Permata Ungu
Summary:
Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 4
.-.-.
Seorang anak kecil berambut coklat gelap tengah terpana memandang sebuah lukisan wanita cantik berambut hitam dan bermata violet. Wanita itu, jika ditilik dari potretnya, sepertinya bertubuh kecil.
"Kakek, itu siapa?" tanyanya tidak bisa membendung rasa penasarannya. Dia sudah melihat berbagai macam lukisan namun baru kali itu dia benar-benar mengamati satu persatu gambar yang terpajang di kantor kakeknya.
"Yang mana?" tanya si kakek. Dia mendongak dari perkamen yang sedang dibacanya.
Si anak, Sousuke Aizen, menunjuk lukisan yang dimaksud dengan jari kecilnya. Ketika si kakek mengerutkan kening, Sousuke berlari kecil memutar meja kakeknya, dan berhenti di depan lukisan berbingkai kayu dengan relief dedaunan yang meliuk-liuk. "Ini."
"Wanita itu cantik, kan?" tanya kakek.
Sousuke mengangguk, membuat poninya menutupi matanya yang coklat cemerlang. "Apa dia nenek moyangku?" tanya Sousuke kemudian.
Kakek menggeleng. "Tidak. Dulunya dia memang berasal dari sini, sih."
"Dulunya? Dari Hueco Mundo?" Sousuke menekankan suku katanya.
Kakek tersenyum. Cucunya adalah anak yang cerdas. "Namanya Hisana. Nama yang cantik, seperti orangnya. Sebenarnya dia wanita pilihan kakeknya Kakek," Sousuke kelihatan berusaha mencerna dua kata terakhir, jadi sang kakek diam sejenak. "Kakeknya Kakek ingin mengambilnya sebagai istri, tapi rupanya sebelum sempat mereka menikah, seorang pemuda dari keluarga Kuchiki jatuh cinta padanya dan berhasil mencuri Hisana."
Sousuke mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia berlari lagi ke meja kakeknya, menyandarkan lengannya dan menatap kakek, mengharapkannya meneruskan cerita. Anak kecil itu tahu kalau sang kakek sedang bekerja, dia tidak ingin diganggu. Namun rasa penasaran si anak yang besar tidak bisa ditahan lagi. Dan kelihatannya kakek juga tidak keberatan menunda pekerjaannya.
"Hisana dipercaya sebagai keturunan terakhir klan yang mempunyai tangan hijau ajaib, jadi ada alasan lain pendahulu kita ingin menikahinya," terang kakek.
"Tangan hijau?" Sousuke heran. Alis tebalnya bertaut. "Jari-jarinya berwarna hijau?" anak itu bergidik.
"Bukan," kakek tertawa. Dia mengibaskan tangan, membuat perkamennya bergoyang. "Maksudnya, tangannya mampu menumbuhkan apapun yang ditanamnya."
"Oh," Sousuke mengangguk mengerti.
"Kau tahu, Sousuke, tangan Hisana sangat dibutuhkan bagi kelangsungan Hueco Mundo. Kau tahu kan kalau wilayah ini langitnya lebih kelabu dan daerahnya lebih hijau dibanding daerah manapun?"
Sousuke mengangguk lagi. Hueco Mundo jauh lebih dingin daripada beberapa tempat yang pernah didatanginya. Karena itulah hampir tiap waktu dia mengenakan jaket untuk menjaganya tetap hangat. Tanpa sadar dia merapatkan jaket ungunya.
"Terus, Hisana kemana?" tanyanya lagi.
"Pergi dari Hueco Mundo, dan menikah dengan pemuda Kuchiki itu," jawab kakek. "Hampir saja terjadi pertumpahan darah waktu itu."
Sousuke terbelalak kaget. "Perang? Kan kakeknya Kakek masih bisa cari orang lain lagi untuk dinikahi," ujarnya polos.
Sousuke gemar membaca dan mendengarkan cerita. Perbendaharaan katanya jauh lebih banyak dan luas daripada teman sebayanya.
"Tidak semudah itu," kakek menghela napas. Memang benar cucunya masih kecil, namun sepertinya dia bisa menerima cerita itu dengan baik. "Hisana sudah bertunangan dengan kakek moyang kita, tapi apa mau dikata, pada akhirnya dia jatuh cinta pada pria Kuchiki itu dan memilih menghabiskan hidup bersamanya."
"Kalau begitu, kenapa potretnya ada di sini?" tanya Sousuke tidak mengerti.
Kakek meletakkan perkamennya dan menjulurkan tangannya untuk membelai rambut ikal cucunya. "Ada cara untuk menghentikan perseteruan yang hampir terjadi," kata kakek meneruskan cerita. "Keturunan kelima Kuchiki harus dikembalikan ke Hueco Mundo. Lukisan Hisana dibuat sebagai pengingat perjanjian kuno itu."
"Perjanjian kuno?" Sousuke membeo.
"Yah, disebut perjanjian kuno karena itu sudah terjadi lama sekali."
"Tapi, Ayah tidak pernah menceritakannya padaku," kata Sousuke cemberut.
Kakek tertawa. "Ayahmu pikir yang lalu biarlah berlalu. Keluarga Aizen dulu masih berkorespondensi dengan keluarga Kuchiki, tapi rupanya hal itu sudah berhenti sekarang."
"Kalau begitu, nantinya siapapun keturunan kelima itu akan ke sini?" ulang Sousuke penasaran.
"Kakek tidak tahu," kakek mengangkat bahu. "Tidak ada lagi konfirmasi mengenai hal itu."
Sang kakek tidak memberitahu bahwa mungkin saja Hisana lebih berbahagia dengan pria Kuchiki itu. Pengaturan pernikahan Hisana dengan kakeknya berdasarkan formalitas, dan barangkali pria Kuchiki itu mencintainya dengan tulus dan bukannya demi politik.
Perjanjian kuno yang rumit, batin si kakek sambil mengamati Sousuke yang kini memelototi potret Hisana lagi. Yang tidak disadarinya, cerita itu terpatri dengan kuat di memori Sousuke, sampai dia dewasa.
.-.-.
Diam bukan berarti Sousuke Aizen mengalah. Dia tahu bahwa Byakuya Kuchiki adalah generasi keempat setelah insiden kakek moyangnya dengan Hisana. Instingnya menyatakan ada sesuatu yang disembunyikan kepala keluarga berambut hitam itu.
Beberapa kali, tanpa disadari Byakuya, Aizen bertemu dengannya. Dari gerak-gerik Byakuya, cara pria itu berbicara dan aura di sekelilingnya, Aizen mendapat dugaan Byakuya menanggung sesuatu yang lebih kelam daripada sikap dingin dan acuh yang selama ini diperlihatkannya.
Pria itu ingat dengan jelas rupa terkejut Byakuya saat mereka bertemu di rumah Yamamoto. Mata hitam yang seakan tersambar petir di siang bolong. Seakan Aizen adalah mimpi buruk. Tidak perlu kata untuk menjelaskan situasi canggung diantara mereka. Sekali lihat otak Aizen sudah memproses dan menganalisa tatapan syok dan rahangnya yang mengeras.
Byakuya tahu. Tahu tentang perjanjian kuno itu.
Dan Aizen bukan tipe orang yang akan puas dengan berdiam diri dan duduk manis. Gin menyisir orang-orang sekitar kediaman Kuchiki, dan Tosen, intuisinya luar biasa. Kekurangannya tidak menghalanginya melaksanakan tugasnya. Dua orang itu belum pernah gagal mengemban misi yang dilimpahkan pada mereka.
Gin pintar mengobrak-abrik pemikiran orang yang dihadapinya. Tosen mempunyai jiwa lurus tentang keadilan. Tidak ada yang bisa membengkokkan sense of justice-nya.
Yang berasal dari Hueco Mundo akan kembali ke tempat itu.
.-.-.
"Siapa kau?" geram Renji. Badan menjulangnya menutupi Rukia. Dialah yang kini berhadapan dengan si pemuda berambut oranye sengak itu.
Rukia gemetar melihat sahabatnya itu. Renji yang biasanya kasar bertranformasi menjadi pemuda temperamental yang siap bertarung melawan siapapun yang dirasanya berbahaya.
Pemuda itu sudah menurunkan tangannya. Gantian dia menatap Renji sebal. "Minggir, kau," hardiknya keras. "Nanti dia hilang."
Mata Renji berkilat semerah rambutnya. "Dia tidak akan hilang. Kaulah yang akan menghilang dari hadapan kami," aumnya.
Si pemuda melesat ke samping, berusaha mencuri lihat Rukia, namun Renji lebih gesit. Dua mahaguru yang selama ini melatihnya bukan sembarang orang, dan menghadapi pemuda menyebalkan, sama menjengkelkannya dengan warna rambut oranyenya yang mencolok, bukan masalah bagi Renji.
Lagi-lagi dia berseru 'Pixie'.
Kini Rukia, yang tadinya ketakutan, naik pitam. Dia memegang pinggang Renji dan menerobos perlindungan sahabatnya. "Kau pikir kau siapa, seenaknya memanggil orang dengan sebutan 'Pixie'?" semburnya panas.
Si pemuda terdiam. "Orang?" dia mengulang kata Rukia. "Jadi kau manusia?" dia terlongo. "Aku sudah mengunjungi beberapa negara dan mendengar dongeng tentang makhluk-makhluk yang katanya hanya ada dalam legenda. Kupikir kau seekor pixie. Manusia tidak mungkin sekecil ini," ungkapnya blak-blakan dengan nada menuduh yang terang-terangan.
"Kau tidak sopan," desis Renji marah walau dalam hati ingin tertawa mendengar ada yang mengomentari postur Rukia seekstrim itu.
"Kurang ajar," Rukia menggertakkan gigi. Sungguh pemuda ini tidak tahu adat. Rukia masih bisa menerima kalau murid Renji memanggilnya 'Kakak Kecil'. Paling tidak mereka masih memandangnya sebagai manusia.
Si pemuda menatapnya kecewa. "Kupikir kau makhluk langka," katanya tanpa menutupi kekecewaannya.
"Siapa kau?" tuntut Renji. Melihat gelagat pemuda sinting itu dia mengendurkan pertahanannya dan menurunkan kadar emosinya.
"Ichigo Kurosaki," jawabnya.
"Strawberry?" Rukia mendengus. "Sikapmu tidak semanis namamu," ejeknya.
Ichigo menegakkan diri. "Kau salah, Pixie. Arti namaku adalah 'Anak pertama yang melindungi'" terangnya.
.-.-.
Beberapa puluh meter di antara tebing terjal, di sebuah gazebo yang terlindungi lebatnya pepohonan dua orang pria duduk sambil menikmati pertengkaran tiga orang di bawah.
Pria yang satu berambut perak keunguan. Wajahnya tampak malas-malasan namun licik. Mungkin kurangnya daging dan lemak di tubuhnya menyebabkan pria itu mengenakan baju berlapis-lapis meski udara tidak sedingin di tanah kelahirannya, untuk menjaganya tetap hangat. Namanya Gin Ichimaru.
Di depannya seorang pria berambut coklat ikal menyunggingkan senyum geli. Kulitnya sedikit berwarna dibandingkan dengan Gin yang pucat. Matanya coklat cemerlang, menandakan kecerdasan dan pengetahuannya yang luas. Wajahnya tenang, buah dari pengalamannya yang tidak sedikit. Mantel khakinya menutupi tubuh berototnya.
"Yang Anda cari sudah ketemu, Tuan Aizen," ucap Gin.
Aizen mengalihkan matanya, menatap Gin. "Terima kasih atas usahamu, Kawan. Tidak diragukan lagi, dia memang keturunan Hisana. Mereka seperti kembar."
"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?" tanya Gin. Matanya tetap menyipit tapi raut mukanya menunjukkan minatnya akan jawaban yang akan keluar dari Aizen.
"Mengambil yang seharusnya kembali ke Hueco Mundo, tentunya."
.-.-.
TBC
A/N: Ide 'pixie' muncul ketika saya mengamati lagi profil Rukia. Tentu saja tidak ada pixie sebesar dia. Tapi gambaran profil imutnya, dengan rambut hitamnya mengingatkan saya pada Alice di Twilight Saga, yang digambarkan bertubuh mungil, cantik mempesona, berambut hitam riap-riap, dan diibaratkan seperti pixie. Yup, inilah kemunculan Ichigo, dengan porsi yang masih sedikit. Tapi selanjutnya dia akan muncul dengan frekuensi yang lebih banyak.
Apa Rukia hobi jalan-jalan? Seperti kebanyakan orang, dia juga bosan dan suntuk kalau dikurung di rumah besarnya terus menerus. Dia juga butuh udara segar dan keluar untuk menjaga pikirannya supaya tidak menyerah pada kebosanan.
