama dengan Rivaille. Karena...
'Aku mencintainya.' batin Eren.
Mikasa memperhatikan Eren yang memejamkan matanya itu. Ia tahu bahwa Eren sedang memikirkan sosok yang seharusnya tidak ia pikirkan saat ini. Sosok kekasih yang Eren ceritakan kepada Mikasa. Memikirkan hal itu membuat Mikasa geram. Armin yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam melihat kedua sahabatnya itu dan memandang langit bersama. Tentu saja mereka juga mengawasi rumah ini.
.
.
.
Malam sudah semakin larut dan sekarang sudah jam satu dini hari, tapi tidak ada tanda-tanda Dark akan muncul dari rumah yang Armin, Eren dan Mikasa awasi. Tidak ada sinyal juga dari tim kecil Annie. Mereka memutuskan untuk menghentikan pengintaian karena sudah malam dan memutuskan untuk ke tempat mereka berkumpul seperti biasa. Mereka berenam berada disana, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama. Hari ini mereka tidak bertemu dengan Dark.
"Sepertinya dia tidak datang." gumam Sasha.
"Kami juga tidak melihatnya." ujar Armin.
"Tidak seperti biasanya, apa ia ingin menghindari kita?" Jean tampak berpikir tentang ucapannya tadi. "Atau ia menyiapkan cara untuk menghabisi kita?"
"Tumben sekali kau berpikiran seperti itu." ujar Mikasa.
"Sudah, lebih baik kita pulang dan besok bisa melakukan pengintaian lagi. Kita bisa mempersiapkan diri lebih baik lagi."
Mereka semua terdiam mendengar ucapan Armin dan memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Eren terdiam dan hanya berdiri saja, ia tidak melangkahkan kakinya untuk berjalan pulang. Mikasa melihat Eren terdiam itu langsung mendekati Eren dan menepuk pundaknya.
"Ada apa, Eren? Ayo kita pulang." ajak Mikasa.
"Ah? Iya..." gumam Eren pelan.
Mikasa menatap Eren khawatir, tapi ia langsung menggenggam tangan Eren dan mereka pulang bersama ke rumah. Sesampainya di rumah, Mikasa langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia merasa lelah dengan misi hari ini.
Tapi berbeda dengan Eren yang masih berdiri di dekat sofa. Matanya menatap ke arah jendela, memperhatikan langit malam yang tampak sunyi. Entah kenapa hatinya mengatakan ia tahu dimana Rivaille. Ia ingin mencari kekasihnya itu dan langkah kakinya membawanya keluar dari rumah. Ia ingin melihat Rivaille, sebentar saja.
'Pasti dia disana.' batin Eren yang berlari keluar rumah.
Sepertinya Mikasa tidak menyadari bahwa Eren sudah keluar rumah jadi memudahkan Eren untuk segera pergi. Langkah kaki Eren terhenti saat ia sampai di bukit, ia berjalan perlahan dan menemukan sosok yang ia cari.
Rivaille.
Sosok itu sedang tertidur di bawah pohon dengan tenangnya. Eren mendekati Rivaille dan sekarang ia berada di hadapannya. Ia berjongkok untuk melihat wajah Rivaille lebih dekat. Ia tersenyum saat melihat wajah kekasihnya itu, ia merasa lega dan memberanikan diri untuk membelai rambut hitam Rivaille. Tapi hanya sedetik saja, kemudian Eren langsung tidak menyentuh Rivaille lagi. Ia hanya bisa memandang wajah datar itu yang sedang tertidur.
Jantung Eren berdetak dengan kencang saat melihat Rivaille seperti ini. Ia tidak menyangka bahwa perkiraannya benar, tapi ia juga tidak tahu bahwa Rivaille tidur di tempat seperti ini. Ia terus saja memperhatikan wajah itu lebih dekat dan wajahnya memerah.
Tapi Eren terkejut saat Rivaille menggenggam tangan Eren dengan erat, wajah pemuda berambut coklat itu kembali memerah. Bahkan ia lebih terkejut saat Rivaille seperti menariknya agar terjatuh, sekarang mereka berpelukan dan saling berhadapan meski mata Rivaille masih tertutup.
"Ri-Rivaille..." gumam Eren.
Eren berusaha melepaskan diri dari pelukan Rivaille, tapi tidak bisa. Tangan Rivaille yang memeluk pinggangnya sulit membuatnya bergerak. Jantung Eren berdetak sangat kencang karena dipeluk seperti ini. Ia bisa merasakan hembusan napas pemuda itu, membuatnya merasa sangat malu.
"Eren..."
Rivaille bergumam dalam mimpinya, memanggil nama Eren. Eren terdiam dan ia menatap wajah Rivaille, wajah itu tertidur dengan damai. Melihat wajah Rivaille dari dekat membuat Eren semakin malu. Tidak lama mata itu terbuka dan Eren terkejut saat melihat Rivaille yang telah bangun, hijau bertemu dengan hitam lagi.
"Ah, Eren." gumam Rivaille pelan.
"Rivaille..." Eren berbicara dengan suara pelan layaknya berbisik dan wajahnya semakin memerah. Ia benar-benar malu sekarang.
Rivaille hanya tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya kepada Eren, ia mencium bibir Eren dengan lembut. Eren terkejut dengan tindakan Rivaille dan ia memejamkan matanya untuk menikmati ciuman lembut itu.
Tapi ciuman lembut itu berubah menjadi ganas. Rivaille menjilat bibir Eren dan membuat Eren membuka mulutnya, lidah Rivaille langsung bergerak cepat untuk masuk ke rongga mulut Eren dan mengajak lidah Eren untuk bermain dengannya. Lagi-lagi Rivaille mendengar desahan manis dari bibir Eren, desahan yang menggodanya.
"Aahn..."
Ciuman itu terus dilakukan tanpa berhenti, Eren ingin melepaskan ciuman itu karena ia merasa sesak dan butuh pasokan udara untuk paru-parunya. Sepertinya Rivaille mengerti maksud Eren dan ia melepaskan ciuman itu, tapi tangannya yang memeluk pinggang Eren perlahan naik dan mulai membelai perut Eren. Memang tubuh Eren masih tertutup dengan seragamnya, tapi sentuhan Rivaille itu membuat Eren merasa geli.
"Aahh? Apa yang kamu lakukan?" tanya Eren dengan wajah yang sangat memerah.
"Bukan apa-apa." ujar Rivaille santai.
Eren terdiam tapi ia bisa merasakan tangan itu terus membelainya, ia membiarkan Rivaille membelainya seperti itu. Sesekali ia menahan suaranya karena ia mulai terbuai dengan sentuhan Rivaille itu.
Rivaille berhenti membelai Eren dan ia kembali memeluk pinggang Eren dengan erat, Eren terdiam dan berusaha memandang wajah Rivaille. Mereka hanya saling berpandangan dan membiarkan malam yang menemani mereka.
"Apa kau mengantuk, Eren?" tanya Rivaille.
"Eh? Ah, iya," jawab Eren pelan. Ia menatap wajah Rivaille dan ingin bertanya tentang hal yang mengganggu benaknya. "Kenapa kau tidak datang?"
Rivaille terdiam mendengar pertanyaan Eren dan ia membelai rambut Eren dengan lembut, jantung Eren semakin berpacu dengan cepat. Hanya di depan Eren saja sifat Rivaille melunak seperti ini, hanya di depan Eren saja Rivaille bisa menjadi seseorang yang memiliki rasa sayang terhadap orang lain.
"Kenapa kau ingin aku datang? Kau ingin melihat teman-temanmu terluka lagi?"
"Tidak."
Rivaille tersenyum tipis mendengar ucapan Eren itu. Ia tahu Eren adalah pemuda dengan hati yang baik dan tidak ingin melihat teman-temannya terluka. Ia tahu itu, makanya ia sengaja tidak datang hari ini.
Eren berusaha terjaga tapi ia tidak bisa menolak bahwa tubuhnya lelah dan matanya terasa berat, sepertinya ia sudah sampai puncak rasa kantuknya. Ia sudah sangat lelah sekarang, ia butuh istirahat. Eren memejamkan matanya dan Rivaille tersenyum melihatnya. Rivaille tidak menyangka Eren akan langsung tertidur begitu cepat.
"Selamat tidur, Eren." bisik Rivaille yang mencium kening Eren.
Pagi hari telah tiba dan Rivaille terbangun dari tidurnya, ia melihat Eren masih tertidur di sampingnya dengan wajah polos seperti anak kecil. Rivaille sedikit tersenyum dan ia berusaha bangun dari posisinya, ia berhati-hati agar Eren tidak terbangun. Setelah itu Rivaille berdiri dan menatap wajah Eren.
Rivaille membelai rambut Eren dan ia melepaskan jubahnya. Ia menyelimuti Eren yang masih tertidur dan mencium kening pemuda itu dengan lembut. Lalu Rivaille memutuskan untuk meninggalkan Eren sendiri disana.
.
.
.
Eren masih tertidur dan tidak lama ia membuka matanya. Ia masih terlihat mengantuk dan berusaha melihat sekeliling. Betapa terkejutnya ia melihat dirinya bukan berada di kamarnya tapi berada di bukit. Ia terdiam dan berusaha mengingat apa yang telah terjadi, semalam ia kemari dan tidur di pelukan Rivaille. Eren langsung bangun dan mencari-cari Rivaille, tapi sosok Rivaille tidak ada disini. Ia melihat jubah hitam milik Rivaille yang ada padanya.
"Rivaille..." gumam Eren.
Eren mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, ia menoleh dan terkejut saat melihat sosok Mikasa yang sedang berlari ke arahnya. Mikasa melihat Eren dan langsung memeluk Eren saat itu juga.
"Eren, sudah kuduga kau ada disini," ujar Mikasa yang memeluk Eren dengan erat. "Begitu aku bangun, aku panik saat melihatmu tidak ada di kamar. Aku buru-buru kemari."
"Mikasa?"
Eren membiarkan Mikasa memeluknya seperti itu, tidak lama Mikasa melepaskan pelukannya dan melihat Eren yang menggenggam sebuah jubah hitam. Eren terdiam dan menatap ke arah matahari yang bersinar dengan terang.
"Jubah siapa itu?" tanya Mikasa.
"Rivaille..." jawab Eren pelan.
Mikasa terkejut mendengar ucapan Eren, mungkin bisa dibilang Mikasa sampai melotot mendengar ucapan Eren. Eren terdiam dan ia memeluk jubah yang ia pegang itu.
"Kau bertemu dengannya? Sudah kubilang untuk tidak bertemu dengannya." ujar Mikasa pelan.
"Tapi aku..." gumam Eren.
Mikasa langsung menyentuh pundak Eren dan menatapnya dengan wajah yang berusaha menahan amarah. Eren sedikit terkejut melihat Mikasa berwajah seperti itu, ia bahkan tidak menyangka akan melihat Mikasa seperti itu.
"Kumohon, Eren. Ini demi dirimu juga. Aku khawatir padamu. Jangan kau temui lagi dia."
Mikasa melepaskan tangannya yang menyentuh pundak Eren, ia merapikan syal merah miliknya dan ia menatap Eren. Eren bangun dan ia pergi dari bukit ini untuk pulang ke rumahnya, Mikasa mengikutinya dan menatap Eren yang masih setia dengan membawa jubah itu.
'Kenapa harus orang itu? Aku tidak akan menyerahkan Eren padanya.' batin Mikasa.
Malam telah tiba dan semua tim Mikasa sudah berkumpul di tempat biasa. Mereka hendak menyusun strategi dan bergerak seperti kemarin malam, mengawasi dua rumah yang tersisa. Annie menatap datar ke arah Sasha juga Jean, kemarin ia sudah mempersiapkan semuanya begitu juga dengan sekarang.
"Sasha, kau sudah membawa senjata lain?" tanya Annie.
"Ah? Setidaknya aku membawa dua pistol." jawab Sasha sambil tersenyum.
"Kau itu santai sekali," gumam Jean dan ia menatap ke arah Armin."Bagaimana denganmu? Apa kau menambah senjatamu?"
"Tidak, hanya seperti biasa saja, aku membawa satu pistol. Aku takut tidak bisa membantu." ujar Armin.
"Kalau kau kan memiliki kemampuan mengatur strategi yang hebat, kurasa itu cukup. Daripada seseorang yang sama sekali tidak membantu kita."
Semuanya terdiam mendengar ucapan Jean, mereka semua tahu bahwa Jean baru saja menyindir Eren. Mikasa menatap Jean dengan tatapan tajam, tapi kali ini Jean merasa cuek. Jean merasa bahwa Eren sedikit tidak berguna dalam misi kali ini.
"Eren, apa yang terjadi? Kau sama sekali tidak memberikan pengaruh besar di misi kita." ujar Jean langsung dan menatap Eren tajam.
Eren terdiam mendengar ucapan Jean, begitu juga yang lain. Mikasa melirik ke arah Eren, ia ingin tahu apa yang akan Eren katakan. Tapi Mikasa juga mengkhawatirkan Eren, ia ingin hanya dirinya saja yang mengetahui rahasia Eren. Belum saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang.
"Sudah, lebih baik kita segera melakukan misi kita." ujar Mikasa yang mengalihkan pembicaraan.
"Mikasa, aku belum mendengar jawaban dari Eren." ujar Jean.
"Kurasa kau tidak perlu mengetahuinya. Ada saat dimana kita berhadapan dengan ketakutan dan Eren juga memasuki masa itu."
"Kau tidak bisa selamanya melindungi Eren kan? Sampai kapan kau akan melakukannya?"
Tampaknya suasana tidak kondusif, ketegangan terjadi antara Mikasa dan Jean. Eren sedikit terkejut melihat Mikasa yang biasanya cuek dengan Jean jadi berwajah seram seperti itu. Semuanya terdiam dan Armin menepuk bahu Mikasa juga Jean.
"Sudahlah teman-teman, ayo kita lakukan tugas kita." ujar Armin berusaha menenangkan.
Jean menghela napas dan ia menjauh dari Mikasa, ia bergabung dengan Sasha dan Annie lalu mulai berangkat menuju tempatnya. Sekarang hanya ada Armin, Eren dan Mikasa, mereka bertiga terdiam dan saling berpandangan.
"Mikasa, kau tidak seperti biasanya." ujar Eren.
"Sudah, ayo kita mulai berangkat juga." ujar Armin.
Lalu mereka bertiga menuju rumah yang semalam mereka intai. Baru kali ini Eren melihat Mikasa yang tampak kesal seperti itu, ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Mikasa akhir-akhir ini. Tapi sepertinya ia tahu maksud sikap Mikasa.
'Apa ia berusaha menutupi hubunganku dengan Rivaille?' batin Eren.
.
.
.
Annie, Jean dan Sasha sudah berada di rumah yang mereka intai, suasana tampak tenang dan sunyi. Jean melipat kedua tangannya dan ia menatap langit malam, ia berusaha mengatur emosinya. Memang emosinya sedikit tersulut saat berargumen dengan Mikasa tadi, ia bahkan tidak menyangka akan beradu mulut dengan Mikasa. Tidak seperti biasanya.
"Kau masih memikirkan masalah tadi?" tanya Annie.
"Ah? Eh, begitulah..." ujar Jean dan ia hendak memeriksa pistolnya.
"Tidak seperti biasanya kau dan Mikasa bertengkar sampai seperti itu," ujar Sasha dan ia memakan kentangnya. Ia sudah memeriksa pistol yang ia bawa dan sudah siap. "Apa hanya perasaanku saja atau Mikasa dan Eren tampak aneh ya?"
Annie dan Jean langsung menatap ke arah Sasha, Sasha bingung ditatap seperti itu dan ia hanya tersenyum saja. Jean menghela napas dan melihat ke arah kamar orang yang mereka awasi itu.
"Bukan hanya kamu saja, aku juga berpikiran seperti itu," ujar Jean. "Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka?"
Annie terlihat cuek dan ia memilih untuk mengawasi orang itu, meski sesekali ia juga mendengarkan pembicaraan Jean dan Sasha tentang Eren dan Mikasa. Annie hanya tidak ingin karena membicarakan masalah seperti itu membuat mereka lengah dan tidak mengawasi dengan benar.
.
.
.
Lain halnya dengan Armin, Eren dan Mikasa. Mereka bertiga tampak mengawasi dengan suasana yang hening, tidak ada yang berbicara. Eren terdiam memikirkan ucapan Jean, ia tahu maksud rekannya itu. Wajar saja jika Jean bertanya seperti itu, tapi Eren tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya kepada semua teman-temannya.
Mana mungkin dengan santainya ia bilang ia berpacaran dengan Dark.
Eren yakin semua teman-temannya akan memandangnya dengan rendah atau bahkan menghinanya. Ia yakin mereka akan seperti Mikasa yang menyuruhnya untuk berpisah dari Rivaille dan membunuhnya. Eren tidak sanggup membayangkan hal itu.
'Rivaille...' batin Eren.
Ia hanya berharap bahwa suatu hari nanti Rivaille berhenti melakukan pencurian dan pembunuhan. Ia ingin Rivaille menjadi orang yang biasa saja, sehingga ia dan Rivaille bisa hidup bersama.
Jika seperti ini terus mereka akan saling berhadapan, saling mengacungkan senjata ke arah lawan. Eren tidak ingin menembak Rivaille, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa jika hal itu sampai terjadi. Memikirkannya saja membuat Eren sedih.
'Eren.' batin Mikasa yang memperhatikan Eren.
Hari berlalu semakin cepat dan sekarang sudah jam satu dini hari, tidak ada pergerakan yang mencurigakan atau tanda-tanda kedatangan Dark. Mengetahui hal itu Eren menghela napas lega, setidaknya ia tidak ingin melawan Rivaille untuk saat ini.
"Hari ini ia tidak datang juga." gumam Armin.
"Iya. Sepertinya kita harus memberitahukan hal ini kepada yang lainnya." ujar Mikasa.
Armin mengangguk dan mereka bertiga pergi meninggalkan rumah itu. Di tempat biasa sudah ada Annie, Jean dan Sasha. Mereka menunggu kedatangan ketiga rekan mereka dan sepertinya mereka juga mengetahui hal yang terjadi.
"Lagi-lagi dia tidak datang." ujar Jean seperti mengeluh dan menghela napas.
"Menurutku aneh Dark tidak datang," gumam Sasha. "Apa ia tidak ingin mencuri lagi?"
"Menurutku Dark seperti mengumpulkan informasi atau mungkin tanpa kita sadari ia memperhatikan kita." ujar Armin.
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Armin, Annie memandang datar ke arah Armin dan Jean yang tampak paling terkejut. Ia mendekati Armin dan memegang pundak pemuda berambut pirang itu.
"Apa itu benar?" tanya Jean langsung.
"Ah, itu baru analisaku saja. Belum tentu benar kok." ujar Armin.
Jean menghela napas dan ia melepaskan tangannya dari pundak Armin, ia hampir mengira ucapan Armin itu sungguhan. Jika memang seperti itu Jean tidak terima, bisa-bisanya Dark hanya mengawasi mereka tanpa menunjukkan wujudnya.
"Atau..." gumam Armin.
"Apa?" tanya Mikasa.
Armin melirik ke arah Eren dan langsung menatap teman-temannya, ia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Jean tampak bingung melihat Armin seperti itu, tapi ia tidak mau ambil pusing. Begitu juga dengan Annie dan Sasha.
"Kalau begitu, aku pamit." ujar Annie yang berjalan meninggalkan teman-temannya.
"Aku juga. Sampai jumpa." Sasha juga pergi.
Begitu juga dengan Jean dan Armin yang pulang menuju rumah masing-masing, tinggallah Eren dan Mikasa berdua. Mikasa hanya merapikan syal merah miliknya, malam ini terasa lebih dingin dari biasanya.
"Ayo kita pulang, Eren." ajak Mikasa.
Eren menurut dan mereka pulang menuju rumah mereka. Tapi pikiran Eren tetap tertuju ke arah Rivaille, ia tidak tahu kenapa Rivaille tidak datang lagi. Apa karena tidak ingin Eren melihat teman-temannya terluka? Entah, ia juga tidak tahu.
Sedangkan mata Mikasa menatap ke arah Eren, ia tidak ingin tahu tapi ia sudah tahu dengan jelas apa yang membuat saudara angkatnya seperti ini. Eren memikirkan sosok pemuda yang tidak diketahui asal usulnya itu dan telah mengambil hati Eren, pemuda bernama Rivaille atau disebut sebagai Dark.
Eren dan Mikasa sudah sampai di rumah dan mereka masuk ke kamar masing-masing, sepertinya istirahat adalah jawaban yang tepat dari kegiatan mereka tadi. Tapi Eren tidak bisa tidur, bahkan ia tidak berniat untuk tidur. Ia memandang langit malam dari jendela kamarnya dengan wajah yang sendu.
"Rivaille..." gumam Eren pelan.
Lagi-lagi ia memanggil nama kekasihnya, ia selalu memikirkan Rivaille setiap waktu. Tapi apakah kekasihnya juga melakukan hal yang sama? Eren memejamkan matanya, ia hanya ingin kisahnya dengan Rivaille berakhir dengan bahagia. Dimana ia dan Rivaille bisa bersama, tidak apa jika semua orang menentangnya. Bahkan Mikasa sekalipun.
Eren yang masih memakai seragam Recon Corps miliknya itu langsung berjalan keluar dari kamarnya, tentu setelah ia mengambil jubah milik Rivaille yang ia letakkan di kasurnya. Ia ingin mengembalikannya. Ia merasa Mikasa sudah tidur dan ia langsung meninggalkan rumah. Ia melangkahkan kakinya untuk menuju tempat itu, bukit itu. Ia ingin mencari Rivaille disana.
Tidak butuh waktu lama bagi Eren untuk sampai di bukit itu, ia berlari kecil kesana hingga sampai di puncaknya. Ia melihat di bawah pohon itu ada sosok kekasihnya yang sedang duduk bersandar di pohon dan sedang memandang langit.
"Rivaille!" panggil Eren sedikit berteriak dan ia sudah berada di hadapan Rivaille.
Rivaille terkejut melihat Eren dan ia hanya tersenyum tipis melihat anak itu mendekatinya, ia melihat Eren yang membawa jubahnya. Rivaille langsung bangun dan membelai wajah Eren dengan sentuhan yang lembut.
"Eren." gumam Rivaille.
"Rivaille, aku ingin bertemu denganmu," ujar Eren dengan wajah yang mulai memerah. "Ah, ini jubahmu. Aku membawakannya untukmu."
Eren memberikan jubah itu pada Rivaille dan Rivaille menerimanya, ia mulai memakainya dan tersenyum pada Eren. Eren memperhatikan penampilan Rivaille dari atas sampai bawah, ia memang terpesona dengan penampilan kekasihnya itu.
"Kenapa Eren? Kau memang terpesona denganku ya." goda Rivaille.
Sontak wajah Eren langsung memerah mendengar ucapan Rivaille, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain. Rivaille langsung memeluk Eren dari belakang, Eren terkejut dan wajahnya memerah tapi ia membiarkan kekasihnya itu memeluknya seperti ini.
"Rivaille." gumam Eren.
"Kau itu masih polos seperti biasa, Eren. Tapi sisi itu yang aku suka darimu." ujar Rivaille.
Rivaille melepas pelukannya dan menggenggam tangan Eren, Eren juga berbalik dan sekarang mereka saling berhadapan. Saling bertatapan satu sama lain, hitam bertemu dengan hijau. Warna yang bertolak belakang tapi warna yang berusaha untuk menyatu.
Tapi apa Eren puas hanya dengan genggaman tangan seperti ini?
Tidak, ia tidak puas.
Ia langsung memeluk Rivaille dengan erat, ia ingin bisa merasakan kehangatan pemuda di hadapannya ini. Untuk hari ini dan seterusnya hingga akhir hidupnya.
"Eren." panggil Rivaille.
"Aku tidak butuh apa-apa lagi, aku hanya butuh dirimu." gumam Eren pelan.
Rivaille terdiam dan ia kembali membalas pelukan pemuda di hadapannya. Ia juga berpikiran sama dengan Eren, mungkin. Meski seperti itu tapi Rivaille juga membutuhkan uang untuk hidupnya, ia berencana untuk...
"Aku ingin bersama denganmu." ujar Rivaille tiba-tiba.
"Iya. Aku juga." ujar Eren.
"Uang yang aku butuhkan untuk biaya kita. Tanpa uang kau tidak akan bisa hidup, makanya kau menjadi anggota Recon Corps kan? Begitu juga dengan diriku yang mencuri."
Eren terdiam, lagi-lagi pikirannya terusik. Uang ya? Dulu ia berpikiran seperti itu, bergabung dengan Recon Corps demi mendapatkan uang. Tapi sekarang sejak ia bertemu dengan Rivaille, ia tidak memikirkan hal itu. Ia hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari pemuda yang sedang memeluknya ini.
"Rivaille, bawa aku pergi bersamamu." pinta Eren.
"Eh?" Rivaille tampak bingung mendengar ucapan Eren.
"Aku tidak butuh apapun lagi selain dirimu. Bawa aku bersamamu, aku mohon. Kemanapun itu aku tidak peduli, aku hanya ingin bisa bersama denganmu seterusnya."
Saat Eren memohon kepada Rivaille, pelukannya semakin erat. Rivaille terdiam dan ia membiarkan Eren memeluknya seperti ini. Tapi ia juga memikirkan ucapan Eren itu, bisa dibilang itu permohonan dari Eren.
"Pelukanmu seperti sesuatu yang dapat menghancurkanku." ujar Rivaille.
"Kenapa?" tanya Eren.
Tapi Rivaille tidak menjawab dan mereka berdua masih berpelukan seperti ini. Rivaille menoleh ke arah belakang saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Sepertinya Eren belum menyadari ada sosok orang lain diantara mereka.
"Sepertinya ada yang mengganggu." gumam Rivaille yang perlahan melepaskan pelukan Eren.
"Ah? Rivaille?" pekik Eren.
Akhirnya Eren merelakan pelukannya dilepas oleh Rivaille dan ia melirik ke arah Rivaille. Ia terkejut saat melihat sosok orang lain yang ada di bukit. Sosok gadis berambut hitam dengan syal merah itu menatap tajam ke arah mereka berdua. Mikasa berjalan mendekati mereka berdua dan sekarang ia sudah berada tepat di hadapan Eren juga Rivaille.
"Mikasa?!" Eren benar-benar terkejut sekarang.
"Sudah kuduga kau ada disini, Eren." ujar Mikasa.
"Kenapa kamu kemari? Kukira kau-"
"Aku ke kamar memang untuk tidur, tapi aku tidak bisa tidur. Aku mengintip kamarmu dan kau tidak ada, aku langsung berlari kesini."
"Hmm? Kalian tinggal bersama?" tanya Rivaille.
"Ah iya, karena Mikasa itu adik angkatku." jawab Eren.
Rivaille terdiam dan menatap ke arah Mikasa, begitu juga sebaliknya. Mikasa menatap Rivaille penuh dengan kebencian, ia langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya kepada Rivaille. Eren terkejut dan Rivaille tetap memasang wajah datarnya.
"Jadi kau menantangku?" tanya Rivaille.
"Iya! Aku tidak akan menyerahkan Eren padamu! Aku, Mikasa Ackerman atas nama organisasi Recon Corps akan mengalahkanmu disini dan membawa pulang kepalamu itu untuk hadiah atasanku, Dark!" teriak Mikasa dan ia langsung memberikan tembakan.
Rivaille langsung mendorong Eren ke samping agar tidak terkena tembakan dan ia menghindar dari peluru Mikasa, untung saja tepat waktu sehingga tidak melukai wajahnya. Mikasa tampak tidak suka dan berusaha untuk menembak Rivaille lagi. Eren tampak tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya karena tiba-tiba didorong dan ia pasrah saja saat ia jatuh terduduk di rerumputan.
"Jangan, Mikasa!" teriak Eren.
Mikasa berhenti dan menoleh ke arah Eren, ia langsung berlari mendekati pemuda itu dan menepuk pipi Eren sambil berjongkok agar bisa melihat Eren lebih dekat. Mikasa seperti mengecek seluruh tubuh Eren apakah baik-baik saja atau tidak.
"Eren, kau tidak apa?" tanya Mikasa khawatir.
"Bahkan kau sendiri yang akan melukainya tadi jika aku tidak mendorong Eren," ujar Rivaille datar dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. "Sepertinya aku harus bertarung dengan serius sekarang."
"Cih, diam kau!" Mikasa tampak geram dan terlihat aura gelap dari Mikasa.
"Lagipula kau ini hanya adik angkatnya dan aku ini kekasihnya. Kenapa kau sampai seperti itu pada Eren?"
"Tentu saja! Aku tidak mungkin membiarkan kau menyentuh Eren dengan tangan kotormu itu. Sampai mati pun aku tidak rela!"
"Mikasa, jangan menghina Rivaille!" Eren tampak tidak suka dan memandang Mikasa dengan tatapan tajam.
"Eren? Tapi-"
"Mikasa, sudah kubilang kau harus mengerti dengan perasaanku."
"Tapi kau sendiri tidak mengerti dengan perasaanku, Eren. Kita ini sama saja."
Eren terkejut mendengar ucapan Mikasa, Mikasa menatap wajah Eren dan berusaha tersenyum. Senyuman yang jarang Eren lihat karena dirinya memang jarang memperhatikan Mikasa. Mungkin ini adalah pertama kalinya Mikasa tersenyum dengan wajah layaknya gadis pada umumnya.
"Aku... menyukaimu, Eren." ujar Mikasa.
"Eh?" Eren tampak bingung dan tersenyum. "Aku juga menyukaimu, kita kan keluarga."
"Bukan Eren. Rasa suka yang aku rasakan padamu itu bukan sebagai keluarga, tapi layaknya seorang gadis yang mencintai seorang pemuda."
"Eh? Kau... bohong kan, Mikasa?"
Kali ini Eren benar-benar terkejut mendengarnya, Rivaille memandang datar tapi terlihat aura tidak suka darinya. Wajah Mikasa mulai memerah dan ia langsung bangun, ia hanya menundukkan wajahnya dan menatap Eren.
"Aku serius dengan perasaanku Eren. Makanya aku tidak akan membiarkan kau diambil olehnya. Aku akan berjuang untuk mempertahankanmu di sisiku."
"Mikasa? Kau..."
"Jadi kau menyukai Eren lebih dari sekedar keluarga?" sindir Rivaille. "Menarik juga. Baru kali ini aku melihat seorang adik yang menyukai kakaknya."
"Bukan urusanmu!" teriak Mikasa dan ia langsung menembak Rivaille.
Rivaille memotong peluru-peluru itu dan menatap datar ke arah Mikasa. Wajah Mikasa dan Rivaille memancarkan aura yang sama, aura kebencian. Masing-masing dari mereka merasa sebagai orang yang tepat untuk Eren. Rivaille mendekati Mikasa dan ia hendak menusuk bahu Mikasa tapi Mikasa menahannya dengan pistolnya.
"Tidak buruk juga." gumam Rivaille dan langsung mundur.
Mikasa menatap Rivaille dengan tatapan penuh amarah dan masing-masing dari mereka berusaha untuk melumpuhkan gerakan lawan. Sedangkan Eren menatap mereka dalam diam, ia tidak mengerti kenapa keduanya bertarung seperti itu. Ia tidak ingin melihat mereka bertarung.
"Berhenti, Rivaille, Mikasa!" teriak Eren.
Rivaille dan Mikasa berhenti menyerang, mereka langsung menatap Eren. Eren langsung bangun dan berjalan mendekati mereka. Eren memperhatikan wajah kedua orang yang sangat berarti baginya.
"Kumohon, hentikan..." gumam Eren.
Eren memperhatikan wajah Rivaille lalu Mikasa, ia tidak ingin kekasihnya dan adik angkatnya itu bertarung seperti ini. Memikirkan mereka yang akan melukai satu sama lain membuat Eren tidak bisa berpikir jernih, ia tidak ingin mereka terluka.
Kekasih atau keluarga?
Eren dihadapkan pada pilihan yang berat dalam hidupnya. Apa yang ia harus lakukan? Apa yang harus ia pilih saat ini? Jika bisa ia tidak ingin Rivaille dan Mikasa saling bertarung, ia merasa mereka akan bertarung dengan sungguh-sungguh dan tidak akan berhenti sampai ada seseorang diantara mereka terluka atau mungkin tewas.
"Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu, Eren." ujar Mikasa.
"Mikasa?!" Eren tampak terkejut.
"Begitu juga denganku." ujar Rivaille.
"Kau juga, Rivaille?"
"Salah satu diantara kami harus memenangkan pertarungan ini." Mikasa tampak serius dan mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille.
"Aku tidak keberatan." ujar Rivaille yang mengacungkan pedangnya ke arah Mikasa.
"Mikasa, Rivaille?" gumam Eren.
Mikasa dan Rivaille saling memandang penuh kebencian satu sama lain, mereka tidak akan lengah dan bertarung dengan serius demi Eren yang mereka sayangi. Siapa diantara mereka yang lebih pantas bersama dengan Eren?
To be Continued
A/N: Hai semuanya, akhirnya aku update lagi...^^
Terima kasih kepada Keikoku Yuki, Azure'czar, yuzueiri, Kim Arlein 17, Zane Zavira, Nacchan Sakura, SeraphelArchangelaClaudia, LinLin mls login, luffy niar, Kunogi Haruka, Hasegawa Nanaho yang sudah memberikan review, aku senang sekali kalian menikmati cerita ini.
Sebenarnya untuk ending cerita ini aku sendiri masih bingung ingin happy ending atau sad ending. Bagi yang mengikuti ceritaku dari awal kalian menyadari bahwa dulu genre fic ini adalah Tragedy dan aku ubah jadi Drama. Jadi kemungkinan bisa berakhir dengan sad ending. Tapi bukan berarti aku tidak memungkinkan ada happy ending masalah ending masih membuatku galau sendiri tapi akan diusahakan yang terbaik demi kalian semua. Bocoran untuk chapter depan adalah masa lalu Rivaille. Apa ada yang penasaran dengan masa lalunya?^^
Terima kasih telah membaca fic ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
