Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Mikasa dan Annie kembali ke tempat semula, mereka melihat ketiga teman mereka yang hanya bisa terdiam. Sepertinya Armin, Jean dan Sasha tahu apa hasil dari kedatangan dua gadis itu, mereka kehilangan Eren yang telah dibawa lari oleh Dark. Armin berusaha menjaga emosi Mikasa, ia tahu sahabatnya itu sedang kesal. Ia melirik ke arah Annie dan mendekatinya.

"Bagaimana dengan Eren?" tanya Armin.

"Aku meminta Mikasa untuk mundur, kita tidak mungkin bertarung dengan Dark dalam kondisi seperti ini. Jika kita memaksa, peluang kalah kita akan semakin besar." ujar Annie.

Armin dan Sasha mengangguk setuju berbeda dengan Mikasa yang sesekali tampak tidak suka dan Jean terdiam. Masing-masing dari mereka tampak larut dengan pikiran masing-masing, entah apa yang dipikirkan. Tapi Mikasa tampak geram karena tidak bisa menyelamatkan Eren, ia menghela napas dan menatap Annie tajam.

"Aku tidak ingin kau menghentikanku untuk mencari Eren esok hari." ujar Mikasa dingin.

"Salah sendiri Eren lemah." ujar Jean menyindir.

"Apa maksudmu, Jean?"

"Iya. Dia tidak pernah melawan Dark satu kalipun, ia selalu terluka dan hanya bisa diam melihat kita semua bertarung dengannya. Apa itu jiwa pria yang ia miliki? Lemah sekali."

Tanpa basa-basi lagi Mikasa langsung saja meninju pipi Jean hingga pemuda itu sedikit mundur, Armin dan Sasha tekejut melihat Mikasa yang seperti itu. Mereka berdua langsung menahan tangan Mikasa agar tidak meninju Jean lagi.

"Apa maksudmu, hah? Kau menganggap Eren lemah?!" tanya Mikasa geram.

"Iya! Dia tidak melakukan misi dengan benar dan hanya bisa melihat kita bertarung lalu membiarkan kita terluka. Itu yang namanya anggota Recon Corps? Bukan! Dia hanyalah anak lemah saja."

Mikasa benar-benar geram mendengar ucapan Jean, rasanya ia ingin menghajar pemuda itu hingga tewas jika perlu. Ia tidak peduli meski Jean adalah teman satu tim mereka, siapa saja yang berani menghina Eren di hadapannya maka Mikasa akan menghajar orang itu. Armin dan Sasha tetap menahan tangan Mikasa.

"Lagi-lagi Eren. Apa kau tidak bisa berhenti memikirkannya dan melihat sekitarmu? Biarkan saja dia dibawa oleh Dark."

Mikasa langsung menatap Jean dengan kesal dan berusaha mendekati pemuda itu. Sasha dan Armin masih menahan tangan Mikasa, tapi Mikasa berhasil melepaskannya dan berjalan mendekati pemuda itu. Ia menunjuk wajah Jean dengan jari telunjuknya lalu ke arah Annie. Jean sampai heran melihat Mikasa seperti itu sedangkan Annie diam saja. Sepertinya mood Mikasa sedang buruk saat ini.

"Aku tidak peduli apa yang kalian ucapkan!" ujar Mikasa langsung

"Tapi kau harus mendengarkannya! Memangnya sampai kapan kau mau seperti itu?"

Jean memang tidak salah berbicara seperti itu pada Mikasa, tidak salah. Tapi Jean hanya melakukan kesalahan kecil yang cukup fatal. Ia mengatakan hal itu kepada Mikasa saat mood gadis berambut hitam itu sedang buruk, alhasil Mikasa langsung tidak mendengarkan ucapan Jean dan pergi meninggalkan teman-temannya begitu saja.

"Mikasa?!" panggil Armin tapi Mikasa tidak menoleh ke arahnya.

Armin terdiam dan menatap ke arah lain, ia tidak mengerti kenapa semuanya terjadi begitu cepat. Dimulai dari kekalahan mereka melawan Dark karena perbedaan kekuatan yang jauh lalu Eren diculik dan pertengkaran seperti tadi. Sampai kapan lagi sang pencuri sekaligus pembunuh ini berhenti berulah?

"Aku tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini." gumam Armin pelan.

Terlihat sekali raut wajahnya yang tampak cemas, Jean terdiam memperhatikan Armin. Ia tahu pemuda berambut pirang itu adalah sahabat Eren sejak kecil, wajar jika ia merasa seperti ini. Tapi Jean sendiri tidak mengerti kenapa ia merasa aneh. Meski ia terlihat cuek tapi ia merasakan sesuatu yang lain. Sejak mereka semua mengetahui wajah Dark hanya Eren saja yang tidak pernah bertarung, bahkan menembak ke arah Dark saja tidak. Apa hanya Jean seorang yang sadar bahwa terjadi hal aneh pada Eren? Entahlah.

"Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, Armin." ujar Annie dan ia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.

Sekarang hanya ada Armin, Jean dan Sasha. Mereka bertiga tetap saja terdiam tanpa melakukan apa-apa, bahkan untuk beranjak dari tempat mereka berpijak rasanya sulit. Bukan karena rasa sakit dari tendangan dari Dark tapi karena tidak tahu masalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Laporan seperti apa yang akan diberitahukan kepada sang atasan?

"Apa kita harus memberitahukan kepada Sir Shadis?" tanya Sasha tiba-tiba.

"Aku tidak tahu," ujar Jean. "Bagaimana menurutmu, Armin?"

"Entahlah. Aku merasa pusing memikirkan semua ini," ujar Armin pelan. Ia berdiri dan berjalan menjauh dari kedua temannya itu. "Kurasa... selama kita masih bisa mengatasinya, kita harus mengatasinya sendiri."

"Aku berpikir juga begitu. A-aku pulang dulu ya." pamit Sasha dan pergi meninggalkan dua pemuda itu.

Hanya ada Jean dan Armin yang masih belum pulang, mereka berdua terdiam di tempat masing-masing. Armin melirik ke arah Jean, lebih tepatnya ke arah pipi Jean yang mulai membengkak karena dihajar oleh Mikasa, ia membelai pipi Jean. Sang pemuda Perancis itu terlonjak kaget.

"A-Armin? Ke-kenapa?" tanya Jean bingung.

"Tidak, aku ingin tahu apakah kau baik-baik saja? Mikasa memukulmu cukup kencang kan?"

Suasana tampak hening, jari-jari kecil itu tetap membelai pipi sang pemuda Perancis. Armin tidak sadar bahwa tindakannya itu berhasil membuat jantung Jean berdebar lebih kencang. Tidak ada protes yang keluar dari bibir Jean, justru ia menikmati saat-saat jemari kecil itu membelai pipinya.

Jean terkejut dengan apa yang ia pikirkan, ia tidak menyangka bahwa jari-jari Armin selembut ini. Ia memperhatikan wajah Armin, pandangan mata mereka bertemu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua, hanya tatapan mata yang mungkin penuh dengan arti.

"Jean?" panggil Armin sedikit bingung.

"A-ah? Maaf..." gumam Jean.

"Hmm? Harusnya kamu minta maaf dengan Mikasa, bukan denganku. Kau membuatnya marah tadi. Aku tidak ingin membela siapa-siapa. Kau dan Mikasa memiiki alasan tersendiri dan aku tidak ingin kalian bertengkar lagi."

"Iya. Mungkin aku keterlaluan."

Armin tersenyum lalu ia mengeluarkan perban dan menatap Jean, ia langsung duduk dan meminta Jean untuk duduk di sebelahnya sambil menepuk tempat di sebelahnya. Jean tampak bingung dan duduk di sebelah Armin.

"Kurasa tidak usah diperban ya? Hanya perlu diobati saja." gumam Armin dan ia tampak mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Jean menatap Armin yang tampak cekatan itu dan sang pemuda berambut pirang telah mengeluarkan sapu tangan lalu dibasahi dengan air. Armin mulai mengobati lebam di pipi Jean dan Jean sedikit meringis kesakitan, ia berusaha menahan rasa sakit itu dan membiarkan Armin mengobatinya.

"Apa masih sakit?" tanya Armin.

"Tidak. Terima kasih, Armin." gumam Jean.

Armin hanya tersenyum dan ia menyimpan kembali sapu tangan miliknya itu, ia memperhatikan Jean dan merasa sedkit iba dengan Jean. Ia merasa Jean menjadi pelampiasan amarah Mikasa yang tidak tertahankan karena Eren diculik lalu Annie yang menghalanginya untuk menyelamatkan Eren. Apalagi tadi Jean memang menyulut emosi Mikasa, jadi wajar saja jika Jean dihajar oleh gadis itu.

"Lain kali kau jangan membuat Mikasa marah ya." gumam Armin.

"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya." Jean tampak tidak terima dengan ucapan Armin.

"Mood Mikasa sedang jelek, jadi kau jangan sembarangan bicara. Aku tidak ingin ia menghajarmu lagi."

"Eh?"

Armin tampak terkejut saat Jean menatapnya seperti itu, wajahnya mendadak memerah dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jean juga merasa canggung dengan situasi seperti ini, tapi ia harus menjaga gengsinya. Ia membelai rambut Armin dan tersenyum tipis.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." gumam Jean.

"I-iya..." wajah Armin masih memerah dan hanya menunduk saja, tapi ia tersenyum melihat Jean sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa Jean tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Sedangkan Rivaille yang masih membawa Eren tetap terdiam begitu juga dengan Eren, sedari tadi Eren tidak bisa menahan debaran jantungnya dan wajahnya memerah. Tidak lama mereka berhenti melangkah dan Eren memperhatikan Rivaille, sang kekasih melepaskan tangannya yang memeluk Eren lalu berjalan lebih dulu dari Eren.

"Rivaille." panggil Eren.

"Ada apa, Eren?" tanya Rivaille dengan datar.

"Kau mau ke-"

Belum sempat Eren selesai berbicara, ia melihat sang kekasih yang sedang berdiri di depan sebuah danau. Eren mengikutinya dan berdiri di samping Rivaille, sesekali manik hijaunya memperhatikan sosok kekasihnya itu lalu ke arah danau.

"Eren, aku tidak menyangka bisa membawamu seperti saat ini." ujar Rivaille tiba-tiba.

"Eh?" Eren tampak bingung dan membiarkan Rivaille meneruskan ucapannya.

"Membawa lari orang yang aku cintai untuk hidup bersama denganku, aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya."

Rivaille menggenggam tangan Eren dengan lembut, jantung Eren berdetak kencang dan wajahnya mulai memerah. Mereka saling berpandangan, lagi-lagi hitam bertemu dengan hijau. Tidak pernah ada rasa jenuh ketika dua warna itu saling bertemu, saling memancarkan aura penuh cinta.

Rivaille mendekatkan wajahnya pada Eren dan mereka berciuman dengan lembut, bulan tampak bersinar terang seperti menyinari cinta mereka. Tidak lama ciuman itu terlepas dan Rivaille bisa melihat dengan jelas wajah Eren yang memerah. Rivaille bersumpah akan melindungi Eren dengan sepenuh jiwa.

"Kalau begitu ayo ke rumahku." ajak Rivaille yang menggenggam tangan Eren.

"E-eh? Ke ru-rumahmu?!" Eren panik mendengar ucapan Rivaille itu dan wajahnya memerah.

Rivaille tidak menjawab apa-apa dan langsung menarik tangan Eren untuk pergi dari danau itu, Eren tidak memberontak dan membiarkan Rivaille membawanya. Ia tidak peduli kemana Rivaille akan membawa, asalkan bisa bersama sudah cukup. Tapi baru kali ini ia akan menginjakkan kaki di rumah Rivaille, jantungnya berdetak sangat kencang.

'Kenapa aku seperti ini?' batin Eren malu.

.

.

.

Tidak lama mereka berdua telah sampai di sebuah rumah sederhana, Rivaille langsung saja membuka pintu dan mengajak Eren masuk ke dalam. Manik hijau Eren memperhatikan penjuru rumah Rivaille, rumah yang sederhana. Ia mengira rumah seorang pencuri ulung akan dipenuhi oleh barang curian mereka. Pikiran yang polos dan naif memang.

"Kenapa kau melihat rumahku seperti itu?" tanya Rivaille.

"Eh? Bu-bukan apa-apa." jawab Eren malu.

Rivaille langsung pergi meninggalkan Eren sendiri lalu Eren duduk di sofa, matanya terus memperhatikan rumah Rivaille. Ia tersenyum tipis melihat rumah Rivaille, ia membayangkan semua benda di rumah ini pernah disentuh oleh Rivaille. Apakah karena Eren adalah milik Rivaille dan artinya ia juga bisa disentuh? Wajah Eren langsung memerah membayangkan hal itu. Bisa-bisanya ia membayangkan dirinya akan disentuh. Ternyata ia mesum juga, tapi ia malu mengakuinya.

Tidak lama terdengar langkah kaki mendekat dan ternyata Rivaille sudah berada di samping Eren, ia terdiam dan masih memasang wajah datarnya meski ia bingung kenapa wajah Eren memerah seperti itu.

"Eren." panggil Rivaille.

Tapi Eren tidak mendengarkan, sepertinya ia masih terlarut dalam pikirannya sendiri. Rivaille menghela napas dan kembali memanggil Eren, tapi tidak ada jawaban. Ia langsung menepuk pundak Eren dan Eren menoleh ke arahnya.

"E-eh? Ri-Rivaille? Kapan kamu disini?" tanya Eren.

"Aku sudah sedari tadi disini dan memanggilmu, tapi kau hanya diam saja." jawab Rivaille santai.

"Maaf..."

Mendadak suasana menjadi hening, tidak ada seorangpun yang berbicara. Eren sedikit canggung dengan situasi seperti ini, ia ingin berbicara tapi tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Ia merasa seperti seorang gadis yang baru pertama kali diajak ke rumah kekasihnya. Nyatanya memang seperti itu.

"Kamu yang memintaku membawamu kemari dan aku mengabulkannya. Lalu kamu ingin kita melakukan apa?" tanya Rivaille langsung.

"Eh?!" Eren tampak panik mendengar pertanyaan Rivaille itu.

Belum sempat Eren menjawabnya dan ia dikejutkan oleh ciuman Rivaille yang tiba-tiba itu. Eren menutup kedua matanya dan menikmati ciuman dari Rivaille. Sepertinya ia mulai terbuai dengan ciuman itu dan tidak sadar ketika Rivaille meminta lebih. Eren hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan membukanya saat lidah Rivaille mulai masuk ke mulutnya.

"Mmhm.."

Ciuman itu mulai ganas dengan Rivaille yang mendominasi, Eren hanya bisa mendesah pelan merasakan lidah Rivaille yang bermain di dalam rongga mulutnya. Mereka saling mendekat dan berbagi kehangatan dalam ciuman itu. Setelah puas saling bertautan, terpaksa mereka memisahkan diri karena membutuhkan pasokan udara.

Rivaille tersenyum tipis dan membelai wajah Eren, memandang wajah sang kekasih yang mulai memerah. Lagi-lagi hitam bertemu dengan hijau, saling berbagi rasa dalam warna yang kontras. Saling berharap cinta mereka akan bisa bersama meski mereka jauh berbeda layaknya bulan dan matahari.

"Rivaille, aku mencintaimu." ujar Eren dengan wajah yang memerah.

"Aku juga mencintaimu." bisik Rivaille di telinga Eren, ia sengaja meniup telinga Eren dan membuat pemuda yang lebih muda mendesah pelan.

"Aahn... Rivaille?"

"Kenapa, Eren? Hanya ada kita berdua saja."

Rivaille langsung saja menjatuhkan Eren diatas sofa dan ia berada di atas Eren, mata mereka kembali bertatapan dan membuat jantung Eren berpacu sangat kencang. Rasanya malu melihat posisi mereka seperti ini tapi jauh di lubuk hati pemuda berambut coklat ia menginginkan hal itu.

Ia ingin merasakan sesuatu yang seharusnya tidak bisa ia rasakan untuk saat ini. Tapi apa pedulinya? Ia menginginkan hal ini dan ia yakin Rivaille juga merasakan hal yang sama. Mungkinkah? Mungkin saja. Buktinya sekarang Rivaille merengkuh Eren dengan erat dalam pelukan hangat itu, saling berbagi rasa satu sama lain.

"Rivaille..." panggil Eren.

Rivaille tidak menjawab panggilan Eren dan hanya diam saja, ia membelai wajah Eren dan mencium keningnya lembut. Pandangan mata itu kembali saling bertemu, saling berbagi makna. Lalu selanjutnya adalah ketika dua tubuh ini saling menyatu dan terdengar suara ciuman yang sangat khas. Mereka kembali bertautan dalam ciuman panas yang panjang.

"Kau tidak bisa menyesali apa yang akan kita lakukan." ujar Rivaille yang menatap tubuh Eren dari atas hingga bawah.

"Aku tidak akan menyesal. Justru aku menyesal jika kamu tidak melakukannya padaku." ujar Eren yang sengaja menggoda Rivaille.

Untuk sekali lagi kedua bibir itu bertemu, menyatu dalam ciuman panas yang menguras energi. Desahan pelan sesekali terdengar dari bibir Eren dan Rivaille memanfaatkan kesempatan itu untuk mendominasi ciuman ini.

Sekitar lima menit ciuman itu terlepas dan Rivaille mulai membuka satu per satu kancing pakaian Eren, baginya wajah Eren yang memerah menjadi pemandangan indah tersendiri untuknya. Eren hanya bisa pasrah dengan Rivaille yang akan membuka pakaiannya itu.

"Kau tahu, kau membuang semuanya demi bersama denganku." ujar Rivaille yang membelai leher Eren lalu turun ke arah dadanya.

"Mmhm... I-iya. Kurasa begitu..." gumam Eren pelan dengan wajah yang tampak menikmati sentuhan Rivaille.

"Kau tidak menyesal?"

"Tidak."

Rivaille tersenyum tipis sekali, bahkan Eren tidak sadar jika kekasihnya tadi tersenyum. Ciuman ganas itu kembali tercipta diiringi dengan sentuhan dan desahan yang keluar dari bibir Eren. Mereka baru mencicipi rasa manis cinta yang mereka inginkan, tidak ada siapapun yang bisa menghentikan mereka saat ini.

"Aahn? Ri-Rivaille. Ahnn..." Eren memanggil nama kekasihnya dengan suara yang menggoda.

Tapi tidak ada jawaban dari Rivaille, ia terus menyentuh Eren dan membuat pemuda yang lebih muda memanggil namanya dengan suara yang menggoda. Perlahan-lahan jemari itu turun untuk merasakan lembutnya kulit Eren, membuat sang pemuda berambut coklat ini mendesah lagi dan lagi.

"Aaahnn, Rivaillle... A-aku... mhn..." desah Eren frustasi.

"Keluarkan saja Eren." ujar Rivaille datar.

Tidak lama hasrat Eren keluar melalui cairan hangat itu, ia mendesah kencang memanggil nama kekasihnya. Sedangkan Rivaille tampak puas melihat Eren mendesah nikmat memanggil namanya. Ia juga sama seperti Eren, ingin menyusul untuk segera mengeluarkan hasratnya.

Saling memanggil nama orang terkasih satu sama lain, saling berbagi cinta seolah tidak ada hari esok. Inilah yang mereka inginkan saat ini, masalah selanjutnya bisa dipikirkan lain waktu. Tidak bagus untuk merusak suasana malam ini kan?

Eren tampak lelah karena sedari tadi ia mendesah dan melayani Rivaille, sang pemuda berambut hitam tampak puas dan ia mencium kening Eren dengan lembut. Lagi-lagi wajah Eren memerah dengan indahnya. Tidak ada bosannya bagi Rivaille untuk terus menatap wajah sang kekasih.

"Aku mencintaimu, Eren." ujar Rivaille.

Eren hanya bisa memandang Rivaille dengan pandangan mata yang sayu, sepertinya ia terlihat lelah. Ia memejamkan mata hingga manik hijau itu tidak terlihat, sang empunya telah tertidur. Sedangkan sang pemuda berambut hitam duduk disamping Eren dan sibuk membelai rambut coklat kekasihnya.

'Kau milikku seutuhnya, Eren.' batin Rivaille.


Pagi hari telah tiba dan sosok pemuda berambut coklat ini perlahan terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling dan sedikit terkejut saat melihat ia berada di tempat yang bukan seharusnya. Ini memang bukan rumahnya, ia melihat ke arah sampingnya dan lebih terkejut lagi melihat sosok kekasihnya yang masih memejamkan mata.

"Rivaille?" gumam Eren.

Rivaille perlahan membuka matanya, manik hitam miliknya bertemu dengan manik hijau milik Eren. Dua warna kontras ini memang tampak menarik jika bersama. Warna terindah seperti menggambarkan cinta mereka yang indah.

"Selamat pagi, Eren." ujar Rivaille.

"Eh? Rivaille? Ini dimana?"

"Rumahku. Kamu lupa?"

Rivaille langsung bangun dari ranjangnya dan melirik ke arah Eren sekilas lalu ia memutuskan untuk keluar sejenak dari kamarnya. Eren terdiam dan ia memeluk selimut yang menyelimuti tubuhnya, ia tidak memakai apa-apa di balik selimut ini. Wajahnya kembali memerah ketika teringat memori kegiatan mereka semalam.

Tidak lama Rivaille kembali dan melihat Eren yang sedang terdiam dengan wajah yang memerah, kekasihnya itu memang polos dan manis. Mata Eren tertuju pada tubuh Rivaille yang bertelanjang dada dan membuat wajahnya semakin memerah. Rivaille mendekati Eren dan membawa sebuah roti juga susu lalu menaruhnya di meja yang tidak jauh dari mereka.

"Aku bawakan kau sarapan." ujar Rivaille.

"Te-terima kasih." ujar Eren dan ia mulai memakan rotinya.

Rivaille menatap Eren dengan wajahnya yang datar tapi terlihat senyuman juga di wajah yang miskin ekspresi itu. Hanya Eren satu-satunya yang membuat Rivaille menjadi lebih hidup, hanya pemuda itu seorang.

Semua hasil curian Rivaille selama ini telah ia jual di kota lain dan uang-uang itu ia kumpulkan untuk suatu hal yang lebih penting. Ia langsung terbayang jika dirinya dan Eren tinggal bersama lalu dengan uang yang ada mereka bisa hidup lebih layak. Pemikiran yang jauh ke depan, tapi mungkin bagi sebagian orang cara yang Rivaille tempuh itu salah.

Mencuri bukan jawaban untuk mendapatkan sesuatu, memang semuanya bisa didapat dengan instan tapi tidak akan bertahan lama. Suatu saat pasti akan mengalami kehilangan yang lebih mengerikan lagi. Tapi Rivaille tidak peduli, toh belum pernah ada yang bisa menangkapnya. Ia selalu bebas melakukan pencurian dan pembunuhan. Ia merasa hidupnya lebih bebas dengan melakukan hal itu.

Suasana yang hening seperti ini membuat Eren sedikit canggung, ia sudah selesai makan dan melirik ke arah Rivaille. Lagi-lagi mata mereka bertemu dan wajah Eren bersemu merah. Rivaille tersenyum tipis dan membelai rambut Eren.

"Kenapa wajahmu memerah? Ada yang kau pikirkan?" tanya Rivaille.

"Bukan apa-apa." ujar Eren dengan wajah yang masih memerah itu.

"Benarkah? Apa kau masih memikirkan soal semalam? Kau sangat menggoda semalam."

Ucapan Rivaille itu sukses membuat Eren tersedak minumannya, ia sampai mengatur napas lalu kembali minum dan akhirnya ia bisa bernapas dengan lega. Wajahnya yang sudah memerah semakin merah dengan ucapan Rivaille itu.

"A-apa yang kau bicarakan? A-aku malu..." gumam Eren.

Rivaille tersenyum dan memeluk Eren dengan erat. Eren bisa merasakan jantungnya berdetak sangat kencang, ia tersenyum tipis dan membiarkan Rivaille memeluknya seperti ini. Rasanya senang sekali bisa merasakan pemuda yang dicintainya merengkuhnya sekali lagi.

"Tapi kau menyukainya kan?" ujar Rivaille santai.

Eren mengangguk pelan dan mereka kembali menyatukan bibir dalam ciuman pagi yang lembut. Merasakan nikmatnya cinta ini lagi dan lagi. Tidak ada jalan untuk kembali dan mereka tidak ingin kembali. Jika bisa mereka ingin bersama seperti ini untuk selamanya.

.

.

.

Mikasa langsung pergi menuju markas Recon Corps. Ia masih merasa kesal karena tidak bisa menyelamatkan Eren, apalagi Annie menghentikannya. Ia teringat kata-kata Annie kemarin, ia tahu maksud Annie benar tapi ia tidak peduli dengan dirinya yang terluka saat itu. Yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan Eren dari Rivaille atau Dark.

Memikirkan hal itu membuat Mikasa semakin geram, bahkan langkah kakinya terdengar dihentakkan berkali-kali seperti menumpahkan emosinya yang tidak tersalurkan. Annie yang baru saja datang melihat Mikasa tampak kesal seperti itu, ia cuek saja dan melewati Mikasa yang sedang berdiri itu.

"Kau puas sekarang?" ujar Mikasa.

"Apa?" tanya Annie.

"Karena kau, aku merelakan waktuku untuk membiarkan Eren dibawa Dark. Sekarang aku benar-benar kehilangan jejaknya."

Annie menghela napas mendengar ucapan Mikasa, ia memang tidak mengerti jalan pikiran gadis berambut hitam yang terlalu protektif dengan Eren itu. Ia menatap gadis yang lebih tinggi darinya dengan tatapan datar.

"Kau harus menenangkan dirimu baru mulai mencari Eren. Kau kira dengan kemampuanmu yang sekarang kau bisa merebut Eren dari Dark?" tanya Annie tajam.

Mikasa geram dan berusaha menahan emosinya, ia tidak akan menghajar gadis itu. Ia memilih untuk melihat arah lain dan masih menghentakkan sepatunya ke lantai dengan cepat. Ia pergi meninggalkan Annie dan sekarang ia berada di depan markas Recon Corps. Ia mengecek ke arah kotak surat yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri dan terkejut melihat sepucuk surat di dalamnya.

"Tumben sekali ada surat." gumam Mikasa.

'Untuk Mikasa Ackerman.'

Mikasa terlihat bingung melihat surat itu ditujukan padanya, ia membuka surat itu dan matanya membaca setiap huruf yang tertera disana. Pandangan mata Mikasa semakin lama semakin berkilat penuh amarah hingga akhirnya ia meremas surat itu.

'Sudah kuduga.' batin Mikasa.

Ia hendak pergi meninggalkan markas, lagipula ia ingin segera mencari Eren. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Tapi Armin yang baru datang dan melihat Mikasa berdiri di depan pintu markas membuatnya bingung, langsung saja pemuda berambut pirang itu mendekati Mikasa.

"Kenapa kau tidak masuk ke dalam?" tanya Armin.

"Armin? Aku akan mencari Eren." ujar Mikasa langsung.

"Eh? Kau tidak bisa mencarinya sendiri, kita akan mencari Eren bersama."

"Untuk apa? Dark bisa saja melakukan apapun padanya. Aku tidak akan membiarkan Dark menyentuh Eren sekalipun."

Armin terkejut melihat Mikasa yang tampak berapi-api itu, ia melihat tangan Mikasa seperti menggenggam sesuatu. Mikasa masih bertekad untuk pergi mencari Eren dan tidak peduli dengan hal lain.

"Tunggu! Kita bisa mencarinya bersama. Apa kau tidak percaya padaku dan rekan-rekan kita?" tanya Armin lagi.

"Iya. Terutama Annie dan Jean. Mereka menganggap Eren seperti beban. Aku tidak suka." ujar Mikasa langsung.

Armin menahan tangan Mikasa dan sesuatu yang Mikasa genggam terjatuh dari tangannya, Mikasa terkejut dan hendak mengambilnya tapi keduluan oleh Armin. Armin melihat surat itu dan menatap Mikasa.

"Boleh aku melihatnya?" tanya Armin.

"Lihat saja. Berani sekali ia mengirimkan itu padaku!" seru Mikasa.

Perlahan-lahan Armin mulai membuka kertas itu dan mulai membaca tulisan disana. Surat itu memang ditujukan untuk Mikasa dan karena diizinkan oleh Mikasa, Armin membaca isi dari surat itu.

'Untuk Mikasa Ackerman.

Sekarang Eren ada di tanganku. Ia tampak bahagia bersama denganku, lagipula itu memang keinginannya. Ia tidak ingin kau dan teman-temannya itu pergi mencarinya. Biarkan ia hidup bersama denganku.

Pertarungan kita memang belum selesai dan aku tidak akan menyerahkan Eren padamu sampai kapanpun. Jika kau ingin menyelesaikan pertarungan kita datanglah ke tempat biasa tengah malam nanti, maka aku akan bertarung denganmu.

Dark.'

Armin telah selesai membaca surat itu dan menatap Mikasa yang tampak geram. Mikasa mendengus pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis berambut hitam itu tidak bisa menahan emosinya saat membaca surat itu, apalagi surat itu dari orang yang berani menculik Eren.

"Aku akan membunuhnya!" seru Mikasa.

"Mikasa?! Kau jangan gegabah. Kita harus menyerangnya bersama, kita harus menangkapnya dalam satu tim." ujar Armin mengingatkan.

"Tapi dia menantangku, Armin. Aku akan maju untuk melawannya."

"Tapi kenapa Dark tahu namamu, Mikasa? Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?"

Mikasa terdiam mendengar pertanyaan Armin itu. Ia kembali teringat saat pertama kali ia melihat Dark alias Rivaille dengan Eren. Melihat kedua pemuda itu saling berpelukan dan berciuman dengan mesra. Tentu saja ia terbakar emosi, cemburu. Ia tidak ingin Eren jatuh ke dalam pelukan pemuda seperti itu.

"Aku pernah melawannya sendiri satu kali selain melawannya dengan kalian." ujar Mikasa.

Armin terdiam mendengar ucapan Mikasa, ia merasa ada suatu hal buruk yang terjadi diantara mereka. Apalagi Mikasa tampak sangat dendam dengan Dark, tidak mungkin jika tidak ada kejadian khusus. Armin ingin tahu tapi ia tidak memaksakan dirinya untuk bertanya lebih jauh pada Mikasa.

"Kita harus membicarakan ini dengan teman-teman yang lain. Selain misi kita berhasil, kita juga bisa menyelamatkan Eren." ujar Armin.

Mikasa tampak memikirkan ucapan Armin itu, ia menghela napas dan memutuskan untuk mendengarkan ucapan teman masa kecilnya ini. Ia mendekati Armin dan menatap pemuda itu.

"Kau punya rencana agar kita bisa menyelamatkan Eren?" tanya Mikasa.

"Setidaknya kita harus membicarakan dengan yang lainnya." ujar Armin.

Mereka berdua segera masuk ke dalam markas Recon Corps dan menuju ruangan mereka. Disana Annie, Jean dan Sasha sedang bersantai. Pandangan mata mereka bertiga tertuju ke arah Armin dan Mikasa yang baru saja datang.

"Kalian datang juga." ujar Sasha.

"Tentu saja," ujar Armin tersenyum. "Teman-teman, aku memiliki rencana."

"Apa itu?" tanya Jean.

"Kemungkinan target Dark adalah satu target yang kita awasi itu. Nanti malam adalah penentuan apakah kita bisa menang melawan Dark atau tidak. Kita juga harus memikirkan cara untuk menyelamatkan Eren."

Semuanya terdiam, tidak ada yang bersuara. Bahkan Sasha yang biasanya mendukung rencana Armin tampak diam. Annie tetap saja terlihat cuek dan Jean berusaha tidak mengatakan hal aneh yang dapat memancing konflik.

"Sudah kukira kalian tidak ingin menyelamatkan Eren," ujar Mikasa yang menghela napas. "Untuk apa aku meminta bantuan kepada kalian? Buang-buang waktu saja."

"Mikasa?! Bukan begitu! Aku ingin membantumu." ujar Sasha langsung.

"Tapi kau tidak membantuku, Sasha. Terutama kalian berdua."

Sudah jelas Mikasa menyindir Annie dan Jean tapi Annie terlihat cuek sedangkan Jean terlihat gusar. Armin dan Sasha saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang akan Mikasa lakukan jika sudah seperti ini.

"Aku saja yang akan bertarung dengan Dark. Apalagi ia yang menantangku." ujar Mikasa.

"Tidak bisa." ujar Annie langsung.

"Kenapa?"

"Tetap saja kau tidak bisa melawannya jika hanya sendiri."

"Lalu kau memintaku untuk menunggu saja? Nanti Eren sudah ternoda oleh Dark."

Ucapan Mikasa itu lantas membuat mereka semua terkejut, Mikasa langsung menutup mulutnya dan berdehem saja. Tapi tingkah Mikasa itu membuat Jean curiga, ia merasa ada sesuatu yang Mikasa sembunyikan dari mereka tentang Eren.

"Mikasa, apa ada sesuatu antara kau, Eren dan Dark?" tanya Jean langsung.

"Apa pedulimu? Kau menganggap Eren lemah kan?" ujar Mikasa.

"Tapi kita semua perlu tahu jika kau ingin kami membantumu menyelamatkan Eren."

"Aku tidak butuh bantuanmu."

"Jangan besar kepala, Mikasa." ujar Annie.

Mikasa terdiam mendengar ucapan Annie dan ia memilih untuk tidak berdebat dengan gadis itu. Jean sudah curiga dan kecurigaannya semakin bertambah saat Mikasa mengatakan hal ambigu seperti tadi, ia merasa ada suatu masalah yang lebih pribadi daripada memburu Dark sebagai target mereka.

"Kalau kau tidak mau jujur kami tidak akan membantumu menyelamatkan Eren." ujar Jean.

"Jean?!" Sasha dan Armin tampak terkejut mendengar ucapan Jean.

"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Mikasa.

"Setidaknya aku dan yang lainnya akan membantumu. Bukan hal buruk untukmu dan kita juga harus menjalankan misi ini. Tolong kau jangan sampai lupa dengan hal itu."

Armin melirik ke arah Jean dan ia akui kali ini Jean cukup pintar untuk memainkan emosi Mikasa. Mikasa menatap tajam Jean, ia sendiri terlibat konflik batin. Dulu ia berjanji pada Eren tidak akan menceritakan hubungan itu kepada siapapun tapi sekarang Eren diculik dan jika ia mengatakannya pada teman-temannya maka ia akan dibantu untuk menyelamatkan Eren. Pilihan yang cukup sulit.

"Berarti memang ada sesuatu antara kalian bertiga." ujar Annie.

"Kalau Mikasa tidak ingin menceritakannya sebaiknya kita tidak bisa memaksanya." gumam Sasha.

"Tidak. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi." ujar Jean.

Armin melirik ke arah Mikasa yang memasang wajah datar, tapi ia tahu Mikasa seperti menyembunyikan sesuatu. Apakah Mikasa percaya kepada mereka semua dan menceritakan masalahnya atau tidak? Entahlah.

"Kalau aku mengatakannya, kuharap kalian tidak akan merubah pandangan kalian terhadap Eren." gumam Mikasa.

"Be-berarti kami boleh tahu apa yang terjadi?" tanya Sasha canggung.

Mikasa mengangguk pelan, ia menghela napas dan sudah tidak mungkin ia mundur lagi. Ia akan menceritakan sebisanya, tentu saja ia merasa sedikit menyesal akan menceritakan rahasia itu. Tapi ini semua demi menyelamatkan Eren dan demi menempuh tujuan itu Mikasa rela melakukan segalanya. Termasuk melanggar janjinya dengan Eren.

"Dark adalah... kekasih Eren." ujar Mikasa.

Mereka semua langsung terkejut mendengarnya, bahkan Annie yang cuek itu terlihat terkejut dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Jean terdiam dan ia melirik ke arah Armin, pandangan mata mereka bertemu dan Armin melirik ke arah lain.

"Sudah kuduga." gumam Jean.

"Eh?" Armin tampak bingung.

"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi antara Dark dan Eren, makanya Eren tidak ingin membunuh Dark. Tapi aku tidak menyangka bahwa mereka adalah kekasih. Benar-benar mengejutkan dan berbeda."

"Aku tidak suka melihat Eren harus bersama dengan orang seperti itu. Apalagi mereka sesama pemuda. Apa yang mereka cari?" ujar Mikasa geram.

"Bukankah cinta itu bebas?" tanya Annie.

"Aku tetap tidak akan merelakan mereka bersama!" Mikasa terlihat kesal dan mengepalkan genggaman tangan kanannya. "Aku akan membawa Eren pulang bersamaku dan menjauhkannya dari jalan yang salah."

Semuanya terdiam mendengar ucapan Mikasa. Memang tidak ada yang salah dari ucapan Mikasa, ia berniat membawa Eren kembali pada jalan yang benar. Tapi bukankah cinta itu bebas? Cinta tidak bisa dipaksakan harus berhenti begitu saja ketika sedang tumbuh. Mikasa tidak pernah tahu beban apa yang Eren tanggung selama ini, lebih tepatnya ia tidak ingin tahu.

"Aku akan membantumu." ujar Annie.

"Benarkah?" tanya Mikasa.

"Tapi aku tidak mempermasalahkan jika mereka adalah pasangan kekasih."

"Aku juga akan membantu. Aku memang ingin menyelamatkan Eren juga." ujar Armin dan diiringi anggukan kepala dari Sasha.

"Memang hubungan mereka itu aneh tapi demi misi kita ini, aku akan membantu menyelamatkan Eren." ujar Jean.

Mikasa terdiam dan tersenyum tipis. Armin merasa lega melihat Mikasa seperti ini, sekarang tinggal bagaimana cara menyelamatkan Eren dari Dark. Kemampuan mereka berlima belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Dark, bahkan perbedaan kemampuan mereka terasa jauh.

"Apakah kita akan menangkapnya di rumah target kita yang terakhir?" tanya Sasha.

"Kita langsung saja ke tempat itu. Aku yakin ia akan menungguku disana. Seperti surat itu, ia menantiku di tempat biasa." ujar Mikasa.

"Tempat biasa?" tanya Armin.

"Bukit kecil yang ada pohon diatasnya, bukit yang tidak terlalu jauh dari rumahku."

Mereka semua mengangguk mengerti dan Armin mengajak teman-temannya untuk berdiskusi bagaimana cara untuk bertarung dengan Dark. Mikasa terlihat serius dan pikirannya tertuju kepada Eren. Mereka baru berpisah beberapa jam dan ia sudah sangat khawatir seperti ini.

'Tunggulah aku Eren.' batin Mikasa.


Malam hari telah tiba dan selama satu hari ini Eren melihat sisi diri Rivaille yang berbeda dari biasanya. Ia baru tahu bahwa Rivaille sangat menyukai kebersihan, pantas saja rumahnya tampak bersih. Tadi mereka melakukan kegiatan bersih-bersih bersama, memang kesannya tidak ada yang romantis tapi Eren menikmatinya asal melakukannya dengan Rivaille.

Sekarang mereka sedang duduk santai dan meminum minuman masing-masing, Eren dengan susu coklatnya dan Rivaille dengan kopinya. Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Jantung Eren berpacu dengan cepat karena bisa berada berdua dengan Rivaille seperti saat ini. Ia merasa menjadi orang yang paling bahagia.

"Eren, apa kau menyukai pilihanmu?" tanya Rivaille tiba-tiba.

"Eh?" Eren terlihat bingung.

Rivaille meletakkan cangkir kopinya dan menatap wajah Eren dengan lembut, lagi-lagi warna hitam dan hijau bertemu. Eren merasa terhipnotis oleh tatapan mata Rivaille dan wajahnya mulai memerah. Rivaille membelai rambut Eren dan tetap menatap manik hijau itu.

"Kuharap kau menyukainya karena kau yang memintanya. Aku juga menyukai saat-saat seperti ini." ujar Rivaille.

"Rivaille? Aku... senang." gumam Eren malu.

"Aku juga."

"Aku tidak butuh yang lain, aku hanya membutuhkanmu."

Rivaille memeluk Eren dengan erat dan membiarkan pemuda yang lebih muda merasakan hangatnya pelukan ini. Rivaille telah memantapkan pilihannya untuk mencintai Eren, apapun rintangan yang akan mereka hadapi ia akan melawannya. Ia akan memperjuangkan cinta ini dan tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali Tuhan.

'Demi dirimu, jika aku harus menanggung dosa sekalipun aku tidak akan keberatan.' batin Rivaille.

Tidak lama pelukan itu terlepas dan digantikan dengan ciuman lembut, tidak ada dominasi yang kuat atau nafsu dalam ciuman itu. Hanya ciuman lembut yang menenangkan hati mereka berdua. Ciuman itu terlepas dan mereka kembali berciuman, sebuah candu yang telah menjatuhkan mereka dalam kenikmatan. Matahari dan bulan berusaha untuk bersama dengan segala cara, apapun akan ditempuh demi satu tujuan itu.

.

.

.

Hari sudah semakin malam, sekarang sudah tengah malam. Eren yang tadi tertidur di sofa perlahan terbangun karena mendengar suara. Ia melihat Rivaille tampak siap dengan pakaiannya saat ia menjadi Dark. Eren langsung bangun dan mendekati Rivaille.

"Kau mau kemana?" tanya Eren.

"Menyelesaikan suatu urusan." jawab Rivaille.

"Apa kau akan mencuri lagi?"

"Iya. Lalu bertemu dengan teman-temanmu. Sampai sejauh mana mereka bisa menghentikanku."

Eren menggenggam tangan Rivaille, membuat pemuda yang lebih pendek itu menoleh ke arah Eren dengan cepat. Rivaille bisa merasakan ada sesuatu dari Eren.

"Tolong bawa aku juga." pinta Eren.

"Tidak mungkin aku membawamu, kau ingin kembali pada mereka? Kau tidak ingin bersama denganku?" tanya Rivaille dingin.

"Bu-bukan begitu. Aku hanya..."

Eren tidak meneruskan ucapannya dan Rivaille melepaskan genggaman tangan itu. Rivaille membelai pipi Eren dan melihat semburat merah di wajah Eren, sungguh manis kekasihnya itu.

"Aku akan kembali."

Lalu Rivaille pergi meninggalkan Eren sendiri di rumah, Rivaille tetap berpegang teguh pada tujuannya dan Eren tidak bisa menghentikannya. Mendengar Rivaille akan mencuri dan kembali bertarung dengan teman-temannya membuat Eren merasa bingung. Ia memang sudah membuang semuanya, tapi ia merasa perlu bertanggung jawab karena meninggalkan tugasnya. Baru kali ini Eren merasa sangat bingung.

Sedangkan Mikasa beserta teman-temannya sedang menunggu di bukit itu, Mikasa yakin Dark atau Rivaille akan datang ke tempat ini. Lagipula tempat ini memilki kenangan tersendiri untuk Eren dan Rivaille, Mikasa mengetahui hal itu.

Mereka semua sudah siap dengan pistol masing-masing yang sedang mereka pegang, mereka juga sudah mengecek pistol mereka. Jean tetap membawa beberapa pisau untuk berjaga-jaga, ia memang mempersiapkan diri dengan baik. Annie sendiri juga membawa banyak pistol beserta peluru cadangan.

"Kali ini kita akan menghabisi Dark." ujar Jean.

"Tapi kita harus tahu dimana ia menyembunyikan Eren." ujar Mikasa yang sudah selesai memasukkan peluru ke pistolnya yang lain dan memasukkannya ke saku jasnya.

"Tujuan misi kita adalah membunuh Dark," gumam Annie. "Lalu menyelamatkan Eren."

"Kuharap kali ini kita bisa lebih baik dari saat terakhir kali melawan Dark." ujar Sasha.

"Aku tidak tahu." Annie memasang wajah datarnya dan melirik ke arah langit.

Malam ini bulan bersinar dengan terang, menerangi malam dengan cahaya yang lembut dan menenangkan. Armin juga memperhatikan bulan itu lalu melirik ke arah teman-temannya. Ia hanya berharap tidak terjadi hal buruk lagi, ia hanya ingin misi ini cepat selesai lalu Eren kembali dengan mereka.

Mikasa mendengar suara langkah kaki yang mendekat, mereka semua tampak waspada dan menyiapkan pistol mereka untuk menembak. Langkah kaki itu semakin terdengar jelas hingga akhirnya berhenti. Mereka melihat sosok Dark yang ada di hadapan mereka.

"Ternyata kau membawa teman-temanmu, Mikasa Ackerman." ujar Rivaille.

"Dimana Eren? Kembalikan Eren!" teriak Mikasa langsung dan mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille.

"Kau tidak bisa sabar? Dasar gadis keras kepala."

"Jangan banyak basa-basi Dark." ujar Annie yang juga mengacungkan pistol ke arah Rivaille.

Mereka berlima mengacungkan pistol ke arah Dark dan siap untuk menembak kapan saja, Rivaille menatap mereka dengan wajah datarnya dan terkesan tidak peduli. Ia mengeluarkan pedang miliknya dari sarung pedang dan menatap mereka berlima sekaligus.

"Untuk apa aku memberitahukan kepada kalian dimana Eren? Aku tidak pernah berniat menyerahkannya pada kalian." ujar Rivaille datar.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Rivaille langsung menyerang kelima anggota muda Recon Corps ini. Rivaille langsung memotong pistol mereka, ia merasa ada seseorang yang bisa mengganti pistol dengan cepat yaitu Annie. Ia langsung saja menendang perut Annie sebelum Annie sempat menembaknya.

"Kau!" Mikasa benar-benar geram dan mulai menembak.

Rivaille berhasil menghindar tembakan Mikasa dan melompat ke belakang gadis itu, ia hendak menusuk Mikasa tapi Jean melindunginya dengan mengeluarkan pisaunya. Jean memang sedikit terluka karena terkena pedang Rivaille, tapi ia tidak peduli.

"Kau menyerang seorang gadis? Pria macam apa kau!" ujar Jean.

Sekarang Jean berusaha menahan serangan pedang Rivaille dengan pisaunya, memang ia masih sedikit kesulitan. Mikasa langsung menoleh ke arah Dark dan hendak menembaknya tapi Rivaille tidak kehabisan akal. Ia menarik pedangnya lalu menendang kaki Jean hingga pemuda itu terjatuh dan melukai paha Mikasa. Ia langsung meninggalkan mereka dan hendak mencari dua orang lain lagi, Armin dan Sasha.

"Sial!" umpat Mikasa kesal.

Mikasa merasa kakinya sakit tapi ia langsung mengingat tujuannya untuk menyelamatkan Eren. Ia berusaha menembak Rivaille dari jauh dan Rivaille berhasil menghindar. Armin dan Sasha juga menembak Rivaille tapi tidak mengenai pemuda itu. Bahkan sekarang Rivaille berada di hadapan mereka dan menendang lagi kaki Armin juga Sasha hingga mereka terjatuh.

"Kalian lemah sekali." ujar Rivaille santai dan ia memandang pedangnya.

Rivaille berjalan mendekati Mikasa dan menatap gadis itu dengan wajah yang dingin, Mikasa juga melakukan hal yang sama. Mereka memiliki satu tujuan yaitu ingin menjaga Eren dari hal-hal aneh terutama musuh mereka.

"Bagaimana bisa kau mendapatkan Eren jika lemah seperti itu?" tanya Rivaille.

Mikasa terdiam dan menatap wajah pemuda itu dengan pandangan mata yang kesal. Ia bersumpah akan mengalahkan Rivaille dan membawa Eren pulang bersama dengannya. Ia berusaha bangkit tapi Rivaille menendang kaki Mikasa hingga gadis itu terjatuh lagi. Bahkan ia hendak menusuk Mikasa, Mikasa berusaha menghindar tapi Rivaille mengunci gerakan Mikasa dengan menusuk lengannya.

"Percuma saja kau melawanku. Biarkan Eren bersama denganku." ujar Rivaille yang menusuk lengan Mikasa semakin dalam.

"Tidak akan... kubiarkan." gumam Mikasa yang berusaha menahan sakit.

Tangan kanan Mikasa terasa sangat sakit dan darah mengalir dari sana, ia merasa lengan kanannya hampir mati rasa. Rivaille tampaknya tidak main-main dan menusuk semakin dalam. Jean yang melihat itu langsung menembak Rivaille, tapi Rivaille menangkisnya dengan pedangnya. Ia sudah melepaskan pedangnya dari lengan Mikasa dan menatap Jean. Ia juga melihat keempat anggota muda Recon Corps yang mengacungkan pistol padanya.

"Sepertinya kalian pantang menyerah. Aku suka semangat kalian itu." gumam Rivaille yang berjalan mendekati mereka.

Sasha meneguk ludah dan ia langsung menembak, hanya saja peluru itu berhasil ditangkis oleh Rivaille dengan mudah. Armin memperhatikan langkah Rivaille, ia berusaha mencari celah hingga bisa menembak Rivaille. Ia menyiapkan pistolnya dan ketika Rivaille melangkah semakin mendekat ia mulai menembak. Sepertinya gerakan Armin dapat diprediksi oleh Rivaille hingga ia berhenti dan kembali memotong peluru itu.

Hingga akhirnya Rivaille berada di hadapan mereka, ia menatap keempat orang ini dengan wajah datarnya dan hendak menusuk mereka. Tapi masing-masing dari mereka berempat berusaha bertahan dengan pistol masing-masing.

"Rivaille! Hentikan!"

Terdengar sebuah teriakan yang kencang, mereka semua tahu suara siapa itu. Mikasa langsung menoleh dan ia tersenyum melihat sosok orang yang ia cari selama ini, Eren. Akhirnya ia bisa melihat Eren.

"Eren!" Mikasa berusaha bangun dan hendak mendekati saudara angkatnya.

Rivaille mendengus kesal dan tidak jadi melakukan aksinya, begitu juga dengan keempat orang ini. Armin melihat Eren dalam keadaan baik-baik saja, berarti memang benar bahwa Rivaille menculiknya semata karena ingin membawa Eren bersama dengannya. Apalagi mereka adalah pasangan kekasih.

"Eren! Kau baik-baik saja? Dia tidak melakukan hal aneh padamu?" tanya Mikasa.

"Eh?" Eren bingung dan menatap ke arah lain.

Ia tahu kedatangannya kemari mungkin membuat Rivaille kesal, tapi bagaimanapun juga ia ingin menjelaskan semuanya kepada teman-temannya. Ia tidak ingin membunuh Rivaille, ia tidak akan melanjutkan misinya.

"Ternyata kau datang juga, Eren. Jangan merepotkan kami. Apalagi kau dan kekasihmu itu sama-sama merepotkan." ujar Jean.

Eren terkejut mendengar ucapan Jean, ia langsung menatap Mikasa dengan geram. Mikasa hanya bisa menundukkan wajahnya. Rivaille mendengar ucapan Jean itu langsung saja menendang perut Jean dan menendang jauh pistol yang dipegang pemuda itu.

"Ternyata ada yang tidak bisa menjaga rahasia." gumam Rivaille dan menoleh ke arah Mikasa.

"Aku tidak ingin mendengarnya darimu!" teriak Mikasa.

"Mikasa, tanganmu berdarah." ujar Eren.

Eren melirik ke arah lengan Mikasa lalu memperhatikan teman-temannya, kondisinya terlihat sedikit kacau. Manik hijau itu tertuju ke arah Rivaille, siapa lagi yang bisa membuat teman-temannya seperti ini kecuali Rivaille? Eren hanya menundukkan wajahnya saja.

"Eren! Lakukan misimu! Kau masih tim kami kan?" teriak Jean.

Tangan Eren tampak ragu, ia memang datang kemari lengkap dengan seragam Recon Corps seperti biasa. Tapi ia datang kemari bukan untuk menjalankan misinya, ia tidak ingin dan tidak akan bisa membunuh kekasihnya sendiri.

"Aku tidak bisa." gumam Eren.

"Kau lembek sekali!" ujar Jean kesal.

"Jean, berhenti menghina Eren atau kau akan kubunuh!" Mikasa tampak emosi dan mengacungkan pistolnya ke arah Jean.

"Mikasa?!" Armin dan Sasha panik melihat Mikasa hendak menembak Jean, Annie tampak cuek saja melihatnya.

"Lagi-lagi Eren. Kau selalu saja mengkhawatirkannya." ujar Jean.

Mikasa tampak tidak peduli dan ia bersiap menembak Jean, meski tangan kanannya sakit tapi bukan berarti ia tidak bisa menggunakan tangan kiri. Ia ingin sekali membuat Jean diam dan tidak berkomentar apa-apa. Lalu ia akan membunuh Rivaille dengan tangannya ini.

"Eren, kau itu pemuda kan? Lakukan tugasmu dan bunuh Dark!" teriak Jean.

Eren terkejut mendengar kata-kata itu dan ia menunduk saja, ia tidak bisa melakukannya. Ia berusaha memegang pistolnya dan menatap ke arah Rivaille. Pandangan mata mereka bertemu dan Rivaille tetap saja memasang wajah datarnya. Ia membiarkan Eren melakukan apa yang diinginkan pemuda itu. Tapi ia bisa melihat bahwa tangan Eren gemetaran.

"Kalau kau mau, lakukan saja Eren." ujar Rivaille.

To Be Continued

A/N: Hai semuanya~

Maaf banget chapter ini updatenya lama, soalnya beberapa hari yang lalu disibukkan dengan ospek dan segala macam kegiatannya. Chapter ini jadi sempat terlantar dan sekarang mencuri waktu bebas untuk mengetik.

Terima kasih kepada Nacchan Sakura, SeraphelArchangelaClaudia, Kim Arlein 17, Hasegawa Nanaho, LinLinOrange, Sedotan Hijau, Earl Louisia vi Duivel, Novula, LiLairizato, AkakoNichiya dan luffy niar yang sudah memberi review di chapter sebelumnya. Maaf aku belum bisa balas review kalian, tapi aku berterima kasih dengan review kalian yang membuatku bersemangat untuk update dari sekian kesibukan ini.

Akhir kata sampai jumpa di chapter selanjutnya...^^