Permata Ungu
Summary:
Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya.
Chapter 2
.-.-.
Renji baru saja memasuki halaman depan kediaman Kuchiki ketika seorang pelayan muda tergopoh-gopoh menyambutnya.
"Tuan Abarai, Tuan Kuchiki sudah menunggumu dari tadi," katanya.
Renji menyerahkan tali kekang Zabimaru, kuda hitamnya, pada pria itu. "Baik, aku akan ke sana."
Bukannya menyeberangi halaman depan dan masuk lewat pintu utama, Renji berjalan ke samping. Taman sebelum tempat tujuannya terhampar luas bagai hutan mini. Tidak heran, batinnya, karena keluarga Kuchiki salah satu bangsawan paling berpengaruh di Seireitei.
Pagi tadi, setelah sekali lagi memperingatkan Rukia untuk tetap di rumah, dan meyakinkan keadaan sekitar rumah aman dan tenang, tanpa membuang waktu lagi pemuda itu bergegas ke Seireitei. Dia berusaha keras untuk tidak menengok ke belakang. Dia tahu Rukia memandang punggungnya, ingin ikut. Bagaimanapun Kuchiki Manor adalah rumah sesungguhnya gadis itu. Renji tidak tega mengintip mata besar Rukia, tidak sampai hati melihat emosi yang berkelebat di sana.
Renji mempercepat langkah. Dari kejauhan dilihatnya figur Byakuya. Laki-laki yang lebih tua darinya itu membawa buku di tangannya. Walau ekpresi wajahnya tampak bosan dan kaku seperti biasa, semakin mendekat Renji semakin jelas mengenali ada yang mengganggu pria itu, dari pancaran mata kelabu Byakuya.
Byakuya mengangkat kepala, berdiri dari kursinya kemudian meletakkan buku. Tanpa berkata lagi, dia berjalan ke dalam. Renji segera mengikutinya.
"Bagaimana Rukia?" tanyanya membuka percakapan.
"Sehat, tidak kurang apapun," jawab Renji cepat.
Byakuya terus berjalan. Bagi yang belum pernah memasuki rumah megah itu, ruang dan lorong yang ada bagai labirin karena terlalu luasnya. Selasar dan kamar seakan tidak ada ujungnya.
Di rumah sebesar itu bertebaran potret leluhur Byakuya. Entah mulai dari nenek moyang yang keberapa, semuanya terpajang. Tapi, hanya sampai pada lukisan Byakuya, menunjukkan pria itu sebagai keturunan terakhir sejauh ini.
Benarkah begitu, pikir Renji sedih.
Di sepanjang selasar dan di ruang yang memang diperuntukkan untuk tamu yang siapapun bisa berada, tidak ada gambar atau tanda-tanda ada Kuchiki lain selain Byakuya.
Ketika akhirnya mereka memasuki kamar khusus yang sudah familiar bagi Renji, Byakuya berbalik menghadapnya. "Tidak adakah gerak-gerik mencurigakan yang belakangan terjadi?"
Renji menggeleng. "Semuanya senormal yang memang kita harapkan. Tidak ada apapun yang terjadi, sampai saat ini."
Byakuya duduk di salah satu kursi. Bukannya menghempaskan diri di seberang Byakuya, Renji malah berjalan ke tengah kamar. Dinding di hadapannya tidak seperti di bagian dinding lain yang diberi rak atau ditempati ornamen yang harganya luar biasa.
Di dinding itu terdapat sebuah lukisan besar. Wanita di dalam lukisan itu berambut hitam, warna matanya violet. Wajahnya teduh dan tampak baik hati. Beberapa helai rambutnya jatuh ke keningnya. Sepintas seperti gambar Rukia, tapi kedua pria itu tahu, wanita itu bukan Rukia.
Setelah menarik napas dalam-dalam Renji beralih ke dinding seberang. Kali ini lukisan yang tidak kalah besar dari lukisan pertama terpasang kokoh, menempel di sana. Seorang gadis tersenyum, rambut sebahunya hitam legam, dan matanya ungu cemerlang. Walau bak pinang dibelah dua, gadis itu tampak lebih hidup, gairah hidup terpancar kuat meski hanya dalam lukisan.
Itulah lukisan Rukia.
Hanya satu-satunya yang terpampang di kediaman itu. Hanya di ruang itu.
"Kau sedang memandang lukisan termahal yang pernah ada, Renji," kata Byakuya datar, namun ada geli terselip di balik nada suaranya.
"Eh?" Renji menoleh, seperti terbangun dari hipnotis yang menguar dari potret Rukia.
"Tidak ada lagi potret Rukia selain yang kau pandang saat ini," lanjut Byakuya. "Dan tingkat kerahasiaannya mengukuhkan posisinya sebagai potret paling langka, membuatnya termahal."
Renji tidak bisa menebak apakah Byakuya serius atau bergurau. Tapi, pernahkah bangsawan itu bercanda? Salju bisa turun saat itu juga.
Hanya di kamar yang tidak sembarang orang boleh memasukinya inilah ada bukti nyata bahwa ada garis keturunan Kuchiki setelah Byakuya.
"Tiap hari kau melihat adikku, aneh sekali jika reaksimu selalu sama setiap memandang potretnya," gumam Byakuya.
"Rasanya berbeda, melihat orangnya langsung dengan melihat lukisannya saja," sahut Renji sambil menyeret kakinya ke hadapan Byakuya dan duduk. "Kenapa kau memanggilku mendadak?" Tidak biasanya Byakuya memerintahkan kurir untuk menyuruhnya ke kediaman Kuchiki.
Ekspresi Byakuya tidak lagi dingin. Sekelebat kecemasan melintas di wajah tampannya. "Kemarin aku berpapasan dengan Aizen sewaktu aku di rumah Yamamoto." Renji terbelalak kaget. "Dia orang terakhir yang ingin kutemui," Byakuya sedikit mengerang.
Alis Renji berkerut. "Bukan berarti dia tahu keberadaan Rukia, bukan?"
Byakuya menahan keinginan untuk mengurut keningnya. "Aku tidak tahu," akunya. "Yang menjengkelkan, dia melempar senyum mengejek padaku. Seperti mencemoh." Wajahnya terlihat sedikit frustasi.
Byakuya pria yang kuat. Dia hampir tidak bereaksi terhadap tindakan paling drastis sekalipun, tidak terkejut dengan berita terburuk yang mampir ke telinganya. Kenyataan mencengangkan, yang hanya diketahui Renji, Rukialah yang bisa memporakporandakan ketenangan laki-laki itu.
"Dari dulu aku sudah mendengar kelihaian Aizen," lanjut Byakuya. "Yang tercerdas daripada para pendahulunya. Hueco Mundo semakin makmur sejak kepemimpinannya. Melihat senyum mengejeknya aku jadi khawatir terhadap Rukia," ujar Byakuya masam. Tanpa sadar jari-jari panjang dan elegannya mengetuk meja.
"Dan yang selalu kudengar kaulah yang terkuat di klan Kuchiki," sahut Renji menimpali. "Tuan Byakuya, kurasa tidak ada yang perlu kau cemaskan. Belum tentu Aizen tahu tentang perjanjian itu," kata Renji berusaha menghibur.
"Perjanjian kuno itu..." Byakuya menatap kedua potret besar itu silih berganti. Matanya menerawang jauh.
"Sudah lebih dari seratus tahun berlalu," potong Renji. "Mungkin sudah dilupakan, seperti katamu."
Byakuya mengalihkan tatapannya. Orang-orang mengenalnya sebagai pria ningrat tanpa ekspresi, dingin dan tidak berperasaan. Berbagai desas desus dan gosip tentang Byakuya laris bak kacang goreng di kalangan wanita Seireitei. Tapi Renji tahu, semua selentingan tak bertanggung jawab itu hanyalah isapan jempol. Dibalik penampilan laki-laki tangguh yang selalu diperlihatkan Byakuya, ada banyak hal yang hanya ditampilkannya pada orang-orang yang dipercayainya. Byakuya bukan orang yang mengumbar emosi yang dirasakannya, namun di hadapan beberapa orang, dia membiarkan mereka melihat sisi lain dirinya. Seperti yang terjadi sekarang.
"Kau sudah sangat berhati-hati. Yang mengetahui Rukia bahkan bisa dihitung dengan jari. Kemungkinan Aizen tahu tentangnya sama besarnya dengan kemungkinan kau akan menikah dalam waktu dekat," Renji menyuarakan analisanya pelan-pelan.
Byakuya mendengus, hampir tertawa. "Berarti tidak mungkin, bukan?" balasnya muram. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur.
Merasakan aura Byakuya sedikit rileks, Renji tidak bisa menahan seringainya. "Bahkan Rukia sudah diungsikan dari rumah ini sesaat setelah dia dilahirkan. Tidak ada bukti lain tentangnya selain yang ada di ruangan ini," ujar Renji tenang. "Dan lagi, ada aku dan Shirayuki."
Byakuya tahu mereka orang yang tepat untuk menjaga adiknya yang berharga. Sering hati kecilnya miris mengingat keputusan terberat yang dahulu diambil untuk merahasiakan keberadaan Rukia: menjauhkannya dari rumahnya sendiri. Namun tidak terlalu jauh, sengaja dipilih di Karakura dengan berbagai pertimbangan. Tempat itu hawanya tidak terlalu ekstrim, cuacanya cocok untuk siapa saja, tidak terlalu panas atau dingin. Selain itu, jaraknya tidak terlalu jauh, memudahkan Byakuya memantau perkembangan atau keadaan adiknya.
Byakuya melirik dua lukisan di seberang. "Terakhir keluarga Aizen meributkan keturunan Kuchiki cuma sampai generasi kakekku. Setelah itu mereka bahkan tidak pernah menghubungi ataupun membahasnya lagi. Tapi Sousuke Aizen menimbulkan rasa khawatir," kata Byakuya. Awan kelabu menggelayuti mata gelapnya. Apalagi, Rukia adalah anak perempuan pertama yang lahir setelah lebih dari seratus tahun lalu.
"Kenapa? Karena dia pria cerdik?" tanya Renji, tidak bisa menahan diri.
Byakuya mengulang pendapatnya tentang Aizen. "Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Tidak pernah mengobrol banyak selain bertukar salam sebagai bentuk formalitas," jawabnya.
"Sayang aku tidak pernah melihatnya," sesal Renji.
"Dia berpembawaan tenang, kalem. Tapi sorot matanya memancarkan kepintarannya, penuh kalkulasi," jelas Byakuya. Belum lagi orang-orang di belakang Aizen, sama sekali tidak bisa diremehkan. Aizen didukung orang-orang pilihan dengan tingkat kemampuan diatas rata-rata.
Selama ini, setelah menempatkan Rukia di Karakura, Byakuya tidak lantas merasa puas dan berbangga diri. Dia mencari informasi tentang keturunan Aizen. Kepala keluarga yang sekarang usianya lebih tua daripadanya. Nalurinya mengatakan Sousuke Aizen jauh lebih berbahaya daripada sekedar pria kharismatik yang ditunjukkannya pada khalayak. Byakuya tidak bisa tenang.
"Renji, perketat kewaspadaanmu. Kalau ada tindak tanduk mencurigakan dari luar, segera ambil keputusan," kata Byakuya akhirnya. Suaranya penuh autoritas dan wibawa.
"Permintaanmu adalah perintah mutlak, akan kulaksanakan dengan segala resiko," balas Renji sembari menunduk khidmat.
Renji tidak main-main dengan ucapannya. Bagi pria itu, titah Byakuya adalah hal terpenting. Bangsawan itulah yang memungutnya dari jalanan. Bertahun-tahun lalu Renji tak lebih dari seorang anak kecil kelaparan, lusuh, kurus, dan kumal. Tak punya apapun selain baju yang melekat di badan dan daki di kulit. Nasibnya berubah semenjak Byakuya mengambilnya, mengubah statusnya, bukan lagi sebagai anak jalanan. Byakuya memberinya makan dan tempat tinggal. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Renji. Padahal, saat itu Byakuya masih muda.
Byakuya mendidiknya, memberinya pendidikan dan ilmu beladiri. "Aku ingin kau menemani adikku," kata Byakuya memberi alasan. Akhirnya Renji kecil diperkenalkan pada Rukia. Di sela-sela waktu luangnya dia belajar.
Renji Abarai tumbuh menjadi pemuda beradab. Dia tahu balas budi. Figur Byakuya menjadi sosok terpenting baginya. Apapun yang diminta Byakuya, tanpa ragu dia akan melaksanakan sabda tersebut.
Tanpa sepengetahuan Renji, Byakuya menyelidiki profilnya. Renji adalah orang kepercayaannya, second-in-command. Meski dari luar ia tampak seperti pemuda tinggi besar dan kasar, dia pria berpendirian teguh. Dan polos, tambah Byakuya dalam hati. Dia percaya Renji tidak akan berbuat macam-macam pada Rukia.
"Tentu," ujar Byakuya, membuat Renji mengangkat kepala. "Kupercayakan adikku padamu."
.-.-.
TBC
