Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya.

A/N: Setting cerita ini zaman kontemporer, perpaduan zaman klasik dengan sedikit sentuhan modern. Seperti Kuroshitsuji, meski zaman Victorian tapi sudah ada telpon. Atau Kyou Kara Maou yang settingnya tempo baheula tapi sudah ada lensa kontak. Dalam cerita ini juga begitu. Masih ada orang berpakaian tradisional seperti kimono, yukata, hakama, tapi sudah ada yang memakai jubah dan baju biasa. Kendaraan yang lazim adalah kuda dan kereta. Tidak mungkin dong, manusia biasa bisa shunpo atau sonido. Juga belum ada helikopter, pesawat terbang, atau mobil. Bisa buyar cerita saya!

Chapter 3

.-.-.

"Psst, Renji!"

Malam sudah larut dan sepi. Pada jam segitu waktunya orang terlelap dalam buaian mimpi. Beberapa titik cahaya bersinar dari halaman rumah penduduk. Selebihnya hanya ada gelap yang pekat. Tapi Renji belum tidur. Saat itu dia berpatroli di sekeliling rumah. Kebun dan gerbang sudah diperiksanya. Ketika tidak ada gerakan yang menimbulkan curiga, dia mendekat lagi ke arah rumah. Saat itulah jendela rumah induk tiba-tiba terbuka dan sesosok kepala kecil menyembul.

Cepat Renji mencari sumber suara. "Rukia! Kenapa malam-malam begini belum tidur?" desisnya geram.

"Belum ngantuk," balas Rukia cuek. Gadis itu sudah melihat berbagai ekspresi Renji, dari yang santai, cuek sampai yang paling menyeramkan. Dia kebal dengan raut wajah Renji yang jelas-jelas tampak sebal. "Kau sendiri, kenapa di luar?" Rukia balik bertanya. Digesernya jendelanya lebih lebar. Dia berada di ruang tengah.

"Memeriksa gerbang, aku lupa sudah menguncinya atau belum," kata Renji pelan. Dia merendahkan suara sedemikian rupa, sadar kalau di malam yang gelap gulita dan sama ramainya dengan kuburan itu suara sekecil apapun bisa terdengar jelas.

Sesaat Rukia mematung. Renji menatapnya, berharap Rukia mempercayainya. Gadis itu membelakangi lampu di meja. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi sepertinya auranya sedikit pias. "Kutemani, ya," akhirnya Rukia membuka suara.

"Jangan," tolak Renji datar. "Tidak baik bagi seorang gadis malam-malam begini berada di luar rumah." Kalau Byakuya tahu, bisa gawat, batin Renji.

Rukia berkacak pinggang, jengkel. "Kau pikir baik bagi seorang pria berada di luar saat hantu bangkit dan bergentayangan?"

"Aku lain, Rukia," sanggah Renji lagi.

"Memangnya kau makhluk nocturnal?" gerutu Rukia.

Renji mengangkat bahu. Baju hitamnya berkilau ditimpa cahaya lampu yang mencuat ke luar. "Kenapa belum tidur?" ulang Renji lagi.

"Membaca buku yang kau bawakan tadi," jawab Rukia singkat.

Renji menepati janjinya, tidak menginap di Seireitei. Setelah melepas lelah, dia ke kota, mencari buah tangan untuk nonanya. Tidak mungkin dia pulang dengan tangan kosong. Byakuya menghujani Rukia dengan benda-benda super mahal, memberinya sutra terbaik, dan mengajaknya jalan-jalan ke tempat jauh. Sebagai kompensasi keputusan beratnya menjauhkan adiknya dari rumahnya sendiri. Jadi Renji membelikannya buku tentang tanaman.

Tak sabar lagi, Rukia segera memberondong sahabatnya itu dengan berbagai pertanyaan seputar permintaan kakaknya dan tujuan sebenarnya ke Seireitei. Dengan berbagai dalih Renji mengelak dan menjawab sekenanya. Untungnya Shirayuki memotong rentetan pertanyaan Rukia.

Merasa tidak enak dengan kebohongannya, Renji segera menanyakan tujuan yang ingin didatangi Rukia. Meski tidak puas, Rukia akhirnya mengerti dan menyerah. Tidak ingin membuang waktu lagi, Renji setuju untuk berangkat keesokan harinya.

"Istirahatlah Rukia, besok kita berangkat," saran Renji.

"Kau juga seharusnya sudah tidur," tandas Rukia tidak mau kalah. "Pasti kau capek, baru pulang dari Seireitei dan harus pergi lagi besoknya," lanjut Rukia.

Renji mengangkat bahu. "Tidak masalah, fisikku kuat. Buat apa badan sebesar ini kalau tidak untuk dimanfaatkan. Aku tidak ringkih," ungkap Renji menegaskan.

Rukia merenung. "Renji."

"Hmm, apa?" Renji melangkah, mendekat.

"Kepergianmu tadi, ada hubungannya denganku, ya?" tanya Rukia ragu. Dari dekat Renji bisa melihat raut sedih Rukia. Gadis itu mencengkeram bingkai bawah jendela sampai ototnya menonjol.

Renji mengibaskan tangan. "Bukan," sanggahnya langsung. "Jangan memikirkan hal yang tidak perlu mendapat tempat di kepalamu. Nanti badanmu benar-benar tanpa daging kalau masih memaksa memeras otak mencemaskan yang tidak terjadi," kata Renji, menenangkan nonanya.

Rukia tahu ada alasan dibalik keputusan Byakuya mengirimnya ke Karakura. Kakaknya itu memberi pengertian jauh-jauh hari, bahwa dia tidak bisa menetap di Seireitei. Dengan sangat terpaksa Byakuya menyembunyikannya. Rukia berusaha memahami Byakuya. Dia sadar kakaknyalah yang menanggung beban sebagai kepala keluarga Kuchiki sekarang. Rukia tidak ingin menambah masalah di pundak Byakuya, jadi dia menerima kenyataan bahwa dia tidak akan tinggal di Kuchiki Manor.

Toh bukannya Rukia tidak bisa berkunjung atau pulang. Seringnya suatu ketika Byakuya akan menyuruhnya pulang, menjadi Nona Kuchiki. Waktunya tidak lama, mulai dua minggu sampai satu bulan. Kadang Byakuya mengajaknya mengunjungi beberapa tempat yang jauh. Saat itu Rukia bisa jadi dirinya sendiri, tidak usah pakai topi atau mengecat rambutnya.

Shirayuki senang sekali mendandani Rukia. Wanita itu sadar Rukia bisa bosan memakai topi lebar terus-terusan, maka dia muncul dengan alternatif lain. Mengecat rambut Rukia. Suatu waktu berwarna merah, kadang pirang atau biru. Rukia curiga kalau sebenarnya wanita itu menjadikannya manekin hidup, yang tentu saja disanggah habis-habisan. Omong kosong kalau Shirayuki menjadikannya model, bantahnya. Ketika dirasa mengecat rambut terlalu ribet, Shirayuki mendapat wangsit lagi, memakaikan wig warna-warni menutupi rambut asli Rukia. Meski dongkol setengah mati, Rukia setuju saja, asal dia tidak usah memakai lensa kontak. Matanya tetap berwarna asli, tapi rambutnya berganti warna dan model. Rukia cuma bisa mengelus dada ratanya dan menghela napas.

"Iya deh," pelan Rukia menutup jendela.

Renji menghembuskan napas lega. Sekali lagi dia berpatroli mengelilingi rumah mereka, yang terbilang luas dengan berpetak-petak kebun sayur dan bunga. Ketika bintang-bintang mulai hilang, barulah Renji masuk ke paviliunnya dan beristirahat.

.-.-.

Pagi-pagi mereka bertiga berangkat. Malam sebelumnya Shirayuki telah menyiapkan bawaan mereka. Dia dan Rukia duduk di dalam kereta dan Renji yang mengemudikan kereta. Suara tapal Zabimaru teredam rumput basah dan tanah yang lembab.

Perjalanan ke perbatasan Karakura dan bagian barat Seireitei itu memakan waktu hampir tiga jam. Rukia pernah mendengar selentingan air terjun di sana terkenal, maka dia memutuskan untuk melihat pemandangannya dengan mata kepala sendiri.

Setelah memesan penginapan, ketiga orang itu mulai jalan-jalan. Shirayuki memilih jalanan pertokoan di dekat penginapan, sedang Rukia dan Renji langsung menuju air terjun.

Jalan menuju air terjun itu menurun. Di kiri kanan berjejer pepohonan besar, di bawahnya banyak berjualan para penjual bunga, kimono, dan cendera mata. Gerbang menuju Seribu Mata Air agak curam, tapi jalan ke tempat wisata itu lebih curam lagi. Tangga yang disusun dari batu alami itu dipagari besi, beberapa batu halus menyebabkan permukaannya licin. Berkali-kali Rukia hampir terpeleset. Untungnya Renji memegang lengannya kokoh, sementara bahu lebarnya menyandang tas kecil berisi cemilan dan minuman.

"Jauh ya," kata Rukia sedikit mengeluh. "Jangan-jangan ada lebih dari seribu tangga, nih," katanya lagi. Topi kuning mudanya bergoyang-goyang, dan tangannya mencincing roknya yang juga berwarna kuning.

"Tidak apa, kan menurun," ujar Renji kalem.

"Gimana nanti naiknya, ya," lanjut Rukia lagi.

"Kita sewa kuda," balas Renji, memberi solusi. "Aku sudah tanya penjaga di atas. Di bawah sana nanti ada yang menyewakan kuda."

Rukia sudah tidak kedinginan lagi. Di sepanjang jalan terdapat pepohonan raksasa yang kelihatannya sudah tumbuh sejak zaman nenek moyangnya. Meski sejuk, rupanya tenaga ekstra yang terkuras membuat Rukia jadi hangat. Herannya, Renji sama sekali tidak berkeringat ataupun terengah-engah. Napasnya tetap teratur, tidak nampak kelelahan di wajah tegasnya. Langkahnya terayun ringan, seakan menuruni tangga itu pekerjaan biasa dan ringan.

Tapi perjuangan Rukia terbayar ketika mereka sudah sampai. Mahakarya agung Sang Pencipta terlihat menakjubkan. Entah berapa ketinggian air terjun itu. Yang pasti sangat tinggi. Kalau ada makhluk hidup yang terjatuh dari atas, bisa dipastikan dengan jelas nyawa makhluk malang tersebut bakal melayang dan rohnya ketemu nenek moyangnya.

Air di sepanjang aliran itu bening dan dingin. Bebatuan besar bertengger di bawah air terjun, sedangkan batu yang lebih kecil berserakan di sepanjang aliran air.

Renji mengocok botol minumannya. Keningnya berkerut. "Rukia, aku beli minuman dulu. Kau jangan kemana-mana, aku tidak akan lama," ucap Renji. Dia menyerahkan tas kecilnya pada Rukia.

"Baiklah, aku tunggu di batu sana."

Setelah Renji berlalu, Rukia segera menepi. Dia meletakkan tas di batu kecil di bawahnya.

Sebilah tongkat menggelinding dekat kakinya. Ketika dia menengadah, ada seorang pria dengan mata terpejam berusaha menggapai pohon terdekat dengan tangannya. Rukia menunduk lagi, segera mengambil tongkat perak itu.

"Permisi, ini milik Anda?" tanpa ragu Rukia mendekat.

Laki-laki itu menoleh ke arah suara Rukia. Badannya tinggi, kulitnya gelap. Rambutnya dikepang kecil-kecil. "Sepertinya tongkatku terjatuh," katanya ramah.

"Oh, ini," sebelum tongkat itu sampai ke tangan pria itu, Rukia sempat menangkap sebuah kata terpatri di bagian atas. Justice -keadilan.

"Terima kasih, Nona," pria itu tersenyum. Setelah meraba tongkatnya, dia mengulurkan tangan kanannya. Rukia menatapnya ragu. Sepertinya pria itu merasakan perasaan Rukia, karena kemudian dia berkata, "Dengan bersalaman, aku mendapat gambaran sosok yang bersamaku."

Tanpa berkata lagi Rukia menyambut tangan itu. "Kau kecil ya, Nona," komentarnya setelah bersalaman. "Namaku Kaname Tosen. Kau?"

"Rukia," sahut gadis itu menyebut namanya.

"Hanya Rukia?"

"Iya."

Tosen menghentakkan tongkatnya ke tanah. Ketika bersentuhan dengan batu, dia duduk. Ada perasaan aneh menjalari Rukia, seperti bertemu kawan lama. Di satu sisi ada perasaan lega yang tak bisa dijabarkan, di sisi lain ada rasa canggung yang aneh.

"Kau orang sini?" tanya Tosen lagi.

Rukia duduk berdampingan dengannya. "Tidak, aku datang dari Karakura," jawab Rukia jujur. "Anda orang sini?" Rukia bertanya balik.

"Bukan, rumahku agak jauh dari sini."

Mata Tosen tetap terpejam, tapi ketika Rukia bicara, dia mengalihkan kepalanya, memberi perhatian penuhnya.

"Apakah Anda..." Rukia bertanya ragu.

"Buta? Ya, aku tidak bisa melihat," jawab Tosen enteng, seakan kenyataan itu sama sekali tidak menyakitkan. "Tapi satu kekurangan bisa ditutupi kelebihan lain," kata Tosen, memberi informasi baru bagi Rukia. Dia meletakkan tongkat peraknya di pangkuan.

"Benarkah?" tanpa sadar Rukia menyuarakan pertanyaannya. Mata ungunya melebar.

"Hidungku lebih peka terhadap bau, pendengaranku lebih tajam. Yah, " Tosen mengedikkan kepalanya, kepang rastanya bergoyang. "Indraku yang lain membantuku bertahan," jelasnya.

Rukia terpaku. Baru kali itu dia bertemu dengan orang yang memiliki kekurangan seperti Tosen.

"Kau datang dari Karakura?" tanya Tosen ulang. "Bersama siapa ke sini?"

"Temanku," jawab Rukia cepat.

Tosen mengetuk tongkatnya pelan. "Kapan-kapan kau harus datang ke tempatku, Nona. Hawanya lebih dingin, pemandangannya jauh lebih indah –kata teman terpercayaku-."

Rukia tersenyum.

Mendadak tubuh Tosen menegang. "Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, aku berharap ngobrol lebih lama denganmu. Sayang sekali," pria berkulit gelap itu bangkit, tongkat di depannya.

"Hati-hati, tempat ini tidak rata," sambil bangkit, gadis itu memperingatkan.

Tosen tidak gentar. "Tempatku malah jauh lebih terjal daripada sini," katanya menutup pembicaraan. Setelah melambaikan tangan dia berlalu.

Rukia baru ingat dia tidak menanyakan asal Tosen. Sembari membetulkan topinya, Rukia kembali ke batu tadi. Tempatnya agak menepi, terlindung dari matahari dan rindang oleh pepohonan. Tiba-tiba sekelebatan oranye menyapu pandangannya.

Rukia terkesima. Kemudian berteriak.

.-.-.

Langkah panjang Renji cekatan melintasi kerikil, bebatuan dan tangga lebar. Pemuda itu membawa dua botol minuman di tangan. Mendengar teriakan tertahan Rukia dia berlari. Degup jantungnya bertalu-talu di telinga.

Dilihatnya nonanya terbelalak menatap seorang pemuda berambut oranye di depannya.

Si pemuda malah mengacungkan tangan, matanya antara takjub dan heran. Sambil jarinya menunjuk Rukia, mata kecilnya tidak berkedip.

"Pixie!" serunya keras.

.-.-.

TBC

A/N: Saya baru sadar kalau jalan-jalan di fic saya selalu berhubungan dengan alam. Kalau saya sendiri yang dolan sih, paling ke toko buku atau tempat berburu buku bekas. Tapi ketika bersama keluarga atau teman lain, pasti tujuannya air terjun, waduk, candi, peninggalan tempat raja, pantai. Jadi, referensi saya ya tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Seperti chapter ini, suasananya saya gambarkan yang di Grojogan Sewu, minus monyetnya.