Warning : Mengandung unsur OOC, typo, EYD (Ejaan Yang Dimawut-mawutkan) dan segala siluman siluman perfanfiksian lainnya.
.
*SUICCHON*
"SEPUCUK SURAT UNTUK CALON BAPAK MERTUA"
.
.
.
Selamat pagi pak.
Sudahkah bapak pagi ini meminum secangkir kopi sambil membaca koran? Atau menonton berita pagi di televisi bersama ibu?
Pagi ini saya lakukan itu. Meminum kopi pahit tanpa gula sambil melihat seorang lelaki manis yang memasakkan udang goreng untuk sarapan saya. Kata dia, saya harus sarapan kalau tidak mau nanti tidak bisa berlaga melawan kapten Rakuzan.
Pak, lelaki yang memasakkan sarapan untuk saya pagi ini adalah lelaki manis berhati malaikat yang kerap bercerita soal betapa hebat keluarga yang sudah mendidiknya. Tentu saja orang tua anak lelaki ini pasti bangga bukan main kan?
Anak lelaki ini juga yang sering mengajak saya berangan-angan untuk membangun rumah di Amerika. Dengan rumah kecil di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian. Katanya ia butuh ketengangan dan butuh hidup tentram tanpa diusik mulut mulut berlidah tajam. Rumah di atas bukit yang menghadap ke timur agar dia dapat menatap matahari terbit sambil mengiringi saya berangkat bekerja.
Pak.
Anak laki laki tersebut sudah merebut perhatian saya seluruhnya. Cara dia mengelus puncak kepala saya saat saya lelah, cara dia tersenyum memaklumi tindakan tindakan konyol saya, cara dia marah saat mengkhawatirkan saya, semua terasa tepat pada tempatnya. Semuanya terasa indah di mata saya.
Sesungguhnya bersama surat ini saya hendak bercerita sekaligus meminta kepadamu. Perihal lelaki yang selama ini membuat hari hari saya seakan dijungkirbalikkan bila sehari saja tak melihatnya. Lelaki yang sering membuat saya melupakan bagaimana caranya bernafas tiap kali menatap betapa indah senyuman tulusnya. Bapak tahu siapa lelaki itu?
Benar pak. Ia adalah putra semata wayang yang telah engkau besarkan dengan kasih sayang. Pak,putra bapaklah yang sudah sewindu ini menyita perhatian saya. Dan putra bapak juga lah yang ingin saya bawa pergi suatu hari nanti, tentunya setelah akad nikah kami kau setujui.
Saya terlalu naif bila berharap bapak bisa melepaskan putra semata wayang bapak bersama seseorang yang bukan orang tuanya, terlebih seorang lelaki. Pasti sekalipun tak pernah terlintas di benak bapak bahwa putra semata wayang bapak akan dicintai oleh seorang lelaki. Saya mengerti kalau saat ini bapak marah serta bingung. Tapi inilah kami pak. Dua insan yang membawa cinta dengan bentuk yang sedikit berbeda.
Untukmu, seorang lelaki yang kelak akan menjadi bapak mertuaku, saat ini, belum banyak yang bisa saya berikan untukmu dan putramu. Menjanjikan secuil harapan pun saya tak berani. Yang dapat saya janjikan bukanlah rumah mewah yang akan ia tinggali, bukan pula sebuah kehidupan bahagia dan tentram. Yang dapat saya janjikan hanyalah keberadaan saya untuk senantiasa berada di sampingnya semendung ataupun sebadai apapun kondisi yang ia lalui.
Pak, andaikata suatu ketika engkau melihat anakmu depresi serta frustasi karena hal hal yang tengah ia dukakan, engkau tak perlu turun tangan untuk menenangkan segala amarahnya yang saat itu berkecamuk. Saya akan ada disana, menenangkan segala kegundahan hatinya karena saya lah lelakinya.
Untukmu yang kelak akan menjadi calon mertuaku. Engkau tak perlu mengkhawatirkan apa kata orang tentang kami berdua. Kami sama sama lelaki dan kami merasa tidak perlu menanggapi segala ocehan tentang bentuk cinta kami berdua. Bapak pun pastilah tahu, perihal sikap anak lelaki bapak yang sedari dulu engkau puji selayaknya jagoan. Kini ia tumbuh benar benar selayaknya jagoan seperti yang sering engkau puji dulu. Ia kuat pak.
Untukmu yang kelak akan menjadi calon mertuaku. Tahukah engkau bahwa putramu pernah merasakan patah hati, tertatih tatih dengan kewarasan tersisa setengah saja? Ia hampir tak dapat menengadahkan kepalanya melihat masa depan. Apalagi bangkit dari keterpurukannya saat itu. Tanpa saya saat itu, ia tak mungkin bisa bangkit. Karena saya lah yang saat itu mengangkatnya dari kungkungan kesedihan. Saya lah yang meneduhinya dari badai masa lalu yang hingga kini tak reda. Maka dari itu, wahai calon bapak mertuaku, saya ingin menjadi kemarau bagi putramu. Mengeringkan setiap sudut hatinya yang tergenang banjir kenangan masa lalu
Yang ingin saya ungkapkan, terimakasih.
Terimakasih sudah mendidik lelaki yang sekuat baja dengan hati sebening kristal. Terimakasih sudah membesarkan anak lelaki yang setegar tembok besar dengan kelembutan selembut salju. Terimakasih sudah menjaga dan menjadikan sempurna anak lelaki yang sampai saat ini saya cintai.
Sekarang, ijinkan saya menggantikan peran bapak dalam menjaga putra bapak. Ijinkan saya mencintai dirinya dengan segala kekurangan saya.
Dari calon menantumu,
Aomine Daiki.
.
.
.
Lelaki paruh baya itu menangis sambil meremas surat yang hari ini sudah ia baca delapan belas kali. Ia menunggui putra semata wayangnya yang diikat entah berapa kali ikatan pada ranjang yang kuat menahan segala pergerakannya.
Sejam lalu anaknya yang berambut merah hitam hilang kendali karena obat penenangnya telah berhenti bereaksi. Membuat pemuda itu kalap dengan menyebut sebuah nama. Bukan sebutan, melainkan teriakan dan panggilan.
Istri lelaki paruh baya itu menangis meratapi kondisi anak semata wayangnya. Hatinya teriris iris tiap kali melihat anaknya termenung menatap serta meratapi potret sephia dua pemuda yang berlari di bawah matahari. Hatinya terkoyak melihat putranya sering tergelak menertawakan udara kosong. Hatinya perih tiap kali melihat jagoannya yang sudah dewasa menangis tersedu sedan menyebut nyebut sebuah nama.
Yaitu nama lelaki yang telah dibinasakan si pria paruh baya dengan kaki tangannya. Sebuah kesalahan besar membinasakan lelaki yang sudah menjadi separuh jiwa putra semata wayangnya. Si pria paruh baya tak menyangka saja. Akan begini akhirnya ketika ia meghapus keberadaan lelaki yang senantiasa berada di sisi putranya. Akan begini jadinya saat ia menghilangkan kemaraunya si putra semata wayang yang senantiasa mengeringkan setiap sudut hati yaang tergenang banjir masa lalu. Satu nama yang membuat lelaki paruh baya itu memendam penyesalan dalam hidupnya.
Satu nama, Aomine Daiki.
.
.
.
*SUICCHON*
Catatan Pojok =
Refreshing sejenak setelah saya nangkring di genre genre komedi. Baru pertama ini saya membuat fic (yang ceritanya) bergenre angst. Baru sekali ini. Sebelumnya tak pernah terpikir ingin membuat fic bergenre angst, karena jelas bukan bidang saya. Ehe. Eheheh.
Bagaimana kali ini? Perasaan saya tersampaikan tidak ya? Kalau tidak berarti saya sudah gagal. -_- ya sudah lah.
Saat membuat fic ini, tidak ada perasaan apapun. Saya tidak tertekan dan saya tidak pusing memikirkan diksi. Intinya saya menulis ini tanpa beban apapun XD
Ya sudah.
Reader sekalian, bersedia untuk mereview tidak?
Salam untuk kalian dan sensei wanita di seberang sana kalau kau baca,
SUICCHON
