Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Just Like Moon and Sun
"Ri-Rivaille... Syukurlah, kau...tidak apa." gumam Eren yang tersenyum dan ia langsung ambruk tepat di hadapan Rivaille.
"EREN!" Mikasa langsung berteriak dan mendekati Eren yang tergeletak itu sedangkan Rivaille menatap Eren dalam diam.
'Tolong katakan kalau ini bohong.' batin Rivaille.
Baik Rivaille dan Mikasa merasa panik melihat Eren telah ambruk di hadapan mereka. Mikasa langsung menyentuh Eren, ia berusaha mengecek keadaan saudara angkatnya itu. Ia tidak ingin Eren terluka apalagi meninggal, ia tidak sanggup membayangkan jika hal seperti itu terjadi.
"Eren! Eren!" panggil Mikasa.
Rivaille terdiam memperhatikan Eren baik-baik, ia berusaha mencari luka tembakan itu. Ia melihat bahu sebelah kiri Eren yang berdarah, sepertinya peluru tadi tidak mengenai bagian dada sebelah kiri. Tapi jika Eren tidak melindunginya sudah pasti peluru itu mengenai dirinya dan mungkin membuatnya tewas. Ia tahu Eren masih hidup, mungkin karena hentakan dari peluru itu yang membuatnya terjatuh.
"Minggir, Mikasa Ackerman. Eren belum tewas." ujar Rivaille.
Rivaille mendekati Eren dan melihat pemuda berambut coklat itu hanya terdiam, mungkin berusaha mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Mikasa menatap Rivaille dengan tajam tapi Rivaille cuek saja dan langsung berjongkok tepat di depan Eren. Yang lebih mengejutkan lagi, ia langsung membuka kancing jas yang dipakai Eren. Rivaille hendak melucuti pakaian yang Eren kenakan.
"He-hei! Apa yang kau lakukan?!" tanya Mikasa emosi.
Rivaille tidak menjawab pertanyaan Mikasa dan ia sudah menurunkan jas yang Eren pakai, ia membuka kancing kemeja juga dasi milik Eren dan sekarang Eren sudah bertelanjang dada di hadapannya. Eren sendiri juga panik melihat Rivaille yang dengan santainya membuka pakaian yang dipakainya itu, wajahnya sudah sangat memerah.
"Ri-Rivaille?" tanya Eren dengan suara pelan.
"Jangan banyak bicara. Aku akan mengeluarkan peluru itu." ujar Rivaille.
Rivaille langsung memegang pedangnya itu dan menarik badan Eren ke hadapannya, peluru itu berada di belakang bahu sebelah kiri Eren. Mikasa hanya bisa diam dan mengawasi gerakan Rivaille, Rivaille langsung menusukkan pedang itu ke bahu Eren.
"Ughh!" jerit Eren.
"Tunggu sebentar, Eren." gumam Rivaille.
Rivaille menusuk pedang itu untuk mengeluarkan peluru yang ada di bahu Eren, tidak lama peluru itu telah berhasil dikeluarkan. Rivaille langsung mengesampingkan pedangnya, ia menyobek sedikit jubahnya untuk membalut luka Eren.
"Ri-Rivaille?" Eren tampak bingung.
"Hei! Aku juga bisa kalau hanya untuk mengobati Eren!" Mikasa tampak tidak terima saat Rivaille mengobati Eren.
Eren hanya bisa terdiam saat Rivaille mulai membalut lukanya itu dan memakaikan kembali pakaiannya. Wajah Eren memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat, ia tidak menyangka Rivaille akan mengobatinya seperti ini. Mikasa berusaha menahan amarahnya dan memperhatikan mereka berdua, ia akui bahwa Rivaille bisa mengobati Eren.
"Kau bisa obati lukanya lebih lanjut. Aku hanya memberi pertolongan pertama saja padanya." ujar Rivaille.
Ia membelai rambut Eren dan berdiri untuk meninggalkan mereka berdua. Eren terkejut saat Rivaille hendak pergi dan menggenggam tangannya. Pemuda berambut hitam ini menoleh ke arah Eren, melihat wajah kekasihnya yang masih saja memerah. Tidak tahukah Eren bahwa sedari tadi Rivaille berusaha menahan diri agar tidak menyerangnya?
"Terima kasih..." gumam Eren.
"Iya, sama-sama." ujar Rivaille yang hendak pergi tapi tangannya masih digenggam oleh Eren dengan erat.
"Ku-kumohon jangan pergi."
Rivaille dan Mikasa terkejut mendengar ucapan Eren, ia berbalik dan menatap wajah Eren. Wajah polos dan manis itu sedang memandangnya, manik hijau yang bersinar terang layaknya cahaya di dalam kegelapan. Hijau dan hitam. Dua warna yang saling bertemu, saling menyatu di bawah terangnya bulan.
"Aku akan pergi. Sampai jumpa lagi, Eren."
Rivaille melepaskan tangan Eren yang menggenggam tangannya dan pergi meninggalkannya, Eren ingin menyusulnya tapi entah kenapa ia hanya bisa diam menatap sosok pemuda yang dicintainya itu menjauh dan menghilang dari hadapannya.
"Eren..." panggil Mikasa pelan.
Tapi Eren tidak menyahut panggilan Mikasa, ia terdiam dan menundukkan saja wajahnya. Ia memang merasa sedikit sakit di bahunya karena tembakan tadi, ia hanya berpikir untuk melindungi Rivaille. Hanya alasan sederhana itu tanpa alasan lain. Ia tidak ingin melihat Rivaille terluka.
"Eren, ayo kita pulang. Aku akan merawat lukamu."
Lagi-lagi Eren tidak menjawab ucapan Mikasa, seolah-olah ia hanya ada sendiri saja disini. Mikasa terkejut melihat Eren yang bersikap seperti ini, hatinya terasa sakit. Ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan yang besar hingga Eren tidak ingin bicara dengannya untuk saat ini. Apakah ia dapat dimaafkan?
"Maafkan aku, Eren."
Eren menoleh ke arah Mikasa dan menatap gadis berambut hitam itu dengan tatapan datar, belum pernah Mikasa melihat Eren seperti ini. Eren berusaha tersenyum dan bangun meski ia harus berusaha menahan rasa sakit yang ia rasa.
"Ayo pulang." ujar Eren yang berjalan lebih dulu meninggalkan Mikasa.
Terlihat sekali bahwa Eren berusaha menjaga jarak, buktinya ia berjalan lebih dulu daripada Mikasa. Ia meninggalkan Mikasa sendiri, Mikasa berusaha menyusulnya dan menyamakan langkahnya dengan Eren. Eren tetap terdiam dan melirik ke arah Mikasa, meski tersenyum tapi Mikasa yakin senyuman itu bukan senyuman dari lubuk hatinya.
Mana mungkin kau tersenyum di saat seperti ini?
"Eren! Aku bantu kamu berjalan hingga sampai di rumah." Mikasa berusaha merangkul Eren dan memapahnya untuk membantunya berjalan.
Tapi Eren melepaskan tangan Mikasa dan kembali berjalan meninggalkan Mikasa, bibir itu tetap tertutup dan memilih untuk diam. Mikasa tidak tahu dan tidak mengerti kenapa Eren seperti ini. Sejak pertarungannya dengan Rivaille berakhir, Eren terdiam seperti ini.
.
.
.
Tidak lama Eren dan Mikasa sampai di rumah, Mikasa bergegas mengambil obat untuk mengobati luka Eren. Eren hanya terdiam di sofa dan sesekali memperhatikan Mikasa.
'Mikasa... terhadapku? Tidak mungkin.' batin Eren.
Ia masih tidak menyangka akan mendengar pernyataan cinta dari saudara angkat yang selama ini ia anggap sebagai adik. Ia tidak ingin memastikan hal itu, membuatnya semakin bingung saja. Kenapa rasa cinta Mikasa harus tumbuh kepadanya? Kenapa tidak dengan Jean yang sudah jelas menyukai Mikasa?
Kenapa harus Eren?
Tapi Eren juga tidak bisa menyalahkan Mikasa yang memiliki perasaan itu padanya, dirinya juga sama. Ia menyukai Rivaille yang sudah jelas adalah seorang pemuda sama seperti dirinya. Rasa cintanya pada Rivaille itu membuatnya ingin melepaskan segalanya, berlari ke arah pelukan pemuda itu dan hidup bersama dengan Rivaille untuk selamanya.
Ia rela jika dipandang menjijikkan oleh orang lain.
Rasa cinta yang ia dan Rivaille bangun memang berbeda dengan orang lain. Di saat orang lain saling bergandengan tangan—antara pemuda dengan gadis—ia dan Rivaille yang adalah sesama pemuda saling bergandengan tangan dengan erat, berbagi cinta juga seperti pasangan lain. Lupakan segala hal tentang cinta harus dengan gender yang berbeda.
Memangnya kenapa jika ia dan Rivaille berbeda? Ia tidak mempermasalahkannya, dan ia tahu bahwa Mikasa sangat menolak hal itu. Ia juga tidak berani menceritakan hal ini pada Armin atau rekan-rekan lainnya. Apa yang akan mereka katakan padanya?
"Aku sudah bawakan obatnya. Buka bajumu, Eren. Aku akan mengobati luka itu." ujar Mikasa.
Eren menurut tanpa berbicara banyak dan membuka bajunya, ia membelakangi Mikasa dan membiarkan adik angkatnya itu merawatnya. Mikasa membuka balutan yang menyelimuti luka Eren, ia membersihkan luka itu dengan air lalu memberinya obat. Eren berusaha menahan rasa sakitnya itu. Tidak lama Mikasa telah selesai mengobati Eren dan memakaikan baju itu pada Eren.
"Terima kasih sudah mengobatiku." ujar Eren.
"Iya. Maafkan aku Eren. Peluruku mengenai kamu." ujar Mikasa dengan raut penyesalan di wajahnya tapi Eren tidak melihatnya karena masih membelakangi Mikasa.
"Tidak apa."
"Apa kamu memaafkanku?"
"Memangnya kapan aku marah denganmu?"
"Tapi kau-"
"Sudahlah Mikasa, tidak usah dibahas lagi."
"Eren? Kau bahkan belum menjawab ucapanku. Aku serius menyukaimu lebih dari sekedar saudara. Lagipula kita ini saudara angkat, tidak terikat dengan darah. Kita bisa bersama kan?"
Eren sedang tidak ingin menjawab pertanyaan itu, rasanya membuat kepalanya semakin pening saja. Ia masih belum yakin dan mungkin tidak ingin yakin kenapa Mikasa bisa merasakan cinta padanya. Kenapa rasanya tiba-tiba sekali?
Jika ia tidak bertemu dengan Rivaille dan Mikasa menyatakan cinta padanya, apakah Eren akan menerima Mikasa? Entah, ia tidak mengerti. Ia langsung saja bangun dan menatap Mikasa sambil tersenyum tipis. "Aku lelah sekali, aku tidur dulu. Selamat malam, Mikasa."
Eren meninggalkan Mikasa sendirian di ruang tamu itu, meninggalkan sang gadis berambut hitam dengan penuh tanda tanya. Tapi Mikasa tidak bisa mencegah Eren, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa sampai kelepasan menyatakan cinta pada Eren. Ia sempat berpikir untuk menyimpan rasa itu dalam hati atau mungkin mengubur cinta itu untuk selamanya.
Apa karena Rivaille?
Rivaille yang sudah selangkah lebih dulu daripadanya membuat Mikasa geram. Ia tidak suka ketika mendengar Eren berbicara tentang Rivaille, ia cemburu. Dan perasaan itu tidak bisa tertahankan lagi saat ia melihat Eren berpelukan dengan Rivaille, hatinya benar-benar terbakar api cemburu yang menyala.
'Apa keputusanku salah?' batin Mikasa lemah.
.
.
.
Sedangkan Rivaille yang sudah berjalan lebih dulu singgah di suatu tempat. Tidak ada siapa-siapa di tempat ini, hanya ada sebuah danau kecil yang terlihat sejauh mata memandang. Rivaille memejamkan matanya dan terlihat senyuman tipis dari wajahnya.
'Kau benar, Petra. Aku telah menemukan seseorang yang mencintaiku dan aku juga mencintainya.' batin Rivaille.
Rivaille membuka matanya dan kembali menatap langit, bulan bersinar dengan terang malam ini. Ia teringat dengan Eren yang mengatakan bahwa dirinya mirip dengan bulan yang bersinar di malam hari. Rasanya ia ingin tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu, ia selalu mengingat pemuda itu di tiap kesempatan.
Meski jauh tapi rasanya dekat.
Ia ingin selalu menganggap Eren ada disampingnya, tersenyum manis dan bermanja padanya. Ia telah menemukan orang yang ia cintai dan ingin melindunginya. Ia tidak akan biarkan Eren celaka atau mengalami hal yang sulit, meski mungkin ia sendiri yang membuat Eren kesulitan.
'Apakah aneh jika aku menyukai seorang pemuda juga, Petra? Tapi kau mengatakan aku akan menemukan orang seperti itu. Pilihanku sudah tepat, aku mencintai Eren Jaeger.' batin Rivaille yang kembali memejamkan mata, membuatnya terlarut dalam pikirannya mengenai Eren.
Pagi telah tiba, tampaknya sang surya sudah menyambut hari dengan sinarnya yang terang. Eren terbangun dari tidurnya dan ia mengecek lukanya, sudah tidak parah seperti kemarin. Ia berusaha menggerakkan kedua tangannya dan sedikit merasa sakit di bahu kirinya, mungkin ia tidak boleh terlalu banyak menggerakkan tangan kirinya untuk saat ini.
Ia langsung keluar dari kamarnya dan hendak mandi, sekilas ia melihat Mikasa yang sudah selesai menyiapkan sarapan. Mikasa duduk santai dan terdiam, Eren juga tidak ingin mengganggu Mikasa dulu dan membiarkan gadis itu terlarut dalam pikirannya.
Tidak lama Eren sudah selesai mandi dan memakai seragamnya dengan lengkap. Mikasa menunggu Eren untuk sarapan dan hendak berangkat bersama. Tapi tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua, Eren hanya diam dan memilih menikmati sarapannya dengan tenang. Mikasa melirik ke arah Eren dengan khawatir, ia masih memikirkan sikap Eren kemarin.
"Eren, aku mau minta maaf." ujar Mikasa pelan.
"Kenapa kau selalu mengatakan hal itu sejak kemarin?" tanya Eren.
"Ka-karena kau..."
Mikasa terdiam dan ia tidak meneruskan ucapannya, ia merasa suasana semakin canggung saat ia membawa topik ini saat sarapan. Eren sudah selesai makan dan ia menatap Mikasa dalam diam, ia menghela napas melihat sikap saudara angkatnya yang memang agak keras kepala jika sudah menyangkut apapun tentang dirinya.
"Ayo kita ke markas. Armin dan yang lainnya juga sudah menunggu kita disana." ujar Eren.
Eren langsung bangun dan hendak keluar rumah, demikian juga Mikasa. Tapi sepanjang perjalanan ke markas tidak terjadi apa-apa, jarak mereka berdua juga terlihat semakin jelas. Mikasa hanya bisa terdiam.
.
.
.
"Ah, Eren dan Mikasa." ujar Armin yang tersenyum melihat kedatangan dua sahabatnya.
"Armin?" gumam Eren.
"Untunglah kalian berdua datang di saat yang tepat. Aku baru akan membahas mengenai rencana melawan Dark."
Eren dan Mikasa terdiam mendengar ucapan Armin, sekarang mereka berada di ruang santai. Memang tidak ada siapa-siapa disana, rata-rata anggota Recon Corps yang lain memiliki tugas juga. Jean hanya duduk santai, Sasha yang sibuk memakan kentang dan Annie yang hanya menatap ke arah luar jendela.
"Kalau malam ini Dark tidak datang aku tidak tahu kapan kita akan terus melakukan hal sia-sia ini." ujar Jean.
"Kurasa tidak ada yang sia-sia dalam melakukan suatu pekerjaan." gumam Annie santai.
"Benar! Tidak ada yang sia-sia, seperti kentang ini." ujar Sasha sambil makan.
Jean menghela napas melihat Sasha yang terus saja makan. Armin mengajak Eren dan Mikasa untuk merundingkan rencana bersama. Memang sudah dua hari berlalu sejak mereka mengintai dan Dark tidak datang, tentu saja mereka semua lelah secara fisik.
"Memang aku tidak bisa sembarangan memberi prediksi tentang kedatangan musuh tapi kurasa malam ini dia akan datang." ujar Armin.
"Kenapa kau bisa yakin?" tanya Mikasa.
"Maaf, ini hanya firasatku saja."
"Terkadang firasat itu memang benar." celetuk Annie.
Mereka semua menoleh ke arah Annie yang terlihat santai itu, Annie menghela napas dan dengan cuek ia mengeluarkan pistolnya. Memang sebagian besar dari mereka tidak mengerti dengan jalan pikiran Annie itu.
"Kurasa kita tidak perlu bicara tentang kemungkinan. Siapkan saja senjata untuk melawan Dark," ujar Annie yang kembali memasukkan pistolnya. "Kita belum melihatnya bertarung secara serius."
"Eh? Apakah selama ini ia hanya main-main saja?" tanya Sasha bingung.
"Dia mempelajari teknik bertarung kita."
"Mempelajari teknik bertarung?" Jean juga sedikit bingung dengan ucapan Annie.
Memang hanya Annie satu-satunya yang mengerti sedikit taktik bertarung Dark karena ia pernah melawannya, ia tidak ingin kegagalan misinya waktu itu kembali terulang dalam misi kali ini. Ia harus belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Iya. Saat timku bertarung dengannya untuk yang terakhir kalinya, aku terkejut dengan kemampuannya yang jauh berbeda dibandingkan di awal pertarungan kami. Dia bahkan hafal kapan peluru kita sudah terisi atau sudah habis. Mengisi peluru memang memakan waktu beberapa detik dan Dark mampu memanfaatkan sekian detik itu untuk menyerang balik."
Semua terdiam mendengar penjelasan Annie. Dark yang selama ini mereka lawan belum memperlihatkan kemampuan yang sesungguhnya. Jean terdiam dan tiba-tiba ia tertawa, otomatis membuat kelima orang ini bingung.
"Ahahaha, Dark menganggap remeh kita. Keterlaluan." ujar Jean yang masih tertawa.
"Ku-kurasa itu bukan hal yang lucu, Jean." gumam Armin.
"Memang bukan. Aku akan membuatnya menyesal telah meremehkan tim kita!"
Jean tampak bersemangat untuk mengalahkan Dark, ia ingin membalaskan dendam Marco. Ia tidak terima karena Dark ia harus kehilangan sahabat baiknya itu. Annie menatap ke arah Eren dengan tatapan datar, Eren sampai terkejut melihatnya.
"Bukan hanya kami tapi kau juga harus bertarung, Eren. Jika kau tidak bisa, lebih baik kau mengundurkan diri dari misi ini." ujar Annie.
"Apa katamu?! Aku yakin Eren pasti bisa!" teriak Mikasa yang tidak terima dengan ucapan Annie.
"Tapi apa buktinya? Diantara kita semua hanya dia yang tidak memberi banyak kontribusi untuk melawan Dark." ujar Jean pedas.
Jean juga bicara tentang hal yang sama seperti Annie, ia merasa Eren tidak memberi banyak tenaga untuk melawan Dark. Ia langsung mendekati Eren dan sedikit mendorongnya hingga Eren terpojok di dekat tembok.
"Katakan Eren, apa alasanmu? Apa kau tidak ingin menangkapnya?" tanya Jean yang menatap Eren dengan tatapan tajam.
"Eh? Bu-bukan begitu." ujar Eren sedikit gugup.
"Lalu apa alasanmu? Kamu ingin merepotkan kami?"
Eren tidak tahu harus menjawab apa, apalagi Jean seperti memaksanya untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak mungkin ia bisa menjawabnya, itu artinya ia menceritakan semuanya tentang Rivaille. Ia tidak mau itu, ia berusaha menatap ke arah lain asal bukan bertatapan langsung dengan Jean.
"Lepaskan tanganmu dari Eren, Jean! Kalau kau masih seperti ini, aku tidak akan segan untuk membunuhmu." ujar Mikasa dengan raut wajah yang tajam dan penuh penekanan di tiap kata-katanya.
"Aku hanya bertanya saja. Kau tidak usah semarah itu padaku, Mikasa." ujar Jean yang sedikit menjauh dari Eren.
"Eren, kau tidak apa?" tanya Mikasa khawatir.
"Aku tidak apa." ujar Eren.
"Ku-kurasa kita hanya perlu memeriksa senjata kita kan?" ujar Sasha yang berusaha mencairkan suasana.
"Iya. Aku berharap dari kalian semua untuk bertarung. Kita tidak tahu kapan Dark akan menyerang dan kita harus siap." ujar Annie.
"Aku akan bertarung, bukan sepertinya yang hanya bisa menjadi beban." sindir Jean sambil melirik ke arah Eren.
"Sudahlah Jean. Kita semua harus fokus untuk melawan Dark dan bekerja sama. Kumohon jangan ada yang bertengkar lagi." ujar Armin.
Eren hanya diam dan Mikasa berada di sampingnya, Armin mulai menjelaskan rencananya kepada semua rekannya. Eren tahu bahwa wajar saja jika Jean bertanya atau bahkan menyindirnya seperti tadi, ia memang tidak memberikan kontribusi yang berarti dalam misi ini. Wajar saja jika Jean tidak suka dengan dirinya yang tampak membiarkan diri terombang-ambing dengan emosi dan tidak menjalankan misi dengan baik.
"Tidak apa, Eren. Mereka tidak mengerti yang sebenarnya." bisik Mikasa.
"Kurasa... begitu." gumam Eren.
Malam telah tiba dan kali ini mereka berenam akan mengintai seperti biasa. Masing-masing sudah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Mereka kembali membagi diri menjadi dua kelompok seperti biasa Armin, Eren, dan Mikasa satu kelompok sedangkan Annie dengan Jean dan Sasha.
Mereka mengawasi dua tempat yang berbeda, memang tersisa dua target yang mereka rasa akan dijadikan target Dark juga. Masing-masing dari mereka mengawasi kedua target ini dan berusaha meningkatkan kewaspadaan juga. Mereka tidak tahu kapan pertempuran yang sesungguhnya akan dimulai.
Armin, Eren dan Mikasa sedang mengawasi di atas atap dan mereka tampak serius. Eren memang berusaha fokus tapi terkadang pikirannya kembali tertuju kepada Rivaille. Ia ingat kemarin Mikasa dan Rivaille bertarung dengan sengit. Jika ia tidak menuju ke arah Rivaille saat itu kira-kira apa yang terjadi? Apakah Mikasa akan menang?
Eren menghela napas dan melirik ke arah Mikasa yang masih mengawasi, tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu. Eren tersenyum tipis ke arah Mikasa, membuat gadis berambut hitam sebahu itu bingung dan tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya dan memilih untuk memperhatikan langit.
Malam ini bulan bersinar dengan terang, bulan purnama yang terlihat indah. Manik hijau Eren tetap memandang ke arah bulan itu, memikirkan sosok sang pujaan hati. Ia hanya berharap bahwa tidak terjadi lagi pertempuran baik Rivaille dengan Mikasa atau dengan semua rekan-rekannya ini.
'Kumohon, jangan datang.' batin Eren.
.
.
.
"Cih, Eren itu terlalu lembek!" keluh Jean yang sedang memasukkan beberapa peluru ke dalam pistolnya, nada bicaranya tampak sedikit emosi.
"Kenapa Jean?" tanya Sasha.
"Kau lihat saja dia. Selama ini ia tidak pernah bertarung melawan Dark, ia selalu ketakutan dan tampak tidak ingin menyerangnya. Apa-apaan itu? Aku benci dengan orang yang besar omongannya tapi tidak bisa melawan musuh."
"Lebih baik kau diam, Jean. Dari tadi kau terus membicarakan Eren." ujar Annie yang memperhatikan ke arah jendela rumah yang ia awasi.
"Tidak! Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan." ujar Jean mengelak.
"Itu artinya kau memikirkan Eren." celetuk Sasha.
Jean terkejut mendengar ucapan Sasha itu. Untuk apa ia memikirkan pemuda berambut coklat itu? Rasanya membuang waktu saja. Ia tidak menjawab ucapan Sasha dan kembali mengawasi. Ia tidak sabar untuk bertarung dengan Dark, ia sudah menyiapkan semuanya dan berharap Dark akan datang untuk bertarung.
Tapi apakah ia bisa mengalahkannya?
Jean terkadang tidak yakin dengan dirinya dan merasa mustahil untuk mengalahkan Dark. Bukankah lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali? Jean akan mencoba yang terbaik untuk mengalahkan Dark, lagipula ia tidak sendiri. Ada rekan-rekan yang lain juga.
.
.
.
Tidak terasa waktu cepat berlalu dan sekarang sudah jam 12 tengah malam. Belum ada pergerakan yang mencurigakan dari rumah yang Armin, Eren dan Mikasa awasi. Semuanya tampak biasa-biasa saja sampai Armin melihat ada sosok berpakaian serba hitam yang tampak memasuki rumah ini.
"Itu Dark." ujar Armin.
"Eh?" Eren dan Mikasa menoleh ke arah Armin dan mereka melihat ke arah mana Armin melihat, sebuah pintu belakang yang terbuka sudah menjadi bukti bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam.
"Saatnya kita beraksi." ujar Mikasa yang langsung turun dengan melompat dan ia menuju pintu yang terbuka itu.
Armin dan Eren mengikuti langkah Mikasa dan mereka masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Mereka melangkah perlahan-lahan agar tidak menarik perhatian Dark yang sedang melakukan aksinya.
Eren tidak menyangka bahwa hari ini Rivaille akan datang untuk mencuri seperti biasa, apakah kelompoknya akan bertarung dengan Rivaille? Ia tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya lebih dalam. Ia tersadar saat langkah kaki Armin semakin menjauh dan ia tidak melihat Armin atau Mikasa di depannya, hanya ada dirinya sendiri disini.
"Armin, Mikasa." panggil Eren pelan.
Ia berusaha memanggil kedua temannya itu dan berusaha memasuki sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia terkejut melihat sosok Mikasa dan Armin disana sedang memegang pistol dan ada Rivaille disana.
'Rivaille?' batin Eren.
Rivaille sudah selesai mencuri dan ia melihat Mikasa juga Armin memergokinya yang akan pergi. Sekarang kedua anggota Recon Corps muda itu masih mengacungkan pistol pada Rivaille, Rivaille menatap mereka dengan wajah datarnya dan langsung keluar dari ruangan ini melalui jendela.
"Tunggu!" Mikasa langsung menyusulnya demikian juga Armin dan Eren.
Rivaille keluar dan sekarang ia berada di atas atap rumah ini, demikian juga Armin, Eren dan Mikasa. Armin langsung mengeluarkan senjata, ia mengarahkannya ke atas langit dan menembakkannya. Asap berwarna merah mulai terlihat di langit dan sebentar lagi Annie, Jean dan Sasha akan kemari.
"Memanggil rekan kalian yang lain ya? Aku bisa menunggu." ujar Rivaille.
"Kau meremehkan kami?!" teriak Mikasa.
Rivaille tidak membalas ucapan Mikasa dan melirik ke arah Eren, pandangan mata mereka bertemu membuat wajah Eren memerah. Mikasa mengetahui hal itu dan ia langsung mengeluarkan pistol, ia kembali mengacungkan pistolnya pada Rivaille.
"Pertarungan kita belum selesai, Dark!"
.
.
.
Annie melihat asap berwarna merah dari rumah yang diawasi oleh Armin, Eren dan Mikasa. Ia, Jean dan Sasha sudah bersiap-siap untuk bergabung dengan ketiga temannya itu. Mereka berusaha berlari secepat mungkin ke tempat itu.
"Keinginanmu terwujud, Jean. Kita kembali bertarung dengan Dark." ujar Sasha.
"Iya. Kali ini aku akan mengalahkannya!" ujar Jean.
Annie hanya terdiam dan memilih untuk terus berlari ke tempat ketiga rekan yang lain. Ia tidak bisa santai begini saja. Ia akan melumpuhkan Dark dan menangkapnya, kalau bisa langsung saja membunuhnya disana nanti.
Mereka bertiga terus berlari dan melihat Armin, Eren juga Mikasa yang sedang berhadapan dengan Dark. Mereka langsung bergabung dengan ketiga rekan lainnya, Armin dan Eren menoleh ke arah mereka.
"Syukurlah kalian datang." ujar Armin.
"Tampaknya kalian sudah lengkap." gumam Rivaille.
"Jangan banyak bicara!" teriak Mikasa.
"Dari tadi kau hanya mengancamku, Mikasa Ackerman. Kurasa kau menginginkan pertarungan ini dimulai. Akan aku berikan padamu dan kalian semua."
Rivaille menatap keenam anggota Recon Corps ini tapi matanya tertuju ke arah Eren. Ia tahu bahwa Eren tidak ingin bertarung dengannya, terbukti dari tangan Eren yang memegang pistol itu sedikit gemetaran. Kelima anggota Recon Corps yang lain sudah siap dengan pistol mereka dan menatap ke arah Rivaille dengan berbagai macam ekspresi.
"Aku tidak akan segan-segan lagi!" ujar Jean yang langsung memberikan tembakan pada Dark.
Mikasa dan yang lainnya juga menyusul untuk memberikan tembakan, berbeda dengan Eren yang masih tampak ragu untuk menembak. Tampaknya kelima temannya ini tidak main-main, mereka terus memberikan tembakan pada Rivaille. Eren yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan tangannya semakin bergetar.
'Rivaille.' batin Eren.
"Apa peluru kita mengenainya?" tanya Jean.
Ia sudah menghabiskan semua pelurunya untuk menembak dan ia hendak mengisinya tapi ia terkejut saat melihat sebuah pedang berada di dekatnya dan pedang itu mengenai bahunya. Mereka berlima terkejut melihat serangan tiba-tiba Dark, bahkan Dark sudah ada di depan mereka. Rivaille langsung mencabut pedangnya dan memotong pistol-pistol yang lain. Otomatis mereka semua terkejut melihatnya.
Jean berusaha menahan sakit dan ia mengeluarkan pisau dari dalam jasnya, ia hendak menusuk Rivaille tapi pisau itu ditendang dan wajah Jean juga termasuk korban tendangan Rivaille. Sasha mengeluarkan pistolnya yang lain dan hendak menembak tapi pistol itu ditendang oleh Rivaille dan ia menendang badan Sasha hingga gadis itu terjatuh di tempat.
"Kau!" Mikasa tampak geram melihatnya.
Annie mengeluarkan pistol yang lain dan menembak bertubi-tubi, Rivaille langsung menghindar dan sosoknya tidak terlihat. Annie merasa Dark akan muncul dan menusuknya di belakang maka ia langsung saja menembak ke belakang tanpa melihat. Tapi betapa terkejutnya saat ia menoleh ke belakang ia melihat Armin yang tertembak pelurunya, ternyata Dark menggunakan Armin sebagai pelindungnya. Dengan mudahnya ia menjatuhkan Armin ke arah Annie lalu ia menusuk lengan Annie dengan pedangnya.
"Ugh!" geram Annie yang menahan sakit.
Mikasa benar-benar kesal melihatnya, hanya satu pistol yang tersisa di dalam jasnya. Ia mengeluarkan pistol itu dan hendak menembak Rivaille tapi Rivaille menghindar dengan mudah dan langsung menendang perut Mikasa hingga Mikasa kesakitan dan terjatuh di tempat.
Rivaille berhasil melumpuhkan kelima anggota Recon Corps ini dalam waktu singkat, kekuatan yang ia miliki memang berbeda dari yang lain. Kekuatan Rivaille ketika pertama kali bertarung dengan mereka jauh berbeda dengan kekuatan yang sekarang. Eren yang melihat teman-temannya terluka tampak lemas hingga ia jatuh terduduk.
"Ti-tidak mungkin." gumam Eren.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kelima temannya itu dikalahkan oleh Rivaille. Eren merasa kemampuan Rivaille benar-benar jauh diatas mereka. Ia semakin gemetaran dan tidak berani menembak. Kekasihnya baru saja menghajar kelima temannya dan ia tidak tahu harus melakukan apa.
Membela teman-temannya atau kekasihnya? Ini pilihan yang menyulitkan bagi Eren.
"Ternyata kemampuan anggota Recon Corps hanya seperti ini? Kalian semua mengecewakanku." ujar Rivaille datar.
Rivaille menatap ke arah Eren yang jatuh terduduk, manik hijau itu terlihat menyimpan aura terkejut yang luar biasa. Meski seperti itu bagi Rivaille manik hijau Eren adalah warna yang terindah
Annie berusaha mengecek kondisi Armin, ia menghela napas lega bahwa pelurunya hanya mengenai bahu Armin. Ia bisa menyesal seumur hidup jika tanpa sengaja membunuh rekan sendiri saat bertugas, itu adalah hal yang memalukan. Ia merasa tangan kanannya yang ditusuk Dark itu sangat sakit.
"Armin kau tidak apa?" tanya Annie.
"Ah? I-iya..." gumam Armin pelan.
"Aku akan mengeluarkan peluru itu."
"Tapi tanganmu juga terluka. Ki-kita harus..."
Annie tampak mengerti dengan maksud Armin, ia tahu bahwa Armin memaksakan diri untuk bangun. Tentu saja melihat temannya dijadikan tameng untuk melindungi diri dari tembakan itu hal yang pengecut. Tapi ia tahu Dark akan melakukan segala cara untuk menghabisi musuhnya, bahkan dengan cara terlicik sekalipun.
Jean berusaha bangkit, ia hanya merasa sakit di bahu dan wajah karena ditendang. Ia merasa kalah telak jika hanya berdiam diri dan membiarkan dirinya dikalahkan. Ia berusaha mengeluarkan pisau miliknya itu. Ia melihat Sasha dan Mikasa berusaha bangun, tentu saja ditendang dengan kekuatan seperti itu membuat mereka merasa sakit.
"Sasha, Mikasa kalian tidak apa?" tanya Jean.
"Ugh, punggungku sakit sekali," gumam Sasha. "Kita harus melawannya."
"Kalian punya pistol lain lagi? Aku hanya membawa satu dan sudah dipotong olehnya. Aku akan menggunakan pisau untuk melawannya." ujar Jean yang mengeluarkan pisaunya.
Mikasa langsung bangun, ia merasa perutnya sakit karena tendangan Rivaille. Ia sendiri juga hanya membawa satu pistol. Ia berusaha mengambil pistol miliknya dan mengisi pelurunya. Sasha sendiri sudah mengambil pistolnya dan mengecek pelurunya, setidaknya masih bisa digunakan untuk beberapa kali tembakan.
"Aku masih ada pistol." ujar Sasha diiringi anggukan dari Mikasa.
Sedangkan Rivaille berjalan mendekati Eren yang hanya terdiam dengan raut wajah yang frustasi. Ia mengacungkan pedangnya ke hadapan Eren, ujung pedang itu berada di dekat leher Eren. Eren menatap wajah sang kekasih, wajah itu terlihat berbeda dari biasanya. Mata hitam itu seperti memancarkan aura yang mengerikan.
"Ri-Rivaille?" gumam Eren pelan.
"Aku berhasil mengalahkan teman-temanmu Eren," ujar Rivaille yang masih tetap pada posisinya. "Apa kau tidak ingin mengalahkanku?"
Tangan Eren tampak gemetaran dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya Eren ingin menghilang dari hadapan Rivaille, ia tidak sanggup jika harus melawan kekasihnya sendiri. Tapi ia juga tidak tega melihat teman-temannya disakiti seperti itu.
"Apa yang kau lakukan bodoh?! Tembak dia!"
Eren terkejut mendengar teriakan itu dan ia melihat Jean berteriak padanya. Sasha dan Mikasa juga menatap Eren dengan tatapan mata yang mengatakan hal serupa dengan Jean. Annie dan Armin berusaha bangun untuk mendekat dan melihat Rivaille yang mengacungkan pedang ke leher Eren.
'Aku tidak bisa.' batin Eren.
Rivaille melirik ke arah mereka berlima dengan wajahnya yang datar dan dingin, tatapan matanya seolah-olah bisa membunuh mereka. Sasha terkejut melihat raut wajah Rivaille seperti itu sedangkan Mikasa berusaha menahan amarahnya.
"Ternyata kalian masih bisa bangun lagi. Seharusnya kubuat kalian semua tewas ya." ujar Rivaille santai.
"Aku tidak akan membiarkanmu berbuat seenaknya!" teriak Mikasa yang mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille.
"Kau ingin menembakku? Maka temanmu ini akan terkena tembakanmu."
Mikasa langsung terdiam mendengar ucapan Rivaille, langsung terlintas di pikirannya saat Eren terkena peluru darinya kemarin. Mikasa benar-benar menyesal dan ia merasa Eren juga menjaga jarak darinya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menggenggam erat pistolnya dan menurunkannya. Tapi mata Mikasa menyiratkan aura kebencian pada Rivaille.
"Eren! Tembak dia! Atau aku yang akan menyerangnya!" teriak Jean emosi dan ia langsung saja melemparkan pisau ke arah Rivaille.
Rivaille tahu akan hal itu dan ia langsung menangkap pisau itu dengan satu tangannya. Ia menatap ke arah Jean dan membuang pisau itu entah kemana. Ia tidak berniat melempar kembali pisau itu ke arah Jean. Ia menatap wajah Eren dan terkejut saat melihat Eren menitikkan air mata.
"Eren..." bisik Rivaille.
Eren berusaha mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille dan mereka saling mengacungkan senjata masing-masing. Rivaille bisa melihat dengan jelas bahwa Eren sedang menangis di hadapannya, air mata yang mengalir keluar dari manik hijau itu membuat hati sang pencuri terasa tersayat. Ia tidak menyangka akan melihat pujaan hatinya menangis.
Rivaille jadi teringat kata-kata Eren yang memintanya untuk dibawa pergi. Apakah ia bisa melakukannya? Apakah ia bisa membawa Eren pergi dari kehidupan Recon Corps lalu mengajaknya hidup bersama?
"Rivaille... Aku tidak sanggup menembakmu." gumam Eren pelan.
"Tapi itu tugasmu kan?" ujar Rivaille.
Eren terdiam dan masih menitikkan air mata, rasanya sulit sekali untuk melakukan tugas ini. Rivaille menatap sang kekasih yang masih menangis, ingin rasanya ia menenangkan dan memeluknya tapi tidak untuk saat ini.
Di mata Mikasa, Armin, Annie, Sasha dan Jean kedua orang disana seperti tidak melakukan apa-apa. Mikasa tidak buta, ia tahu bahwa Eren tidak bisa menembak Rivaille. Maka dari itu ia dan Rivaille kemarin bertarung, hanya saja Eren mengganggunya dan mengakibatkan Eren celaka. Mikasa tidak ingin mengulangi tindakan seperti itu.
"Kenapa Eren tidak menembaknya?" tanya Jean yang berbisik pada Sasha.
"Mana aku tahu." ujar Sasha pelan.
Rivaille menghela napas melihat Eren yang tidak melakukan apa-apa pada dirinya, ia tahu bahwa Eren tidak sanggup melakukannya. Rivaille menarik pedangnya dan ia meninggalkan Eren sendiri, ia menatap ke arah lima orang disana.
"Kalau kalian tidak maju, aku yang akan maju."
Rivaille langsung mendekati mereka dengan kecepatan tinggi, Jean berusaha menahan serangan itu dengan pisau yang ia pegang. Sasha dan Mikasa sudah berada di sebelah kiri dan kanan Rivaille, bersiap untuk menembak. Sedangkan Annie dan Armin berada di belakang Rivalle dengan posisi siap menembak.
Memang berat bagi Jean karena ia menahan serangan pedang dengan pisau, cepat atau lambat ia tidak bisa menahan serangan Rivaille. Mikasa hendak menembak begitu juga dengan Sasha, tapi mereka terkejut saat Rivaille langsung menendang kaki mereka menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tidak ketinggalan ia langsung menghunuskan pisau itu ke bawah dengan pedang hingga pisau itu terlepas dari tangan Jean. Ia juga langsung menedang kaki Jean yang menyebabkan Jean bernasib sama seperti Mikasa dan Sasha, lalu menoleh ke belakang dan memotong pistol yang dipegang oleh Annie dan Armin.
Hanya dalam beberapa detik ia bisa menghilangkan keseimbangan mereka dan membuat mereka kesakitan di bagian kaki karena tendangannya. Annie ingin menghajar Rivaille tapi tangan kanannya masih sedikit sakit, tadi saja ia memegang pistol tangannya terasa gemetaran. Langsung saja Rivaille meninggalkan mereka dan menghampiri Eren. Ia menarik Eren ke dalam pelukannya dan langsung membawanya pergi.
"EREN!" teriak Mikasa yang melihat Eren dibawa pergi.
Eren terkejut saat Rivaille langsung menariknya dan membawanya pergi meninggalkan teman-temannya. Ia melirik ke arah Rivaille yang membawanya lari sambil memeluknya, wajah itu tampak datar. Entah kenapa wajah Eren memerah melihat Rivaille seperti ini, ia memilih untuk menundukkan saja wajahnya karena malu.
"Ri-Rivaille... Kenapa?" tanya Eren pelan.
"Kau ingin aku membawamu kan? Aku akan mengabulkannya." jawab Rivaille santai.
Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille. Membawanya? Rivaille akan membawa Eren pergi bersamanya? Jantung Eren berpacu dengan kencang memikirkan hal itu, ia tidak menyangka Rivaille membawanya pergi dengan cara seperti ini.
Bolehkah ia berharap bahwa mereka akan bersama selamanya?
Bolehkah ia berharap Rivaille akan mengajaknya untuk ke hubungan yang lebih serius?
Memikirkan hal itu membuat Eren semakin malu, ia tidak mengerti di saat seperti ini malah memikirkan yang aneh-aneh. Ia membiarkan Rivaille membawanya pergi dan tidak berniat untuk kembali pada teman-temannya. Keputusan yang egois memang tapi ia ingin bersama dengan Rivaille.
'Maafkan aku, Mikasa.' batin Eren.
.
.
.
"EREN!" Mikasa berteriak saat Eren dibawa pergi oleh Rivaille. Ia berusaha bangun meski kakinya masih sedikit sakit, ia tidak peduli. Mata hitamnya berkilat penuh amarah, ia tidak terima Rivaille membawa Eren begitu saja. "Aku akan membawa Eren kembali!"
Mikasa langsung saja berlari untuk mengejar Rivaille. Ia tidak peduli dengan semua rasa sakit yang dirasakannya, ia hanya ingin membawa Eren dengannya. Melihat Eren dibawa begitu saja oleh musuhnya itu sangat mengesalkan, rasanya ia ingin menghajar Rivaille. Tapi ia merasa kemampuan Rivaille berbeda dengan saat terakhir kali mereka bertarung.
'Mungkin Annie benar, ia mempelajari teknik bertarung kita.' batin Mikasa.
"Mikasa, jangan gegabah!" ujar Jean kencang.
Tapi Mikasa tidak menggubris Jean dan sudah pergi meninggalkan teman-temannya, di pikiran gadis itu hanya ada satu tujuan yaitu merebut Eren kembali dari Rivaille. Ia tidak peduli bagaimanapun caranya Eren harus pulang bersama dengannya.
Jean yang melihat Mikasa pergi untuk mengejar Eren merasa kesal, ia berusaha bangun untuk menyusul Mikasa. Tapi ia terkejut saat melihat Annie langsung pergi mengejar Mikasa. Sasha dan Armin juga ikut terkejut melihatnya.
"Annie?" gumam mereka bertiga.
Annie berusaha berlari untuk menyusul Mikasa yang sudah berada jauh di depannya, ia ingin membawa Mikasa kembali sebelum bertarung dengan Dark. Ia tidak mengira bahwa Dark akan membawa Eren.
'Apa tujuannya membawa Eren?' batin Annie.
"KEMBALIKAN EREN!"
Terdengar suara teriakan yang kencang, Annie sudah tahu siapa yang akan berteriak seperti itu. Ia berusaha mengejar asal suara itu dan tidak lama melihat sosok Mikasa, tampaknya Mikasa sangat serius hingga terdengar beberapa bunyi tembakan. Mikasa berusaha menembak Dark yang membawa Eren lari. Annie langsung mempercepat gerakan kakinya dan sekarang ia sudah ada disamping Mikasa.
"Mikasa, kita harus mundur." ujar Annie.
"Lalu membiarkan Eren dibawa begitu saja olehnya?! Tidak, aku akan membawa Eren pulang!" ujar Mikasa keras kepala.
"Tapi kita semua tidak mampu melawan Dark. Kau sudah melihat kemampuannya kan? Kita sudah kalah darinya hari ini. Kau harus mundur, daripada kau terluka lagi."
"Sejak kapan kau peduli denganku? Biarkan aku sendiri! Aku akan mengalahkannya!"
Mikasa tidak ingin mendengarkan Annie yang menyuruhnya untuk mundur, ia berusaha menembak Rivaille yang membawa Eren tapi saat akan menembak ternyata pelurunya sudah habis. Ia juga tidak membawa cadangan peluru lainnya, ia hanya mendengus sebal.
Tampaknya Annie tidak kehilangan akal, ia langsung saja menahan tangan Mikasa hingga langkah Mikasa terhenti. Hal itu cukup nekad karena tangan kanan Annie sedang sakit sekarang, ia menggenggam tangan Mikasa dan menatap gadis itu dengan wajah datar.
"Mundur atau kau ingin terbunuh." ujar Annie.
"Apa?" Mikasa tampak tidak suka dengan ucapan Annie, tapi ia merasa tangan gadis berambut pirang yang menahannya sedikit gemetaran.
"Kita semua akan menyelamatkan Eren jadi kau tidak usah bertarung sendiri."
"Tapi-"
"Bukan hanya kau saja yang kesal, tapi kami semua juga sama!"
Mikasa terdiam melihat Annie yang berteriak padanya, ia menghela napas dan melepaskan tangan Annie yang menggenggam tangannya. Ia memperhatikan gadis berambut pirang itu dengan wajah datar lalu pandangan matanya tertuju ke arah tangan kanan Annie.
"Kau terluka ya?" tanya Mikasa.
"Bukan hal penting, kita semua terluka. Kita harus mundur untuk saat ini." ujar Annie yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan Mikasa untuk kembali dengan rekannya.
Mikasa menatap ke arah depan, seandainya ia tidak berhenti ia pasti bisa menyusul Rivaille dan menyelamatkan Eren saat ini. Mikasa benar-benar kesal, ia tidak menyangka Rivaille akan membawa Eren begitu saja darinya. Ia menyusul Annie untuk kembali berkumpul dengan rekan-rekannya, tapi mata hitamnya tetap memancarkan aura penuh amarah.
'Aku akan mengalahkannya dan menyelamatkanmu, Eren. Kumohon bersabarlah.' batin Mikasa.
To Be Continued
A/N: Hai semuanya dan jumpa lagi di chapter ini...^^
Terima kasih kepada Kim Arlein 17, Nacchan Sakura, Earl Louisia vi Duivel, Azure'czar, LinLin mls login, Novula, Sedotan Hijau, luffy niar dan Hasegawa Nanaho yang sudah memberi review di chapter sebelumnya.
Semoga saja chapter ini masih bisa memuaskan kalian semua, aku tetap menunggu saran atau masukan lainnya lewat review dan sampai jumpa di chapter berikutnya...^^
