NARUTO © Masashi Kishimoto

LOVE IS © Evellyn Ayuzawa

Title: Love Is [Chapter 2]

Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)

Genre: Romance, Hurt, Drama

Length: Chaptered

Rated: M (for Mature Content)

Cast:

Sasuke U. x Sakura H. x Shikamaru N.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

.

.

.

.

.

Sakura Pov.

Sudah ku putuskan untuk menuruti apapun yang dikatakan oleh orang tuaku walaupun aku tidak menginginkannya. Karena jika aku tidak menurutinya bukan aku yang paling terluka namun orang-orang yang tak bersalah-lah yang akan lebih terluka.

Sudah beberapa kali aku berhasil melarikan diri dari orang tuaku, sudah terhitung tiga kali aku berhasil melarikan diri.

Namun, aku selalu berhasil tertangkap dan kembali kepada orang tuaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka selalu berhasil menemukanku.

Aku takut mereka memasang semacam alat pelacak di dalam tubuhku, tapi sudah ku periksakan dan kata dokter yang memeriksaku di dalam tubuhku tidak ada benda asing apapun seperti alat pelacak.

Setelah itu aku yakin bahwa orang tuaku menyewa pembunuh bayaran agar mengawasiku dan menghancurkan siapa saja yang membantuku melarikan diri.

Hal itu sudah terbukti waktu pertama kali aku berhasil melarikan diri dan bersembunyi di rumah sahabatku, Ino.

Setelah semalam aku menginap di sana keesokan harinya Ino mengusirku dari rumahnya dengan air mata berlinangan di kedua matanya.

Ia membentakku dan berkata bahwa orang tuanya bangkrut dan itu gara-gara aku.

Setelah kuselidiki ternyata itu benar, saat aku sampai di halaman rumah Ino terlihat salah seorang bawahan Tou-san sedang menungguku. Dia tersenyum lalu membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk.

BRENGSEK!

Sesampai di rumah, Tou-san dan Kaa-san menemuiku di dalam kamarku.

Mereka terlihat khawatir namun setelahnya Tou-san berkata, "Sebaiknya jangan mengulangi perbuatanmu ini jika kau tidak ingin melihat lagi orang yang tak bersalah menderita karenamu."

Aku tak dapat menjawabnya. Aku sangat takut untuk sekedar menatap mata Tou-san.

Setelah itu orang tuaku tidak lagi memperbolehkanku keluar rumah. Hanya untuk sekolah saja mereka memperbolehkanku keluar rumah.

Sampai saat aku melarikan diri untuk ketiga kalinya bersama Shikamaru. Itupun aku kembali berhasil tertangkap dan kembali ke orang tuaku lagi.

Di saat itulah aku tahu bahwa kemungkinan besar Shikamaru terbunuh. Itu yang Kaa-san katakan kepadaku saat aku menanyakan keadaan dan keberadaan Shikamaru.

Dan itulah terakhir kalinya aku bertemu dengan Shikamaru.

Tou-san tidak lagi membiarkanku keluar rumah bahkan untuk pergi sekolah. Dan sekarang di usiaku yang beranjak 18th aku harus menghabiskan hidupku di dalam sangkar raksasa yang disebut rumah.

Hari-hari tetap ku jalani seperti biasanya, namun kali ini segalanya kulakukan dengan sepenuhnya di dalam rumah.

Mulai dari sekolah dan berbagai hal. Kaa-san menyewa guru privat untuk sekolahku, untuk melatihku melakukan pekerjaan rumah dan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Karena selepas aku lulus SMA, sudah dapat aku pastikan bahwa aku akan langsung menikah.

Dapat aku rasakan bahwa kini aku sudah tidak lagi memiliki kebebasan. Bukan aku rasakan lagi tapi aku memang sudah tidak bebas lagi.

Aku tidak memiliki teman, sahabat maupun orang yang ku cintai. Aku mulai menutup diri dari orang tuaku dan keluargaku juga orang-orang sekelilingku. Aku tidak lagi tersenyum.

Sampai dimana hari pernikahanku dengan Uchiha Sasuke di usiaku yang baru menginjak 19th.

.

.

.

.

.

Ia berdiri menungguku di altar. Tempat dimana kami akan mengucap janji suci yang akan mengikat kami menjadi sepasang suami istri yang sah.

Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasakan perasaan itu lagi. Perasaan dimana jantungku berdetak dengan cepat.

Tubuhku memanas dan wajahku memerah. Apa ini? Sudah sangat lama aku tidak lagi memiliki perasaan itu lagi, mengapa tiba-tiba saja perasaan ini kembali padaku?

Aku melirikTou-san yang kini berada di kananku, tengah mengapit lenganku dan menuntunku menuju altar.

Tou-san tersenyum hangat dan kembali menatap lurus ke depan.

Ku lihat Sasuke tengah tersenyum lembut kepadaku.

Tanpa ku sadari kini Tou-san telah selesai menuntunku menuju altar. Tou-san menyerahkanku pada Sasuke, Sasuke menyambut tanganku dengan lembut dan dengan senyuman yang tak kalah lembutnya.

Hatiku mulai berdetak tak biasa. Nafasku mulai sesak. Aku menundukkan kepalaku.

Ku rasakan genggaman tangan Sasuke mengerat. Ku dongakkan kembali kepalaku untuk melihatnya. Ia tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku di sini akan selalu menopangmu."

Seketika air mataku mengalir. Sasuke mengusapnya dengan sangat lembut. Lalu mencium keningku.

Ia kembali tersenyum. Perlahan-lahan aku mulai tenang kembali, Sasuke mengajakku menghadap depan menuju pendeta yang akan menjadi saksi pernikahan kami.

.

.

.

.

.

Sekarang, saat ini dan di waktu ini. Aku Haruno Sakura –oh tidak, maksudku Uchiha Sakura- sedang mengalami kegelisahan yang sangat sangat sangat besar.

Hal ini dikarenakan setelah selesai upacara pernikahanku dengan Sasuke tadi, Kaa-san tidak bilang bahwa kami akan langsung tinggal bersama.

Aku bahkan tidak membawa pakaian ganti satupun. Bahkan sekarang aku masih memakai gaun pengantin. Aku tidak dapat berpikir jernih. Kini aku mengunci diriku di dalam kamar. Yang ku yakin adalah kamarku dan Sasuke.

Aku terduduk di lantai saat kulihat bagaimana dekorasi kamar ini beserta pernak pernik yang menurutku sangat norak.

Bagaimana bisa seluruh permukaan kamar ini ditaburi oleh kelopak mawar merah. Hal ini semakin membuatku frustasi saja.

Akhirnya ku putuskan untuk menelpon Kaa-san, aku akan menanyakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.

Segera kuraih ponselku dan langsung menekan nomor Kaa-san, tidak lama setelah tersambung, Kaa-san mengangkatnya.

"Halo, Kaa-san!"

"Sayang, kenapa kamu menelpon Kaa-san di malam pertamamu?"

"Kenapa Kaa-san tidak bilang kalau kami akan langsung tinggal bersama setelah upacara pernikahan?" Tanpa menjawab petanyaan Kaa-san, aku langsung saja balik bertanya.

"Loh... jadi Kaa-san belum memberitahumu? Aduuuh... mungkin karena Kaa-san sudah terlalu tua jadi mudah lupa. Maaf ya sayang," Jawab Kaa-san dengan nada yang dibuat memelas.

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak membawa satupun baju ganti. Lalu apa yang harus kupakai? Aku tidak sabar untuk melepaskan gaun berat, sesak, panas dan tebal ini."

"Sayang... sekarang kamu ada dimana?" Tanya Kaa-san dengan suara tenangnya.

"Aku... aku ada di dalam kamar yang bertaburan kelopak mawar merahnya. Memangnya kenapa?"

"Lalu suamimu dimana?"

"Suamiku? siapa?"

"Bagaimana sih kamu, sayang? Suamimu ya laki-laki yang menikahimu tadi. Apa kamu lupa?"

Sungguh bodoh diriku ini. Bagaimana bisa aku lupa kalau aku sudah menikah. Aku kan menelpon Kaa-san karena pernikahan ini. Haduh... bodohnya aku. Kenapa aku bisa konyol begini? Bodoh!

"Oh iya, itu... Kaa-san... dia ada di ruang tamu, mungkin...," Jawabku seadanya.

"Baiklah sayang. Inilah waktunya untuk mempraktekkan apa-apa saja yang sudah kau pelajari selama ini. Pertama-tama buka lemari bagian kanan,"

Akupun mengikuti apa yang diperintahkan Kaa-san, "sudah ku buka... ahh ini kan...,"

"Iya sayang. Pakailah pakaian itu. Lalu setelah itu Kaa-san serahkan padamu. Selamat menempuh hidup baru, sayangku."

Dan setelah itu Kaa-san langsung mematikan sambungan teleponku begitu saja. Dan lebih parahnya lagi teleponnya tidak dapat ku hubungi lagi!

"AAARGGGHH!" Karena frustasi tanpa kusadari aku berteriak sangat kencang.

DOK DOK DOK DOK DOK

"ADA APA, Sakura?! APAKAH TERJADI SESUATU?" jika pintu kamar ini hanya terbuat dari papan kayu biasa mungkin sudah roboh dan lepas dari bibir pintunya karena lelaki yang sekarang telah berstatus suamiku itu terlalu keras menggedornya.

"A... AKU TIDAK APA-APA! Sebentar lagi aku keluar," Sahutku dari dalam kamar karena Sasuke tetap menggedor pintu dengan sangat keras.

"Baiklah. Aku tunggu di ruang makan. Ayo kita makan," Ucap Sasuke yang sudah berhenti menggedor pintu.

"Iya, sebentar lagi aku keluar!"

Bagaimana ini? Tidak mungkin aku keluar mengenakan pakaian ini.

Bahkan ini tidak dapat di sebut dengan pakaian. Ini hanya sebuah lingeri berwarna putih gading dan bawahan g-string berwarna hitam.

Bagaimana bisa aku keluar dengan memakai ini sedangkan di luar sana ada seorang lelaki normal yang sewaktu-waktu bisa saja menyerangku.

Oh tuhan ! Usiaku baru 19th dan aku masih belum siap jika untuk memiliki seorang anak.

Bahkan bisa disebut aku ini masih anak-anak. Kan tidak lucu jika seorang anak memiliki anak. Bisa-bisa nantinya tersebar gosip bahwa aku hamil di luar nikah.

Sebelum pernikahan saja banyak orang yang menyimpulkan aku menikah karena sudah hamil duluan.

Bahkan teman-teman juga tidak percaya saat mereka menerima undangan pernikahanku. Banyak yang mengira aku sudah berbadan dua.

Namun semua itu sudah ku bantah. Aku bersyukur karena terlahir di keluarga berada, karena dengan sedikit gertakan mereka tidak lagi mempermasalahkan alasan mengapa aku menikah selepas lulus SMA.

Bagaimanapun juga mau tidak mau aku harus memakai pakaian yang tak layak disebut dengan pakaian ini.

Aku sudah sangat tersiksa dengan gaun pengantin yang sangat berat dan tebal ini. Namun sebelum itu aku akan mandi dulu.

Untunglah di dalam kamar ini dilengkapi dengan kamar mandi. Jadi rasa kesalku pada Kaa-san sedikit tersembuhkan.

.

.

.

.

.

Pakaian ini sangat membuatku tidak nyaman. Beberapa kali ku lihat pantulan diriku sendiri di kaca dan kesimpulan yang sama selalu hadir.

Yaitu... pasti dia akan menyerangku, menerkamku lalu memakanku hidup-hidup.

Oke, aku mulai gila dengan imajinasiku sendiri.

Namun, bagaimana jika itu semua benar? Apakah aku akan tetap hidup setelah dia menyerangku ataukah aku akan mati karena serangannya? Atau mungkin aku akan menikmati serangannya? Oh entahlah, lihat saja nanti.

Sudah sudah... aku mulai kehilangan kejernihan otakku. Aku mulai berhalusinasi dan berpikir yang tidak-tidak.

Hanya ada dua pilihan, yaitu menghadapinya atau menghindarinya.

Oh tuhan! kirimkan aku penglihatan dimasa depan akibat dari kedua pilihan itu. Agar aku dapat memastikan mana yang harus ku pilih.

TOK TOK TOK

"Sakura... ayo makan!"

Ceklek

Ku buka pintu kamar ini. Dapat ku lihat kini Sasuke memandangku dengan keterpukaun, kekaguman dan ketidak percayaan.

Ataukah malah merasa jijik ? Entahlah, aku tidak tahu karena aku tidak dapat membaca pikiran seseorang.

"Berhenti melihatku dengan tatapan seperti itu, kau membuatku takut," Ucapku mencoba agar tampak setenang mungkin.

"Maaf maaf. Aku hanya tidak percaya dengan penampilanmu yang terlihat berbeda ini." Sasuke membuka jalan lalu aku melewatinya dan berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia beberapa jenis makanan di sana.

"Mau bagaimana lagi, aku tidak membawa pakaian ganti. Hanya pakaian ini yang kutemukan." Kududukkan tubuhku di salah satu kursi lalu diikuti Sasuke yang kini duduk di seberangku.

"Apa Kaa-san tidak memberitahumu jika kita akan langsung tinggal bersama?" Tanya Sasuke sambil menatapku.

"Jika ia memberitahuku maka aku tidak akan memakai pakaian ini." Aku mulai manyantap makanan yang sudah tersaji dan ya ampun... ia terus saja menatapku.

"Ehmmm..." sebuah deheman ringan kuluncurkan dan itu sukses menyadarkan Sasuke.

"Maaf, ini pertama kalinya kita mengobrol. Aku merasa senang," Sasuke tersenyum lembut. Senyumannya sangat mengagumkan, begitu natural dan sangat menawan.

"Tidak perlu seperti itu. Mulai sekarang kita akan sering mengobrol," Ucapku yang kusertai dengan senyuman.

"Benarkah?" Tanya Sasuke dengan memiringkan kepalanya.

"Karena kita sudah menjadi suami istri."

Sasuke tersenyum lebut lalu membelai puncak kepalaku dengan tangan kanannya. Setelah itu ia kembali memakan makanannya. Entah kenapa setiap sentuhannya dapat membuat tubuhku memanas dan jantungku berdetak tak normal.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N: Assalamu'alaikum... FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Sehun EXO, Kris EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada nama yang salah, itu semata-mata kelalaian saya.

Karena di FFn saya baru, boleh dong minta kritik dan saran dari senpai dan reader semua! Maaf ya belum bisa bales review kalian –saya tidak sempat. Sekian dan terima kasih, Wassalamu'alaikum.