Permata Ungu
Summary:
Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya.
Chapter 1
.-.-.
Rukia beringsut sedikit demi sedikit, mencari posisi paling empuk di batu besar yang didudukinya. Dia mengawasi Renji yang sedang mengajari beberapa anak kecil bermain pedang. Bukan pedang betulan, mereka terbuat dari kayu.
Angin berdesir lembut, menggoyangkan dedaunan seakan pohon-pohon membisikkan mereka untuk menari dengan gemulai. Gemericik air terdengar bagai alunan musik di telinga Rukia. Saat itu dia, Renji dan anak-anak kecil itu berada di tepi sungai. Meskipun lebar, sungai itu tidak dalam dan alirannya tidak deras. Aman bahkan bagi anak-anak kecil.
"Pegang pedang kalian seperti ini," suara kasar Renji terdengar jauh lebih keras oleh pantulan yang ditimbulkan air. Renji memegang pedang kayunya dengan kokoh, kakinya dibuka. Anak-anak yang membentuk setengah lingkaran di depannya meniru gerakannya.
"Guru, seperti ini?" seorang anak kecil berambut pirang bertanya.
Renji melirik. Badannya sangat jangkung jadi dia harus menundukkan kepala supaya bisa melihat dengan jelas. "Ya, seperti itu," jawabnya. "Kau cepat belajar. Bagus!" Si anak tersenyum sumringah.
Sekarang dia menurunkan pedang dan memeriksa murid-murid kecilnya. Beberapa kali dia memperbaiki posisi punggung mereka. "Saat kau memegang pedang, punggung harus tegak. Jangan bungkuk."
"Kenapa, Guru?" tanya anak lain.
"Karena itu posisi yang benar. Untuk menghindari cedera atau otot terpuntir," jawab Renji lagi. Mengajari anak kecil membutuhkan kesabaran ekstra. Dia sendiri pria yang tidak sabaran tapi pekerjaannya menuntutnya melatih kesabaran dan ketelatenan. Walau sebenarnya, yang dimaksud bukan sebagai pekerjaannya sebagai guru olahraga anak-anak itu. Pekerjaannya yang sesungguhnya.
Renji kembali ke tempatnya semula. Setelah memperagakan cara mengayunkan pedang selama setengah jam, Renji membubarkan mereka. "Besok lagi," serunya mengakhiri.
"Hore..." murid-muridnya berjingkrak. Pedang kayu kecil mereka terayun di udara.
"Cepat pulang," perintah Renji keras.
"Eh?" salah satu dari mereka menoleh. "Guru, kami mau mandi dulu."
Renji diam sebentar. "Baiklah, Guru tunggu. Tapi cepat ya."
"Iya..." serentak mereka melepas baju, meletakkannya di atas bebatuan atau rerumputan, kemudian dengan riang menerjang air sungai.
"Rukia, tidak bosan?" tanya Renji seraya menghampiri Rukia. Ada batu lebar berukuran sedang di dekat gadis itu, jadi dia menghempaskan pantat di situ.
Rukia menggeleng. Topi lebar yang menaungi wajahnya bergoyang. Rambut hitamnya menyembul dan jatuh ke bahu kecilnya. "Tidak, aku senang kok."
Renji nyengir maklum. Hanya dirinya teman satu-satunya. Kemanapun Rukia pergi, pemuda tegap itu selalu mengikutinya. Tapi jika Renji yang bepergian, Rukia tidak selalu bersamanya. Bukannya gadis itu tidak mau. Renji yang melarangnya.
"Sudah lama aku tidak mandi di sungai," gumam Rukia sambil mengawasi murid-murid Renji yang berenang dengan gembira. Semuanya anak laki-laki, mereka telanjang. Ada yang berenang menentang arus, ada juga yang menghanyutkan diri bersama arus. Teman-temannya mencemoh anak itu karena tidak bisa berenang.
Renji tersenyum geli. "Jangan, malah mengundang perhatian yang diinginkan, lho."
Mata Rukia mendelik. "Kita kan dulu selalu mandi di sini."
"Itu waktu kita kecil, Rukia. Yah, meski aku tidak keberatan sih kalau kau yang mandi," Renji terkekeh. Rukia sudah siap melontarkan omelan ketika suara cempreng bergaung.
"Guru dan Kakak Kecil berpacaran," teriak seorang anak, yang disambut celetukan anak lain. Dengan wajah garang Renji menghadap mereka.
"Kalau masih menggoda Guru, aku laporkan pada orang tua kalian," ancam Renji galak.
"Tidak, Guru," mereka buru-buru melambaikan tangan. Bagi mereka yang paling menakutkan bukannya Renji, tapi laporan yang mampir ke telinga orang tua mereka. Kenapa laporan? Karena yang diucapkan sang guru-lah yang menentukan reaksi si orang tua.
Rukia tidak jadi marah. Dia terkikik pelan.
"Guru, berapa sih umurnya?" celetuk seorang anak. Dia berenang ke tepi, ke dekat gurunya.
"Kenapa tanya?" bukannya menjawab, si guru malah bertanya balik.
"Ingin tahu," jawabnya lugu. Separuh badannya menyembul dari air.
"Dua tiga," jawab Renji singkat. Dia selalu menjawab jujur jika muridnya –atau orang lain- bertanya padanya. Sejujur yang dianggapnya masih dalam taraf aman. Dia berpendapat semakin dia menutupi informasi, semakin orang penasaran. Hal terakhir yang diinginkannya adalah mengerahkan perhatian dan kecurigaan berlebihan.
Si murid mengangkat tangan, menghitung jari. Ketika hitungannya kurang, jari-jari kakinya di dalam air bergerak-gerak, setelah itu tiga jari tangannya teracung. Dia terbelalak. "Wah, Guru sudah tua ya," komentarnya polos.
Alis bertato Renji berkerut, mukanya ditekuk. "Hah, aku masih muda, kau saja yang masih terlalu kecil," gerutunya sebal.
Si murid menatap curiga. Untuk anak sekecil dia, yang namanya guru selalu sudah berumur. Angka usia di atas lima belas menandakan tingkat keuzuran seseorang. Apalagi postur gurunya sangat menjulang, belum lagi tato yang bertebaran di sekujur tubuh Renji. Melihat tampang gahar Renji, yang sangat-laki-laki-sekali, jelas saja membuat si penanya merasa dibohongi. Tapi karena tahu diri, si anak tidak jadi menyuarakan keraguannya dan memilih beringsut ke tepi, memakai baju kembali.
Meski udara Karakura –tempat Renji dan Rukia tinggal- hangat dan temperaturnya sedang, angin yang bertiup di sekitar sungai lumayan kencang, apalagi jika sore dan petang menjelang seperti sekarang.
Rukia membetulkan topinya. Malangnya, bukannya melekat ke kepala dengan sempurna, topi itu malah melayang beberapa meter ditiup angin. Gadis itu terkesiap. Dia sudah hampir bangkit tapi dengan sigap Renji mendahuluinya.
"Jangan!" serunya. Biasanya nada suara Renji netral namun kali ini ada nada memerintah mewarnai seruannya, membuat Rukia tidak beranjak.
Secepat kilat kaki panjang Renji berlari dan melompat. Dia meraih topi putih tulang yang tersangkut di semak-semak itu. Dengan topi di tangan, dia melesat kembali. Sekilas tubuh besarnya menutupi postur kecil Rukia. Dari kejauhan orang tidak akan bisa melihat atau sekedar mengintip, tapi itu bukan kebetulan. Kalau sudah menyangkut Rukia, tidak ada kata 'kebetulan'. Renji selalu berhati-hati, tidak peduli dimanapun dan dalam kondisi yang kelihatan paling santai sekalipun, pemuda itu tidak mengendurkan kewaspadaannya. Seperti barusan.
Setelah mengibaskan debu yang mungkin menempel, Renji membenamkannya ke kepala Rukia.
"Wah, Kakak Kecil matanya bagus," puji seorang anak.
Rasanya jantung Renji melompat ke mulut. Dia merutuk dirinya sendiri. Pastilah waktu dia menyambar topi itu si anak melihat Rukia.
"Betul, indah," seloroh anak lain. "Itu ungu ya, Kak?"
"Bukan, itu namanya violet," timpal temannya.
"Salah, Bodoh. Itu lilac."
Renji mulai panik. Ternyata anak-anak itu melihat wajah Rukia. Dengan warna mata dan rambut asli. Wajah Rukia yang sebenarnya.
Sepertinya Rukia merasakan kecemasan Renji. Dia menepuk pelan lengannya.
"Maaf," katanya tak enak.
Renji merasa bersalah. Cepat dia menggeleng. "Tidak apa," hiburnya, suaranya parau. "Memang anginnya nakal hari ini."
"Lain kali aku hati-hati," janji Rukia pelan.
Topi Rukia selalu lebar, menghalangi pandangan orang. Gadis itu bukannya memakai topi karena tertarik trend atau fashion. Dia harus mengenakannya.
Setelah menggiring murid-muridnya pulang, Renji dan Rukia berjalan menuju rumah. Pernah ada yang bertanya, kenapa Rukia selalu bertopi. Renji menjelaskan kalau mata Rukia alergi matahari.
"Renji..." panggil Rukia lirih, membuat pemuda itu menegakkan telinga untuk menangkap suara Rukia. "Besok kau jadi ke Seireitei?"
Lamat-lamat Renji menjawab. "Iya, kakakmu memintaku datang."
Rukia mendesah. Dia dan Byakuya tinggal terpisah. Dia di Karakura, sedang Byakuya di Seireitei. Perjalanan bisa ditempuh dua jam dengan kereta. Sejauh yang bisa diingatnya, hampir seluruh hidupnya dihabiskan di Karakura. Kadang dua minggu atau sebulan sekali gadis itu berada di rumah besarnya. Bukannya tanpa alasan kenapa tempat tinggal mereka diatur berjauhan.
Belum sempat pikiran Rukia mengembara lebih jauh, mereka sudah sampai di gerbang. Renji tiba-tiba berbalik dan meremas pundak kecil Rukia.
"Dengar, Rukia. Saat aku ke Seireitei, jangan melangkah sejengkal pun keluar dari gerbang ini. Aku tidak akan menginap, jadi bersabarlah satu hari saja tinggal di rumah," kata Renji serius.
"Aku sudah hafal dengan petuahmu, Renji," balas Rukia lelah. "Kau tidak perlu mengulanginya tiap kali kau keluar." Rukia mengangkat bahu tapi tangan Renji tidak bergerak.
"Aku di sini karena berbagai alasan, dan aku yakin gadis cerdas sepertimu mengerti kenapa Byakuya lebih memilih Karakura sebagai rumah untukmu –selain istana Kuchiki, tentunya-," berondong Renji. Melihat ekspresi Rukia, dia tersadar dan menarik tangannya. "Kau ingin oleh-oleh apa?"
Rukia berdehem. Dahinya mengernyit. "Tidak, aku tidak ingin apa-apa."
"Bagaimana kalau buku? Topi? Atau..." Renji menawarkan tapi kemudian kehabisan ide.
Gadis mungil itu meninju lengan Renji. "Tidak perlu menyuapku. Kau pikir aku anak kecil?" dengusnya sebal.
Renji nyengir lebar. Meski usia mereka terpaut satu tahun, Renji selalu menganggap Rukia jauh lebih muda. "Baiklah, setelah aku kembali, kau boleh menyebut suatu tempat. Kita jalan-jalan ke sana," putus Renji akhirnya.
"Setuju," seru Rukia senang.
Setelah Rukia menuju rumah utama, Renji berjalan ke paviliun kecil di samping. Dia tinggal di sana. Sesudah yakin Rukia tidak melihatnya, Renji memijat pelipisnya. Sesungguhnya dia cemas dengan apa yang akan disampaikan Byakuya. Dia mengerti kekhawatiran terbesar bangsawan itu adalah adiknya. Byakuya tidak sedingin penampakannya.
Samar didengarnya celoteh Rukia dan Shirayuki, wanita yang menemani Rukia di rumah induk. Sambil menatap langit-langit kamarnya, Renji menarik napas dalam-dalam. Ada banyak rahasia terselubung yang tidak diketahui Rukia. Belum diketahuinya, sergah Renji pada dirinya sendiri. Dan untuk itulah Renji ada di sini, menjaga keberadaan gadis itu, dan dari rahasia tentang Rukia sendiri.
Renji memejamkan mata dengan gundah. Nona Muda, tahukah kau kenapa hanya segelintir orang yang tahu tentangmu?
.-.-.
TBC
