.
Warning!
This is an AU FanFiction, may contain OOC-ness, typos and pointless craps.
.
Love is Not a Pity
by Ashelia Elnora
.
…
Chapter 3
…
Matahari semakin condong diufuk barat, menorehkan warna merah dan kuning yang melebur menjadi warna jingga dilangit-langit sore. Dibawah naungan langit sore itu, beberapa pekerja keluar dari beberapa gedung menjulang diberbagai sisi jalan utama. Walaupun mereka menuju arah yang berbeda satu sama lainnya tapi dalam hal kecepatan langkah, mereka seakan berlomba siapa yang paling cepat.
Hentakan sepatu hak tingginya berbaur dengan puluhan bunyi langkah kaki orang-orang disekelilingnya. Beberapa helaian rambut merahnya tersapu oleh angin yang bertiup rendah dan langkah cepat yang dia ambil tidak membantu menjaga tatanan rambutnya untuk tetap bertahan pada tempatnya. Mengabaikan hal-hal kecil, dia mempercepat langkahnya menuju ke sebuah gedung yang tidak memiliki perbedaan mencolok dengan gedung-gedung lainnya.
Hal pertama yang menyambutnya setelah memasuki gedung tersebut adalah sebuah air mancur dengan patung kapal berdesain sederhana dan seorang malaikat yang berdiri diatas kapal tersebut ̶ seolah bertindak sebagai kapten kapal. Flay mengabaikan meja resepsionis yang berada dibelakang air mancur tersebut dan bergegas menuju kearah lift yang akan mengangkutnya ke lantai yang dia tuju. Dia bukan orang baru disini dan pastinya bukan orang yang hanya lewat untuk berbisnis sebentar.
DING
Pintu lift terbuka seiring dengan suara yang mengiringinya, melihat itu Flay segera mempercepat langkahnya walaupun jaraknya tidak begitu jauh. Beberapa orang keluar dari pintu lift, bertolak belakang dengan niat Flay yang ingin masuk kedalam. Menekan beberapa tombol, pintu lift mulai menutup dan naik atas.
Sembari menunggu Flay menatap pantulan dirinya sendiri didepannya, dia bisa melihat bagaimana beberapa helai rambutnya yang terlepas dari model kucir yang selalu dipakainya, lalu keningnya yang sudah membentuk lipatan bertumpuk dan tidak lupa bibir cemberutnya yang mengakar. Dia menghela nafas melepaskan beban ketegangan sepanjang perjalanan kesini, penampilannya tidak seburuk yang dia kira. Setidaknya pakaian yang dia kenakan cukup pantas dan tidak terlihat berantakan.
Merapikan sedikit keadaan rambutnya, pintu lift terbuka tepat ketika dia merasa oke dengan penampilannya. Dengan langkah pasti, Flay mulai berjalan menuju ruang kantor Murrue Ramius ̶ produser dari drama yang ditulisnya.
…
"Jadi, kita harus menunda pengambilan gambar?" tanya Flay geram. Dia hampir tidak mempercayai berita yang baru saja diterimanya. Mereka akan berangkat ke Onogoro dalam dua hari lagi untuk pengambilan gambar dan disaat-saat seperti ini pemeran utama wanita mengalami kecelakaan. Tidak bisakah dia lebih berhati-hati, pikir Flay sebal.
"Yeah, apa boleh buat. Lukanya cukup serius hingga kita perlu menggantinya," seseorang yang berpenampilan seperti seorang kutu buku berucap dengan kikuk setelah mendapat perhatian dari mata memincing Flay.
"Sai benar," sahut seorang wanita dengan aura keibuan yang bijak. "Kita bisa menggunakan Juri untuk menggantikan Asagi," lanjutnya lagi menyarankan. Pria berkacamata itu hanya mengangguk menyetujui saran dari sang produser.
"Dia tidak cocok untuk peran itu setelah beberapa episode," debat seseorang dengan wajah tegas, rambut hitam pendeknya dan tatapan tajam mata violetnya sudah bisa menunjukkan kepribadiannya dengan baik.
"Kita tak punya pilihan lain, Natarle. Jika kita ingin mengadakan casting ulang, itu berarti trip kita harus diundur," kata Murrue ̶ sang produser drama, dengan nada sabar mencoba melogika pikiran keras Natarle Badgiruel ̶ seorang sutradara handal namun keras kepala.
"Itu akan mengurangi kualitas drama, Murrue. Dan aku tidak bekerja setengah-setangah," jawab Natarle dengan nada yang tidak bisa ditawar lagi.
Flay menghela nafasnya, ketika dia menginjakkan kakinya kedalam ruangan itu. Dia bukan berharap akan memasuki ruang debat. Natarle adalah sutradara yang sulit, dia mencari kesempurnaan disetiap drama yang disutradarainya. Dia tidak akan memilih aktor/aktris yang menjadi pilihan kedua alias cadangan. Sedangkan Murrue lebih lembut dan pengertian, dia percaya akan kemampuan mereka dan kesempatan adalah yang mereka butuhkan. Sungguh berbanding terbalik dengan Natarle tapi meski begitu keduanya bisa membangun nama bagi perusahaan mereka sendiri diantara persaingan ketat dunia hiburan.
Archangel Enterprise adalah perusahaan yang masih tergolong baru didalam bidangnya tapi berkat kegigihan dan juga kemampuan dari orang-orang didalamnya, mereka bisa melahirkan orang-orang berbakat didunia hiburan. Disinilah Flay menuangkan bakat dramanya, Murrue lah yang menyemangatinya untuk menulis. Mereka bertemu ketika Flay masih berada dibangku kuliahnya dan dia salah satu anggota bayangan klub drama universitasnya.
"Flay!" suara Sai menyentak Flay dari lamunannya.
Flay mengedipkan matanya beberapa kali dan melihat kalau semua orang memandang kearahnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Maaf," jawab Flay dengan nada yang sama sekali tidak menggambarkan penyesalan. "Jadi sampai dimana kita tadi?" tanya Flay dengan sedikit rasa percaya diri yang tersisa. Berusaha untuk tidak gugup dibawah pandangan menusuk Natarle adalah sebuah prestasi sendiri baginya.
"Oh, bagus! Nona besar kita sama sekali tidak mendengarkan, apa kita perlu mengulang perdebatan tadi untuknya?" tukas Natarle, emosinya sudah sampai keumbun-umbun rupanya.
"Nat ̶ "
"Tidak perlu, perdebatan kalian tidak akan menyelesaikan masalah," lidah tajam Flay memotong apa yang ingin Murru sampaikan. Flay tidak butuh pembelaan atau bantuan dari siapa pun, dia cukup bisa bagaimana menangani masalahnya sendiri.
"Kau!" kata Natarle gusar, dia tidak suka jika dianggap rendah oleh orang lain. Mungkin perdebatannya tadi tidak menyelesaikan masalah tapi walau begitu setidaknya mereka bisa mengunakan beberapa alasan yang terlontar ditengah debat sebagai bahan pertimbangan akan keputusan yang diambil.
"Baik! Sekarang mari kita dengarkan ide brilliant apa yang dipunyai oleh barbie doll kita," lanjut Natarle dengan sorot mata meragukan yang dilempar kearah Flay. Dari ekspresinya sudah tertera dengan jelas jika Natarle menantangnya dan Flay tidak pernah mundur dari tantangan. Sedikit mirip dengan seseorang yang dia kenal.
Sebuah ide hinggap dikepalanya secepat tupai yang melompat, seringainya muncul seiring sinar matanya yang berkilat mencurigakan.
"Tentu saja miss Badgiruel, kau tak akan kecewa," jawab Flay ambigu.
…
Kelap-kelip lampu kota mulai menyaingi sinar bintang yang ada dilangit malam hari itu. Seorang dokter ̶ terlihat dari jas putih yang dikenakannya, mematung menatap pemandangan kota melalui dinding kaca. Mimiknya bergerak menandakan dia sedang berbincang dengan seseorang melalui ponsel yang yang digenggamnya dengan tangan kanannya. Surai biru gelapnya tertata rapi, membingkai wajahnya dengan sempurna menampakan bahwa orang itu memiliki hanya memiliki wajah yang tampan tapi juga cantik di lain sisi.
Dia baru saja ingin mengucapkan sesuatu pada seseorang diseberang sana tapi sebuah suara yang memanggil namanya memaksanya untuk menyudahi pembicaraan lewat ponsel yang hanya berlangsung beberapa menit itu.
"Dr. Zala pasien kamar 317 sudah sadar!" seru seorang suster yang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.
Pasien kamar 317 sebenarnya bukan pasiennya tapi berhubung dokter yang menanganinya ada kesibukan lain, dia meminta athrun untuk menggantikan shift malamnya hari ini. Sudah bukan hal yang biasa jika seseorang memintanya menggantikan shift malamnya, bahkan tanpa diminta pun Athrun sering lembur untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang diperlukan selama seminggu kedepan. Sedikit ada rasa bersalah yang bertengger dihatinya karena sering pulang terlalu malam, tapi dia mengabaikannya dengan alasan yang cukup logis. Sebagai salah satu dokter bedah handal di rumah sakit itu, dia merasa itu kewajibannya untuk selalu ada demi pasiennya.
Athrun segera mengekori suster itu menuju kamar pasien, sambil membaca dokumen yang diberikan suster itu padanya. Pasien itu ternyata salah satu korban kecelakaan yang terjadi siang tadi. Sebuah bus yang kehilangan kendali busnya karena rem blong, akibatnya bus itu menabrak dua mobil pribadi yang ada didepannya. Pasien itu adalah orang yang menderita cukup parah jika dibandingkan dengan korban lainnya. Gegar otak ringan, patah tulang di tangan dan kaki kirinya.
Ketika mereka sudah sampai didepan kamar itu, dari dalam mereka dapat mendengar suara tangis memilukan seorang gadis. Athrun dan suster itu bertukar pandang, seakan memikirkan hal yang sama. Mungkin kah hal yang buruk terjadi didalam sana? Pikir athrun tidak mengerti. Karena menurut data yang dibacanya tadi kondisi pasien tidaklah terlalu gawat.
Sang suster membuka pintunya dengan cepat dan sigap. Ternyata tangisan memilukan itu berasal dari sang pasien itu sendiri, dia cepat-cepat menuju kesamping pasien tersebut.
"Nona Caldwell, ada apa? Apanya yang sakit? Kepala anda sakit?" tanya si suster bertubi-tubi dengan kekhawatiran yang membuncah. Si suster takut jika kalau ada yang salah dengan operasi yang baru saja dijalani sang pasien. Mungkin saja terjadi infeksi atau hal yang lebih buruk ̶ malpraktek. Dengan pikiran yang kacau si suster berusaha mencari tahu apa yang salah dengan pada pasiennya itu sedangkan si pasien sendiri menolak untuk menjawab dan hanya terus menangis.
Athrun yang masih ada didepan pintu menghela nafasnya, dia tidak berpikir ada hal yang salah sedang terjadi. Melihat bagaimana keluarga pasien tidak begitu panik dan hanya memandang sedih pada pasien, dia menarik kesimpulan kalau mungkin ini berhubungan dengan mental pasien. Mungkin si pasien masih syok dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Mengabaikan bagaimana paniknya si suster, Athrun berjalan mendekati keluarga pasien yang berdiri tidak jauh dari ranjang pasien.
"Selamat malam tuan dan nyonya Caldwell," sapa Athrun ramah.
Kedua orang paruh baya yang disapa Athrun terlonjak, mereka tidak menyadari jika ada orang lain selain suster tersebut yang masuk.
"Ah, selamat malam juga, dokter," balas nyonya Caldwell dengan senyum simpul yang seakan meminta maaf atas keributan yang ada.
Athrun menganggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang sedang dihadapi oleh pasien tersebut. Jika saja dia boleh jujur, pemandangan seperti ini bukanlah hal aneh yang terjadi di rumah sakit. Sesuai dengan namanya banyak orang disini yang menangis karena sakit ̶ secara fisik dan mental.
Athrun mendekati nona Caldwell yang masih sibuk menangis diatas ranjangnya, menyuruh si suster yang panik untuk mundur sedikit dan mengisi tempat dimana si suster itu sebelumnya berdiri ̶ tepat disisi kanan pasien.
"Nona Asagi Caldwell," panggil Athrun lembut menggunakan nama lengkap pasien tersebut untuk menarik perhatiannya.
Seolah suara Athrun mengandung sihir tersendiri, si pasien mulai berhenti menangis dan melirik kearah suara itu berasal. Begitu melihat wajah bersinar layaknya mentari di pagi hari milik sang dokter, wanita berambut pirang pendek itu hanya bisa diam terpaku tanpa berkedip mengamati wajah tampan si dokter muda. Sayup-sayup terdengar gumaman kata dari mulut pasien yang terbuka, "Oh."
Si suster yang berada dibelakang dokter tersebut hanya memutar kedua bola matanya dan mengatakan beberapa kata dengan nada rendah seperti "Bocah" atau "Typical".
Mengabaikan beberapa kata yang dikatakan oleh susternya baru saja, Athrun memulai memeriksa pasiennya dengan stethoscope yang selalu dibawanya kerena alat itu merupakan hal wajib bagi dokter untuk dibawa.
"Apa anda merasa pusing dikepala atau nyeri dibadan anda, nona Caldwell?" tanya Athrun dengan nada sama dengan yang digunakannya tadi.
Si nona yang masih belum menemukan suaranya itu hanya mengelengkan kepalanya sebagai jawaban. Masih terheran-heran bagaimana seorang bintang bisa tersesat disini dan bermain peran sebagai dokter. Apa aku ada tengah-tengah pembuatan film sekarang? Pikirnya ngelantur.
Athrun memberi instruksi singkat pada suster yang ada dibelakangnya setelah beberapa pertanyaan dilontarkan oleh Athrun pada si pasien ̶ yang masih menjawabnya dengan bahasa tubuh. Si suster sendiri sibuk menulis apa yang dikatakan oleh Athrun dengan gesit.
Berhubung Athrun mempunyai jiwa seorang gentleman, dia menanyakan apa yang menyebab gadis itu menangis. Melihat airmata yang terkumpul cepat dipelupuk mata gadis itu, Athrun segera merutuki sikapnya yang ingin tahu. Walau sebenarnya niatnya baik untuk meringankan beban gadis itu dengan bercerita padanya tapi pada saat yang sama dia juga mengingatkan gadis itu akan beban yang sudah dilupakannya untuk sejenak.
Gadis itu mulai menangis sesegukkan lagi tapi sekarang nyonya Caldwell lah yang berusaha menenangkannya. Sedangkan sang suster hanya melihat dengan padangan datar kearah mereka. Dia sudah melakukan tugasnya tadi, lagipula dia juga bukan psikiater yang ahli menangani trauma jiwa.
"Hiks hiks huhu… Aku… hiks… Kesempatanku!" raung si pasien dibagian akhir katanya.
Athrun yang tidak tahu apa yang dibicarakan pasien itu hanya bisa tersenyum kikuk dan berpura-pura mengerti apa yang baru saja dikatakannya.
"Ah, semua orang berhak akan kesempatan kedua, nona Caldwell. Saya yakin anda akan mendapatkan kesempatan lainnya," ucap Athrun penuh pengertian dan bermaksud menyemangati kembali gadis yang sedang depresi itu.
Tapi sepertinya hal itu ditangkap berbeda oleh sang gadis, dia mempelototi Athrun dengan mata yang masih penuh dengan airmata.
"Tapi kesempatan kedua tidak datang untuk semua orang, dok," jawab Asagi untuk pertama kali dengan kalimat yang jelas dan tidak bergetar karena tangis. Namun didetik selanjutnya dia kembali menyeburkan airmatanya yang tiada habisnya.
"Anda tidak tahu betapa sulitnya untuk lulus casting dari perawan tua itu," raung Asagi kembali.
Mengesampingkan umpatan yang dilontarkan Asagi, Athrun kembali memasang senyum kikuk diwajahnya. Nyonya Caldwell hanya bisa mengelus-elus kepala Asagi dikarenakan luka dikepalanya yang lumayan membahayakan jika dipukul. Tuan Caldwell sendiri meraih pundak Athrun dan mengucapkan terima kasih untuk kepedualiannya, lalu meminta maaf atas tingkah kekanak-kanakan anaknya.
Ternyata gadis itu adalah seorang aktris yang baru naik daun dan dia baru saja mendapatkan peran utama pertamanya seminggu yang lalu. Ah, memang belum rejekinya, pikir Athrun enteng. Dia sebagai dokter juga sudah melakukan sebisanya, sekarang dia hanya bisa melempar tatapan simpati pada aktris muda itu. Jika dia mau, dia bisa mengatakan kalau gadis itu sudah cukup beruntung bisa selamat dari kecelakaan seperti itu dengan keadaan utuh. Selama dia masih hidup dan mempunyai kemauan, Athrun yakin Asagi akan memiliki waktunya sendiri untuk bersinar. Lagipula kesempatan kedua hanya datang kepada orang yang masih hidup kan?
…
"Ah, tidak apa. Aku mengerti…. Hm, iya baiklah… Jangan lupa untuk beristirahat sebentar, Athrun," ucap Meer pada suaminya lewat telepon rumahnya. Walau dia mengerti pekerjaan seorang dokter sangat lah sibuk, kadang dia berpikir jika Athrun menggunakan alasan pekerjaan untuk menghindari pulang lebih awal ke rumah.
"Iya, sampai jumpa, I love you."
Meer perlahan meletakkan telepon itu pada tempatnya. Tidak dipungkiri, dia merasa kecewa. Suaminya bahkan tidak pernah mengucapkan tiga kata yang sering diucapkan Meer padanya. Menghela nafas pada diri sendiri, dia berjalan menuju meja makan yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Diatas meja tersebut sudah tersusun rapi makan malam mereka hari ini. Dan lagi-lagi Meer memasak makanan favorit suaminya. Dia tahu jika Athrun makan itu terus, lama-lama dia akan bosan tapi berhubung Athrun jarang makan malam di rumah jadi hal itu tidak mungkin terjadi kan? Yang ada Meer lah yang bosan memasaknya dan memakannya sendiri.
Meer mulai membereskan porsi makanan untuk athrun dan menaruh piring-piringnya di bak pencuci piring. Dia akan membereskannya besok pagi saja, untuk sekarang dia ingin bersantai menikmati makanannya didepan televisi.
"Dikarenakan rem bus yang blong, dua mobil prib ̶ "
Meer mengganti siaran berita itu dengan remote TV yang ada ditangan kirinya, dia tidak begitu menyukai berita tragis. Mood-nya sedang jelek sekarang jadi dia ingin mencari sedikit hiburan untuk membuatnya kembali berpikiran positif.
"Lacus Clyne, diva tersohor telah kembali setelah trip-nya berkeliling dunia," seru seorang pembawa acara disebuah acara televisi yang menyiarkan berita selebritis.
Mendengar nama saudarinya disebut, Meer membesarkan volume TV tersebut dan kembali menikmati makan malamnya yang tertunda. Meer selalu merasa senang jika melihat perkembangan karir saudari kembarnya itu. Melihat bagaimana wajah Lacus yang selalu terlihat bersinar dengan suara merdunya, dia seakan membayangkan bahwa Lacus adalah dirinya.
Sejak kecil mereka selalu bersama dan tidak terpisahkan walau itu pun karena Lacus yang bersikeras untuk tidak meninggalkannya sendiri ketika dirinya sakit. Meer suka bernyanyi tapi karena dia sering sakit-sakitan, dia jarang melakukannya dan Lacus akan bernyanyi untuknya. Meer dilarang untuk keluar rumah karena kondisi kesehatannya, walaupun saat itu dia merasa baikan dan ingin bermain keluar. Lacus akan menggantikannya berbaring ditempat tidur, berpura-pura menjadi dirinya disaat dia asyik bermain diluar. Banyak hal yang Lacus lakukan untuknya, semua hal yang tidak bisa dilakukannya sendiri. Bahkan masalah cinta pun begitu, jika Lacus tidak turun tangan mungkin dia dan Athrun ̶
Tangan kanannya mengeratkan pegangannya pada sendok makan, kepalanya tertunduk mengalihkan pandangannya kepangkuannya. Suara televisi yang masih ribut menyiarkan berita selebritis terkemuka menggema keseluruh rumah yang kini hanya dihuni olehnya sendiri.
Pikiran-pikiran negatif mulai melayang-layang didalam benaknya. Mungkin keputusannya untuk melihat kesuksesan Lacus bukan lah pilihan yang bijak, perasaan tidak enak yang berhasil disingkirkannya kemarin mulai tumbuh dan berkembang bagai parasit.
Sebuah senyum miris tersemat pada bibirnya, pandangannya masih menatap kebawah. Dia benar-benar merasa seperti adik yang jahat. Setelah semua yang dilakukan Lacus untuknya, dia malah merasa iri dan tidak senang atas prestasi saudarinya sendiri. Dia mulai tertawa pelahan dengan air mata yang mulai membanjiri kedua pipi-pipinya. Kesadaran akan bentuk sebenarnya dari perasaan tidak enak yang selalu menggelayutinya sejak dia mendapatkan Athrun disisinya, membuatnya ̶
" ̶ Cagalli Yula Athha juga sudah kembali ke tanah air." Si pembawa acara terlihat tidak sendiri lagi dan dia sedang berbincang dengan pembawa acara wanita disebelahnya.
Seolah baru saja melihat hantu, Meer melihat televisi didepannya dengan raut wajah terkejut yang tidak dibuat-buat. Pikiran-pikiran yang ada dibenaknya sebelumya seakan terbang keluar jendela, otaknya terasa kosong. Matanya yang masih berurai airmata membesar dan kepalan tangan yang memegangi sendoknya pun mengendur sehingga membuat sendok itu jatuh ke lantai sedangkan tangan kirinya menutup mulutnya yang terbuka seakan takut jika ada serangga yang masuk disaat dia sedang sibuk berkaget ria.
"Ah, benarkah? Aku rasa memang sudah waktunya dia kembali dan berkarya di Negara sendiri," ucap si pembawa acara wanita dengan ekspresi antusias.
Kini layar televisi tersebut memperlihat beberapa foto Cagalli yang diambil secara diam-diam oleh paparazzi di beberapa tempat umum seperti lapangan parkir disebuah butik di Heliopolis untuk meyakinkan penonton bahwa yang mereka bicarakan bukanlah omong kosong belaka. Sedangkan Meer yang melihatnya masih diantara percaya dan tidak percaya.
Didalam pikirannya, dia sudah menduga cepat atau lambat wanita itu akan kembali. Tapi didalam dasar lubuk hati tergelapnya, dia tidak ingin wanita itu kembali. Semenjak Meer melihat fotonya disebuah majalah langganannya tiga tahun yang lalu, Meer tahu kalau dia tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang. Wajahnya selalu menghatui Meer seperti rasa bersalah yang selalu menggerogotinya dari dalam. Lalu Athrun, dia tahu Athrun tidak pernah mengikuti perkembangan dalam dunia hiburan atau fashion tapi walaupun begitu itu tidak membuat rasa khawatirnya berkurang. Meer benar-benar takut jika Athrun mengetahuinya, dia akan meninggalkannya suatu hari nanti.
Kekhawatiran dan juga panik yang melandanya membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Meer memegangi dadanya dengan kedua tangannya, tubuhnya meringkuk diatas lantai dan bibirnya hanya bisa mengeluarkan suara rintihan yang tertahan.
Hal terakhir yang terbesit dibenaknya adalah mimpi indahnya sudah berakhir.
…
Athrun berjalan disepanjang lorong-lorong sepi rumah sakit, mengingat jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Hentakkan langkah yang dibuatnya seakan bisa membangunkan mammoth yang sedang berhibernasi. Memelankan langkah kakinya, Athrun berusaha berjalan dengan lebih santai. Tapi entah mengapa malam ini ada perasaan tidak tenang menggelayutinya. Athrun merasa dia perlu pergi ke suatu tempat.
Tidak lama kemudian dia sudah berdiri didepan pintu kerjanya. Membayangkan tumpukkan kertas yang perlu dibaca dan ditanda tanganinya, Athrun menghela nafas panjang seolah menggambarkan seberapa panjang malam ini. Dia membuka pintu ruangannya dengan cepat, tidak ingin membuang waktu lagi hanya untuk mengeluh. Pekerjaannya takkan selesai dengan sendirinya atau dengan semua keluhan yang dikeluarkannya hari ini.
Tok Tok Tok
Baru saja dia ingin membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen pertama yang dibacanya, suara ketukan dipintu kantornya membuatnya menunda pekerjaannya untuk beberapa saat. Tanpa mengalihkan matanya pada kertas yang ditanda tanganinya, Athrun mempersilahkan tamu tengah malam itu masuk. Athrun hanya berpikir mungkin tamu itu hanyalah seorang suster yang mengantarkan berkas baru untuknya.
Krriiett
Terkesan seperti bunyi pintu tua yang dibuka tapi sungguh rumah sakit ini sama sekali tidak setua pasien tertua yang dirawat disini karena stroke. Akan sedikit meninggalkan suasana horror dan misteri jika Athrun mau membagi sedikit ruang diotaknya untuk apa yang terjadi disekelilingnya. Tapi dokter tampan itu masih berkutat dengan dokumen yang dimejanya. Dia harap dengan sedikit perhatian yang diberikan padanya, suster tersebut bisa membaca sinyal kalau dia sedang sibuk dan meninggalkan berkasnya bersama berkas-berkas yang sudah ada diatas meja.
"Bahkan tengah malam pun, kau masih terlihat sibuk Athrun," suara dalam dan sedikit berat khas seorang pria, hampir membuat Athrun melompat dari kursinya karena kaget.
"Dokter Durandal !" seru Athrun yang sedikit kaget dengan kedatangan seorang dokter yang kini menjabat menjadi dokter kepala untuk urusan penyakit dalam. Tapi Athrun juga merasa penasaran dengan tujuan kunjungan tengah malamnya.
"Hm, tak perlu seterkejut itu, Athrun. Aku bukan hantu yang gentayangan dirumah sakit ini," ucap Dr. Durandal dengan nada humor, sedikit menyinggung rumor hantu yang panas dibicarakan para suster dikoridor rumah sakit.
Athrun tersenyum simpul, menghargai usaha Dr. Durandal untuk mencairkan suasana. "Tidak biasanya anda berkunjung selarut ini, apa ada hal penting yang ingin anda sampaikan pada saya?" tanya Athrun tanpa basa-basi dan sesopan mungkin, bisa sajakan dia mendapatkan promosi setelah ini.
"So direct as always, Athrun," jawab Dr. Durandal dengan lembut dan mata yang menyiratkan suatu pesan yang gagal diterima oleh Athrun.
"Aku hanya ingin bertanya apa kau punya rencana pribadi minggu ini?" lanjut Dr. Durandal yang tak kunjung memberikan penjelasan langsung akan maksud kedatangannya malam ini. Mungkin beberapa orang memang lebih nyaman berbicara berbelit-belit atau terkesan ambigu.
Menghilangkan beberapa bayangan orang dengan type seperti itu, dia menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. "Tidak, Dr. Durandal. Apa ada yang bisa saya bantu?" desak Athrun yang terlihat jelas sedang tidak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.
"Ada sebuah seminar kesehatan di Onogoro yang akan digelar tiga hari lagi, apa kau berminat mengikutinya?" jelas Dr. Durandal.
Athrun kembali dikejutkan dengan tawaran yang begitu mendadak, mungkin ini lah alasan kenapa dokter kepala itu rela menyatroni ruang kerjanya tengah malam begini.
"Dr. Mackenzie yang seharusnya pergi kesana mendadak membatalkan diri karena urusan pribadi. Kalau kau menerimanya, kau akan berangkat dua hari lagi," tambah Dr. Durandal seakan bisa membaca apa yang Athrun pikirkan.
Seolah Dr. Durandal sudah memutuskan dirinya untuk ikut, dia hanya bisa mengangguk menyetujuinya. "Aku mengerti," jawabnya singkat.
Setelah Athrun mengantar Dr. Durandal keluar dan menutup pintu kantornya. Pikirannya kembali pada tumpukan dokumen yang masih perlu diselesaikannya. Untuk kesekian kalinya dia menghela nafasnya dan berpikir kalau dia tidak akan mempunyai waktu istirahat yang layak jika dia ingin pergi tanpa ada berkas yang bertengger dimejanya. Tapi kemudian dia mulai berpikir kapan dia pernah memiliki waktu istirahat yang damai? Dia merasa sejak lima tahun yang lalu, otak dan badannya seakan tidak bisa berhenti bergerak untuk melakukan sesuatu. Terutama hatinya, bayangan seseorang selalu membuatnya terjaga.
…
Ashe' Note:
Ahh, sorry for long update and thank you for waiting on me : )
Apa kalian merasa drama ini terlalu mendramatisir? Karena jujur aku juga merasa begitu. Aku pikir aku membuatnya saat aku dalam mode masochist…hahha XD
Next, another thanks for reader and especially reviewer, I have said it in previous chap but your reviews truly mean a lot for me so thank you again and see ya : )
