NARUTO © Masashi Kishimoto
LOVE IS © Evellyn Ayuzawa
Title: Love Is [Chapter 3]
Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)
Genre: Romance, Hurt, Drama
Length: Chaptered
Rated: M (for Mature Content)
Cast:
Sasuke U. x Sakura H. x Shikamaru N.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Pada chapter ini akan ada scene dewasanya, jadi bagi siapapun yang merasa di bawah umur atau tidak suka baca lemon tenang saja... nanti akan ada tanda ini *NO CHILD/18+*
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
.
.
.
.
.
Sakura Pov.
Dan sekarang di sinilah kami berada.
Duduk di atas kelopak-kelopak mawar namun sebenarnya kami berada di atas ranjang yang empuk dan nyaman.
Aku sangat bingung harus berbuat apa. Suasana menjadi sangat canggung. Bahkan sedari tadi Sasuke juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hening yang luar biasa sangat terasa.
"Sasuke...," satu kata untuk memecahkan keheningan ini.
Sasuke yang semula memunggungiku kini berbalik dan menatapku.
Sebelum meneruskan perkataanku, tiba-tiba saja Ia berdiri dari tempatnya lalu berjalan dengan cepat ke arahku.
Begitu sampai dihadapanku, ia langsung memelukku. Aku sedikit tersentak akan apa yang dilakukan olehnya.
APA?! SECEPAT INIKAH AKU DITERKAMNYA?
"Euugghh... Sasuke, apa yang kau lakukan?" Aku mencoba memberontak agar terlepas dari pelukannya itu.
Ia melonggarkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya pada wajahku.
Dapat kurasakan kini hembusan nafas beratnya di wajahku.
Oke, aku sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
Ku pejamkan mataku dan kini aku merasakan bibirnya melekat di permukaan bibirku.
Ia mulai dengan lumatan-lumatan yang ringan, saling bertukar perasaan yang disertai dengan saliva dari masing-masing bibir.
Seperti ada yang mendidih di dalam perutku karena merasakan lumatan ringan dari Sasuke di bibirku.
Setelah beberapa saat, Ia mulai mempererat pelukannya di punggungku dan semakin memperdalam lumatannya. Kurasakan tangan kanannya mengelus punggungku.
"Eeeuungghh...," Lenguhan pelan berhasil keluar dari mulutku.
Sasuke melepaskan tautan bibir kami. Ia menatapku tepat di manik mataku dengan lembut yang diselingi dengan senyumannya.
Jempol tangan kanannya mengusap pelan sisa saliva di bibirku. Wajahku sudah sangat memerah, aku merasa malu sekaligus bingung harus berbuat apa.
"Apa aku membuatmu marah?" Tanya Sasuke yang kini membaringkan tubuhnya di belakangku dan memeluk pinggangku dengan satu tangannya.
Aku menggelengkan pelan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.
Ia menanggapi gelengan kepalaku dengan menarik tubuhku dan mendekapku agar berbaring di pelukannya.
"Maaf, aku sudah lancang menciummu." Sasuke semakin mempererat pelukannya padaku.
"Tidak apa-apa." Kini aku membalas pelukannya dan sama-sama mempererat pelukan kami.
"Aishiteru," Ucap Sasuke yang setelahnya diikuti dengan kecupan ringan di keningku.
"Apa kau bersedia menungguku sampai aku dapat menjawabnya?" Tanyaku tanpa menatapnya.
Sasuke mengeratkan kembali pelukannya padaku lalu mencium keningku sebentar dan berujar, "Aku bersedia, karena mulai sekarang, nanti dan selamanya kau adalah milikku."
Sejenak kami saling pandang sampai salah satu dari kami mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir kami yang saling bertautan kembali.
Merasakan sensasi-sensasi dalam sentuhan-sentuhan yang mampu membuat jantungku berdegup kencang dan juga tubuhku bereaksi.
.
.
.
.
.
Normal Pov.
*NO CHILD/18+*
Kain-kain yang pada mulanya melekat di kulit mulai terlepas satu per satu.
Dua insan yang kini sah menjadi pasangan suami istri itupun mulai melanjutkan aktivitas mereka di atas ranjang.
Yang mulanya si pria bermain dengan halus kini mulai mengeluarkan sisi kasarnya dalam kegiatan mereka.
Ia mulai merobek dan melepas paksa apa saja yang melekat pada tubuh istrinya.
"Sasuke... sakit," Ucap Sakura yang menyadarkan akan tindakan Sasuke yang berlebihan yang seolah akan memangsa gadis itu.
Sasuke menyadari bahwa Ia terlalu erat menekan tubuh gadis itu agar menyatu pada tubuhnya.
"Maaf, sayang." Dengan lembut Sasuke membelai kepala Sakura lalu mengecup pelan kening gadis itu.
Sakura hanya mengangguk menjawab perkataan Sasuke dan tersenyum sebentar, karena kini Sasuke kembali menempelkan bibirnya pada bibir gadis yang kini berada dibawah tubuhnya.
"Eunggghhh... ahhh...," desahan demi desahan keluar begitu saja dari bibir gadis itu saat kedua tubuh itu bersatu.
Sasuke hanya tersenyum melihat wajah istrinya itu yang terlihat sedikit kesakitan namun juga terlihat menikmati permainan mereka.
Hal itu membuatnya tak hanya terfokus dalam menggerakkan pinggulnya namun ia juga memfokuskan dalam mencapai puncak kenikmatan bersama.
.
.
.
.
Ini sudah jam 4 pagi dan mereka berdua belum juga mengakhiri permainan mereka dari tadi malam.
Kini tempat mereka melakukannya tidak lagi di dalam kamar melainkan di sofa ruang tamu. Hal ini sudah terhitung tempat ke-empat mereka dalam melakukannya dari yang semula di dalam kamar berpindah ke dalam bath up lalu menuju dapur dan kini di sofa ruang tamu apartemen mereka.
"Ahhh... hahhh... hhaahhh...," deru nafas yang terengah-engah dari keduanya yang kelihatannya sebentar lagi akan mencapai titik kenikmatan untuk yang kesekian kalinya.
Sasuke semakin mempercepat gerakannya. Nafasnya juga semakin terengah-engah, begitu juga dengan Sakura yang seluruh tubuhnya bergerak mengikuti gerakan suaminya.
Nafasnya juga sama terengah-engah, Ia sedikit meringis dan terlihat menahan sakit dari Sasuke yang mempercepat gerakannya.
"Ahhh... aahhhh... Sasuke... Sasuke... sakit," Sakura terlihat menahan sakit sedangkan orang yang dikeluhi tidak merespon dan tetap mempercepat gerakannya.
"Ahhhh... hhhaaa... hhhhhhaaaaaaaahhh...," suara lenguhan lega terdengar dari kedua bibir yang kini tengah mencapai kenikmatan bersama.
Sasuke membaringkan tubuhnya di samping Sakura yang kini sudah terkulai lemah, yang sebelumnya Ia sempatkan untuk melepaskan tautan tubuh mereka.
Sasuke menarik kain seadanya yang kebetulan berada di dekatnya yang sekiranya dapat dipakai untuk menutupi tubuh mereka berdua yang polos tanpa sehelai benang.
Ia menutupi tubuhnya juga tubuh istrinya yang terlihat sudah tertidur pulas.
Sasuke mengangkat kepala Sakura lalu menjadikan lengannya sebagai penyangga untuk kepala istrinya itu, karena Ia tahu kalau di sofa ini tidak ada bantalnya.
Sasuke tersenyum lembut melihat wajah tenang istrinya yang tertidur pulas. Nafasnya juga sudah mulai tenang.
Ia membelai lembut surai lurus milik istrinya lalu mencium kening istrinya lagi.
Entah mengapa Ia tanpa sadar sudah berulang kali melakukan hal itu.
Jantung Sasuke seketika berdetak dengan kencang saat Ia tak sengaja melihat mata istrinya yang kini tengah Ia tatap itu terbuka dan mengerjap beberapa kali dan balik menatapnya.
Sasuke tersenyum penuh kelembutan tanpa mengalihkan tatapannya dari mata sang istri.
Dengan gerakan lambat, Sakura mendekatkan wajahnya pada Sasuke lalu mengecup lembut bibir pria itu lalu tersenyum.
"Aishhh... aku lelah, jangan menggodaku." Sasuke berpura-pura kesal namun tetap tersenyum.
"Sasu-kun, apa aku akan hamil?" Dengan polosnya Sakura bertanya hal yang seharusnya Ia tahu jawabannya tanpa harus menanyakannya.
"Hmm... aku harap begitu. Memangnya kenapa?" Jawab Sasuke dengan suara lembut.
"Kapan aku bisa mengetahui kalau aku hamil?"
"Emm... mungkin sekitar 3 minggu ke depan," Jawab Sasuke lagi-lagi dengan lembut.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Sakura tak mengerti.
"Itu semua butuh proses, sayang. Semuanya butuh perjuangan. Kau harus bersabar sebentar, seperti halnya diriku yang butuh perjuangan dan penantian agar dapat memilikimu seperti sekarang ini."
"Hmm, aku takut." Sakura menunduk dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sasuke.
"Kenapa? Apa yang kau takutkan, sayang?"
"Aku takut jika aku memiliki bayi aku tidak dapat menjadi ibu yang baik." Sakura tetap menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sasuke.
"Aku juga takut. Tapi kita akan memulainya dari awal, bersama." Sasuke mendongakkan wajah Sakura lalu mencium bibirnya sekilas.
"Janji?" Sakura menyodorkan jari kelingkingnya pada Sasuke agar pria itu menyahutnya.
"Janji." Sasuke menautkan kelingkingnya pada jari kelingking lentik milik istrinya.
Mereka tersenyum dan kembali terlihat gembira.
Mereka mulai memejamkan mata masing-masing padahal matahari sudah berada pada singgasananya.
Namun, tak lama mereka memejamkan mata, suara bel berbunyi tanda ada tamu.
Sasuke mengalah untuk menuju pintu. Sebelumnya Ia memakai dulu pakaiannya walaupun hanya dengan atasan kaus dalam berwarna putih.
Sakura tetap Ia biarkan berbaring di sofa ruang tamu karena Ia tidak sempat memindahkan Sakura sebab bel apartemennya berkali-kali dibunyikan tak sabaran.
Sasuke melihat layar intercom untuk mengetahui tamu yang dengan seenaknya bertamu di apartemennya.
Seingatnya Ia belum memberitahukan alamatnya yang baru pada saudara ataupun teman-temannya. Yang tahu tentang alamatnya ini hanya orang tuanya dan juga mertuanya saja.
Sasuke sedikit kesal karena tidak ada orang yang terlihat di layar.
Hanya tembok di depan apartemennya saja yang terlihat di layar. Namun, yang membuat heran yaitu bel apartemennya masih tetap berbunyi berkali-kali.
Sasuke semakin kesal dan dengan tidak sabaran Ia membuka pintu untuk menghajar siapa saja yang berbuat jahil.
"SIAPA?!" Teriak Sasuke dengan wajah marah.
"Dimana Sakura?" Sungguh kaget bukan main Sasuke dibuat oleh lelaki yang bertanya itu.
Butuh beberapa detik sampai Sasuke tersadar dari lamunannya lalu segera mengatur emosinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sasuke pada orang itu dengan suara yang tenang.
"Bukan urusanmu! Dimana dia?!" lelaki itu tetap menanyakan dimana Sakura tanpa menjawab pertanyaan Sasuke.
Sasuke tersenyum meremehkan atau lebih tepatnya ia menyeringai pada lelaki itu.
Ia membuka jalan untuk lelaki itu dan dengan segera lelaki itu tanpa izin langsung masuk ke dalam apartemen Sasuke.
Baru beberapa langkah lelaki itu berjalan menuju dalam apartemen itu Ia sudah diam seperti patung.
Matanya membelalak lebar melihat tubuh mungil wanita yang Ia tanyakan keberadaannya tadi tengah tertidur dengan posisi miring di sofa yang tubuhnya hanya tertutupi kain putih tipis dan hanya menutupi tubuhnya itu sebatas dada sampai paha saja.
"Saku... ra...,"
Sakura yang tidak sepenuhnya tertidur mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
Mata wanita itu mengerjap lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Karena jarak diantara mereka cukup jauh dan karena Sakura masih merasa mengantuk, Iapun segera membenarkan posisinya yang semula masih berbaring miring kini Ia bangun dan mengambil posisi duduk.
Betapa terkejutnya Ia melihat siapa yang memanggil namanya tadi, sama seperti lelaki itu yang juga terkejut melihatnya.
Lelaki yang sangat Ia kenal bertahun-tahun.
Lelaki yang selalu bersamanya dalam waktu yang cukup lama.
Lelaki yang ada disaat Ia membutuhkannya.
Dan juga lelaki yang tiba-tiba saja menghilang karenanya.
"Shi... ka...,"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N: Assalamu'alaikum... gak apa ya aku salam walaupun bikin FF lemon *hehee*
FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Sehun EXO, Kris EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada nama yang salah, itu semata-mata kelalaian saya.
Karena di FFn saya baru, boleh dong minta kritik dan saran dari senpai dan reader semua! Maaf ya belum bisa bales review kalian –saya tidak sempat. Sekian dan terima kasih, Wassalamu'alaikum.
