Warning : mengandung unsur OOC, EYD ( Ejaan Yang Disemrawutkan) dan siluman siluman perfanfiksian sejenisnya.

*SUICCHON*

"Sepucuk Surat Untuk Calon Bapak Mertua"

.

.

.

"Sedang apa?" lelaki yang baru membuka kancing kemejanya satu persatu itu bertanya. Menginterupsi kegiatan lelaki satunya yang termenung di depan laptopnya.

"Nulis surat. Ikutan lo kek pas tadi pagi." Jawab lelaki merah hitam yang sedang berkutat dengan laptopnya.

"Key. Gue mandi deh."

"Hm…"

Lelaki berambut biru yang sudah bertelanjang dada sepenuhnya menyambar handuk merah yang tergantung, beranjak ke kamar mandi sebelum berhenti dan menoleh.

"Gue mandi enggak lama kok."

"Ya terus?"

"Kelar mandi gue mau lo dah 'siap', taiga."

Sebuah cengiran penuh arti dan pintu yang menutup dengan suara keras.

.

.

.

Selamat malam.

Sebelumnya saya minta maaf apabila mengganggu waktu bapak yang berharga malam ini. Saya hanya ingin meminta waktu bapak sejenak untuk mendengarkan saya.

Sekali lagi saya minta maaf apabila kata kata yang saya tulis ini nanti akan terasa begitu kaku, tabu, janggal, bahkan akan menyinggung hati bapak.

Saya juga minta maaf apabila hal yang saya yakini benar adanya dan saya percayai, masih terasa janggal bagi bapak.

Ijinkan saya menjadi laki laki terbaik untuk putra bapak.

Biarkan sejenak saya menarik nafas, seraya mengumpulkan keberanian.

Pak, sudah hampir sewindu kami saling mengenal. Saling memahami satu sama lain, melengkapi kekurangan kekurangan kami serta menjadikan satu simpul mati apa yang tidak dapat kami persamakan.

Sudah sewindu pulalah , saya terus mengumpulkan keberanian mengatakan hal ini pada bapak. Berusaha mencari kesempatan untuk mengikrarkan hubungan kami berdua. Berusaha mencari waktu yang tepat sembari hati saya siap untuk mengatakannya.

Tapi saya terlalu pengecut untuk mengakui bahwa cinta dalam wujud istimewa tumbuh dalam hati kami berdua. Seperti masih ada dinding tinggi yang tak bisa saya tembus maupun saya panjat untuk mengatakan hal yang bagi bapak akan terasa tabu. Ini tidak akan mudah, pak.

Anak kesayangan bapak sudah memilih saya sebagai calon pendamping hidupnya. Saya mengerti kalau bapak belum paham alasannya. Saya sendiri juga sampai sekarang tak menemukan jawaban mengapa hati saya berlabuh pada anak bapak. Namun, saya bukan musuh bapak. Saya tidak hadir dalam kehidupan anak bapak untuk menggantikan keberadaan bapak di hatinya. Saya tak akan mampu.

Saya tidak hadir dalam hari dan hati anak bapak untuk merebutnya dari kehidupan bapak. Saya hadir untuk ada di sisinya. Saya hadir untuk memahami bagaimana setiap sifat anak bapak sering membuat saya sadar betapa bapak sudah mendidiknya menjadi lelaki sempurna dan dicintai semua orang.

Saya sadar saya terlalu lancang kalau mengatakan anak lelaki bapak adalah lelaki yang saya pilih. Saya sadar ini terlalu tabu. Tapi kenyataan ini benar adanya.

Tak terhitung berapa kali kami memutuskan untuk berpisah. Memutuskan untuk mendindingi hubungan kami berdua menjadi hubungan wajar. Membangun tembok agar kami tetap berada di jalan yang pantas. Namun sejauh apapun langkah saya menjauhi anak bapak, ia tetaplah rumah bagi saya.

Bapak tidak perlu khawatir. Sepedih apapun kondisi kami nanti, sesusah apapun jalan yang akan kami lalui, saya akan ada di sana. Di sisi anak bapak. Mendukung serta menyokongnya saat ia terjatuh. Saya akan menjamin anak bapak tidak akan menghadapi kerasnya dunia ini sendirian. Saya akan ulurkan tangan saya ketika ia tak mampu bangkit. Saya akan berikan tubuh saya untuk memayunginya saat ia dihujani berbagai rintangan dunia ini.

Saya akan selalu ada. Agar anak bapak sadar bahwa ia tak sendirian di dunia ini. Maka dari itu, ijinkan kami berdua menumbuhkan rasa cinta kami yang sedikit berbeda ini.

Pak, mungkin bapak sedikit kaget. Lelaki yang bapak didik tak penah memperkenalkan seorang kekasih, namun tiba tiba seorang lelaki mengirimi bapak surat dan mengaku sebagai calon pendamping anak bapak.

Inilah kami yang sesungguhnya.

Kami yang jatuh cinta tanpa suara, kami yang menumbuhkan perasaan istimewa. Kami tak butuh status apapun. Semata karena status yang tak pasti hanya akan membuat perasaan kami terhadap satu sama lain menjadi dangkal. Yang saya minta, bapak cukup menerima. Karena kami berdua sama sama dewasa, sama sama mampu menjaga komitmen yang akan kami bina hingga nanti di kemudian hari

Ijinkan saya belajar dari bapak. Untuk terus bersabar dan tersenyum menghadapi apapun yang akan terjadi pada kami berdua. Untuk selalu tegar menjalani hidup yang kami tahu akan semakin sulit kedepannya nanti.

Ijinkan saya belajar dari bapak. Bagaimana saya harus bersikap dalam memahami putra bapak agar ia senantiasa nyaman berada di samping saya seperti saat ia nyaman berada di samping bapak.

Pada akhirnya, yang saya ucapkan hanyalah terimakasih.

Terimakasih sudah bersedia membaca, terimakasih sudah merestui.

Kagami Taiga, calon pendamping putramu.

.

.

.

Semalam suntuk keduanya tenggelam dalam gairah. Dalam peluh yang mengalir tanpa jeda. Membiarkan jendela terbuka membawa semilir angin malam yang sarat teka teki, membisikkan nada nada suram.

Kagami terlelap dalam peraduannya. Dalam pelukan hangat Aomine yang semalaman menciuminya. Menunjukkan betapa besar perasaannya yang sudah menyatu dengan nafsu. Memberikan Kagami cinta yang bagai tak surut diterjang masa.

Jendela terbuka, tak hanya angin malam yang membisiki misteri yang menyelundup tenang.

Namun juga satu nyawa turut serta bersama angin. Menunjukkan kilauan kilauan besi yang tertimpa cahaya sebelum merona merah berhias darah.

Satu nyawa dengan raganya menyelundup bersama angin malam. Dan satu nyawa tanpa raga dibawa pergi oleh angin malam.

.

.

.

Catatan pojok :

Errr. Yak. Singkat sekali fic ini. Tapi yowes.

Lagi lagi tanpa feel apapun. Oke fix, saya percaya kalau saya memang tidak ahli membuat angsa angsa. :v

Oiya. Ini sudah habis. Cuma dua chapter kok memang. ._.

Terimakasih yang sudah membaca, dan maaf kalau saya menyakiti hati kalian dengan fic saya ini.

Bersedia review tidak ya?

Salam untuk kalian dan sensei di luar sana kalau kau baca,

Suicchon